[FF CONTEST] TEARDROPS IN THE RAIN

TEARDROPS IN THE RAIN

No one ever sees, no one feels the pain

Teardrops in the rain

.

April 20, 2013. 00:25 KST

Malam sudah semakin larut. Di saat semua orang seharusnya sudah terlelap dalam tidur masing-masing, nampak seorang laki-laki yang masih terjaga. Dia sudah berbaring di atas tempat tidurnya, namun matanya masih terbuka lebar dan menatap kosong langit-langit kamarnya.

Jam dinding yang tergantung di sebelah pintu kamarnya sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi yang berarti hari sudah berganti. Inilah alasan mengapa laki-laki itu—Lee Jonghyun—masih setia terjaga sampai selarut ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang pergantian tanggal menuju tanggal 20 April, Jonghyun akan terjaga sampai larut malam.

Jonghyun melirik ke arah jam dinding, kemudian dia bangkit berdiri dan berjalan menuju beranda kamarnya. Kedua tangannya mencengkram erat pagar berandanya. Jonghyun menengadahkan kepalanya lalu menutup kedua matanya, mencari ketenangan yang ditimbulkan dari keheningan di malam hari. Angin malam yang dingin berhembus kencang menembus kulit putihnya, namun Jonghyun sama sekali tidak merasa kedinginan. Sudah lama tubuhnya seolah mati rasa, tidak bisa lagi merasakan apa-apa.

Peristiwa yang terjadi tepat tiga tahun yang lalu masih menyisakan luka di relung hatinya dan mengubah hidup Jonghyun. Tidak ada lagi pancaran sinar berapi-api dari kedua bola matanya. Kedua mata itu justru semakin redup setiap harinya. Tidak ada lagi panggilan “burning” yang diberikan oleh sahabat-sahabatnya untuk merepresentasikan passion dan semangat yang dimilikinya. Kehilangan seseorang yang sangat dicintainya membuat Jonghyun seolah kehilangan jiwanya. Semua organ tubuhnya berfungsi dengan baik, namun jiwanya tidak ada lagi, pergi bersama dengan gadis itu. Gadis bernama Im Yoona.

Jonghyun membuka matanya dan melihat ke atas. Langit malam yang gelap tampak begitu luas dan bertabur bintang yang bersinar terang.

I wish upon a star, I wonder where you are

I wish you’re coming back to me again

And everything’s the same like it used to be

“Apakah kau di atas sana?” Jonghyun mendengar suara serak yang keluar dari tenggorokannya.

“Apakah kau melihatku? Apa kau tahu betapa aku merindukanmu?” Kata-kata Jonghyun mengalir lebih menyerupai bisikan untuk dirinya sendiri. “Apa kau tahu betapa aku berharap kau ada disini sekarang?”

Perasaan sesak sudah menyelimuti rongga dada Jonghyun. Kedua bola matanya masih terpatri menatap bintang di atas sana. Tidak ada airmata yang keluar. Sudah lama Jonghyun tidak menangis. Airmatanya sudah habis untuk menangis di hari itu.

I see the days go by and still I wonder why

I wonder why it has to be this way

Why can’t I have you here just like it used to be

Tiga tahun sudah berlalu sejak kepergian Yoona. Tiga tahun sejak Jonghyun kehilangan cahaya hidupnya. Tiga tahun, waktu yang cukup lama, namun belum cukup untuk bisa menghapus Yoona dari hatinya.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Jonghyun masih belum mau menerima kenyataan bahwa Yoona telah pergi meninggalkannya. Sepenuh hatinya berharap bahwa dia masih bisa memiliki gadis itu. Bukan hanya sekali-dua kali Jonghyun mempertanyakan takdir yang dinilainya begitu kejam.

“Aku sangat merindukanmu, Yoona-ah.

.

April 20, 2013. 05:30 KST

“Yonghwa-hyung!”

Laki-laki yang dipanggil Yonghwa itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Kedua matanya mengerjap, mencoba membiasakan cahaya terang yang menerobos masuk ke dalam retinanya. Yonghwa menatap sekeliling kamarnya dan menemukan dua laki-laki yang menerobos masuk kamarnya dan meneriakkan namanya tadi.

Waeyo, Minhyuk-ah, Jungshin-ah?” tanya Yonghwa yang masih tampak mengantuk. Matanya melirik ke arah jam beker di atas meja di samping tempat tidurnya. Sekarang waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Bagi Yonghwa, sekarang masih terlalu pagi untuk bangun, terlebih lagi ini hari Sabtu.

“Jonghyun-hyung. Dia tidak ada dikamarnya,” lapor Minhyuk dengan nada khawatir.

Yonghwa terdiam sesaat. Sudut matanya menangkap kalender yang tergantung di belakang Minhyuk dan Jungshin. Pemahaman segera memasuki otaknya ketika dia menyadari tanggal berapa sekarang.

“Tidak perlu khawatir,” kata Yonghwa akhirnya. “Apakah kalian lupa sekarang tanggal berapa?”

“Sekarang? 20 April—ah!” Kedua mata Jungshin melebar ketika pemahaman juga mulai merasukinya.

“Sudah lewat tiga tahun rupanya,” gumam Minhyuk yang sekarang menatap kalender dengan sorot mata yang berubah menjadi sedih.

“Aku tidak menyangka begitu besarnya cinta Jonghyun-hyung untuk Yoona-noona,” tambah Jungshin, “sampai waktu tiga tahun belum cukup untuk menghapus sosok Yoona-noona di hati Jonghyun-hyung.”

“Aku berharap kali ini Jonghyun bisa merelakan kepergian Yoona,” ucap Yonghwa dengan pandangan menerawang.

.

April 20, 2013. 05:45 KST

Jalanan masih tampak sepi. Belum banyak kendaraan yang berlalu-lalang lewat. Di trotoar hanya nampak beberapa orang yang sudah berjalan-jalan sepagi ini.

Jonghyun membiarkan kakinya menuntunnya. Dia membiarkan kakinya melangkah tanpa tujuan, sama seperti hidupnya. Jonghyun merasa bahwa dia sudah tidak lagi memiliki tujuan hidup. Yoona adalah napasnya. Ketika Yoona pergi meninggalkannya, bagaimana caranya dia melanjutkan hidup tanpa napasnya?

I don’t know which way to choose

How can I find a way to go on?

I don’t know if I can go on without you

Jonghyun berhenti melangkah. Beberapa meter di depannya berdiri sebuah bangunan megah yang sangat dikenalnya. Tempat itu bukan hanya tempat di mana dia memperoleh kebahagiaannya, namun juga dimana semuanya berakhit.

Jonghyun membiarkan kakinya melangkah mendekat. Sambil berjalan, Jonghyun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, merekam setiap sudut ke dalam memorinya. Tempat itu masih tampak sama seperti tiga tahun yang lalu. Sebuah gedung bertingkat tiga dengan tulisan “Seoul Performing of Art High School” terpampang di atas pintu masuknya.

Sekolah itu masih sepi, tentu saja, mengingat ini adalah hari Sabtu dan sekolah libur setiap hari Sabtu. Jonghyun juga sama sekali tidak berminat untuk masuk ke dalam. Melihat bangunan sekolah ini dari luar saja sudah membuat memorinya tentang Yoona meluap. Dia tidak akan sanggup masuk ke dalam dan membayangkan Yoona berjalan di lorongnya, duduk di kursinya, bahkan tersenyum padanya dari balik jendela. Tidak, semua bayangan itu hanya akan semakin menguatkan ketiadaan gadis itu di sampingnya saat ini. Walaupun begitu, Jonghyun membiarkan kenangannya saat dia pertama kali bertemu Yoona menguar keluar.

.

June 10, 2009. 10:05 KST

Hyung, kenapa kau belajar bermain gitar?”

Jonghyun menoleh ke arah Minhyuk sambil mengangkat kedua alisnya. Dongsaeng-nya itu menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Kenapa kau belajar bermain drum?” Bukannya menjawab pertanyaan Minhyuk, Jonghyun justru balik bertanya.

Ya, hyung! Aku kan bertanya lebih dulu,” protes Minhyuk.

“Entahlah, karena menurutku menjadi seorang gitaris itu keren,” jawab Jonghyun.

Minhyuk menatap Jonghyun dengan mata yang disipitkan sehingga membuat matanya lebih menyerupai garis. Laki-laki yang berusia satu tahun lebih muda dari Jonghyun itu merasa curiga jika Jonghyun hanya asal menjawab.

“ Jangan menatapku seperti itu! Apa kau tahu kalau tatapanmu seperti itu menakutkan?” kata Jonghyun.

“Bukankah eye lights-mu lebih mengerikan, hyung?” balas Minhyuk.

“Aish, anak ini,” gerutu Jonghyun.

“Oh, Yoona-noona!” Minhyuk tiba-tiba melambaikan tangannya pada seseorang di belakang Jonghyun.

Merasa penasaran dengan siapa yang disapa oleh Minhyuk, Jonghyun-pun menoleh ke belakangnya. Seorang gadis berambut panjang tersenyum lebar dan balas melambai ke arah Minhyuk sebelum berlalu.

“Jonghyun-hyung!” Suara panggilan Minhyuk menyadarkan Jonghyun.

“Ah, kau terpesona pada Yoona-noona kan?” tebak Minhyuk sambil tertawa.

Anio! Apa yang kau bicarakan?” elak Jonghyun.

“Hahaha…Sudahlah, jujur saja padaku, hyung. Aku tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa,” goda Minhyuk.

Jonghyun menatap Minhyuk dengan eye lights-nya karena merasa kesal dengan godaan dongsaeng-nya itu. Minhyuk yang melihat tatapan Jonghyun mundur tiga langkah dengan kedua tangan terangkat, tetapi cengiran lebar masih menempel di wajahya.

“Apakah dia siswi baru?” tanya Jonghyun. Selama dua tahun bersekolah di sekolah itu, Jonghyun memang merasa tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.

“Yoona-noona memang siswi pindahan. Dia pindah ke sekolah ini sejak tahun ajaran baru kemarin. Spesialisnya adalah dance, jadi jelas saja kalau kau tidak pernah melihatnya, hyung,” jawab Minhyuk.

“Aku mengenalnya di perpustakaan. Saat itu dia meminjamiku uang karena aku tidak membawa uang untuk membayar denda keterlambatanku mengembalikan buku,” lanjut Minhyuk ketika melihat Jonghyun mengangkat kedua alisnya dengan tatapan bertanya.

Jonghyun hanya menganggukkan kepalanya. Sekilas dia kembali teringat pada senyuman gadis bernama Yoona itu. Jonghyun tentu sudah sering sekali melihat gadis-gadis tersenyum, tetapi sesuatu dalam senyum Yoona membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Belum pernah Jonghyun melihat senyuman setulus milik Yoona.

.

June 10, 2009. 15:47 KST

Sore ini hujan kembali turun membasahi seluruh kota Seoul. Namun seperti biasanya, warga kota Seoul sudah terbiasa beraktivitas tidak peduli apapun hambatannya. Payung warna-warni dengan segera menghiasi jalanan kota Seoul. Demikian pula di jalanan depan Seoul Performing of Art High School. Siswa-siswi yang baru saja pulang sekolah segera mengeluarkan payungnya masing-masing dan berhamburan keluar.

Lee Jonghyun termasuk dari salah satu siswa yang sudah mengeluarkan payungnya. Baru saja dia hendak berjalan keluar, matanya menangkap sosok gadis yang diketahuinya bernama Yoona. Entah apa yang kemudian membuat Jonghyun berjalan menghampiri gadis itu.

“Tidak pulang?”

Yoona menoleh dengan sedikit terkejut. Sepertinya dia tidak menyangka akan ada seseorang yang menyapanya. Gadis itu menatap Jonghyun dengan tatapan bingung.

“Kau yang tadi bersama dengan Minhyuk kan?” Rupanya Yoona mengingat Jonghyun. Menyadari hal tersebut, Jonghyun mengulas senyum.

“Ah, maaf mengagetkanmu. Ya, aku teman Minhyuk,” jawab Jonghyun.

Yoona tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya. “Im Yoona-imnida,” ucapnya.

Jonghyun merasakan darahnya berdesir ketika melihat Yoona tersenyum, namun dengan segera dia menguasai dirinya dan membalas uluran tangan Yoona. “Lee Jonghyun,” balas Jonghyun.

“Senang berkenalan denganmu, Jonghyun-ssi,” ujar Yoona, masih dengan senyum manis yang setia melekat di wajahnya.

“Kenapa belum pulang?” tanya Jonghyun sekali lagi.

“Aku tidak membawa payung,” jawab Yoona.

“Apakah kau pulang naik bus?” Jonghyun kembali mengajukan pertanyaan.

Ne,” Yoona menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana kalau kau ikut denganku? Aku juga pulang naik bus. Kita bisa berjalan bersama ke halte,” tawar Jonghyun.

Sesaat Yoona terlihat bimbang antara akan menerima tawaran Jonghyun atau tidak. Jonghyun bisa memahami keraguan gadis itu. Bagaimanapun, mereka baru saja saling mengenal.

“Baiklah,” kata Yoona akhirnya sambil tersenyum. Gadis itu memang sepertinya tidak pernah berhenti tersenyum.

Jonghyun balas tersenyum sambil membuka payungnya dan melangkah keluar gedung sekolah dengan Yoona berada dekat di sampingnya. Setiap kali bahu mereka bersentuhan ketika berjalan, Jonghyun merasakan sesuatu membuncah di dalam dadanya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat sampai-sampai Jonghyun merasa sedikit khawatir kalau-kalau Yoona menyadarinya. Tetapi selain dari semua itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Jonghyun ingin waktu berhenti saat ini juga supaya dia tidak berpisah dengan gadis di sampingnya. Gadis bernama Im Yoona.

.

September 15, 2009. 11:22 KST

“Yoona-ah, chukkae!” Jonghyun mengagetkan Yoona yang baru saja keluar dari ruang latihannya.

“Jonghyun-ah, kau mengagetkanku! Selamat untuk apa?” tanya Yoona dengan dahi berkerut.

“Aku sudah mendengarnya. Kau menjadi salah satu siswi yang akan tampil di ‘Big Day Performance’ tahun ajaran baru berikutnya kan? Itu hebat sekali!” kata Jonghyun

Setiap tahunnya, tepatnya di bulan April, Seoul Performing of Art High School selalu mengadakan acara ‘Big Day Performance’ yang akan menampilkan siswa-siswi terbaik mereka dari jurusan seni tari, seni musik, seni drama, sampai seni lukis. Acara ini biasanya juga dihadiri oleh para orangtua murid dan orang-orang penting yang menjadi penyokong Seoul Performing of Art High School.

“Ah, itu,” Yoona tersenyum malu, “gomawo.”

Jonghyun masih tersenyum lebar sambil menatap Yoona. Selama tiga bulan ini dia memang semakin dekat dengan Yoona. Selama tiga bulan itu pula perasaan Jonghyun semakin berkembang. Yoona benar-benar berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah di kenalnya. Semakin mengenal Yoona, semakin Jonghyun jatuh cinta padanya. Dan perasaan itu terus tumbuh dan berkembang setiap saat.

“Bagaimana denganmu?” tanya Yoona.

“Aku? Anio, aku belum cukup hebat untuk bisa tampil di acara sebesar itu. Yonghwa-hyung adalah salah satu dari jurusan seni musik yang akan tampil di acara itu,” ujar Jonghyun.

“Kau ingin menjadi seorang gitaris kan?” tanya Yoona lagi.

Ne. Waeyeo?” jawab Jonghyun.

Yoona tersenyum, “Kau pasti bisa menjadi seorang gitaris hebat. Berlatihlah yang serius. Kau pasti bisa jadi lebih hebat daripada Yonghwa-oppa.”

Jonghyun tertawa kecil. Kedua matanya tidak pernah berhenti menatap Yoona bahkan ketika mereka sedang berjalan sambil mengobrol seperti sekarang.

“Kau terlihat pucat,” komentar Jonghyun ketika menyadari bahwa wajah Yoona memang tampak lebih pucat dari biasanya. Gadis itu juga terlihat sudah kehilangan cukup banyak berat badannya. “Apakah kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir padaku,” balas Yoona sambil berusaha tersenyum seceria mungkin. Sayangnya kedua mata Jonghyun tidak bisa dibohongi. Laki-laki itu tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Yoona. Jonghyun juga menyadari sorot mata Yoona yang meredup, tidak lagi seceria biasanya.

“Jangan terlalu memaksakan diri, Yoona-ah. Kau harus tetap banyak istirahat. Jangan sampai pada hari-H nanti kau justru sakit,” ucap Jonghyun.

Arraseo. Gomawo, Jonghyun-ah,” kali ini Yoona kembali menampilkan senyum yang selama ini selalu membuat jantung Jonghyun berdetak tidak beraturan.

.

April 20, 2010. 08:15 KST

Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Seoul Performing of Art High School akhirnya datang juga. Hari ini adalah hari dimana ‘Big Day Performance’ akan dilaksanakan. Acara baru akan dimulai pukul sembilan pagi, tetapi gedung aula yang akan digunakan sebagai tempat dilangsungkannya acara sudah ramai oleh penonton sejak pukul delapan pagi tadi.

Jonghyun berjalan menelusuri lorong kelas yang terletak disamping aula, tempat akan diadakannya acara ‘Big Day Performance’. Saat ini dia ingin sekali bertemu Yoona untuk memberikan semangat. Selain itu, Jonghyun juga ingin memastikan bahwa Yoona baik-baik saja. Belakangan ini Jonghyun sering melihat wajah Yoona yang semakin pucat, bahkan kemarin dia menemukan Yoona jatuh pingsan di ruang latihannya.

“Jonghyun-ah!

Jonghyun melihat Yonghwa berdiri sekitar tiga meter didepan sambil melambaikan tangan padanya.

“Apakah kau kemari untuk mencariku?” tanya Yonghwa ketika Jonghyun sudah menghampirinya.

“Tentu saja Jonghyun-hyung ingin menemui Yoona-noona,” celetuk Jungshin.

“Itu benar, hyung. Jonghyun-hyung pasti sedang menuju ke ruangan Yoona-noona,” sahut Minhyuk.

“Ah, benar juga.” Yonghwa berpura-pura menampilkan wajah kecewa padahal yang sebenarnya dilakukannya adalah menggoda Jonghyun. Sementara itu Jonghyun hanya memutar bola matanya melihat ketiga sahabatnya ini.

“Jonghyun-ah.”

Jonghyun segera menoleh ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya. Yoona berdiri dibelakangnya, lengkap dengan kostum dan riasan wajah yang membuatnya semakin cantik. Gadis itu tersenyum sambil menyapa Yonghwa, Minhyuk dan Jungshin yang sudah saling bertukar pandang penuh arti.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Jonghyun dengan khawatir. Wajah Yoona masih terlihat pucat walaupun sudah tertutup make-up.

Jonghyun benar-benar merasa khawatir pada gadis yang berdiri tersenyum di hadapannya ini. Jonghyun sering merasa kesal pada Yoona yang selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja, padahal Jonghyun tahu ada yang tidak beres pada gadis itu. Jonghyun hanya ingin gadis itu baik-baik saja. Jonghyun ingin supaya gadis itu tetap ada di sisinya.

Gwencana. Jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja. Kau akan melihat tarian terbaikku hari ini,” ujar Yoona sambil tertawa kecil.

“Baiklah. Pastikan kau memberikan yang terbaik, Yoona-ah,” balas Jonghyun sambil tersenyum.

.

April 20, 2013. 06:05 KST

Jonghyun menghentikan aliran kenangannya sampai disitu. Kenangan berikutnya sungguh terlalu menyakitkan untuk diingat. Hari itu Yoona memang memberikan tarian terbaiknya. Jonghyun selalu menyukai ketika melihat Yoona bergerak di atas lantai dengan iringan lagu. Jonghyun sangat suka melihat Yoona menari. Tidak pernah sedetikpun terlintas dalam benaknya bahwa hari itu adalah terakhir kalinya dia melihat Yoona menari.

Jonghyun menutup matanya, berusaha keras supaya kenangan itu tidak lagi menyeruak keluar. Namun semakin dirinya berusaha, semakin ingatan itu tampak jelas di depan matanya. Yoona yang jatuh pingsan setelah penampilannya selesai. Yoona yang ternyata mengidap penyakit leukimia. Yoona yang masih bisa tersenyum padanya di saat-saat terakhirnya. Yoona yang memintanya untuk terus hidup dan menggapai impiannya sebagai seorang gitaris. Yoona yang berkata bahwa dirinya telah memberikan saat-saat terakhir paling membahagiakan baginya. Yoona yang tidak sadarkan diri. Yoona yang tidak akan pernah bangun lagi.

Kenyataan itu kembali menghantam Jonghyun dan membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya. Jonghyun jatuh berlutut. Kakinya tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Jantungnya berdetak begitu cepatnya sampai dia merasa sesak. Jonghyun meremas dadanya yang terasa sakit seperti setiap kali dia mengingat kejadian itu.

Even if my heart’s still beating just for you

I really know you are not feeling like I do

Satu-satunya alasan mengapa Jonghyun masih bertahan hidup adalah karena Yoona memintanya seperti itu. Jonghyun membiarkan jantungnya tetap berdetak karena Yoona memintanya untuk tetap hidup dan meraih impiannya untuk menjadi seorang gitaris. Walaupun Yoona tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa jiwa. Yoona tidak pernah merasakan bagaimana hidup bagai mayat hidup seperti yang dijalani oleh Jonghyun selama tiga tahun ini.

And even if the sun is shining over me

How come I still freeze?

Bagi Jonghyun, Yoona adalah cahayanya. Dan ketika cahaya itu pergi, dunianya gelap gulita. Jonghyun tidak lagi bisa melihat apa-apa, tidak bisa lagi menentukan apa-apa, tidak bisa lagi merasakan apa-apa.

Seolah memahami perasaan Jonghyun, langit berubah mendung dan mulai meneteskan tetes-tetes air hujan. Jonghyun menengadah, membiarkan air hujan membasahi wajah dan tubuhnya beserta seluruh rasa sakitnya. Hujan mengingatkannya akan perkenalan pertamanya dengan Yoona. Sekali lagi dadanya terasa tercabik begitu sakitnya.

Jonghyun tertawa pelan. Menertawakan hidupnya selama tiga tahun ini. Menertawakan penyangkalannya akan kepergian Yoona. Menertawakan dirinya yang tidak mau menerima kenyataan. Sebutir air mata mengalir turun ke pipinya dan jatuh bercampur dengan tetes air hujan.

No one ever sees, no one feels the pain

I shed teardrops in the rain

.

3 thoughts on “[FF CONTEST] TEARDROPS IN THE RAIN

  1. keren thor!! ikut terharu baca ceritanya..
    btw, i really love deerburning couple! bikin yg banyak ff tentang mereka doooong😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s