[FF CONTEST] LALALA

LALALA

 

Long time no see

Seeing you unexpectedly

You are still as beautiful as before

The man by your side, looks realy not bad, never let him go

 

Musim semi telah tiba. Musim dimana sinar mentari begitu hangat, begitu bersahabat. Musim dimana bunga-bunga bermekaran, menampakan keindahannya tanpa ragu. Dari sekian banyak musim di dunia ini, musim semilah yang sangat aku sukai. Musim yang meninggalkan banyak kenangan manis, kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, terkecuali jika aku mengalami amnesia atau alzaimer.

Musim semi ini adalah tahun keduaku menjalani hari-hariku tanpa gadis itu. Gadis yang sampai saat ini masih bertahta di hatiku, gadis luar biasa yang akan selalu aku kagumi. Kim Yuna.

Aku masih ingat betul bagaimana awal pertemuan kami. Super market adalah tempat dimana aku dan gadis itu bertemu untuk pertama kalinya. Gadis itu menyelamatkanku dari insiden memalukan. Saat aku lupa membawa dompet dan tidak membawa uang sepeserpun, sementara aku harus membayar barang-barang belanjaanku yang tidak sedikit. Gadis itu datang dan berbaik hati membayar semua barang belanjaanku, dia benar-benar menyelamatkanku. Jika bukan karena Jong Hyun yang memintaku menggantikannya belanja bulanan, mungkin aku tidak akan bertemu dengan gadis manis itu. Aku sangat berterimakasih padanya.

Aku selalu tersenyum jika mengingat kejadian memalukan itu. Meski memalukan, tapi itu adalah pertemuan pertama yang sangat berkesan bagiku. Semenjak pertemuan pertama itu, aku dan gadis itu lebih sering bertemu dan aku mulai mengetahui siapa dia sebenarnya, dia seorang skater, dan lambat laun tumbuh benih-benih cinta diantara kami. Klasik memang, tapi memang begitu kenyataannya.

“Ini pesanan anda tuan.” suara seorang pelayan wanita membawaku kembali ke alam sadarku. Pelayan yang mengenakan seragam putih cokelat itu meletakan cappuccino pesananku di atas meja. Pelayan itupun berlalu setelah selesai dengan tugasnya.

Aku menatap cangkir berwarna cokelat yang masih mengepulkan asap tipis, menghirup aroma khas yang berasal dari isi cangkir itu. Sudah lama aku tidak datang ke kafe ini, kafe tempat aku dan gadis itu banyak menghabiskan waktu bersama. Aku merindukan gadis itu, datang ke kafe ini adalah salah satu caraku mengobati rasa rinduku padanya. Disini aku bisa mengenang masa-masa manis kami.

Aku meraih cangkir cappuccino, lantas menyesap perlahan cappuccino yang masih mengepulkan asap . Aku tersedak saat mata cokelatku menangkap sosok cantik itu. Kim Yuna. Dia baru saja memasuki kafe ini, dia tidak sendiri, ada seorang pria di sampingnya. Tanggannya menggamit lengan pria di sampingnya itu. Mungkinkah dia kekasihnya? sepertinya begitu, karena mereka terlihat sangat akrab.

Yuna dan pria itu duduk  di sebuah meja yang terletak di sudut kiri kafe. Beruntung suasana kafe cukup ramai oleh pengunjung, jadi aku tidak perlu khawatir gadis itu menyadari kehadiranku.

Mataku terus tertuju pada gadis itu, dia masih cantik seperti dulu, bahkan sekarang dia terlihat lebih cantik. Tidak banyak yang berubah, kecuali rambut panjangnya yang kini hanya sebahu. Sejak kapan gadis itu memotong rambutnya?

20 menit sudah berlalu dan mataku masih enggan berpaling dari gadis itu, bagiku tidak ada lagi objek yang menarik untuk dilihat selain dia. Rasa cemburu mulai menjalariku, bagaimana tidak? pria itu benar-benar memperlakukan Yuna dengan sangat baik, membuatku iri. Aku tidak pernah memperlakukan Yuna sebaik pria itu dulu dan mereka terlihat sangat serasi.

5 menit kemudian pria yang mengenakan t-shirt putih yang di padu padankan dengan blezer abu-abu itu beranjak dari tempat duduknya, mengecup puncak kepala Yuna dan kemudian berlalu meninggalkan kafe. Meski pria itu sudah pergi, Yuna tidak beranjak dari tempatnya.

Aku beranjak dari tempat dudukku, memutuskan untuk menghampiri gadis itu, sekedar menyapanya atau lebih dari itu. Rasanya langkah kakiku terasa berat, dan jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Annyeong haseyo Yuna-ya!” aku benar-benar  memberanikan diri untuk menyapanya. Gadis itu menoleh kearahku.

“Yong Hwa oppa!”  dia nampak terkejut melihatku. Akupun duduk berhadapan dengannya.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik, bagaimana denganganmu, oppa?”

“Aku juga. Rasanya sudah lama sekali kita tidak duduk berdua, berhadapan seperti ini.” aku memberanikan diri menatap matanya, tetapi gadis ini malah menghindari kontak mata denganku, dia lebih memilih menatap gelas kosong di depannya dibandingkan menatap kedua mataku. Mungkinkah tatapan mataku terihat seperti mengintimidasinya? “Siapa pria yang bersama denganmu tadi? sepertinya dia pria yang sangat baik dan dia juga tampan. Jangan sampai kau melepaskanya.” ucapku sembari tersenyum .

“Kau benar, dia memang pria yang baik.” ujarnya, kali ini ia menatapku dan diapun tersenyum.

 

Oh because i love you

That’s why i leave you

That’s why i let you go

Even if you hate me

You will live better than before

Still smiling

 

“Kau beruntung.”

“Sangat.”

“Melepaskanmu memang keputusan yang tepat.”

“Begitukah?” raut wajahnya berubah datar. “Kau tidak pernah menyesal melepasku?”

Mianhae

Gadis di hadapanku ini terdiam dan matanya mulai memerah.

“ Aku tidak ingin melukaimu lebih dalam lagi. Perpisahan adalah yang terbaik untuk kita.”

“Bagiku, perpisahan kita adalah hal yang sangat menyakitkan.”

“Hiduplah bahagia dengan pria itu. Kau boleh membenciku seumur hidupmu, asalkan kau bahagia. ”

 

Though it is not me

Provided you are happy

Oh lalalalala

Though it is not me

Provided you blessed ( then I am ) blessed

 

Tidak apa-apa jika gadis ini membenciku, bahkan seumur hidupnya, asalkan dia bahagia, aku akan bahagia, meski bukan aku yang membuatnya bahagia.

 

Happiness happines you

Must be happy you must be happy

 

“Kau harus bahagia dengannya.” Aku meraih kedua tangannya, menggenggamnya.

“Hanya kau yang bisa membuatku bahagia” kali ini dia yang menggenggam tanganku.

 

I didn’t understand at first

Didn’t understand love

Causing you to be upset

Seem like now then i understand

Your heartbroken heart for me everyday

 

“Pria sepertiku yang tidak mengerti akan cinta, tidak akan pernah bisa membahagiakanmu. Aku selalu mengecewakanmu. Kau ingat saat Olimpiade musim digin? apa aku menyaksikanmu bertanding hari itu? pernahkah aku menyaksikan pertandinganmu secara langsung? saat kakimu cidera dan kau harus menjalani operasi, apa aku ada di sampingmu? tidak, kan?”

“Itu benar, tapi kau tetap datang hari itu, meski pertandingan sudah selesai, dan saat aku dirawat di rumah sakit, kau menemaniku setelah konser bandmu selesai, itu saja sudah membuatku bahagia. Kau seorang vokalist sebuah band terkenal, tentu saja jadwalmu sangat padat, dan aku memakluminya.”

 

Flash back

Aku segera keluar dari mobilku begitu aku sampai di tempat Olimpiade musim dingin digelar. Suasana tempat ini begitu sepi, sepertinya Olimpiade telah usai dan lagi-lagi aku melewatkan pertandingan Yuna.

Aku berlari menuju arena ice sketing. Sepi. Tidak ada siapa-siapa disana. Lagi, aku membuat kekasihku menelan kekecewaan. Jadwal konser bandku dengan jadwal Olimpiade bentrok, dan itu membuatku tidak bisa menyaksikan aksi Yuna di arena ice sketing.

Aku meninggalkan arena ice sketing dengan langkah gontai dan langkahku terhenti saat seseorang memanggilku. “Yong Hwa oppa!” kulihat gadis itu tersenyum kearahku, berdiri di depanku dengan jarak kira-kira 3 meter. “Sudah kuduga kau pasti akan datang.” ucapnya riang, aku sama sekali tidak melihat raut kekecewaan di wajahnya, dia terlalu pandai menyembunyikan kekecewaannya.

Aku berjalan cepat kearahnya, dan kemudian memeluknya. “Mianhae.”

“Untuk apa kau minta maaf?”

“Karena aku melewatkan pertandinganmu”

“Setidaknya kau menepati jajnjimu.”

Aku melepaskan pelukanku, menumpukan kedua tanganku di pundaknya. “Kau mengalahkan rival-mu, kan?” dia mengangguk semangat, mata indahnya terlihat berbinar . “Kau hebat!” aku mengacak rambutnya gemas.

“Oppa!” panggilnya manja.

“Wae?”

“Aku lapar, tapi aku ingin makan masakanmu” dia menggandeng tanganku, kemudian menyandarkan kepanya di pundak kananku.”Kau mau memasak untukku, kan?”  dia memelukku dari samping.

“Tentu saja, kajja!”

***

Aku segera pergi ke dapur tidak lama setelah sampai di apartemen Yuna, sementara sang pemilik apartemen segera pergi ke kamarnya untuk berganti baju.

Aku membuka pintu kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan masakan dari dalam kulkas. Yuna sangat suka pasta, dan aku ingin membuat pasta spesial untuknya.

“Oppa! perlu bantuanku?” tanyanya sembari mengikat rambut panjangnya.

“Tidak perlu! masakanku bisa tidak enak jika kau turun tangan.”

“Hey! kemampuan memasakku sudah ada peningkatan, ck…kau meragukanku rupanya.” Gadis itu melipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah cemberutnya, benar-benar lucu!

“Memangnya kau tidak lelah?” dia menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang masih cemberut.

“Jangan berbohong, aku tahu kau lelah.”

“Baiklah…aku tidak akan mengganggu acara memasakmu, aku akan duduk manis disini.” gadis itupun duduk di meja makan. “Berapa lama lagi? aku sudah lapar! “ teriaknya.

“Sebentar lagi!”

***

“Kau sangat lapar?” tanyaku yang hanya dijawab oleh anggukan kepalanya.

“Masakanmu selalu saja enak, harusnya kau membuka restoran atau semacamnya” ucapnya di sela-sela mengunyah makananya. “Oppa…perutku kenyang, ah…bisa-bisa berat badanku naik jika kau memasak untukku setiap hari.” dia tertawa riang.

“Hey! kau pikir aku ini siapamu?”

“Kau kekasihku, merangkap menjadi kokiku.”  aku menjitak puncak kepalanya pelan, kemudian membawa semua piring kotor di meja makan dan kemudian mencucinya.“Oppa!”

“Hmm….”

“Bagaimana kalau kita menonton? beberapa hari lalu aku membeli film komedi romantis”

“Ini sudah hampir larut malam, harusnya kau beristirahat.”

“Aku belum mengantuk.”

“Baiklah, mari kita menonton, awas saja kalau kau tertidur saat menonton nanti.” Ancamku.

“Tidak akan!” ucapnya yakin, dan aku meragukannya.

Dugaanku terbukti, gadis ini tertidur, padahal filmnya baru saja dimulai 15 menit lalu. Aku menggendongnya, memindahkannya ke kamarnya yang bernuansa merah muda, membaringkannya di tempat tidurnya dan kemudian menyelimutinya. Aku tahu, gadis ini sangat lelah, dia hanya berpura-pura di depanku. Gadis ini terlalu sering mengalah dan berkorban untukku.

“Aku mencintaimu, Kim Yuna.” bisikku di telinga kanannya, kemudian aku mengecup keningnya lembut.

Flash back end

 

Aku menarik tanganku, melepaskan genggaman tangannya. “Oppa!” bulir bening itu akhirnya meluncur, membasahi pipinya.

“Kau sangat beruntung karena Tuhan mengirimkan pria itu untukmu. Dia jauh lebih baik dari pada aku. Kau akan bahagia bersamanya.”

“Apa kau masih mencintaiku?” pertanyaanya begitu menohok. Ia menatapku, menantikan sebuah jawaban dari mulutku.

“Kita sudah berakhir.”

“Apa kau masih mencintaiku?” dia mengulang pertanyaan yang sama sekali tidak ingin aku jawab.

 

Oh because i’m sorry

Because i’m thankful

Thay why let you go

Though you understan

Everything is fine

Because you are in bliss

 

Aku memalingkan wajahku, aku tidak sanggup menatap kedua matanya kali ini. “I’m sorry.” Kata itu yang keluar dari mulutku, bukan sebuah jawaban yang diharapkannya.

“Oppa!”

“Yuna-ya, sekarang ini tidak penting aku masih mencintaimu atau tidak.”

“Tapi aku ingin mengetahuinya. Apa kau benar-benar sudah melupakanku?” gadis ini benar-benar menuntut sebuah jawaban dariku.

“Belum, bahkan aku memang masih mencintaimu.” aku menyerah, pada akhirnya aku mengaku juga.”Maafkan aku, aku benar-benar bersalah padamu. Aku yang menarikmu ke kehidupanku, dan aku juga yang mendorongmu keluar dari kehidupanku.”

“Meskipun sudah ada Rome oppa di kehidupanku sekarang, kau tetap di hatiku.”

“Lupakanlah aku.”

“Itu tidak mudah.”

“Aku tahu itu, meski begitu, kau harus benar-benar melupakanku.”

“Bagaimana denganmu? apa kau akan benar-benar melupakanku?”

“Aku akan berusa, karena aku harus melupakanmu.” aku berdusta padanya, nyatanya aku sama sekali tidak berniat melupakannya. Aku ingin tetap mengingatnya.

“Baiklah jika itu maumu. Aku akan melupakanmu.”

 

Flash back

Langkahku terhenti saat mendengar Yuna berbincang dengan seseorang. Aku berdiri mematung di depan ruangan dimana kekasihku itu dirawat, menguping pembicaraan mereka.

“Pria itu belum datang juga?”

“Dia sedang sibuk dengan konser bandnya.”

“Apa dia tidak mencemaskanmu? kau kekasihnya, seharusnya dia memperhatikanmu, Kim Yuna!”

“Dia pasti mencemaskanku, hanya saja…dia tidak bisa menemuiku sekarang, dia pria yang bertanggung jawab Hyorin-ah, tidak mungkin dia menghilang disaat konser digelar.”

“Aku pasti akan memutuskannya jika dia kekasihku. Inilah akibatnya jika kau berpacaran dengan seorang bintang. Kau dan kekasihmu itu harus merahasiakan hubungan kalian dari publik.”

“Tapi aku menikmatinya.”

“Baiklah, terserah kau saja. Aku harus segera pergi, mianhae aku tidak bisa menemanimu.”

Gwenchana.”

Akupun masuk setelah Yuna dan Hyorin selesai berbincang.

“Ah…akhirnya kau datang juga, sebaiknya kau jaga kekasihmu.” ucap Hyorin dingin, dia bahkan menabrakku dengan sengaja diapun membanting pintu cukup keras.

“Oppa, kau tidak marah, kan?”

“Kenapa aku harus marah?”

“Karena sikap Hyorin padamu.”

“Tentu saja tidak. Bagai mana keadaanmu? apa kakimu sangat sakit?”

“Tidak.” dia tersenyum. “Karena ada kau sekarang, sakitnya jadi hilang.”  aku mendekat kearahnya, lantas mengecup keningnya yang hangat.

“Kau pasti lelah, kenapa tidak beristirahat saja?”

“Aku ingin menemanimu. Cidera kakimu tidak begitu parah, kan?” dia menggelengkan kepalanya. “Kenapa kau begitu ceroboh? seharusnya kau menjaga kakimu dengan baik.”

“Oppa! apa kau begitu mencemaskanku?”

“Tentu saja aku mencemaskanmu.Tidurlah, aku akan menjagamu”

Empat minggu sudah berlalu dan selama itu aku menemani Yuna di rumah sakit, dan hari ini gadis itu sudah di perbolehkan pulang. Selama itu pula aku memikirkan sesuatu, memikirkan hubungan kami selanjutnya.

Aku membukakan pintu mobil untuk Yuna, kemudian menggiringnya masuk kedalam mobil. “Sepertinya kau senang sekali.” ujarku sembari menyalakan mesin mobilku.

“Tentu saja, aku sudah bosan berlama-lama di rumah sakit.” dia tersenyum.

“Kakimu benar-benar sudah tidak sakit?”

“Tidak, kau perlu bukti?”

“Tidak perlu.”

Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan kami hanya diam. Yuna asik melihat pemandangan di sebelahnya melalui jendela, sementara aku fokus menyetir. Sebenarnya fokusku bukan hanya pada stir mobil dan jalanan saja, ada sesuatu yang sedang aku pikirkan..

“Oppa, waeyo? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu.”

Aku menginjak pedal rem mendadak, membuat laju mobil terhenti seketika.

“Yuna-ya!”

Ne?”

“Ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa? sepertinya serius sekali.” dia nampak penasaran dengan apa yang ingin aku katakan.

“Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini.”

“Oppa! kau sedang bercanda, kan? ini tidak lucu!”

“Aku serius, aku ingin hubungan kita berakhir.”

“Tapi kenapa?”

Aku terdiam, kedua tanganku mencengkram stir mobil dengan kuat.

“Oppa!”

Mianhae.”

Flash back end

 

Hey girl

Though i wish to appear by your side

I dont want you to be tired

You are beautiful, still unchanged

I will still support you

Sincerely wishing you are blessed

Love? dont care,

Provided i have loved you crazily oncw

Now all these words are useless, the end, i am leaving

 

 

“Semoga kau selalu bahagia bersamanya.”

“Mianhae, aku harus segera pergi. Tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, kan?”

“Tidak ada.”

“Baiklah.” dia meraih tas kecilnya di atas meja kemudian beranjak dari tempat duduknya. “Selamat tinggal, aku pergi!” ucapnya tanpa menoleh kearahku sedikitpun.

Aku menghela nafas begitu gadis itu benar-benar telah pergi. Menyesal? tentu saja. Sejujurnya aku benar-benar berharap selalu ada disisinya, mengisi hari-harinya, tapi aku sadar, ada di sisninya hanya akan membuatnya lelah, hanya akan menorehkan luka lebih dalam lagi di hatinya. Gadis cantik itu terlalu baik untukku, gadis sepertinya tidak pantas bersanding denganku. Aku harus menghancurkan cinta yang selama ini tetap kokoh bertahan di hatiku. Selamat tinggal Kim Yuna, aku akan berhenti mencintaimu, meski begitu, aku tidak akan pernah melupakanmu.

 

–FIN–

 

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s