[FF CONTEST] Starlit Night

Starlit Night

 

Because I just want our star to shine brightly

.

.

 

Listen to my story
I saw a falling star

 

Min Hyuk berdiri di atas tanah lapang itu, kepalanya mendongak menatap langit. Sebelah tangannya terulur ke samping, menggengam erat telapak tangan seorang gadis yang amat dicintainya. Di atas sana, kegelapan mulai turun dan melingkupi keduanya. Rembulan memancarkan cahaya benderangnya di tengah gelap, kerlip bintang yang menemani bagaikan butiran permata di atas selimut hitam kelam.

“Apa kau percaya pada legenda bintang jatuh?”

Min Hyuk mengulum senyum saat mendengar nada polos yang tersirat dalam ucapan itu. Sang kekasih –Jun Hee –tengah menatapnya dengan sorot ingin tahu.

“Kau sendiri?”

“Aku ingin percaya, karena aku memunyai sejuta impian yang ingin kuwujudkan,” sahut Jun Hee mantap. Ia mengangkat sebelah alisnya sejenak, kemudian menambahkan, “Sejuta impian bersamamu.”

“Kalau begitu, aku juga percaya.”

Tepat setelah Min Hyuk mengucapkan kata-kata itu, satu titik kecil di atas sana mulai bersinar terang dan tampak semakin membesar. Kedua sejoli itu membelalakkan mata mereka, tak percaya. Tak butuh waktu lama, benda langit yang sudah mereka tunggu-tunggu sedari tadi itu pun mulai menampakkan keindahannya. Meluncur turun dari sudut kanan atas, terus melaju dengan kecepatan konstan ke arah barisan pepohonan di depan sana.

 

And I made a wish upon the tiny spark, then
My heart belongs to you forever, forever more
I hope my wish can be heard to the sky….

 

Make a wish,” bisik Jun Hee pelan. Min Hyuk mengangguk cepat. Dipejamkannya kedua kelopak itu, kepalanya mendongak ke atas seraya memanjatkan keinginan hatinya yang terdalam.

Aku ingin agar sejuta impian Jun Hee untuk bahagia bersamaku bisa terkabulkan.”

Ketika Min Hyuk membuka kedua matanya lagi, bintang jatuh itu sudah lenyap –mungkin bersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon yang mengitari tanah lapang ini. Ia melirik Jun Hee dari sudut matanya, mendapati gadis itu tengah menatapnya balik dengan berbinar-binar.

“Apapun yang kauharapkan, aku berharap langit akan bisa mendengarnya,” ucap Jun Hee tulus. Min Hyuk tersenyum lagi, genggaman tangannya dengan milik Jun Hee semakin erat. Ia mencondongkan tubuhnya ke samping, bibirnya mendarat sepersekian inci di sebelah telinga sang gadis.

“Langit mendengarnya. Karena aku berharap untuk hidup bahagia bersamamu, dan saat ini aku tengah merasakan kebahagiaan itu.”

 

Hey, look at the night sky
Do you know why that glitters?
Our minds become a star with one accord

Glitter in the night sky… and like your mind, baby
And it is shining somewhere tonight

 

Tanah lapang ini seolah menjadi saksi bisu bagi setiap pertemuan mereka.

Min Hyuk tidak pernah tahu mengapa, tetapi Jun Hee selalu mengajaknya bertemu di sini. Pernah sekali, Min Hyuk mengajak Jun Hee untuk berkencan ke tempat lain, namun gadis itu serta-merta menolaknya begitu saja. Kala itu, Jun Hee memegang lengan Min Hyuk erat sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Aku tidak mau. Aku lebih suka menghabiskan waktu denganmu di sini.”

Min Hyuk juga ingat bahwa ia sempat melontarkan kata ‘mengapa’, bertanya apa alasan di balik keteguhan hati Jun Hee. Gadis itu hanya mengulum senyum simpul seraya menyandarkan tubuhnya pada Min Hyuk, kemudian berbisik pelan, “Kalau di luar sana, kita tidak akan bisa bersama dan sedekat ini.”

Jawaban yang aneh, namun Min Hyuk memilih untuk mengalah dan selalu menjadikan tanah lapang berlapis rumput hijau ini sebagai tempatnya berkencan.

Sama halnya seperti malam ini, mereka berdua tengah menghabiskan waktu dengan duduk santai di atas rerumputan dan sibuk mengamati kerlip bintang di atas sana. Jun Hee memainkan ujung rambutnya, matanya tak lepas dari satu titik yang bersinar paling terang di angkasa. Min Hyuk sudah tahu bahwa gadisnya itu sangat menyukai bintang –ah bukan, mungkin malah sudah tergila-gila pada benda langit satu itu.

“Hyukkie, kautahu mengapa bintang yang satu itu bersinar sangat terang?”

“Kenapa?”

“Karena bintang itu melambangkan kita.”

“Hah?” Min Hyuk menelengkan kepalanya, bingung. Melihat itu, Jun Hee hanya bisa tertawa geli. Ia menautkan jari-jarinya dengan Min Hyuk, mengangkat tangan mereka berdua ke atas, kemudian mengarahkan ujung telunjuk Min Hyuk pada satu titik di atas sana.

“Bagiku, bintang itu adalah simbol harapan. Aku selalu berdoa agar kita berdua bisa bersinar terang seperti benda langit yang satu itu.”

Lagi-lagi sebuah perumpamaan lain yang berhubungan dengan bintang. Terkadang, Min Hyuk selalu merasa terkesan dan kagum dengan kepintaran Jun Hee dalam membuat sebuah pengandaian. Gadisnya itu selalu penuh dengan teka-teki dan berbagai macam filosofi. Menarik.

                “Junie-ya… akhir-akhir ini aku sering bertanya-tanya akan satu hal.”

“Apa itu?”

Min Hyuk menghela napas panjang, maniknya terarah pada keindahan angkasa yang menyelimuti mereka berdua. Kalau boleh jujur, Min Hyuk pun tidak akan merasa keberatan untuk terjebak di tempat ini selamanya. Bersama Jun Hee, apapun akan ia lakukan. Ia ingin agar momen bahagia ini bisa berlangsung selamanya. Seperti kata Jun Hee tadi, ia juga ingin agar hubungan di antara mereka dapat bersinar dengan cerah.

“Terkadang aku bertanya apakah semua ini nyata. Ini semua terlalu indah, Junie-ya.    

               

I hope that this feeling
Can continue shining on forever

                “Tentu saja ini nyata,” Jun Hee menjawab dengan begitu yakin.

“Sungguh?”

“Asalkan kau percaya bahwa ini nyata, mengapa pula semua keindahan ini harus menjadi semu?”

Min Hyuk terdiam, berusaha mencerna semua ucapan Jun Hee barusan.

Itu benar.

Untuk apa lagi ia meragukan keaslian semua ini? Ia sedang mendapatkan kebahagiaannya; merasakannya mengalir dalam setiap pembuluh darahnya, memenuhi seluruh sel tubuhnya, serta mengisi relung hatinya dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Perlukah ia merusak semua saat bahagia yang sudah teramat sempurna ini dengan pikiran-pikiran bodohnya?

Tentu jawaban untuk semua itu adalah ‘tidak’.

Ia hanya perlu percaya bahwa ini semua adalah realita yang sedang ia jalani. Percaya dan membiarkan semuanya mengalir seperti air. Selama mereka bahagia, apa lagi yang perlu dipermasalahkan?

Lagi-lagi, kata ‘tidak’ pun menjadi jawaban untuk pertanyaan yang satu ini.

Min Hyuk mengembuskan sisa-sisa pernapasannya perlahan, lega. Ia mengulurkan telapak tangannya untuk menepuk puncak kepala Jun Hee pelan, membuat gadis itu segera menoleh dengan alis terangkat.

“Kalau ini nyata, maka aku berharap agar semua ini bisa berlangsung selamanya.”

Yes, I hope that your and my feelings
Will surely become a single star
I sing a song with all my heart, my heart

 

                Hari ini, Min Hyuk datang dengan mata berbinar penuh semangat. Ia berlari kecil melintasi tanah lapang itu, menghampiri sosok mungil Jun Hee yang sudah terlebih dahulu tiba dan sedang asyik berbaring di bawah sebatang pohon.

“Junie-ya!”

Jun Hee melambaikan tangannya, membuat gestur mengundang pada Min Hyuk. Dengan cepat, lelaki itu pun menjatuhkan dirinya ke atas rerumputan, lengkap dengan senyum lebar yang masih setia menghiasi wajah tampannya.

“Ada apa?”

“Aku sudah memutuskan bintang mana yang paling kusukai!”

“Oh! Sungguh?” Jun Hee terpekik riang, matanya melebar seperti bulatan kelereng. Tak butuh waktu lama, ia pun langsung mendudukkan dirinya di samping Min Hyuk. Menunggu.

“Spica,” ujar Min Hyuk akhirnya seraya mengeluarkan sebuah buku astronomi. Mulut Jun Hee terbuka lebar, ekspresinya sarat akan kekaguman. Kepalanya mengangguk-angguk, tanda bahwa ia setuju sepenuhnya dengan pilihan Min Hyuk.

“Dan alasanmu adalah?”

“Spica, dua bintang yang menjadi satu,” jawab Min Hyuk bangga sembari menunjuk-nunjuk buku astronomi di dalam dekapannya. Ia berdeham sekilas, kemudian melanjutkan, “Spica tampak seperti satu bintang raksasa yang bersinar amat terang, padahal sesungguhnya ia adalah dua bintang kembar yang saling mengorbit satu sama lain. Berputar dalam kecepatan yang teramat tinggi, nyaris tak terpisahkan. Itulah sebabnya mengapa kita hanya bisa melihat Spica sebagai satu kesatuan, bukan dua bintang yang saling berlainan.”

“Jadi, apakah kau bermaksud merayuku dengan segala pengetahuan itu? Mengatakan bahwa kita juga tak terpisahkan seperti Spica?” Jun Hee mulai menebak-nebak, raut wajahnya terbagi antara rasa geli dan usil.

“Errr, begitulah. Kenapa? Keberatan?” tanya Min Hyuk cepat sembari menggaruk tengkuknya, malu.

“Tidak,” balas Jun Hee sambil tertawa renyah. Ia beringsut semakin dekat dengan sosok sang kekasih, kemudian melingkarkan lengannya pada lengan Min Hyuk. Membiarkan tubuh mereka merapat, saling berbagi kehangatan dan rasa nyaman di tengah desau angin yang semakin menusuk tulang.

“Bagaimana?”

Jun Hee mendongakkan kepalanya sedikit, menatap Min Hyuk dalam dari sudut matanya. Bibirnya dimajukan dengan sikap menggoda, membuat Min Hyuk semakin tak sabaran melihatnya.

“Choi Jun Hee….”

“Ayo kita menjadi seperti Spica yang tak pernah terpisahkan. Oke?”

Senyum Min Hyuk pun mengembang seketika kala ia mendengar jawaban bernada optimis yang keluar dari bibir Jun Hee.

Itu terdengar sempurna.

Do you know the story of you and me
That is shining in this world?

 

                “Hentikan, Min Hyuk. Kubilang, hentikan.”

Jong Hyun bersedekap di depan pintu kamar Min Hyuk, rasa frustasi membayang di wajahnya. Maniknya menilik sosok Min Hyuk yang tengah terduduk di atas kasurnya sendiri, lengkap dengan keringat yang membanjiri sekujur tubuh dan membuat kaus putih itu menempel lekat di atas kulit.

“O, Hyung. Kenapa?” Min Hyuk balik bertanya, linglung. Ia mencengkeram kepalanya dengan sebelah tangan, berusaha mengingat-ingat semua kejadian yang tadi baru saja ia alami. Padang rumput, bintang-bintang, dan gadisnya–Choi Jun Hee.

“Kenapa? Kau masih bisa bilang kenapa? Min Hyuk sadarlah, tidak seharusnya kau terus menyimpan ilusi tentang Jun Hee di dalam otakmu!” raung Jong Hyun keras seraya berderap maju. Sebelah lengannya terangkat dan mendarat di atas bahu Min Hyuk, mengguncangkan lelaki yang lebih muda itu agar segera kembali pada realita.

“Ilusi?” ulang Min Hyuk dengan nada suara yang mendadak saja meninggi. “Ilusi apa? Tadi malam, kami baru saja bersenang-senang berdua!”

“Kau tidak pergi kemanapun seharian ini, Hyuk-a. Yang kau lakukan hanyalah tertidur di atas kasurmu dan menyebut-nyebut nama Jun Hee.”

Min Hyuk memutar bola matanya, kesal. Ia yakin sekali bahwa ia tidak bermimpi. Ilusi, huh? Tadi, Jun Hee sudah berkata bahwa semua hal yang mereka alami itu adalah nyata. Min Hyuk percaya itu. Mereka sudah berjanji, mereka sudah saling merajut mimpi untuk bisa bersinar dengan terang seperti bintang yang bertaburan di langit.

Dan untuk itu, tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi Min Hyuk.

Sama sekali tidak boleh.

“ Aku lelah, Hyung. Aku baru saja pulang dari kencanku bersama Jun Hee dan berniat untuk tidur sejenak. Kalau kau masih ingin menggangguku dengan ocehan tidak jelasmu, sebaiknya kaupergi saja,” ucap Min Hyuk letih. Ia kembali merebahkan dirinya di atas kasur dan memutar punggungnya membelakangi sang sahabat. Min Hyuk tahu bahwa Jong Hyun masih berdiri di sana, namun ia tak lagi peduli.

“Hyuk-a…” Jong Hyun memulai lagi, nadanya terdengar penuh simpati. Min Hyuk membenamkan kepalanya makin dalam di bantal, berusaha untuk menolak semua ucapan yang akan dilontarkan oleh Jong Hyun.

“Kang Min Hyuk, tolong hadapilah realita. Jun Hee sudah meninggal.”

Satu kalimat itu meruntuhkan pertahanan diri Min Hyuk begitu saja. Kontan ia pun berbalik dengan ekspresi terluka yang tercetak jelas di atas wajahnya. Emosinya memuncak seketika, bantal yang sedari tadi menjadi alas kepalanya ia lemparkan ke arah Jong Hyun.

“Jun Hee belum meninggal! Kau ini apa-apaan sih?! Kami baru saja bertemu dan membuat janji untuk selalu bersama!”

Selalu bersama layaknya Spica yang bersinar terang di langit, iya kan Jun Hee? tambah Min Hyuk dalam hati.

Pemuda itu menyandarkan dirinya pada kepala ranjang, dadanya naik turun karena terengah-engah. Matanya memicing tajam ke arah Jong Hyun, tak terima. Tanpa sadar, setetes kristal air pun jatuh menuruni lengkung pipinya.

Kenapa kau menangis, Min Hyuk? Bukankah kau dan Jun Hee baru saja melewati momen bahagia?

Bibir Min Hyuk terkatup rapat, seluruh tubuhnya menegang karena gelisah. Ia tak mengerti apa yang salah di sini. Ia tidak paham. Mengapa semua kesempurnaan yang baru saja ia alami dengan sang kekasih harus pudar secepat ini?

“Tidak, Min Hyuk. Jun Hee sudah meninggal. Tidakkah kau ingat pada kecelakaan sebulan lalu? Ia sudah pergi.”

“Tapi kami… kami–”

Min Hyuk menggelengkan kepalanya berulang kali, berusaha memaksa dirinya untuk mencerna ucapan Jong Hyun. Semua memorinya dengan Jun Hee membanjir masuk, kali ini bercampur dengan seberkas rasa duka dan getir, sebuah kepahitan yang menohoknya dalam-dalam.

Ia bisa melihat dirinya dan Jun Hee yang saling berbagi janji di bawah langit berbintang, tertawa bersama dan merajut cinta layaknya pasangan bahagia.

Lalu satu kenangan yang lain pun muncul, menampakkan sebuah gambaran dimana Min Hyuk sedang berlutut di sebelah batu nisan bertuliskan nama Jun Hee, menangis dan meraung tak berdaya di tengah derasnya guyuran hujan.

Itu dia.

Noda hitam yang menutupi kemilau sinar kisah mereka.

H-hyung… tapi kami….”

“Aku tidak tahu apa tepatnya memori yang kauimpikan, Hyuk-a. Tapi kumohon, kalau itu berisi tentang kisah bahagiamu dengan Jun Hee, maka lupakanlah. Kisah kalian di dunia ini sudah berakhir.”

Min Hyuk meringkukkan tubuhnya, sedu-sedan yang meluncur keluar dari bibirnya semakin tak terkendali. Itu bohong… itu bohong… itu….

“Aku tidak berbohong, Min Hyuk. Di dalam imajinasimu, mungkin saja kalian masih hidup bahagia. Tetapi tidak dengan dunia nyata. Maaf.”

Itu faktanya.

Itu fakta, dan selama ini Min Hyuk sendirilah yang berusaha membohongi diri dengan cara tenggelam di dalam dunia penuh mimpi dan ilusi.

Kesedihan telah memaksa Min Hyuk secara tidak langsung untuk menciptakan delusinya sendiri, menerjunkannya dalam dunia mimpi yang tak pernah mengenal batas. Tempat dimana ia masih bisa melewatkan waktu bersama dengan Jun Hee, tempat dimana ia bisa merasa bahagia.

Ternyata selama ini ia salah.

Kisahnya dan Jun Hee tidak lagi bersinar dengan terang di bumi ini.

Kisah mereka hanya bisa menyala dan memancarkan keindahannya di suatu tempat yang lain. Lebih tepatnya, di dalam dunia khayal Min Hyuk.

Kalau sudah begini, ia harus bagaimana?

 

I wish I could see a starlit night

 

“Kau bohong, Junie-ya. Kau bohong! Kaubilang kisah kita ini bukan sekadar cerita semu? Mana buktinya?”

Malam itu, ketika Min Hyuk kembali menjumpai sang kekasih di padang rumput fantasinya, hanya emosi dan tuduhan sematalah yang mampu ia ucapkan. Napasnya terputus-putus dan manik hitamnya berkilau karena selapis air mata yang masih tertahan. Jujur, ia masih belum bisa menerima kenyataan.

“Aku bilang, asalkan kaupercaya, maka cerita ini pun akan menjadi nyata,” bisik Jun Hee sembari menundukkan kepalanya.

“Nyata? Bagaimana mungkin semua ini menjadi nyata kalau kau sudah pergi meninggalkanku?” tuduh Min Hyuk langsung. Jun Hee berjengit mundur, kepalanya menengadah ke arah Min Hyuk dengan raut memelas.

“Aku tidak pernah pergi.”

“Ya, kau pergi.”

“Tidak. Eksistensiku memang tak lagi hidup di dalam realitamu, namun setidaknya aku selalu hidup di dalam imajimu. Aku selalu disini, Min Hyuk, bersamamu,” ucap Jun Hee seraya melangkah maju dan menempelkan tangannya di atas jantung Min Hyuk. Hangat. Lagi-lagi jenis kehangatan yang sama dan tak pernah pudar dari ingatan Min Hyuk.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku hanya ingin bersama denganmu, Jun Hee. Di tempat ini, di bawah langit malam yang bertabur bintang. Aku hanya ingin mencurahkan semua perasaanku kepadamu, Jun Hee. Memberikanmu cinta dan kasih sayang, selamanya.”

Jun Hee tersenyum sekilas, lengannya terulur untuk menarik Min Hyuk ke dalam dekapannya. Mereka berpelukan sejenak, sebelum akhirnya Jun Hee melepaskan rangkulan itu dan berjinjit untuk membisikkan sesuatu di telinga Min Hyuk.

“Kalau begitu, lakukanlah. Jalani hidupmu bersamaku.”

“Bagaimana caranya? Kita tak lagi bisa melanjutkan jalinan kisah kita di dunia nyata!”

“Tidak di dunia nyata, tentu saja,” jawab Jun Hee sambil menggelengkan kepala, seolah hal itu sudah teramat jelas. Gadis itu menghamburkan dirinya sekali lagi ke dalam pelukan Min Hyuk, bibirnya bergerak untuk memberi jawaban atas semua kegundahan sang kekasih.

“Kita tidak bisa bersinar di dunia nyata, tapi kita bisa bersinar di sini. Pergilah denganku, Min Hyuk. Aku bersumpah, kali ini, di dunia khayal yang kita bangun bersama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”

“Seperti Spica,” tambah Min Hyuk, kepalanya mengangguk setuju.

“Ya, seperti Spica yang bersinar terang.”

“Kalau begitu, aku akan pergi.”

 

With you all the time… with you forever

“MIN HYUK! KANG MIN HYUK!!”

Tidak ada yang bisa menghentikan teriakan bernada panik dan histeris itu keluar dari bibir Jong Hyun. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul sembilan pagi, namun kekacauan dan ketegangan tampaknya sudah mendominasi aura di kamar apartemen mungil itu.

Jong Hyun melangkah dengan hati-hati, berusaha mengindari cairan merah pekat di atas lantai keramik putih yang menguarkan campuran bau amis dan besi berkarat. Matanya membeliak lebar, mulutnya ternganga dengan ekspresi tak karuan.

Ia tak pernah menyangka bahwa pagi harinya akan diusik oleh pemandangan semengerikan ini.

Di sana, di atas ranjang bersprei putih itu, Min Hyuk terbaring lemas dengan wajah pucat pasi dan bibir yang sudah memutih. Seluruh tubuhnya tak lagi bergerak, paru-parunya tak lagi bekerja dalam menampung dan mengeluarkan oksigen kehidupan. Lengannya dipenuhi dengan bekas luka sayatan di sana-sini, lengkap dengan jejak-jejak darah yang sudah mengering. Ia hanya tergeletak di sana layaknya boneka rusak, tanpa detak jantung, embusan napas, maupun darah yang mengalir.

Jong Hyun jatuh berlutut di sebelah Min Hyuk, tangannya gemetaran kala ia berusaha meraih ponselnya untuk menghubungi rumah sakit. Pemuda itu tak pernah menyangka bahwa pertengkarannya dengan Min Hyuk semalam akan menjadi yang terakhir. Beribu penyesalan kini menyesaki dirinya, demikian pula dengan berjuta pengandaian yang menggumpal di dalam dadanya.

Dua puluh menit kemudian, ketika ambulance datang dengan bunyi sirine yang meraung, Jong Hyun tahu bahwa tindakannya ini sudah tak lagi berguna. Sang dokter hanya bisa menggeleng pelan, menujukkan ketidaksanggupannya untuk mengembalikan nyawa yang sudah hilang.

Ia terlambat.

Ya, Min Hyuk sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya.

Memilih untuk meninggalkan dunia yang fana ini, menyusul sang kekasih yang sudah lebih dulu menjejaki alam sana.

Min Hyuk mungkin tak lagi hidup di atas muka bumi ini….

…namun di satu dunia yang lain, dunia dimana imaji dapat terwujud, ia tengah bersinar terang layaknya bintang bersama dengan sang kekasih, Jun Hee.

 

I still want our star to shine brightly

.

Then, come with me.

.

Where?

.

To our next world.

.

.

Do you know the story of you and me
That is shining in this world?
Unchangingly always by my side

(CNBLUE – Starlit Night)

11 thoughts on “[FF CONTEST] Starlit Night

    • halo, quiteries… wah, makasih ya udah berkomentar di ficku, yang pertama pula🙂
      dan makasih juga buat pujiannya, aku aminin aja deh doamu biar ini menang O:)

      thanks😀

  1. Emm, sebelumnya bingung sebenarnya reader yg lain boleh baca dan comment ff contest ga ya? Tapi karena udah baca, ya harus comment.. Gaya bahasanya bagus membuat reader merasa ada di antara ke bahagiaan Minhyuk dan Jun Hee, dan jalan cerita yang tak terduga.. Keren.. Semoga menang ya ^^

    • heumm, entahlah.. habis author sama admin disini ga bilang apa-apa tapi berhubung ga ada larangan, pastinya boleh kan dibaca sama dikomentarin? toh udah di post juga xD

      makasih ya kamu udah mau ninggalin komentar ini habis baca, habis sider kayaknya bertebaran begini kan ya T__T
      I appreaciate your comment so much lho🙂

      dan makasih pujiannya meskipun kayaknya aku belum deserve buat dibilang bagus kok~ ini cuma kebut kilat habis denger lagunya, dan aku pun bingung kenapa lagu semanis ini bisa jadi fic galau .__.v

      thankyouu😀

    • wahahaha, akhirnya ada juga yang nyadar kalo junhee itu juniel :3
      habis (entah kenapa dan apa alasannya) aku nge-ship mereka berdua gitu, sama-sama imut sih >,<

      maaf ya endingnya jadi begitu padahal awalannya manis, authornya sendiri juga ga ngerti kenapa bikin cerita ini jadi kaya gitu /dor/

      makasih ya udah bacaa😀

  2. kak amer… aku cuman mau bilang… semoga kakak yang menang!!! U,U aduhh fic ini kok ingetin aku sama fic-self nya kakak yang partnya yongshin itu yahh? ada spica dann,,,,, ahhhh❤
    pokoknya aku suka banget dehhh😀 dan aku juga suka sama kapel ini!!!

  3. nih ff bener2 daebak thor.. (y) apalagi disitu yg jadi yeoja Junhee ^^ aku tunggu karya2 ffmu yg lain thor yg ada Junheenya tapi,, hh~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s