[FF CONTEST] Because I Miss You

Judul   : Because I Miss You

 

Could you be able to hear my late confession, Minhyuk-a?

 

-oOo-

 

Always the exactly same sky and always the same day
Only thing that is different is that you are not here

 

Kakinya melangkah pelan, menapaki jalan perkotaan. Dengan tas berisi gitar di pundak, ia berjalan menikmati sunyi yang menyapa. Desir angin malam yang menggerayangi tubuh memaksanya untuk sesekali merapatkan jaket kulit yang tak cukup hangat.

Matanya tak fokus. Tak pernah fokus. Lagi.

Menatap kosong kaki yang menderap meninggalkan jejak. Irama helaan mengisi kepenatan. Sesekali berhenti, memandang sekitar dengan linglung, dan berjalan kembali.

Selalu ada yang salah di setiap harinya. Bukan salah. Hanya saja, dia merasa ada yang kurang.

Dia tahu langit yang menaunginya tetap sama. Dia paham hari akan berjalan semestinya dan waktu yang terlewati tak akan kembali lagi.

Tapi, ada yang berbeda di tiap detik yang dirasa.

Karena ada yang hilang. Potongan yang pernah menjadi bagian hidupnya telah hilang.

Lampu kota menarik perhatiannya. Dilihatnya dalam, hingga pikirannya menerawang. Jauh sekali hingga terhanyut ke dalam memori.

 

Tentang dirinya.

Tentangnya.

Tentang dendam.

Dan sebuah penyesalan.

 

I thought I’ve let you go. Without anything left
No, no. I still haven’t been able to let you go

 

Pelupuk matanya tergenang. Sampai setetes air mengalir dan diusap begitu saja oleh punggung tangannya.

Dilangkahkan kakinya menyeberangi jalan raya dengan tenang. Dia tak perlu buru-buru. Lagipula, siapa yang masih bepergian selarut ini?

Terus ia melangkah hingga didapatinya sebuah rumah berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Segera, ia membuka pintu dan membiarkan dirinya menghangat dalam kesederhanaan rumah itu.

Matanya menatap setiap sudut ruangan. Entah apa yang ingin dicari.

Ah … Ingin sekali dirinya membuang segala macam benda yang mengingatkannya pada masa lalu. Namun, tidak. Yonghwa tak pernah mampu.

Dia melepas sepatunya dan segera meletakkannya dengan rapi di sisi satu pasang sepatu lainnya yang sama persis. Ah, bukan sepasang. Lebih tepatnya, bagian kanan saja.

Ia terdiam. Menatap lamat-lamat sepatu usang yang tak lagi terawat. Ragu-ragu, diraih dan diusapnya pelan.

 

Hyung!”

Pria manis itu menghampiri seseorang di ambang pintu yang menatapnya malas.

“Apa?” jawabnya tak acuh.

            “Coba lihat!” pria tadi berujar semangat seraya menunjukkan kakinya.

            Pria di ambang pintu tadi mendelik marah setelah melihat ada sepatu yang melingkar di kaki adiknya. Dia tak suka dengan bentuk sepatu itu yang sama persis dengan miliknya.

            “Ya! Minhyuk-a! Apa-apaan kau?!” bentak pria itu tanpa mempedulikan adiknya yang terperanjat ketakutan.

            “A-a, maaf, Hyung. Aku hanya ingin memiliki barang … yang sama denganmu,” akunya takut-takut.

            “Kenapa harus sama denganku?!” Yonghwa melangkahkan kakinya maju mendekati adiknya yang menjauh.

            “H-hyung, jangan marah dulu. Aku, aku …,” lidah Minhyuk terasa kelu saat menatap mata Yonghwa yang penuh amarah.

            “Buang sepatumu atau aku yang akan membuangnya.”

           

Diletakkannya kembali sepatu itu setelah dirinya merasa begitu sesak. Baru beberapa langkah dirinya ingin masuk dan mengistirahatkan diri di kamar, matanya beralih pada meja makan.

Yonghwa pulang larut malam lagi. Ketika dibukanya pintu, tercium aroma masakan yang cukup menggelitik perutnya.

            Dirinya sudah mampu menebak siapa yang menyiapkan berbagai jenis masakan ini ketika mendapati adiknya tertidur dengan kepala tertumpu di meja makan.

            Seketika, Yonghwa kehilangan napsu makannya.

            Adiknya perlahan mulai terbangun. Dilihatnya seseorang yang dinantinya sejak beberapa waktu lalu telah berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya berubah cerah.

            “Yonghwa Hyung sudah datang? Ayo kita makan!” Yonghwa hanya menatap tak peduli. “Sejak kapan aku sudi makan bersamamu?”

 

            Dipukulnya pelan bagian di dadanya yang terasa ngilu. Badannya terhuyung. Salah satu tangannya bertumpu pada dinding di sampingnya. Tubuhnya melemah, entah apa yang sedang meracuninya. Mungkin saja rasa bersalah.

Yonghwa menyeret tubuhnya memasuki kamar. Dan betapa menyesalnya dia berada di sana, memasuki kamar yang salah. Niat awalnya merehatkan diri pupus sudah. Yang terjadi kini adalah pikirannya yang tak jengah memutar ingatan lama.

Disusurinya ruang tak bertuah itu pelan-pelan. Tangannya meraba tiap benda yang membangkitkan kenangannya.

Sentuhannya berhenti pada permukaan buku berdebu. Diusapnya pelan hingga debu-debu itu tersingkir dari sampulnya yang terlihat sederhana, merepresentasikan pemiliknya.

Digenggamnya buku itu seraya mendudukkan diri di tempat tidur. Ah, Yonghwa bahkan masih mampu merasakan kenyamanan pada kasur yang tak lagi terjamah itu.

Perlahan, dibukanya lembar pertama buku kecil itu, buku yang berisi tulisan rapi dalam balutan kertas yang menguning, menandakan betapa lamanya buku itu tak pernah lagi dibuka.

Matanya menelisik tiap kata yang tertera. Ini bukan pertama kalinya Yonghwa membaca buku itu setelah satu tahun yang lalu. Namun entah, rasanya selalu sama. Selalu ada sesuatu yang menarik dirinya untuk membaca dan meresapinya sampai lembar yang terakhir.

 

Minggu, 1 April 2012

            Okay, aku sudah tak tahu harus bagaimana lagi, hingga aku terpaksa membelimu di pedagang yang tak sengaja melewati halaman rumahku. Mungkin kau hanya barang bekas, tapi aku tak ingin membuatmu lebih tidak berguna lagi seperti barang-barang yang pedagang itu bawa di gerobaknya.

            Mungkin aku gila harus berbicara pada buku. Tapi, aku hanya butuh teman. Dan aku membutuhkanmu. Kenapa aku memilihmu? Karena aku tak punya pilihan. Asal kau tahu, aku tak punya teman. Bukan, bukan berarti tidak sama sekali.

            Namaku Minhyuk, Kang Minhyuk. Umurku 22 tahun. Baiklah, baiklah. Mungkin sedikit aneh melihatku yang cukup dewasa lebih memilih untuk menulis di buku harian seperti ABG labil yang baru saja puber lalu jatuh cinta ketimbang berkumpul dan hang out bersama teman-teman sebaya.

            Tapi, halo … tidak semua orang yang melampiaskan perasaannya dalam diary adalah ABG labil. Mungkin terlihat norak dan kurang kerjaan. Tapi setiap orang punya alasan sendiri mengapa dia lebih memilih menyimpan apa yang dirasa dalam sebuah tulisan daripada menceritakannya pada teman lewat lisan.

            Aku tinggal bersama hyung-ku, namanya Jung Yonghwa. Umurnya 24 tahun. Terdengar aneh memang. Marga kami sudah berbeda, lantas, bagaimana kami bisa menjadi saudara?

            Okay, akan aku ceritakan.

            Kami berasal dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda. Entah apa yang sudah ayah kami perbuat hingga menjadikan kami saudara. Aku tak akan peduli. Entah fakta apa yang akan aku terima tentangnya, aku tak ingin tahu. Aku tak ingin membencinya.

            Seharusnya kami memang bermarga sama, karena kami memiliki ayah yang sama. Tapi, entah. Ibu Yonghwa Hyung bersikeras untuk mempergunakan marganya–Jung–kepada anaknya daripada ibuku yang lebih memilih menggunakan marga ayah.

            Dulu, kami tinggal bersama. Aku sudah menyadari sikap Yonghwa Hyung yang tak pernah manis. Seperti ibu kami yang tak pernah terlihat harmonis. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, selain berharap dia akan sadar bahwa aku juga korban di sini.

             Semua berjalan statis sampai musibah menyapa keluarga kami dan menyisakan kami berdua. Dan see, semua memburuk. Hubunganku dan Yonghwa Hyung semakin berantakan.

            Oleh karena itu, aku merasa tak punya teman. Jadi, dengan terpaksa, aku menjadikanmu temanku.

            Kau tak akan keberatan, bukan?

 

            Jumat, 6 April 2012

            Hari ini, Yonghwa Hyung pulang larut malam lagi. Dan kau tahu apa? Dia mabuk berat. Badannya penuh dengan aroma alkohol yang menyengat.

            Aku mencoba mendekatinya yang terhuyung di depan pintu. Belum sempat ku sentuh, ditepisnya tanganku dengan kasar.

            Saat aku mencoba menyapanya tadi, dia malah membentakku. Dia selalu menyeramkan ketika marah. Tapi dia akan jadi jauh lebih menyeramkan ketika mabuk.

            Dikeluarkannya segala sumpah serapah di hadapanku. Mulutnya meracau, yang terdengar tak cukup jelas di telinga. Aku hanya mampu diam, sebelum dia main tangan.

            Aku hanya menundukkan kepala. Selalu seperti ini. Dia akan mengungkit masa lalu.

            Setelah dirinya puas mencerca, dia berjalan ke kamarnya dan menutup pintunya keras-keras.

            Ah … aku lelah. Aku ingin marah.

            Tapi apa masih pantas aku marah ketika aku sudah merenggut semua kebahagiaannya?

 

            Selasa, 17 April 2012

            Yonghwa Hyung marah lagi hari ini. Dan lagi-lagi karena hal sepele. Hanya karena sepatu.

            Well, mungkin memang salahku. Bukan, bukan. Segalanya memang salahku.

            Aku hanya ingin memiliki sepatu yang sama dengannya. Entahlah, aku hanya merasa ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Bukankah menyenangkan ketika dirimu memiliki sesuatu yang sama seperti milik orang yang kausayangi?

            Jadi, saat kurir itu mengirimkan sepatu Yonghwa Hyung kemarin, aku memesan satu sepatu yang sama persis dengannya. Pagi ini, aku menerima sepatu itu dan segera mengenakannya.

            Saat aku menunjukkan dengan bangga dihadapannya, dia mendelik tak suka. Aku benar-benar ketakutan saat itu, walaupun setiap hari dia memang membuatku ketakutan.

            Dia membentakku lagi, seperti biasa.

            Katanya, untuk apa aku harus memiliki sepatu yang sama dengannya? Dan dia menyuruhku membuangnya.

            Hah … mungkin memang aku yang terlalu banyak tingkah. Untuk apa pria dengan satu kaki dan satu tangan bergaya menggunakan sepatu sport segala?

           

            Rabu, 25 April 2012

            Aku baru saja selesai memasak!

            Ini sudah kelima kalinya aku membuatkan makan malam untuknya. Dan aku sangsi, apa makananku tak sia-sia kali ini.

            Ya, setidaknya ada sesuatu yang bisa aku berikan. Aku sudah cukup merepotkannya selama ini. Dengan tubuhku yang lumpuh, fisikku yang tak cukup mampu untuk bekerja, dan yang paling penting … kesalahanku di masa lalu. Ya, kesalahan besar di masa lalu.

            Dulu, tak sengaja, aku bermain dengan api dan membakar rumah. Untungnya, Yonghwa Hyung sedang bermain di padang ilalang bersama teman-temannya. Aku hanya menangis ketakutan ketika terperangkap dalam kobaran api yang murka.

            Ketika aku mencoba mencari jalan keluar, tiba-tiba, kayu menindih kaki kiri dan tangan kananku. Aku melemah. Bergerak sedikit saja aku tak bisa.

            Setelah itu, aku tak mengingat apapun, selain kaki kiri serta tangan kananku yang menghilang dan Yonghwa Hyung yang menatapku penuh dendam.

            Dokter hanya berkata bahwa ibuku, ibunya, dan ayah kami tak tertolong. Dia bercerita bahwa tim penyelamat menemukan Yonghwa Hyung hanya menatap kosong rumah yang tak lagi berbentuk itu.

            Dan sejak saat itu, aku dan Yonghwa Hyung menjalani hidup bersama. Aku sudah cukup berterima kasih Yonghwa Hyung masih menampungku. Masih menampung orang yang menghilangkan ibunya, hartanya yang terakhir dan satu-satunya.

            Jadi, aku hanya bisa diam ketika Yonghwa Hyung menyalahkanku habis-habisan. Karena hanya dari diamku aku mampu berterima kasih.

            Ah, cerita yang panjang, bukan? Menulisnya saja membuatku mengantuk.

            Aku tidur dulu saja. Semoga nanti Yonghwa Hyung cepat pulang dan segera mencicipi makananku.

 

            Rabu, 2 Mei 2012

            Yonghwa Hyung memenangkan kontes mengaransemen lagu! Dan hari ini, aku baru saja menghadiri acara pemberian hadiahnya.

            Tadi, aku mengenakan pakaianku yang paling bagus dan berdandan setampan mungkin.

            Aku mengetahui tentang hal ini dari kegiatanku mencuri dengar tadi malam ketika Yonghwa Hyung sedang bercakap-cakap lewat telepon dengan salah seorang temannya. Dia begitu bersemangat menceritakan kemenangannya.

            Dan jadilah tadi aku menguntitnya. Oh, ayolah. Aku tak tahu jalan. Bepergian pun aku jarang.

            Sesampainya di sana, aku berdiri agak jauh dari tempatnya. Mengamatinya dengan saksama.

            Saat pemberian hadiah dan Yonghwa Hyung turun dari atas panggung, aku menghampirinya. Hey, aku sangat bangga! Dan aku ingin semua orang tahu bahwa aku adalah saudara dari seorang berbakat seperti dia.

            Dan apa yang terjadi?

            Yonghwa Hyung tak mengacuhkanku ketika aku mengulurkan tangan. Dia hanya menatapku seraya menyeretku pulang.

            Aku hanya mampu tertegun melihatnya marah-marah lagi. Apa lagi yang salah?

 

            Kamis, 10 Mei 2012

            Aku baru saja selesai membuatkan bekal untuk Yonghwa Hyung. Hari ini, Yonghwa Hyung akan menampilkan lagu yang dibuatnya! Dan karena aku tak bisa menyemangatinya di sana, karena dia yang melarangku untuk ikut, aku hanya bisa membuatkannya bekal. Dia sedang bersiap-siap, mungkin sebentar lagi dia akan keluar dari kamar.

            Hmm … pagi ini, secara tiba-tiba, aku teringat dan merindukan masa kecilku.

            Ya … masa di mana aku tak perlu berpikir rasional untuk bermimpi. Di mana aku punya pemikiran polos tentang masa depan. Di mana aku bisa bahagia hanya karena bermain dengan imajinasi.

            Aku betul ingat ketika ibuku menceritakan fairy-tale sebagai pengantar sebelum tidur. Tentang bagaimana bebasnya hidup mereka. Tentang bagaimana keajaiban menjadi hal yang lumrah.

            Dulu, aku bisa menjadi Super Hero. Menceritakannya dengan bangga kepada ibuku, walau ibuku mengerti bahwa aku hanya mengalaminya dalam mimpi. Tapi beliau hanya tersenyum, membiarkanku berpikir bahwa aku bisa berbuat apa saja jika aku mau. Karena ibuku tahu, seiring waktu berjalan, aku akan mengerti tentang arti kehidupan.

             Jujur saja, aku ingin kembali. Aku ingin menemukan tawaku yang menghilang. Lebih tepatnya, tawa Yonghwa Hyung yang menghilang.

            Aku ingin pergi ke saat di mana kecerobohanku belum terjadi. Sehingga aku tak perlu mengorbankan mimpiku. Melepaskan mimpi yang dulunya tak pernah terasa semustahil ini. Mimpi sederhana. Hanya ingin menjadi drummer yang handal. Ah … jika mimpiku mampu terwujud, bukankah itu keren ketika aku dan Yonghwa Hyung berada dalam satu band yang sama?

            Aku benar-benar ingin kembali. Ya, kembali

Dan kalimat itu tak pernah berakhir dengan titik atau terlengkapi dengan koma dan runtutan kata lainnya. Karena Yonghwa ingat betul bagaimana tulisan itu berhenti sebelum waktunya.

Yonghwa berjalan keluar dari kamar setelah memastikan dirinya sudah betul-betul prima di depan kaca. Dia sudah benar-benar siap untuk penampilan perdananya hari ini.

            Yonghwa tahu jika adiknya sedang asyik berkutat dengan pena di tangannya, entah apa yang dilakukannya. Namun, seperti biasa, seperti hidup tanpa Minhyuk di sisinya, Yonghwa keluar rumah tanpa meninggalkan pesan atau sepatah kata.

Saat Yonghwa sudah berada di sisi jalan yang lain, ia melihat Minhyuk dengan tongkatnya beserta sebuah kotak makan di tangan, sedang mengejarnya dengan tergesa.

            Dan semuanya terjadi begitu cepat.

            Dia hanya membisu ketika mendengar dentuman keras memekakkan telinganya. Ia hanya terpaku ketika melihat truk besar itu menghantam tubuh Minhyuk yang tak berdaya dan menerbangkan kotak makan itu hingga isinya berceceran di jalan. Tubuhnya seketika melemah ketika adiknya jatuh bersimbah darah. Dan hatinya berkecamuk perih ketika melihat adiknya tak bernapas lagi.

Air mata benar-benar tak mampu dibendungnya. Rasa dendamnya mendadak hilang. Yang tersisa hanya kerinduan.

Yonghwa pikir, setelah satu tahun, dia akan melepaskan kepergian adik tirinya itu. Tapi, tidak. Tidak pernah semudah itu.

 

Longing for you, I am longing for you. Because I am longing for you, I call you and call you by myself everyday
Missing you, I am missing you. Because I am missing you, now I just call out your name like a habit
Even today

 

            “Maaf … maaf …”

Yonghwa tak pernah tahu bahwa kerinduannya akan segila ini. Dia tak pernah sadar bahwa nama Minhyuk terselip di beribu erang penyesalannya.

Day by day, I feel like I am dying, so what could I do?

 

            Yonghwa serasa mati ketika dirinya terus didesak oleh penyesalan yang tak tersampaikan. Yonghwa mulai menyadari bahwa sebenarnya dendam itu tak pernah lebih kuat dari perasaan sayangnya pada Minhyuk. Tapi egonya selalu menenggelamkan perasaan cintanya.

Dia marah dan begitu benci dengan kenyataan bahwa Minhyuk adalah adiknya. Kenyataan bahwa Minhyuklah yang membagi cinta ayahnya. Dan kenyataan bahwa dialah seseorang yang membuat ibunya pergi begitu saja.

Dia bukannya tak bisa berpikir dewasa. Tapi dia tak memilih untuk menjadi dewasa kali ini.

Dia dan Minhyuk adalah korban, dia benar tahu itu. Bukan salah Minhyuk jika ayahnya memberi kasih sayang yang terasa kurang. Tapi Yonghwa hanya ingin marah. Ingin menunjukkan bagaimana tidak terimanya dia dengan hidup yang dia punya. Dia hanya tak punya pelampiasan hingga menjadikan Minhyuk sebagai sasarannya.

Dan kini, Yonghwa hanya ingin semua berputar kembali. Bukan di saat keluarganya masih utuh atau bahkan saat adiknya belum hadir di dunia. Cukup waktu di mana dia bisa merawat Minhyuk sebaik mungkin. Di mana dia akan membiarkan Minhyuk mengetahui betapa sayang dan cintanya dia pada adik satu-satunya itu.

Yonghwa hanya berharap, Minhyuk dapat mendengar pengakuannya. Entah lewat angin yang mengembuskan sesalnya terbang menuju tempat Minhyuk. Entah lewat hujan yang mengalirkan selaksa rindu. Entah lewat anak-anak burung yang mengicaukan segenap maaf dan cinta.

Yonghwa hanya ingin Minhyuk tahu, bahwa dia begitu mencintainya.

Love you, Love you. I love you. Without even being able to tell you these, I’ve had to let you go like that

Sorry, I am sorry. Can you hear me? Could you be able to hear my late confession?

I love you.

-끝-

28 thoughts on “[FF CONTEST] Because I Miss You

  1. ini keren bgtbgt loh

    baru baca deh tentang cerita adik kaka gini. terharu sedih huhu. ga sempet berbaikan dulu mereka udah keburu minhyuk diambil tuhan

    smoga menang ini d contest ini

  2. Huaaaa<3<3- Saya nangis…………nangis sumpah demi nama Yonghwa Ff ini keren#mian kalau aku Alay tapi kenyataanlah begitu. Hebat aku vote kamu

  3. Huuuu..😥 seding banget.. Tapi keren thor alur ceritanya pas, dan tema yang agak langka menurut aku, atau akunya aja yang jarang baca ff.. yang jelas semoga menang ya thor.. ^^

  4. Gk heran kalo kamu menang . . Jalan ceritanya bagus . Dan lebih bagusnya gk semua FF bercerita tentang cinta dengan wanita . Cinta sesama saudara seperti minhyuk dan yonghwa contohnya . Aku sukaa🙂

  5. Ini keren banget. Aku sukaaa.. Hiiikkksss.. Cinta yang begini emang bikin nangis darah. Gak pernah terucap tapi manis.. Huhuhuu.. Terus menulis ya Thor..

  6. FF ini pantes bgt menang :’)

    Ceritanya bener2 bikin aku menangis padahal aku baca didalem bis -_-
    Jadinya nangis dalam bis.. hehe
    Habis ceritanya bagus bangeeetz *pake z*🙂
    Keep writing ya thor :3

  7. Baru sempet mampir lg ke sini n menemukan udh ada pemenangnya, jd coba2 baca tulisan apa sech yg bs jd pemenang. Tp ternyata… “KEREN”. Daebak,thor, mank pantes bgt jd pemenang ^o^

  8. Tauuuu ga? Nangis aku baca ini.. Gila sumpah keren abis!!! Ga nyangka cerita tentang kaka adik gini bisa kerenn badaiii ,ngalahin cerita cinta deh!! DAEBAK!!

  9. /ngelap air mata/ hiks~~ aku beneran mau nangis lho author-nim.. nyesek bgt.. yang bikin nyesek itu keadaan Minhyuk.. T^T meski ngerasa benci sebenernya pasti ada rasa sayang di hati kita buat orang yang ada di sekitar kita.. ngalamin bgt :p
    apa ya? /ngelus dada/ it’s DAEBAK xD deserve to win (y)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s