[FF CONTEST] Time is Over

Time is Over

 

Lelaki itu membuka matanya perlahan. Kobaran api dan asap hitam pekat dalam penglihatannya seketika berganti dengan dinding kusam berlapiskan seberkas sinar yang mengintip malu-malu dari celah jendela. Lelaki itu mengernyit, membiasakan matanya dengan pancaran sinar yang menembus tepat di retinanya. Hanya ada satu arti baginya. Pagi telah tiba.

Lalu kobaran api itu? Huh, itu hanya mimpi.

Lelaki itu─Minhyuk─menelentangkan tubuhnya dan meletakkan sebelah lengannya di dahi, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih tampak kabur dengan memandangi langit-langit. Memang tidak begitu banyak cahaya yang masuk, karena ukuran jendela di ruangan tersebut memang tidak besar. Namun tampaknya mata Minhyuk sudah mulai terbiasa menerima rangsangan cahaya yang minim. Seberkas sinar tipis sedikit pun mampu membuatnya tersadar dari mimpinya. Rangsangan pada indera penglihatannya seperti alarm biologis yang selalu mendorongnya untuk bangun di pagi hari.

Cukup lama ia berdiam diri sebelum akhirnya ia beringsut dari baringnya. Disingkapnya selimut tipis yang menutupi tubuhnya sampai ke dada, kemudian didudukkannya tubuhnya di tepi ranjang. Lelaki itu menguap, enggan untuk melangkahkan kakinya ke sudut ruangan yang lain, memulai aktivitas paginya. Karena baginya tidak ada hal penting yang bisa dilakukan.

I’m broken

Minhyuk menatap kosong ke lantai. Sinar mentari pagi yang─mestinya─tampak berwarna keemasan pun tidak mampu menerangi setiap sudut ruangannya. Tampak suram seperti biasa. Terkadang ia rindu dirinya yang selalu menyempatkan diri bersandar di tepi jendela, membiarkan dirinya bermandikan cahaya mentari yang menyilaukan namun hangat, sambil menikmati pemandangan dan mendengarkan kicauan burung di pagi hari.

Terkadang Minhyuk juga berpikir, jika tidak ada yang benar-benar dilakukannya pada pagi hari? Untuk apa ia menuruti dirinya bangun? Padahal bisa saja ia mengabaikan alarm biologis itu dan menutup matanya kembali, membenamkan seluruh wajahnya ke bantal dan kembali ke alam mimpi. Tapi tidak. Sejak dulu Minhyuk suka pagi hari. Waktu dimana semua makhluk memulai harinya. Waktu dimana semua orang mulai berencana, menjalani hari menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan malas-malasan Minhyuk melangkahkan kakinya menuju wastafel, membasuh wajahnya dengan air kemudian menumpukan kedua tangannya di kedua sisi wadahnya. Kepalanya tertunduk.

Starting from here

Wave my hand to the past story

Minhyuk memejamkan matanya, membiarkan telinganya mendengar suara aliran air kran yang menggema ke setiap sudut ruangan, namun lama-kelamaan suara itu tenggelam ketika pikirannya tergantikan dengan hal lain. Memori. Gambaran kejadian di masa lalu.

“Gidarilkke…”

Minhyuk tersenyum pahit. Tiap kali menutup mata dan teringat pada memori tersebut, suara itu selalu bergaung di benaknya. Lembut namun menyiratkan ketegasan. Suara yang menjadi candu baginya. Suara yang amat dirindukannya, sekaligus dibencinya karena membuatnya teringat pada hal lain yang kondisinya sangat bertolak belakang.

Aku akan menunggu. Adalah hal yang rasanya tidak mungkin gadis itu katakan. Sudah terlalu lama ia mengenal gadis itu untuk mengetahui sifat dan kebiasaannya. Gadis itu tidak suka menunggu. Itulah yang membuatnya sangsi.

Namun Minhyuk tahu gadis itu juga tidak suka berbohong. Sorot matanya, caranya berucap, menunjukkan kalimat yang dikatakannya bukanlah dusta. Maka jika gadis itu mengatakan demikian, ia percaya.

But you don’t know me

 For the day I found out something certain which touched my heart

Pikiran Minhyuk terus menerawang. Satu per satu ingatan kejadian yang mustahil untuk dilupakannya itu muncul kembali, silih berganti, beruntutan, seolah memori itu adalah sebuah rol film yang baru diputar ulang dengan otaknya sebagai proyektor.

Ia ingat bagaimana Yonghwa, Jonghyun, dan Jungshin─rekan sekaligus sahabat-sahabatnya─juga mengatakan hal yang sama─menunggunya. Mereka bahkan mengatakan banyak hal positif lain, bermaksud baik untuk menghiburnya dan membesarkan hatinya. Namun hanya satu kata dan suara itu yang terus-menerus terngiang, menggempur pikirannya habis-habisan.

Minhyuk tidak bisa melupakan saat dimana gadis itu menatapnya lurus, menggenggam kedua tangannya yang tidak bisa berhenti bergetar. Rasanya hangat. Sentuhan tangan gadis itu membuat semua rasa cemas dan ketakutannya seolah lenyap. Gadis itu sedang menenangkannya, mencoba mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan itu berhasil. Ketika gadis itu memeluknya, ia baru mengetahui kalau gadis itu juga merasakan sedikit rasa takut, namun berhasil mengatasinya dengan baik. Kalau gadis itu saja bisa mengalahkan ketakutannya, kenapa ia tidak bisa?

Selesai menyikat gigi, Minhyuk memposisikan dirinya duduk bersandar pada dinding di dekat jendela. Alih-alih menikmati sarapan untuk mengisi perut, ia malah memilih menenggelamkan dirinya dalam bacaan. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk makan. Ini bukan pertama kalinya karena seringkali makanan yang dicecapnya terasa hambar. Tidak mengisi lambungnya dengan makanan sudah menjadi hal biasa baginya. Dan sepertinya organ tubuhnya juga mengerti dengan kondisinya. Minhyuk bersyukur sampai sekarang ia belum pernah mengalami gangguan pencernaan yang parah akibat produksi asam lambung berlebih.

Diulurkannya tangannya dan diraihnya satu eksemplar buku yang tergeletak tidak jauh dari bantalnya di atas ranjang. Buku itu sudah usang, lapuk dimakan usia. Namun apa yang tertulis didalamnya tidak akan pernah lekang oleh waktu. Ia bersyukur buku itu diberikan padanya, oleh gadis itu tentu saja.

Ia ingat gadis itu memberikannya buku beberapa minggu yang lalu. Dengan sedikit canggung ia menyerahkan buku itu, yang baru Minhyuk ketahui didalamnya diselipkan selembar kertas berisi tulisan tangannya yang rapi. Didalamnya ia bercerita mengenai kabar ketiga temannya yang lain, yang rasa sayangnya padanya masih belum berubah sampai sekarang. Minhyuk membacanya berkali-kali setiap malam hingga kertas itu lusuh dan kotor. Entah sudah berapa tetes air mata yang ia tumpahkan ke atas kertas itu.

I have grown stronger

You want to tear me down, you want to hold me down

Never can break me down

Membaca surat yang ditulis gadis itu seolah seperti sihir bagi Minhyuk. Kepercayaannya akan masa depan cerah yang sempat hilang muncul kembali dan semakin besar dari hari ke hari. Kata demi kata dalam buku itu diperhatikannya dengan seksama, diresapi dalam hati dan pikirannya. Buku itu memotivasinya untuk bangkit.

Rasanya ia memiliki kebiasaan baru setelah membaca buku itu. Setiap kata yang memotivasi dirinya ia tulis ulang dalam sebuah buku catatan. Hampir tiap malam ia habiskan dengan merenung, mencoba menafsirkan apa yang tertuang dalam buku, dan bagaimana kira-kira ia bisa merepresentasikannya dalam kehidupan nyata─kehidupannya sendiri. Ia semakin yakin buku itu adalah gambaran perasaan yang ingin disampaikan oleh gadis itu padanya, mengingat mereka tidak punya cukup banyak waktu untuk bertemu.

Minhyuk membuka buku tersebut, bermaksud melanjutkan bacaannya. Tinggal beberapa halaman lagi menuju bagian akhir. Ia yakin bisa menyelesaikannya hari ini juga.

Dan seiring dengan itu, kehidupannya akan berubah.

The time is over, break time is over

To the next stage

Start walking now

Kobaran api, asap hitam pekat, suara tangis ibunya dan jeritan kakaknya yang menyayat hati, tidak bisa dipungkiri itu semua masih terekam jelas dalam otaknya. Saat-saat dimana keadaan sangat kacau, orang-orang yang berlarian kesana-kemari, orang-orang yang menatap ke arahnya, memandangnya dengan sorot mata yang tak pernah terbayangkan olehnya. Membuatnya merasa sepeti orang paling hina sedunia.

Musim gugur tepat tiga tahun yang lalu, adalah hari yang bersejarah bagi Minhyuk. Hari dimana semua perasaannya bercampur aduk menjadi satu, hari yang paling mencekam, hari paling kelabu, hari paling pilu, sekaligus hari yang membuatnya bingung. Hari dimana ia melihat pemandangan paling mengerikan; seluruh harta keluarganya habis dilalap api. Tidak terkecuali pemiliknya. Semua anggota keluarganya mati. Hangus terpanggang. Tepat di depan matanya.

Kecuali satu orang itu.

The days which passed away

And even continuing road to envisioned ideal

Ada saat dimana ia rapuh dan menyesali segalanya, membenci dirinya sendiri dan ingin segera mengakhiri hidupnya, menghilang dari dunia ini, kemudian bertemu dengan anggota keluarga tercintanya di surga. Namun kemudian Minhyuk sadar, melakukan semua itu tidak akan menyelesaikan masalah. Masa lalu memang penting untuk dijadikan pembelajaran, tapi bukan berarti dirinya harus terus-menerus melihat ke belakang. Apa yang terjadi bagaimanapun juga tidak akan pernah bisa terulang untuk kedua kali. Yang harus dilakukannya adalah memperbaikinya, bukan menyesalinya.

Dari situlah Minhyuk sadar, ia harus melakukan sesuatu.

Hey, you don’t know me

Overflowing emotion and awaken voice

For the day I pledged

Diam bukan berarti lemah. Apa yang sedang dilaluinya saat ini adalah proses. Proses pendewasaan diri. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya, itu adalah salah satu pelajaran yang Minhyuk dapat. Maka dari itulah ia terus meyakinkan dirinya, semua ini akan segera berlalu. Ia yakin mampu melewati semua ini.

Ya. Semua ini. Dirinya. Disini. Sendiri. Sepi. Suram.

“Kau tidak kalah, Minhyuk. Kau bukan pecundang.”

Jika mengingat apa yang dilaluinya selama ini, Minhyuk selalu tidak dapat mengontrol emosinya. Tanpa sadar genggaman tangannya mengeras. Buku-buku jarinya memutih, membuat sampul depan dan belakang buku yang dipegangnya berlekuk bahkan sampai sedikit terkoyak. Diam-diam Minhyuk memang memendam amarah. Bukan pada orang-orang itu, melainkan pada seseorang yang membuat semuanya terjadi, membuatnya hidup sebatang kara, menimpakan kesalahan padanya dan menghilang begitu saja bagai debu yang ditiup angin. Ada di suatu tempat namun tidak terlihat. Tidak terjangkau oleh matanya. Namun kali ini Minhyuk sudah lebih dewasa, ia putar-balikkan amarah itu menjadi rencana. Rencana sempurna untuk meletakkan kebenaran di tempat seharusnya dan merebut kembali apa yang menjadi haknya. Ia akan membuat orang itu menyesal dengan apa yang telah dilakukannya, meratap dan memohon pertolongan padanya, bahkan jika mungkin ia ingin membuat orang itu merasakan apa yang dirasakan anggota keluarganya yang lain. Ia berjanji.

The time is over, break time is over

Yes, now is the time

Running through towards tomorrow

You will never be the same this time

Minhyuk yang sekarang tidak serapuh yang dulu. Justru sebenarnya ia merasa sedikit berterima kasih karena telah diberikan pelajaran yang berharga. Jika saja ia tidak diberikan ‘kesempatan’ untuk merasakan semua ini, dirinya tidak akan bisa sekuat sekarang.

Ya, Minhyuk yang sekarang tidak seperti Minhyuk yang dulu.

Sekarang Minhyuk dapat mengerti. Yang dilakukannya adalah menyiapkan dirinya. Ibarat mobil Formula One pada pit stop, menunggu sejenak untuk mengganti ban dan mengisi ulang bahan bakar agar bisa melesat lebih cepat lagi di lintasan balap. Waktu yang singkat namun sangat berarti. Tempat introspeksi diri. Tempat memperbaiki kekurangan. Tempat mengumpulkan kekuatan. Tempat pemberhentian sementara agar ia bisa menghadapi dunia dengan lebih baik lagi.

Minhyuk menyiapkan dirinya sebaik mungkin seraya menunggu saat yang tepat. Dan saat yang tepat itu adalah besok. Sebisa mungkin ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Rasanya ia tidak sabar. Tiap kali memikirkan apa yang akan ia hadapi beberapa jam ke depan, jantungnya selalu berdebar-debar.

Minhyuk mengalihkan pandangannya dari deretan tulisan di atas kertas dan menyandarkan kepalanya ke dinding, mendongakkan sedikit kepalanya hingga pandangannya bertemu dengan langit-langit. Ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, merasakan udara di sekelilingnya yang mungkin akan menjadi terakhir kali. Apa mungkin ia akan merindukannya? Entahlah.

Everyone waits for me now

Orang-orang menunggunya. Yah, ia sangat bersyukur untuk itu. Setidaknya ia tidak harus kehilangan semua yang dimilikinya di dunia ini. Sahabat-sahabatnya adalah salah satu hartanya yang tak ternilai harganya. Kesetiaan mereka tidak bisa digantikan oleh apapun. Dan Minhyuk sadar ia tidak boleh membuat mereka kecewa. Ia akan kembali. Ia pasti kembali.

“Aku menunggumu. Kami semua selalu menunggumu.”

“Kau akan menjadi lebih kuat.”

“Semua ini akan berlalu, Minhyuk. Jadikanlah ini sebagai pembelajaran untuk masa yang akan datang.”

“Aku percaya padamu.”

Dan gadis itu… Ia tidak akan memaafkan dirinya jika gadis itu mengalami kejadian buruk selama ia tidak berada dalam jangkauan matanya. Tapi ia lebih tidak memaafkan dirinya jika gadis itu masih tidak bahagia jika ia kembali. Karena itulah Minhyuk berniat mendahulukan gadis itu diatas yang lainnya. Menemuinya, memastikan gadis itu baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun, menunjukkan bahwa penantian gadis itu tidak sia-sia.

The time is over, break time is over

To beyond the shining

Just more strongly

Minhyuk menutup buku yang dipegangnya. Akhirnya ia bisa menyelesaikannya tepat waktu. Mungkin ia akan membacanya lagi lain kali. Yang jelas bukan di tempat ini. Bagaimanapun juga buku itu menjadi guru terbaik baginya. Membuatnya lebih kuat seperti sekarang.

Satu detik… dua detik… andai saja ruangan ini memiliki penunjuk waktu, pasti lebih mudah baginya untuk berhitung mundur. Mendengarkan setiap detikan teratur yang dihasilkan, menyambut saat yang paling dinantikannya dalam hati.

Baru saja Minhyuk memejamkan matanya kembali ketika terdengar suara derit pintu. Suara yang selalu memekakkan telinganya karena bergaung dalam ruangannya yang sepi. Biasanya Minhyuk tidak begitu mempedulikan suara itu. Namun kali ini berbeda. Itu adalah suara yang paling ditunggu-tunggunya. Suara yang memberinya secercah harapan.

Look at me, it is my turn now

Minhyuk menolehkan kepalanya ke salah satu sisi ruangan tempat suara tadi berasal. Dugaannya tidak salah. Pria berseragam dengan sepatu pantofel hitam mengkilat itu berjalan beberapa langkah menuju ruangannya. Minhyuk tersenyum singkat. Inilah saat yang paling ditunggu-tunggunya.

“Kang Minhyuk-ssi, masa tahananmu telah habis.”

Here I go, here I stand this time

 

-The End-

4 thoughts on “[FF CONTEST] Time is Over

  1. waa. keren. aku suka tata bahasa, diksi, dan ending-nya. unpredictable gitu.
    aku cuma mau berbagi saran aja, mungkin untuk beberapa reader yg ga biasa membaca narasi panjang, ini agak terasa monoton. tp overall bagus kok. pasti masuk sepuluh besar. semangat!

  2. “Kau tidak kalah, Minhyuk. Kau bukan
    pecundang.”

    Aish…..Ending…nya Aigoo……..Gak menduga…Aku fikir minhyuk Menggalau bgt ternyata…..Vote buat Author

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s