[FF CONTEST] My Love

[FF CONTEST] My Love

 

 

 

When the rain falls out the window, the hidden memories drench my heart. The person I thought I forgot clearly floats up in my head instead. My love, my love, my love who I long for. My love, who I call out as loud as I can but can’t hear me. My love, my love, my love that I miss.

‘tring’ itulah  bunyi yang terdengar saat aku memasuki salah satu café, aku berjalan menuju pojok ruangan ini yang memang adalah tempat favourite-ku saat aku masih di bangku SMA lalu duduk di salah satu meja yang dapat langsung melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Aku memperhatikan tetesan hujan yang jatuh di jendela, satu demi tetes rintikkan hujan membuatku kembali mengingat memoriku sepotong demi sepotong. Tiba-tiba seorang namja yang notebane-nya sahabatku datang memberikan cangkir kopi berisikan Capucino kehadapanku, aku mendongak melihat orang tersebut “Gomawo Hyuk-a” dia tersenyum lalu menjawab

“Cheonma Hyung.. mian aku tidak bisa menemanimu karena kebetulan pengunjung sedang ramainya” katanya menjelaskan sambil sesekali menghusap tengkuknya “Gwaenchana” aku memang tau bahwa sahabatku yang memang salah satu pelayan café ini sedang mengalami kenaikan pengunjung “Arasseo aku akan kembali bekerja.. jika hyung ingin menenangkan hatimu jangan sungkan-sungkan memanggilku, eo? Ah aku sudah di panggil manager, annyeong hyung” dia membungkuk 90 derajat kearahku lalu berlari meninggalkanku. Aku kembali memperhatikan hujan yang sedang mengguyur kota Seoul dengan nanar dan tersenyum, tersenyum kecut. ‘aku kira aku bisa melupakan semua tentangmu tapi ternyata aku salah karena sekarang memori itu kembali terputar di kepalaku’ kataku dalam hati. Sambil memutar cangkir coffee yang berada di hadapanku.

#Flashback#

“Aish dimana yeoja itu?” decakku kesal sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di hadapanku, berharap yeoja yang kucari dapat muncul di hadapanku. Tiba-tiba mataku behenti melihat orang-orang yang berlalu-lalang saat yeoja yang kucari sudah berdiri tegap di hadapanku dengan senyuman yang menghiasi wajahnya “Jonghyun Oppa sudah berapa lama kau menungguku?” tanya yeoja itu sambil cengengesan sendiri melihat ekspresi wajahku yang sedang kesal “1 jam.. kamu dari mana saja Hye?” kataku dengan nada di lembutkan, dia tersenyum lagi sekarang dengan menunjukkan gigi-giginya

“Oppa tau kan kebiasaan tidur malam-ku? Kemarin aku baru membeli novel dan novel itu baru selesai kubaca jam 2 pagi jadi aku kekurangan tidur Oppa” katanya panjang lebar sambil mengeluarkan novel barunya dari dalam tas biru miliknya, kalau misalnya dia kekurangan tidur apa hubungannya dengan baru keluar dari sekolah jam 4 sore? Aku menatapnya bingung membutuhkan penjelasan yang lebih terperinci, dia menghela napas lalu tersenyum meremehkan “YA Oppa.. kenapa otakmu lamban sekali? Masa seperti itu saja kau tidak tau..” dia memasukkan kembali bukunya lalu berjalan meninggalkanku yang masih bingung dengan perkataannya

“YA Cho Hye Kyo tunggu aku” kataku sambil berlari kecil agar bisa mensejajarkan langkahku dengan langkahnya “Hye-a jelaskan maksudnya apa?” kataku dengan nada sedikit memohon, dia berhenti berjalan lalu menatapku garang “Tadi aku tidur di perpustakaan Oppa.. kenapa kau tidak mengerti sekali? Ah ternyata namjachinguku ini memang memiliki otak yang lamban” jawabnya santai sambil berlalu meninggalkanku lagi yang menganga kaget ‘Mwo? Otak yang lamban?’ aku mengejarnya lalu menjitak kepalanya keras yang membuatnya berhenti berjalan lalu meringis

“Appo..” dia menghusap kepalanya yang barusan kujitak, aku tersenyum kemenangan lalu berjalan mendekat kearahnya agar bisa melihat wajahnya jelas dan dengan cepat aku menoyor kepalanya “Apa katamu tadi? Aku memiliki otak yang lamban? Cih.. YA!! Cho Hye Kyo aku tau otakmu lebih pintar daripada otakku ya karena memang itu keturunan dari Oppa-mu yang evil itukan? Tapi kalau otakku lamban kenapa kau mau menjadi yeojachinguku?” badannya menegang lalu menatap kedua mataku

“Hmmm, Molla.. Aku tidak tau kenapa aku mencintaimu.. mungkin saat aku menerimamu otakku lagi bermasalah” jawabnya dengan menatap mataku santai, lalu di lanjutkan dengan memeletkan lidahnya kearahku dan ya pasti kalian tau apa yang dia lakukan sesudah itu. Lari. Aku bingung kenapa aku bisa jatuh cinta dengan yeoja iblis ini? Mungkin aku sudah terkena penyakit mematikan yang harus mencintainya, penyakit cinta. Aku hendak mengejarnya tapi sebuah akal keluar dari otakku, aku memang memiliki otak yang cerdas. “Akkh.. Hye-a..” aku jatuh terduduk sambil memegang kepalaku, kulihat dari ujung sana dia menatapaku kaget lalu berlari mendekatiku ‘Kena kau nona Cho’ kataku dengan penuh kemenangan. “Jonghyun Oppa gwaenchana?”dia berlutut di hadapanku lalu memegang salah satu lenganku

“Appo..” ringisku, terlihat jelas di wajahnya dia khawatir ia mengeluarkan I-phone putih miliknya hendak menelepon seseorang tapi kupegang lengannya yang membuat matanya kaget melihat kelakuanku “Hahahahaha.. gotcha, kau memang gampang di bohongi Hye-a” kataku senang sambil memegang kedua pipi putih miliknya, tiba-tiba dia memukul lenganku “Oppa.. kau membuat jantungku berhenti berdetak” katanya sambil menunduk air matanya menetes mengenai tanganku. Aku tersenyum lalu menghapus air matanya “Berarti kau memang mencintaiku, kan?” kataku menantang, dia mendongak menatapku dengan kedua matanya yang memerah lalu dia mengangguk “Neomu-neomu saranghaeyo..” lirihnya, aku tersenyum penuh arti lalu memeluk tubuhnya “Nado.. jangan pernha kau meninggalkanku, eo?” kataku di telinga kananya, tapi tiba-tiba dia melepas pelukannya lalu menatapku sedih “Aku tidak janji Oppa” dia berdiri lalu berjalan meninggalkanku  yang sedang bingung setengah mati ‘apa maksudnya? Mungkin dia bercanda’.

#Falsback end#

***

Just your name alone cuts me, my painful Love , my love. When the darkness comes out the window, the hidden memories light up my heart. The moments we laughed together, the moments we shed tears together. Now I let it go but..

Menatap bintang, itulah yang kulakukan sekarang hal yang sering kulakukan bersama dengannya, tapi sekarang aku hanya melakukannya sendiri tanpamu di sebelahku ‘selama ini hanya namamu yang ada di hatiku, hanya namamu yang selalu menyakitiku. Kenapa cintaku sangat menyakitkan?’ kuperhatikan langit gelap yang menghiasi malamku yang gelap ini  tapi tidak dengan hatiku yang akan selalu terang dengan memori kita. “Why my love life so difficult? Why did you leave me without telling me anything about your circumstances?” lirhku sambil mengingat kejadian-kejadian yang kita lakukan bersama, tertawa bersama dan menangis bersama. Sekarang aku sudah mencoba melupakan semuanya tapi.. itu semua sulit.

#Flashback#

“Oppa temani aku ke taman bunga matahari itu, eo?” Hye Kyo menarik tanganku semangat sambil menunjuk kearah taman yang berisikan buga matahari yang dia maksud “Hye-a.. aku lelah” aku memegang lututku yang sudah sakit sekali untuk melanjutkan berjalan kearah taman itu belum lagi nanti dia pasti akan mengelilingi taman matahari itu. “Oppa.. jeball, kau akan menyesal jika kau menolaknya” katanya menjelaskan, semakin lama aku semakin bingung dengan semua perkataan yang dia katakan dia selalu mengatakan sesuatu yang membuatku harus berpikir keras menemukan jawabannya

“Sabar Hye-a.. kakiku benar-benar sakit sekali” aku berjalan menuju salah satu tempat duduk yang di sediakan oleh taman ini. Aku mengurut kakiku perlahan berharap rasa sakit di lututku segera menghilang, dia duduk di sebelahku dengan wajah cemberut “Oppa aku saja belum lelah sama sekali.. kenapa kau mudah sekali lelah? Apa Oppa sedang sakit?” tanyanya dengan nada sedikit khawatir aku menengok kearahnya lalu menggeleng “Gwaenchana.. keundae, jalan-jalan mengelilingin N Seoul Tower sudah sangat melelahkan dan sekarang kau minta untuk masuk kedalam taman bunga matahari itu kakiku sudah tidak kuat lagi berjalan dan cacing-cacing di perutku sudah demo minta diisi” jawabku panjang lebar dengan menatapnya memelas, dia berdiri lalu menarik tanganku ‘ah mau kemana lagi dia sekarang?’ “Eodiga?” tanyaku lemas, dia tersenyum manis lalu menjawab

“Katanya Oppa lapar kajja kita makan.. aku juga sudah lapar” aku tersenyum mendengar perkataannya lalu mengangguk semangat. Kuikuti lngkahnya yang berjalan menuju sebuah café. ‘tring’ itulah bunyi yang terdengar saat kami memasuki café yang memiliki desain minimalis ini. Hye Kyo menarik tanganku menuju meja yang berada di pojok ruangan ini dimana jika kita duduk di situ kita dapat melihat apa saja yang dilakukan orang-orang di luar sana.

“Oppa kau mau pesan apa? Kebetulan ini café sahabatku” katanya dengan senyuman yang tetap menghiasi wajahnya “Aku sama denganmu saja Chagi..” kataku dengan membalas senyumannya lalu aku kembali memperhatikan pemandangan di luar jendela. “Minhyuk-a..” kudengar yeojachinguku memanggil salah satu namja. Tapi apa? Namja? Aku menengok kearah yeojachinguku yang sedang memanggil seorang namja yang menurutku memiliki muka imut itu “O.. Hye-a, kapan kau datang?” tanya namja yang bernama Minhyukk itu bersemangat “Baru saja.. ehm.. Minhyuk-a aku ingin memesan sphageti 1 dan 2 capucino” namja itu mencatat semua yang kami pesan lalu mengulangnya kembali, namja itu sekilas melirik kearahku

“Ehm.. Hye-a nuguya?” Minhyuk menunjuk kearahku dengan matanya yang fokus dengan mata yeojachinguku “Ah Jonghyun Oppa dia Minhyuk sahabatku, dan Minhyuk ini namjachinguku Jonghyun” kulihat Minhyuk kaget tapi hanya sebentar karena setelah itu dia tersenyum kearahku “Annyeong haseyo naneun Kang Minhyuk sahabat Hye Kyo” dia mengulurkan tangannya yang di balas dengan uluran tanganku “Ne annyeong haseyo naneun Lee Jonghyun Cho Hye Kyo namjachingu” dia melepas jabatannya lalu melihat kearah Hye Kyo lagi “Hye-a aku inikan sahabatmu.. kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau sudah punya namjachingu” Hye Kyo tersenyum lalu memberi isyarat bahwa nanti dia akan menjelaskannya. Namja yang bernama Minhyuk itu berlalu dari hadapanku.

“Kenapa hanya memesan sphageti satu? Kamu tidak makan?” tanyaku bingung, dia tersenyum lalu mangangguk “Aku sudah kenyang Oppa, ah.. Oppa kau jangan bergerak aku akan memfoto dirimu” katanya sambil mengeluarkan polaroid biru laut miliknya, aku menatapnya bingung. Inilah yang kumaksud akhir-akhir ini dia sering sekali minta di temani jalan-jalan lalu pasti dia akan memfotoku “Kenapa kau selalu ingin memfotoku chagi?” dia tersenyum dari balik polaroidnya lalu menjawab

“We don’t know that we are still together tomorrow might bring us tomorrow god no longer, now we better capture the activities that we do today” ucapnya panjang lebar, kini aku semakin bingung dengan perkataannya “Today, tomorrow or later I promise we’ll always be together” kataku sambil memegang kedua tangannya yang sedang memegang polaroidnya, menatap kedua mata favouriteku. Dia melepas tanganku lalu tersenyum sedih “I don’t promise” aku kembali tercengang ‘apa dia akan meninggalkanku?’

“Hye-a.. what do you mean?” tanyaku sambil berusaha mengenggam kedua tangannya dia lebih memilih menunduk daripada menjawabku. Hingga pesanan kami datang “Gamsahamnida Minhyuk-ssi” kataku pelan, dia hanya tersenyum. Aku menghela nafas “Arasseo kalau kamu tidak mau memberitahunya, sekarang kita makan sphageti ini berdua ya?” dia mengadahkan kepalanya melihatku lalu menggeleng “Aku kenyang Oppa..” dia mengambil capucino-nya lalu menyesapnya perlahan, aku menatapnya bingung

“Hye-a.. jika kau ada masalah ceritakanlah denganku ehm?” dia berhenti menyesap kopinya lalu melirikku “Nde..” aku tersenyum lalu mulai memakan sphageti milikku ‘aku tidak tau apa yang sedang terjadi dengannya.. walaupun kau ingin meninggalkanku aku pasti akan selalu mempertahankan cinta ini’

#Flashback end#

Sekarang aku tau apa yang kau maksud dengan kita tidak mungkin bersama selamanya. Kau meninggalkanku, meninggalkan cintaku dan meninggalkan semua kenangan yang kini semuanya sudah menjadi kenangan yang menyakitkan. Aku tau berat rasanya untuk memberitahu itu semuanya, tapi.. kenapa kau tidak pernah mencobanya walaupun itu tetap akan membuat hatiku hancur berkeping-keping? Kalau kamu tau rasa yang kurasakan sekarang rasa sakit ini lebih sakit dari pada yang kau bayangkan.

Aku berjalan menyusuri taman bunga matahari ini dengan air mata yang terus menetes, kupetik salah satu bunga matahari itu dan memperhatikannya. Aku tersenyum melihat bunga matahari itu atau mungkin yang lebih benar adalah tersenyum sedih, air mataku jatuh membasahi bunga matahari yang kupegang ‘bunga mungkin akan layu pada saatnya tapi tidak dengan cintaku yang akan selalu bertumbuh untukmu’.

My love, my love, love I am grateful for. My love, that stays even if I erase everything. My love, my love, my precious love. I will cherish you until my breath runs out, my love, my love.

#Flashback#

“Oppa lihat bunga matahari itu.. neomu yeoppeuda” decaknya kagum sambil sesekali menyentuh bunga itu, aku yang berada di belakangnya hanya bisa tersenyum. Tidak ada yang di lewatkannya dari taman ini semua sudut-sudutnya ia datangi dan tidak lupa ia pasti akan mengambil foto kami berdua aku membiarkannya saja melakukan yang ingin dia lakukan asal dia senang aku akan melakukannya.

“Ah.. lelahnya, Oppa kajja kita ke pantai eo? Melihat sunset” katanya sambil mengelap keringat yang mengalir dari dahinya, aku mengangguk lalu membawanya ke mobil putih milikku. Kunyalakan mesin mobilku dan kubawa tidak terlalu cepat, kulihat dia menyandarkan kepalanya sambil memperhatikan jalanan luar “Hye-a.. sepertinya ada telepon lebih baik kau mengangkatnya” kayaku saat melihat I-phone putih miliknya yang berada di dalam genggamannya terus mengeluarkan suara

“Ah ne chakamman Oppa..” ia menekan tombol berwarna hijau lalu menjawab telepon orang yang meneleponnya ‘Yeoboseyo Hye-a..’ sepertinya dari Oppanya karena aku mendengar suara khas dari Oppa nya terdengar di telingaku “Yeoboseyo Kyu Oppa.. wae geurae?” Hye Kyo menegakkan tubuhnya, mendengar semua yang di katakan oleh Oppanya itu. Kulihat dia menjawabnya dengan sesekali menggigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu “Gwaenchana Oppa.. ah aku sudah sampai nanti kita lanjutkan di rumah ya Oppa annyeong” Hye Kyo menutup teleponnya lalu memasukkan I-phone nya kedalam tasnya.

“Kajja Oppa..” katanya semangat sambil turun dari mobil, karena memang kami sudah sampai aku mematikan mesin mobilku lalu berjalan keluar dari mobil tidak lupa aku menguncinya. Aku melepas kedua sepatuku lalu berjalan di atas pasir tanpa alas menuju tubuhnya yang sedang merentangkan tangannya menikmati pemandangan pantai. Kulempar sepatuku lalu berjalan perlahan mendekat kearahnya, kupeluk tubuhnya dari belakang awalnya dia kaget tapi setelah itu dia membalas pelukanku dengan menaruh tangannya di atas tanganku yang berada di pinggangya

“Oppa bukankah pemandangan disini indah?” katanya senang, aku tidak menjawabnya melainkan tetap menikmati pelukanku “Oppa lebih baik kita duduk di situ..” dia melepas pelukanku lalu menarik tanganku agar duduk di sebelahnya. Aku duduk di sebelahnya dengan tanganku yang memeluk kedua lututku dia menyandarkan kepalanya di pundakku dan aku merasa kemeja putihku basah. Aku menatapnya bingung “Gwaenchana? Kenapa kau menangis?” ia membuka matanya dan melirik kearahku

“Gwaenchana.. keundae.. aku merasa aku tidak akan mengalami seperti ini” katanya pelan, ah dia mulai lagi ‘kenapa sih dia sebenarnya?’ aku tidak menjawabnya tetap diam, aku menggerakkan tubuhnya saat matahari yang mulai tenggelam. Ia tersenyum senang lalu mengabadikannya lagi dengan kamera polaroidnya. Setelah itu dia berdiri “Kajja Oppa kita pulang aku sudah sangat lelah” dia berjalan duluan menuju mobilku di ikuti aku di belakangnya. “BRUUK” tiba-tiba tubuhnya jatuh di hadapanku ‘OMO’ aku berlari dan memegang tubuhnya “Hye-a Ireona!!” kuangkat tubuhnya menuju mobilku, tanpa pikir panjang aku mengandarainya menuju rumah sakit.

Aku terdiam di kursi tunggu, aku merasa nyawaku seperti sudah di ambil oleh tuhan. “Kenapa kau tidak memberitahunya?” kataku kesal dengan air mata yang mulai mengalir tadi dokter bilang bahwa Hye Kyo sudah mengidap penyakit kanker hati stadium akhir setiap dokter memintanya untuk kemoterapi dia menolaknya karena alasannya dia ingin menghabiskan sisa hidupnya denganku.

Dokter keluar dari ruang ICU masih lengkap dengan peralatannya “Mianhae.. Hye Kyo sudah tidak bisa di selamatkan lagi” terpukul itulah yang kurasakan sekarang aku jatuh terduduk sendirian di lorong rumah sakit ini “Inilah yang kau maksud dengan kita tidak akan selalu bersama?” lirihku.

Tak lama kemudian keluarganya datang berbarengan datangnya Minhyuk, “Jonghyun-a apa kata dokter” tanya Kyuhyun hyung khawatir aku yang masih terpuruk hanya bisa menggeleng. Kyuhyun mendekat kearahku lalu menenangkan-ku “Uljima Jonghyun-a..” aku tidak bisa menahan semuanya lagi. Air mataku menetes seperti sungai yang terus mengalir.

If you aren’t my destiny in this world but.. you’re my destiny in the another world. People said love it’s very hurt but if  my love for you it’s very beautiful. You’re only my love today, tomorrow, or Later. I’ll always love you until my breath runs out.

Saranghae…

*end*

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s