[FF CONTEST] ILLUSION

ILLUSION

 

I’m missing you

Itsudemo (always)

I’m telling you

Imademo  (even now)

Close my eyes, and imagine you are in my heart

I’m thinking you

Itsudemo (always)

I’m drawing you

Imademo  (even now)

She leaned over and whispered something in my ear

 

Seorang pemuda berdiri bersandar di pagar balkon sebuah apartemen. Kedua matanya terpejam dan rambut cokelatnya sedikit berantakan karena tersapu angin yang berhembus. Tangannya menggenggam secangkir teh yang masih mengepulkan uap panas. Ia sebenarnya lebih menyukai kopi dibandingkan teh. Tapi entah mengapa, hari ini ia memilih untuk menyeduh secangkir teh.

 

Pemuda bertubuh tinggi itu kini berbalik menatap langit yang mulai kemerahan di depannya. Biasanya ia akan menghabiskan waktu dengan menikmati suasana seperti ini –saat matahari perlahan menghilang di balik awan langit barat– bersama Hye Rin.

 

Senja dan secangkir teh selalu berhasil membawa kembali memori tentang wanita yang dicintainya. Dan ia sangat berharap saat ini wanita itu ada di sisinya.

 

Flashback

 

“Kenapa kau sangat menyukai teh?” Min Hyuk bertanya pada wanita yang sedang menyesap minuman dari cangkir di tangannya. Beberapa bulan mengenalnya, membuat Min Hyuk cukup mengetahui kesukaan wanita yang berdiri di sebelahnya ini akan teh.

 

Yang ditanya tidak segera menjawab. Ia memandangi cairan berwarna kecokelat-cokelatan tersebut, lalu tersenyum lebar.

 

“Karena menurutku teh itu menenangkan. Teh dapat mengimbangiku yang kadang terkesan meledak-ledak.” Hye Rin, wanita itu berkata dengan penuh semangat.

 

“Kau sendiri? Kenapa kau menyukai kopi?” Giliran Hye Rin bertanya, masih dengan nada suara yang bersemangat.

 

“Hmm…” Min Hyuk berpikir sejenak. “Entahlah… tidak ada alasan khusus, tapi yang pasti aku menyukai aromanya. Dan aku rasa aku membutuhkan sesuatu yang bisa membuatku tetap terjaga untuk menjalani hari-hariku yang kadang seperti tidak memberiku kesempatan untuk sekedar bernafas.”

 

Hye Rin mengangguk-angguk. Kuncir ekor kudanya bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya. Ia mengerti tentang kesibukan Min Hyuk yang adalah seorang principal architect di HanKang Design, sebuah perusahaan di bidang arsitektur yang ia dirikan bersama dengan seorang temannya. Walaupun bukan merupakan perusahaan yang sangat besar, tapi kini perusahaan itu telah cukup mempunyai nama, sehingga tidak jarang banyak klien yang mempercayakan proyek mereka untuk dikerjakan oleh perusahaan itu. Dan itu pula yang membuat Min Hyuk  terkadang harus mengorbankan waktu istirahatnya untuk dipakai menyelesaikan pekerjaannya.

 

Oppa!” Hye Rin mengalihkan pandangannya dari pemandangan langit sore di depan mereka.

 

Min Hyuk ikut mengalihkan pandangannya. “Ada apa?” Ia bertanya.

 

Hye Rin tidak menjawab. Sebagai gantinya ia justru mencondongkan wajahnya ke arah Min Hyuk. Dengan sedikit berjinjit, Hye Rin berusaha mengatakan sesuatu di telinga pemuda itu.

 

Oppa… Aku menyukaimu, seperti aku menyukai teh. Karena kau dapat menenangkanku.”

 

Min Hyuk tersenyum dan memeluk Hye Rin. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi ia yakin Hye Rin tahu benar apa yang berusaha ia sampaikan lewat dekapannya itu.

 

Flashback end

 

Min Hyuk menatap cangkir berwarna biru langit di tangannya. Sedikit rasa sesal menelusup di hatinya. Seharusnya ia mengisi cangkir itu dengan kopi saja. Park Hye Rin –gadis bodoh itu– pernah mengatakan bahwa teh dapat menenangkan, tapi Min Hyuk merasa itu hanya sebuah omong kosong. Karena apa yang ia rasakan kini bukan membuat hatinya menjadi tenang, justru menjadi semakin perih dan disesaki oleh kerinduan akan wanita itu. Pemuda itu kini mempunyai satu buah alasan lagi kenapa ia lebih menyukai kopi. Ia merasa hidupnya tanpa Hye Rin tidak jauh berbeda dengan secangkir espresso kesukaannya, pahit.

 

I am still in our memory

I am still in our love story

I am still waiting for you here

I never to lose heart, my love

 

***

Min Hyuk turun dari Nissan GT-R putih miliknya. Ia mengenakan kemeja hitam serta pantalon yang juga berwarna hitam. Pakaian yang dikenakan terlihat kontras dengan kulit putihnya, namun tetap terlihat serasi membungkus tubuh tegapnya. Ia menyeberangi lapangan parkir dan memasuki sebuah bangunan berlantai dua yang tidak terlalu besar.

 

Sepi. Itulah keadaan di kantornya ketika ia sampai di dalam sana. Pemuda itu melirik arloji di pergelangan tangannya. Masih pukul setengah tujuh pagi, tidak heran jika kantornya masih kosong seperti ini. Lee Jong Hyun –arsitek sekaligus teman yang berbagi lima puluh persen kepemilikan perusahaan ini dengannya– serta dua puluh orang karyawannya biasanya baru akan datang kira-kira pukul delapan nanti. Ia sengaja datang sepagi ini untuk meneruskan pekerjaannya.

 

Min Hyuk duduk menghadap meja kerjanya yang dipenuhi dengan tumpukan kertas yang sebagian besar dihiasi oleh goresan-goresan pensil yang membentuk berbagai macam bangunan. Ia hendak menyalakan laptop yang ada di pinggir kanan meja, tapi tiba-tiba tangannya terhenti. ia justru meraih sebuah buku sketsa yang tergeletak di sebelahnya. Ia membuka lembarannya satu persatu. Berbagai macam ekspresi wajah Hye Rin mengisi buku itu. Kemudian ia menatap mejanya sambil menghela nafas. Ada yang kurang di sana, seolah ada ruang kosong yang dulu selalu terisi sekotak cupcake buatan Hye Rin. Kini ruang itu akan tetap kosong sampai kapan pun.

 

Flashback

 

            Min Hyuk mengalihkan pandangan dari layar laptop di depannya. Ia mendongak dan menemukan wajah Hye Rin dengan senyuman lebarnya yang khas. Jarum jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul 07.30.

           

            Pemuda itu mengernyit. Untuk apa Hye Rin datang ke sini sepagi ini? pikirnya.

           

            Gadis itu seperti dapat membaca pikiran pemuda di hadapannya. “Aku datang untuk mengantarkan ini.” Ia meletakkan sebuah kotak plastik bening berisi cupcake berwarna cokelat yang sederhana, tanpa hiasan apapun di atasnya.

           

            Min Hyuk menatap kotak itu. Air mukanya sedikit berubah.

           

            “Oppa, kau tenang saja. Aku bisa menjamin cupcake buatanku kali ini tidak seperti yang sebelumnya. Aku sudah menemukan resep yang tepat.” Hye Rin tidak dapat menahan tawanya ketika melihat ekspresi Min Hyuk yang aneh.

           

            Dengan sedikit ragu Min Hyuk meraih cupcake tersebut dan menggigitnya. Entah kenapa, ia tergoda dengan rasa manis yang menyenangkan yang menjalari lidahnya. Dan tanpa ia sadari, cupcake di tangannya kini hanya tersisa potongan kecil. Selain rasa, mungkin perutnya yang sejak malam belum terisi juga menjadi salah satu faktor ia menggigit potongan-potongan cupcake itu dengan lahap.

           

            “Bagaimana? Enak?” Hye Rin bertanya dengan nada cemas.

           

            Min Hyuk mengangguk. Ada raut kelegaan di wajah Hye Rin.

           

            “Kau harus sering-sering membuatkan kue ini untukku.” Min Hyuk tersenyum sambil memasukkan potongan terakhir ke dalam mulutnya.

           

          Hye Rin mengangguk dengan penuh semangat. “Tentu saja. Aku akan membuatkannya setiap pagi untukmu.”

           

            “Setiap pagi?”

           

            Hye Rin mengangguk. “Setiap pagi. Sebagai hukuman karena kau sering mengabaikan pentingnya sarapan,” kata gadis itu melipat tangannya di depan dada.

           

            “Bagaimana kalau aku bosan?”

           

            “Kalau kau bosan, aku bisa membuatkanmu cupcake dengan rasa lain.” Hye Rin berkata sambil tersenyum jahil.

           

            Min Hyuk tertawa melihat wajah menggemaskan kekasihnya itu.

 

Flashback end

***

“Min Hyuk-ah, kau tidak pulang?” Jong Hyun bertanya sambil menyampirkan tas di bahunya.

“Kau duluan saja, hyung. Masih ada yang harus kukerjakan.” Min Hyuk mengalihkan pandangan sekilas dari laptopnya.

“Baiklah kalau begitu, aku duluan,” kata Jong Hyun sambil berjalan ke arah pintu. “Jangan terlalu memaksakan tubuhmu, Min Hyuk-ah. Kau butuh istirahat,” katanya lagi sebelum menghilang di balik pintu.

Min Hyuk hanya tersenyum menanggapinya. Ia melirik jendela ruangan yang memantulkan wajahnya yang terlihat sangat letih. Ya, ini hampir menjadi kebiasaannya setahun belakangan, untuk datang lebih pagi dan pulang jauh lebih malam dibandingkan karyawan-karyawan yang lain. Ia yang memang seorang pekerja keras, kini menjadi seorang workaholic.

Pemuda itu baru saja akan meneruskan kegiatannya ketika kepala Jong Hyun muncul kembali di balik pintu.

“Hei, Kang Min Hyuk!” panggilnya.

Min Hyuk menoleh ke sumber suara. “Ada apa lagi, hyung? Ada yang tertinggal?”

“Ada yang mencarimu.”

Pertanyaan yang akan dilontarkan Min Hyuk seakan menggantung di udara ketika seorang wanita berambut ikal sebahu muncul dari balik punggung Jong Hyun. Wanita itu tersenyum, namun Min Hyuk justru sebaliknya, wajahnya berubah menjadi masam ketika melihatnya.

“Silakan kalian berbincang. Aku pamit lagi. Bye!” Kini Jong Hyun benar-benar menghilang di balik pintu, meninggalkan Min Hyuk dan wanita itu.

Annyeong!” Se Na, wanita itu menyapa Min Hyuk.

“Mau apa kau ke sini lagi?” Min Hyuk mengacuhkan sapaan itu, dan bertanya dengan dingin.

“Aku membawakanmu kue,” kata Se Na sambil menunjukkan sebuah kotak berisi cupcake.

“Sudah kubilang jangan membawakanku kue seperti itu lagi.” Min Hyuk berkata tanpa menatap wanita di depannya itu.

“Min Hyuk-ah, sampai kapan kau akan seperti ini? Kau harus menerimanya. Hye Rin sudah pergi meninggalkanmu setahun yang lalu.” Suara Se Na terdengar putus asa.

“Aku menyukaimu, Min Hyuk-ah. Bahkan sebelum kau bertemu dengan Hye Rin. Dan aku selalu menyukaimu.” Se Na menghela nafas. Lalu ia melanjutkan, “Tidak bisakah kau memberikanku kesempatan untuk masuk ke kehidupanmu, dan membantumu melewati hari-hari tanpa Hye Rin?”

“Kau ingin menjadi kekasihku?” Sebuah pertanyaan retoris terlontar dari bibir Min Hyuk. “Lupakan. Aku tidak butuh pengganti Hye Rin.”

Setelah berkata seperti itu, Min Hyuk segera menyambar tas beserta kunci mobilnya dan meninggalkan ruangan itu. meninggalkan Se Na yang matanya kini sudah dipenuhi dengan air mata.

 

***

 

I’m missing you

Itsudemo (always)

I’m telling you

Imademo  (even now)

The old times, are all of our true stories

I’m thinking you

Itsudemo (always)

I’m drawing you

Imademo  (even now)

My lady, You’re my memories in my life

 

Min Hyuk menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang sudah sangat dikenalnya. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju bukit yang tidak jauh dari situ. Sesampainya di atas sana, Min Hyuk mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia melihat padang rumput hijau, dan sebuah pohon cherry blossom yang terletak tepat di tengah.

Pemuda itu menghampiri pohon cherry blossom yang kini sedang berbunga itu. Min Hyuk menghempaskan tubuhnya tidak jauh dari pohon.

 

Ia merindukan Hye Rin. Bukan hanya saat ini, tapi hampir setiap waktu. Seakan semua tempat mengantarkan kenangan-kenangan saat mereka bersama. Balkon apartemennya, meja kerja di kantornya, bahkan tempat ini. Bukit yang sering ia dan Hye Rin datangi.

Min Hyuk memandangi pemandangan kota yang terhampar di depannya. Kepalanya dipenuhi oleh ingatan-ingatan saat ia menghabiskan waktu bersama Hye Rin. Saat-saat yang sangat menyenangkan baginya. Cerita yang seharusnya bisa ia bagikan kepada anak mereka nanti. Tapi sayangnya hal itu tidak akan terjadi. Hye Rin, wanita itu kini hanyalah tinggal kenangan yang akan selalu menjadi bagian dari hidup Min Hyuk.

Sebenarnya tujuannya kali ini ke sini bukan untuk menikmati keindahan cherry blossom yang sedang mekar. Ia ke sini hanya untuk sekedar mengeluarkan isi hatinya. Ia ingin mengatakan apa yang ingin ia sampaikan kepada Hye Rin.

“Kau tahu Se Na, kan?” Itu kata-kata pertama yang Min Hyuk ucapkan. Matanya tidak lepas dari pemandangan kota di bawah sana. “Dia sering sekali datang ke kantorku dengan membawa sekotak besar cupcake…” Min Hyuk member jeda di ucapannya. Lalu setelah menghela nafas pelan, ia melanjutkannya lagi. “Seperti yang sering kau lakukan.”

“Apa dia kira dengan melakukan hal yang sering kau lakukan, akan membuatku jatuh cinta kepadanya?” Suara Min Hyuk terdengar kesal.

Min Hyuk di batang pohon cherry blossom yang ada di belakangnya dengan salah satu lengan menutupi matanya yang ia pejamkan. Lalu ia kembali bersuara. “Kemarin itu, dia kembali datang. Wanita itu bilang ingin menjadi kekasihku.”

“Tentu saja aku menolaknya, aku masih memilikimu dan selamanya akan memilikimu. Aku tidak perlu wanita lain selain dirimu. Kau satu-satunya untukku. Kenapa dia tidak bisa mengerti itu? Bukan hanya wanita itu, tapi juga orang lain. Kenapa mereka tidak mengerti? Mereka menganggap aku gila. Tapi ini cinta. Aku hanya mencintaimu.” Min Hyuk mengusap wajahnya dengan frustasi.

Tanpa bisa dicegah, kristal bening mulai membasahi mata pemuda itu. Bahunya bergetar berusaha menahan rasa kehilangan yang membuncah di dadanya. Min Hyuk merasa benteng pertahanannya roboh, dan merasa sangat lemah.

Tiba-tiba terdengar suara deringan ponselnya. Min Hyuk mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia tidak menyadari bahwa sebuah foto pun ikut terjatuh dari sakunya saat itu. Ia menarik nafas sebelum menggeser tombol berwarna hijau di layar. Setelah berbicara beberapa saat dengan orang di seberang sana, ia memutuskan sambungan. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekeliling sekali lagi.

“Kali ini aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada yang harus kukerjakan. Aku akan kembali lagi besok.” Min Hyuk berkata, lebih kepada dirinya sendiri.

Setelah berkata seperti itu, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi tempat itu.

 

 

Epilog

 

Kimi to boku wa hitotsu no basho wo mitsumete itanoni

( you &  I were staring at one (same) place)

Eien to omotta shiawase wo boku wa ima mo sagasite iru

(I thought happiness is forever, I’ve been looking for it even now)

 

Hye Rin POV

 

Angin sore musim semi mengacaukan rambut sebahuku. Tapi aku tidak mengindahkannya.  Aku terlalu sibuk menikmati senja dari tempat ini. Ini memang menjadi salah satu tempat yang cukup sering kita datangi sejak bertahun-tahun lalu. Tapi itupun jika kau sedang tidak sibuk, atau kita sedang bosan dengan suasana perkotaan tempat apartemenmu berada.

 

Aku duduk sambil memeluk kedua lututku yang tertekuk. Senja sudah hampir habis dan kau belum juga menampakkan batang hidungmu.

 

Apa kau sedang sibuk? pikirku sambil memainkan rumput yang menusuk-nusuk kakiku.

 

Tak berapa lama kemudian, terlihat seseorang berjalan ke arahku. Aku segera menegakkan dudukku ketika sosokmu mendekat. Aku tersenyum. Alih-alih membalas, kau justru langsung menghempaskan tubuhmu di sebelahku dan duduk tanpa berkata apa-apa.

 

Aku pun ikut bungkam, Tapi dalam hati aku berharap bisa melihat senyumanmu. Senyuman yang akhir-akhir ini jarang tampak di wajahmu. Padahal kau tahu kan, kalau aku sangat menyukai senyumanmu itu?

 

Aku memperhatikanmu dari samping. Wajahmu terlihat letih, dan sorot matamu sendu. Garis rahangmu yang biasanya mulus, kini mulai ditumbuhi rambut-rambut tipis. Aku yakin pasti kau belum sempat bercukur beberapa hari ini, atau mungkin lebih.

 

Aku masih menunggu kau membuka suara, tapi sejak kau sampai di sini belum juga ada kata-kata yang terlontar dari bibir tipismu. Kau justru memandangi pemandangan kota di depan sana yang terlihat seperti miniatur dari bukit tempat kita duduk. Aku pun ikut memandanginya.

 

“Kau tahu Se Na, kan?” tanyamu tanpa mengalihkan tatapan dari pemandangan di depan kita.

 

Aku mengangguk. Tentu saja aku tahu. Se Na adalah wanita yang sangat menyukaimu sejak dulu. Bahkan ia pun tidak menyerah walaupun saat itu ia pun tahu kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih. Aku tertawa kecil. Tidak, aku tidak membencinya, justru aku salut padanya karena begitu gigih memperjuangkan cintanya kepadamu.

 

“Dia sering sekali datang ke kantorku dengan membawa sekotak besar cupcake…” Kau memberi jeda di ucapanmu. Lalu setelah menghela nafas pelan, kau melanjutkannya lagi. “Seperti yang sering kau lakukan.”

 

Aku tersenyum. Itu memang kebiasaan yang sering kulakukan untukmu. Aku sangat menyukai cupcake, dan itu membuatku belajar untuk membuatnya sendiri. Dan kau… Kau yang terpaksa menjadi kelinci percobaan. Aku ingat setelah berkali-kali membuat cupcake dengan rasa yang tidak karuan, akhirnya aku berhasil membuat banana cupcake yang kau bilang enak, membuatmu yang sebenarnya tidak menyukai makanan-makanan manis ketagihan dengan kue itu. Kau berkali-kali memintaku untuk membuatkannya untukmu. Dan aku sering menyelipkan selembar memo berisikan puisi, kutipan, ataupun kata-kata yang kubuat sendiri bersama cupcake itu.

 

“Apa dia kira dengan melakukan hal yang sering kau lakukan, akan membuatku jatuh cinta kepadanya?” Kau berkata lagi.

 

Ada nada kesal di suaramu, membuatku urung membuka mulut dan memilih untuk mendengarkanmu mengeluarkan semua yang ingin kau katakan. Kali ini aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Karena selama ini aku yang lebih banyak berbicara, sedangkan kau lebih sering mendengarkan sambil kadang-kadang tertawa geli, bukan karena ceritaku, melainkan karena ekspresiku yang beragam ketika aku bercerita ditambah gesture tubuh yang ikut mendukung isi cerita.

 

Ini merupakan hiburan bagiku, katamu saat itu.

 

Kau menyandarkan punggung di batang pohon cherry blossom yang ada di belakang kita. Pohon yang setia menjadi saksi saat-saat kebersamaan kita. Salah satu lenganmu yang selama ini menggenggam tanganku dan memberikan rasa aman, menutupi matamu yang terpejam.

 

Kau bercerita lagi. “Kemarin itu, dia kembali datang. Wanita itu bilang ingin menjadi kekasihku.”

 

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Aku tahu, karena aku juga ada di sana saat ia mengatakannya kepadamu. Sebenarnya Se Na adalah wanita yang baik. Dia mencintaimu dengan tulus. Aku sedikit berharap kau dapat memberinya kesempatan.

 

Kau tidak bisa melihat kepalaku yang terangguk-angguk, karena matamu masih tertutup. Lalu kau melanjutkan, “Tentu saja aku menolaknya, aku masih memilikimu dan selamanya akan memilikimu. Aku tidak perlu wanita lain selain dirimu. Kau satu-satunya untukku. Kenapa dia tidak bisa mengerti itu? Bukan hanya wanita itu, tapi juga orang lain. Kenapa mereka tidak mengerti? Mereka menganggap aku gila. Tapi ini cinta. Aku hanya mencintaimu.”

 

Kini kau mengusap-usap wajahmu dengan frustrasi. Aku jarang melihatmu seperti ini. Biasanya kau sangat tenang dalam menghadapi apapun, berbeda denganku yang akan langsung panik jika berhadapan dengan masalah, dan tidak jarang bertindak tanpa berpikir panjang. Tapi mungkin itulah salah satu alasan yang membuat kita bertahan, kita saling melengkapi satu sama lain. Perbedaan justru mengeratkan kita.

 

Aku melihat bahumu bergetar. Bahu yang sering kujadikan tempat untuk menyandarkan kepalaku.  Jantungku mencelos. Tanpa kusadari, air bening mulai memenuhi mataku. Aku benar-benar tak tega melihatmu seperti ini. Ingin sekali rasanya aku mengulurkan tangan untuk merengkuhmu. Tapi kemudian gerakanku terhenti di udara ketika terdengar suara deringan ponsel milikmu.

 

Kau menarik nafas panjang sebelum mengangkat panggilan itu. Lalu kau terlihat berbicara beberapa saat dengan orang di seberang sana. Setelah memutuskan sambungan telepon, kau menyapukan pandangan ke sekeliling, tak terkecuali padaku.

 

“Kali ini aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada yang harus kukerjakan. Aku akan kembali lagi besok.” Suaramu menyiratkan penyesalan.

 

Aku tersenyum mengerti tanpa berkata apa-apa, hanya memandangi punggungmu yang menjauh. Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kusampaikan padamu. Aku ingin mengatakan padamu kalau kau tidak perlu terus-terusan datang ke sini. Aku juga ingin mengatakan bahwa kau masih mempunyai kehidupan. Kau masih punya keluarga dan sahabat-sahabat yang menyayangimu. Aku tak memintamu untuk melupakanku. Walaupun aku tak bersamamu secara fisik, tapi aku tetap ada di hatimu. Kenangan tentang diriku akan selalu menemanimu. Namun bukan berarti kau jadi menutup diri, jangan biarkan hal itu menjadi hambatan bagimu untuk mencari cinta yang baru. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama sekarang, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya. Aku akan selalu menemanimu. Aku juga akan setia menunggumu di tempat ini. Jika suatu saat kau merindukan aku, kau tahu harus kemana.

 

Tiba-tiba mataku membentur sebuah benda yang tergeletak di dekat kakiku. Sebuah foto. Di foto itu terlihat sepasang pria dan wanita yang saling memeluk sambil tersenyum. Aku tersenyum mengingatnya. Foto itu diambil saat hari jadi kita yang keempat, tepat seminggu sebelum kecelakaan itu mengambil nyawaku.

 

I am still in our memory

I am still in our love story

I am still waiting for you here

I never to lose heart my love, my love

I am still in our memory (and I)

I am still in our love story (and I)

I am still waiting for you here

I never to lose heart, my love

-THE END-

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s