[FF CONTEST] More Than You

More Than You

Jonghyun POV

Udara dingin musim dingin berhembus, membuat tubuhku semakin menggigil. Aku menyesap kopi hangat pemberian yeoja di sampingku. Sekilas kulirik Jieun, yang sedari tadi hanya menatap lurus ke depan. Dia tidak mengatakan apapun, membuatku sedikit khawatir. Apakah dia mengacuhkanku? Atau ada sesuatu yang mengganggu pikirannya? Aku tidak tahu, batinku.

“Jieun-ah…”panggilku, pelan. “Kau sedang ada masalah?”

Yeoja itu menarik napas panjang.

“Oppa…”mulainya, masih menatap ke depan.

“Ne?”potongku, sambil menatapnya.

Ia menoleh, menatap kedua mataku, tidak berkedip.

“Oppa, geuman haja…”gumam yeoja di sampingku.

Aku kaget setengah mati.

“Mwo?”sergahku, tidak percaya.

Mata Jieun mulai memerah.

“Geuman haja.”ulangnya, dengan suara bergetar.

Aku mendekatinya.

“Wae?”tanyaku, dengan suara sehalus beledu.

Yeoja itu hanya terdiam. Aku meraih tangannya.

“Moreusinayo?”pekikku. “Saranghae..”

Jieun menepis tanganku dengan keras.

“Jinjja??”todongnya. “Aku tidak bisa melihat perilaku yang mencerminkan bahwa kau mencintaiku..”

Aku tersentak mendengar perkataannya.

“Aku lelah dengan ini semua, Oppa. Aku tidak tahan lagi.”isaknya.

Aku menariknya ke dalam pelukanku.

“Saranghae.. saranghae,”bisikku dengan suara panik.

Aku tidak ingin yeoja, yang begitu aku cintai, meninggalkanku.

“Jebal, mianhae..”selorohku.

Yeoja itu mendorong dadaku dengan kasar.

“Ani, aku tidak bisa bertahan lagi Oppa.. Mianhae..”ucapnya lalu berlari, pergi meninggalkanku sendiri.

Aku mengejarnya.

“Apa aku berbuat salah?”seruku kepada Jieun, yang masih berlari.

Yeoja itu tiba-tiba berhenti, lalu berbalik menghadapku.

“Mwo?”katanya, tidak percaya dengan apa yang aku tanyakan. “Moreusinayo?”

“Ne?”aku balik bertanya, tidak tahu apa-apa.

Ia menatapku dengan tatapan nanar. Aku mendekatinya.

“Malhae, apa salahku? Ppali!! Aku tidak akan pernah tahu kalau kau hanya diam saja, Jieun.”jelasku.

Jieun masih terisak, tidak merespon ucapanku sama sekali.

“Wae??”bisikku.

Jieun masih terus menangis, membuat hatiku terluka.

Aku kembali ingin memeluknya, melihat ia menangis membuat hatiku sedikit terusik. Tapi Jieun tiba-tiba mundur. Ia memandangku, mukanya berkilauan air mata.

“Wae???”ulangku. “Katakan apa kesalahanku, aku akan memperbaikinya.”

Jieun memalingkan muka.

“Eopseo.”ucapnya. “Keunyang… ije geuman haja..”

Hatiku begitu sakit mendengar perkataan Jieun. Apa kenangan kami yang begitu indah terhapus hanya karena alasan yang tidak jelas?

“Andwae..”teriakku mulai hilang kendali. “Andwae…”

Jieun melotot ke arahku.

“Wae andwae??”pekiknya.

“Ajik saranghanabwa,”ujarku, setengah memohon.

Jieun menggeleng-gelengkan kepala.

“Andwae..”katanya. “Aku.. sudah tidak mencintaimu…”

Aku bagai disambar petir.

“M-m-mwo?”tanyaku, seperti orang linglung.

Jieun memandangku.

“Ne, a-aku sudah tidak mencintaimu Oppa.. Mianhae.. ”ucapnya. “Geuman haja.”

“Kojitmal…”semburku penuh amarah. “Kau berbohong kepadaku, ‘kan?”

Jieun menatapku, entah ekspresi apa yang menyelimuti wajahnya.

“Aku… Aku paling tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini. Silhda!! Aku sudah muak..”jelas Jieun histeris.

Aku menatapnya, tertegun.

“Geuman haja, jebal.. Hiduplah dengan baik, Jonghyun Oppa..”ujarnya lalu mulai berlari pergi.

Aku tidak mengerti. Sikapku? Sikapku yang seperti apa? Entah kenapa, aku tidak mengejarnya. Hatiku terasa ngilu..  Kakiku terasa lemas, tidak kuat menopang badanku lagi. Aku jatuh berlutut di permukaan salju yang begitu tebal dan dingin. Tak terasa air mata mulai mengalir dari mataku. Kenapa aku begitu cengeng?? Aku tidak bisa menjelaskan alasan kenapa aku menangis.

“Kau adalah segalanya bagiku, tapi kenapa kau pergi meninggalkanku?”teriakku, tidak karuan.

Namun percuma saja, yeoja itu sudah pergi, sudah hilang dari pandangan. Aku, apa kesalahanku?? Aku menatap sekitarku dengan panik. Tangisku bertambah semakin parah. Pikiran tentang kesendirian menyelubungi hatiku. Kenapa aku kehilangan satu-satunya orang yang begitu peduli denganku? Tidak akan ada yang peduli kepadaku lagi. Eotteohke? Setelah kedua orangtuaku tiada, yang peduli kepadaku hanya Jieun. Tapi kenapa? Aku berulang kali berpikir, mencari letak kesalahanku. Tapi aku tidak bisa menemukannya.

Rasa kesepian menyusup masuk, membuat dadaku terasa sesak saja. Mukaku penuh dengan air mata, benar-benar malu dengan diriku sendiri. Sekarang aku duduk di  salju, tidak peduli betapa dinginnya. Aku memegang kepalaku,  pusing, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Ajik saranghanabwa”gumamku, pilu.

Aku masih ingat betul pertama kali kami bertemu. Kenangan masa lalu terputar kembali di kepalaku. Hari itu seakan menjadi hari terbaik dalam hidupku.

Flashback On

Jonghyun POV

Suasana di perpustakaan benar-benar sunyi, seperti biasanya. Suara yang terdengar dari berbagai sudut hanyalah suara buku yang dibuka. Aku masih berkutat dengan buku yang sama, membaca tiap halaman dengan serius. Tiba-tiba, terdengar suara ‘tok tok tok’, nampaknya suara sepatu. Suara sepatu itu aku harapkan segera enyah, tapi justru suara itu semakin mendekat. Siapa sih, batinku sebal, mengganggu saja. Suara sepatu, ‘tok tok tok’, tentu agak mengganggu konsentrasi membacaku. Suara itu lama-lama terdengar semakin dekat saja, aku menutup bukuku dengan sebal.

Aku celingukan mencari sumber suara ‘tok tok tok’ itu. Betapa kagetnya aku, suara ‘tok tok tok’ dari sepatu  hak tinggi itu mendekatiku, jaraknya hanya dua meter dariku. Hal yang lebih mengagetkanku, yeoja yang memakai sepatu hak tinggi itu… benar-benar cantik. Yeoja itu memakai setelan kemeja putih dan celana jeans panjang, benar-benar sempurna. Ia berhenti lalu duduk di depanku. Aku tertegun.

Yeoja itu tersenyum kepadaku lalu mulai membuka buku yang dibawanya. Ia membaca buku itu dengan muka serius. Ya Tuhan, sergahku kepada diriku sendiri. Kenapa ada yeoja secantik ini di dunia? Ah, salah.. Kenapa ada yeoja yang begitu cantik di perpustakaan kampusku? Kenapa juga aku baru pertama kali melihatnya? Aku masih memandang yeoja di depanku. Aku segera menyadari tingkahku yang tidak patut ini. Kubuka buku yang ada di depanku dan mulai membaca. Berulang kali aku mencoba untuk berkonsentrasi, tapi aku tidak bisa. Entah kenapa, yang ada di kepalaku justru suara ‘tok tok tok’ itu. Tentu bersama bayang-bayang wajah cantik yeoja di depanku ini.

“Hyung…”panggil seseorang dari sampingku.

Aku kaget, Minhyuk datang mendekatiku.

“Ayo pulang… “ajaknya sambil terus tersenyum konyol.

Aku melotot kepadanya. Dia balas menatapku, seakan berkata ‘mwo?’. Aku gedikkan kepalaku ke arah yeoja di depanku. Dia melirik yeoja itu, ia terkesiap. Dia merogohkan tangannya ke tasnya, lalu mengeluarkan hp. Jari-jarinya berlarian di atas layar hp. Tiba-tiba hpku bergetar. Dengan sigap, aku meraih hpku, membuka  pesan yang baru saja aku terima.

Yeoja ini teman satu kelasku. Wae?

Aku kaget dengan apa yang tertulis di layar hpku.

Coba sapa dia. Kenalkan aku dengan dia. J

Aku memerintah Minhyuk lewat sms. Ia menatapku, penuh curiga. Aku balas menatapnya, ada ekspresi mengancam dalam tatapanku. Minhyuk tetap menggelengkan kepalanya, enggan menuruti perintahku. Aku melotot ke arahnya, benar-benar mengancam. Ia akhirnya menyerah dan duduk di samping yeoja itu.

“Jieun?”panggil Minhyuk, seakan baru saja menyadari kehadirannya.

Jieun mendongak dari bukunya. Ia menoleh ke arah Minhyuk lalu mukanya terlihat bersinar.

“Ah, Minhyuk.. “ucapnya dengan suara merdu. “Sejak kapan kau di sini?”

Minhyuk tersenyum, sok imut. Aku menunduk, berpura-pura sedang membaca buku. Walaupun sekali-sekali aku melirik ke arah mereka berdua. Ternyata yeoja ini hoobaeku, batinku. Kenapa aku baru pertama kali melihatnya?

 “Baru saja.”jawabnya dengan suara renyah. “Buku apa yang sedang kau baca?”

Jieun mengangkat bukunya, menunjukkan sampulnya.

“Ahh..”ujar Minhyuk, berubah lemas. “Tugas Yoo Songsaengnim?”

Jieun mengangguk kencang.

“Agak sulit,”keluhnya. “Makanya aku mencari referensi di sini.”

“Ne, memang sulit.”kata Minhyuk. “Aku juga tidak bisa mengerjakannya..”

Minhyuk terkekeh, Jieun hanya menatapnya sambil tertawa sumbang.

“Sebaiknya kau bertanya kepada Jonghyun Hyung..”saran Minhyuk.

Aku mendengar namaku disebut. Aku mendongak, menatap Minhyuk, pura-pura tidak tahu apa-apa.

“Ne?”sergah Jieun. “Nugu?”

Minhyuk menunjukku, Jieun menatapku dengan rasa penasaran tersirat di  wajahnya.

“Dia Jonghyun Hyung, Sunbae kita.”

Jieun bangkit dari duduknya, terdengar suara ‘tok tok tok’ saat dia beranjak berdiri. Ia membungkukkan badan ke arahku.

Annyeonghaseyo… Song Jieun imnida. Pangapseubnida..”katanya dengan penuh semangat.

“Ah, ye.”ucapku sambil bangkit. “Lee Jonghyun imnida.”

Aku juga membungkukkan badanku ke Jieun. Kami kembali duduk.

“Dia pandai menyanyi lho, Hyung…”puji Minhyuk, promosi.

Aku kaget.

“Jinjja?”sergahku, mencoba berbicara dengan nada biasa.

Minhyuk memicingkan matanya yang sudah sipit.

“Ahh, aku lupa. Kau ‘kan tidak pernah memperhatikan hoobaemu.”cibirnya.

Aku melotot ke arah Minhyuk.

“Bukannya begitu…”mulaiku.

Minhyuk menginterupsi perkataanku.

“Aku terlalu sibuk. Pasti Hyung mau mengatakan hal itu, ’kan?”tebaknya.

Aku tertohok.

“Ne…”ujarku datar.

Jieun mencairkan suasana dengan senyum manisnya.

“Ah, Sunbaenim, bisakah kau membantu kami mengerjakan tugas Yoo Seongsangnim?”pintanya sambil  mengatupkan telapak tangannya di depan dada.

Aku berlagak berpikir.

“Jebal…”Jieun mulai memohon.

“Bagaimana ya?”kataku, mengulur waktu.

Minhyuk mendengus melihat tingkahku.

“Hyung, tidak usah sok jual mahal,”celanya, memutar bola matanya. “Bantu kami, ya?”

Aku mengangguk pelan.

“Hore…”seru Jieun sambil melompat-lompat kegirangan.

Suara ‘tok tok tok’ menghiasi perpustakaan yang sunyi itu.

“SSSSSSTTTTT”seru penghuni perpustakaan bebarengan.

Jieun merasa bersalah.

“Joesonghamnida…”serunya sambil terus membungkuk ke segala arah.

Dia, benar-benar manis, batinku sambil tersenyum. Apalagi saat pipinya merona merah.

***

“Kau adalah segalanya bagiku, nae yeojachinguga doeeojullae?”ucapku.

Jieun tersenyum. Waktu seakan berhenti ketika melihatnya tersenyum. Dia mengangguk. Aku memeluknya.

“Saranghae… saranghae..”bisik Jieun.

***

Jieun POV

Aku menutup pintu kamarku dan langsung menghambur ke atas tempat tidurku. Aku meletakkan tanganku di atas dada, jantungku masih berdetak kencang.

“Apa aku bermimpi?”tanyaku pada diri sendiri.

Aku mencubit tanganku, sakit. Omo, ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Aku masih tidak percaya, aku bisa mendapatkan Jonghyun Sunbae? Apakah aku menghayal? Sepertinya tidak. Hatiku serasa akan meledak karena terlalu bahagia. Aku kira rasa sukaku hanya akan berakhir menjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Ternyata anggapanku salah. Aku beranjak ke depan meja rias, melihat siluetku di depan kaca.

“Apakah aku bisa seberuntung ini?”tanyaku kepada bayanganku. “Apakah ini sebuah keberuntungan? Atau justru sebuah malapetaka?”

Aku berpikir sejenak. Aku menggeleng keras.

“Ani, tentu saja ini  adalah keberuntungan.”kataku mantap, lalu tersenyum kepada bayanganku.

***

“Oppa….”seruku sambil berlari masuk ke studio.

Yonghwa Oppa dan Jonghyun Oppa tersenyum melihatku datang.

“Wah, wah, yang yeojachingu-nya sudah datang,”cibir Yonghwa Oppa, iri.

Jonghyun Oppa hanya melirik penuh sayang ke arahku. Aku berkedip manja ke arahnya, bahagia. Yonghwa Oppa membuang muka, muak dengan tingkah kami.

“Aish, jinjja..”desisnya. “Aku pulang saja.”

Ia menaruh gitarnya, lalu beranjak hendak meninggalkan kami berdua.

“Wae??”tuntutku, merasa tidak enak.

Yonghwa menatapku, tersenyum simpul.

“Aku tidak mau mengganggu orang yang sedang jatuh cinta..”godanya, lalu melengos pergi.

Aku dan Jonghyun Oppa saling tatap, tersenyum. Hari-hari terasa begitu menyenangkan, bagi kami.

***

Aku cemberut.

“Oppa, ayo!! Kita nonton film ini..”ujarku sambil menyodorkan dua carik kertas, tiket.

Jonghyun masih asyik bermain gitar. Dia bersenandung sambil memejamkan matanya. Aku melipat kedua tanganku di depan dada.

“Oppa!!!”teriakku tepat di telinganya.

Jonghyun Oppa mengelus-elus telinganya, lalu melirik ke arahku.

“Mwo??”tanyanya, sebal.

Aku mendengus.

“Ah, ani…”gumamku, lalu bangkit.

Jonghyun Oppa memandangku, tidak mengerti.

“Wae??”todongnya.

Aku menyodorkan dua lembar tiket yang dari tadi aku pegang.

“Ayo, nonton film… Jebal..”pintaku.

Oppa melirik tiket yang aku pegang. Ia menatapku dengan senyum manisnya.

“Sebentar lagi Yonghwa Hyung datang. Hari ini kami harus tampil di showcase kampus. Kau sendiri, tahu ‘kan?”ungkapnya.

Aku menunduk, lesu. Akhir-akhir ini, Oppa terlalu sibuk dengan showcase. Ahh, entah sejak kapan ia mulai sibuk sendiri, aku sampai lupa.

“Ne..”jawabku, pelan. “Kalau begitu besok saja bagaimana? Nonton filmnya, ya ya ya??”

Jonghyun Oppa menggeleng pelan.

“Besok aku juga harus tampil di showcase kampus lain. Kapan-kapan saja, ya?”bujuknya. “Lebih baik kau ikut kami saja, bagaimana? Menonton penampilan kami?”

Aku menggeleng.

“Ah, ani…”tolakku, halus. “Lebih baik aku pulang saja. Aku baru ingat, ada tugas yang belum aku selesaikan.”

Jonghyun menatapku penuh selidik.

“Jinjja??”yakinnya.

Aku mengangguk.

“Annyeong.. Fighting!!”ucapku, lalu berlari keluar dari ruang musik itu.

Aku terus berlari menjauh dari kampus, menuju rumahku. Kenapa aku merasa menyesal? Ah, sebenarnya  perasaan apa yang menyusup ke hatiku ini? Penyesalan ‘kah? Rasa sakit hati, ‘kah? Atau rasa kecewa? Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku berlari sambil menangis sesengukan. Lama-lama, aku tidak tahan jika diperlakukan seperti ini oleh Jonghyun Oppa. Bukannya aku menuntut lebih darinya, hanya saja dia tidak pernah meluangkan waktunya untuk pergi bersamaku. Baginya, apakah band lebih penting daripada aku? Berlawanan dengan ucapannya saat ia menyatakan cinta  kepadaku. Bukankah, dulu ia selalu berkata ‘kau adalah segalanya bagiku’? Kemana perginya kata-kata manis itu? Kenapa pula itu hanya bualan manis belaka? Aku mendengus. Ada apa denganku? Kenapa omonganku tiba-tiba melantur begini? Ahh, mungkin saja karena suasana hatiku sedang  tidak nyaman.

Tiba-tiba muncul pertanyaan yang mengejutkanku. Apakah aku masih bisa bertahan?

“Aku pikir aku masih bisa…”desisku pada diriku sendiri.

***

“Jieun…”kata Minhyuk, dengan muka konyolnya. “Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

“Ne?”tanyaku, polos.

Aku menceritakan gundah gulanaku kepadanya.

“Jonghyun Hyung memang seperti itu. Baginya, musik adalah segalanya.”ungkapnya, sambil tersenyum.

Musik adalah segalanya bagi Oppa? Tidak. Dia jelas-jelas mengatakan kepadaku, bahwa aku adalah segalanya bagi Oppa. Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti… tentang namja.

Flashback Off

***

“Kami sudah putus..”ucapku kepada Minhyuk.

Minhyuk langsung bangkit dari tempat duduknya.

“MWO?”sergahnya, tidak percaya.

Aku hanya menunduk.

“Naneun geuege chayeotsseoyo…”gumamku.

Minhyuk menatapku, masih tidak mengerti.

“Wae?”tanyanya, air muka tolol masih terpasang di wajahnya.

Aku memalingkan muka.

“Aku sudah tidak tahan lagi, Minhyuk. Kesabaranku ada batasnya.”

Minhyuk masih menatapku, bingung dengan situasi ini.

“Tapi apa alasannya?”cercanya.

Aku menatapnya, marah.

“Bukankah kamu sendiri yang bilang, bagi Oppa, musik adalah segalanya. Lalu, apa arti kehadiranku baginya?”tuntutku.

Minhyuk melongo.

“Ne?”katanya, seperti orang tolol.

Aku berpikir sejenak.

“Aku tidak bisa bersama dengan Oppa, itu saja. Dia selalu mengacuhkanku.”curhatku.

Minhyuk menghela napas.

“Baiklah, kalau itu memang pilihanmu.”ujarnya sambil menepuk pundakku.

Ia meninggalkanku sendirian. Lama sekali, aku masih duduk terdiam.  Aku menghela napas, lalu beranjak pulang.

***

Jonghyun POV

“Hyung ayo pulang, di sini dingin.”teriak Minhyuk dengan gigi bergemeletuk.

Aku menggigil, benar-benar dingin. Tapi hatiku lebih menggigil, terasa hampa.

“Babo!!!”sumpah Minhyuk, marah. “Sudah, ayo pulang…”

Aku tidak mendengarkan perkataan Minhyuk. Minhyuk berjongkok di depanku.

“Sudahlah Hyung, baginya kau hanya nappeun namja, tidak lebih dari itu…”gelegarnya.

Aku menoleh ke arahnya. Kata ‘nappeun namja’ membuat diriku sadar.

“Na-nappeun namja?”tanyaku.

Minhyuk diam saja. Hatiku mencelos. Aku mengutuk diriku sendiri. Ya Tuhan, apakah karena aku sering menolak ajakannya? Apakah karena aku sering mengacuhkannya? Pertanyaan-pertanyaan itu berjejal di kepalaku, membuatku semakin pusing. Jadi itu kesalahanku? Jadi itu hal yang tidak disukai Jieun dariku? Kenapa aku baru menyadarinya? Terlambat, gusarku. Semuanya sudah terlambat. Mungkinkah dia merasa lebih bahagia,  setelah berpisah denganku?

“Kajja,”ajak Minhyuk. “Ayo pulang…”

Akhirnya aku bangkit, dan menuruti ajakan Minhyuk.

***

Seperti biasa aku bersemedi di perpustakaan. Membenamkan diri dalam buku-buku tebal, untuk mencoba mencuci pikiranku dari bayang-bayang Jieun. Musim silih berganti, tapi bayang-bayang Jieun tetap saja hinggap di kepalaku. Rasa penyesalan merongrong pikiranku, benar-benar memuakkan. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat Jieun. Di kampus, di studio, di perpustakaan, di aula, aku tidak pernah melihatnya.

Tiba-tiba terdengar suara ‘tok tok tok’. Aku menggelengkan kepalaku dengan keras, menghalau bayangan Jieun menghinggapi kepalaku lagi. Apakah aku masih ‘begitu’ mencintainya? Sampai suara ‘tok tok tok’ itu membayangi diriku? Suara ‘tok tok tok’ itu muncul lagi. Apa aku melantur? Ahh, sepertinya tidak. Suara itu muncul lagi.

Aku mendongak, berharap itu adalah Jieun. Benar saja, Jieun, dengan setelan kemeja putih dan celana jeans, datang bersama teman-temannya. Mereka bersendau gurau. Tidak ada jejak kesedihan yang terpancar dari matanya. Ia tampak bahagia, tampak luar biasa bahagia.

Jieun melihatku, mata kami saling bertemu selama sesaat. Dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya. Aku  melenguh, kecewa. Ia berbalik, meninggalkan perpustakaan, membuatku sakit hati. Aku tersenyum kecut. Kwaehn-chanha, batinku pada diriku sendiri. Setidaknya, dia bisa hidup lebih bahagia… daripada aku.

_End_

By: Ima Ginne

Twitter:@ima_sonja

4 thoughts on “[FF CONTEST] More Than You

    • jeongmal mianhae,sebelumnya maaf banget kalo banyak kata-kata yang readers nggak tahu😦
      ini aku kasih contekannya. aku pilih kata-kata yang masih asing. kurang lebih artinya spt di bawah ini:
      geuman haja:ayo kita putus
      moreusinayo?:Don’t you know?
      malhae:bicaralah
      ppali:cepat
      eopseo:tidak ada
      kenyang:hanya
      ije:sekarang
      andwae:tidak boleh
      ajik saranghanabwa:akumasih mencintaimu
      kojitmal:bohong
      silhda:hate
      Eotteohke?:bagaimana?
      Joesonghamnida:maaf
      nae yeojachinguga doeeojullae?:maukah kau menjadi pacar(pr)ku?
      Naneun geuege chayeotsseoyo:dia putus denganku
      nappeun namja:bad guy

  1. ceritany bagus chingu^^
    yah walaupun ada beberapa bakor yg ga aq ngerti..
    awalny aq bingung bacany…tp setelah diamati lg bru paham..hehehe *efek bru bangun tidur*
    keep writing^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s