Suspended Coffe

sc copy

 

Title

Suspended Coffe

Author

Summer

Cast:

CNBLUE’s Jung Yong Hwa –  SNSD’s Seo Jo Hyun

Genre:

Romance, Life, & Fluff

Rating:

PG-13

Length:

Vignette

Pernah di post di : readfanfiction.wordpress.com

Warning Typo !

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

 

Aroma espresso yang kuat dengan cepat menyergap hidung begitu pintu kaca itu terbuka. Ada suara dentingan lonceng yang berbunyi samar ditelinga. Tapi orang-orang sepertinya tak peduli dan terus saja sibuk bersembunyi dibalik asap-asap kopi yang mengepul, tipis. Sementara itu beberapa orang antri di depan bar yang bersebelahan langsung dengan meja kasir dan mengular hingga lima orang kebelakang.

Yonghwa mengetuk-ketuk ujung sepatunya mengikuti irama lagu Frank J yang terdengar melalui speaker-speaker yang diatas dinding. Sesekali ia mengarahkan pandangannya berusaha menikmati setiap inchi kedai yang semuanya menggunakan warna coklat tua dan baby brown yang menenangkan. Pigura-pigura besar dengan foto yang semuanya bertema kopi atau guratan-guratan halus yang menghiasi setiap meja kayu yang ada di ruangan ini, Yonghwa menikmati itu.

Terkadang suara mesin espresso yang berdengung, bush kettle yang menggelegak karena air di dalamnya sudah mendidih, atau dentingan sendok yang beradu dengan cangkir-cangkir keramik, saling berusaha untuk menarik perhatian dengan suara-suaranya yang memikat. Oh, sepertinya ia akan mendapat inspirasi untuk lagu barunya. Ternyata benar kata Jonghyun, tak ada salahnya ia datang kesini. Apalagi ia datang dengan mood yang sangat baik.

Kedua bola matanya yang sedang sibuk memperhatikan ini-itu tanpa sengaja berhanti di satu titik. Awalnya ia tak sedikitpun menaruh perhatian kepada orang yang antri tepat di depannya. Hanya seorang gadis. Tak begitu tinggi, mungkin hanya sebahunya saja. Ia juga tak mengenakan pakaian yang mencolok atau bewarna norak lainnya. Sebuah kemeja denim dengan rok polos berwarna hitam menutupi tubuhnya yang terlihat kecil dan mungil. Ia tampak seperti gadis-gadis lainnya di kota itu. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Yonghwa. Bukan karena gadis itu pendek atau karena rambut gadis itu yang panjang dan terkadang bergerak lembut tersapu angin. Tapi karena percakapan gadis itu dengan pelayan kedai.

“Aku pesan dua ice capuccino, satu untukku dan yang satu ditangguhkan (suspended) .” Suaranya lirih, bahkan nyaris tak terdengar kalau Yonghwa tak menajamkan telinganya. Awalnya ia merasa biasa saja ketika gadis itu memesan ice capuccino (semua gadis biasanya memesan kopi yang tak terlalu kuat seperti capuccino, bukan ? ).  Tapi yang membuat keningnya berkerut dalam adalah ketika gadis itu meminta satu dari kopinya, ditangguhkan. Ditangguhkan ? Kode apa lagi itu ? Ini bukan drama action di televisi kan ?

Pelayan kedai itu tersenyum mengerti seakan-akan ia sudah sering mendengar kata-kata seperti itu. Setelah mencatat sesuatu di buku kecilnya yang panjang, ia meminta salah seorang barista (ada dua barista di kedai ini) untuk membuatkan capuccino dingin. Gadis itu menunggu dengan sabar, sementara Yonghwa masih bergelut dengan pemahamannya tentang kopi yang ditangguhkan. Ia mulai lupa lagi dengan ispirasi musiknya.

Lamunannya tentang kopi terpecah kala ia mendengar pelayan kedai menegurnya pelan untuk segera maju agar antrian di belakang tak menunggu terlalu lama. Ia baru sadar ternyata gadis itu sudah mendapatkan kopinya dan pergi keluar. Masih dengan kening berkerut (yang tak sedalam tadi) dan muka yang memerah, ia memesan sebuah caffe macchiato dingin. Sementara si pelayan kedai sibuk menghitung dan menulis, dengan menekan perasaan malunya, Yonghwa bertanya tentang hal yang sedari tadi membuatnya penasaran.

“Ehm, bukannya aku bermaksud mencuri dengar, tapi tadi aku mendengar gadis itu meminta dua gelas capuccino dan yang satu ditangguhkan,” ia sedikit menggigit bibir bawahnya dan meneruskan, “kalau aku boleh tahu, apa itu kopi yang ditangguhkan ?”

Mendengar pertanyaan Yonghwa, pelayan itu tersenyum maklum. Selama sedetik, Yonghwa berani bersumpah bahwa mata pelayan itu berkilat cepat. “Ah, perkataan nona Seohyun tadi, rupanya.” Tangannya berhenti untuk menulis dan berkata, “Kalau anda ingin tau, silahkan duduk santai dulu, dan tunggu apa yang akan terjadi”, serunya misterius.

Dalam hati ada dua perkataan pelayan tadi yang ia fikirkan. Pertama adalah pelayan itu sepertinya mengenal gadis yang tadi antri tepat di depannya dengan langsung menyebut namanya. Yang kedua adalah, apa maksud dari perkataan pelayan itu ? Kenapa ia menyuruhnya untuk duduk saja dan menunggu ?

“Tuan, caffe macciato anda”, suara pelayan itu membangunkan yonghwa dan membuatnya kembali terlempar kembali menuju dunia nyata. “Semuanya enam ribu won.” Ia menyerahkan segelas caffe macciato dingin lengkap beserta billnya. “Duduk dan tunggulah kalau anda memang ingin tahu”, ujarnya saat menerima uang dari Yonghwa dan hanya dibalas senyuman tipis.

Jadi, sesuai saran pelayan kedai kopi ini, Yonghwa memutuskan untuk duduk di pojok ruangan yang bersebelahan persis dengan tembok bata yang sepertinya cukup sejuk untuk dijadikan tempat menyandarkan kepala. Meski aroma espresso begitu kuat, tapi aroma-aroma manis pendamping kopi seperti scone yang masih hangat atau sepiring panekuk dengan saus maple, berenang-renang di udara seperti anai-anai.

Sebenarnya ia berencana untuk menulis lagu baru sesuai dengan inspirasinya saat itu. Tapi entah karena alasan yang ia sendiri tak tahu, ia hampir saja tertidur di kedai itu. Entah karena suara-suara khas kedai kopi tak lagi menarik perhatiannya, atau karena otaknya masih berfikir tentang percakapan gadis itu. Kelopak matanya bahkan sudah mengerjab-ngerjab tak wajar. Ini aneh, tak seharusnya ia mengantuk setelah meminum kopi kan ? Sepertinya khasiat kopi kali ini tak berefek apapun untuk Yonghwa.

Sejak setengah jam yang lalu, musik sudah berganti menjadi musik jazz seperti lagu michael buble yang sedang diputar seperti sekarang ini. Jarum jam tangannya sudah bergerak menuju angka tiga ketika ia kembali mengecek untuk yang kelima kalinya. Ia baru saja memutuskan untuk pulang ketika seorang pria tua lusuh dengan pakaian yang tak terlihat baik masuk dengan ragu-ragu dan ikut mengantri di depan bar. Menyedihkan sekaligus membingungkan sebenarnya ketika melihat seorang pria tua ( yang sepertinya juga tak punya uang) masuk kedalam kedai kopi dan secara ajaib keluar dengan wajah gembira sembari membawa segelas kopi hangat dan sekantung sandwich. Yonghwa mulai mendapat secercah petunjuk.

Segera setelah pria tua lusuh itu pergi, pelayan kedai itu datang menghampiri Yonghwa sementara tugasnya digantikan pelayan lain. “Apa anda sudah mengerti apa itu kopi yang ditangguhkan ?”, tanya si pelayan sembari duduk tepat di depan Yonghwa lengkap dengan seragam kerjanya.

Yonghwa tampak berfikir sebentar, “Ehm, sedikit.” Ia menyeruput caffe macciato-nya yang sudah hampir habis dan berkata, “Aku hanya melihat pria tua itu ikut antri di depan bar, berkata apakah kedai ini punya kopi yang ditangguhkan, dan tiba-tiba keluar dengan segelas kopi lengkap dengan sandwich.” Ia menarik nafas, “Jadi ?”

Pelayan itu tersenyum lebar. “Ini sangat sederhana sebenarnya. Jadi kopi yang ditangguhkan itu adalah kopi yang anda beli lalu anda titipkan di kedai ini untuk diberikan kepada orang yang kurang mampu,” ujarnya menjelaskan.

Yonghwa bagai mendapat sebuah titik terang dari sebuah kasus yang diusutnya. Sebuah hal yang sedari tadi ia fikirkan ternyata adalah hal kecil yang sederhana saja. “Apakah yang bisa ditangguhkan hanya kopi saja ?”, tanyanya penasaran.

Kepala pelayan itu menggeleng pelan. “Tentu saja tidak, makanan lain yang dijual di kedai ini seperti sandwich juga bisa ditangguhkan.”

“Ah . . “ Yonghwa menganggukan kepalanya mengerti. Berarti perempuan bernama Seohyun tadi mempunyai hati yang baik.  Nyatanya ia mau menangguhkan kopinya untuk diberikan kepada orang-orang yang kurang beruntung. Hal itu sebenarnya mengetuk hati kecil Yonghwa. Di dalam hatinya ada perasaan malu yang terselip kala melihat begitu banyak cara yang bisa ia lakukan untuk membantu orang-orang di sekitarnya dan ia baru sadar akan hal itu. Ia menatap mata si pelayan itu dan tersenyum, “Kalau begitu terimakasih atas penjelasannya.”

**************************

Esoknya ia kembali datang ke kedai kopi yang masih sama seperti kemarin. Tapi kali ini ia datang ditemani dengan gitar coklat muda kesayangannya. Entah sebuah kebetulan atau memang ini takdir, perempuan pendek yang kemarin antri di depannya, kali ini kembali antri meski tak tepat ada di depannya (ada seorang pria berjas kantoran diantara mereka berdua). Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba ia tersenyum kecil ketika melihat perempuan bernama Seohyun itu lagi. Tapi di dalam hatinya ia hanya berharap bahwa gadis itu tak akan pergi setelah mendapat kopinya dan memilih untuk menikmati kopinya di dalam ruangan.

Yonghwa masih bisa mendengar bahwa gadis itu meminta dua buah capuccino dan yang satu ditangguhkan, sama seperti kemarin. Di dalam hati ia berfikir, apakah lelaki tua  di depannya itu juga sepenasaran dirinya kemarin saat mendengar kata-kata kopi yang ditangguhkan. Tapi melihat gelagat tak peduli dari orang berjas di depannya itu, Yonghwa bisa menyimpulkan mungkin orang itu sedang melamun atau memang tak punya rasa ingin tahu yang tinggi sama seperti dirinya.

Tuhan memang sepertinya sedang ingin berbaik hati kepadanya. Doa yang tadi secara iseng ia gumamkan dalam hati ternyata terkabul. Sembari menunggu satu orang lagi selesai mendapatkan kopinya, ia bisa melihat gadis itu memilih duduk di samping jendela besar yang di luarnya dihiasi bunga petunia dan beberapa kaktus kecil. Hari ini tampaknya ia hanya memesan capuccino saja.

“Anda ingin pesan apa, Tuan ?”, tanya pelayan kedai tersenyum dengan mulutny             a yang lebar saat melihat Yonghwa kembali datang.

Kali ini dengan percaya diri Yonghwa berkata, “Caffe macciato dua dan yang satu ditangguhkan,”  ia bisa melihat mata si pelayan kedai seantusis dirinya, “serta dua piring sandwich daging tuna, dan yang satu tolong berikan kepada nona Seohyun yang duduk disana”, gumamnya berbisik. Tahu-tahu ia merasakan telinganya sedikit hangat.

“Nona Seohyun ?”, tanya pelayan itu sedikit terkejut. Tapi dengan cepat Yonghwa memintanya untuk memelankan suaranya dengan wajah malu. “Baiklah, kalau begitu tolong tunggu sebentar.” Masih dengan perasaan  bingung dan ragu si pelayan melakukan apa Yonghwa minta. Ia menyerahkan segelas caffe macciato hangat dan berkata, “Sandwich anda akan diantar oleh pelayan. Silahkan tunggu sebentar.”

“Terimakasih”, balas Yonghwa senang. Ia membawa caffe macciato-nya dan memilih duduk dengan meja yang bersebrangan dengan milik perempuan bernama Seohyun itu. Sebelumnya ia tak pernah merasa segugup ini, tapi hanya melihat wajah perempuan itu saja (dan sekarang ia sadar betapa cantiknya gadis itu) membuat perutnya tiba-tiba terasa aneh.

Suara piring berisi sandwich yang diletakkan pelayan membuat Yonghwa dengan sangat terpaksa mengalihkan pandangannya dari wajah Seohyun untuk sejenak. Di nampan milik pelayan itu masih ada sepiring sandwich yang sama dan ia sangat yakin bahwa itu adalah sandwich yang ia pesan untuk Seohyun.

“Apakah itu untuk gadis yang duduk disebalah sana ?”

“Benar. Memangnya kenapa, Tuan ?”, tanya si pelayan sembari membenahi nampannya yang miring.

Senyum lebar menghiasi wajah Yonghwa yang persegi. “Bisakah kau tunggu sebentar ?”, pintanya dengan mata berbinar. Tangannya yang panjang mengaduk-aduk isi tas hitamnya berusaha mencari selembar kertas dan bolpoin. Awalnya ia tak pernah merencanakan hal itu. Semuanya terjadi secara alami dan mengalir begitu saja. Entah darimana ia punya keberanian untuk menulis surat macam ini dan dengan kecepatan menulis yang tak wajar, ia menitipkannya kepada pelayan itu. “Tolong berikan ini juga kepada nona Seohyun yang duduk disana.”

Kali ini si pelayan tak banyak bertanya dan melakukan apa yang Yonghwa minta.  Ia berjalan menuju meja Seohyun dan menyerahkan sandwich yang dibalas Seohyun dengan tatapan tak mengerti. “Mungkin kau salah orang, tapi aku tak memesan sandwich hari ini”, kata Seohyun bingung. Buku yang tadi ia baca terlepas dan menutup separuh diatas meja.

“Ada seorang laki-laki yang memesan sandwich ini untuk Nona Seo,”  ia menyerahkan piring putih yang berisi empat potong sandwich segitiga dengan daun lettuce yang menyembul dari dalam. “dan ini ada pesan untuk nona.”

Seohyun menerima semua itu dengan setengah sadar. Dan semua itu tak luput dari penglihatan Yonghwa. Ia tak mengerti bagaimana reaksi gadis itu nanti. Tapi yang jelas ia sudah melaukan hal yang ingin ia lakukan.

****************

Epilog

Seohyun tanpa sadar mengacuhkan pelayan yang pergi dan memilih untuk membaca secarik surat yang baru saja diberikan pelayan kedai. Dari bentuk dan warna kertasnya yang biasa, sepertinya ini bukan surat yang  berbahaya. Jadi ia memutuskan untuk membacanya.

Hai, maaf kalau aku mungkin terlihat kurang ajar dengan memberikanmu ini. Aku melihatmu kemarin di kedai ini dan mendengar kau meminta untuk menangguhkan kopimu. Awalnya aku tak mengerti, tapi pelayan kedai menjelaskan itu padaku. Dan, yah kau membuatku memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan itu. Terimakasih karena kau sudah meyadarkanku untuk berbagi dengan orang yang kurang beruntung. Dan aku akan sangat senang kalau kau mau menerima permintaanku untuk berteman denganmu. Aku tau namamu dari pelayan kedai bahwa kau biasa dipanggil nona Seohyun olehnya, tapi aku ingin berkenalan sendiri denganmu. Namaku Jung Yonghwa. Dan aku duduk tepat dua meja disebelahmu. Salam kenal.

Ps : Aku tak tahu kau suka sandwich apa, jadi aku pesankan sandwich tuna. Kuharap kau menerimanya. ^^

                YH

Seohyun tak mengerti kenapa tiba-tiba bibirnya bisa tersenyum selebar ini. Ia menengokkan kepalanya berusah mencari tahu. Dan padangan matanya mengunci kepada satu titik dimana seorang laki-laki yang mengenakan kemeja putih duduk sembari tersenyum melihatnya. Ada sepiring sandwich juga disana. Jelas laki-laki itulah yang memberikan semua ini. Ia bisa melihat laki-laki itu  berjalan mendekat dan berdiri tepat di sampingnya yang masih memegang surat itu. Laki-laki itu mengulurkan tangannya malu-malu. Ia seperti anak umur lima tahun yang baru pertama kali masuk sekolah yang terkena syndrome malu untuk berkenalan dengan orang lain.  “Aku yang mengirim surat itu.” Ia berdehem sebentar, “Namaku Jung Yong Hwa.”

Ini pertama kalinya Seohyun mau berkenalan dengan orang asing yang baru saja ia temui di sebuah kedai kopi. Bukan karena pria itu tinggi dan bukan karena pria itu membelikannya sandwich. Tapi entah mengapa Seohyun tak melihat kebohongan apapun di matanya. Ia yakin laki-laki itu tulus berteman dengan. Jadi, ia memutuskan untuk menerima uluran tangan itu. Genggaman yang kuat dan hangat. Seohyun tak akan melupakan itu. “Namaku Seo Jo Hyun, kau bisa memanggilku Seohyun.”

THE END

 

Hai, hai semuanya ^ ^ ini pertama kalinya saya nulis disini. Maaf kalau ceritanya gaje dan cast-nya YongSeo. Saya pertama kali nonton wgm waktu ada mereka, jadi paling ngefans ya sama mereka doang fufufufu. Dan ff kali ini saya terinspirasi dengan bacaan di internet tentang apa itu suspended coffee. Dan dengan dibumbui khayalan saya akhirnya jadilah ff ini. Oke oke saya tau ff saya jelek, tapi tolong kasih kritik dan saran untuk ff kilat ini (saya bikin selama tiga jam) kalian boleh komen disini atau follow twitter saya @kumalakartika oke ?

Pai~pai~

24 thoughts on “Suspended Coffe

  1. keren ff’y,pesan moral’y jg gk ilang.

    Malah krn bc ff ni aku jd tw ttg suspended coffe atw makanan lain.
    Mksh bwt wawasan’y.

  2. Bagus2.. Tak pikir cerita ini berseri lho.. Tp menarik sekali ceritanya.. Lain dr yg lain.. Bwt lg thor.. Ditunggu ff yongseo slanjutnya ^_^

  3. bagus banget. kadang ide menulis itu muncul di sekitar kita, ga terkecuali di internet. good job. kata-katanya diracik (?) pas, isi ceritanya juga ga terlalu mainstream

  4. akhhh aqu suka ff ni, ttg yongseo /plak *shiper kumat
    tp aqu lbih suka kata2 yg dipake di ff ni, bgus bgt. ga over dn pass🙂
    suka bgt sama ff ini😀
    ditunggu kryanya yg lain (๑ºั╰╯ºั๑)♡

  5. Ceritanya bagus, bahasanya enak dibaca dan pesan yang disampaikan mengena plus cast-nya yongseo pula😉
    Haduh inget coffe inget yonghwa deh… Sakit aja minumannya masih ice coffe. ckckck
    Ditunggu ff yg lainnya😉

  6. huaaa, YongSeo^^
    really love this couple..

    bagus ceritanya, bikin senyum2..
    cocok bgt dibaca sambil dengerin ‘coffee shop’ nya uri blue boys^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s