[FF CONTEST] Black Flower

Judul : Black Flower

 

“A man falls in love through his eyes, a women through her ears.”

Lirik bisu angin sore menggaungi ruang hampa pendengaranku kala semilir lemahnya menerpa halus permukaan kulitku, menggelitik hingga epidermis. Sore kesukaanku mulai nyata saat bentangan temaram oranye menyatu dengan riak-riak damai sungai Han.

Tak dapat kutahan senyum, melihat mentari perlahan tenggelam dan mengucapkan salam perpisahan tak terkatakan. Aku dapat mendengarnya. Dia bilang besok dia akan kembali dan memintaku untuk menunggu.

“Aku akan menunggumu. Kau tahu itu.” Kuharap dia akan mendengar. Kupinta angin membawa jawabanku atas permintaannya. Dan biarkan dia tersenyum sekali sebelum dia benar-benar hilang dan redup. Hingga gelap menggantikan.

Yang aku benci.

-o-

Senandung tak nyata membangunkanku dari kepalsuan angan yang sedari tadi menahanku untuk tidak berpikir logis saat ini. Aku terperanjat mendapati aku telah berdiri di depan sebuah toko bunga entah milik siapa.

Samar-samar senandung itu kembali menggema. Lebih mengalun dan berirama. Kudapat merasa nada tak berlirik mengalun indah di sekitaran. Dan mataku menemukan. Menemukan senandung itu darimu. Mengalir merdu dari belahan bibir merah muda itu. Dan bodohnya aku rela membiarkan diriku terhipnotis oleh suara lembutmu itu. Yang tidak berabjad dan rapuh.

Hingga kau pun berhenti dan aku pun tersadar. Mataku menangkap pergerakanmu. Sepertinya kaumenyadari kehadiranku disini. Namun aku tidak berusaha untuk bersembunyi atau menghindar. Senandungmu mengikatku untuk berhenti disini lebih lama dan aku menyukai itu.

Kau beranjak dari tempatmu semula dan perlahan mendekatiku. “Ada yang bisa kubantu? Tuan…?”

Pertanyaanmu hanya sanggup kujawab dengan senyum kikuk berharap kau tak menyadari bahwa aku tengah gugup saat ini. Dan itu semua salahmu.

-o-

“Kau nampak terburu-buru sekali.” Jungshin menoleh sesaat mendapatiku yang tengah bersiap pulang.

“Aku tengah ditunggu oleh seseorang dan aku tidak boleh terlambat.” Jawabanku disambut oleh kerutan aneh dikedua alis tebalnya. Ditunggu oleh seseorang? Sejak kapan seorang Jonghyun memiliki seseorang untuk menunggunya? Pikirnya dalam-dalam.

-o-

Kim Jonghyun

“Selamat datang ada yang bisa kubantu?” bantu aku untuk lepas dari jerat pesonamu, batinku dalam hati. Dan ini konyol hingga aku tidak mungkin mengungkapkannya. Faktanya aku hanya diam dan membisu yang membuatmu harus memanggilku berulang kali.

“Aku ingin bunga matahari.” Lalu kulihat kautersenyum manis. Aku tidak tahu mengapa tapi aku selalu menyukai setiap kali kau mengumbar senyum manisnya itu. “Tuan Jonghyun,” kau tersenyum lama dan rasanya disambut oleh suara seindah itu rasanya bagaikan…ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku merasa terlalu berlebihan, “Apa bunga matahari yang kemarin sudah layu?”

Tidak, tentu tidak. Bunga itu masih segar bugar berdiri di kebun belakang rumah ibuku yang setiap harinya kubawakan satu bunga matahari dari sini dan itu adalah bunga yang ke…entahlah aku lupa.

“Tidak. Ibuku ingin bunga matahari yang baru.” Begitulah jawaban palsu yang selalu kulontarkan setiap kali dia menanyakan pertanyaan yang sama juga. Kau hanya tertawa kecil lalu beranjak mengambil bunga matahari dan menyerahkannya padaku.

“Kau berbohong, kan?” sebaris kalimat itu berhasil membuatku lemas hingga nyaris jatuh. Apa aku ketahuan sekarang? Sepertinya begitu.

“Berbohong? Maksudmu apa Hyomin-ssi?” aku berusaha mempertahankan kelancaran nada bicaraku. Berharap kau menghapus semua anggapan apapun itu yang sekarang berkelebat di dalam pikiranmu. Kuharap itu bukan tentang pikiran buruk.

“Apa yang kau cari sebenarnya?” Seumur hidup baru kali ini aku mendapat pertanyaan yang sulit untukku jawab. Aku punya beribu alasan tapi bibirku mengkhianatiku. Diam membisu dan kelu. Nyaliku membohongiku, begitu takut untuk mengungkapkan.

“Aku tahu kau bukan orang jahat.”

“Dari mana kau tahu? Bisa saja aku seperti itu.” Lancangnya mulut ini, pikirku. Bagaimana kalau setelah ini Hyomin akan berpikir yang macam-macam selanjutnya? Mendadak aku dilanda frustasi tak beralasan.

“Dan mengapa kau juga selalu melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali?” Aku berbalik menyerang. Tidak, menggoda lebih tepatnya. Berharap mendapat reaksi yang sama sepertiku barusan. Tapi kenyataan menolak. Kau mengumbar senyum simpul lalu menjawab santai, “Karena aku menunggu jawaban jujur darimu hingga aku harus mengulangnya setiap kali kau kesini.”

Tawa renyah lolos melalui kedua bibir merah mudamu. Entah apa yang lucu tapi kemudian aku ikut terbawa suasana dan turut tertawa bersamamu. “Juga aku punya perasaan yang mengatakan kau pria baik-baik. Itu saja.”

“Lalu mengapa kau menanyakan hal itu?”

“Aku hanya merasa ada yang tidak wajar disini.” Jawabannya membuat kedua alisku mau tak mau mengkerut. Aku? Tidak wajar?

“Bukan. Bukan kau, Tuan.” Jawabmu seolah mendengar apa yang disuarakan hatiku tapi bagaimana bisa?

“Jonghyun saja. Sudah berul…”

untuk apa kau selalu membeli bunga matahari setiap harinya dan mengapa harus sehabis sore?”

Itu hanya kamuflase. Kenyataan terselubung yang sebenarnya itu kau. Kau alasanku untuk setiap harinya ke tempat ini. Dimulai sejak saat itu. Saat senandungmu membangunkanku dan membawaku untuk mengalir bersamamu. Kau menjeratku dan kau harus bertanggung jawab hingga saat ini aku masih menuntut pertanggungan jawabanmu. Namun melihatmu tersenyum itu sudah lebih dari cukup. Aku menikmati siksaan setiap malam aku merindukanmu. Dan itu semua tidak kau tahu.

“Besok. Aku mau menjemputmu. Kau punya waktu?” Semua alasan itu akhirnya tidak terucap tergantikan permintaan bodoh yang dibalas olehmu dengan raut tak mengerti. Aku yang bodoh ini menyadari kalau nyaliku masih belum siap untuk mengungkapkan kalau aku sepertinya menyukainya.

Oh, bukan.

Aku jatuh kedalam jeratnya. Aku sudah mencintainya.

-o-

“Mengapa kau mau menerima permintaanku?”

“Karena aku ingin berterima kasih untukmu.” Kau nampak begitu menikmati suasana sore ini. aku seperti melihat diriku dalam dirimu. Mentari kini menjelma menjadi dirimu. Aku baru menyadari itu. Hanya saja sinarmu tidak pernah redup dan kedamaian sinar malan bulan tidak mampu menggantikkan keindahanmu. Lirik dawai semu angin memetik lembut helai demi helai rambut hitammu. Kau tertawa kecil seolah angin telah membisikkan sesuatu yang indah ke telingamu hingga kau tersipu.

Aku menikmatinya dan ini bukan lagi tentang petang dan mentari. Aku menikmatimu yang turut mengalir bersama temaram sore yang sebentar lagi menghilang.

“Kau menikmatinya?”

“Ya. Sudah lama aku tidak menikmati semua ini.” Seraut suram menyelubungi wajahmu. Dan ini bukan kali pertama aku melihatnya sepanjang sore ini. Dan aku mengutuk diriku beribu kali dalam hati menyadari lagi-lagi betapa bodohnya aku.

“Meski cakrawala tak dapat kugapai setidaknya lembut angin masih mau untuk kusentuh.” Sebaris senyum miris menyambangi wajah lelahnya. Kau lelah dengan semuanya, Hyomin-ah?

Kulihat kau menggeleng seolah menjawab pertanyaanku, “Tidak. Aku hanya berusaha untuk tidak menyalahkan takdir.”

“Berhenti tersenyum palsu. Aku disini ada untuk menjadi cakrawalamu.”

-o-

Those passionate words
that whispered ‘I love you’
turn cold like an ice,
step on my everything more cruelly than strangers,
and leave me.
Since you gave me love,
is it right for me to be in pain
when you give me the good bye as well?

Aku tersenyum memandang permadani hitam langit berhiaskan kilauan pendar bintang menyatu, mahakarya Tuhan di tengah temaram senyap dunia tertidur. Sayup-sayup burung  hantu bersenandung sedih, tentang aku yang terkurung dalam jeruji kesendirian malam, menjadi pengantar tidur para pemburu mimpi.

Racun itu kini mulai menjatuhkanku. Aku tidak lagi berdiri. Kini ku jatuh dan terperosok. Racun itu kini membeku dan tidak akan mencair. Menjadi bagian dari diriku sama sepertimu yang tak pernah lekang oleh waktu. Racun itu mennghasutku untuk berlakon sedih sepanjang waktu. Dan aku pun tak mau menghindari maupun menolak. Aku terlanjur jatuh dan enggan untuk mendongak langit.

Sejak senandung cintamu menjadi racun bagiku, apakah salah jika aku merasa menjadi yang terluka saat kau memberikan senyum semu tak berarti.

Kubenci mengatakan dan mengakui kalau kau tengah mengucapkan selamat tinggal.

Jangan. Jangan gunakan senyum itu. Atau aku akan kembali menarikmu dalam rengkuhanku, kan kubawa kau kembali merengkuh cakrawala dan bisik angin berceloteh manja di telingamu.

-o-

“Aku selalu menyukai bunga matahari.” Kau bergumam kecil, sesekali menyesap harum bunga matahari. Aku menoleh memandang mentari sejenak. Cerah seperti biasanya.

“Dan aku menyukai matahari.”

“Itu sebabnya kau selalu datang ke Sungai Han untuk melihat matahari tenggelam?”

“Ya. Karena aku berjanji padanya untuk datang. Dia ingin mengucap selamat tinggal sebelum menghilang.”

Kauterdiam. Suram itu kembali hadir, menyelubungi sinar wajahmu yang perlahan meredup.

“Aku juga merindukan matahari diatas sana. Aku rindu mendengar ceritanya tentang dunia ini.” Kau lalu tersenyum miris hingga tidak menyadari kaumemeluk bunga matahari itu sangat erat.

“Kau juga suka mendengarkan ceritanya? Matahari memang punya banyak cerita.”

“Matahari pernah bercerita padaku, ada sesosok yang bercahaya bagai matahari meski redup malam menyelimuti temaram dunia dia akan tetap bercahaya. Dia indah bagai bunga dan bercahaya bagai matahari. Meski dia selalu bilang kalau dia hanya sebatang bunga hitam tak bernilai, nyatanya pendar cahaya itu menyeruak dari dirinya.”

Kau mulai berhambur dalam tangis. Tangis diammu membuatku menyadari indahmu memang nyata meski tanpa dua iris mata itu aku percaya pancaran sinarmu melantunkan dari setiap sendi tubuhmu.

“Aku mencintaimu, Hyera. Aku mencintaimu, Matahariku.” Kubawa kau dalam pelukan. Biarkan kau merasakan bahwa aku sungguh-sungguh.

-o-

Look back at me at at then,
Look at those black flowers
that bloomed from your cruelty,
away from your cold glare hidden inside a mask
in this twisted world.
Look at your deceived love that only looked white.

Kumohon kembalilah. Lihat aku disini yang terlukai olehmu. Beraninya kau mengambil langkah pergi setelah kau bilang kau juga mencintaiku. Tolong jangan buat aku percaya kau memang bunga hitam yang tega menyakitiku semaumu. Bayangmu bagai sembilu menusuk rangkaian kenangan masa lalu yang tertinggal. Hanya menjadi sebuah kenangan tidak mungkin terulang. Jangan buat aku juga menbenci dunia yang tidak tertebak dan aku terjebak.

Bersemayam jauh di dalam sana kau bersama jiwamu. Kini kau telah bahagia? Kau sudah mampu merengkuh cakrawala? Sampaikan salamku pada matahari. Katakan bahwa ada aku yang mencintaimu. Disini.

-o-

Go Go Don’t look back
Go Go I no longer
want you. How you end this,
you saying sorry because you weren’t good to me,
your temperamental heart,
your unpredictable love,
I’m sick of it all.

“Kau tahu, bunga matahari itu melambangkan cinta sejati. Penantian yang tidak pernah menyerah.”

“Benarkah?” aku terheran. Baru aku tahu kalau bunga matahari juga melambangkan cinta sejati. Bukankah bunga mawar?

“Bunga matahari menyimpan banyak cerita tak terucap. Dia simpan dalam keindahan mahkota kuningnya.” Kau mengambil hirup sejenak, “dahulu kala ada seorang putri yang begitu mencintai Dewa Matahari namun cintanya tak pernah bersambut hingga dia pun menanti dan hanya menanti. Sang putri berubah menjadi bunga matahari yang selalu mengikuti arah matahari. Sang putri hingga kini masih berharap Sang Dewa Matahari sudi untuk melihatnya barang sejenak.”

Tanganmu terangkat dan kugapai raihan tanganmu yang mencoba meraba-meraba udara.

“Kuharap kau jangan seperti si Putri. Menunggu yang tidak pasti.” Aku terheran, apa maksud dari perkataannya?

“Tapi cintaku bersambut dan aku bukan sang Putri.”

“Aku juga bukan Sang Dewa yang pantas untuk dicintai apalagi ditunggu…”

“Hyomin…”

“Tolong, jangan lakukan itu. Jangan pernah lagi memintaku untuk melihatmu kembali karena aku tidak pantas untukmu. Untuk kau yang melakukan semua ini.” Genggaman tanganku mengendur. Aku tidak bisa mencerna baik-baik maksud tersirat yang kaukatakan baru saja. Aku selalu kalah olehmu. Semua tentang cintamu yang tak pernah kubayangkan. Kau memintaku untuk membencimu dan tidak percaya akan cintamu. Mengapa kau begini? Jika kau sakit, biarkan aku mengatakan ini bahwa aku lebih sakit.

-o-

Seribu bunga matahari tidak mampu menyingkirkan keindahan satu-satunya di hatiku. Senyata mungkin siluetmu masih menyelubungi irisan kenangan dipelupuk mataku. Kucoba mengulurkan tangan menyambut raihan tanganmu yang mencoba menggapaiku. Namun kau semakin jauh dan jauh. Kau biarkan semua ini terlepas dan kau redup.

-o-

Try crying sometimes then,
open up my bursting heart
towards your sad face, your smile,
and erase the black flowers that bloomed in your pretense.
Your deceitful love that seemed to last forever.

Lirik bisu angin sore menggaungi ruang hampa pendengaranku kala semilir lemahnya menerpa halus permukaan kulitku, menggelitik hingga epidermis. Sore kesukaanku mulai nyata saat bentangan temaram oranye menyatu dengan riak-riak damai Sungai Han.

Tak dapat kutahan senyum, melihat mentari perlahan tenggelam dan mengucapkan salam perpisahan tak terkatakan. Aku dapat mendengarnya. Dia bilang besok dia akan kembali dan memintaku untuk menunggu.

“Aku akan menunggumu. Kau tahu itu.” Kuharap dia akan mendengar. Kupinta angin membawa jawabanku atas permintaannya. Dan biarkan dia tersenyum sekali sebelum dia benar-benar hilang dan redup. Hingga gelap menggantikan.

Yang aku benci.

Namun kau juga benci. Kau memintaku untuk membencimu dan kau membenciku jika aku menunggumu. Kukatakan semua pada matahari bahwa aku merindukanmu dan dia mengatakan bahwa kau juga merindukanku.

Dan alasanku masih sama setiap kali aku memandang matahari tenggelam di sore hari. Untuk menunggu kedatanganmu berharap kau mau melihatku barang sejenak. Aku memang seperti Sang Putri dan kau memang seperti Sang Dewa.

Ku akan seperti bunga matahari yang mengikutimu dimana pun kau bersinar. Meski nyatanya seribu bunga matahari yang kutanam tidak mampu mengembalikanmu ku berdoa biar ku dapat gantikan tempatmu. Kutelah puas memandang langit dan merengkuh cakrawala terlebih melihat senyum dan mendengar senandung indahmu.

Membelai wajah sedih itu kala mendapati takdir kau tidak mampu menatap warna dunia lagi. Maafkan aku yang tidak bisa membuatmu lepas dari kungkungan gelap abadi dan terima kasih telah menjadi yang terbaik bagiku selama ini. Kau bunga hitam yang terinjak akan menjadi yang terindah dihatiku.

Apa aku boleh menangis? Sekali saja. Ini untuk mengenangmu. Tolong jangan membenciku setelah ini aku takkan menangisimu lagi.

Bunga Hitamku. Aku mencintaimu.

Matahariku. Kau segalanya untukku.

-o-

“Jonghyun-ah, bolehkah aku menyentuh wajahmu sekali saja?”

“Tentu saja” Kutuntun tanganmu membelai tiap guratan wajahku yang tak terlihat oleh. Kuingin menangis meski kau tersenyum tulus kini di depanku.

“Kau tengah tersenyum, ya?” Lalu aku mengganguk. “Kau pasti terlihat sangat tampan saat ini,” dan aku pun kembali menggangguk.

“Basah…” Jemarimu perlahan meraba pipiku lembut dan menghapusnya. “Jangan seperti ini. Aku tidak apa. Aku hanya ingin mengingat wajahmu kelak saat aku benar-benar redup,” lalu kau melepas belaianmu.

“Ah, aku lupa. Selama ini memang aku sudah redup,” kini berganti kau yang menangis. Aku tidak tahan lagi. Kumohon jangan buat ini seolah-olah mudah untukmu. Aku tahu kau berkali-kali tersakiti dan aku beribu kali terlukai mendapatimu menitik air mata karenaku.

“Aku mau kau mengingatku sebagai bunga hitam yang berarti bagimu bukan sebagai bunga matahari kesukaanku. Karena kutahu semakin kuminta kau untuk membenci bunga hitam kau akan semakin mencintai bunga hitam. Jadi, lakukanlah seperti itu.”

-o-

Jung Hyomin

Kurasa sampai disini saja masaku. Akhirnya impianku tercapai. Menggenggam matahari dan merengkuh cakrawala. Aku akan terus tersenyum kepadamu dari sana dan menyenandungkan lagu kesukaanmu. Aku juga mencintaimu, Jonghyun. Terima Kasih sudah menceritakan segala warna dunia ini. Karenamu bisa menggambarkan duniaku sendiri dalam gelapnya pelupuk.

THE END

 

One thought on “[FF CONTEST] Black Flower

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s