[FF CONTEST] Man In Front Of The Mirror

Man In Front Of The Mirror

One day, he looked in the mirror
He was stewed up with anxiety

Jonghyun berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap bayangannya yang tampak menyedihkan. Rambut kusut berminyak, wajah lelah dengan beberapa bekas jerawat, dan kulit kering pucat yang bisa diindikasikan tidak sehat karena terlalu sering berada dalam ruangan ber-AC.

Pemuda itu melonggarkan dasi yang melilit sekitar kerah bajunya, melemparkannya sembarangan ke keranjang baju kotor di samping pintu kamar mandi kemudian mendesah lelah. Ia terus menatap pantulan dirinya di cermin, seolah meneliti sesuatu.

Apa yang kau cari selama ini Lee Jonghyun?

Tahun ini adalah tahun ketiganya mengelola perusahaan milik keluarganya, tepat sejak kematian ayahnya. Setiap pagi berangkat menuju kantor, kerap melewatkan sarapan bersama dengan ibu dan adiknya, mengganjal perut dengan makanan instan yang tidak sehat, mengurus ini dan itu, menghadiri rapat disini dan disana, lalu pulang larut malam dalam keadaan lelah.

Akhir pekannya pun tak lebih baik. Ia tidak memiliki kegiatan yang cukup menyenangkan sehingga memilih untuk menenggelamkan diri dalam kubangan berkas-berkas perusahaan dikamarnya atau terlibat dengan panggilan internasional dengan beberapa klien.

Ia tidak mencintai rutinitasnya yang monoton tapi rasanya ia juga tidak bisa hidup tanpanya. Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan seorang putra sulung sekaligus kepala keluarga diusia pertengahan dua puluh tahun  selain bekerja keras dengan ulet?

Bel jam dinding berdentang sebelas kali. Jonghyun beranjak dari depan cermin menuju kamar mandi dengan langkah tersaruk-saruk sambil memijit-mijit keningnya.

Ia harus segera menyelesaikan mandinya lalu tidur karena banyak hal yang harus ia kerjakan esok hari.

 

Ϩ

 

Every morning, Every night, hurry hurry up

 

Jonghyun mengomel panjang pendek sambil melompat-lompat dengan satu kaki dari kamarnya menuju ruang tengah sekaligus memasangkan kaos kaki ke kaki kirinya.

Ia selalu percaya kunci utama dari hari sempurna adalah memulainya dengan pagi yang baik. Tetapi, pagi macam apa yang ia dapatkan hari ini?

Ia terlambat bangun lebih dari satu jam karena lupa menyetel alarm semalam. Sekarang sudah menjelang pukul sepuluh. Ia biasanya sudah duduk dibalik meja ruang kantornya di waktu yang sama pada hari lain.

“Mau kemana?” Jonghyun mendengar ibunya bertanya dengan nada santai dari meja makan ketika Jonghyun melintas dengan langkah cepat sambil membenahi dasinya.

“Tentu saja aku harus ke kantor, Bu.”

Nyonya Lee mengangguk-angguk. “Tumben kau berangkat sesiang ini. Ibu pikir kau ingin meliburkan diri atau apa.”

Jonghyun memutuskan untuk menghiraukan ocehan ibunya dengan diam saja dan berfokus mencari kunci mobilnya yang entah menghilang kemana.

“Apakah ibu tahu dimana kunci mobilku?”

“Kunci dengan gantungan rusa mainan?”

Mata Jonghyun membulat kemudian pemuda itu menoleh kearah ibunya. “Benar. Ibu tahu dimana?”

“Tadi Jongsuk membawanya,” Nyonya Lee menyuapkan potongan omelet ke mulutnya. “Adikmu bilang dia ingin meminjamnya sebentar tetapi sejak pukul tujuh tadi dia belum juga kembali.”

“Aish,” Jonghyun mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak mengingat sepuluh menit yang lalu ia menatanya dengan susah payah. “Mengapa ibu mengijinkannya? Anak itu gemar berbohong dan lihat saja, dia baru akan pulang besok dini hari. Lalu aku harus naik taksi untuk berangkat ke kantor? Yang benar saja!”

“Daripada memulai hari dengan buruk begitu, bagaimana jika kau meliburkan diri sehari saja untukku?”

Nyonya Lee mendadak berdiri dari kursinya dan menatap ke sumber suara yang berdiri di belakang Jonghyun dengan ekspresi kaget. “Astaga. Im Yoona?”

Jonghyun kontan membeku ketika mendengar nama yang baru saja disebutkan ibunya. Ragu-ragu, pemuda itu membalik tubuhnya dan tanpa sadar mulutnya jatuh menganga.

“Selamat pagi semua,” Seorang gadis berambut kecoklatan yang mengenakan mantel perjalanan bewarna green olive berdiri diambang pintu ruang tengah dengan senyum cerah. Sebuah koper besar berada disampingnya. “Hai Jonghyunnie,” gadis itu menatap Jonghyun dengan mata berbinar. “Masih ingat aku?”

 

Ϩ

“Im Yoona!”

Jonghyun berlarian dari aula tempat upacara kelulusan berlangsung ke sepanjang koridor kelas, mengejar seorang gadis berambut kuncir kuda yang sudah akan mencapai ujung koridor.

Gadis bernama Im Yoona itu menghentikan langkahnya dan menoleh dengan tatapan bertanya.

Jonghyun bertumpu pada lututnya sambil menstabilkan nafasnya yang patah-patah kemudian menegakan tubuhnya perlahan, membalas tatapan Yoona.

“Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Yoona memiringkan kepalanya. “Apa?”

“Aku . . . Aku menyukaimu.”

Alis Yoona terangkat, gadis itu kentara kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Aku tidak meminta jawabanmu,” Jonghyun cepat-cepat menimpali, wajahnya merah padam. “Aku hanya merasa perlu mengatakannya karena kita sudah lama saling mengenal dan sebentar lagi kau akan pindah ke luar negeri, agar tidak ada yang perlu kusesali nantinya.”

“Aku akan kembali ke aula,” Jonghyun melambaikan tangan dengan kikuk kemudian bergegas berbalik, berlari secepat yang ia bisa.

Hingga Jonghyun meraih kenop pintu aula dan kembali masuk ia terus berharap Yoona akan memanggilnya dan mengucapkan sesuatu. Apapun itu, meskipun berupa permintaan maaf karena gadis itu tak bisa membalas perasaannya.

Tapi nyatanya Yoona tak pernah memanggilnya. Tidak pernah.

 

Ϩ

Everyone wants the sweetest holiday
Please
Take your time, relax your mind

Ketika dua manusia berjenis kelamin perempuan yang keras kepala memutuskan bersatu apa yang bisa di lakukan seorang laki-laki biasa seperti Lee Jonghyun?

Mengenal ibunya seumur hidup Jonghyun tahu pasti ibunya tak pernah bisa dilawan. Im Yoona, teman dekatnya semasa sekolah sekaligus putri sahabat ibunya, juga merupakan gadis yang berkemauan keras dan akan menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai. Pagi ini, keduanya sepakat memaksa juga setengah mengancam Jonghyun untuk tidak masuk kantor dan sebagai gantinya menemani Yoona berkeliling Seoul setelah kedatangannya dari Kanada.

Dan begitulah, pada akhirnya Lee Jonghyun, presdir muda dari salah satu perusahaan berpengaruh di Seoul, berakhir dengan duduk disalah satu bangku bus bersama teman lamanya yang terus-terusan berceloteh riang disampingnya.

“Bisakah kau berhenti memasang tampang cemberut begitu?” Yoona menolehkan kepalanya dengan bibir mengerucut. “Jangan merusak mood-ku dihari secerah ini.”

“Jawab dulu pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di Korea?” Jonghyun masih tidak mengubah ekspresi wajahnya. “Dan satu lagi, aku masih sulit memaafkan sikap menyebalkanmu. Secara tidak langsung kau membuatku terkesan tidak disiplin karena tidak berangkat bekerja demi menjadi seorang tour guide dadakan untukmu.”

“Aku akan kembali tinggal dan bekerja disini. Dan untuk sementara sebelum mendapat apartemen yang cocok aku akan menginap dirumahmu,” Yoona menjawab dengan nada ringan. “Begitu? Jadi tumpukan berkas membosankan lebih menarik daripada aku?”

“Paling tidak, tumpukan berkas yang kau sebut membosankan itu menghidupi banyak orang.”

Yoona menghela nafas. “Kata orang, cinta pertama tidak pernah bisa dilupakan dan selalu berkesan bagi setiap pria. Tapi, tampaknya ada pengecualian untuk pemuda disampingku.”

Yoona melirik Jonghyun dan mengulum senyumnya, diam-diam menikmati wajah Jonghyun yang merona dan reaksinya yang salah tingkah. Gadis itu merogoh saku baju terusan yang ia kenakan kemudian mengeluarkan kertas yang kemudian ia sodorkan ke Jonghyun.

“Aku baru mulai bekerja dua minggu lagi dan aku ingin mengenal kembali Korea setelah bertahun-tahun kepindahanku. Ini daftar tempat yang ingin aku kunjungi.”

Jonghyun membelalakan matanya ketika membaca daftar yang disodorkan Yoona.

“BUTUH WAKTU SEPEKAN UNTUK MENGUNJUNGI SEMUA TEMPAT INI. DAN KAU MAU AKU MENEMANIMU KE SEMUA TEMPAT INI? AKU TIDAK MAU!”

 

Ϩ

“Wah, sudah banyak wahana yang ditambahkan sejak kunjungan terakhirku saat SMA.”

Yoona menatap sekeliling Lotte World dengan antusias. Kepalanya terus menoleh kesana kemari ke berbagai wahana disekitarnya, membuat rambut cokelat bergelombangnya bergerak-gerak seirama dengan lambaian baju terusan bewarna nude yang dikenakannya. Hei . . . sejak kapan Jonghyun jadi begitu detail pada sesuatu seperti ini?

“Daripada terlihat norak karena terkagum-kagum seperti itu kenapa tidak mencoba salah satu wahana saja?”

Yoona menoleh dengan mata menyipit. “Norak? Kau jadi makin menyebalkan ya sekarang.”

Jonghyun hanya diam saja dan sibuk mengamati papan besar yang merupakan peta Lotte World yang menunjukkan posisi semua wahana taman bermain tersebut.

“Aku mau mencoba yang itu,” Yoona menunjuk gambar sebuah wahana.

Air muka Jonghyun memucat. “Kau . . . yakin?”

“Tentu saja,” Yoona meraih tangan Jonghyun kemudian menariknya. “Kita harus bergegas agar tidak mengantri terlalu lama.”

 

Ϩ

“Sudah puas muntah-muntah?”

Jonghyun keluar dari kamar mandi dengan wajah lemas dan sebotol air mineral yang tersodor tepat diwajahnya.

“Minum yang banyak,” Yoona berpesan ketika mereka menghenyakkan diri di bangku terdekat. “Muntah membuatmu kehilangan banyak cairan dan terancam dehidrasi.”

Jonghyun menuruti perkataan Yoona dan meneguk botol air pemberian Yoona hingga isinya tersisa separo.

Pelajaran yang Jonghyun dapat hari ini : Ia tak akan pernah mencoba wahana apapun yang memutar, melempar, atau mementalkan orang yang mencobanya. Termasuk pendulum raksasa setinggi sepuluh meter yang berputar hampir tiga ratus enam puluh derajat bernama Gyro Swing yang sukses menguras seluruh sarapannya keluar dari saluran pencernaan melalui jalur mulut.

“Istirahatlah dulu. Kau harus menemaniku sampai nanti malam.”

Jonghyun memicingkan matanya ketika menatap Yoona. “Kejam sekali. Kau bahkan tidak memberiku upah.”

“Cerewet,” tukas Yoona sambil menarik paksa kepala Jonghyun hingga tersandar dibahunya, tanpa menyadari perlakuannya membuat wajah pemuda itu semerah wig badut yang baru melintasi mereka. “Aku memberimu waktu istirahat lima belas menit. Lebih baik setelah ini kita mencoba wahana anak-anak seperti komedi putar saja. Bibi bisa membunuhku jika membawa pulang putranya dalam keadaan lemas seperti baru melakukan cuci perut.”

Jonghyun mengerjap-ngerjapkan matanya, mendadak merasa hiruk pikuk Lotte World terdengar begitu jauh dan detak jantungnya seolah digemakan wahana-wahana disekitar mereka sampai-sampai ia takut Yoona bisa mendengarnya.

Apakah terlalu gugup bersama seseorang bisa menjadi alasan yang cukup kuat hingga ingin meledak berkeping-keping seperti saat ini?

 

Ϩ

“kau masih menyukai baseball seperti dulu?”

Yoona mengangguk-angguk tanpa kehilangan fokusnya pada pertandingan baseball yang sedang ia tonton. “Aku kan dulu manajer tim baseball SMA kita.”

Jonghyun menyandarkan tubuhnya ke punggung bangku penonton kemudian menyedot soda yang ia minum dengan raut malas. Mungkin ia adalah satu dari sedikit pria muda di Seoul yang tidak menyukai baseball. Kegiatan fisik yang ia sukai hanyalah Judo yang ia tekuni semasa sekolah dan mengunjungi gym tiga kali sepekan.

Seisi stadion Jamsil bergemuruh ketika salah seorang pemain berhasil mencetak home run. Yoona juga ikut berteriak-teriak histeris hingga popcorn dalam pelukan gadis itu beterbangan, beberapa menempel dirambut dan pakaian Jonghyun, membuat pemuda itu mendesis kesal.

“Sekalipun banyak tim baseball hebat di Kanada, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menonton baseball di negaramu sendiri,” Yoona meraih gelas soda milik Jonghyun kemudian meminumnya, dadanya naik turun karena kebanyakan berteriak.

“Kau benar-benar mempersiapkan perjalanan ini ya? Bahkan kau sampai tahu ada pertandingan di Jamsil hari ini,” Jonghyun berkata dengan nada skeptis kemudian kembali merebut gelas sodanya.

“Tentu saja.”

Layar raksasa yang menjulang di salah satu sisi stadion dan sedari awal pertandingan menampilkan iklan bagi sponsor masing-masing tim mendadak menjadi gelap.

Penonton yang tadinya riuh mendadak diam dan seisi stadion menjadi hening. Jonghyun menoleh kesana kemari dengan kebingungan.

Jonghyun menyikut Yoona. “Apa yang terjadi?”

Yoona baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika sebuah tulisan besar bewarna putih muncul di layar raksasa dan membuat seisi stadion bertepuk tangan dan bersiul senang.

KISS TIME.

“Kiss time?”

“Di setiap pertandingan di Jamsil selalu ada sesi Kiss Time,” Yoona menjelaskan. “Sepasang penonton yang disorot kamera dan ditampilkan di layar wajib berciuman.”

“Bagaimana jika sepasang penonton itu bukan kekasih?” Jonghyun mengangkat alis.

Mata Yoona mendadak membulat dan gadis itu terpaku menatap layar. “Sepertinya . . . kau bisa menjawab pertanyaanmu sendiri sebentar lagi.”

Jonghyun menoleh dan mendapati seseorang yang mirip dengannya balas memandang dari layar raksasa di hadapannya.

Tunggu dulu . . .  jadi kamera menyorot kearahnya dan Yoona? Mereka masuk ke sesi Kiss Time? Dan mereka harus berciuman disaksikan 70.000 penonton di stadion ini?! Yang benar saja! Bahkan mereka bukan sepasang kekasih, mengabaikan fakta Jonghyun yang pernah- atau masih –menyukai teman lamanya itu.

“Kisseu! Kisseu! Kisseu!”

Seisi stadion berteriak dan bertepuk tangan menyemangati. Suara siulan beberapa penonton di sekitar mereka juga terdengar. Jonghyun merasakan kepalanya mendadak pusing dan hal yang ia inginkan hanya menghilang dari pertandingan sialan ini. Jika tidak mengingat sedang disorot kamera dan disaksikan seisi stadion ia pasti sudah menutupi kedua telinganya rapat-rapat alih-alih memasang wajah pucat pasi begitu.

“Sudahlah, lakukan saja,” suara Yoona terdengar seperti cicitan.

Jonghyun menoleh dan menatap wajah Yoona yang tampak gugup. Gadis itu mencengkeram sisi kotak popcorn jumbo di pelukannya dengan cemas. Jonghyun menelan ludah dalam-dalam sebelum dengan ragu mengulurkan tangan dan menangkup pipi gadis disampingnya lalu memiringkan wajahnya, mencium Yoona disudut bibirnya selama sedetik kemudian melepaskannya seperti seseorang yang baru saja terkena sengatan listrik.

Teriakan di stadion makin menggila dan Jonghyun merasakan separo tubuhnya mendadak membeku. Jika saja kewarasannya mengijinkan, ia benar-benar ingin meraih kotak popcorn milik Yoona, membuang isinya dan mengenakannya di kepala untuk menutupi wajahnya yang memanas.

Bahkan ia tidak berani menoleh sama sekali.

 

Ϩ

We dream of street lights
We dream of hot nights

“Itu benar-benar diluar keinginanku . . . Kau tahu . . . aku benar-benar tidak bermaksud . . .”

Yoona membekap mulut Jonghyun kemudian menyeringai geli. “Sudahlah. Hal seperti itu sudah biasa. Di Kanada ada beberapa stadion yang seperti Jamsil dan banyak sepasang teman yang mendapat Kiss Time. Kita bukan satu-satunya. Kau bahkan tidak menciumku tepat di bibir.”

Jonghyun menghela nafas, masih belum lega. “Itu bukan ciuman pertamamu kan?”

Yoona mengangkat alis, tampak seolah-olah berpikir. “Bagaimana ya?”

“Kau sudah pernah berciuman dengan pria lain?” Jonghyun terdengar cenderung gusar daripada terkejut.

“Memangnya kenapa?” Yoona mengangkat bahu. “Indah sekali ya?” Telunjuk gadis itu menunjuk ke lampion-lampion yang terapung di tengah sungai Cheonggyecheon. Tempat mereka kini berada.

“Kau benar-benar pernah berciuman dengan pria lain?” Jonghyun masih mendesak, mengabaikan keramaian turis-turis di sekitar mereka yang sedang menikmati festival lampion tahunan di sungai ini. “Siapa? Seorang pria bule di Kanada?”

Yoona menoleh dengan wajah kesal. “Kau ini kenapa sih? Hal seperti itu kan privasi.”

“Baiklah, baiklah,” Jonghyun menggerutu kesal. Pikiran tentang seorang pria yang mendapatkan ciuman pertama Yoona benar-benar mengganggunya dan ia langsung kehilangan mood.

“Ayo duduk.”

Masih dengan perasaan kesal Jonghyun melepaskan mantelnya kemudian membentangkannya di undakan tepi sungai tempat Yoona ingin duduk. “Duduklah.”

Mereka kemudian duduk bersisian, menatap lampion-lampion yang mengapung ditengah sungai dan menggantung bersama kabel-kabel lampu yang malang melintang di areal sungai. Membuat sekitar sungai berkedip-kedip oleh cahaya yang kontras dengan langit malam.

“Aku senang sekali hari ini,” Yoona menatap Jonghyun. “Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu bolos kerja.”

Jonghyun terdiam. Dia sudah lupa kekesalannya karena tidak dapat bekerja. Dia bahkan harus mengakui bahwa ia menikmati perjalanan mereka.

“Meski kau begitu ketus dan sering membuat kesal kau selalu menjadi teman yang bisa diandalkan. Tidak pernah berubah dari dulu. Terimakasih Jonghyunnie.”

Yoona tersenyum lebar dengan mata berbinar, membuat keramaian dan kerlap-kerlip lampion sungai Cheonggyecheon sejenak terlupakan dan Jonghyun membutuhkan beberapa detik untuk kembali sadar lalu menarik nafas dan berkedip dengan benar.

Jonghyun benar-benar merasa ingin memotong lidahnya ketika alih-alih mengatakan apa yang ingin ia sampaikan ia malah mengatakan. “Sama-sama.”

Aku juga merasakan hal yang sama. Sudah lama aku tidak merasa sesenang ini.

 

Ϩ

 

Every morning, Every night, keep the calm

Jonghyun mengerjap-ngerjapkan matanya ketika samar-samar mendengar alarmnya berdering. Biasanya, ketika ia membuka mata ia selalu merasakan sinar matahari pagi membanjiri matanya, tapi kali ini sinar matahari pagi digantikan sepasang mata yang balas menatapnya.

“Selamat pagi.”

Mata Jonghyun langsung membelalak dan pemuda itu hampir terguling dari tempat tidurnya ketika menyadari siapa yang baru saja menatapnya dalam jarak begitu dekat.

“Apa yang kau lakukan disini?” Jonghyun menjerit sambil merengkuh selimutnya.

Yoona terkekeh senang, tampak merasa puas dengan reaksi Jonghyun. “Bibi memintaku membangunkanmu. Sebenarnya dari setengah jam yang lalu. Tapi aku malah sibuk melihat-lihat kamarmu juga mengamatimu tidur. Kau benar-benar tampak lucu.”

Jonghyun mendengus kesal kemudian mengamati penampilan Yoona. Gadis itu tampaknya sudah bangun pagi-pagi sekali ditilik dari keadaannya yang rapi dan terlihat begitu cerah. Samar-samar ia bisa mencium bau sabun Yoona. Tercium seperti campuran ivory dan mint.

Jonghyun menggertakan gigi kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya gusar. Berusaha menormalkan situasi kejiwaannya yang sudah mengalami ganggguan sepagi ini dengan mendadak menjadi penganalisa aroma sabun wanita. Mungkin semalam ia tidak sengaja membentur sesuatu.

“Kau kenapa?” Yoona menatap Jonghyun keheranan.

“Tidak apa-apa,” Jonghyun menyahut cepat kemudian buru-buru berdiri. “Aku mau mandi. Bisakah kau keluar?”

Yoona tersenyum kecil. “Oke. Aku ingin bicara sebentar denganmu sebelum kau berangkat ke kantor.”

“Apa?”

Yoona dengan tidak sabar mendorong pemuda itu ke pintu kamar mandi. “Mandi dulu. Nanti kita bicara setelah ini.”

 

Ϩ

 

Look in the mirror and laugh out loud for yourself

“Demi Tuhan, Im Yoona, bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu?” Jonghyun mendesis kesal ketika Yoona masuk ke dalam kamarnya masih dengan apron yang ia gunakan ketika membantu Nyonya Lee menyiapkan sarapan sambil menenteng kotak tipis panjang.

“Memangnya kenapa?”

Jonghyun menghela nafas, berusaha menyabarkan diri. “Bagaimana jika aku belum berpakaian ketika kau masuk kamarku?”

“Bagus kalau begitu,” Yoona mengangkat bahu enteng. “Kata Bibi kau punya King Pack hasil latihanmu di gym. Aku jadi penasaran dengan bentuknya.”

“Aish.”

Yoona terkikik sambil berjalan mendekat, menghalangi Jonghyun yang sedang merapikan kemejanya di depan cermin. Gadis itu mengancingkan dua kancing atas kemeja Jonghyun kemudian membuka kotak yang sedari tadi ia bawa, mengeluarkan sebuah dasi bewarna hitam bergaris biru.

“Hadiah untukmu,” Yoona tersenyum kecil. “Mau kubantu memakainya?”

Jonghyun tampak terkejut tapi kemudian mengangguk dan mendongak, berusaha melarikan wajahnya yang panas dari tatapan Yoona. Ia merasa sangat gugup dengan jarak mereka yang begitu dekat. Ya Tuhan, ia benar-benar benci nalurinya sebagai pria dewasa.

“Selesai.”

Jonghyun menunduk, tangan Yoona masih mengenggam pangkal dasinya sambil menatapnya dengan mata mengerjap-ngerjap.

“Apakah kau tahu artinya ketika seorang wanita memberikan dasi sebagai hadiah kepada seorang pria?”

Mulut Jonghyun membuka dan menutup beberapa saat karena kebingungan, kemudian pemuda itu menggeleng. “Tidak.”

“Aku menginginkanmu.”

Jonghyun mengangkat alisnya tidak mengerti. “Maksudnya?”

“Artinya, aku menginginkanmu,” gadis itu mengulangi ucapannya, dan jika Jonghyun tidak salah lihat, wajah gadis itu merona. “Itu . . . itu jawabanku untuk delapan tahun yang lalu. Kau masih ingat kan kejadian setelah upacara kelulusan? Jika saja saat itu kau meminta jawaban. Inilah jawabanku.”

Yoona melepaskan genggamannya kemudian mengacak-acak rambutnya kesal dan menatap Jonghyun dengan wajah merah padam. “Aku benar-benar malu. Tentu saja kau sudah tidak menyukaiku seperti dulu. Tolong lupakan saja.”

Gadis itu berjalan dengan langkah cepat-cepat menuju pintu. Tindakan bodoh apa lagi yang barusan ia lakukan?

“Yoong.”

Tangan Yoona yang sudah akan meraih kenop pintu membeku. Gadis itu perlahan menoleh dengan takut-takut.

“Siapa yang mendapatkan ciuman pertamamu?”

Yoona mengerang frustasi dan rasanya ia bisa saja mengacak-acak rambutnya hingga kulit kepalanya terkelupas. Setelah ‘tindakan berani’nya yang merendahkan harga diri sejadi-jadinya pemuda bodoh ini masih saja menanyakan hal tidak penting seperti itu?

“Seorang pria bodoh yang berani kujamin adalah pencium yang buruk mencuri ciuman pertamaku di Jamsil Arena sore kemarin,” Yoona menggertakan giginya dengan kesal. “Puas?”

“Senang mendengarnya,” Jonghyun menelengkan kepalanya dengan senyum tanpa dosa. “Kau bisa memberiku saran tidak, hadiah apa yang bisa diberikan ke seorang perempuan yang kira-kira memiliki makna ‘aku menginginkanmu juga’?”

Yoona membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kata-kata Jonghyun. Kedua sudut mulutnya terangkat hingga matanya menyipit. Gadis itu setengah berlari ketika melompat ke pelukan Jonghyun dan mengecup bibir pemuda itu penuh perasaan.

“Kau mau aku meliburkan diri lagi hari ini?”

Yoona tersenyum kemudian mengeratkan pelukannya. Merasakan kakinya terangkat dari lantai ketika Jonghyun melakukan hal yang sama. “Tidak. Kita akan punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Sangat banyak.”

 

We have to slow down
Because we have enough time

end

17 thoughts on “[FF CONTEST] Man In Front Of The Mirror

  1. Bagus banget author, beneran deh😀
    Suka banget sama percakapannya mereka berdua
    Sok coolnya Jong Hyun oke banget🙂
    *Mungkin karena saya bukan deerburning, jd berharap peran ceweknya orang lain yaitu saya sendiri, hehe #justkidding

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s