[FF CONTEST] Banmal Song

Banmal Song

 

 

Jung Yonghwa’s POV

 

Banmal hajima,” ucapnya dingin. Minhyuk tampak membatalkan acara untuk mengajaknya makan siang bersama menyadari gadis itu menguarkan aura dingin yang kental pada siapa saja orang disekitarnya. Ia menyengir yang dibuat-buat sebelum akhirnya beranjak pergi dalam langkah cepat dari gadis itu.

Di sekolah sudah berdesus rumor, bahwa tidak ada yang berani mendekati gadis itu. Ia seperti berasal dari dunia yang lain, tidak dari sini, bukan dari belahan bumi manapun. Setidaknya dia memang seaneh itu dalam dua hal, pertama dari bahasanya yang kaku seperti membaca teks pelajaran bahasa Korea, yang kedua karena… dia sedingin itu, seajaib itu, tapi masih berhasil membuatku kesulitan berpikir cukup dengan memperhatikannya saja.

Aku hanya tersenyum di balik meja makan siangku, menatap bagaimana cara rambut ikal cokelatnya yang dikuncir sederhana, menimbulkan sensasi tak kasat mata seperti misalnya rambut yang beterbangan ketika angin berhembus. Kenyataannya memang tidak, tapi rasanya aku terjebak sedalam itu untuk terus menatapnya dan menikmati setiap perubahan geraknya, tanpa ia sadari. Kadang mengabadikan beberapa hal lucu darinya yang mungkin tidak disadari orang-orang; ketika ia menguap, ketika ia salah memesan makanan di kantin dan berakhir dengan merutuki kebodohannya sendiri sambil mengerucutkan bibir, ketika ia bosan dalam pelajaran lalu iseng meniup-niup poninya yang ringan. Ia tipe yang sibuk dengan dir sendiri, tidak menyadari apapun di sekitarnya, termasuk seorang pria gila yang mengintai apasaja kegiatannya maupun kamera yang belakangan banyak ia bawa kemana-mana, ke tempat mana saja yang kaki gadis itu sempat tapaki.

Gadis itu, ia meniup poninya kesal, kembali menuliskan sesuatu dalam buku catatannya.

***

 

The day when I first saw you,

Your bright smile full of shyness

 

Aku masih bisa mengingatnya dengan tepat, bahkan memutar-mutar ulang rekaman itu dalam otakku. Hari ketika aku pertama menatapnya adalah hari dimana sebelumnya aku merasa dunia sedang bersekongkol mengumpulkan setiap hal sial untuk di tumpahkan di atas kepalaku. Ban sepedaku mendadak mendapat kebocoran sehingga aku harus terlambat dan bahkan mencari bus agar bisa secepatnya sampai di sekolah. Musim semi, pagi itu bahkan mendadak hujan, walaupun tidak terlalu deras tapi dalam keadaan seperti ini, alangkah menyebalkannya hal tersebut.

Aktifitas maupun gerutuanku terhenti begitu saja ketika tidak sengaja mataku menumbuk pada gadis itu. Ia yang berdiri di paling ujung halte walaupun tidak ada orang lain di sekitar kami. Mengulurkan tangannya keluar dari bawah naungan atap halte, membuka telapak tangannya dan membiarkan tangan itu basah oleh hujan. Tidak hanya itu, ia juga memejamkan mata tidak peduli, tersenyum dalam dunia yang ia ciptakan sendiri sambil menghirup nafasnya dalam-dalam. Sedikit mengendus. Gadis itu… aneh, pikirku. Tapi lebih aneh lagi karena dalam saat bersamaan aku juga beranggapan bahwa ia terlalu menarik untuk dilewatkan.

Dan aku belum mempersiapkan diri saat itu. Bus yang datang dari arah di sebelahku membunyikan klakson yang cukup nyaring sehingga membuat gadis itu tersentak cepat dan menoleh kearahku. Kearah bus itu sebenarnya, yang secara tidak langsung memberikan akses agar aku bisa menatapnya secara benar, tepat di manik matanya yang cokelat gelap. Damn! Saat itulah aku merasa menyesal karena pernah mengutuk siapa saja yang menciptakan kalimat cinta pada pandangan pertama.

Mungkin, itu adalah hari dimana seluruh keberuntungan di muka bumi sedang dikeruk lalu dikumpulkan untuk di tumpahkan semuanya di atas kepalaku.

 

***

 

            “Annyeonghaseyo, Cho Yeon Hee imnida,” ia membungkuk cukup dalam dan tersenyum di depan kelas. Senyum yang… jauh sekali dari kesan glamour. Aku bisa membaca kesan polos yang menggelikan sekaligus membuatku tidak bisa menyingkirkan tatapan darinya ketika ia tersenyum seperti itu, dengan cengiran malu-malu, ada sedikit rona merah menghiasi pipi berisinya.

Cho Yeon Hee. Yeon Hee. Gadis yang menyukai gerimis, mengingat apa yang ia lakukan pagi-pagi tadi, mengendus udara dan sedikit bermain hujan, cocok sekali dengan namanya. Yeon yang berarti gerimis atau kabut. Yeon, yah, rasanya aku senang sekali melafal nama itu, dan… Yeonni, kurasa panggilan itu akan terasa sanggup membuat sesuatu diperutku membuncah hebat. Dia pindahan dari Melbourne, membuat seluruh siswa di kelas menatapnya penuh takjub, norak sekali. Tapi… aku pun sama, menatapnya seperti idiot, dengan alasan yang berbeda.

Gadis itu menyapaku pelan sebelum mengambil tempat kosong di sisiku. Sapaan yang terdengar sangat normal, tapi sanggup membuatku kehilangan semua kata apasaja untuk membalasnya, dan berakhir dengan tersenyum layaknya orang bodoh —ah bukan, seperti yang kubilang tadi, idiot lebih tepat.

Ia mengambil sebuah buku kecil dan peralatan tulisnya, mencoret-coret entah apa di sana tapi aku yakin itu bukan tentang pelajaran biologi yang sedang disampaikan Park saem. Aku pun melakukan yang sama, menulis di belakang buku catatanku. Hari ini, aku sudah membuat satu keputusan sulit, bahwa aku sudah jatuh cinta padanya, jadi berikutnya, aku harus mengambil keputusan-keputusan lain yang mungkin lebih rumit. Untuk tahu lebih dari sekedar namanya, untuk memahami apasaja yang ia suka dan tidak, penasaran tentang apasaja kebiasaannya. Dan yang paling kuinginkan, berbicara akrab dengannya, dengan begitu artinya aku satu langkah lebih dekat dengannya dibanding orang-orang lain. Yeah, aku sudah menetapkannya.

We’ll get closer after today

 

***

 

Every day, I have heart fluttering expectations

What to say to you

How to get you to laugh

I fear it’ll get awkward when I try to hold your hand

All I can do is smile shyly

 

Meski Jungshin sedang ribut-ributnya menggoda Jonghyun soal gadis tingkat pertama yang disukainya itu, masih ada angin magis yang berhembus di sekitarku dan di sekitarnya ketika ia memasuki kantin itu, dengan tubuh yang kaku dan tampak sekali canggungnya, membawa nampan berisi makanannya sambil matanya tak lepas berkeliling mencari tempat kosong untuk duduk. Tanpa sadar aku meringis sedikit ngeri melihat cara dia mencari-cari sekeliling sambil berjalan pelan, tanpa memperhatikan langkahnya, dan itu membuatku takut sekali bahwa kakinya bisa saja sewaktu-waktu tersandung atau menabrak seseorang. Tapi pergi kesana dan menuntunnya ketika berjalan sepertinya adalah ide yang terlalu buruk, jadi aku harus memuaskan diri cukup dengan mengawasinya dari sudut mataku, serta mempersiapkan kakiku untuk lari ke sana kapan saja gadis itu menunjukkan gejala akan jatuh atau apa.

Kantin sedang tidak terlalu ramai, jadi bukan hal yang begitu sulit bagi gadis itu untuk menemukan posisi yang di inginkannya, ia berjalan lebih cepat ke salah satu sudut, paling ujung, dan sendiri.

“Kau mau kemana?” Minhyuk menegurku, sepertinya dia satu-satunya yang menyadari bahwa aku sudah bangkit berdiri dan sedang bersiap mengangkut juga nampan makanku yang belum tersentuh.

“Mengadu peruntungan,” sahutku kalem dan tanpa menoleh lagi segera beranjak dari tempat itu.

Gadis itu tersentak, menampakkan ekspresi bingung lalu coba tidak peduli ketika nampanku sampai lebih dulu di meja yang sama dengannya. Ia melanjutkan menjejalkan ramyeon ke dalam mulutnya saat aku duduk tepat di hadapannya.

Ia tidak bertanya apapun, dan aku tidak mencoba mengatakan apapun juga, tidak bisa tepatnya. Entahlah, rasanya… kemampuan verbalku menguap setiap berada dalam radius kurang dari dua meter darinya.

Terkadang, gadis itu menunjukkan perasaan riishnya dengan keberadaan orang lain di sekitarnya terutama ketika ia makan, atau mungkin karena ia sadar dengan perbuatanku. Aku telah mencuri. Benar, detik-detik yang sekarang menjadi berharga hanya karena ada dia di sini. Aku memasukkan paksa sup kimchi yang masih panas itu ke dalam mulutku cepat-cepat, menelannya bahkan sebelum sempat mengunyah dengan benar, alasanku hanya… agar aku bisa lebih cepat menatapnya lagi, agar tidak kehilangan satu detik mengamatinya. Melihat caranya makan, merasa khawatir ia akan tersedak atau bagaimana, begini pun… rasanya aku sudah tidak perlu karbohidrat dan tambahan protein apapun lagi.

Cukup dia saja.

 

***

Hopefully we can speak banmal to each other

Even though it’s still awkward and unfamiliar

Instead of saying ‘thank you’

Talk to me in a friendlier way

 

Aku ingin berbicara banmal dengannya, tapi bahkan sampai seminggu ini, ia selalu menolak untuk berbicara satu saja kalimat informal pada siapapun. Dan aku, pria bodoh ini selalu berkeliaran di sekitarnya, tapi bahkan belum berhasil mengatakan satu kalimat apasaja untuk bicara dengannya, selalu tidak bisa.

Seperti sekarang, yeah, aku hanya bisa membidiknya dengan lensa polaroidku, sebisa mungkin agar ia tidak menyadarinya, dan entahlah, apakah memang aku yang terlalu hebat atau memang dia saja yang terlalu tidak peka sampai tidak pernah menyadari sorotan-sorotan kamera dari pria gila ini yang terus menguntitnya kemana-mana. Memang segila itu.

Satu ide melintas di otakku, kuletakkan semangkuk es krim blueberry berwarna ungu muda menarik dengan tambahan wafer roll dan cherry di atasnya di meja yang sama dengan —lagi-lagi— ramyeon yang sedang ia santap, membuat gadis itu sempat melirik. Aku mundur sedikit, mencari angle yang tepat untuk membidik. Aku memotretnya, ia dan es krim itu, lensaku memang lebih fokus ke mangkuk es krim, terpaksa, tapi tidak dengan optik mataku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya akhirnya, terdengar sedikit terganggu dan sebisa mungkin memposisikan diri agar tidak terkena jepretan apapun. Aku nyaris tertawa, gadis konyol itu menunjukkan reaksi seperti alergi pada kamera sementara ia tidak tahu menahu ada berapa banyak pose dirinya tersimpan dalam polaroid hitamku.

“Memotret tentu saja,” jawabku asal, berusaha cuek.

Ia mendengus, tapi aku tidak peduli dan memilih posisi duduk di sampingnya, menyodorkan mangkuk es krim itu.

“Kau mau?”

Gadis itu menggeleng tidak terlalu kentara. Dalam situasi seperti ini ia memang jelas sekali sifat tertutup dan kesulitan bersosialisasinya, seperti dikatakan murid-murid lain, gadis yang dingin, tapi di mataku, begini ia malah seperti sedang menunjukkan sisi-sisi manisnya. Menggeleng kecil sehingga kunciran ikal yang ringan di bealkang kepalanya itu turut bergoyang pelan. Bagaimana ya, ia sulit diterjemahkan, bisa dikatakan dingin dan menggelikan secara sekaligus, aku rasa tidak ada makhluk seperti ini lagi di dunia, ia begitu tidak tertebak.

Aku menyendok es krim blueberry itu sebelum meleleh ketika merasakan gadis itu tengah menatap dengan mata berharap padaku. Itu…. menyihir, setidaknya aku bisa melihat gurat dua bintang di kedua matanya.

“Itu… apa kau punya rasa cokelat?”

“Haha, hanya jika kau memintanya secara informal, karena aku tidak mungkin memberikannya pada orang asing yang bahkan menggunakan bahasa sangat kaku untuk berbicara denganku.”

Mendadak aku merasakan tatapannya menusuk, ia mencebik sesaat sebelum mengalihkan pandang dengan tegas.

“Aissh, lupakan!”

 

 

***

Hopefully we can speak banmal to each other

You walk towards me slowly, step by step

Now look at my eyes and tell me

 

Gadis itu berjalan ke arahku, iya, benar, ke arahku, membuat Jungshin dan Minhyuk yang sedang berebut PSP di sampingku seketika menghentikan aksi mereka dan melongo hebat. Gadis itu berjalan cepat dan semakin ketahuanlah bahwa ia benar-benar menuju ke arahku. Tunggu! Tunggu! Jangan secepat itu! Aku belum berlatih mengolah nafasku dengan benar.

“Kau, Jung Yong Hwa?”

Aku menyukai cara dia mengucapkan namaku. Ada nada arogan di luarnya, tapi dibalik semua itu suaranya cempreng dan lembut sekaligus, dan jika ia mau menurunkan intonasinya sedikit, tentu akan terdengar manja.

“Ye?”

“Kembalikan buku catatanku!” ucapnya, menimbulkan sedikit perhatian dengan suaranya yang cukup keras itu ditambah bahasanya yang seperti dari jaman purba, ayolah, anak-anak manapun di Korea tidak lagi berbicara seperti itu di antara remaja seumurannya, hanya gadis aneh ini.

“Buku catatan apa?”

“Jangan berpura-pura. Aku tahu kau melihatku saat menulis buku itu tadi,”

“Dan dengan bukti apa kau menuduhku mengambilnya?” ucapku tenang, berusaha sedikit menggodanya dengan tatapanku. Dan yah, kurasa ini bakatku untuk selalu terlihat keren dan tenang bagaimanapun itu, meski kenyataannya hatiku seperti akan meledak sekarang juga.

Ia menunjukkan tampang kesal yang ditahannya, bagiku itu lucu, dengan pipinya yang memerah sedikit, bibir dikerucutkan, dan kunciran yang sedikit bergoyang menuruti setiap gerakannya. Gadis itu bergerak cepat meninggalkanku. Punggungnya yang sempit, terlihat tegas namun rapuh, membuatku merasa tidak rela ketika ia berada semakin jauh dari jangkauan pandangku.

 

***

The day when I held your hand

I felt my heart stop beating

I don’t even remember what I said

All I feel is a flutter in my stomach

 

Neowa ye soneul jabdeon nal, shimjangi meomchu deuthan gibun deure. Museun mal haetneunji gieok jocha anna, manyang seolle gibun ingeol…”

Aku duduk di atas sepedaku, memetik gitarku dan menyanyikan lagu itu, tidak terlalu keras tapi kurasa cukup untuk mengimbangi bunyi gitar serta terdengar melewati ventilasi kayu-kayu jendela rumahnya dan membangunkan gadis itu. Ya, rumah gadis itu. Kurasa aku memang memiliki bakat jadi stalker.

Ini masih pagi-pagi sekali, langit bahkan belum benar-benar terang sejak matahari baru saja dijadwalkan untuk terbit dan ia nyaris dikatakan tidak bisa terbit karena awan mendung yang mendominasi sejak tadi. Gerimis mengujani Seoul sejak setengah jam yang lalu, membuatku terpaksa mengenakan jaket tebal dan tetap saja berakhir dengan tubuh lembab setelah hampir setengah jam itu pula.Bbersepeda ke rumahnya sekitar lima belas menit dan sisanya berdiri di bawah jendelanya, di bawah gerimis.

Aku bisa mendengar bunyi gemerisik dan umpatan samar dari kamar itu, suara cempreng yang kali ini tepat seperti tebakanku, terdengar manja. Hanya bisa tersenyum dan tetap melanjutkan alunan laguku. Lagu yang kuciptakan khusus untuknya.

Dalam hati aku menghitung sampai sepuluh lalu memejamkan mata. Aku sudah memperkirakan ini, bahwa hal pertama yang akan dilakukannya ketika bangun tidur adalah membuka jendela dan menghirup aroma pagi dalam-dalam, aroma dingin yang menyakiti hidung tapi anehnya ia memiliki ketertarikan tidak wajar pada  sensasi sakit itu. Ia suka melihat daun-daun hijau yang banyak ia tanam di bawah jendelanya, menemukan dedaunan itu basah karena embun, dan sekarnag justru semakin basah karena gerimis. Hujan tipis di pagi hari, itu adalah kegilaannya yang lain. Lalu… aspal! Tepat di belakangku adalah jalanan yang tidak ramai, beraspal mulus, hitam, dan tentu saja basah membentuk genangan-genangan kecil.

Aku masih memejamkan mata rapat-rapat tepat ketika jendela kayu itu berderit terbuka. Masalahnya, aku takut, takut tidak bisa mengontrol diriku ketika menatapnya seperti yang sudah-sudah. Parahnya lagi, aku akan melihat wajah bangun tidurnya, rambutnya yang pasti berantakan dan wajah tanpa riasan, wajah paling polos miliknya. Aku bisa saja terkena serangan jantung karena kelewat senang. Aku menghidu aroma dingin pagi yang sedikit menyakitkan dalam-dalam, menghitung sampai tiga lalu membuka mata. Dan menemukannya.

Seperti ekspektasiku, aku mulai sulit mengolah oksigen dalam paru-paru, dan jika saja diizinkan aku pasti sudah membangun kemah di sini saat ini, hanya agar aku bisa melihat pemandangan ini setiap harinya, melihatnya bangun tidur, melihat betapa ia tampak kacau dan lucu, sekaligus… menjadi orang pertama yang ia lihat ketika membuka mata. Bukankah ini keren?

Ia mengucek matanya berulang, menemukan fakta bahwa tidak ada perubahan dari apa yang ia ihat, bahwa ia tidak sedang menyambung mimpinya, dan seketika mata bulat itu berubah menatapku horor.

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

Aku mengangkat bahu, menyandarkan gitarku pada sepeda untuk meninggalkan mereka dan berjalan menghampiri gadis itu. Baru berhenti ketika sudah mencapai jendelanya, ketika aku memiliki akses dengan mudah untuk bisa menyentuhnya. Jarak ini… kurang dari dua meter. Oh, ayolah Jung Yonghwa! Kau pasti bisa mengatakan sesuatu, apasaja!

Aku tersenyum tenang, berusaha mati-matian mengatasi perutku yang sedang bergejolak hebat atau letupan-letupan menyebalkan di dadaku.

“Hujan tipis, pagi yang dingin, daun dan aspal yang basah, dan seseorang di bawah jendelanya. Aku tahu ada satu gadis aneh yang menyukai itu semua. Dengan ini…. bisakah dia memaafkanku?”

Manik mata berwarna cokelat gelap itu menunjukkan ekspresi yang berganti-ganti dnegan cepat Pertamanya kaget, lalu bingung, dan terakhir ia justru menyipitkan matanya untuk menatapku tajam-tajam.

“Kau… pasti benar kau yang mencuri buku catatanku?”

Aku tertawa kecil, gadis itu memang menuliskan semuanya di sana, tentang apa-apa yang ia suka, apa-apa yang ia benci, serta hal-hal konyol yang melintas di otaknya yang tidak tertebak. Semua orang bisa saja melihatnya sebagai gadis dingin yang asing, tapi hanya aku yang sadar dengan benar, gadis ini bahkan terlalu konyol dan kekanak-kanakkan untuk bisa disebut sebagai gadis.

“Untuk itulah aku minta maaf.”

“Kembalikan!”

“Aku juga minta maaf, tapi… bisakah aku menyimpannya? Memangnya kau tidak tertarik seseorang merealisasikan lamaran impianmu yang tidak terpikir oleh pria manapun itu? Ah, lagipula seingatku kau menulis tentang aku lumayan banyak dalam buku itu, tentang bagaimana aku salah satu pria paling mendekati yang kau inginkan untuk berjalan di sisimu dan mengucapkan janji yang sama denganmu?”

“Aissh,  Shikkeureowo!!!”

Gadis itu meledak, mengataiku berisik dengan nada suara lepas. Ada satu hal yang membuatku terpana tentang umpatannya. Setidaknya dia…. sekarang memakai banmal untuk bicara denganku, bukan bahasa buku teks lagi.

Sekali lagi, aku tersenyum menatapnya, mengaguminya, coba menghafal seperti apa lekuk-lekuk wajahnya agar nanti ketika merindukannya, aku tidak lagi begitu kerepotan. Dan sebenarnya alasan paling sederhana adalah hanya karena aku tidak bisa menemukan cara untuk mengalihkan tatapan darinya. Dia… semenarik itu.

Aku mengacungkan jari kelingking di depannya.

“Bolehkah aku menyentuh tanganmu dengan cara seperti ini? Maafkan aku…”

Menatapnya penuh harap setelah menekan harga diriku serendah-rendahnya. Gadis itu tetap saja menatapku waspada, membuatku akhirnya memilih memperhatikan rumput di bawah kakiku yang sebenarnya baik-baik saja. Sampai akhirnya aku bisa merasakan sensasi hangat dari jari mungilnya yang mengait di kelingkingku. Ada sensasi seperti disengat ribuan volt muatan listrik, tapi yang ini sedikit lebih tidak normal karena ada kombinasi antara gugup dan senang.

Aku mendongak menatapnya, meluruskan antara tumbukan mataku dengan manik cokelat gelapnya. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu sekarang. Pipinya bersemu merah dan bibirnya melengkungkan sebentuk senyum tipis yang ditahan, malu-malu. Persis seperti pertama aku melihatnya dulu, bedanya, sekarang senyum itu terasa lebih memabukkan, rona di pipinya lebih kentara, dan yang paling penting, senyum itu sekarang ditujukan hanya untukku, berarti hanya milikku.

“Yeonni-ya…,”

“Eung?”

 

Hopefully we can fall in love each other

I’ll never let go of your two hands from my grasp

The light of your eyes, gazing at me

I hope there will be only be joyful smiles

We can probably fall in love with each other

We can lean on one another and take care of each other

Looking into your eyes, my two eyes

They’re talking to you

 

“Saranghae…”

 

 

—FIN—

2 thoughts on “[FF CONTEST] Banmal Song

  1. banmal hajima??
    uhm..aku gk ngrti sih artinya apaan. tapi FF nya keren🙂
    Jung Yong Hwa.. namja kelewat keren itu menyukai Yeon Hee.
    lucu sih sama cara Yongie deketin Yeonni.
    pake acara ngambil buku catatan sgala. *emang penting ya?kkk~

    tapi sedikit kecewa karna ini berakhir ngegantung😦
    meski sepertinya Yeonni malu” sama Yong Hwa tapi dy gk ngejawab ucapan Yong Hwa.
    tapi aku sih yakin klo mereka jadian.kkk~

  2. Satu lagi ceritamu yg bikin aku iri setengah mati sama ceweknya. Gimana rasanya dipuja sama seorang cowok hingga seolah cewek itu makhluk paling spesial di bumi. Rasanya…melayang.
    Menurutku ini mesti ada versi yeonhee’nya. Soalnya ceritanya masih gantung, belom jelas gimana perasaan yeonhee ke younghwa…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s