[FF CONTEST] TEARDROPS IN THE RAIN

[FF CONTEST]

TEARDROPS IN THE RAIN

Di pagi yang cerah ini Yonghwa bangun dengan semangat, dia bangun pagi-pagi sekali karena dia akan menjemput pujaan hatinya dan akan berangkat ke sekolah bersama pujaan hatinya itu. Yonghwa mengambil sepeda dari garansi rumahnya, dan mengayuhnya dengan  senyum serta semangat. Sesampainya di rumah pujaan hatinya, Yonghwa masih setia menunggu pujaannya itu keluar dari rumahnya yang sederhana. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya sang pujaan hati telah muncul.

“Annyeong, Hyesang-ah,” sapa Yonghwa saat Hyesang keluar dari rumahnya.

“Oh, Yonghwa, kau benar-benar menjemputku?” tanya Hyesang terkejut.

“Tentu, mana mungkin aku berbohong padamu,” kata Yonghwa.

“Baiklah kalau begitu, kajja,” ajak Hyesang segera.

Yonghwa pun segera mempersilahkan Hyesang untuk duduk di bangku belakang sedangkan Yonghwa yang akan mengayuh sepedanya. Hyesang adalah perempuan dambaan semua pria, hampir semua siswa laki-laki yang satu sekolah dengannya suka padanya, termasuk Yonghwa. Di perjalanan mereka hanya diam saja, tak ada yang dibicarakan. Sesampainya di sekolah Yonghwa memarkir sepedanya.

“Yonghwa, gomawo,” kata Hyesang sambil memamerkan senyuman termanisnya. Yonghwa yang melihat hal itu hanya diam mengagumi kecantikan Hyesang.

“Ne,” kata Yonghwa tanpa sadar.

“Aku pergi ke kelas dulu ya, annyeong,” kata Hyesang melambaikan tangannya tapi Yonghwa masih saja diam mengagumi senyuman Hyesang. Yonghwa terus memperhatikan Hyesang bahkan saat Hyesang telah masuk ke kelasnya dia masih memandanginya. Yonghwa tersadar saat Junghyun menyadarkannya.

“Yaa, kau ini melamun saja,”

“Omo, kau ini..” kata Yonghwa terkejut.

“Hyung, apa yang sedang kau lihat sih? Sampai kau begitu memikirkannya?” tanya Junghyun sambil berjalan pergi bersama Yonghwa.

“Bidadariku, dia sangat cantik,”

“Bidadarimu siapa?”

“Kau memangnya tidak tahu bidadari di sekolah kita?”

“Bidadari di sekolah kita? …. maksudmu Hyesang?”

“Hmm,” kata Yonghwa mengangguk.

“Jadi, tadi yang kau bonceng Hyesang?” tanya Junghyun memastikan.

“Hmmm,” lagi-lagi Yonghwa mengangguk.

“Wahh, kau hebat hyung, bisa kencan dengannya,”

“Tidak aku, tidak kencan dengannya, tapi suatu saat nanti aku akan kencan dengannya,” kata Yonghwa percaya diri. Mereka masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa.

***

Saat makan di kantin, Hyesang masih memikirkan Yonghwa, dari tadi berangkat ke sekolah sampai pelajaran pun dia masih memikirkan Yonghwa, entah apa yang dia rasakan pada Yonghwa, dari pertama melihatnya, Hyesang selalu memikirkannya. Injung yang duduk di depan Hyesang menjadi ingin tahu apa yang sebenarnya Hyesang pikirkan.

“Hyesang-ah, apa yang sedang kau fikirkan??” tanya Injung.

“Ani,” balas Hyesang sambil memamerkan senyumannya.

“Mana mungkin tidak ada, dari tadi kau senyum-senyum terus?”

“Akukan murah senyum, heheh,” kata Hyesang bercanda.

“Ah, Hyesang ceritakan padaku dong!!” pinta Injung.

“Baiklah. Karena kau sahabatku akan aku ceritakan,” “tadi aku berangkat sama Yonghwa, dia jemput aku di rumah. Aku senang banget,” bisik Hyesang di telinga Injung.

“Oh jadi yang dibicarakan sama semua siswa itu kau dan Yonghwa?”

“Memangnya mereka bicara apa?”

“Mereka bilang kalau Raja dan Ratu sekolah kita bersatu,”

“Kok bisa gitu?” tanya Hyesang heran sambil meminum air putih yang dibelinya tadi.

“Ya iyalah, kan tahun ini Yonghwa yang jadi Raja sekolah dan kau yang jadi Ratu sekolah,”

“Itukan cuma acara pensi,” kata Hyesang mengelak.

“Menurutmu mungkin cuma acara pensi, tapi menurut mereka itu penting” kata Injung meyakinkan.

“Gitu ya?”

“Hmm” Injung mengangguk.

Hyesang masih bingung kenapa mereka mengira acara pensi seperti itu penting, padahalkan itu cuma untuk seru-seruan.

***

Setelah pulang sekolah Yonghwa menunggu Hyesang di depan gerbang sekolah, setelah menunggu sekitar 5 menit, Hyesang pun berjalan keluar bersama Injung, Yonghwa memanggil Hyesang.

“Hyesang-ah,” panggil Yonghwa.

“Ne, ada apa?” tanya Hyesang tapi sebelum Yonghwa menjawab Injung bicara duluan.

“Hyesang-ah aku pulang dulu ya, selamat bersenang-senang, annyeong,” setelah mengetakan hal itu Injung berlari pergi menjauhi Hyesang dan Yonghwa.

“Yaa, Injung-ah, dia benar-benar,” teriak Hyesang kesal.

“Sudahlah biarkan saja, ayo ikut aku,” ajak Yonghwa, Yonghwa pun menarik tangan Hyesang sambil berlari kecil menuju taman belakang sekolah, di sana Yonghwa akan memberikan kejutan pada Hyesang. Sesampainya mereka di sana, Yonghwa dan Hyesang berdiri di atas rumput-rumput hijau yang indah. Yonghwa memandang mata Hyesang, begitu juga sebaliknya, seketika jantung mereka berdetak menjadi sangat kencang, Yonghwa menggenggam tangan Hyesang, sambil memikirkan kata-kata yang indah untuk disampaikan pada Hyesang.

“Hyesang-ah,”

“Ne,” kata Hyesang sambil menatap maa Yonghwa dalam-dalam.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,”

“Katakan saja, aku akan mendengarkannya,”

Yonghwa menghela nafas panjang, “mungkin aku bukan seorang yang puitis jadi maafkan aku kalau kata-kata kurang romantis…”

Hyesang tersenyum, “kau ingin berkata apa? Katakan saja?”

“Sarangheo Hyesang-ah, maukah kau menjadi kekasihku?” ketika Yonghwa mengatakan hal itu waktu terasa berhenti di situ. Hyesang masih belum juga menjawabnya.

“A..ku, a…ku mau menjadi kekasihmu,” kata Hyesang sambil memamerkan senyumnya, senyum pun juga terukir indah di wajah Yonghwa.

Tiba-tiba dari balik pohon Junghyun, Minhyuk dan Jungshin datang membawa banyak balon yang sudah dirangkai menjadi sebuah kalimat untuk Hyesang yaitu I❤ U (setidaknya begitu yang di bentuk), Yonghwa pun membalik kan tubh Hyesang mengarah ke tempat Junghyun, Minhyuk dan Jungshin berada. Hyesang cukup dibuat kaget dan senang melihat balon-balon itu.

“Waah, yepuda,” kata Hyesang kagum.

“Kau suka?” tanya Yonghwa.

“Hmm,” Hyesang mengangguk.

“Mereka yang mengusulkan balon-balon itu, aku sih ikut saja,” kata Yonghwa.

“Balon ini akan menyampaikan harapan kita pada seisi langit,” kata Minhyuk sambil berlari kecil ke arah Yonghwa dan Hyesang lalu menyerahkan 2 buah balon pada mereka, “sampaikan harapanmu pada balon ini lalu terbangkan dia ke langit,” jelas Minhyuk. Hyesang dan Yonghwa pun membisikan harapannya pada balon yang mereka pegang, dan menerbangkan mereka ke angkasa.

“Sekarang apa harapan kalian?” tanya Hyesang.

“KITA BERHARAP YONG HWA DAN HYE SANG BERSAMA SELAMANYA” teriak Junghyun, Minhyuk dan Junghyun sambil menerbangkan balon-balon yang mereka bawa tadi.

***

2 tahun kemudian

Dua tahun telah berlalu hubungan Yonghwa dan Hyesang masih berjalan dengan sangat baik, sekarang mereka telah lulus SMA dan menjalani profesi mereka. Yonghwa dan kawan-kawan telah membuat sebuah band yang bernana CN BLUE sedangkan Hyesang menjadi seorang fotografer terkenal.

***

Malam ini mereka merayakan 2 tahun terbentuknya CN BLUE. Mereka merayakannya dengan makan malam bersama.

“Cheerss,” teriak mereka sambil mengangkat gelas yang berisi soju lalu meminumnya.

“Wah, 2 tahun begitu cepat ya,” kata Jungshin.

“Iya, yang aku ingat baru kemarin aku lulus SMA,” kata Minhyuk.

“Sudah, jangan banyak bicara ayo makan,” kata Junghyun sambil menyantap makanan yang ada dihapannya.

Ketika mereka sedang makan-makanan mereka masing-masing sambil bercanda bersama, tiba-tiba hidung Yonghwa mimisan. Semua kaget melihat hal itu, Hyesang yang melihat hal itu duluan menjadi sangat terkejut.

“Yonghwa oppa neo gwaenchanh-a?” tanya Yonghwa khawatir.

“Nan gwaenchanh-a, geogjeonghajima,” kata Yonghwa lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Hyesang masih saja khawatir meskipun Yonghwa sudah bilang dia tidak apa-apa.

“Hyesang-ah geogjeonghajima, mungkin dia cuma kecapekan saja,” kaa Junghyun menenangkan.

“Iya, soalnya kan akhir-kahir ini kita memang banyak job,” tambah Minhyuk.

“Dia kalau kecapekan biasanya juga mimisan,” tambah Jungshin lagi.

“Gitu ya?” tanya Hyesang memastikan.

“Hmmm,” balas Junghyun, Minhyuk, dan Jungshin mengangguk bersama-sama.

“Sudahlah Hyesang geogjeonghajima, Yonghwa-kan laki-laki dia bisa mengatasinya kok,” kata Injung ikut menenangkan.

Setelah kurang lebih 5 menit Yonghwa pergi ke kamar mandi, Yonghwa pun kembali. Hyesang kembali menanyakan pertanyaan yang tadi dia tanyakan.

“Oppa, kau benar-benar tidak apa-apa?” tanya Hyesang lagi.

“Aku tidak apa-apa tenang saja, aku cuma kecapekan saja kok,” kata Yonghwa.

“Maka dari itu oppa harus jaga kesehatan, jangan kecapekan, makannya yang teratur jangan telat terus, oppa juga harus tidur cukup jangan begadang terus!!” jelas Hyesang panjang kali lebar.

“Ne..” kata Yonghwa.

Setelah mereka makan bersama mereka pergi pulang, Yonghwa mengantar Hyesang pulang ke rumahnya naik mobil. Yonghwa duduk di bangku sopir, sedangkan Hyesang duduk di bangku penumpang. Yonghwa segera menstater mobilnya dan menancap gas menuju rumah Hyesang. Ketika mobil Yonghwa berhenti di rambu-rambu lalu lintas, tiba-tiba Yonghwa mengalami sesak nafas. Hyesang sangat bingung mengalami hal itu. Dia segera memindahkan Yonghwa ke bangku penumpang tak peduli ada banyak mobil yang marah dari belakang mobil Yonghwa sebab mobil orang-orang itu tidak bisa berjalan karena terhalang mobil Yonghwa. Setelah memindahkan Yonghwa ke bangku penumpang Hyesang mengambil alih kemudi lalu segera menancap gas menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Hyesang segera meminta tolong kepada para suster dan dokter untuk membantu Yonghwa keluar dari mobil, Yonghwa pun segera ditangani oleh dokter karena ini merupakan hal yang sangat gawat. Hyesang menghubungi Injung karena Hyesang sangat khawatir pada Yonghwa.

“Yoboseo,” kata Injung dari seberang.

“Injung-ah, Yonghwa oppa…Yonghwa oppa..”

“Yonghwa ada apa? Katakan yang jelas Hyesang-ah,” saat ini Injung dalam perjalanan pulang bersama Junghyun karena rumah mereka searah.

“Yonghwa oppa, masuk rumah sakit,”

“Mwo, memangnya apa yang terjadi pada kalian, kalian kecelakaan?” tanya Injung macam-macam, saat mendengar kata-kata Injung, Junghyun langsung rem mendadak.

“Injung-ah cepat datang kemari!!” pinta Hyesang dengan suaranya yang sedikit terbata-bata karena ia menangis.

“Ne aku segera ke sana, kau tenang ya jangan panik. Di mana rumah sakitnya?” tanya Injung menenangkan Hyesang karena Injung tahu persis apa yang sedang Hyesang alami.

Hyesang pun memberitahukan Injung alamat rumah sakit tempat Yonghwa ditangani. Injung dan Junghyun pun segera pergi ke sana. Sejak tadi dokter belum juga keluar dari ruang UGD. Hyesang semakin khawatir dengan keadaan Yonghwa. Sekitar 15 menit kemudian Junghyun dan Injung datang.

Injung menghampiri Hyesang dan memeluknya, “bagaimana keadaan Yonghwa?”

Hyesang meneteskan air matanya dipelukan Injung, “aku tidak tahu, uisanim dari tadi belum keluar juga,”

“Tenanglah Yonghwa pasti akan baik-baik saja,” kata Junghyun yang berdiri di belakang Injung.

Tak lama kemudian dokter yang menangani Yonghwa pun keluar.

“Apa diantara kalian adalah keluarganya?” tanya dokter itu.

“Saya uisanim, saya adiknya,” jawab Junghyun segera. Hyesang melihatnya menjadi bingung.

“Kalau begitu tolong ikut saya ke ruangan saya,” kata dokter tadi lalu berjalan menuju ruangannya.

“Kalian masuk saja ke dalam, aku akan menemui uisanim,” kata Junghyun lalu ia mengikuti dokter tadi.

Hyesang dan Injung pun masuk ke ruangan Yonghwa di rawat. Hyesang melihat Yonghwa terkapar lemah diranjang rumah sakit merasa sangat sedih, dia menangis tersedu-sedu di samping Yonghwa.

“Hyesang-ah uljima!” pinta Injung.

“Bagaimana bisa aku tidak menangis melihatnya seperti ini, aku sangat tidak kuat, aku merasa aku tak bisa menjaga Yonghwa oppa,” kata Hyesang terbata-bata, Yonghwa mendengar kata-katanya dan terbangun.

“Nan gwaenchanh-a, geogjeonghajima,” kata Yonghwa.

“Kenapa hanya itu yang kau katakan dari tadi,” kata Hyesang kesal.

“Lalu aku harus berkata apa?” tanya Yonghwa dengan nada suaranya yang lemah.

“Katakan padaku keadaanmu yang sebenarnya, kau ini kenapa, kau dulu juga pernah mengalaminyakan saat kau bersamaku, katakan padaku jebal!!” pinta Hyesang.

“Apa yang harus aku katakan? Aku memang tidak apa-apa, aku harus berkata apa lagi, sudahlah uljima, tuk,” kata Yonghwa sembari tersenyum.

Tiba-tiba Junghyun datang dengan wajah murung. Tanpa basa-basi Hyesang langsung bertanya pada Junghyun apa yang sebenarnya terjadi pada Yonghwa.

“Junghyun oppa, apa yang dikatakan uisanim padamu?” tanya Hyesang segera setelah Junghyun datang.

“Uisanim hanya bilang Yonghwa butuh istirahat yang cukup,” kata Junghyun mencoba untuk tersenyum di depan Hyesang.

“Kau sudah tahu bagaimana keadaanku-kan? Sekarang kau pulang saja dengan Injung ya, aku ingin beristirahat!” kata Yonghwa.

“Ani, aku ingin di sini merawatmu,” kata Hyesang bersi keras.

“Kalau kau ada di sini aku tidak akan bisa istirahat dengan tenang, sudahlah kau pulang saja,”

“Tapi kau harus berjanji kalau besok saat aku datang kau harus sudah benar-benar sehat, arachi?” kata Hyesang.

“Arrasoo,” kata Yonghwa.

Hyesang pun pulang diantar Injung naik mobil milik Yonghwa.

***

Junghyun yang menemani Yonghwa di rumah sakit. Setelah Hyesang dan Injung pergi Yonghwa segera menanyakan keadaan yang sebenarnya pada Junghyun karena ia tahu yang dikatakan Junghyun tadi adalah bohong.

“Junghyun-ah, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Yonghwa.

“Hyung, sampai kapan kau akan menyembunyikannya?” tanya Junghyun.

“Apa maksudmu?”

“Hyung, cepat atau lambat Hyesang pasti akan tahu yang sebenarnya, jadi sebelum dia tahu dari orang lain sebaiknya kau memberi tahunya sendiri!” kata Junghyun.

“Apa aku semakin parah? Apa umurku sudah tak akan lama lagi?” tanya Yonghwa.

Junghyun menghela nafas panjang, “kata uisanim, kau harus segera mendapatkan donor tulang sumsum,”

“Sudah dua tahun aku menyembunyikannya dari Hyesang, baiklah aku akan megatakannya sendiri nanti, Junghyun-ah gomawo, kau sudah banyak membantuku, sekali lagi gomawo,” kata Yonghwa.

“Sudahlah hyung kau istirahat ya, aku akan menemanimu,” kata Junghyun.

Yonghwa hanya mengangguk mendengarnya.

***

Saat perjalanan pulang menuju rumah Hyesang, di mobil Yonghwa, Hyesang dan Injung hanya diam dalam fikiran mereka masing-masing. Ketika itu Hyesang meneteskan air mata, Hyesang pun mencari tisu di dalam mobil Yonghwa, ketika ia mencari tisu di dalam laci mobil, ia menemukan sebuah surat, ia pun mengambilnya dan membaca isi surat itu, Hyesang terkejut melihatnya, inikah sebabnya Yonghwa selalu melarangnya membuka laci ini.

“Injung-ah, cepat kembali ke rumah sakit sekarang!”

“Wheo?” tanya Injung.

“Palli ya palli,” kata Hyesang. Injung pun memutar balik mobilnya dan segera kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit Hyesang segera berlari menju ruang rawat Yonghwa.

“Oppa..” Yonghwa yang baru saja memejamkan matanya kembali membuka matanya karena mendengar suara Hyesang.

“Oppa kenapa tak mengatakannya padaku selama ini?” tanya Hyesang.

“Katakan apa?”

Hyesang meneteskan air matanya, “kenapa oppa tak pernah bilang kalau kau punya penyakit leukemia?” tangisan Hyesang semakin menjadi-jadi, “kau bermaksud menyembunyikannya dariku? Memangnya selama ini kau angggap aku apa? Orang asing?” tanya Hyesang bertubi-tubi.

“Aku tidak bermaksud begitu Hyesang-ah,” kata Yonghwa.

“Sekarang terserah oppa mau melakukan apa, aku tak peduli, aku tak akan menemuimu lagi oppa, aku benci kau oppa,” kata Hyesang lalu berlari keluar dari ruangan Yonghwa.

Hyesang menangis, dan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Injung, Hyesang tak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya nanti, Hyesang pergi ke taman yang sudah lumayan sepi, Hyesang menangis sejadi-jadinya. Ketika Hyesang menangis tiba-tiba awan menjadi mendung dan hujan deras membasahi tubuh Hyesang. Hyesang masih diam di tempatnya, tak bergerak sedikit pun dia masih menangis tersedu-sedu dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Injung menghampiri Hyesang.

“Hyesang-ah sudahlah, ayo kita pulang,” Hyesang masih tidak menjawab

“Sudahlah Hyesang malam ini kau menginap di apartementku saja, aku akan mengatakannya pada orang tuamu nanti,” kata Injung.

“Gomawo Injung-ah kau adalah sahabatku yang paling baik,” jawab Hyesang dengan suaranya yang terbata-bata.

Hyesang dan Injung pergi pulang ke apartement Injung. Mereka pulang naik taksi.

***

            Hari-hari berlalu Hyesang masih berdiam diri di apartement Injung. Hyesang merasa sangat sedih dan menyesal karena mengatakan kalau dia tidak akan menemui Yonghwa lagi.

***

            Injung datang menemui Hyesang di sore yang mendung ini, Injung menarik tangan Hyesang dan membawanya pergi entah kemana. Ternyata Injung membawa Hyesang ke taman belakang sekolahnya dulu. Hyesang melihat Junghyun sedang duduk sambil membawa gitar dipangkuannya dan Minhyuk dengan sebuah gendang di depannya.

“Hyesang-ah, kau ingat dulu waktu kita semua berharap kalau kalian akan bersama selamanya,” kata Junghyun.

Hyesang tidak menjawab.

“Hyesang-ah kau tahu setiap hari Yonghwa selalu berharap pada bintang, ia berharap kalau kau akan datang kembali padanya dan semuanya sama seperti dulu lagi,” kata Junghyun lagi.

Lagi-lagi Hyesang hanya diam.

“Hyesang-ah, Yonghwa hyung juga tidak tahu harus memilih jalan yang mana? Kalaupun dia akan pergi, dia akan sangat sedih karena tak ada kau di sisinya,” tambah Minhyuk.

Hyesang meneteskan bulir-bulir air matanya.

“Hyesang-ah kau tahu? Saat aku menemuimu di taman beberapa hari yang lalu, saat itu Yonghwa datang bersamaku, dia rela kehujanan, hanya untuk menemuimu, tapi dia tak jadi menemuimu karena aku melarangnya,” kata Injung.

“Yonghwa hyung menangis di sana juga. Menangis di tengah hujan,” tanbah Junghyun.

“Hyesang kita akan membawakan lagu yang di dalamnya mengandung perasaan Yonghwa saat ini,” kata Minhyuk, lalu perlahan diikuti petikan gitar Junghyun.

No one ever sees, no one feels the pain
Teadrops in the rain

I wish upon a star, I wonder where you are
I wish you’re coming back to me again
And everything’s the same like it used to be

I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can’t I have you here just like it used to be

I don’t know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don’t know if I can go on without you oh

Even if my heart’s still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?

No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain

(cn blue teardrops in the rain)

Ternyata Yonghwa datang bersama Jungshin. Lagi-lagi ketika  Hyesang menangis hujan turun bersama air matanya. Yonghwa datang menghampiri Hyesang.

“Hyesang-ah,” panggil Yonghwa dari belakang Hyesang, Hyesang pun berbalik.

“Hyesang-ah aku…” kata-kata Yonghwa terpotong karena Hyesang telah berlari dan memeluk Yonghwa.

“Oppa miannhe, miannhe oppa,” kata Hyesang sambil menangis tersedu-sedu.

“Tak apa aku tahu perasaanmu,” balas Yonghwa.

Hyesang melepas pelukannya, “seharusnya aku ada di sampingmu bukannya malah marah kepadamu, miannhe oppa,” kata Hyesang.

“Sudahlah sekarang aku sudah dalam masa pemulihan, beberapa hari yang lalu aku telah melakukan operasi donor tulang sumsum, dan semua berhasil kok, tenang saja,” kata Yonghwa.

“Oppa sarangheo, aku tak akan meninggalkanmu lagi,” kata Hyesang.

Seletah tangisan Hyesang berhenti hujan yang mengguyur tubuh mereka pun juga ikut berhenti, lalu muncullah Junghyun, Minhyuk, Jungshin dan Injung yang membawa banyak balon, lalu mereka mengatakan harapan mereka,

“KITA MOHON SEMOGA JUNG YONG HWA DAN JUNG HYE SANG BERSAMA SELAMANYA” kata mereka lalu menerbangkan balon-balon itu lagi.

 

 

*Happy end*

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s