[FF CONTEST] Teardrops In The Rain

Title    : Tear-drops In The Rain

 

No one ever sees, no one feels the pain

Tears-drop in the rain

 

            “Cintai dia… aku rela.”

Jong Hyun tertegun saat melihat ‘pemandangan’ yang begitu menyayat hatinya. Payung yang semula ia pegang, terlepas begitu saja dari genggamannya. Di hadapannya, sepasang kekasih sedang menautkan bibir mereka di balik payung.

Tangan Jong Hyun terkepal erat, rahang pria itu mengeras. Sekuat tenaga ia menekan emosinya hingga titik paling dasar. Ingin rasanya ia menarik tubuh gadis itu dari pria yang sedang menciumnya. Tapi, siapa ia yang berhak melakukan tindakan seperti itu?

Dan hal terbodoh yang ia lakukan saat ini adalah Jong Hyun begitu enggan menarik kakinya meninggalkan tempat itu. Yang ia lakukan malah melihat pemandangan tak sedap di hadapannya dengan hati yang semakin tercabik. Air mata Jong Hyun menetes bersamaan dengan tetesan air hujan yang mengalir di wajahnya. Pria itu menangis dalam diam.

Sepasang kekasih itu melepaskan tautan bibir mereka, lantas pergi dari tempat itu dan tak menyadari kehadiran Jong Hyun. Memang dari awal ini adalah kesalahannya. Harusnya ia tak membiarkan Yong Hwa―pria itu- menjadi kekasih dari mantan kekasihnya Hyun Hae―gadis itu- mengingat Yong Hwa adalah sahabatnya. Dan sial! Setelah ia membiarkan Yong Hwa menjadi kekasih Hyun Hae, mereka semakin sering bertemu. Hyun Hae sering datang ke tempat latihan band mereka, dan itu semakin membuat Jong Hyun sulit melupakan Hyun Hae.

Awalnya, Yong Hwa yang memang menyimpan perasaan untuk Hyun Hae meminta izin pada Jong Hyun untuk menjadikan Hyun Hae sebagai kekasihnya karena ia masih menghagai persaan Jong Hyun sebagai mantan kekasih Hyun Hae sekaligus sahabatnya. Dan apalagi yang bisa Jong Hyun lakukan selain menerimanya? Melarang? Itu adalah tindakan konyol dan kekanak-kanakan.

 

I wish upon a star, I wonder where you are

I wish you’re coming back to me again

And everything’s the same like it used to be

 

Malam itu langit tampak indah dengan taburan bintang yang berkilau, di sela-sela bintang bersinarlah rembulan memancarkan sinarnya yang indah membuat langit tampak anggun bak gaun hitam dengan taburan permata di setiap bagiannya. Jong Hyun mendongakkan kepalanya menikmati langit yang bertaburan bintang berhiaskan rembulan dari atas atap. Setelah selesai berlatih, dia dan keempat personil CN Blue biasa menghabiskan malam di atas atap sambil menikmati pemandangan di bawah mereka. Wajah tampannya terlihat semakin tampan saat hembusan angin membelai wajahnya dan menggoyangkan rambut hitamnya, meski matanya tetap mengisyaratkan sebuah kesedihan.

-flashback-

“Kau lihat bintang di dekat bulan itu, Jong Hyun-ah?” tanya Hyun Hae sambil menunjuk satu bintang di dekat bulan. Jong Hyun mengangguk.

“Aku ingin seperti bintang itu yang berada di dekat bulan, menemani bulan sepanjang malam sampai bulan menyelesaikan tugasnya menyinari bumi. Meski tak setiap malam bintang itu berada di sisi bulan, tapi aku yakin, meskipun bintang itu berada di jarak terjauh pun dari bulan ia akan tetap menemani bulan.” Hyun Hae menoleh pada Jong Hyun lalu tersenyum sangat manis. Jong Hyun menepuk pelan puncak kepala Hyun Hae lantas memeluk gadis itu.

-flashend­-

“Dan kini bintang itu telah menjauh dari bulan, bahkan bintang telah menemukan bulan baru untuk ia temani. Masihkah bintang akan menemani bulan yang lama seperti janjinya?” gumam Jong Hyun. Mata pria itu berkaca-kaca.

“Kupikir kalian ada di sini, ke mana yang lain?” tanya seorang gadis. Jong Hyun dengan cepat menoleh setelah menghapus air mata yang hampir menetes.

“Ah! Langit malam ini begitu indah. Kau juga berpikir seperti itu kan, Jong Hyun-ah?” tanya Hyun Hae sambil duduk di samping Jong Hyun. Jong Hyun mengangguk.

Gadis yang sejak kemarin berada dalam pikirannya, kini sedang duduk di sampingnya. “Untukmu.” Hyun Hae memberikan segelas kopi hangat yang tadi dibelinya.

“Terima kasih,” sahut Jong Hyun. “Hyung tidak memberitahumu bahwa ia sedang keluar?”

“Tidak. Baterai ponselku habis,” sahut Hyun Hae santai sambil menyesap kopi hangatnya.

“Kau juga minum kopi?” tanya Jong Hyun heran karena setahunya gadis itu tak suka kopi.

“Hanya mencoba saja. Yong Hwa yang menyarankanku.”

“Jangan dipaksa jika kau tak mau.”

“Aku tahu,” sahut Hyun Hae sambil menoleh dan tersenyum pada Jong Hyun membuat pria itu tertegun sekian detik, kembali terpesona pada senyum manis Hyun Hae.

“Malam ini sangat indah, bulan bersinar dan bintang bertaburan,” Hyun Hae meletakkan gelas kopinya, merentangkan kedua tangannya lantas menghirup udara dalam. “Oksigen di atas sini terasa lebih segar,” serunya. Jong Hyun tersenyum menyaksikan tingkah polos Hyun Hae.

“Ya Tuhan! Lihatlah! Ada bintang jatuh! Cepat buat permohonan!” seru Hyun Hae, telunjuknya menunjuk bintang yang bergerak. Dengan cepat ia mengaitkan kesepuluh jarinya, matanya tertutup rapat. Jong Hyun melakukan hal yang sama.

“Aku berharap gadis di sampingku bahagia dalam hidupnya. Jangan biarkan ia menitikkan air mata, jangan biarkan hatinya terluka. Aku ingin senyum indah itu teteap menghiasi wajah cantiknya. Dan… aku juga berharap cintanya masih untukku.” Jong Hyun membuka matanya.

“Lama sekali. Harapan apa yang kau inginkan?”

“Hanya kebahagiaan dalam hidup. Dan kau?”

“Kebahagiaan dalam hidupku, keluargaku, dan Yong Hwa,” jawabnya antusias. Yong Hwa tersenyum simpul.

“Aku tahu kau masih di sini, tapi aku heran di mana hatimu berada? Haruskah Yong Hwa  Hyung yang mendapatkannya?” batin Jong Hyun.

I see the days go by and still wonder why

I wonder why it has to be this way

Why can’t i have you here just like it used to be

I don’t know which way to choose

How can I find a way to go on?

            Hari demi hari terus berganti. Meninggalkan kenangan lalu yang tak bisa di putar kembali. Yang lalu biarlah tertinggal di masa lalu, jangan membawanya ke masa depan. Tapi, mungkin itu tak berlaku untuk Jong Hyun, karena hatinya masih tertinggal di masa lalu untuk Hyun Hae. Ia heran pada dirinya sendiri. Kenapa sesulit ini melupakan Hyun Hae? Bahkan gadis itu dengan mudahnya melupakan Jong Hyun. Haruskah ia juga mencari kekasih baru agar dengan mudah melupakan Hyun Hae? Bisakah? Sementara hatinya masih untuk Hyun Hae dan ia merasa belum siap untuk menanggalkan kenangannya bersama Hyun Hae.

Kenapa harus jalan ini yang mereka pilih? Kenapa hubungan mereka berakhir secara sepihak? Menyisahkan hati yang masih memiliki cinta dan akhirnya membuat hati itu terluka. Jong Hyun masih sangat mencintai gadis itu, tak perduli jika gadis itu sudah tak lagi mencintainya, Jong Hyun akan tetap mempertahankan hatinya. Ia siap jika harus menunggu putusnya hubungan Hyun Hae dan Yong Hwa, apapun itu ia lakukan demi hatinya dan… Hyun Hae.

From : Lee Jong Hyun

            Aku ingin kita bertemu sekarang di taman.

Hyun Hae menautkan alisnya saat membaca pesan dari Jong Hyun. Sebenarnya ia malas bertemu dengan mantan kekasihnya, ia juga merasa takut jika teman Yong Hwa melihat mereka dan melaporkannya pada Yong Hwa. Ia tak ingin persahabatan Yong Hwa dan Jong Hyun rusak karena dirinya.

Hyun Hae menghela napas panjang setelah membalas pesan Jong Hyun. Pesan yang isinya kalimat persetujuan dari Hyun Hae, gadis itu mau bertemu dengan Jong Hyun. Terkadang ia merasa tak enak hati pada pria itu karena berkencan dengan Yong Hwa. Ia juga ingin menolak Yong Hwa saat menyatakan cinta padanya, tapi ia juga tak tega pada Yong Hwa. Dan akhirnya, ia harus memilih jalan ini. Menjadi kekasih Yong Hwa.

Jong Hyun tersenyum tipis setelah membaca pesan dari Hyun Hae. Ya, ia harus melakukan ini. Tak perduli kejadian apa yang terjadi setelahnya, ia siap menghadapinya. Ia lelah jika terus seperti ini, hatinya selalu sesak karena merindukan Hyun Hae, sedangkan Hyun Hae pasti tak kan sepertinya karena kehadiran Yong Hwa.

“Maaf membuatmu menunggu lama,” sesal Hyun Hae. Gadis itu lantas duduk di samping Jong Hyun. “Ada apa?”

Jong Hyun tersenyum tipis sambil menghela napas pelan. Pandangannya fokus ke depan, kemudian berkata, “Aku tahu menurutmu mungkin ini adalah hal gila sekaligus hal bodoh yang kulakukan. Tapi yang perlu kau ketahui, aku tak kan menyesal sedikitpun karena melakukan ini.” Jong Hyun mendesah pelan. “Bisakah aku memilikimu lagi untuk berada di sisiku? Secepat itukah kau melupakanku? Aku tak tahu lagi jalan mana yang harus kutempuh agar bisa melupakanmu. Berbagai jalan telah kutempuh, aku selalu meyakinkan hatiku bahwa kau telah menjadi milik Yong Hwa Hyung, tapi aku tetap mencintaimu. Bisakah kau kembali ke sisiku lagi, Hyun Hae-ya?”

Napas Hyun Hae tercekat. Semua kalimat Jong Hyun seolah berputar-putar dalam otaknya. Sungguh ia masih tak yakin Jong Hyun akan melakukan ini. Ia kira Jong Hyun telah melupakannya. Ya, memang yang memutuskan hubungan mereka adalah Hyun Hae, jadi bisa di katakan wajar jika pria itu masih mencintainya. Tapi ini benar-benar di luar perkiraannya. Jong Hyun masih mencintainya.

“Aku tahu kau tak kan percaya pada kalimatku, ‘kan?”

Jong Hyun terkekeh, terdengar seperti mentertawakan kebodohonnya sendiri. Jujur saja saat ini hatinya merasa sedikit lega setelah mengungkapkan apa yang mengganggunya. Ia menoleh pada Hyun Hae, gadis itu masih terkejut atas apa yang dilakukan Jong Hyun dan pria itu sudah bisa menebak bagaimana reaksi Hyun Hae.

Hyun Hae menghela napas, lantas menunduk, memperhatikan ujung high heelsnya. “Maaf, aku tak bisa. Aku telah mencintai Yong Hwa. Sungguh aku minta maaf, jika kutahu kau masih mencintaiku, maka aku akan menolak Yong Hwa. Tapi, saat mendengar cerita Yong Hwa bahwa kau telah mengizinkan Yong Hwa menjadi kekasihku, aku jadi berpikir bahwa kau telah melupakanku. Aku takut merusak persahabatan kalian.”

I don’t know If I can go on without you… oh

Even if my heart’s still beating just for you

I really know you are not feeling like I do

And even if the sun shining over me

How come I still freeze?

Jong Hyun tersenyum getir setelah mendengar kalimat Hyun Hae. Saat ini hatinya terasa semakin sakit. Sungguh! Mendengar bahwa orang yang kita cintai tak lagi mencintai kita karena kehadiran orang lain di sisinya sangat menyayat hati. Seharusnya ia tahu bahwa Hyun Hae sudah tak lagi mencintainya. Meski sampai saat ini hatinya masih untuk Hyun Hae, tapi tidak untuk gadis itu. Hati gadis itu sepenuhnya telah menjadi milik Yong Hwa. Dan dia hanya menjadi kisah masa lalu Hyun Hae yang ditinggalkan di masa lalu. Menyedihkan.

Jong Hyun masih tertegun di tempatnya saat Hyun Hae beranjak pergi dari tempat itu. Ia merelakan saja Hyun Hae meninggalkannya tanpa mencoba menghalangi gadis itu. Lagipula jika ia berusaha menahan gadis itu, toh Hyun Hae pasti akan tetap pada pilihannya. Dan itu semakin membuatnya terluka, bukan?

Matahari pagi itu bersinar terang, memamerkan sinarnya yang terasa hangat namun sedikit menyengat jika terus berada di bawah sinarnya. Tapi tidak untuk Jong Hyun, pria itu tetap merasa dingin meski matahari bersinar di atasnya. Entah mengapa ia merasa aliran darahnya seketika membeku karena kalimat Hyun Hae.

No one ever sees, no one feels the pain

I she’d tear-drop in the rain

I wish that I could fly, I wonder what’d you say

I wish you are flying back to me again

And everything’s the same like it used to be, oh no

            Jong Hyun terus melangkahkan kakinya entah ke mana, sejak pagi tadi―setelah bertemu Hyun Hae- ia hanya berjalan dan terus berjalan, mengikuti ke mana langkah kakinya akan membawanya. Ponselnya terus berdering dan ia sengaja mengabaikannya. Ia tak ingin diganggu siapapun, bahkan ia mengabaikan telepon dari managernya. Gila, bukan? Ya… terserah. Ia tak perduli pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ia butuhkan saat ini hanya ketenangan dan ia juga perlu merenung dan meyakinkan hatinya bahwa Hyun Hae tak lagi menjadi miliknya dan namanya telah dihapus dari hati Hyun Hae.

Matahari senja bersinar di ufuk barat dan Jong Hyun masih tetap berjalan. Entah sudah sejauh mana ia melangkahkan kakinya, toh rasa lelah juga belum dirasakannya. Sebenarnya rasa lelah sudah dirasakan kakinya, tapi ia seolah mati rasa. Pikiran pria itu sedikit kosong, kalimat Hyun Hae masih berputar-putar dalam otaknya dan rasa sakit di hatinya semakin terasa setiap kali ia teringat kalimat Hyun Hae.

Hingga akhirnya langkah kakinya membawanya ke tepi pantai. Ia mengedarkan pandangannya ke semua penjuru, sepi, hanya ada dirinya di sana berteman deburan ombak dan langit senja yang hampir hilang. Ia tersenyum getir saat melirik jam tangannya, sudah 7 jam ia berjalan kaki dan sama sekali belum merasakan lelah. Jong Hyun menghela napas berat sebelum akhirnya berjalan ke tepian pantai dan duduk di atas pasir. Kedua kakinya disejajarkan sedangkan tangannya berada di samping tubuhnya. Di pandanginya langit berwarna kuning kemerahan itu dengan tatapan nanar. Hatinya masih terasa sesak.

Tanpa Jong Hyun sadari, awan hitam mulai berarak dari timur. Kilatan petir yang tak menggelegar sesekali terlihat, menandakan sebentar lagi hujan akan turun. Entah kenapa ia merasa sangat bersahabat dengan hujan. Hujan selalu ada saat suasana hatinya sedang kacau seperti saat ini, seolah hujan sedang mewakilkan perasaannya dan memberitahu kepada seluruh dunia bahwa ia sedang patah hati dan ingin menangis. Tapi, haruskah ia menangis kembali? Apalagi ia seorang pria. Pantaskah seorang pria menangis? Ah! Masa bodoh! Air mata diciptakan tak hanya untuk wanita, bukan? Ya, pria juga boleh menangis saat ia merasa beban itu terlalu berat di hatinya.

Tes…

Jong Hyun menengadahkan tangannya, dan benar saja tetesan air hujan mulai menetes dari langit. Rintik demi rintik air hujan turun semakin deras dan Jong Hyun masih enggan beranjak dari tempatnya. Ia membiarkan tetesan air hujan membasahi tubuhnya. Dan lagi… ia menangis dalam diam disaksikan ribuan tetesan air hujan yang turun.

“Arghh…!” Jong Hyun menggeram. Pria itu berdiri dari duduknya lantas berteriak, meluapkan segala emosinya.

“Jong Hyun-ah,” panggil seorang gadis di belakang Jong Hyun yang membuat Jong Hyun tertegun selama beberapa detik. Pria itu lantas membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang gadis yang amat dicintainya sedang berdiri di bawah payung, menatap sendu ke arahnya. Kang Hyun Hae.

“Apa yang kau lakukan, eh? Kau tahu semua orang sedang mencarimu, tapi kau malah mengacuhkan mereka?” cecar Hyun Hae tampak sebal.

Jong Hyun masih tertegun di tempatnya. Air mata pria itu juga masih setia menetes, meski Hyun Hae tak dapat melihatnya karena tetesan air hujan yang membasahi wajah Jong Hyun. Namun, mata merah itu tak dapat membohongi Hyun Hae bahwa pria yang sedang terpaku di hadapannya itu sedang menangis.

“Seandainya aku bisa terbang, aku ingin terbang bersamamu ke bintang dan bulan yang pernah kau tunjuk saat bersamaku. Sekarang, bintang itu telah menemukan bulan yang baru, apakah bintang itu tak bisa kembali ke bulan yang lama? Bulan yang lama sangat merindukannya dan masih mencintainya. Seandainya bintang bisa kembali pada bulan yang lama, tentu bulan tak kan sesedih ini dan tentu hidupnya akan kembali seperti biasa. Tahukah kau? Hanya di dekat bintang itu, bulan merasa hidupnya baik-baik saja.”

Jong Hyun mengucapkan kalimat itu dengan tatapan tajam dan menusuk, seolah ingin mengukir kalimat itu tepat di hati Hyun Hae. Harusnya gadis itu tahu, bahwa hidupnya akan baik-baik saja dengan adanya Hyun Hae di sisinya. Dan sungguh, ia ingin Hyun Hae kembali. Itu saja.

One thought on “[FF CONTEST] Teardrops In The Rain

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s