[FF CONTEST] Still In Love

Minhyuk’s POV

“Hyung, kau ingin makan apa? Aku akan mentraktirmu.” tawarku saat seorang pelayan datang menghampiri kami berempat.

“Jinjja? Aku ingin makan Spagetty.” Kata Yonghwa hyung.

“Aku juga.” Timpal Jonghyun hyung.

“Aku ingin Fried Chicken.” Kata Jungshin.

“Aku pesan seperti biasa.” Kataku ke pelayan itu.

 

Sambil menunggu pesanan mereka datang,kami bercerita tentang film yang baru saja kami tonton kemarin. Hingga ada seorang gadis tinggi, putih dan sangat manis dengan menggunakan T-shirt biru di padu dengan jeans biru mendekati Yonghwa hyung. Ia menggunakan bando dan tas bewarna biru. Tampaknya ia menyukai warna biru.

“Annyeonghaseyo. Sudah lama kita tidak bertemu Oppa.” Gadis itu menjabat tangan Yonghwa hyung.

“Ah Raeya Ssi. Bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih cantik.” Kata Yonghwa hyung. Rupanya gadis ini bernama Raeya. Gadis ini terlihat sangat ramah dan murah senyum. Senyumnya sangat indah. Senyuman itu mengingatkanku akan senyuman seseorang. Namun aku tidak ingat siapa pemilik senyum itu.

“Baik Oppa. Bagaimana dengan Oppa?” kata Raeya masih dengan senyum mereka di bibir indahnya.

“Baik. Perkenalkan ini Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin. Kau pasti tahu kami berempat kan?” kata Yonghwa hyung sambil menunjuk Jonghyun hyung, aku dan Jungshin.

“Maaf Oppa. Aku tidak mengenal kalian. Apakah kalian terkenal?” kata Raeya menyesal.

“Aigo. Kau tidak mengenal kami? Kami member CNBLUE. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan gadis yang tidak mengenal kami.”

“Maafkan aku Oppa. Aku jarang menonton TV.”

“Ya sudahlah. Tidak apa-apa.”

“Oppa, aku sedang banyak tugas. Jadi aku harus buru-buru. Aku pergi duluan ya!” pamit Raeya.

“Baiklah. Lain kali kau harus menonton konser kami.”

“Baiklah Oppa” kata Raeya sambil bergegas pergi. Minhyuk menatap punggung Raeya hingga ia menghilang dari pandangan.

“Ya! Minhyuk-ah. Sampai kapan kau menatapnya seperti itu?” tanya Jonghyun hyung.

“Ah. Eh.” Aku salah tingkah.

“Kau suka padanya?” tanya Jungshin.

“Ah. Eng. Tidak. Aku hanya melihat.” Kataku masih salah tingkah.

“Yang benar? Pipimu terlihat memerah Minhyuk-ah” kata Jungshin menggoda.

“Berhentilah menggodaku.”

“Raeya itu sahabat mantan pacarku saat aku SMA.” Kata Yonghwa hyung.

***

 

Keesokan harinya di ruang kelas.

“Minhyuk-ah, anterin aku ke studio dance dong. Aku mau mengembalikan CD ini ke temenku.” Ajak Jungshin.

“Ajak yang lain aja. Aku malas jalan niih.” Kataku sambil meletakkan kepala di Meja.

“Ayolaah. Yang lain pada sibuk semua tuh. Cuma kamu yang nganggur.” Jungshin menarik tanganku dengan paksa.

“Ya udah deh.” Aku menyerah dan akhirnya mau mengantarkan Jungshin ke studio dance.

Aku menunggu Jungshin di depan Studio. Tak sengaja aku melihat Raeya dance di dalam studio. Aku tidak menyangka jika Raeya berkuliah di tempat yang sama denganku. Aku mengamati Raeya dengan seksama. Raeya dance dengan energik. Ketika sedang melihat Raeya, tatapan kami bertemu dan Raeya tersenyum manis. Akupun senyum pada Raeya.

“Woi. Lihatin Raeya ya? Sampai aku lewat aja kamu tidak sadar.” Kata Jungshin.

“Ah. Kamu sudah di sini rupanya.” Aku baru sadar Jungshin sudah kembali.

“Ayo kita balik ke kelas.”

 

***

 

Seminggu kemudian, aku menjadi MC di acara kampus.

“Gimana teman-teman? Udah tidak sabar lihat penampilan dance dari Girl Club kan?? Sekarang udah waktunya untuk Girl Club menampilkan aksinya.” Kataku semangat. Kemudian Girl Club naik ke panggung. Mataku langsung tertuju pada Raeya. Raeya dan kawan-kawan mulai dance ketika musik bermain. Setelah musik berhenti, Raeya dan kawan-kawan membungkuk 90 derajat.

Di belakang panggung, Raeya mengelap keringatnya. Aku mencoba mendekati Raeya dengan memberikan minum.

“Dance kamu keren banget.”  Pujiku tulus. Tampak Raeya sedikit terkejut, namun ia menerima minuman dariku.

“Makasih. Kamu Minhyuk kan?” tanya Raeya.

“Iya. Em..” aku menggantung ucapannya.

“Ada apa?”

“Jangan marah ya? Aku boleh minta nomor HP mu? Tapi kalau tidak boleh ya tidak apa-apa.”

“Boleh kok.” Raeya memberi nomornya padaku.

“Makasih.”

 

***

 

Semenjak bertukar nomor HP, hubunganku dan Raeya menjadi lebih dekat. Saat ini kami berdua sedang makan bersama di kantin.

“Kalau makan bareng gini, tidak ada yang marah kah?” tanyaku hati-hati.

“Tidak ada. Aku tidak punya pacar.” Kata Raeya.

“Masak sih? Cantik gini kok tidak punya pacar?”

“Aku masih belum bisa lupain mantan pacarku.” Wajah Raeya terlihat menjadi sedih.

“Oh gitu ya. Maaf, aku tidak ada maksud membuatmu sedih.”

“Habis ini kamu ada kelas tidak?”

“Tidak ada.”

“Pergi ke karaoke yuk!”

“Ayo.”

 

***

 

Sudah 6 bulan aku dan Raeya berteman dekat hingga suatu hari aku mengajak Raeya ke sebuah restoran. Aku menutup mata Raeya dan menuntunnya ke tempat duduk mereka. Saat kami sudah duduk di tempat kami, Aku melepaskan penutup mata Raeya. Kami duduk di dekat jendela dengan lilin indah di atas meja mereka. Suasana sekitar sangat hening dan tidak terlihat ada pengunjung lainnya.

“Kok sepi banget di sini?” tanya Raeya bingung.

“Aku menyewa tempat ini untuk makan malam kita berdua” kataku dengan tersenyum.

“Minhyuk-ah, buat apa kamu sampai menyewa tempat untuk makan malam?”

“Karena aku hanya ingin berdua denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Ada apa? Kok sepertinya serius banget.”

Aku berdiri dan berlutut pada Raeya sambil memegang tangan Raeya. Raeya terlihat sangat bingung. “Saranghaeyo Raeya. Do you want to be my girlfriend?” kataku menatap dalam mata Raeya.

 

~

Raeya’s POV

“Saranghaeyo Raeya. Do you want to be my girlfriend?” kata Minhyuk yang membuatku sedikit kaget.

“Minhyuk-ah. Maafkan aku.” aku melepas tangan Minhyuk. “Aku tidak bisa jadi pacarmu. Tapi aku berharap kita bisa tetap berteman. Sekarang kau berdirilah.” Minhyuk tetap berlutut tanpa mendengarkan kata-kataku.

“Apakah kau masih mencintai mantan pacarmu? Sebenarnya siapa laki-laki itu sehingga kau tidak bisa melupakannya? Aku kira selama ini saat kau bersamaku, kau bisa melupakannya. Ternyata kau masih mengharapkannya.”

“Aku akan menjelaskan jika kau kembali duduk.” Akhirnya Minhyuk menurut. Minhyuk pun kembali duduk di tempatnya.

“Laki-laki itu adalah Lee Dae Joon. Kami pacaran saat kelas 1 SMA hingga kami lulus SMA. Sekarang dia sedang kuliah di Amerika. Karena itu dia memutuskanku tapi dia bilang setelah ia lulus kuliah, Ia akan kembali padaku. Hingga saat ini aku masih menunggunya.”

“Apakah kau tetap berkomunikasi dengannya?”

“Pada awalnya, dia sering menghubungiku. Namun lama kelamaan, Ia tak pernah membalas emailku. Hampir setiap hari aku mengirim email. Mungkin dia sibuk, jadi Ia tak sempat membalasnya.”

“Oh begitu.” Minhyuk terlihat sangat kecewa. Minhyuk menepukkan tangannya. Seorang pelayan memberikan daftar menu pada kami. Selama menunggu pesanan datang, kami berdua diam seribu bahasa. Minhyuk tampak melihatku dengan tatapan kecewa dan aku mengalihkan pandangan dengan bermain tisu yang berada di atas meja. Makanan pun datang dan kami tetap diam tanpa kata.

 

~

Minhyuk’s POV

Semenjak dari Restoran waktu itu, Raeya mulai menjauhiku tanpa alasan jelas. Di SMS dan telepon, Raeya menjadi lebih dingin kepadaku. Hingga suatu hari, aku menghampiri Raeya yang sedang membaca buku di perpustakaan kampus.

“Raeya..” sapaku.

“Ah Minhyuk-ah..” kata Raeya menoleh padaku.

“Apa kau marah padaku?? Apa aku ada salah yang membuatmu menjauh dariku? Kau sangat berbeda sekarang.” Aku duduk di depan Raeya.

“Aku tidak marah padamu dan kau tidak punya salah. Hanya saja saat ini aku sedang banyak pikiran. Jadi aku ingin sendiri. Apa kau tidak keberatan jika tidak menghubungi untuk beberapa hari ini?”

“Jika itu maumu akan aku lakukan. Aku akan ada untukmu jika kau butuh diriku.”

 

Aku dan Raeya tidak saling berkomunikasi dalam waktu yang cukup lama. Perasaanku sangat kecewa, marah, sedih bercampur jadi satu. Hingga aku mulai belajar melupakan Raeya. Ketika kami berpapasan di kampus, kami tidak saling sapa walaupun mata kami bertemu. Aku berusaha tidak melihat Raeya namun entah mengapa matanya ingin sekali melihat Raeya.

 

***

 

“Minhyuk-ah, Are you okay?? Semakin hari kau terlihat lebih kurus. Kau harus menjaga kesehatanmu.” Kata Yonghwa hyung.

“Aku tidak apa-apa hyung.” Kataku.

“Temanku ada yang ingin bertemu denganmu. Ini fotonya. Apakah kau ingin menemuinya?” Yonghwa hyung melihatkan foto seorang gadis berambut pendek namun terlihat cute dengan wajah baby face nya.

“Dia cute. Ingin bertemu dimana hyung?”

“Di kafe dekat sini. Namanya Jang Geu In. Ini nomor HP nya.” Yonghwa hyung memberitahu nomor HP Geu In.

 

Jam 7 malam, aku bertemu dengan Geu In. Geu in terlihat lebih cute daripada di foto. Saat sedang berbicara dengan Geu In, mataku melihat sosok Raeya yang sedang melihat luar jendela sendirian. Kemudian Raeya menoleh padaku. Aku berniat memegang tangan Geu In yang sedang memegang gelas untuk membuat Raeya cemburu. Namun ternyata Raeya hanya menatap dengan tatapan datar. Geu In tersenyum saat tangannya aku genggam. Akhirnya aku melepaskan genggamanku saat Raeya bergegas pergi dari tempat duduknya. Aku menatap kepergian Raeya seperti saat awal mereka bertemu.

 

***

 

“Bagaimana kemarin dengan Geu In?” tanya Yonghwa hyung.

“Geu In orang menyenangkan. Tapi hyung, kemarin aku bertemu dengan Raeya.” Kataku.

“Kau masih belum bisa melupakan Raeya??”

“Entahlah hyung. Raeya orang yang spesial dalam hidupku. Ini pertama kalinya aku mencintai orang selain pada keluargaku. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Senyumnya mengingatkan akan seseorang tapi aku lupa siapa orang itu.”

“Cobalah kau membuka hatimu buat orang lain yang menyukaimu. Banyak wanita yang mengejarmu. Raeya masih mencintai mantannya. Kau tidak bisa memaksa Raeya untuk mencintaimu. Terlalu banyak kenangan Raeya bersama mantannya. Kau dan Raeya masih baru berteman jadi mungkin kenanganmu bersamanya tidak bisa menandingi kenangannya bersama mantannya.”

“Iya hyung. Aku akan mencoba membuka hatiku untuk orang lain.”

 

Ting tong. Aku membukakan pintu dan ternyata Geu In yang datang. Geu In mengajakku menonton bioskop. Aku pun mau dan aku ingin membuka hati untuk Geu In dan belajar hidup tanpa Raeya. Yonghwa hyung berkata bahwa Geu In sangat menyukaiku sejak aku debut.

 

***

 

Beberapa hari kemudian…

“Hyung, Aku ingin membuat video saat aku bernyanyi lagu Still in Love. Maukah kau mengiriku dengan gitarmu?” tanyaku

“Aku mau. Tapi untuk apa kau membuat video?” tanya Yonghwa hyung. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya.

 

Stabirabi rapststabira
Stabirabi rapststabira
You’re my love
— Kau cintaku

 

gin bameul jam mot irunda
keurinda tto nan nan nan nan
oneuldo nunmul chama bonda
hansum swieobonda
You’re my love
— Ku tak bisa tidur di malam yang panjang ini
Aku menggambarmu
— Hari ini pun ku masih hapus air matamu kembali
— Ku menghela nafas
— Kaulah cintaku

 

Stabirabi rapststabira
Love you love you love you my love
Stabirabi rapststabira
I want your love
— Mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu cintaku
— Ku ingin cintamu

 

apeun sarang aa, sal bein deut nan apeuda
jameuryo aesseobwado sori eobsi tto apa onda
sseurin sarang aa, dogeul samkin deut sseurida
useuryo aesseobwado aryeonagae sseryeo onda nan
— Cintaku yang menyakitkan, aku terluka seolah ku iris kulitku
— Ku coba tuk memegangnya tapi tak berbunyi, ini menyakitkan
— Cintaku yang sakit, rasanya pahit seolah aku menelan racun
— Ku coba tuk tersenyum tapi aku sedikit sakit

 

oneuldo achimeul bonda

geurinda tto nan nan nan nan
miryeoni dashi milyeo onda
ajik saranghanda
You’re my love
— Hari ini, masih kembali ku lihat pagi
Aku menggambarmu lagi
— Kasih sayang tetap hidup mendorongku lagi
— Ku masih mencintaimu
— Kaulah cintaku

 

Stabirabi rapststabira
Love you love you love you my love
Stabirabi rapststabira
I want your love
— Mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu cintaku
— Ku ingin cintamu

apeun sarang aa, sal bein deut nan apeuda
chameuryo aesseobwado sori eobsi tto apa onda
sseurin sarang aa, dogeul samkin deut sseurida
useuryo aesseobwado aryeonagae sseryeo onda nan
— Cintaku yang menyakitkan, aku terluka seolah ku iris kulitku
— Ku coba tuk memegangnya tapi tak berbunyi, ini menyakitkan
— Cintaku yang sakit, rasanya pahit seolah aku menelan racun
— Ku coba tuk tersenyum tapi aku sedikit sakit

 

nappeun sarang aa, bulleodu daedabdo eobta (daedabdo eobseo)
jabeuryeo aewonhaedo naengjeonhage doraseonda (doraseonda)
nappeun sarang aa, yeonggicheoreom ttonaganda (ttonaganeun neo)
son ppeodeo jababwado eoneusae neon ttonaganda nal
— Cintaku yang buruk, ku memanggilmu tapi tak ada jawaban (tak ada jawaban)
— Ku mohon tuk memegangmu tapi kau dengan dingin malah berbalik (berbalik)
— Cintaku yang jahat, kau meninggalkanku seperti asap (kau meninggalkanku)
— Aku ulurkan tanganku tuk menggapaimu tapi pada halnya kau telah meninggalkanku

 

Setelah aku membuat video, segera aku mengupload nya ke Youtube dan mengirim link nya kepada Raeya melalui SMS.

 

~

 

Raeya’s POV

Ketika aku sedang duduk termenung di kamar, ada SMS masuk mengagetkanku. Ternyata SMS dari Minhyuk. Ia memberiku sebuah link dan aku membukanya. Terlihat ada ia dan Yonghwa Oppa yang membawa gitar. Minhyuk mulai berbicara di video itu.

“Annyeong Raeya, Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untukmu. Yang juga mewakili perasaanku padamu. Aku harap kau mau melihatnya sampai habis.”

Minhyuk mulai bernyanyi. Suaranya sangat halus dan merdu. Aku sangat menyukai suaranya. Setelah bernyanyi, Minhyuk mulai berkata lagi.

“Raeya, aku tahu kau masih mencintai mantanmu. Tapi aku ingin bersamamu. Aku tahu aku sangat egois. Aku harap aku bisa bersamamu selamanya.”

 

~

 

Minhyuk’s POV

Ketika aku sedang lewat taman, aku melihat Raeya duduk sendirian. Aku menghampirinya.

“Apakah kau sudah melihat videoku?” tanyaku yang mampu membuatnya sedikit terkejut.

“Ah. Aku sudah melihatnya. Suaramu sungguh indah.” Puji Raeya.

“Terima kasih. Tapi tunggu, kenapa matamu sembab?”

“Kemarin, Dae Joon kembali dan ia ke rumahku. Dia berkata dia akan menikah dengan gadis Amerika segera. Dia meminta maaf padaku karena tidak bisa menepati janjinya yang dulu.”

“Benarkah begitu? Mengapa ia menyia-nyiakan gadis secantik dirimu?”

“Biarkanlah. Tapi aku berterima kasih padamu karena aku sedikit terhibur dengan videomu.”

 

~

 

Raeya’s POV

Setelah pertemuanku dengan Dae Joon, aku mulai membuka hati untuk Minhyuk. Selama ini Minhyuk sudah baik padaku. Kebaikannya mampu membuatku jatuh cinta padanya.

Aku menunggu Minhyuk di depan kelasnya. Satu per satu orang keluar dari kelas, tapi Minhyuk tak kunjung keluar dari kelas. Sehingga membuatku melihat ke dalam kelas. Minhyuk sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Minhyuk-ah.” Sapaku.

“Hai.” Sapanya sambil tersenyum manis.

“Apakah aku terlambat untuk menjadi pacarmu?”

“Tidak kok. Hah? Apa? Jadi pacarku? Apa kau serius?” Minhyuk tampak tidak percaya.

“Aku serius. Apa masih ada kesempatanku menjadi pacarmu?”

“Ada sekali. Jadi mulai sekarang kita pacaran?”

 

~

 

Minhyuk’s POV

“Ada sekali. Jadi mulai sekarang kita pacaran?” kataku mencoba meyakinkan Raeya kembali

“Iya” Raeya mengangguk.

“Akhirnya aku bisa memilikimu”

 

Aku tidak pernah menyangka jika akhirnya aku bisa bersama Raeya. Aku berjanji akan selalu melindungi dan menyayangi Raeya. Aku takkan menyakiti Raeya. Karena Raeya adalah orang yang benar-benar spesial dalam hidupku.

“Raeya, aku baru sadar ada gantungan kunci di tasmu. Darimana kau mendapatkan gantungan kunci itu?” tanyaku ingin tahu.

“Aku mendapat ini dari seseorang. Ketika aku kecil, aku pernah tersesat dan aku menangis kencang. Aku bertemu anak lelaki yang seumuran denganku. Dalam waktu berjam-jam, ia menemaniku bermain hingga ibuku menemukanku. Anak lelaki itu memberikanku ini dan ia berkata aku harap kau akan selalu mengingatku dan kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti.” Kata Raeya sambil menunjukkan gantungan kunci.

“Lihat gantungan ini. Gantungan itu sama dengan punyaku. Aku ingat aku pernah memberi ini pada seorang gadis yang menangis. Aku tidak menyangka jika gadis kecil itu adalah kau Raeya.” Aku menunjukkan gantunganku yang aku taruh di dalam tasku. Gantungan milikku bewarna biru dan milik Raeya bewarna kuning.

“Waaa. Sungguh kebetulan sekali. Jadi kita sudah pernah bertemu sebelumnya.”

 

Minhyuk baru menyadari jika senyuman Raeya masih sama dengan senyuman Raeya kecil saat itu.

 

~

 

Author’s POV

Flashback

Raeya kecil menangis sangat kencang hingga ada Minhyuk kecil menghampirinya.

“Mengapa kau menangis?” tanya Minhyuk kecil.

“Aku terpisah dengan ibuku.” Jawab Raeya kecil masih terisak.

“Tunggu saja. Nanti pasti ibumu akan datang. Aku akan menemanimu.” Raeya berhenti menangis. Mereka berdua bermain bersama hingga sore menjelang. Tiba-tiba Ibu Raeya menemukan Raeya kecil. Mereka berpelukan. Minhyuk kecil hanya tersenyum memandang mereka.

“Aku harus pulang sekarang. Terima kasih kau sudah menemaniku.” Kata Raeya kecil.

“Iya. Ini untukmu.” Kata Minhyuk kecil sambil memberi gantungan kunci kuning kepada Raeya kecil. “Aku harap kau akan selalu mengingatku dan kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti”

“Sekali lagi terima kasih. Aku pun berharap begitu” kata Raeya kecil sambil tersenyum manis.

Minhyuk kecil terus melihat kepergian Raeya kecil dan ibunya.

 

~THE END~

One thought on “[FF CONTEST] Still In Love

  1. Wah.. Jalan ceritanya tidak terduga.. dan manis banget ceritanya… Mungkin kalau bahasanya lebih formal lagi, akan lebih nge-feel.. Tapi bagus thor aku suka ceritanya.. Semoga menang ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s