[FF CONTEST] TEARDROP IN THE RAIN

Title:

“TEARDROP IN THE RAIN”

 

 

Even if the sun is shining over me, how come I still freeze…”

Tetes demi tetes air hujan melukiskan bintik-bintik bulatan air di jendela. Angin dingin menusuk bertiup melalui celah ventilasi, menggerakan gorden tipis yang seharusnya menutupi kaca jendela itu terbuka. Di balik gorden yang tertiup, kaca itu berembun. Membuat semua pemandangan yang ada di luar sana suram, buram. Minhyuk menghampiri jendela dan mengelap embun yang menutupi lukisan dimensi nyata halaman rumahnya dengan telapak tangan. Dia belum datang. Minhyuk semakin menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang ia pakai guna menghindari dingin. Matanya sendu, begitu pula hatinya. Tubuhnya lemas seperti raganya akan dibawa menghilang, menunggu membuatnya lelah. Batinnya terus memanggil dan menjerit, Jinha, hanya nama itu,”Kau di mana?” batinnya. Dua kata itu belum cukup, atau lebih dari kurang untuk mendeskripsikan perasaan dan kecamuk di pikiran juga dadanya.

Semua menghilang hanya oleh ketukan di pintu kayu minimalis rumahnya. Ia yakin, sangat yakin. Bibirnya membentuk lengkungan indah yang manis, membuat wajah pucatnya kembali berwarna dan bersinar cerah. Dibukakanya pintu itu, senyumnya semakin sumringah penuh kebahagiaan ketika mengetahui figur indah di depannya saat ini,”Jinha!” sambut Minhyuk ketika Jinha memeluknya, cepat dan erat. Hangat tubuh Jinha merambat ke tubuh Minhyuk, hangatnya berbeda. Tidak sehangat selimut setebal apapun yang pernah Minhyuk pakai, tidak sehangat penghangat apapun yang pernah ada di rumahnya, tidak sehangat uap panas dari minuman apapun, bahkan Minhyuk merasa Jinha lebih hangat dari mentari. Beda, bintang besar itu mentari seluruh permukaan bumi dan semua yang ada di atasnya. Jinha adalah mutlak matahari Minhyuk, hanya untuknya, dan hanya menyinari dirinya. Hanya mendengar suara atau melihat wajah Jinha, beragam kehangatan mengalir. Jinha memiliki pancaran berbeda.

Di sofa nyaman itu mereka berdua. Berdua menikmati secangkir minuman kopi hangat. Jinha mendekatkan cangkirnya ke pipi Minhyuk yang sangat dingin ketika ia sentuh,

“Hangat, tidak?”

“Itu terlalu panas.” Minhyuk meringis diiringi tawa lembut Jinha. Jinha menyeruput kopinya serraya berkata,”Maaf, tadi aku terlambat, kau tahu aku sekarang mengajar tiga kelas dalam sehari.” Minhyuk memakluminya. Jinha memang seorang guru taman kanak-kanak yang sangat digemari dna bertanggung jawab di tempat kerjanya. Minhyuk tahu itu dan ia sangat memahami semua.

Minhyuk menggenggam tangan Jinha, cukup erat, menarik perhatian Jinha yang sedang menahan dingin di sekeliling dirinya,”Ya?” Minhyuk menatap matanya. Mata hangat, berbinar, dan terlukis Tuhan dengan sempurna,”Esok, kau akan datang, kan?”

“Aku akan datang. Selalu datang. Pasti datang.” jawabnya, menampilkan senyuman di bibir tipisnya. Senyuman indah yang tercipta dari bibir yang menawan.

~~~

            Air mata awan-awan kelabu yang saling berkumpul kembali turun membasahi permukaan bumi. Kali ini lebat, sangat lebat. Gemuruh petir saling bersahutan, entah mereka menyapa satu sama lain atau beradu mulut. Kilat menyambar bak membelah langit kelam itu. Semua hal yang terjadi sama dengan apa yang sedang berada di lubuk hati Minhyuk. Hatinya bergetar, berkecamuk di dalamnya, menunggu kepastian. Jinha belum datang, akankah mungkin terlambat lagi. Mengingat semenjak terakhir kali mereka bertemu, sejak Jinha berjanji akan datang esok dan akan selalu datang, Jinha belum kembali. Jinha belum bisa menyempatkan dirinya untuk datang menyinari ruang hati Minhyuk yan kini lembap dan dingin. Pertemuan itu beberapa hari yang lalu. Beberapa, lebih dari satu hari. Atau mungkin beberapa minggu, lebih dari satu minggu yang lalu. Diri dan hatinya sudah terlanjur membeku kaku.

Jinha akhirnya datang, berdiri di depan teras rumah Minhyuk. Ia masih terlihat menawan di bawah payungnya. Jinha, mentari yang hanya untuk Minhyuk, kini berdiri di hadapannya. Matahari itu berusaha memancarkan segala yang dimilikinya. Berusaha menyinari, memberi kehangatan dari mata itu, senyum itu dan wajah itu. Minhyuk tetap membeku, dingin masih menyelimuti dirinya. Biasanya ia pasti akan memeluk Jinha, mengalirkan kehangatan untuk dirinya,”Berapa kelas yang kau ajar akhir-akhir ini?” pertanyaan itu keluar dari mulut Minhyuk. Entah sengaja, atau secara tiba-tiba keluar begitu saja.

~~~

…just like we used to be,

Dua pasang mata saling berhadapan. Menatap lurus satu sama lain. Kedua pasang bola mata itu saling bergetar. Minhyuk yang sudah lelah menahan semua akhirnya membuka mulut,”Jadi kau kemana saja?” “Bekerja.” jawab Jinha, singkat,”Aku tidak yakin.” ucapan Minhyuk membuat lingkaran hitam mata Jinha tidak fokus. Berusaha berlari, mengalihkan perhatiannya menuju objek lain. Sayang, usahanya gagal, suara Minhyuk membuatnya kembali,”Jinha, lihat aku, lihat mataku!” Minhyuk memerintahkan Jinha untuk mengikuti instruksinya. Jinha akhirnya mencoba memberanikan diri,”Apa?”

“Seharusnya aku yang bertanya, ada apa?” mendengar kalimat Minhyuk, Jinha menggigit bibirnya tanpa sadar. Ia tampak mengerti apa yang dimaksud, seakan ada yang tersembunyi,”Tidak bisakah kau menyisakan waktu sedikit di sela-sela jam kerjamu?”

“Itu menyiksaku, tidak mungkin. Kau terlalu memaksa, itu mengekangku. Aku punya waktuku sendiri.”

“Aku mengerti. Tapi, lebih baik kau datang hanya satu menit daripada tidak sama sekali – “ ucapan Minhyuk terpotong oleh Jinha,”Sudah kubilang aku pu – “ “Jinha, kita akan segera bertunangan, kan? Hubungan kita semakin terikat dan dewasa.” kalimat itu membuat seluruh tubuh dan saraf Jinha bergetar kuat. Itu terlihat oleh Minhyuk. Jinha menarik napas dalam, berulang-ulang,

“Tidak bisakan kita seperti dulu? Kau yang pertama kali berinisiatif untuk selalu datang. Kau, bukan aku. Saat itu, ketukan yang kau buat di pintu adalah kejutan untukku. Aku sangat bahagia. Sejak itu, kau selalu datang dan melarangku untuk menjemputmu.” ujar Minhyuk. Cukup panjang karena menjelaskan masa lalu. Masa-masa ketika ikatan tali hubungan Jinha dan dirinya masih sangat erat, seakan diikat mati dan tidak akan pernah terlepas. Jinha berusaha menepis semua. Tapi kembali sayang, ia gagal lagi.

Mereka saling diam untuk beberapa lama. Beberapa detik, semakin lama menjadi menit, semakin lama menjadi jam. Suasana semakin dingin, tetapi keduanya saling menolak kedinginan itu. Minhyuk mencoba menghadapi wajah Jinha yang ada di seberang meja. Jinha semakin bergetar, menahan tangis, dan amarah,

“Jinha, adakah yang kau sembunyikan?”

“Tidak! Tidak ada!”

“Lalu?” Minhyuk semakin menemukan hal-hal mencurigakan yang muncul pada tingkah laku Jinha sejak awal. Minhyuk hanya berharap bisa kembali ke masa lalu. Masa-masa awal. Saat itu, ia inginkan saat itu.

~~~

“…Even if my heart is still beating just for you, I already known you are not feeling like I do,”

Kata itu. Kata yang paling Minhyuk takuti. Ia tidak pernah berharap untuk mendengar kata itu. Ia tidak ingin Jinha kembali mengulang kata itu. Bahkan ia tidak mengerti mimpi buruk apa yang ia dapat tadi malam. Batinnya terus menjerit, berharap janganlah Jinha berkata itu lagi. Tetapi, doanya belum didengar,

“Mungkin kita memang sudah harus berpisah. Ya, berpisah.” Minhyuk tidak menghitung kembali jumlah benda tajam yang menusuk sukses di sekujur tubuhnya. Bahkan di dalam tubuhnya. Tidak terhitung dan semuanya menyakitkan.

Minhyuk mengakui dan tau dirinya bodoh, sangat bodoh. Kata-kata yang seharusnya tidak keluar itu malah terbebas dari pertahanan mulutnya. Pita suaranya tetap memaksa. Seakan sudah bekerja sama dengan hatinya yang tersakiti,”Ya, baiklah, memang sudah seharusnya berakhir.” tiba-tiba suaranya menjadi kuat, lepas, dan lantang. Bagai terbebas dari beban yang sudah menimpanya. Minhyuk tahu, ia menemukan apa yang Jinha sembunyikan. Jinha tidak mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang Minhyuk punya selama ini. Hati Jinha tidak ada untuknya lagi. Entah apa yang ada di dalam batin Jinha. Sekalipun, hati Minhyuk tetap untuk Jinha, berdetak selama mungkin untuk Jinha. Hanya Jinha,

“Asal kau tahu, aku tidak berarti tanpamu. Aku tau arah jalan hidupku.” Minhyuk sadar dirinya berada di ambang kelabilan. Ia sudah mengatakan kalimat yang akan ia sesali dan baru saja ia mengucapkan rangkaian harapan yang tidak langsung terjabar.

Jinha kembali menarik napas dalam, mengambil tas dan payungnya yang ada di atas meja, lalu berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu seraya berbalik memutar tubuhnya, menatap punggung Minhyuk,”Terima kasih, untuk semua.” ditutupnya pintu itu melambangkan berakhirnya hubungan di antara mereka berdua, Minhyuk dan Jinha.  Minhyuk menjambaki rambutnya dan mengimpit kepala di antara kedua tangannya. Sebuah pertanyaan muncul di kepalanya dan terus berputar mengelilingi ubun-ubun,”Haruskah, haruskah berakhir seperti ini?”

~~~

            Lapangan itu memang terlalu luas untuk anak-anak kecil murid taman kana-kanak. Minhyuk duduk di salah satu kursi panjang di pinggiran lapangan luas, besar, tetapi sedikit berdebu. Cukup berbahaya bagi anak-anak ia pikir. Kini, ia berada di lapangan taman kanak-kanak di mana Jinha bekerja sebagai guru. Bukan karena Jinha ia kemari, bahkan bukan untuk menguntit atau berharap kembali. Kedua kaki panjangnya yang membawa Minhyuk kesini. Ia tidak sadar. Ketika ia mengangkat kepalanya, tempat ini yang dilihat. Bangunan disana, di dalamnya pasti ada Jinha yang sedang bersenang-senang dengan anak-anak kecil.

Matahari tidak begitu terik siang ini. Awan-awan yang berenang-renang di langit hanya melewati mentari yang sedang lemas cahayanya sekali-kali. Belum jam istirahat, lapangan masih sangat sepi. Mungkin jika waktunya dan anak-anak itu bermain bola, Minhyuk akan kena imbas tamparan benda bulat dan keras berwarna belang itu. Minhyuk menghela napas dalam dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi panjang berwarna hijau tempat ia duduk. Melepas segala penat dan memori tentang Jinha. Memori-memori indah yang kini berubah menjadi menyakitkan. Minhyuk sendiri tidak tahu akankah ia bisa melupakan Jinha di tempat ini.

Seorang laki-laki kira-kira berusia dua tahun lebih tua dari Minhyuk duduk di sisi lain kursi tersebut. Laki-laki itu memakai kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam. Jas hitam yang di pakainya tidak rapi, tetapi jam di pergelangan berurat biru menonjol di tangan laki-laki itu menunjukkan jiwa intelektual dirinya. Dengan ramah, Minhyuk menyapa duluan,”Tuan, sedang apa?”

“Ah, ya, saya sedang menunggu anak saya keluar ketika jam istirahat nanti.”

“Menjemput? Ketika istirahat?”

“Iya, ada keperluan lain.”

“Hanya berdua?” Minhyuk kembali bertanya,”Tidak, dengan calon ibunya juga.” mendengar perkataan laki-laki yang tidak dikenalnya membuatnya penasaran. Calon ibu, dan dia sudah punya anak, juga di mana wanita itu? Laki-laki itu menjelaskan secara terbuka,”Aku mengadopsi anak sejak sebelum menjalin hubungan dengan perempuan yang bekerja sebagai guru di sini. Ketika mengetahui bahwa perempuan yang bersama ayah yang mengadopsinya adalah gurunya, anak itu sangat bersemangat dan selalu berharap kelak perempuan cantik itu menjadi ibunya.” mendengar cerita itu, Minhyuk tersenyum. Cerita itu lucu menurut Minhyuk. Perempuan yang disebut-sebut oleh laki-laki ini tidak jauh lagi pasti rekan kerja Jinha.

Laki-laki itu terus menceritakan kehidupan dirinya, perempuan yang diklaim sebagai kekasihnya atau calon ibu dari anak adopsinya, dan si anak itu sendiri. Semua ceritanya sangat menarik dan Minhyuk tidak pernah mendengar deskripsi perempuan itu sebelumnya dari Jinha. Jinha tidak pernah bercerita tentang rekan-rekan kerjanya sebagai guru.

Suara bel nyaring terdengar membelah suasana sepi lapangan juga memutus kata-kata laki-laki asing menarik di hadapan Minhyuk. Laki-laki itu segera bangkit dan berjalan menuju bangunan yang berdiri gagah dengan warna-warni berbagai spektrum warna menghiasi kulit bangunan tersebut. Ketika seorang anak perempuan beransel merah jambu menyilaukan berlari kecil ke arahnya, laki-laki tersebut langsung membungkuk dan menggendong anak itu. Dari kejauhan, terlihat juga seorang perempuan berjalan menghampiri mereka berdua. Perempuan itu Jinha. Kemunculan Jinha mengubah senyuman Minhyuk terhadap kebahagiaan laki-laki asing dengan anaknya berubah menjadi garis datar yang terlukis di bibirnya.

Semua terungkap. Jinha memang menyembunyikan sesuatu. Kini terungkap semua alasan mengapa Jinha sering terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali untuk menghabiskan waktu bersamanya. Minhyuk tidak mengerti kenapa jalannya harus seperti ini. Dari kejauhan, mereka bertiga terlihat sangat bahagia. Kebahagiaan mereka seakan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata apapun. Senyum itu, senyum Jinha. Minhyuk lupa kapan terakhir kali ia melihatnya. Jujur saja. Ia juga lupa kapan terakhir kali Jinha sebegitu bahagia ketika bersamanya.

Laki-laki tadi masih menoleh ke arah Minhyuk bahkan melambaikan tangannya. Minhyuk membalas lambaian itu dan seketika berhenti ketika tatapan dingin juga canggung Jinha terarah padanya. Jinha terlihat berusaha berbalik badan, tetapi laki-laki itu menariknya mendekati Minhyuk yang masih duduk di kursi panjang pinggir lapangan,

“Hai, kenalkan, ini perempuan yang tadi aku ceritakan, Jinha.” ujar si laki-laki asing. Minhyuk dan Jinha saling berjabat tangan, tidak ada rasa canggung, tidak ada cerita sebelum ini di antara mereka, tidak ada yang terjadinya. Senyum mereka seperti ketika pertemuan pertama dengan orang yang belum dikenal,

“Dan, ini anakku, Hanyong.” anak itu tersenyum lucu dan imut pada Minhyuk. Laki-laki itu menepuk keningnya,”Bodoh sekali aku, kita belum saling berkenalan dari tadi, haha.” ia menyodorkan tangan kanannya lalu menjabat tangan Minhyuk,”Aku Yonghwa.” “Aku Minhyuk, senang saling bertemu.”

“Ya, semoga bertemu lagi suatu saat. Hari yang menyenangkan, aku pergi dulu.” laki-laki berjalan mundur, melambai, lalu berputar memunggungi Minhyuk. Begitupun Jinha, tetapi ia masih sempat menoleh ke belakang.

~~~

            Minhyuk terus membatu berdiri di depan gerbang rumahnya. Ia membiarkan gumpalan awan kelabu memayungi dirinya. Ia menunduk lemah, sengaja tidak masuk ke dalam istananya. Air matanya menetes ketika mengedipkan mata. Tidak seharusnya laki-laki seperti ini. Air matanya kembali menetes diiringi rintikan hujan yang semakin lama semakin deras. Terus begitu, hingga sangat deras. Keduanya bercampur di atas kulit wajahnya, air mata dan air hujan. Tubuhnya bergetar, bibirnya bergetar, tangannya yang terkepal juga ikut bergetar hebat. Menahan segala emosi yang ada, di bawah fenomena alam ini. Di bawah hujan ini.

Semua yang tadi terjadi tiba-tiba menjadi sebuah visualisasi yang terus berputar di pikiran dan otak Minhyuk. Minhyuk tidak tahu kenapa ia harus berakhir dengan Jinha. Tetapi Jinha tidak memiliki perasaan yang sama. Mereka bertiga tadi sangat bahagia. Semua telah terungkap jelas, nyata.

No one ever sees, no one feels the pain, I shed teardrop in the rain…” 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s