[FF CONTEST] One of a Kind

Judul : One of a Kind

 

Cerita :

 

On the floor, you’re moving in the way i can’t ignore.

I’m in heat, i caught a glimpse and now i’m at your feet.

 

Malam ini adalah malam biasa dimana aku dan teman-teman ku berkumpul di bar favorit kami di pusat keramaian di Kota Seoul. Aku bersama ketiga sahabatku, Jonghyun, Jungshin dan Minhyuk biasa melewatkan malam minggu kami bersama-sama karena tidak seorangpun dari kami mempunyai pacar. Empat pria tampan yang kesepian, itulah gurauan Jonghyun terhadap kondisi kami sekarang ini. Aku memang tampan, tapi kesepian? Tidak.. tidak terlalu.

Aku tengah menyesap minumanku ketika seorang gadis bermata cerah namun bersorot misterius berjalan ke arah kami, atau mungkin itu hanya perasaanku saja? Entah mengapa aku bisa melihatnya diantara kerumunan orang yang tengah menari di lantai dansa. Goddess. Itulah yang pertama kali terlintas di pikiranku. Bagaimana tidak? Perawakannya begitu ramping dan sempurna serta wajahnya cantik tanpa cela. Dan matanya…. that’s one which caught my heart. Aku tidak pernah melihat wanita dengan mata seindah itu. I fall for her at the first sight. Hanya itu yang bisa kurasakan sekarang.

Wanita itu semakin mendekat. Aku berfikir, inikah takdirku? Apakah malam ini adalah malam dimana aku akan mengakhiri masa lajangku? Dan semudah inikah malaikat itu mendekatiku? Atau mungkin tidak……

“Joohyun-ah!” Panggil Jungshin. Oh? Dia mengenalnya? Bagaimana bisa?

“Jungshin-ah!” Jawab wanita itu dan itu pertama kali aku mendengar suaranya. So heavenly… Aku tidak mengira ada suara seindah tutur katanya.

Wanita itu berlari kecil ke arah kami dan berdiri di samping Jungshin. Ia tersenyum kepada kami semua. Senyuman paling menyilaukan yang pernah ku lihat yang dilepaskan seorang hawa.

“Minhyuk, Jonghyun, Yonghwa..” Kata Jungshin sambil melihat kami satu-persatu, “perkenalkan ini Seo Joohyun, pacarku..”

APA?!! Dia? Malaikatku itu adalah pacar Jungshin? Unbelievable. Mimpi manis yang ada di dalam kepalaku sirna seketika. Bagaimana bisa? Great. Just great. I’ve fallen in love with someone that i couldn’t have.

 

******

 

I can’t escape it, there’s nowhere to hide. This feeling i got i can’t denied.

I don’t know your name but it’s all the same.‘Cause i can feel your heart and now i am sure.

 

Setelah pertemuanku dengan Joohyun, malaikatku sekaligus pacar Jungshin, aku tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan saat ini aku hanya melongo menatap makan siangku yang hampir dingin. Bayangan wajah manisnya selalu menghantuiku. Sial! Bagaimana mungkin aku merebut pacar sahabatku sendiri? Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku jatuh cinta padanya. Sebesar apapun ku mengelak, aku tidak bisa lari dari perasaan ini. Entah mengapa, perasaanku terhadapnya begitu dalam, padahal kenal saja tidak.. it’so magnetic and irressistable…

“Yonghwa-ssi?”

Aku mendengarnya! Suara wanita itu! Seo Joohyun. Jung Yonghwa! Kau pasti sudah gila. Ya, kau gila. Bahkan kau memimpikan malaikatmu memanggil namamu.

“Yonghwa-ssi, kan?” Suaranya terdengar mulai ragu. Aneh. Suaranya tampak begitu nyata. Aku mendongak dan mendapati Seo Joohyun sedang menatapku dengan penasaran.

“Omo! Seo Joohyun?” Aku tersentak kaget. Astaga! Dia nyata!

“Ah.. iya…” Ia memegang rambutnya dengan gugup.

“Ehm… ah.. si-silahkan duduk dan.. makan siang bersamaku?” Aku terbata ketika melancarkan kata-kata dari mulutku. Ya ampun, apa yang kulakukan? Mengajak makan bersama kepada pacar sahabatku? It’s indeed… crazy!

“Ah, terima kasih.” Tanpa ragu Joohyun menarik kursi di depanku dan duduk.

“Ehm… kau sendirian? Mana Jungshin?” Tanyaku.

“Tentu saja ia sedang bekerja..” Jawabnya sambil membaca daftar menu.

“Ah maksudku, kau tidak makan siang bersamanya?”

“Tidak. Kau sendiri? Kau juga cuma sendirian?”

“Begitulah.. tempat kerja Jonghyun, Jungshin dan Minhyuk kan jauh dari sini.” Aku mulai menyendok makan siangku yang sudah dingin. Ketika aku melahapnya aku menyadari sesuatu, “Kau bekerja di dekat sini?” Tanyaku.

“Ya, begitulah. Gedungnya terlihat dari sini.” Joohyun menunjuk sebuah gedung bertingkat yang terlihat dari jendela cafe. Itu Gedung SM corp dan kau tau apa yang paling mengejutkan? Gedung tempat ia bekerja tepat bersebelahan dengan tempat kerjaku, FNC corp.

“Maldoandwe..” Gumamku.

“Kenapa?”

“Ternyata selama ini kita bertetangga…” Aku tertawa kecil dan menyesap kopi americano ku.

“Benarkah?” Ia tersenyum geli dan melihat lagi ke jendela, “jangan-jangan kau bekerja di FNC corp?”

Aku mengangguk dan tersenyum padanya.

“Wah! Jeongmal? Ini menarik sekali! Bagaimana kalau mulai sekarang kita makan siang bersama?”

Aku hampir saja menyemburkan kopi ku saking kagetnya. Apa? Ia menawarkan untuk makan siang bersama setiap hari? It’s wrong, totally wrong… yet….so right. Ketika aku melihat matanya, tidak ada keraguan di sana, bahkan aku melihat adanya ketertarikan.. ketertarikannya padaku.. Jantungku berdebar kencang. Yonghwa.. apa yang akan kau lakukan? Apakah kau berani mengkhianati sahabatmu demi wanita ini? Apa yang akan kau lakukan?

“Ide yang bagus….” Aku mendengar diriku sendiri menjawab ajakannya. Bad.. this is bad. And the worst is i feel no regret.. at all.

 

******

Don’t you know? There’s nothing i can’t do. I got to get to know you..

I have to see this through i want it all. I got to let you know, this feeling is so true.

‘cause i know that you’re one of a kind and i can’t get you out of my mind.

 

Mungkin yang aku lakukan dengan Joohyun bisa disebut sebagai affair karena apa yang kami lakukan tidak diketahui oleh Jungshin. Kami selalu makan bersama setiap hari, mengobrol panjang lebar dari yang awalnya hanya basa-basi sampai berkembang menjadi pembicaraan serius mengenai masalah pribadi. Semakin lama aku bersamanya, semakin banyak aku mengenalnya dan semakin tertarik dan terpesona aku dibuatnya. Charming. Hanya satu kata untuk Joohyun and i’ve deeply drown in her charm.

Semakin lama, tidak hanya makan siang kami pun memutuskan untuk makan malam bersama setiap hari. Biasanya Jungshin menjemputnya dan makan malam bersama, tapi akhir-akhir ini Jungshin sangat sibuk dengan pekerjaannya dan yang menggantikan posisinya sekarang adalah aku. Aku bahkan mengantarkan Joohyun pulang setiap hari, sama halnya dengan malam ini.

“Terima kasih.” Ucap Joohyun ketika kami sudah sampai di depan apartmentnya.

“Tidak masalah..” Jawabku.

Joohyun menatapku lekat-lekat dan tersenyum padaku. God! Her eyes are so mesmerizing! Aku menahan nafasku dan tanpa pikir panjang mendekatkan wajahku ke arahnya dan mengecup manis bibirnya. Joohyun sedikit tersentak namun secara mengejutkan ia membalas ciumanku sambil membelai lembut pipiku.

Good night.” Aku berbisik di telinganya.

Good night…” Ia tersenyum penuh arti lalu turun dari mobilku dan masuk ke dalam apartmentnya.

Aku mengenyakan diri di jok mobilku. Apa yang baru saja aku lakukan? Apa aku sudah gila? Yes, indeed. I am crazy.. crazy for her. Perasaan ini nyata… perasaan cinta ini nyata dan semakin besar. I love her.. i love her because i know that she’s one of a kind and i can’t get her out of my mind.

 

******

 

All alone, though i will doing better on my own.

Then you came and now my life will never be the same.

 

Aku menatap kosong bubur di hadapanku lalu aku menatap kosong Joohyun yang melipat tangannya di depan dadanya. Cuping hidungnya membesar karena gusar.

“Aku tidak mau makan..” Ucapku lalu menggelung di sofa di ruang tengah apartmentku.

Ya, Joohyun sedang berada di apartmentku. Hebat bukan? Setelah ia mengetahui aku tidak masuk kerja karena sakit, ia buru-buru datang ke apartmentku saat jam makan siang sambil membawa bubur dan obat. Ia memaksaku untuk makan bubur hambar itu padahal ia tau kalau perutku terasa mual. Sial! Apa semua wanita menyebalkan seperti ini?

“Yonghwa! Ayo buka mulutmu!” Ia menyendokan bubur itu dan mendesakkannnya ke mulutku yang tertutup rapat.

“Tidak mauu…” Aku merintih.

“Kalau kau tidak makan, kau akan semakin sakit!” Ia tetap memaksaku.

“Tidak mau!!” Aku tetap menolaknya. Sebagai pria lajang yang hidup sendiri, aku tidak terlalu memperhatikan kesehatanku. Bila aku sakit, aku hanya akan tidur dan semuanya akan bak-baik saja. Tapi, Joohyun memperlakukanku seolah-olah aku ini anak kecil. Ia terus meracau tentang pentingnya kesehatan dan makan yang teratur dan bernutrisi.

“Yonghwa! Buka mulutmu!!” Ia mencengkeram pipiku dengan satu tangan dan menyendokan bubur ke mulutku dengan tangan yang satunya lagi. Akhirnya bubur itu dengan sukses masuk ke dalam mulutku.

“Anak pintar!” Ia mengacak lembut rambutku dan itu membuatku merasa sangat nyaman.

“Kalau aku anak pintar, berarti aku harus mendapatkan hadiah..” Ucapku manja.

“Hadiah?” Ia memiringkan kepalanya dan berpikir sejenak, “akan kuberikan hadiah kalau kau menghabiskan buburnya dan memakan obat.”

“Apa?” Aku memandangnya ketus. Joohyun pintar sekali mengambil kesempatan, tapi aku juga tidak kalah pintar, “baiklah.” Aku tersenyum jail, “berikan hadiahku sekarang dan aku akan memakan bubur hambar itu dan obatnya.”

“Baiklah! Kau mau hadiah apa?” Tanya Joohyun tanpa curiga.

Aku tersenyum padanya dan menunjukan jariku ke arah bibirku. Aku sedikit memanyunkan bibirku. Aku rasa aku sudah cukup jelas mendeskripsikan hadiahku.

“Yah!” Ia memukul bahuku, wajahnya sedikit memerah

“Wae? Katanya kau akan memberikanku hadiah?” Ucapku dengan nada polos.

“Tidak. Tidak itu!” Wajahnya sekarang merah padam.

“Kau pembohong….” Kataku manja.

“Tidak! Aku hanya… tidak mau tertular oleh mu! Itu saja…” Joohyun beralasan dambil mengalihkan pandangannya dariku. Aku tau ia merasa malu. Aku sangat suka melihat ia tersipu.

“Baiklah! Aku tidak akan makan!” Aku mendorong bubur itu menjauh dari ku.

“Arrasseo!” Akhirnya Joohyun setuju.

Aku bersorak penuh kemenangan dan duduk manis menunggu hadiah dari Joohyun. Ia menatapku lalu mulai mendekatiku. Ia menyandarkan tangannya di bahuku dan mengecup lembut bibirku….it’s so heavenly.. until…

“Yonghwa, kudengar dari Minhyuk kau sakit!” Tiba-tiba Jungshin masuk ke dalam apartmentku dan mendapati aku dan Joohyun sedang berciuman.

Kami berdua menatap Jungshin dengan ngeri dan hal yang sama terlihat jelas di wajah Jungshin. Jungshin menjatuhkan kantong belanjaan yang dibawanya dan bergegas menghampiriku dengan marah.

“Kau!” Ia menarikku berdiri dan memukul wajahku. Rasanya sakit sekali.. tapi anehnya hanya wajahku saja yang terasa sakit. Hatiku tidak terluka sedikitpun. Tidak ada rasa berdosa karena telah merebut Joohyun darinya.

“Berani-beraninya kau, Jung Yonghwa?! Sudah berapa lama? Katakan padaku! Kenapa kau tega! Kenapa?” Ia terus menghajarku habis-habisan dan melupakan kondisi fisikku yang sedang lemah.

“Tidak! Hentikan, Jungshin-ah!” Joohyun menghambur dan memegang erat tangan Jungshin agar tidak lagi memukuliku.

“Kau! Lepaskan aku!” Ia menyentak tangan Joohyun dengan kasar sehingga ia terpelanting ke lantai.

“Tidak! Jangan sakiti dia… jangan salahkan dia..” Aku merintih sebisaku.

“Kau masih bisa bicara rupanya?” Tanya Jungshin mencemooh lalu bangkit berdiri. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia memandang ku yang tergeletak tak berdaya di lantai lalu memandang Joohyun yang beringsut mendekatiku.

“Yonghwa, gwenchanha?” Joohyun berbisik ditelingaku.

Aku tidak sanggup lagi menjawabnya, rasanya kekuatanku sudah tersedot habis. Aku mendengar tawa gila Jungshin. Tawa hambar yang terdengar dingin. “Tidak bisa dipercaya….” Bisiknya.

Aku ingin mengatakan sesuatu pada Jungshin, namun aku terlalu lelah. Aku ingin memberitahunya bahwa aku mencintai Joohyun tapi sisi egoisku tidak mau mengakui bahwa yang kuperbuat adalah suatu kesalahan. Aku ingin memiliki Joohyun. Aku tidak mau Joohyun berada di sisi Jungshin. Tidak. Tidak untuk sekarang atau di kehidupan yang lain.

“Kau bukan Yonghwa sahabatku.. bukan lagi..” Ucap Jungshin.

“Jungshin-ah.. ini bukan salahnya.. Ini salahku.. ini salahku…” Bisik Joohyun.

“Tidak perduli salah siapa, yang pasti ini akhir dari kita semua. Aku tidak mau melihat kalian berdua.. aku muak.. dan tolong lenyaplah dari kehidupanku..”

Aku mendengar langkah kaki Jungshin menjauh dariku.. tidak hanya dari apartmentku tapi juga dari hidupku. Kepalaku yang pening mulai mencerna semua kejadian yang cepat ini. Apakah semua ini sebanding? Apakah kehilangan seorang sahabat sebanding dengan menemukan cinta sejati? Atau memang ini harga yang harus dibayar? There’s no use to regret. What’s done is done and now my life will never be the same…

 

 

******

What would you say if i was to walk up to you.

Did you feel the same if i told you this feeling is true.

I wonder what would you do?

 

Setelah kejadian itu aku tidak pernah melihat Jungshin ataupun Joohyun. Ternyata dugaanku salah. Tidak ada yang kumenangkan dari pertarungan ini. Aku kehilangan keduanya, baik sahabat maupun cinta.

Aku menangkupkan wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku sudah tidak tau lagi harus melakukan apa. Rasanya hampa… ya hampa… ruang di hatiku terasa begitu kosong. Tanpa Jungshin ataupun Joohyun. Tapi aku sadar, aku tidak akan mendapatkan mereka kembali ke dalam hidupku. Kalaupun aku mendapatkannya, aku tidak bisa serakah.. aku hanya bisa mendapatkan salah satu dari mereka. Tapi rasanya, aku ingin saat ini ada Joohyun di sampingku yang menenangkanku dan mengatakan padaku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Salahkah aku karena memiliki perasaan semacam itu?

Aku melirik jam tanganku. Jam 12. Jam makan siang. Seketika saja aku teringat masa-masa saat aku selalu makan siang bersama Joohyun. Kini hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku beranjak dari meja kerjaku dan pergi ke luar untuk makan siang. Setiap langkahku menuju cafe yang biasa terasa begitu berat. Aku menggelengkan kepalaku dan mulai menegakkan langkahku. Ayolah, Yonghwa! Kau ini laki-laki atau bukan? Mengapa kau merajuk seperti seorang pengecut? Kalau kau memang menginginkan Joohyun berada di sampingmu, harusnya kau kejar dia!

Aku mengambil ponsel di saku celanaku dan menelepon nomor yang sudah lama sekali tidak kuhubungi. Aku menunggu beberapa saat dan itu cukup lama. Aku memang tidak berharap ia akan menjawabnya secepat itu. Setelah tiga kali aku meneleponnya, akhirnya ia menjawab.

“Apa?” Jawab seorang gadis di seberang sana. Walaupun nadanya sedikit dingin tapi itu tetaplah suaranya. Suara Seo Joohyun. Suara yang selalu aku rindukan.

“Joohyun…” Aku menghela nafasku. Selama ini aku tidak menyadari bahwa kerinduanku terhadapnya begitu besar.

“Mau apa lagi, Yonghwa?” Tanyanya. Suaranya sedikit bergetar.

“Makan siang bersamaku, ya?” Itu bukan ajakan melainkan perintah. Aku mau ia menjawab ya.

“Hentikan semua ini… aku lelah…” Bisiknya.

“Aku tidak..” Tantangku.

“Yonghwa… tolong.. apa yang kita lakukan itu salah..”

“Aku…. aku tau… tapi… aku.. ingin bertemu denganmu.”

“Untuk apa?”

“Untuk memastikan bahwa kau benar-benar tidak merasakan apa yang kurasakan. Kalau iya, aku berjanji aku tidak akan mengganggumu lagi.”

“Tidak.”

“Kau takut? Takut kalau aku bisa melihat bahwa kau juga menginginkanku?”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Seperti yang kuduga… kau takut.”

“Tidak!” Ia berteriak. Terdengar jeda panjang dan akhirnya ia berkata, “Baiklah.. kita bertemu di cafe yang biasa…”

 

******

 

Aku merasa aku bermimpi. Joohyun berada di hadapanku. Benar-benar ada di hadapanku. Nyata. Solid. Namun, meskipun ia ada tak terasa aura kehidupan dari dirinya. Bahkan, mata indah yang aku sukai itu tidak sekalipun memandangku.

“Joohyun-ah…” Panggilku.

“Apa?” Ia tetap menunduk sambil meminum lemon tea nya.

“Tatap aku..”

“Shiro!”

Aku sedikit tidak sabar dan meraih dagunya lalu mengangkat wajahnya. Akhirnya ia menatapku dengan pandangan yang begitu…..sedih. Matanya terlihat sayu dan berkaca-kaca sampai akhirnya air mata menetes perlahan di pipinya.

“Joohyun-ah…?” Aku menghapus lembut air mata di pipinya, “Mianhe…. mianhe….” Aku berbisik padanya sambil membelai lembut tangannya.

Ia menggeleng dan terus menangis. Aku beranjak dari kursiku dan duduk di sampingnya. Menariknya ke dalam pelukanku dan membiarkan ia melepaskan segala emosi yang ada pada dirinya. Aku membelai rambutnya sementara ia terus menangis. Setelah Joohyun lebih tenang, ia melepaskan pelukanku.

“Joohyun-ah..” Aku memanggilnya lagi untuk mengajaknya berbicara dan mengurai benang kusut ini. Ia mendongak menatapku lalu aku melanjutkan, “Mungkin cara kita bertemu itu salah…”

“Ya…” Bisiknya, “So just make this right again, Yonghwa…”

Aku mengangguk, “Let’s make everything right…

Joohyun tersenyum kecut, “Aku rasa ini adalah perpisahan kita?”

“Bukan… ini adalah permulaan.. because now, there’s only one thing which is right…..”

Which is?”

“Sarang hae, Seo Joohyun….. I really do..” Akhirnya aku mengutarakan hal yang selama ini aku tahan.

“Apa?” Tanyanya.

“Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu di bar..”

“Yonghwa…. aku…” Joohyun terbata lalu terdiam.

“Aku tau kau merasakan hal yang sama..”

Joohyun mengangguk namun sorot matanya masih menunjukan kegelisahan, “Tapi aku takut… perasaan bersalah ini terus menghantuiku. Namun, aku tidak bisa menyangkalnnya….”

Ya. Aku tau. Aku bisa melihat di matamu bahwa kau juga mencintaiku. “Give me the chance..” Ucap ku. Berikan aku kesempatan dan aku akan berusaha untuk menghapus semua keraguanmu. Akan kuhadapi Jungshin demi kedamaian hidup mu, hidup ku dan hidup nya.

“Ne.. ne..” Ia memelukku erat. Aku tau ia kembali menangis lagi.

“Sekarang katakan padaku….” Ucapku sambil mengecup rambutnya.

“Apa?”

I really need to hear those words. Palli! Malhaebwa!”

“Shiro!” Ia memelukku semakin erat untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu.

“Seo Joohyun..” Aku mendorongnya dari pelukanku untuk melihat wajahnya.

“Saranghaejungyonghwa..” Ia mengatakannya dengan sangat cepat lalu memelukku lagi untuk menyembunyikan wajahnya yang kini sudah sangat merah.

Aku tertawa kecil dan menepuk lembut kepalanya, “Na do sarang hae, Seo Joohyun.”

 

Don’t you know? There’s nothing i can’t do. I got to get to know you..

I have to see this through i want it all. I got to let you know, this feeling is so true.

‘cause i know that you’re one of a kind and i can’t get you out of my mind.

 

 

 

 

One thought on “[FF CONTEST] One of a Kind

  1. Sumpah ya, beberapa ff yang saya baca untuk mengisi waktu -baca:insomnia- bener2 oke banget😀
    Feelnya dapet banget
    Semangat para author …

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s