[FF CONTEST] More Than You

Title : More Than You

 

I’m not as kind as you. So I must be punished right now.
I think I regret since I hadn’t treated you as well as you had.
Please be happy as much as my tears and pain. That’s all for me.
Because I love you I love you and it’s alright for only you to be happy.
More than me. 

~~~

Hujan rintik-rintik telah membasahi Seoul sejak pagi tadi. Puluhan payung bertebaran dijalanan, melindungi setiap pejalan kaki yang tidak ingin tubuhnya kebasahan. Jonghyun mengamati pemandangan warna-warni yang terbingkai di jendela kantornya. Tangan kanannya menggenggam cangkir mocca latte, sedangkan tangan kirinya menggenggam smartphonenya.

Wajahnya dua kali lebih muram dari biasanya. Ingatannya melayang pada kejadian satu jam lalu, dimana dirinya dan Nara serta Minhyuk –sahabatnya- bertemu.

Jonghyun menghela napasnya dan tergugah untuk menyesap mocca lattenya. Nara tidak banyak berubah, pikirnya. Bisa dibilang ini pertemuan pertamanya selama dia menginjakkan kakinya kembali ke Seoul. Sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan kedua sahabatnya itu, terkhusus Nara, karena memang dia lebih dekat dengannya ketimbang Minhyuk. Tapi, dia tidak ingin melakukannya sejak ayah dan ibunya menjodohkannya –alasan agar perusahaan mereka tetap berjalan dengan semestinya.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Nara lagi. Ini pesan yang ke 28 selama 15 menit terakhir. Dan Jonghyun tidak berniat untuk membuka ataupun membalasnya.

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah Café didaerah Yeouido, Nara Nampak kesal. Ditemani Minhyuk, gadis itu tak henti-hentinya mengomel setelah dia bertemu dengan Jonghyun satu jam lalu.

“Tak mungkin kan dia melupakanku,” katanya gusar. “Maksudku, yeah, masa sih dia lupa sahabatnya sendiri? London membuatnya bersikap sombong!” Nara memaki. Dia dan Minhyuk sempat bertemu dengan Jonghyun saat berada di pusat pembelanjaan di Yeouido, dan Jonghyun mengabaikan Nara serta Minhyuk. Dia bahkan tidak mengindaakan sapaan Nara yang menyapanya terlebih dahulu. Disesapnya Hot Chocholate pesanannya dengan cepat –yang membuat Nara terpekik setelahnya karena lidahnya terasa terbakar.

Minhyuk tak henti-hentinya tersenyum. Baginya melihat Nara menggerutu adalah sesuatu yang menghiburnya. Dia juga sahabat Jonghyun, tapi memang tidak sedekat Nara dengan Jonghyun.

“Hei, kau kira ini lucu?” Nara menatap Minhyuk galak. Cepat-cepat Minhyuk menyesap pelan White coffenya lalu menatap Nara dengan polos.

“Tidak, aku tidak berbicara seperti itu,” Minhyuk menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Maksudku, tak ada hal yang lebih penting yang harus kita pikirkan selain Jonghyun?”

Wajah Minhyuk telah tertutup oleh serbet yang berada dimeja café itu. Nara baru saja melemparnya.

“Kelakuanmu ini menyebalkan sekali Kang Minhyuk,” ucapnya kesal, “Dia sahabatmu juga, sahabat kita! Tidakkah kau khawatir melihat sahabatmu muram dan mengabaikanmu begitu bertemu denganmu sementara ini adalah pertemuan pertama kita setelah dia pergi ke London 6 tahun lalu?”

Minhyuk mengerutkan keningnya lalu menyesap White Coffenya sampai setengah. Kedua tangannya dikaitkan dan menopang dagunya.

“Sebenarnya aku juga khawatir, kalau kau mau tahu,” jelas Minhyuk. “Pasti ada alasan kenapa dia bersikap seperti itu, itu sih menurutku.”

“Persis!” Nara menjentikkan jarinya, “Aku juga berfikir begitu, tapi apa alasannya?”

Minhyuk mengedikkan pundaknya, yang artinya dia juga tidak tahu jawabannya. Dia mampu melihat kecemasan dibalik bola mata hitam milik Nara tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Nara menghempaskan tubuhnya dikursi dengan kesal lalu menatap rintik-rintik hujan yang terbingkai oleh kaca jendela café.

Jonghyun, kenapa kau sebenarnya? Lirih Nara dalam hati.

~~~

“Jonghyun, sudah melihat calon istrimu?” Tanya wanita paruh baya yang biasa dipanggil ‘Eomma’ oleh Jonghyun. Lelaki itu menggeleng dan berhenti mengunyah sarapan paginya.

“Kenapa? Apa kau tak suka makanannya?” Tanya ibunya lagi. Alih-alih menjawab pertanyaan ibunya, Jonghyun menarik mantel coklat miliknya lalu keluar.

Ibunya hanya mampu menghela napas pelan. Mungkin dia tak suka dengan perjodohan ini, pikirnya. Tapi ini satu-satunya jalan agar dia dan keluarganya dapat terus mempertahankan bisnis serta perusahaan keluarganya.

Jonghyun mengendarai Maybach Landaulet putihnya diatas kecepatan rata-rata. Kekesalannya semakin menjadi setelah ibunya menyebut-nyebut ‘calon istri’ sepagi ini. Perjodohan? Oh ayolah, mereka tak memikirkan perasaanku sama sekali, batin Jonghyun.

Semua kekesalannya ini tidak terjadi begitu saja. Banyak hal yang mempengaruhinya, salah satunya tentang masalah hatinya. Karenanya dia tidak dapat menerima perjodohan itu dengan mudah.

Kalau boleh jujur, dia mencintai Nara. Sahabatnya sejak dia duduk di sekolah dasar. Dan ketika seminggu lalu dia bertemu dengan Nara, bukan main dia senangnya. Tapi, ini semua harus ditutupi. Nara tidak boleh tahu perasaannya, begitupun Minhyuk yang memang sahabatnya juga. Dan Jonghyun berencana tidak mengontak Nara dan Minhyuk lagi setelah ini.

Ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Nara. Jonghyun semakin mengeratkan genggaman tangannya di stir mobilnya. Betapapun dia ingin mendengar suara cempreng Nara, dia tidak boleh sekalipun mengangkat atau membalas apapun dari gadis itu. Jika dia mengangkatnya, hatinya semakin melemah dan dia tidak cukup kuat untuk mengikuti amanah orang tuanya.  Dia cukup tahu diri, karena dia tidak ingin menghadirkan kebahagiaan yang sementara untuk Nara.

Nara, mianhae. Aku begini agar kau bahagia,  batin Jonghyun.

~~~

Tepat pukul 08.00 PM. Nara memutuskan untuk ketaman dekat rumahnya, sekedar menyegarkan pikirannya yang –entah kenapa-  terpaut pada Lee Jonghyun.

Bunyi ‘kreet’ dari rantai berkarat ayunan yang sedang dinaikinya memecah kensunyian. Petak-petak rumput yang terhampar dihadapannya sudah tidak terawat lagi. Air mancur yang berada ditengah taman juga tidak berfungsi.

“Nah,” Minhyuk menyerahkan es krim pisang kehadapan Nara. Gadis itu sedikit terperanjat awalnya, namun akhirnya tangannya meraih es krim pisang itu dan mulai menikmatinya.

“Ngapain kau malam-malam kesini?” Minhyuk duduk diayunan disampingnya, menciptakan bunyi ‘kreet’ lainnya yang menemani mereka.

“Aku suntuk berada dirumah,” katanya. “Dan, aku masih memikirkan Jonghyun. Dia masih saja tidak membalas pesanku maupun menjawab telponku.” Bibirnya cemberut.

Minhyuk menoleh menatap Nara. Gadis itu benar-benar sedih semenjak bertemu dengan Jonghyun sebulan yang lalu. Minhyuk pun sebenarnya juga menghubungi Jonghyun. Dia bahkan sempat berbincang beberapa menit di telpon. Tapi, dia tidak yakin akan menceritakannya kepada Nara.

“Kau sendiri ngapain berkeliaran malam-malam?” Nara menoleh menatap Minhyuk sambil menjilati es krimnya.

“Hanya ingin berjalan-jalan saja, niatnya sih beli es krim. Dan kulihat kau disini, awalnya malahan kupikir hantu.” Minhyuk menjawab dengan enteng, tanpa memperdulikan wajah Nara yang kesal karena sempat dikira hantu.

“Nara,” Gadis itu menoleh. “Hmm?”

Minhyuk mengerling aneh. Tidak baik menyembunyikannya kepada Nara, tapi kurasa ini juga tidak baik jika aku memberitahunya, batin Minhyuk.

“Apa?” Nara bersuara lagi. Tatapan gadis itu terfokus sepenuhnya kepada Minhyuk. Setelah Minhyuk perang dengan batinnya, akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya.

“Sebenarnya,” Minhyuk menatap wajah Nara, “Aku sempat menelpon Jonghyun juga, dan dia yeah, menjawab telponku.”

Mata Nara membulat sempurna, sampai-sampai rasanya mata itu akan keluar dari kelopak yang selama ini melindunginya.

“K-kau serius?” suara Nara terbata, terdengar tidak yakin. Minhyuk mengangguk ragu, “Aku serius, tapi –kurasa- mungkin dia tidak menyimpan nomorku dan tidak sengaja terangkat.” Minhyuk mencoba mencari alasan.

Nara menggeleng lemah, “Mana mungkin dia tidak menyimpan nomormu, kau juga sahabatnya Hyuk.” Gumamnya pelan, “Lalu apa yang dia katakan?”

Minhyuk terdiam beberapa saat, lalu menghabiskan es krimnya sekaligus. Nara tampak tidak sabar menunggu Minhyuk benar-benar menelan eskrimnya.

“D-dia bilang, dia sedang sibuk jadi tidak bisa bertemu kita,” Minhyuk menoleh ragu, “Dan juga berpesan agar kau euhmmm tidak menelponnya ataupun mengirim pesan, itu mengganggunya.”

Nara menunduk, menatap sepasang kakinya yang asik memainkan kerikil dibawahnya. Tak dipungkiri, hatinya bagai ditusukkan seribu pisau yang berkarat. Jonghyun tidak mau aku menghubunginya? Pikir Nara kalut. Air matanya merembes membasahi wajahnya.

Mianhae, a-aku tidak bermaksud menyakitimu,” Minhyuk merangkul sahabatnya itu, “Aku tidak bisa menyembunyikannya darimu.” Minhyuk berkata pelas.

Nara mengistirahatkan kepalanya ke bahu kiri Minhyuk. Helaan napasnya terdengar sangat jelas di indra pendengaran Minhyuk, dan itu membuatnya merasa semakin bersalah.

Aniyo, jangan merasa bersalah karena kau memberitahukan info ini kepadaku,” suara Nara bergetar, “Justru aku akan marah jika kau menyembunyikannya dariku.”

Minhyuk semakin mengeratkan pelukannya. Dia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh gadis yang sudah dianggap sebagai saudaranya itu. Minhyuk tidak menutup mata akan hal ini, dan dengan yakin dia berpikir bahwa Nara memang mencintainya –Lee Jonghyun.

“Nara, kau mencintainya?”

“Siapa?” Nara menghela air matanya sendiri lalu menatap Minhyuk. Lelaki itu tersenyum dan mengusap puncak kepala Nara, “Jangan menyembunyikannya dariku. Apa kau belum mempercayaiku?”

Tanpa diduga, Nara memeluk Minhyuk. Gadis itu telah menangis lagi sekarang dan entah mengapa membuat hati Minhyuk sakit sekali.

“A-aku memang mencintainya Hyuk,” ucapnya dengan suara yang teredam, “Kau pikir kenapa aku menelponnya terus semenjak pertemuan kita? Itu karena aku rindu padanya dan berharap bisa bicara kepadaknya, seperti aku bicara padamu.”

“Tapi dia tidak bicara padamu, yeah.” Minhyuk mendesah pelan, menyesali sikap dingin Jonghyun kepada Nara.

~~~

Hujan lebat mengguyur kota Seoul sejak pagi tadi. Itu membuat Jonghyun mendesah kesal karena dia tidak bisa beranjak dari kantornya walaupun jam kerja sudah berakhir sejam yang lalu.

Dia menatap hampa smarphonenya. Minhyuk pasti telah memberitahunya pada Nara, pikir Jonghyun. Tak ada lagi tumpukan pesan masuk ataupun panggilan tak terjawab. Nara benar-benar menuruti apa kemauan Jonghyun.

Tapi, itu justru membuat Jonghyun semakin gusar. Semakin dia tidak ingin memikirkan Nara, semakin besar juga cinta sekaligus rindu yang tumbuh dihatinya. Mata hitamnya berubah muram. Nara pasti sedih karenaku, batin Jonghyun lirih.

Pintu ruangannya menjeblak terbuka, lelaki paruh baya yang dikenal sebagai ‘Appa’ dari Lee Jonghyun melangkah masuk dan berhenti tepat dihadapan Jonghyun.

“Sudah melihat calon ist-“

“Hentikan,” Jonghyun buru-buru memotongnya, “Tidak adakah topik pembicaraan yang lebih menyenangkan dibanding terus menyebut-nyebut apa yang kubenci?”

“Jaga bicaramu, nak!” Ayahnya berkata dingin. Pipinya yang mulai keriput berkedut cepat –menahan marah.

Jonghyun mengerling malas dan memilih memainkan smartphonenya.

“Jonghyun, tolong dengarkan aku!” Ayahnya menopangkan kedua tangannya di meja kerja Jonghyun, “Kaulah satu-satunya yang dapat menyelamatkan bisnis keluarga kita –bahkan perusahaan yang dibangun oleh Kakek buyutmu ini. Perusaan kita tidak lagi berada diujung tanduk jika kau menikahi calon istrimu –Lee Seungmi.”

Jonghyun terdiam, rahangnya mengeras dan dia menghamburkan map-map yang berada di mejanya. Lelaki itu berlalu dari hadapan ayahnya dan membanting pintu dengan keras.

“Nara, aku ingin bertemu denganmu. Tunggu aku di Seoul Park tiga puluh menit lagi.” Ucap Jonghyun di telpon.

~~~

Rintik-rintik hujan masih tersisa. Nara berjalan pelan dibawah payung ungunya menuju bangku yang dinaungi oleh pohon Maple.

Setengah Jam yang lalu Jonghyun menelponnya untuk bertemunya disini. Entah senang atau kalut, Nara tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.

Suara gemerutuk sepatu membuat mata Nara menatap sosok dihadapannya. Jonghyun telah sampai, dan tanpa sapaan dia telah duduk disamping Nara.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku kesini?” Nara akhirnya bersuara. Jonghyun masih diam, mengatur kata-kata yang tepat agar tak terlihat begitu bahagia karena dapat bertemu dengan Nara –lagi.

“Aku hanya ingin bertemu,” jawabnya singkat, “Tak ada alasan penting, sebenarnya.”

Nara tak tersenyum. Otot wajahnya tiba-tiba kaku. Tak mungkin dia tanpa tujuan mengajakku kesini, mengingat dia bilang kepada Minhyuk agar aku tak menghubunginya lagi, pikir Nara.

Semenit kemudian, Jonghyun menatap wajah Nara. Buncahan-buncahan kesenangan memenuhi hatinya, sampai-sampai rasanya dia ingin teriak dan memeluk gadis itu.

“Maafkan aku,” suara Jonghyun terdengar pelan, “Aku bukan sahabatmu yang baik, seperti Minhyuk.”

Nara masih menatap Jonghyun. Lalu menyenderkan punggungnya di bangku taman.

“Ya, aku tahu kau akan mengatakan hal itu,” Nara tersenyum terpaksa, “Tidak apa-apa, aku mengerti kalau kau memang sibuk.”

Jonghyun masih menatap Nara. Matanya perih dan tiba-tiba saja hatinya mencelos. Sebenarnya bukan itu yang ingin dikatakannya. Dia ingin sekali bilang bahwa dia mencintai Nara, tapi lidahnya kelu setiap kali dia mencoba untuk mengucapkannya.

“Aku mencintaimu, Jonghyun ah.” Nara tertunduk. Jonghyun menoleh dengan cepat. Rasanya seperti mimpi mendengar Nara bilang begitu.

“K-kau serius?”

Nara mengangguk pelan lalu menatap Jonghyun setelahnya, “Tapi, aku tidak akan mengganggumu lagi, Jonghyun ah. Kau memilih agar aku tidak me –“

Suara Nara teredam karena tiba-tiba Jonghyun memeluknya, dengan sangat erat. Nara semakin bingung dengan sikap Jonghyun saat ini.

“Kau tidak sedang sakit kan?”

Jonghyun menggeleng, “Tentu saja tidak,” Jonghyun mengurai pelukannya. Memandang Nara selekat mungkin dan mencubit pelan pipi Nara.

“Aku harus pergi Nara, sampai bertemu lagi.”

Mata Nara jelas mengatakan bahwa dia tidak ingin Jonghyun pergi, namun dia tidak bisa menahannya. Dibiarkannya lelaki itu berjalan menjauh darinya, tanpa sepatah kata perpisahan dari mulutnya.

Jonghyun berusaha keras agar dia dapat menahan air matanya. Dia mencengkram ujung jas formalnya dengan kuat-kuat selagi dia berjalan kembali ke mobil.

“Nara, aku juga mencintaimu,” batin Jonghyun lirih.

~~~

2 years later

Nara menggotong toples kaca besar dan menaruhnya didalam etalase. Akhirnya, pekerjaanku selesai juga, pikirnya bahagia.

“Minhyuk ah, coba kau lihat, apa aku benar menaruh Marshmallownya?” teriak Nara. Minhyuk buru-buru keluar dari sebuah ruangan dan mendesah kesal.

“Sudah kubilang, jangan menaruh Marshmallow di etalase gula-gula!” Minhyuk mendelik marah dan menggotong toples kaca itu ke etalase yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Nara nyengir dan melepas celemek hijaunya.

“Anak-anak itu membuatku lelah sekaligus bingung sepanjang hari.” Nara mengurut pelan bahunya. Minhyuk tersenyum simpul dan ikut duduk disamping Nara.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” Tanya Minhyuk sambil melipat celemek hijau miliknya dan milik Nara.

“Tidak buruk. Maksudku –bisnis gula-gula ini menguntungkan jauh lebih besar dari yang aku pikirkan.” Nara mengakhirinya dengan senyuman.

Aish, bukan itu  maksudku.” Minhyuk mendesis kesal, “Perasaanmu terhadap euhmmm ….”

Tanpa melanjutkan kalimatnya, Nara sudah tahu apa yang dimaksud dengan Minhyuk. Tentu saja perasaannya terhadap Lee Jonghyun.

Gadis itu beranjak dan mencomot satu gula-gula perisa lemon, lalu menjejalkannya kemulut.

“Bagaimana ya? Aku tidak memikirkannya sih. Kurasa aku mulai melupakannya sejak setahun yang lalu.” Dusta Nara, diakhiri senyumnya yang paling terpaksa. Minhyuk mendelik. Wajahnya Nampak sumringah mendapati sosok lelaki yang lebih pendek darinya beberapa senti sedang melangkah masuk kedalam toko mereka.

Aish, bukankah sudah kubilang kalau toko kami tu…” Nara tercengang begitu melihat siapa yang masuk ke tokonya. Minhyuk menyilangkan tangannya dan terkikik pelan.

“Aku tidak ingin membeli gula-gula kok,” katanya pelan. “Aku cuma ingin bertemu sebentar dengan sahabatku selagi aku melewati tokonya.”

Minhyuk memeluk Jonghyun singkat. Kerlingan mata Jonghyun membuat Minhyuk paham lantas berdeham kecil.

“Nara, aku akan ke gudang penyimpanan. Kurasa gula-gula perisa pepaya bisa ditaruh di toples dan dipajang besok.”

Nara ingin Minhyuk berada disini saja, bersamanya dan Jonghyun. Tapi, Minhyuk buru-buru melesat ke lantai dua toko ini.

“Apa kabar?” Jonghyun duduk dihadapannya. Nara mengerlingnya. Rasanya seperti lelucon menanyakan kabarku setelah dia tidak menjawab pernyataan cintaku lalu menghilang, batin Nara.

“Baik, seperti yang kau lihat.” Gemerutukan gula-gula perisa lemon yang dikunyah Nara berbunyi nyaring di toko kecil yang sudah tutup itu.

“Aku tahu ini terlambat, tapi, maukah kau memaafkanku –lagi?”

Nara mengernyit, “Untuk apa? Kau berbulan-bulan tidak menghubungiku ataupun Minhyuk, hal apa yang ingin aku maafkan?” gumamnya –sedikit- kesal.

Jonghyun menghela napasnya pasrah.

“Karena semuanya. Aku tahu selama ini aku menyusahkan euhmmm hatimu.”

Nara sukses mendelik kearah Jonghyun, dan lelaki itu tergelak karenanya.

“Sudahlah, perasaanku tak penting lagi. Kudengar kau akan menikah, kapan tepatnya?” Nara tidak memaafkan lidahnya yang menanyakan hal yang –mungkin- akan menyakitinya.

Jonghyun terdiam dan menggeleng, “Tidak penting menanyakan itu sebenarnya,” kata Jonghyun malas. “ Oh iya, aku ingin mengucapkan salam perpisahan kepadamu, juga kepada Minhyuk. Aku akan kembali ke London.” Lanjutnya lagi.

Napas Nara tertahan, begitupun Minhyuk yang baru saja selesai memindahkan gula-gula perisa pepaya kedalam toples.

“K-kau ke London?” Jonghyun mengangguk, “Masalah perusahaanku, yeah.” Jawabnya seakan tau bahwa mata Nara dan Minhyuk bertanya untuk-apa-kau-kesana?

“Kalau begitu kau harus membawa sedikit gula-gula dari toko kami. Itung-itung kenang-kenangan, atau –kalau bisa- kau mempromosikannya. Aku akan menyiapkannya.”

Minhyuk hilang dibalik tirai setelahnya. Nara masih menatap Jonghyun, masih tidak percaya bahwa sekali lagi lelaki itu akan meninggalkannya.

Mata Jonghyun membelalak begitu merasakan Nara mendarat di tubuhnya dan memeluknya.

“Aku mencintaimu Jonghyun, perasaanku masih sama seperti dulu, kalau kau mau tahu.” Gumam Nara. Perlahan Jonghyun mengurai pelukan Nara dan menatap bola mata hitam Nara lekat-lekat.

“Aku harus pergi,” Jonghyun tersenyum simpul dan mengacak pelan rambut Nara yang memang sudah acak-acakan.

“Jonghyun aku sud…hei, kemana dia Nara?” Minhyuk bertanya-tanya begitu meliahat Nara duduk sendiri. Nara tersenyum kecil, “Dia sudah pergi.”

Minhyuk mendesah pelan dan menatap kantong gula-gula yang telah disiapkannya.

“Kupikir kita bisa mempromosikan ini.” Minhyuk tersenyum pahit dan mengambil marsmallow lalu melahapnya.

Jonghyun berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir beberapa blok sesudahnya. Aku tidak akan pernah ada untukmu lagi setelah aku menikah, untuk itu, lebih baik aku pergi dan tidak melihatmu lagi, Nara. Ini sakit, tapi aku akan mengakui bahwa aku juga mencintaimu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan…tak akan pernah berubah, batin Jonghyun.

Diusapnya ekor mata yang telah menitikkan air mata yang sangat dijaga oleh lelaki bernama Lee Jonghyun itu sebelum dia melaju menjauh dari toko Nara dan Minhyuk.

Nara, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, batin Jonghyun. Dan air mata kembali turun di ekor mata yang lainnya.

THE END

 

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s