Black Flower [Chapter 8]

black flower 2

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Cho Kyuhyun Super Junior

Choi Minho SHINee

Shim Changmin DBSK

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Krystal Jung f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Tiffany Hwang SNSD

Suzy Bae (Miss A)

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo

Satu lagi, ini cuma fiksi. Jadi kalo ada yang ga suka sama character atau ada yang ngerasa biasnya ‘dinistakan’ disini, anggep aja itu orang lain. No bashing, okay?😉

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gangnam, Seoul

10.45 AM

-Author’s POV-

Sooyoung berdiri terpaku. Dipandanginya pintu kayu besar dihadapannya lurus-lurus. Setelah pintu ini terbuka nantinya, maka kehidupannya akan berubah. Mungkin tidak hanya kehidupannya saja, tapi juga kehidupan semua orang yang terlibat langsung dengan kejadian kelam lima bulan yang lalu.

Sooyoung terdiam, masih menimbang-nimbang apakah keputusannya ini tepat atau tidak, dan apakah yang dilakukannya saat ini benar atau tidak. Pikirannya lalu melayang ke kejadian-kejadian di masa lalu, kejadian yang membuatnya kembali teringat pada sosok yang sempat… ah tidak, bahkan sampai saat ini sosok itu masih enggan beranjak dari hati dan pikirannya.

“Sooyoung-ssi, apa kau yakin dengan keputusanmu?” sebuah suara membuyarkan lamunan Sooyoung, “Kalau kau merasa tertekan, belum terlambat untuk membatalkan ini semua.”

Sooyoung menoleh ke samping, tempat pemilik suara tersebut berada. Tampak manajernya, Park Song Nam, orang yang selama ini telah setia bekerja untuknya dan telah berjasa mengatur semua jadwal kegiatannya di dunia hiburan, berdiri dengan menggosok-gosok punggung tangannya dengan jari-jari tangannya yang lain. Sooyoung menatap bola mata coklat milik wanita itu lekat-lekat. Terlihat jelas gurat kecemasan disana.

Gadis itu kemudian teringat percakapannya dengan dokter Kang Minhyuk tiga hari yang lalu.

“Kau… tampak tidak terkejut…” ujar Sooyoung begitu selesai bercerita mengenai mimpinya, mimpi yang berasal dari ingatan masa lalu. Sedari tadi Minhyuk memang mendengarkan cerita dengan seksama dan sesekali bergumam, tapi laki-laki itu tidak sekalipun menunjukkan ekspresi terkejut.

“Kalaupun aku terkejut, aku tidak akan menunjukkannya didepanmu.” Jelas Minhyuk.

Dahi Sooyoung mengernyit, “Kenapa?”

“Selagi kau bercerita tadi, aku memperhatikan setiap ekspresimu. Aku tahu itu semua tidak bohong, Sooyoung-ssi. Kau memang mengetahui kebenaran kasus itu. Kau benar-benar seorang saksi tunggal.” Jelas Minhyuk, sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sooyoung.

“Aku masih melihat jelas gurat ketakutan di wajahmu. Apa yang sebenarnya kau takutkan?” tanyanya lagi.

Sooyoung tersentak, kemudian menghela napas panjang, “Aku… takut… dengan Kyuhyun…”

“Apa kau takut menjadi incarannya? Jika dia juga mengincarmu, kau sudah dibunuhnya dari dulu.”

Sooyoung terdiam, berusaha mencerna kata-kata Minhyuk.

“Sekarang kau sudah menceritakan padaku kebenaran dari kasus itu. Terima kasih karena kau sudah mempercayaiku. Tapi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Apa… yang seharusnya kulakukan?”

“Coba pikir, Sooyoung-ssi. Kau lebih memilih untuk terus bersembunyi dan mengubur semua memori itu seorang diri, atau menceritakannya dan membiarkan kasus itu terungkap, lalu beban pikiran yang kau tanggung selama ini hilang?”

Sooyoung tertegun. Benar. Minhyuk benar. Ia tidak bisa selamanya menyimpan semua memori itu seorang diri. Memikirkannya selama lima bulan terakhir ini bahkan sudah membuatnya tenggelam dalam jurang kesedihan. Memori itu terus menggerogoti jiwa dan pikirannya hingga ia takut menghadapi dunia nyata. Ia hancur, sementara orang yang menghancurkan kekasihnya dan ikut menghancurkan dirinya juga masih berkeliaran di alam bebas, tertawa di atas penderitaannya.

“Kurasa… aku tahu apa yang akan kulakukan…” Sooyoung angkat bicara.

Minhyuk tersenyum. Akhirnya maksud kata-katanya tadi bisa tersampaikan dengan baik oleh Sooyoung.

“Coba katakan padaku, Sooyoung-ssi.”

“Akan kugelar press conference. Sudah saatnya semua orang mengetahuinya. Seperti yang kau katakan, aku yang mengetahui kebenarannya. Dan bukankah kebenaran itu harus terungkap?”

 

Sooyoung tersenyum ke arah Song Nam, senyumnya sangat lembut dan menenangkan. Ia lalu meletakkan sebelah tangannya di bahu wanita itu, menunjukkan kesungguhannya.

“Aku yakin, eonni…”

Sooyoung kembali menghadap pintu. Ia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, menyiapkan dirinya dan memantapkan hatinya untuk segala yang akan diungkapkannya hari ini. Ia tidak tahu seberapa banyak wartawan yang akan datang dan hal seperti apa yang akan ia alami setelah melakukan ini semua nantinya. Namun tekadnya sudah bulat. Ia sudah siap dengan segala resikonya.

Dengan satu gerakan Sooyoung membuka pintu besar tersebut, kemudian masuk diikuti manajernya dan beberapa orang dari agensinya, serta jaksa Lee Jonghyun, orang yang bertanggung jawab untuk menangani kasus pembunuhan Choi Siwon, yang sangat berkaitan dengan kesaksian yang akan ia sampaikan.

“Ah, itu Choi Sooyoung!”

“Benar! Itu Sooyoung!”

Sooyoung terus melangkah masuk, diiringi dengan suara riuh para wartawan yang bersahutan memanggil namanya, serta blitz kamera yang terus menghujaninya seolah tidak ingin melewatkan sedetik pun moment langka kemunculannya kembali ke hadapan publik setelah sekian lama.

Dengan mantap Sooyoung berjalan ke arah meja panjang yang sudah dilapisi taplak berwarna putih dan memposisikan dirinya duduk tepat di tengah-tengah diantara sederetan kursi yang berjajar rapi di belakangnya.

Hal pertama yang dilakukannya kepada para wartawan adalah tersenyum manis, berusaha membuat dirinya se-rileks mungkin meskipun ia menyadari dirinya sangat gugup. Gugup karena ini adalah kemunculannya kembali ke hadapan publik dan gugup karena hal yang akan ia ungkapkan.

“Mianhae, oppa… aku lemah selama lima bulan ini. Tapi jangan khawatir. Setelah ini… semuanya akan berubah kan?”

***

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

11.15 AM

-Author’s POV-

“Kau yakin hanya makan french fries?”

Minho memperhatikan makanan yang ada dihadapan Sulli. Hanya sekotak french fries berukuran medium dan cola. Padahal ini sudah masuk jam makan siang. Setelah Sulli menelepon dan memintanya untuk makan siang bersama, mereka memutuskan untuk pergi ke restoran cepat saji yang letaknya tidak jauh dari studio milik Lee Jungshin dan melihat porsi makan siang Sulli membuat dahinya berkerut.

Sulli mengangguk sambil menyuapkan beberapa potong french fries kedalam mulutnya, “Aku tidak begitu lapar.”

“Tapi kau yang mengajakku makan siang.”

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu istirahatku denganmu.” Sulli menatap Minho, “Aku kangen dengan pacarku. Apa tidak boleh?”

Minho mendengus kecil. Sudut bibirnya sedikit terangkat, “Sejak kapan kau jadi manja begini, nona Choi?”

“Sejak kita tidak jadi merayakan seratus hari hubungan kita.”

Minho terkekeh, “Astaga…” ia tidak habis pikir gadis itu sampai memikirkan hal semacam itu berlarut-larut.

“Sooyoung-ssi…”

“Sooyoung-ssi! Lalu bagaimana…”

“Nona Choi Sooyoung…”

Suara gaduh yang berasal dari televisi flat berukuran besar yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk sedikit mengusik Minho. Ia yang tidak sengaja mendengar nama orang yang terus disebut-sebut dalam televisi itu langsung menolehkan kepalanya.

“Si…siapa katanya tadi?!”

“Ah, press conference Choi Sooyoung!” seru Sulli antusias. Ia ikut menoleh ke arah yang sama dengan Minho.

“Press conference?”

Sulli mengangguk, “Eonni sudah dinyatakan sembuh total dari traumanya dan langsung memutuskan untuk menggelar konferensi pers.”

Tepat setelahnya di layar televisi muncullah wajah Sooyoung yang sedang serius menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan para wartawan. Mata Minho melebar. Ternyata pendengarannya tidak salah. Nama yang disebut-sebut tadi memang Choi Sooyoung. Dan sekarang gadis itu tampak di layar kaca, berbicara dan bertingkah normal seperti sedia kala.

“Tidak mungkin… Sooyoung…”

“Hei, oppa, kenapa kau melihatnya sampai seperti itu?” Sulli menggerak-gerakkan tangannya tepat didepan wajah Minho. Sedari tadi laki-laki itu terus menatap layar televisi tanpa berkedip.

“Kau seperti baru melihatnya pertama kali saja. Choi Sooyoung itu memang cantik, tapi dia eonni-ku.” Sulli memberikan sedikit penekanan pada kalimat terakhir. Tampaknya ia salah mengartikan pandangan Minho pada Sooyoung. Ia mengira Minho, kekasihnya, telah terpesona pada Sooyoung, kakak perempuannya.

Sulli menepuk kedua tangannya, “Ah, benar juga. Selama ini kau tidak pernah bertemu dengan Sooyoung eonni. Mungkin kapan-kapan kau harus berkunjung ke rumahku.” Gadis itu berusaha menghapus semua pikiran negatif yang berkelebat di otaknya. Rasanya mustahil jika Minho menyukai Sooyoung.

Minho tidak menanggapi. Pandangannya masih terpaku pada layar televisi. Sosok Sooyoung yang terus disorot benar-benar seperti magnet baginya. Rasanya ia sama sekali tidak percaya kondisi gadis itu mengalami kemajuan yang sangat pesat.

“Kalau sampai Sooyoung berani menggelar press conference seperti ini, itu berarti…”

“Jadi nona Choi Sooyoung, siapakah Mr.X, pelaku pembunuh Choi Siwon yang anda ceritakan ini?” tanya salah seorang wartawan.

Mendengar itu sontak tubuh Minho menegang. Ternyata benar dugaannya. Sedari tadi Sooyoung menceritakan kronologi kejadian malam itu, malam ketika Choi Siwon dibunuh.

“Orang itu adalah…” Sooyoung menghela napas panjang, “CEO KJH enterprises, Cho Kyuhyun.”

Tepat setelah Sooyoung mengucapkan kalimat tersebut, seisi ruangan konferensi pers itu semakin gaduh. Tidak hanya disana, tapi juga di restoran tempat Minho dan Sulli berada. Tampaknya banyak pengunjung yang juga penasaran dengan kesaksian Sooyoung dan turut hanyut dalam ketegangan dari tiap kata yang dilontarkan gadis itu.

Rahang Minho mengeras. Tanpa sadar tangannya terkepal erat dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Akhirnya hari yang paling ditakutinya datang juga. Gadis itu menyebutkan nama Kyuhyun dengan gamblang. Setelah ini seantero Korea akan tahu bahwa CEO perusahaan besar tewas dibunuh oleh pesaingnya sendiri. Semua orang akan memandang Kyuhyun sebagai orang jahat dan musuh nasional yang harus dijauhi.

“Oppa, ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanya Sulli setelah melihat perubahan wajah Minho. Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah dahi Minho, bermaksud untuk memeriksa suhu tubuh laki-laki itu, namun refleks Minho buru-buru menepis.

“Sulli-ah, setelah ini kau bisa kembali ke studio sendiri kan? Aku baru ingat ada urusan. Aku pergi dulu.” Tanpa banyak basa-basi Minho langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan gadis itu.

“Tapi, oppa…” kata-kata Sulli terputus begitu Minho sudah keburu pergi tanpa memberikan kesempatan padanya untuk bertanya ataupun menolak.

Sementara itu Minho terus berjalan, langkahnya tampak terburu-buru. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa paniknya dihadapan Sulli. Ini adalah keadaan genting dan yang harus dilakukannya adalah bertindak cepat.

“Sial!”

***

Seoul National University Hospital, Gangnam-gu, Seoul

12.20 PM

-Author’s POV-

Yonghwa berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit. Sebelah tangannya menjinjing sebuah tas karton berukuran sedang. Ini sudah masuk jam istirahatnya dan ia berpikir ada baiknya jika mengunjungi seseorang di tempat itu. Jika mengingat sifat orang itu, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresinya merasakan kejenuhan berdiam diri seharian di kamar rawat inapnya.

Ketika hampir mencapai pintu ruangan yang dituju, langkahnya tiba-tiba berhenti. Pintu tersebut terbuka dan dari dalamnya keluarlah seorang pria muda berjas putih panjang. Sesaat Yonghwa menyesali dirinya yang sempat menahan napas, mengira seseorang yang keluar tersebut adalah orang yang ingin ditemuinya. Jika orang itu memergokinya sengaja datang menjenguknya saat ini, maka ia yakin keadaan akan menjadi canggung. Dan ia tidak suka berada dalam keadaan seperti itu.

Pria berjas putih yang baru saja menutup pintu itu nampak sedikit terkejut dengan keberadaan Yonghwa. Ia lalu membungkuk sopan sambil tersenyum, “Annyeonghaseyo, detektif Jung.”

Yonghwa balas membungkuk, “Annyeonghaseyo, Kang uisanim.”

“Apa anda ingin menjenguk Suzy? Sayang sekali, dia tidak ada di kamarnya.” Ujar Minhyuk, pria berjas putih itu. Memang tidak perlu sampai menjadi detektif ataupun psikolog apalagi cenayang untuk mengetahui tujuan Yonghwa datang ke tempat itu sebenarnya.

“Ah, geuraeyo?” Yonghwa tampak tidak begitu terkejut. Benar dugaannya, gadis itu tidak akan betah berdiam di kamar pasiennya sepanjang hari.

“Padahal kondisi kakinya belum begitu baik. Ck, dia memang seperti itu.” Gumam Minhyuk. Yonghwa tersenyum tipis.

“Ah, kalau anda ingin menitipkan sesuatu, silakan masuk saja.” Lanjutnya setelah melihat tas jinjing yang dibawa Yonghwa. Orang awam pun tahu untuk siapa benda yang dibawa pria itu.

“Tidak, terima kasih. Aku akan mencarinya saja.” Tolak Yonghwa halus.

“Di rumah sakit sebesar ini? Gadis itu bisa berada dimanapun yang ia mau. Bahkan jika merasa kondisi kakinya sudah baikan, ia bisa saja pergi dari tempat ini.”

“Kurasa tidak akan sejauh itu, Kang uisanim.” Yonghwa tersenyum. Menganalisis bukanlah hal baru baginya, dan ia yakin analisisnya kali ini tidak akan meleset. Ada beberapa kemungkinan yang lebih masuk akal mengenai keberadaan gadis itu dan ia tinggal memilih mana yang paling mungkin.

***

“Selamat, berkat anda, nona Choi Sooyoung bisa mendapatkan keberanian untuk mengungkapkan kesaksiannya atas kasus pembunuhan itu.” Yonghwa membuka suara. Sambil mencari keberadaan Suzy, ide untuk berbincang-bincang dengan Minhyuk rasanya bukanlah ide yang buruk. Bagaimanapun juga secara tidak langsung mereka berdua ada kaitannya dengan kasus ini.

“Itu sudah menjadi tugas saya, detektif.” Ujar Minhyuk merendah, “Bagaimana? Apa sesuai dengan analisis anda?”

“Persis.” Jawab Yonghwa cepat, “Menurut bukti-bukti yang kami dapat dari tempat kejadian perkara, saya sudah menyimpulkan kronologi kejadian yang sama persis dengan yang dikatakan nona Choi Sooyoung.”

“Baguslah kalau begitu. Berarti tinggal menunggu sang pelaku ditangkap.”

“Tidak semudah itu, uisanim.”

Minhyuk mengernyit, “Maksud anda?”

“Soal Cho Kyuhyun pelakunya, kami sudah mengiranya sejak awal. Hanya saja, salah satu bukti yang kami dapatkan tidak sesuai dengan semua perkiraan itu.” Yonghwa tersenyum pahit, “Sidik jari di TKP sama sekali bukan milik Cho Kyuhyun.”

Minhyuk tercengang. Ia berusaha mencerna penuturan Yonghwa barusan, “Jadi, pelakunya bukan Cho Kyuhyun?”

“Itulah yang sedang kami pikirkan. Tadinya kami sempat berpikir seperti itu, tapi mendengar kesaksian nona Choi Sooyoung hari ini membuat kami sangsi. Tidak mungkin nona Choi Sooyoung berbohong.”

“Benar. Dan jika mendengar dari ceritanya, tidak mungkin ia salah lihat.” Minhyuk mendesah, “Ternyata ini sangat membingungkan.”

“Bagaimanapun juga kami berterima kasih pada anda. Apa yang dilakukan nona Choi Sooyoung benar-benar sangat membantu.”

Minhyuk tersenyum singkat, “Tapi tugas saya tidak selesai sampai disini saja, detektif.”

Yonghwa terdiam sejenak, “Ah, benar juga. Teror.”

Minhyuk mengangguk-angguk, “Kemungkinan nona Sooyoung diteror sangat besar, apalagi jika Cho Kyuhyun merasa itu adalah pencemaran nama baik dirinya. Walaupun saya berusaha mengembalikan kepercayaan diri nona Sooyoung, bukan tidak mungkin kondisinya bisa kembali down. Tidak ada yang tahu persis apa yang dirasakannya.”

Diam-diam Yonghwa membenarkan kata-kata Minhyuk. Entah dimanapun Kyuhyun berada saat ini, laki-laki itu pasti tahu apa yang sudah dilakukan Sooyoung. Bahkan tidak hanya laki-laki itu saja, tapi seluruh penduduk Korea karena jaksa Lee Jonghyun sudah menjelaskan garis besar hasil penyelidikan kasus tersebut. Hanya ada dua kemungkinan, pria itu tertawa atas kemenangannya mengelabui polisi, atau panik karena cepat atau lambat tempat persembunyiannya selama ini akan segera diketahui. Dan setelah saat itu tiba, maka tamatlah karir dan kedudukannya.

Mencari keberadaan Kyuhyun bukanlah perkara mudah, mengingat status pria itu sebagai CEO perusahaan besar. Dan jika perlu diingat, perusahaannya kembali bangkit menjadi perusahaan nomor satu di Korea setelah perusahaan milik Choi Siwon perlahan-lahan mengalami kemunduran setelah kematiannya. Sebagai sebuah perusahaan besar, ia pasti punya banyak jaringan yang tersebar luas di seluruh Korea. Relasi bisnis dari perusahaan yang bekerja sama dengannya juga tidak main-main jumlahnya dan bukan tidak mungkin mereka berusaha membantu ‘menyembunyikan’ Kyuhyun. Bisnis adalah hal yang rumit dan tidak bersih seperti halnya politik, menurut Yonghwa. Rasanya setelah ini ia akan cukup dibuat kesulitan untuk mencari informasi.

Yonghwa menolehkan kepalanya ke arah jendela, melihat jauh ke luar. Ia tersenyum miring begitu melihat pemandangan di depannya. Sekali lagi, ia bangga dengan kemampuan analisisnya yang jarang meleset. Di luar jendela itu tampak sebuah taman bermain yang khusus disediakan pihak rumah sakit untuk pasien anak-anak. Sesuai perkiraannya, gadis yang ingin ditemuinya ada di tempat itu, sedang duduk di atas salah satu ayunan yang sama sekali tidak bergerak.

“Kurasa kita harus berpisah disini, uisanim. Orang yang kucari sudah ketemu.” Ujar Yonghwa kemudian.

Minhyuk ikut melihat ke luar jendela, “Ah, saya mengerti. Baiklah kalau begitu, saya kembali dulu.”

“Selamat bekerja.” Yonghwa mengedikkan kepalanya sekilas, yang dibalas oleh Minhyuk sebelum laki-laki itu melangkah meninggalkannya.

Setelah Minhyuk mulai menjauh, Yonghwa baru menyadari ia lupa menanyakan alasan Minhyuk keluar dari kamar Suzy tadi. Setahunya kecelakaan yang dialami Suzy tidak sampai membuatnya mengalami gangguan mental hingga harus membutuhkan psikiater. Namun kemudian ia sadar itu bukanlah hal yang penting. Banyak kemungkinan alasan untuk itu.

Yonghwa menghela napas kecil. Lagi-lagi kemungkinan. Hidup ini penuh dengan kemungkinan, tidak ada yang bisa menebak dengan tepat karena kepastian tentang hidup seseorang semuanya ada di tangan Tuhan.

Entah kenapa pikirannya kemudian melayang jauh, ke waktu dimana ia masih bersama Seohyun. Dimana gadis itu masih berada di sisinya. Manusia hanya bisa menerka-nerka, memikirkan kemungkinan yang paling mungkin. Itulah yang sampai sekarang masih dilakukannya, memikirkan beberapa kemungkinan Seohyun memutuskan untuk meninggalkannya. Namun semua itu bahkan jauh lebih rumit daripada memikirkan kemungkinan alasan seseorang untuk melakukan kejahatan.

Yonghwa menghela napas sekali lagi. Entah sudah berapa kali ia seperti ini. Semua yang ia pikirkan pada ujungnya selalu mengarah pada Seohyun, menunjukkan kelemahan terbesarnya yang masih belum bisa melupakan gadis itu sepenuhnya. Apa karena memang gadis itu sudah terlanjur melekat di hatinya sehingga sulit dilupakan, atau memang dirinya yang sengaja tidak ingin menghapus gadis itu dari hati dan pikirannya? Entahlah.

***

“Eonni, kumohon biarkan aku meminjam itu!”

Suzy tidak bergeming. Ia memperhatikan wajah anak perempuan berumur sekitar lima tahun dihadapannya dengan seksama. Ekspresinya datar. Ia seolah tidak merasa bersalah sedikitpun karena tidak mau mengalah pada anak kecil. Gadis kecil yang mengenakan piyama rumah sakit itu hanya ingin memainkan ayunan yang diduduki Suzy namun ia sama sekali tidak beranjak.

“Eonni…!!” anak perempuan itu berteriak sambil mengguncang-guncang tali penggantung ayunan.

Suzy memiringkan kepalanya, mengamati setiap ekspresi anak perempuan itu. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca, namun itu semua tidak ia pedulikan, seolah anak itu berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti. Gadis itu tampak seperti tidak berada dalam dirinya. Pikirannya kosong.

“Ya! Ahjumma!!!” gadis kecil yang mulai kesal itu akhirnya memanggil Suzy dengan sebutan ‘ahjumma’. Sebutan yang tidak disukai banyak wanita muda karena mengesankan mereka seperti wanita tua sungguhan.

“Hei, sebenarnya ada apa denganmu? Dia hanya ingin gantian memainkan ayunan saja apa tidak boleh?” tiba-tiba Suzy merasa bahunya ditepuk ringan. Gadis itu pun menoleh.

“K…kau…”

“Kau ini melihatku seperti melihat hantu.”

Suzy mengerjapkan matanya beberapa kali, masih tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Ia tidak pernah menyangka laki-laki itu akan datang ke tempat ini, menjenguknya.

Melihat Suzy yang hanya terpaku menatapnya, Yonghwa lalu mengulurkan tangannya dan menarik sebelah tangan gadis itu, mengajaknya untuk berdiri sebelum anak perempuan di sampingnya menangis karena putus asa dan menimbulkan keributan. Membuat anak kecil menangis hanya karena sebuah ayunan rasanya tidak penting sekali.

“Nah, sekarang kau bisa menggunakannya.” Yonghwa berjongkok dan mengelus kepala gadis kecil itu sambil tersenyum setelah berhasil menyingkirkan Suzy dari ayunan tersebut.

Gadis kecil itu tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi susunya yang masih tidak begitu rapi. Ia lalu cepat-cepat mengusap matanya yang berair dan duduk di atas ayunan. Kemudian Yonghwa berjalan memutar, membantunya menggoyangkan ayunan itu dan sukses membuat gadis kecil itu tertawa gembira.

Sementara itu, Suzy masih berdiri mematung di tempatnya. Pandangan matanya tidak lepas dari Yonghwa, yang nampak sangat bahagia bercengkrama dengan seorang gadis kecil.

***

“Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Kau bermaksud membuat percobaan mengenai ‘berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang anak kecil untuk menangis jika permintaannya tidak dipenuhi’?” tanya Yonghwa, yang saat ini sudah duduk di bangku panjang di tepi taman tersebut dengan Suzy.

“Aku hanya merasa aneh melihat ekspresi mereka. Sedikit-sedikit menangis. Apa mereka pikir dengan menangis bisa menyelesaikan masalah?” jawab Suzy enteng, tampak sudah kembali ke kondisinya semula.

“Mereka hanya anak kecil. Kau ini terlalu berlebihan.”

“Aku hanya bosan berada disini, kau tahu?” Suzy mendengus, melihat ke arah kaki kirinya yang masih terbalut gips. Yang bisa ia harapkan adalah kakinya segera sembuh dan ia bisa keluar dari tempat ini secepatnya.

“Ngomong-ngomong, ada apa kau datang kesini? Tumben sekali.” lanjutnya. Meskipun terdengar cuek, diam-diam ia mengharapkan Yonghwa menjawab sesuai dengan yang ada di pikirannya; bahwa laki-laki itu peduli dengan kondisinya.

“Aku hanya ingin memberitahumu kalau pelaku tabrak lari itu sudah ditemukan.” Jelas Yonghwa, sama sekali berbeda dengan apa yang Suzy pikirkan dan otomatis membuat gadis itu sedikit kecewa.

“Oh… Baguslah…” Suzy memalingkan wajahnya. Ternyata ia terlalu naif, Yonghwa tidak mungkin se-peduli itu padanya.

“…dan memberikan ini.” Yonghwa menyodorkan tas jinjing yang sedari tadi dibawanya ke hadapan Suzy.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Suzy menurut. Matanya mendadak berbinar-binar begitu mengeluarkan isi tas jinjing tersebut.

“Bulgogi!”

“Aku tahu kau pasti bosan makan makanan rumah sakit dan rindu dengan daging.” Jelas Yonghwa.

“Dari mana kau tahu?”

“Aku pernah merasakannya.”

“Kau juga pernah dirawat di rumah sakit?”

Yonghwa melipat kedua tangannya di depan dada, “Menurutmu?”

“Apa resiko pekerjaanmu sebesar itu?” Suzy tampak tidak begitu percaya.

“Kapan-kapan kau bisa merasakannya kalau kau mau. Bukan sekali dua kali pelaku kasus kejahatan yang kuungkap menyembunyikan senjata dan menyerang kami dengan membabi buta.”

Mata Suzy melebar. Ia tidak menyangka pekerjaan sebagai detektif akan beresiko sebesar itu.

“Makanlah, sebelum perawat yang mengurusimu marah-marah karena kau menghilang saat jam makan siang.”

“Tak kusangka ternyata anggota kepolisian sepertimu malah menyuruhku melanggar aturan.”

“Kurasa ini bukan melanggar aturan. Kau tidak dilarang memakan daging bukan?”

Suzy mendecak. Benar juga. Ia memang tidak mengidap penyakit yang tidak memperbolehkannya memakan daging. Tapi tetap saja tidak ada daging seenak bulgogi yang disediakan rumah sakit untuknya. Yonghwa hanya membantunya mendapatkan itu.

Suzy mengambil sumpit dan mulai menyuapkan potongan daging itu kedalam mulut. Yonghwa bahkan sudah menyiapkan semangkuk nasi dan teh untuknya. Benar-benar orang yang baik.

Ketika hendak menyuapkan makanan untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba ponsel Suzy berdering. Dengan berat hati gadis itu terpaksa menghentikan makannya dan menjawab telepon yang masuk.

“Yeoboseyo, Suzy-ah. Bagaimana kabarmu?” tanya seseorang di seberang.

“Aku baik-baik saja, Eun Jung-ah. Hanya tinggal menunggu gips di kaki kiriku dibuka dan aku akan pulang.” Jawab Suzy sambil melirik kaki kirinya yang─menurutnya─menyedihkan.

“Maaf kalau aku mengganggumu, tapi tadi ada klien yang datang dan memintamu menjadi pengacaranya. Ah tidak, bukan meminta, tapi lebih tepatnya ‘memaksa’.”

“Apa kau tidak bilang kalau aku tidak bisa bekerja selama beberapa waktu?”

“Aku sudah mengatakan padanya. Tapi seperti yang kubilang tadi, dia tetap memaksa. Aku juga sudah merekomendasikan pengacara lain, tapi dia tidak mau. Dia tetap menginginkanmu menjadi pengacaranya. Dia bilang dia akan menunggu.”

Suzy menghela napas berat. Bukannya ia sombong, tapi memang beginilah jika karirmu sedang berada di puncak. Reputasi Suzy sebagai pengacara handal memang sedang naik. Beberapa kali ia berhasil memenangkan tuntutan kliennya di pengadilan dan hampir semua rekan kerjanya sudah mengakui kemampuannya. Karena itulah, saat kondisinya sedang tidak memungkinkan sekalipun tawaran klien tetap datang menghampirinya.

“Dia bahkan sudah mengirimkan dokumen ke rumah temanmu.” Lanjut Eun Jung.

“Mwo??” Suzy tidak habis pikir ‘calon’ klien-nya yang satu ini benar-benar memaksa. Ia sadar dengan posisinya, tapi bukankah masih ada pengacara lain yang juga bagus? Kantor tempatnya bekerja bukan satu-satunya kantor pengacara di Korea.

“Mianhae, aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu memikirkan pekerjaan saat kondisimu belum pulih…” sesal Eun Jung.

“Gwaenchanha, Eun Jung-ah. Akan kupikirkan setelah keluar dari rumah sakit nanti.”

“Baiklah, semoga cepat sembuh, Suzy-ah.”

“Gomawo…” Suzy tersenyum tipis, kemudian memutuskan sambungan telepon.

“Ada apa?” tanya Yonghwa yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Ah, tidak… urusan pekerjaan.”

Merasa gadis itu enggan menjelaskan secara detail mengenai pembicaraannya di telepon, Yonghwa pun memaklumi. Ia hanya mengangguk-angguk dan tidak menanyakannya lebih lanjut.

Laki-laki itu melirik jam tangannya, “Kurasa sebaiknya kau cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi aku harus kembali ke kantor.”

“Kalau begitu kembalilah. Aku tidak apa-apa.”

“Dan meninggalkanmu makan sendirian disini? Kurasa tidak.” Sebagai seorang laki-laki, Yonghwa memiliki manner yang cukup baik dan tahu bagaimana harus bersikap.

Suzy terkekeh pelan, kemudian kembali menyuapkan daging ke dalam mulutnya. Seandainya… Seandainya saja Yonghwa mengatakan bahwa kedatangannya ke rumah sakit ini adalah karena memikirkan dirinya, ia pasti akan jauh lebih bahagia. Yah, walaupun apa yang dilakukan laki-laki itu sudah membuat harapannya melambung setinggi langit. Ternyata Yonghwa benar-benar orang yang baik. Terlalu baik sampai membuatnya hampir salah paham. Gadis itu tidak ingin terlalu percaya diri dan menganggap Yonghwa memiliki perasaan yang sama dengannya, walau hanya sedikit. Dan jika Yonghwa memang belum bisa membuka hatinya untuknya, ia ingin diizinkan untuk beranggapan sebaliknya, untuk sekedar menyenangkan hatinya.

Suzy tidak menyangka, benih cinta dalam hatinya akan berkembang dengan sangat cepat.

***

-Krystal’s POV-

“Saat ini kami sedang melakukan penyidikan lebih lanjut mengenai hal ini. Kami mohon kerja sama semua pihak agar pelaku dapat segera ditemukan dan diproses secara hukum. Kamsahamnida.”

Kutolehkan kepalaku ke arah televisi yang berada di sudut ruangan. Tidak begitu jauh dari meja kerjaku, jadi aku masih bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Kuperhatikan tayangan yang ditampilkan di televisi itu. Yang kutahu dia adalah jaksa Lee Jonghyun, orang yang bertanggung jawab dalam mengungkap kasus pembunuhan Choi Siwon. Kukira tugasnya akan menjadi lebih ringan setelah ini karena Choi Sooyoung sudah mengungkapkan kesaksiannya. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Kuputar kursiku ke arah komputer di atas meja kerjaku. Baru saja aku membuka sebuah artikel di internet yang masih ada kaitannya dengan konferensi pers tadi.

‘CEO KJH Enterprises, Cho Kyuhyun, Menghilang’

Menurutku ini bukan sesuatu yang mengherankan. Bukankah setiap orang yang dituduh sebagai pelaku, baik itu benar ataupun tidak, akan selalu menghilang pada awalnya? Lihat saja beberapa minggu kemudian, pasti dia sudah ditemukan oleh polisi.

Kutopangkan daguku di atas meja dan menghela napas. Aku memang cukup mengikuti perkembangan berita Choi Sooyoung, karena dia salah satu artis favoritku. Kurasa langkah yang diambilnya kali ini sudah tepat. Aku senang kondisinya sudah kembali seperti semula.

Bagaimanapun juga itu semua berkat kerja keras Minhyuk. Kurasa aku harus berterima kasih padanya.

“Kau benar, Minhyuk. Sooyoung hanya perlu waktu. Waktu untuk pulih…”

Kupandangi lagi artikel itu. Disitu juga sedikit dibahas mengenai profil CEO KJH Enterprises yang sedang hangat dibicarakan. Cho Kyuhyun. Ternyata seperti ini wajah orang yang dikatakan Choi Sooyoung sebagai pelaku pembunuhan Choi Siwon itu. Aku sama sekali tidak menyangka orang yang memiliki kedudukan tinggi sepertinya bisa melakukan pembunuhan secara langsung. Maksudku… Kenapa dia tidak meminta orang lain saja yang melakukan itu untuknya? Pembunuh bayaran mungkin?

Kufokuskan pandanganku pada gambar wajah Cho Kyuhyun. Entah kenapa… rasanya wajah ini tidak begitu asing bagiku. Ah, apa hanya perasaanku saja?

Sepertinya… aku pernah melihatnya di suatu tempat….

“Krystal-ah?” tiba-tiba kudengar seseorang memanggil namaku.

Aku menoleh. Kulihat Byun Baekhyun sudah berdiri tepat di samping meja kerjaku. Karena terlalu serius membaca artikel, aku sampai tidak menyadari kedatangannya. Seingatku tadi di ruangan ini hanya ada aku dan beberapa orang dokter senior.

“Baekhyun-ssi, ada apa?”

“Shift-mu hari ini sudah berakhir kan? Bagaimana kalau kuantar pulang?”

Aku mengerjap selama beberapa saat. Baru kali ini Baekhyun menawarkan untuk mengantarku pulang. Entah ada angin apa, mungkin shift-nya juga sudah berakhir.

Selama ini aku lebih sering diantar pulang oleh Minhyuk, dan entah kenapa tawarannya ini membuatku ragu. Bagaimana kalau Minhyuk mencariku nantinya?

Ah, sudahlah. Aku bukan anak kecil dan Minhyuk bukan orangtua yang harus selalu tahu keberadaanku. Lagipula tidak ada salahnya menerima tawaran Baekhyun. Hitung-hitung aku bisa menghemat ongkos untuk pulang.

Aku mengangguk, “Baiklah.” kemudian mematikan komputer dan bangkit dari tempat duduk. Kusambar sling bag yang ada di sudut meja dan kusampirkan ke bahu.

“Kaja!”

***

 

Gangnam, Seoul

11.55 AM

-Author’s POV-

“Ada apa, Minho-ya?”

Minho mendengus keras. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya teleponnya diangkat juga. Ia sudah hampir frustasi karena orang yang dihubunginya saat ini tidak juga menjawab panggilan teleponnya.

“Gadis itu… Sooyoung… Aish! Kau lihat kan?!” Minho mengacak-acak rambutnya. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepanikannya karena tayangan yang dilihatnya di restoran cepat saji tadi.

“Aku tahu.” Suara di seberang telepon terdengar tenang. Sangat kontras dengan suara Minho.

“Lalu? Kau hanya berdiam diri?! Apa aku hanya berdiam diri saja melihat itu?!”

“Memangnya apa yang harus kau lakukan?”tanya pria itu sarkastis.

“Dia menyebut Kyuhyun! Cho Kyuhyun! Sekarang semua orang di Korea termasuk jaksa dan anggota kepolisian tahu siapa pelaku sebenarnya!!” Minho meninggikan suaranya. Emosinya mulai tersulut.

Pria di seberang telepon terkekeh, membuat Minho semakin jengkel. Tampaknya orang yang menjadi lawan bicaranya ini sama sekali tidak mengerti apa yang ia rasakan.

“Yang dia sebut itu Cho Kyuhyun, bukan Choi Minho. Kau tidak perlu khawatir.” Ujarnya tenang.

“Bagaimana aku tidak khawatir?! Apa aku dan kau tidak ada hubungannya sama sekali dengan Kyuhyun?! Pikirkan posisiku juga!!” Minho semakin tidak sabar.

Pria itu kembali terkekeh, “Ckckck… Minho… Kepanikanmu ini terlalu berlebihan. Tenanglah, tidak ada yang perlu kau takutkan.”

“Tapi…”

“Percaya padaku. Apa kau meragukan jaringanku?”

Minho terdiam. Memang tidak bisa dipungkiri pria itu memiliki jaringan yang luas. Ia memiliki rekan bisnis yang tersebar di seluruh Korea dan bahkan di luar negeri. Itu bisa menjadi satu keuntungan baginya dan bagi pria itu.

“Jangan bereaksi berlebihan. Sooyoung hanya menceritakan apa yang dia lihat, dan itu tidak akan menjadi bukti yang cukup.” Pria itu menambahkan.

Relax, Minho. Kutunggu kau di tempat biasa jam 5 sore nanti.”

“Klik!” sambungan telepon pun diputus.

Minho menghela napas berat. Meskipun pria itu sudah berkata demikian, hati dan pikirannya tetap saja tidak tenang. Rasanya ia harus mengambil langkah lain yang dapat memperkuat posisinya. Bagaimanapun juga ia tidak mau sampai kalah.

***

 

KJH Enterprises Office, Banpo-dong, Gangnam-gu, Seoul

1.30 PM

-Author’s POV-

“Maaf, Detektif Jung. Saya benar-benar tidak tahu.”

“Baiklah kalau begitu.” Yonghwa tersenyum sinis atas jawaban salah satu anggota dewan direksi KJH Enterprises yang sedang diinterogasinya. Berkat bantuan Jonghyun, mereka berdua bisa menginterogasi salah satu pejabat perusahaan itu.

“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa… kau bisa mendekam di penjara selama lima tahun karena memberikan keterangan palsu.”

Raut wajah pria itu berubah seketika. Ucapan Yonghwa tentang hukuman penjara tadi berhasil menakutinya. “Jangan, Detektif!”

“Kalau begitu cepat katakan padaku kemana perginya Cho Kyuhyun!”

Dengan kepala tertunduk, pria itu menceritakan yang sebenarnya. “Jujur, saya juga tidak tahu kemana perginya Cho sajangnim.”

“Lalu siapa yang menjalankan perusahaan ini? Siapa yang menggantikan posisinya?”

“Sebenarnya… CEO perusahaan ini tidak hanya Cho sajangnim saja,” ujar pria itu.

Yonghwa mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?”

“Walaupun secara formal memang Cho sajangnim lah CEO perusahaan ini, tapi sepertinya ada orang lain lagi yang bisa mempengaruhi Cho sajangnim.”

“Dan itu artinya, bisa jadi Cho Kyuhyun hanya dijadikan boneka,” gumam Yonghwa.

Jonghyun angkat bicara. “Apa kau tahu siapa dia atau apa kau pernah melihat orangnya?”

Pria itu menggeleng. “Tidak pernah, Jaksa Lee.”

“Apa ada orang lain yang mengetahuinya?”

“Sepertinya tidak, Jaksa Lee. Sebagai orang yang mempunyai jabatan yang paling dekat dengan Cho sajangnim, saya pernah beberapa kali mendapati beliau adu mulut dengan seorang pria di ruangannya karena Cho sajangnim tidak mau menuruti kata-kata pria itu. Kemudian pria itu mengancam Cho sajangnim hingga akhirnya beliau terdiam dan mau menuruti perintah pria itu,” jelasnya panjang lebar.

“Apa CEO Cho memang tipe orang yang mudah diancam seperti itu?” tanya Yonghwa.

“Setahu saya, Cho sajangnim itu tidak takut pada siapapun.”

Berarti, bisa jadi orang ini punya ikatan batin dengan Kyuhyun. Setidaknya, ia bukan orang luar, duga Yonghwa. “Apa ia punya anggota keluarga yang juga bekerja di kantor ini?”

Pria itu menggeleng lagi. “Cho sajangnim tidak pernah memperkenalkan ataupun membawa anggota keluarganya ke kantor. Tidak ada seorangpun di kantor ini yang tahu tentang keluarga Cho sajangnim. Jadi, jawabannya tidak, Detektif.”

“Ada lagi yang kau ketahui?” tanya Jonghyun.

“Aku sudah menceritakan semua yang kutahu, Jaksa Lee. Tolong, jangan seret aku ke penjara,” pria itu memelas.

Jonghyun menekan tombol off pada alat perekam yang digenggamnya. “Kalau sampai kau menyembunyikan sesuatu atau memberikan keterangan palsu, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara.”

Seusai menginterogasi anggota dewan direksi KHJ Enterprises, Yonghwa dan Jonghyun segera meninggalkan tempat itu untuk melakukan penelusuran tentang keluarga Kyuhyun. Menurut kesimpulan mereka, orang yang pasti tahu tentang keberadaan Kyuhyun adalah keluarganya.

Sepeninggal Jonghyun dan Yonghwa dari tempat itu, telepon di ruangan itu berdering.

“Direktur Jang disini.”

Kau dipecat.” bentak seseorang di ujung telepon.

Pria bernama Jang Minseok itu tersentak. “M…mworagoyo? Aku… dipecat? Tapi…kenapa?” Matanya tertuju pada salah satu sudut di ruangan itu. Ia lupa kalau disitu telah dipasang alat penyadap.

Tsk! Kau masih berani bertanya kenapa? Coba pikirkan lagi, kesalahan besar apa yang baru saja kau perbuat.

“Maafkan aku, Shim sajangnim. A… Aku…―”

Kau dipecat!” Pria yang dipanggil Shim sajangnim itu kemudian memutus teleponnya.

***

Lee Jungshin’s Studio, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

3.45 PM

-Author’s POV-

Seolhyun baru saja meletakkan beberapa gulungan kain ke atas meja ketika tanpa sengaja matanya menangkap sosok Jungshin yang sedang berdiri di depan kaca meja rias, tampak sedang menyiapkan penampilan untuk pemotretan di majalah. Selain Fashion Show, para mahasiswa jurusan desain itu juga menyiapkan majalah fashion yang akan diperkenalkan bertepatan dengan hari Fashion Show.

Tanpa pikir panjang Seolhyun langsung menyambar salah satu blazer berwarna cream yang masih tersampir di gantungan tidak jauh dari tempat Jungshin. Karena ia adalah salah satu orang yang mendesain pakaian yang dikenakan laki-laki itu, ia tahu bahwa blazer itulah yang hendak dipakai. Seolhyun berdiri di belakang laki-laki itu dan membantu memakaikan blazer-nya, seperti stylist pada umumnya.

“Gomapseumnida.” Ujar Jungshin sopan. Ia membalikkan badannya ke arah Seolhyun dan tersenyum.

Baru kali ini Seolhyun berada sedekat ini dengan Jungshin. Melihat wajah dan senyum laki-laki itu dari dekat membuat jantungnya berdebar-debar. Seolhyun terlalu malu untuk membalas kata-kata Jungshin, dan sebagai gantinya ia hanya bisa mengangguk kaku.

Ketika laki-laki itu hendak melangkah meninggalkannya, Seolhyun buru-buru menahan, “Tu…tunggu dulu, Jungshin-ssi…”

Jungshin  menoleh dan memiringkan kepalanya, “Waeyo?”

Seolhyun memerhatikan penampilan Jungshin dari atas ke bawah, “Sepertinya… ada yang kurang…” ia lalu menjetikkan jarinya, “Scarf!”

Seolhyun menoleh ke kiri dan kanan, mencari scarf yang dimaksud. Ia tahu persis aksesoris dan pelengkap apa saja yang seharusnya dipakai dengan pakaian yang dikenakan Jungshin. Gadis itu mencari di setiap sudut ruang rias itu namun hasilnya nihil. Scarf itu tidak ditemukan di manapun.

“Aish, dimana…”

Tiba-tiba ia melihat Sulli yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu sambil menggenggam sesuatu di tangannya. Tak butuh waktu lama bagi Seolhyun untuk mengenali bahwa yang dipegang Sulli adalah benda yang dicari-carinya.

“Sulli-ah!” panggil Seolhyun. Ia menggerak-gerakkan tangannya, meminta gadis itu untuk mendekat ke arahnya.

“Bisakah kau pasangkan itu pada Jungshin-ssi? Pemotretannya tinggal sebentar lagi.” Ujarnya setelah Sulli berdiri di hadapannya sambil menunjuk ke arah kain yang dipegang oleh gadis itu.

Sulli memperhatikan kain panjang yang di tangannya. Ia baru ingat jika seharusnya Jungshin memakainya ketika mengenakan blazer berwarna cream itu.

Sulli menghela napas pelan, kemudian menggenggamkan scarf itu ke tangan Seolhyun, “Kau saja.” Ucapnya dingin.

Seolhyun mengerjapkan matanya, “Wae?”

“Aku ada urusan lain.” Sulli segera berlalu dari hadapan Seolhyun tanpa sekalipun menoleh ke arah Jungshin. Tampaknya kesalahpahaman gadis itu pada Jungshin beberapa hari yang lalu masih belum mereda. Sikap gadis itu di depan Jungshin masih sama seperti beberapa hari sebelumnya; dingin dan acuh.

“Aneh sekali…” gumam Seolhyun, yang tidak menyadari perubahan raut wajah Jungshin setelah melihat sikap Sulli barusan. Laki-laki itu tampak sangat kecewa. Ia tidak menyangka Sulli akan semarah itu padanya dan mengacuhkannya selama berhari-hari seperti ini.

“Jungshin-ssi, apa kau tahu apa yang terjadi pada Sulli? Sampai tadi rasanya ia masih baik-baik saja.”

Mendengar pertanyaan Seolhyun, Jungshin hanya mendesah pelan, “Entahlah…”

Rasanya masalah ini cukup dirinya dan Sulli saja yang tahu. Dan ia harus bertindak cepat untuk menyelesaikannya.

***

Tiffany’s Apartment, Gangnam-gu, Seoul

8.45 PM

-Author’s POV-

KRIIIIIINNNGGG!!!!!!!!!!!!

Begitu mendengar ponselnya berdering, Tiffany, yang sedang mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur, dengan malas meraih ponsel yang masih berada dalam jangkauannya itu. Diperiksanya layar ponselnya.

“Nomor tidak dikenal?” gumamnya. Namun toh pada akhirnya ia tetap menjawab telepon itu. “Yeoboseyo?”

How have you been, Stephanie Hwang? It’s been a long, long while, huh?” sahut pria di seberang telepon.

Sontak Tiffany langsung bangkit dari tidurnya saat mengenali suara si penelepon. “What do you want now, Shim Changmin?”

Pria itu terkekeh. “I’m surprised that you recognize my voice.

“Jangan berputar-putar atau kututup teleponnya,” ancam Tiffany walau dengan suara yang tenang.

Well, not much. Aku hanya ingin menanyakan satu hal padamu.” Pria bernama Shim Changmin itu kemudian berdeham. “Aku mulai terganggu dengan pekerjaan kekasihmu si jaksa itu, err…who is he again? Lee Jonghyun, right?

“Aku menyuruhmu untuk tidak bertele-tele kan?” Tiffany mengepalkan tangan kirinya erat saking geramnya dengan Changmin yang sedang bermain-main dengan emosinya.

I’ll go straight to the point then. Aku merasa terganggu dengannya. Haruskah kumusnahkan dia dengan tanganku sendiri?

“Aku tidak tahu setan apa yang merasukimu, Shim Changmin.” Emosinya sudah tak tertahan lagi sekarang.

Changmin mendecak. “Jangan pikir dirimu adalah malaikat. Kau juga sama kejinya denganku, Tiff. Wanita mana yang memata-matai kekasihnya sendiri? Berpura-pura mencintainya padahal sebenarnya hanya ingin memanfaatkannya saja. Tsk. Pathetic.

“TUTUP MULUTMU!!! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG PERASAANKU!!!” bentak Tiffany akhirnya. Ia tidak tahan lagi dengan kata-kata menyakitkan dari mulut pria itu.

Oh, jadi kau benar-benar mencintai jaksa itu?” Changmin terdengar antusias. “Kalau begitu kau pasti sangat berterimakasih pada Kyu―er… maksudku Minho karena sudah menjadi cupid-mu. Congrats, Tiff!

Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Tiffany akhirnya jatuh dan membanjiri pipinya. Ia tahu kalau ia juga salah karena telah memata-matai Jonghyun. Ia tahu ia salah karena dulu ia hanya berpura-pura mencintai lelaki itu. Tapi sekarang ia sadar bahwa jauh di lubuk hatinya, ia juga mencintai pria itu. Ia mencintai Lee Jonghyun dengan tulus. Dan kata-kata Changmin yang menyadarkannya akan dosa-dosanya itu membuatnya marah―bukan hanya pada Changmin tapi juga pada dirinya sendiri―karena telah tega melakukan hal sejahat itu pada pria yang dicintainya.

“Jangan sentuh dia,” pinta Tiffany pada Changmin. “Kumohon padamu, jangan lukai Jonghyun.”

Tentu saja ada syaratnya.”

“Akan kulakukan apapun itu. Asal kau berjanji, seumur hidupmu, kau tidak akan melukai Jonghyun,” kali ini suaranya terdengar sangat memelas.

Serahkan dirimu ke polisi. Katakan pada mereka bahwa kaulah yang memaksa Kyuhyun untuk membunuh Choi Siwon. Aku sudah menyiapkan bukti-bukti palsu agar mereka percaya bahwa kau benar-benar otak dari pembunuhan itu.

Hening. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Tiffany.

 “Or else, you know what I’m capable of doing, right? I can just―

I’ll do it,” potong Tiffany. “I’ll do that. Tapi ingat, jangan sentuh Lee Jonghyun.”

Tiffany sadar bahwa sekarang ia sedang berada dalam perangkap yang dibuat Changmin. Ia tahu bahwa ia sedang berada di ujung tanduk. Dan ia sangat mengerti dengan konsekuensi dari keputusannya itu. Tapi toh ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi orang yang paling dicintainya. Hatinya terlalu sakit membayangkan orang sebaik Lee Jonghyun harus mati di tangan manusia-berhati-iblis seperti Changmin. Dan ia tahu, dengan begini, ia bisa menebus semua kesalahannya―karena telah mempermainkan Jonghyun.

Tentu saja. Kau tahu aku tidak pernah ingkar janji.

“Kalau sampai terjadi sesuatu padanya,―”

No. That won’t happen,” potong Changmin. Well, senang berurusan denganmu, Tiff.

Dan “Klik!” telepon pun diputus.

***

 

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

2.10 PM

-Author’s POV-

Krystal merebahkan dirinya di atas sofa. Malam ini ia terpaksa harus sendirian lagi di rumah. Kondisi Suzy masih belum dikatakan pulih dan belum diizinkan untuk pulang. Karena tertidur, Krystal tidak mendengar tawaran Minhyuk waktu itu untuk menginap sementara di rumahnya selama Suzy di rumah sakit dan laki-laki itu juga tidak mengatakan apa-apa lagi keesokan harinya.

Setelah melepas penat sejenak, Krystal bangkit menuju dapur dan mengambil segelas orange juice dingin dari lemari es. Tidak ada yang dilakukannya hingga malam nanti, jadi beristirahat adalah keputusan yang tepat. Selama ini ia selalu pulang kerja larut malam dan hanya memiliki sedikit waktu luang.

Ketika berjalan ke ruang tengah sekembalinya dari dapur, pandangannya mengarah pada sebuah amplop besar yang tergeletak di lantai tidak jauh dari pintu masuk rumahnya. Rasanya ketika masuk tadi ia tidak melihat amplop itu. Mungkin tergeser ketika ia membuka pintu tadi.

Krystal berjongkok untuk mengambil amplop tersebut dan membaca nama pengirim yang tertera di bagian depannya. Rupanya amplop itu bukan ditujukan kepada dirinya, melainkan kepada Suzy. Jarang-jarang klien Suzy sampai mengirimkan dokumen ke rumahnya seperti ini.

Dahi Krystal mengernyit, “Choi Minho?”

Nama pengirim amplop itu terasa familiar baginya. Seperti ia pernah mendengarnya di suatu tempat.

Krystal terdiam, mencoba mengingat-ingat kira-kira dimana ia pernah mendengar nama ini. Pikirannya lalu menerawang ke waktu sekitar lima bulan yang lalu dan berakhir ke ingatan beberapa jam yang lalu. Seseorang yang dilihatnya tadi siang.

Krystal terbelalak. Ia ingat. Ia ingat dimana ia pernah bertemu dengan Choi Minho.

“Orang yang kulihat tadi… Choi Minho…???”

Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kaku. Tangannya yang menggenggam kertas  tersebut tiba-tiba gemetar. Ia tahu. Ia tahu persis siapa kedua orang ini; Choi Minho dan Cho Kyuhyun.

Otak Krystal berputar cepat. Ia menggabungkan hal yang diketahuinya dengan kasus pembunuhan Choi Siwon. Semuanya berkaitan. Semuanya sangat berkaitan.

Alasan kenapa Cho Kyuhyun yang disebut-sebut sebagai pembunuh Choi Siwon menghilang, kesaksian Choi Sooyoung yang tidak sesuai dengan bukti di TKP, dirinya yang merasa pernah melihat wajah Kyuhyun dan mendengar nama Choi Minho, sekarang ia tahu semua alasannya.

Krystal semakin berdebar-debar. Jantungnya berdetak cepat. Apakah… semua hal yang dipikirkannya kali ini benar? Apakah hanya dia satu-satunya orang yang menyadari kebenarannya?

Entah kenapa ia menjadi takut. Tidak, seharusnya ia tidak pernah lupa pada wajah Choi Minho karena mereka pernah bertemu, bahkan berbicara satu sama lain.

Ya, Choi Minho adalah mantan pasiennya dulu.

Krystal menggigit bibir bawahnya. Rasanya, dirinya ditakdirkan untuk ikut terseret dalam kasus yang rumit itu. Gadis itu memejamkan matanya, mencoba menyimpulkan semua hal yang sedari tadi berkelebat dalam pikirannya.

 “Cho Kyuhyun dan Choi Minho… adalah orang yang sama…”

 (to be continued)

__________________________

Annyeonghaseyo😀

Banyak yang mengejutkan di chapter ini ya? Satu per satu terungkap kan? Haha.. semoga readers semua terkejut *apasih* Gimana? Udah menjawab rasa penasaran readers? Atau malah bikin tambah penasaran? *maunya*

Makasih buat yang udah comment di chapter-chapter sebelumnya. Maaf aku belom bisa bales satu per satu, tapi nanti kalo ada waktu pasti aku bales kok. Saya… sibuk ngurusin laporan praktikum soalnya TT^TT *curcol*

Nah nah, gimana dengan chapter selanjutnya?? Hehe.. tungguin aja ya😉

51 thoughts on “Black Flower [Chapter 8]

  1. Sudh kuduga bahwa choi minho ada hubungannya…….
    Meskipun begitu aku msh terkejut ……
    Krystal????? Ap ygkn trjadi dgnnya?

  2. Bener ternyata dugaan saya kalo minho dan kyuhyun adalah orang yang sama…
    Tapi kenapa minho malah pacaran sama sulli ? sapaya bisa memata-matai sooyoung ?
    lanjut thor😀

    • ahaha,,, yah,,, udah ketebak dong ya?
      kalo dikaitkan sama kata-kata kyuhyun di chapter sebelumnya sih………… (silakan disimpulkan sendiri).
      oke, tungguin chapter-chapter selanjutnya ya🙂

  3. wah.. chapter ini bener2 unpredictable…
    ternyata Krystal yg operasi Kyuhyun ya?
    nanti Suzy malah jadi pengacara Minho… Omooo…
    semua saling berkaitan…
    keren bgt deh ceritanya, chingu…
    ditunggu update chapter selanjutnya…😀

    • nah seperti yang sudah saya bilang di awal, semuanya saling berkaitan.
      ng…. tapi tungguin aja chapter-chapter selanjutnya ya😀

  4. Aku cuma mau ngasih tau aja nih. Kayaknya ini emang karena themes-nya, jadi tulisan yang di-bold dan italic ga kebaca. Padahal ada banyak tulisan yang di-italic, termasuk flashback. Mohon maaf buat readers yang mungkin bingung, soalnya di draft udah sesuai, cuman disininya aja ga kebaca. Semoga readers semua bisa ngerti ya😀

  5. Waduh, jadi dalang dari kesemuanya Changmin nih o.O
    Terus apakah Baekhyun juga berkaitan sama kasus ini ?
    Jadi makin penasaran o(>~<o)

  6. itu beneran minho sama kyuhyun orang yang sama? aku pikir mereka sodara,
    itu kenapa changmin masuk orang2 jahat? jadi makin semangat bacanya thor,

  7. kristal nih sepertinya saksi kunci yg bs bongkar siapa kyuhyun dlm buronan nya ya….., makin ribet semua berhubungan. but i’m very excited, next….. ^_^

  8. Yey, analisis ak sbelumnya benar..
    Hemm, kasusnya dh nemu titik terang nih..
    Kasian fany eonni, terpaksa jd salah satu korban changmin. Smga kasus cpat selesai dan kebenarannya terungkap..

  9. Sebenernya g begitu terkejut thor,,dari chapter sebelumnya udah nebak kalau minho sama kyu itu sama, trus diawal juga dah ngira kalau minho pasiennya kristal dan kliennya suzy..tapi ini beneran bagus ff nya..great job thor!!!

  10. makin seru, krys bisa terlibat nih, tenang aja,,,, ada minhyuk oppa
    tp, kira kira, suzy mau g ya jd pengacara minho, kl iya, dia bisa berhadapan sama yong dong nanti

  11. ,, wuaahh.. Kyaknya udah bkalan terkuak nihh kasusnya…
    Tpi, apa hbungannya Choi Minho, Cho Kyuhyun & Krystal yaa ??? Pnsaran…

  12. OMG….!!!! kyuhyun jadi minho?? *minho kan lebih tinggi hehehe..(masalah wat gue?? hehehe.. cakepp thoorr..tp ahhh..yonghwa..jgn dkt2 suzy lah..ntr suzy ngrasa d PHP in..*masih ngarep seo unnie balik hehehhe

  13. wua.. kau benar2 keren authornim. chapter ini banyak bgt kejutannya. minho dan kyu adalah orang yg sama! udah gtu yg ngoprasi krystal. dan nanti minta bantuan sama pengacara bae, yang artinya nanti jd bersebrangan sama detektip jung dong.trus jaksa lee dan tiffany?? hadeeeh..
    authornim.. drmu keren bgt si. bisa memikirkan alur yg bisa nyatuin mereka dalam 1 kasus dg bgtu apiknya. sugohaesseo ^.^

  14. jonghyun tiffany.. kalian itu memang best couple di ff ini.. aku suka mereka.. OMG kystal mulai masuk kedalam kasusnya.. huh.. cape sih harus rada mikir ff ini.. terbelit belit .. tapi takpalah.. aku menyukainya.. hehehe

  15. Astaga ternyata kyu sma minho org yg sma.
    Kok aku ngg nydar ya
    Author hbt deh bisa nulis ff yg byk cast ny kyk gni klw aku mw udh nggk bisa fokus bwt nulis konflikny n bwt pembaca gereget kyk gni.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s