[FF CONTEST] Never Too Late

Never Too Late

 

You said me why you live so boring

It maybe so right, didn’t denial

*

Kang Ah Na berjalan menyusuri koridor kampusnya dengan wajah datar, sesekali melempar senyuman basa-basi pada beberapa mahasiswa yang menyapanya, sekadar sopan santun.

 

Saat akan melewati mading kampus, yeoja itu tertarik untuk mengintip isinya sebab─banyak sekali mahasiswa yang berkerumunan di sana. Tak memerlukan usaha banyak─karena beberapa mahasiswa langsung memberi jalan padanya, Ah Na sudah sampai di depan mading, mengamati apa yang menjadi pusat perhatian dengan saksama.

 

Namanya ada di urutan paling atas. Top Student. Mahasiswa peringkat satu dari semua jurusan.

 

Ah Na mengangkat sedikit bibirnya ke atas, lalu perlahan keluar dari kerumunan.

 

Hidupnya sangat sempurna. Dia mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Orang tua yang sangat perhatian, harta yang melimpah, teman-teman yang sangat peduli dan menyayanginya, juga kehidupan sekolah yang sangat mulus.

 

Namun setelah jauh dari kerumunan, senyum Ah Na memudar dengan sendirinya. Yeoja itu menghela napas panjang, lantas berjalan sambil mengetikkan dua baris kalimat untuk sahabatnya sejak SMA.

 

“Hei, aku peringkat pertama lagi.

Hidupku sempurna, eo?─atau membosankan?”

 

Tapi terkadang hidup sempurna malah terasa datar. Dan itulah yang Ah Na rasakan, datar yang membosankan─karena Ah Na tak perlu berusaha keras untuk meraih apa yang diinginkannya. Tak pernah ada sangkalan dan keraguan dari pernyataan tersebut.

*

I wanna make a time to seek me alone

Just I wanna keeping you on my step

*

Lee Jong Hyun menghentikan tarian jemarinya di atas kertas saat ponselnya bergetar. Namja itu menyimpan note dan gitar yang ada di pangkuannya ke lantai, lantas mengeluarkan ponselnya, membaca pesan singkat yang dikirim oleh sahabatnya sejak SMA dengan kening mengerut. Lantas tiba-tiba saja, Jong Hyun termangu. Otaknya mendadak sibuk mereka ulang dan menengok pribadinya ketika ia masih SMA dulu.

 

Playboy. Peringkat kedua terakhir angkatan. Pemalas. Tidak punya harapan untuk masa depan.

 

Jong Hyun tiba-tiba saja merasa tertampar. Meski pun saat SMA hidupnya sangat penuh dengan warna dan berlika-liku, namun jika sikapnya yang dulu disandingkan dengan Ah Na, dia bukan apa-apa.

 

Jong Hyun menyisir rambut dengan jemari, tiba-tiba saja merasa kecil. Dia sangat brengsek saat di SMA dulu, mencampakkan hati para yeoja seolah mereka sampah tak berharga. Kesadaran baru mulai menghampirinya ketika ia bertemu dengan Ah Na.

 

Yeoja yang telah merubahnya. Yeoja yang telah membuatnya mempunyai masa depan. Dan yeoja yang sampai saat ini pun masih betah bertahta di hatinya.

 

Jong Hyun memang mencintai Ah Na, sejak dulu. Namun dia sama sekali belum mempunyai keberanian untuk menyatakan perasaannya. Bukan, Jong Hyun bukan seorang pengecut, dia hanya tak ingin Ah Na pergi. Ah Na pernah menolaknya sebagai seorang kekasih, ia hanya menerima Jong Hyun sebagai sahabat.

 

Jong Hyun hanya tak ingin kehilangan Ah Na dengan memaksakan kehendaknya, karena Jong Hyun ingin selalu menjaga Ah Na dalam setiap detak jantungnya, dalam setiap hela napasnya, dan dalam seluruh langkahnya. Sejak Ah Na datang dalam hidupnya, Jong Hyun tak pernah ingin meminta lebih. Ia hanya ingin menjaga Ah Na agar tetap berada dalam langkahnya.

 

Otak Jong Hyun kemudian berputar ke belakang, mereka ulang kejadian-kejadian di SMA dulu. Mengulang semua memori yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

*

You come up in front of me I wonder in my eyes

I know that how wonder brilliant things are in my life

*

Seorang yeoja yang tengah diapit di antara tubuh Jong Hyun dan tembok mengangkat kepala pada Jong Hyun, tersenyum malu-malu sambil memainkan jarinya di seragam Jong Hyun. Beberapa saat kemudian, wajahnya sudah berubah menjadi manja.

 

Oppa, berhentilah merayuku, aku bisa meleleh lama-lama.”

 

Jong Hyun tersenyum nakal pada yeoja yang sedang digodanya. Senang melihat wajah bersemu yeoja itu yang kini tengah merajuk. “Ayolah, aku tahu kau menyukainya,”

 

Jong Hyun menggerakkan tangannya untuk membelai pipi yeoja tersebut, sebelum wajahnya mendekat, berniat mencium bibir merahnya yang menggoda.

 

“Jung Ha Na!”

 

Panggilan itu berhasil membuat Jong Hyun berhenti, dan wajah yeoja di dekapannya mendadak pias.

 

Kepala yeoja itu ragu-ragu menoleh, “An Na, ini bukan seperti yang kau bayangkan, aku tidak mengkhianati Kakakmu..”

 

Jong Hyun mendengus, lantas menjauhkan tubuhnya dari tubuh yeoja itu. Jong Hyun kemudian memutar bola mata─mengutuk siapa pun yang telah mengganggu acaranya─sebelum menolehkan kepala ke arah pengganggunya. Tapi, dia langsung terpana.

 

Wajah di hadapannya, hampir menyerupai sempurna. Meski pun datar tanpa ekspresi, tapi mata hitam yeoja itu seakan bisa memerangkapnya, memenjara ia dalam pesona tak berujung.

 

Detik itu juga Jong Hyun tahu, seberapa gemilang dan ajaib semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Benar-benar ajaib sampai ia bisa bertemu dengan bidadari yang begitu indah.

*

It makes me changed it all because I have a dream

*

“Ah Na-ya, ayolah, jangan mengabaikanku terus menerus,” Jong Hyun berkata setengah merajuk sambil terus mengejar langkah Ah Na yang sangat cepat.

 

Sudah hampir 3 bulan ini Jong Hyun mengejar-ngejar Ah Na─yang berarti 2 bulan lagi mereka akan lulus dari SMA, dia bahkan mengabaikan seluruh yeoja yang berdatangan padanya hanya demi Ah Na. Namun sangat sial, yeoja itu bahkan tak meliriknya sama sekali, padahal biasanya yeoja mana pun akan terpesona oleh karismanya.

 

Ah Na memang berbeda.

 

“Berhentilah mengejar-ngejarku, Jong Hyun-ssi,” tukas Ah Na tiba-tiba, menatap datar pada Jong Hyun yang terengah-engah di sebelahnya.

 

Jong Hyun memamerkan senyum,menggeleng yakin,  “Ani!”

 

Ah Na mengangkat sebelah alis, tapi ekspresi datar di wajahnya tidak berubah. “Dengar, aku tidak tertarik untuk mempunyai pacar seorang playboy sepertimu.”

 

Jong Hyun langsung cemberut, “Aku sudah berhenti menjadi playboy sejak mengejarmu,”

 

“Tapi kau akan menjadi playboy lagi jika sudah mendapatkanku, bukan?”

 

Jong Hyun hampir saja tersedak mendengarnya, merasa pertanyaan Ah Na telak menohok hatinya. Namja itu menatap Ah Na dalam-dalam, lalu menelan ludah. Apakah memang akan seperti itu?

 

Ah Na mengangkat sedikit sudut bibirnya menjadi senyum sinis melihat Jong Hyun diam, lalu kembali melangkah. “Aku bahkan tidak akan menerimamu sebagai teman kalau kau mempunyai sifat seperti itu,”

 

Jong Hyun terenyak mendengar perkataan Ah Na. Selama beberapa detik ke depan ia sibuk dengan berbagai macam pikiran yang masuk ke otaknya. Ia tak mungkin merelakan Ah Na, keinginannya untuk mengenal Ah Na lebih dalam sangat kuat, namun, jika harus merelakan kesenangannya selama ini, Jong Hyun pun ragu.

 

Tapi beberapa saat kemudian, Jong Hyun segera mengejar Ah Na, tangannya mencengkeram tangan yeoja itu dan menatapnya dalam-dalam.

 

“Aku akan berubah, Ah Na-ya, biarkan aku membuktikannya. Untuk saat ini, izinkan aku menjadi sahabatmu.”

 

Jong Hyun akhirnya memutuskan untuk merelakan kesenangannya, karena ia sadar, jauh di dalam hatinya, ia memiliki impian yang ingin dikejarnya untuk Ah Na.

*

That is a song for U

I can sing a song till to the end

If I can’t meet u still, forever

I don’t know what will be happen to me now

*

Jong Hyun tersentak dari memori masa lalu saat angin dingin berembus menerpa wajahnya, senyum tanpa sadar langsung terulas di bibirnya. Ia mengulum bibir, mengingat pertemuannya dengan Ah Na dan mengingat bagaimana mereka bisa menjadi sepasang sahabat seperti sekarang memang selalu menciptakan sensasi menakjubkan tersendiri untuknya.

 

Jemari Jong Hyun kemudian mengetikkan kalimat balasan untuk Ah Na, menyuruhnya menemui Jong Hyun sekarang. Setelah melihat tulisan “delivered” di ponselnya, Jong Hyun menyimpan ponsel itu kembali, lantas meraih gitar dan note kecilnya lagi.

 

Dia sedang menggarap sebuah lagu untuk Ah Na, untuk bidadari yang membawanya ke jalan penuh impian. Setelah lagu ini selesai, Jong Hyun bahkan yakin dia bisa menyanyikan lagu itu untuk Ah Na hingga akhir.

 

Lirik terakhir beserta nadanya berhasil ia goreskan di atas kertas. Jong Hyun membaca ulang setiap kata yang dituliskannya, lantas tersenyum puas.

 

Mungkin, jika dulu dia tak bertemu Ah Na saat akhir masa SMAnya, selamanya Jong Hyun tak bisa menjadi dirinya yang sekarang─membanggakan dan pintar.

 

Dia juga tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padanya sekarang jika Ah Na tak muncul dalam hidupnya. Menjadi seorang pecundang, mungkin? Yang berjalan ke sana-sini menggoda yeoja tanpa mempunyai masa depan?

*

I know that it something most important now yes that is you

Even if slow compared with other one, it doesn’t matter anymore to me

It is a timely encounter of destiny

It’s never too late

*

Pintu atap fakultas tempat Jong Hyun berada sekarang tiba-tiba saja terbuka. Jong Hyun tersentak dan memutar kepala, namun senyum cepat merekah di bibirnya saat melihat Ah Na yang datang.

 

Melihat Ah Na berjalan ke arahnya dengan senyum tipis itu membuat Jong Hyun tersadar bahwa Ah Na adalah hal terpenting baginya untuk sekarang. Meski pun nantinya ada yang orang lain yang menandingi Ah Na, bahkan melampauinya, itu bukan persoalan lagi bagi Jong Hyun. Karena ia takkan berpaling.

 

“Lagumu belum selesai juga?” tanya Ah Na setengah mencibir saat duduk di sebelah Jong Hyun.

 

Jong Hyun terkekeh kecil, mengacak rambut Ah Na. “Tentu saja sudah selesai, kau ingin mendengarnya?”

 

Saat melihat Ah Na mengangguk kecil sambil tersenyum, Jong Hyun tanpa ragu meraih gitarnya─dengan mata yang tak pernah lepas memandang lembut manik hitam Ah Na yang sejak dulu memesonanya.

 

“Lagu ini berjudul ‘Never Too Late’, selamat mendengarkan..” Setelah mengatakan kalimat itu, Jong Hyun mulai bernyanyi.

 

Mata indah Ah Na yang balas menatapnya dengan lembut membuat pikiran liar pelan-pelan merayap dalam otak Jong Hyun. Dia ingin sekali memiliki yeoja ini, mengumumkan pada dunia bahwa Ah Na adalah miliknya. Tapi kapan? Apakah sekarang saatnya? Jong Hyun sudah terlau lama menunggu.

 

Jadi, mungkin wajar jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk Jong Hyun menggapai takdirnya, karena tak akan pernah ada kata terlambat untuk menggapai sumber kebahagiaannya yang utama. Kang Ah Na.

*

I say you listen to my breathing

It is a belief of dreaming yeah certainly

I won’t be I’m in the past any more

Former trivial every day

Was practice of the purpose which can meet you at all

I wanna shout and unbearable to the anymore

*

It’s never too late,” Jong Hyun mengakhiri petikan gitarnya, menatap Ah Na penuh harap, “Bagaimana?”

 

Ah Na mengerjapkan mata, menatap Jong Hyun yang baru saja menyelesaikan nyanyiannya dengan pandangan tak terbaca. Jika boleh jujur, suara Jong Hyun sangat merdu, dan lagu yang dibawakannya tadi juga begitu indah, penuh dengan perasaan dan emosi. Ah Na bahkan bisa merasakan hatinya bergetar mendengar nyanyian Jong Hyun.

 

Ah Na kembali menatap Jong Hyun kemudian mengulum bibir, tersenyum tulus untuk namja itu.

 

“Indah,” bisiknya singkat.

 

Jong Hyun menggigit bibirnya agar tidak tersenyum aneh. Namja itu lalu menyimpan gitar, ragu-ragu meraih jemari Ah Na untuk digenggamnya, membuat Ah Na seketika tersentak dan menatap Jong Hyun bingung. Tapi Jong Hyun tak akan mundur sekarang, ia telah merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggapai Ah Nanya.

 

“Hyun-ah,” kata Ah Na bingung.

 

Jong Hyun tersenyum kecil, berusaha sekeras mungkin menekan kegugupannya. “Ah Na-ya, aku tidak peduli seberapa membosankannya hidupmu, karena aku percaya aku bisa mengubah semua itu.” Mulainya, lalu menghela napas panjang, “Tidakkah kau berpikir aku sudah lama menunggu?”

 

Ah Na seketika tersentak, matanya lantas buru-buru berlarian ke arah lain, kemanapun asal bukan mata Jong Hyun. Apakah seserius ini Jong Hyun mencintainya? Sampai rela menunggu sekian tahun? Tapi Ah Na tak tahu apakah ia juga mencintai Jong Hyun atau tidak. Hatinya kalut dan penuh dengan keraguan.

 

“Tapi, Hyun-ah─”

 

“Kau mendengar detak jantungku?” sela Jong Hyun sambil membawa jemari Ah Na menyentuh dadanya.

 

Ah Na menggigit bibir saat merasakan jantung itu berdetak sangat kencang di luar normal. Tangan Jong Hyun yang lainnya menangkup wajah Ah Na, hingga yeoja itu mau tak mau harus menatap Jong Hyun.

 

“Jantung ini, berdetak tak beraturan hanya untukmu, dan setiap helaan napasku juga untukmu, kau bisa mendengarnya bukan? Kau bisa merasakannya bukan?”

 

Ah Na tak bisa berkata-kata, bibirnya mendadak kelu.

 

“Kau adalah sumber mimpiku Ah Na-ya, dan detakan jantung juga napasku adalah keyakinan akan impian yang kaubawa. Ah Na, saranghae, jeongmal saranghae, izinkan aku menjadi kekasihmu..”

 

Ah Na bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik, sebelum ia akhirnya membuka mulut, membalas pernyataan Jong Hyun dengan lirih dan tergagap. “Jong Hyun, kau… aku… maksudku, aku belum yakin dengan semua ini. Aku takut, kau.. SMA.. waktu itu─”

 

“Aku sudah berubah Ah Na,” tandas Jong Hyun seketika, akhirnya mengerti bahwa Ah Na masih meragukannya. “Aku tidak akan menjadi diriku yang dulu lagi, aku tetap akan menjadi diriku yang sekarang. Lagu tadi juga untukmu, aku menciptakannya sebagai bukti kesungguhanku. Kumohon, Ah Na..”

 

Jong Hyun mengucapkan kalimat itu tanpa keraguan sedikit pun, sebab ia yakin, benar-benar yakin bahwa dirinya yang dulu setiap hari selalu menyepelekan segala hal hanyalah salah satu bentuk latihan agar ia bisa bertemu dengan Ah Na seperti sekarang, dan dia benar-benar tak akan kembali seperti dulu, ia tulus ingin bersama Ah Na, menemani yeoja itu sepanjang hidupnya.

 

Ah Na mencoba menelaah setiap kata yang dilontarkan oleh Jong Hyun, hatinya sebenarnya masih penuh dengan keraguan, namun begitu melihat mata Jong Hyun yang penuh ketulusan, semua keraguan itu perlahan sirna. Mungkin, memang sudah saatnya Ah Na mencairkan hatinya yang selama ini membeku, membuka dirinya kepada orang lain agar kehidupannya tak lagi membosankan. Lagipula, Jong Hyun sudah menunjukkan keseriusannya selama ini. Apa salahnya jika Ah Na memberikan Jong Hyun kesempatan?

 

Ah Na mengulur dan mengembuskan napas perlahan. Memang mungkin sudah saatnya dia juga mengakui bahwa kehadiran Jong Hyun sekarang sudah menjadi sangat berarti baginya. Setitik rasa yang selama ini Ah Na anggap semu mungkin memang bersemayam di hatinya untuk Jong Hyun.

 

Maka atas semua pemikiran itu, Ah Na mengangguk perlahan.

 

Jong Hyun mengerutkan kening tidak mengerti, “Apa?”

 

Ah Na terkekeh kecil, menepis tangan Jong Hyun yang masih menangkup pipinya lantas memukul dada namja itu ringan. “Aku menerimamu, pabo!”

 

Jong Hyun terperangah, butuh beberapa detik bagi namja itu untuk mengolah segala informasi yang diterimanya sebelum kesadaran akhirnya menamparnya. Jong Hyun memekik kecil, lantas menghambur memeluk Ah Na dengan erat.

 

Gomawo, gomawo, Ah Na-ya, kau membuatku ingin sekali berteriak lepas sekarang juga. Mengatakan pada dunia bahwa kau milikku!”

 

Ah Na tertawa kecil, lalu balas memeluk Jong Hyun dengan tak kalah erat. “Jangan lakukan itu, kau akan terlihat seperti orang bodoh.”

 

“Tapi aku benar-benar senang!”

 

Ah Na melepaskan pelukan mereka, menatap mata Jong Hyun dengan lembut. “Penuhi janjimu, ne? Bawa pelangi ke dalam hidupku yang hitam putih ini, arraseo?”

 

Jong Hyun membalas tatapan Ah Na dengan tak kalah lembut, perlahan tangannya bergerak, mengusap pipi Ah Na dengan lembut. “Tentu saja, akan kulakukan apa pun untukmu. Saranghae..”

 

Ah Na menggenggam tangan Jong Hyun yang masih membelai pipinya, tersenyum hangat, “Nado saranghae..” bisiknya.

 

Manik mereka beradu dalam keheningan. Membiarkan sunyi yang hangat mengisi kekosongan percakapan. Cukup lama bertatapan, Jong Hyun akhirnya mulai memupus kesenjangan di antara keduanya, tergoda untuk mengecap bibir Ah Na yang selama ini ia mimpikan.

 

Ah Na menuruti intuisinya untuk menutup mata hingga sedetik kemudian dia bisa merasakan sensasi lembut yang luar biasa di bibirnya.

 

Dan begitu bibir mereka bertaut untuk saling meleburkan asa, Jong Hyun tahu bahwa Ah Na memang satu-satunya yang ia inginkan, sumber kebahagiaannya, mimpinya. Jong Hyun tidak menyesal menunggu bertahun-tahun untuk ini, sebab ia yakin, ia takkan pernah terlambat untuk menggapai Ah Na.

 

Jong Hyun dapat merasakan perutnya yang tergelitik, seakan jutaan kupu-kupu berterbangan di sana. Tapi ia tak peduli, Jong Hyun sangat bahagia sekarang.

 

END

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s