[FF CONTEST] Comfort Song

 

By Danieehee

 

“Ah! Abeoji! Ampun! Ampun, Abeoji! Ah!” Seorang gadis menjerit kesakitan saat kulit lembutnya berbenturan dengan kayu besar yang dilayangkan oleh ayah gadis itu. “Ho? Ampun? Tak ada ampun bagimu!” Pria paruh baya itu mendengus lalu kembali memukuli gadis itu. Bau alkohol tercium jelas dari mulutnya. Gadis itu hanya bisa pasrah sambil menangis memohon pada ayahnya. “Yak, Ahjussi!” Pria itu menghentikan kegiatannya dan menatap lelaki muda yang sedang membawa ransel di pundaknya dengan tatapan mencemooh.

“Huh, siapa kau? Mau datang menyelamatkan gadis ini? Hah?!” Ia melempar balok kayu itu ke arah lelaki muda dan dengan mudahnya lelaki itu menghindar. Lelaki itu maju beberapa langkah dan langsung menerima pukulan yang lumayan keras dari pria itu. Lelaki itu terdorong sedikit lalu mengelap sudut bibirnya yang berdarah dan tersenyum. “Kau akan menyesal, ahjussi.” Ia langsung menendang tepat pada dagu pria itu yang seketika jatuh mencium tanah. Lelaki itu dengan cepat menarik lengan gadis itu dan berlari dengan cepat, hingga pria itu tak terlihat lagi.

Mereka berdua berhenti lalu duduk di bawah pohon cherry. Gadis itu duduk dengan takut-takut menatap lelaki itu. Lelaki itu menangkap raut takut dari gadis itu dan tersenyum. “Tak perlu takut. Aku tak akan melukaimu.” Gadis itu tak bergeming. Hanya memainkan dedaunan kering yang berada di kakinya.

“Kau.. apa selalu diperlakukan seperti ini oleh ayahmu?” Tanya lelaki itu perlahan. Takut menyinggung juga sebenarnya. Gadis itu melirik sekilas ke arah lelaki itu dan mendengus. Rahangnya mengeras. “Memangnya kenapa kalau aku terus diperlakukan seperti itu oleh ayahku?” Tanya gadis itu. Suaranya serak. Tangis telah berada di pangkal tenggorokannya.

“Ah.. tidak.. aku hanya―“ Perkataan lelaki tersebut terpotong saat gadis itu membentak tepat di depan wajahnya. “Kau tak perlu ikut campur! Kau tak perlu lagi membantuku!” Gadis itu memalingkan wajahnya dari tatapan lelaki tersebut. “Pelipismu berdarah.” Lelaki itu merogoh saku celananya dan mengambil sapu tangannya. “Ini.” Ia menyerahkan sapu tangannya pada gadis itu. “Tak perlu.” Tolak gadis itu dengan kasar dan Ia berdiri lalu meninggalkan lelaki itu yang menatapnya dengan senyuman wajar.

            “Gadis yang menarik..” Lelaki itu berdiri dan berteriak ke arah gadis itu. “Hey! Aku menaruhnya di sini, ok?” Gadis itu menoleh. Lelaki itu mengibas-ngibaskan sapu tangannya dan menaruhnya di tanah tempat mereka duduk tadi. “Sampai bertemu lagi!” Lelaki itu kemudian pergi menjauh. Gadis itu menghela napasnya dengan berat lalu pergi menjauh dari pohon itu dan kembali ke rumahnya.

Matahari bersinar cerah. Menyelimuti bumi dengan kehangatannya. Seorang gadis keluar dari rumah sederhananya dengan kaki kanan pincang. Perlahan, Ia menyusuri langkah demi langkah. Hatinya mencoba kabur dari kegusaran. Namun, Ia tak bisa. Ia terlalu lemah. Terlalu takut untuk mencoba. Takut Ia akan diolok-olok lagi. Takut Ia akan dimusuhi. Ia mencoba untuk tak mengeluarkan setitikpun air matanya. Walau sering kali air mata itu mendesak ingin keluar.

Ia menuntun kakinya sendiri ke tempat itu. Dimana masa-masa buruk dimulai. Ia memperhatikan tempat itu beberapa saat. Matanya menangkap sekelebat orang-orang di masa lalunya. Ada sosok segerombolan pria berpakaian serba hitam di sana. Mereka sedang memukuli kakak laki-lakinya dengan ganas. Tak jauh di belakangnya, berdiri gadis kecil yang ketakutan. Ia terlalu takut untuk berteriak atau berlari meminta pertolongan. Ya, gadis kecil itu adalah dirinya sendiri di masa lalu.

Kemudian segerombolan pria itu pergi meninggalkan kakak laki-lakinya. Gadis itu berteriak menghampiri kakak kesayangannya “Oppa! Oppa! Bangun, Oppa! Oppaaa!!” Pekiknya. Ia mengguncang-guncangkan badan kakaknya. Bibirnya pucat. Muka tampannya telah dinodai darah. “Oppa! Jangan tinggalkan aku, Oppa! Oppaaaa!!!” Ia menangis meraung-raung. Lalu Ia menjambak rambutnya sendiri, berharap dengan itu, Ia terbangun dari mimpi buruknya.

Namun, tidak. Itu semua nyata. Ia berhadapan dengan jasad kakak kesayangannya. Ia memeluk tubuh kaku kakaknya. Kemudian berbisik. “Oppa.. Shiyoon oppa… kembalilah..” Ia memeluk erat tubuh kakaknya hingga tiba-tiba Ia ditarik dan dihempaskan begitu saja. “Yak!! Kau!! Apa yang kau lakukan kepada kakak laki-lakimu, gadis bodoh??!!” Ayah gadis itu berteriak tepat di depan wajahnya. Gadis kecil itu hanya bisa menunduk sambil menggeleng. “A-aku tidak melakukan apa-apa… Appa..

“Jangan panggil aku dengan sebutan appa! Kau bukan lagi anakku! Dan aku bukan lagi ayahmu!!”

“Ta-tapi… Appa―

PLAK!!!

Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi halus gadis kecil itu. Ia menangis mendapati ayahnya sendirilah yang barusan menamparnya. “Appa… hiks..” Gadis itu menangis sambil memegangi pipinya yang terasa sakit. “Kau telah membunuhnya! Iya kan?!” Pria itu memukul berulang-ulang dahi gadis kecil itu menggunakan telunjuknya. “Bukan.. Aku berani sumpah..” Isakan tak kunjung berhenti dari bibir mungilnya. “Berani sumpah?! Kau! Gadis sial!” Tangan pria itu hendak ingin memukul lagi gadis itu. Namun, tangan lain menahannya. “Jangan pukul Shinhye lagi!” Wanita paruh baya itu langsung memeluk anak kesayangannya. “Kau tak apa nak?” Tanyanya sambil mengelus lembut rambutnya. Shinhye kecil mengangguk, “Ne, eomma…”

“Wah wah wah… Mau membela anakmu ternyata? Kau sudah berani sekarang?! Hah?!” Pria itu mencengkram kerah baju Ibu Shinhye dengan kencang. “NE! WAE?! AKU TAK TAKUT DENGANMU!! HAAAHH!!!” Wanita itu memberontak. Mencoba melepaskan cengkraman yang kuat dari suaminya. “Lepaskan aku!!” Teriak wanita itu dengan suara tercekat. “Eomma!” Shinhye kecil berdiri lalu langsung mencoba menendang kaki ayahnya. “Yak! Gadis bodoh! Minggir! Jangan ganggu aku!” Pria itu mendorong dengan mudah Shinhye kecil hingga terjatuh dan mencium tanah.

Eomma!!” Pekik Shinhye kecil sambil mencoba menarik Ibunya. Namun, kembali Shinhye kecil didorong oleh ayahnya. Setelah meyakinkan kalau wanita itu sudah lemas, barulah pria itu melepaskannya. Ibu Shinhye terkulai lemah tak berdaya. Sementara Shinhye kecil menjauh perlahan, menatap ayahnya ketakutan. “Kemari kau, anak sialan!” Perintah pria itu. Shinhye kecil terus mundur, menjauh dari pria itu. Hingga tiba-tiba, warga yang lain datang. Menyelamatkan Shinhye kecil dan Ibunya. Membawa jasad Shiyoon ke rumah Shinhye dan Ibunya.

Shinhye melihat kejadian yang telah terjadi berbelas-belas tahun yang lalu itu dengan air mata mengucur. Semuanya terekam jelas pada memorinya. Seakan-akan bayang-bayang tadi adalah kaset film yang diputar kembali. Bayang-bayang itu membuat luka di dalam hatinya kembali terbuka. Ketakutan yang Ia rasakan dulu kembali lagi pada dirinya. Ia menyapu setiap sudut tempat itu dengan tatapan waspada. Ia merasa ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. Keringat dingin mulai melewati setiap tubuhnya. Ia kemudian berteriak sekencang-kencangnya. Kemudian berlari tak tentu arah sambil memperhatikan sekeliling.

Tak terasa, Ia sampai di tempat dimana Ia duduk bersama laki-laki yang menyelamatkannya kemarin. Shinhye duduk dan menemukan sapu tangan namja itu masih ada di sana. Ia tersenyum sekilas dan mengambilnya. Saat Shinhye menyentuh sapu tangan itu, ternyata di dalamnya terdapat MP4 yang terbungkus rapi. Ia mengambilnya dan menyalakannya. Kemudian memasang earphone lalu menunggu. Ia terkejut mendapati suara namja kemarin.

Hai. Aku tak tahu apa yang membuatku tergerak untuk membuat rekaman ini. Hanya saja, feelingku berkata, bahwa kau akan membutuhkannya. Mungkin suatu saat. Mungkin kau bertanya-tanya juga kenapa aku repot-repot melakukan ini? Padahal aku baru mengenalmu kan? Haha lucu memang, baru kali ini juga aku melakukan yang seperti ini. Merekam, untuk seorang yeoja. Sepertimu. Hahaha. Plus, gratis. Aku selalu membuat rekaman untuk dijual. Jadi, kau beruntung gadis muda. Yah, kurasa cukup untuk basa-basinya. Aku akan menyanyi, untuk menghiburmu. Kau harus hati-hati. Karena banyak yeoja yang jatuh cinta kepadaku hanya karena mereka mendengar suaraku yang merdu, ok? Sudah-sudah, aku tahu kau sedang tersenyum sekarang, tapi tak perlu terus menerus, apa kau tidak lelah? Ok. Sekarang aku menyanyi ya. Kau dengarkan.

….

….

Give me a smile, Don’t be sad. It’s going to be alright. Don’t shed a tear. The song that I am singing now, I hope that it can bring you a bit of comfort. Give me a smile, Don’t get hurt. It’s going through a hard time now. Time will pass. Everything will look up again. Give me a smile. I am right here by your side. I love you, can you hear my heart? Close your eyes. No matter what, I believe you. I am always here for you. Give me a smile, look into my eyes. I love you, I have always been looking at your heart. It has never changed. You can lean on my shoulders. Take a rest, Give me a smile. I am here for you. Me, who believes in you. Always and forever..

….

….

Bagaimana? Suaraku bagus bukan? Tunggu aku ya. Aku akan pergi bekerja di luar negeri. Tidak akan lama. Aku akan kembali. Saat aku kembali, aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu, hm? Ok, sampai nanti, nappeun yeoja.”

Shinhye menangis tersedu-sedu saat rekaman itu selesai. “Itu kau, bukan aku! Kau yang nappeun namja, baboya!” Tak lelah-lelahnya tangannya mengelap air mata yang bergulir jatuh. “babo.. Kau babo…” Shinhye berjalan gontai menuju rumahnya. Sapu tangan namja itu diikatkannya pada pergelangan tangannya. MP4 namja itu Ia masukkan dalam sakunya. Seketika itu, Shinhye tersenyum. Aku akan menunggumu, nappeun namja.

3 tahun kemudian

“Yonghwa-ssi!” Yonghwa menoleh ke arah Park Byun Jin alias pemilik sekolah musik tempat Ia mengajar. “Ne?” Tanya Yonghwa. “Bisakah kau mengantarkan gitar pesanan Jonghyun sekarang?” Tanya Byun Jin sambil mencoret-coret catatan keuangannya. “Ah, baiklah..” Yonghwa mengambil gitar tersebut dan keluar dari ruangan. Di perjalanan, Ia menikmati setiap hembusan angin musim panas yang menerpa pori-pori kulitnya. Saat sedang menikmati semilir angin, tanpa sengaja, Yonghwa menabrak seorang gadis yang sedang membawa lembar-lembaran kertas yang menumpuk.

Eoh! Jeosonghamnida! Saya benar-benar tidak melihat Anda!” Yonghwa membungkukkan badannya berkali-kali lalu membantu gadis itu merapikan kertas-kertas yang berhamburan. “Ne, gwaenchansseumnida.” Gadis itu mengucapkan dengan ekspresi datar. Yonghwa mengambil beberapa lembar dan menyadari kalau gadis di depannya memakai lengan panjang, sedangkan sekarang sedang musim panas.

Apa Ia tidak kepanasan? Pikir Yonghwa heran. “Hm, kau tidak kepanasan menggunakan baju panjang di saat musim panas seperti ini?” Tanya Yonghwa sambil sesekali memperhatikan gadis itu. “Tidak.” Jawaban yang singkat diterima Yonghwa. Membuat Yonghwa mendengus pelan.

Saat gadis itu sedang mengambil kertas yang agak jauh dari jangkauannya, lengan baju gadis itu tertarik dan terkejutlah Yonghwa saat melihat luka memar-memar yang berada di tangan gadis itu. Menyadari bahwa Yonghwa telah melihat luka yang ada di tangannya, gadis itu menarik kembali lengan bajunya dan cepat-cepat pergi dari tempat itu walau ada kertas yang belum diambil. “Yak! Yak!” Yonghwa berdiri, memanggil gadis itu sambil melambai-lambaikan kertas yang terjatuh tadi. “Masih ada yang tersisa! Yak! Aish! Jinjja!” Yonghwa mendengus kesal dan tanpa sengaja melihat benda di dekatnya. “Eoh? Sapu tangan? Sepertinya milik yeoja itu.” Yonghwa mengambil sapu tangan tersebut.

            Ia melihat sebentar sapu tangan tersebut dan beberapa detik kemudian tersadar. “Eoh! Inikan punyaku!” Ia membalik sapu tangan tersebut dan melihat 3 huruf berderet. JYH. Yonghwa tertawa pelan, tersenyum lembut ke arah gadis yang sedang setengah berlari jauh di depannya. “Akhirnya aku menemukanmu, nappeun yeoja.”

“Permisi..” Yonghwa mengetuk pintu rumah makan kecil sambil melongokkan kepala ke dalam. “Eoh! Silahkan masuk!” Seorang wanita paruh baya yang sedang mengelap meja-meja menyuruh Yonghwa masuk ke dalam. “Mau makan apa?” Tanya wanita itu dengan hangat. “Ah, bukan. Saya ke sini ingin bertanya, apa di sini tinggal seorang gadis?” Tanya Yonghwa. “Eoh? Shinhye-ah? Tunggu sebentar, ne? silahkan duduk dulu.” Yonghwa menurut sambil tersenyum.

Wanita itu menaiki tangga di pojok ruangan dan beberapa menit kemudian turun dengan seorang gadis yang membuat Yonghwa tersenyum. Gadis itu terlihat malas-malasan menuruni tangga dan terkejut saat melihat Yonghwa. Yonghwa tersenyum ke arah gadis itu dan dibalas dengan dengusan. “Ini, namanya Shinhye, cantik bukan?” Wanita itu mengerling jahil pada putri kesayangannya. “Eomma!” Shinhye mengerucutkan bibirnya.

Wae?” Tanya wanita itu dengan nada tak bersalah. Yonghwa tertawa kecil melihat keduanya. “Nah, anak muda yang tampan… Berbaik-baiklah dengan anakku, ne? Dia dari luar terlihat menyebalkan! Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik! Ok?” Wanita itu memaksa Shinhye untuk duduk dihadapan Yonghwa lalu meninggalkan mereka sambil menyapu lantai. “Omo.. Andai aku bisa kembali menjadi muda…” Gumaman wanita tersebut membuat Yonghwa tertawa sedangkan Shinhye hanya diam tanpa ekspresi. Melihat Shinhye yang tak memperlihatkan ekspresi sama sekali, Yonghwa menghentikan tawanya dan berdeham kecil. “Ada perlu apa kau datang kemari? Tanya Shinhye to the point dengan wajah dingin.

“Hm, ini.” Yonghwa menyodorkan kertas dan sapu tangan di depan gadis itu. Gadis itu terlihat terkejut. Tangannya meraba-raba kantong celananya dan Ia menatap Yonghwa sekilas. Buru-buru Ia mengambil sapu tangan itu. “Gomapseumnida..” ucap gadis itu tanpa menatap mata Yonghwa. Yonghwa tersenyum. “Jadi kau masih menyimpan sapu tanganku, eoh?” Yonghwa melipat tangannya, memandang lurus ke arah Shinhye.

Mwo?” Shinhye terlihat sedikit terkejut. Yonghwa mengangguk. “Ba-bagaimana kau tahu kalau ini milikmu?” Tanya Shinhye. Yonghwa mengendikkan dagunya, menyuruh Shinhye untuk melihat sendiri sapu tangan tersebut. Shinhye membolak-balik sapu tangan itu dan menemukan 3 huruf yang sering Ia lihat. “JYH. Jung. Yong. Hwa.” Ucap Yonghwa dengan penuh kemenangan di wajahnya.

Shinhye memandang Yonghwa dengan ekspresi datar. Jadi namanya Jung Yong Hwa… Kupikir.. Jang Yoon Hee.. Pikir Shinhye. Yonghwa tertawa lagi. “Aku heran..” Yonghwa mendekatkan wajahnya ke depan Shinhye, membuat Shinhye mengerutkan dahinya dan mundur sedikit. “Kenapa kau bisa hidup tanpa mengeluarkan ekspresi sedikitpun?” Yonghwa memundurkan wajahnya. Shinhye hanya mengendikkan bahunya. Yonghwa tersenyum, “Kita belum berkenalan secara formal.” Yonghwa menyodorkan tangannya. “Perkenalkan, aku Jung Yong Hwa.” Ucapnya sambil tersenyum. Shinhye hanya melirik tangan Yonghwa tanpa minat. “Park Shin Hye imnida.” Ia memalingkan wajahnya. Yonghwa memperhatikan tangannya yang malang lalu menarik kembali tangannya, memasukkannya pada kantong celananya. “Ah jinjja, gadis ini semakin menarik.” Gumam Yonghwa sambil menyembunyikan senyumnya.

            “Sudahkan? Tak ada lagi yang mau katakan? Aku pergi.” Shinhye beranjak dari duduknya ketika tiba-tiba Yonghwa menarik tangannya. “Mau.. keluar untuk jalan-jalan?” tanyanya. Shinhye memandang tangannya datar lalu menarik tangannya dengan kasar. “Aku sibuk.” Katanya. Yonghwa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari melihat Shinhye menjauh.

Yonghwa berjalan melewati jembatan yang terlihat indah di tengah-tengah danau sambil bersenandung riang. Yonghwa menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara benturan. Ia menoleh ke sana ke mari tapi tidak menemukan sosok atau benda yang terbentur. Ia kembali berjalan dengan santai. “Abeoji! Abeoji! Ampun! Ampun! Abeoji… Ampun…” Suara yang dikenal Yonghwa menghentikan langkahnya. Yonghwa berlari menuju pinggir jembatan dan melihat ke bawah. Dilihatnya Shinhye sedang dipukuli oleh seorang pria paruh baya.

Yak! Ahjussi!” Yonghwa berlari menuju tempat Shinhye dan ayahnya berada. Yonghwa langsung memukul hidung ayah Shinhye dengan emosi berkobar-kobar. Shinhye melihatnya dengan tampang takut-takut dan hanya bisa menggigit jarinya. Yonghwa memukul ayah Shinhye tanpa ampun. Siapapun yang mengenalnya pasti menganggap Ia kerasukan makhluk gaib. Shinhye tak tahan melihat ayahnya.

“Cukup!” Ia berlari ke arah Yonghwa dan ayahnya. Shinhye menahan pukulan yang hendak dilayangkan Yonghwa pada pipi ayahnya. Dada Shinhye terlihat naik turun. Peluh mengalir deras bercampur dengan air matanya. “Tolong hentikan…” Bisiknya. Yonghwa terpaku, kepalan tangan diturunkannya dengan terpaksa.

Shinhye menghampiri ayahnya yang menahan sakit dari luka yang dibuat Yonghwa. “Abeoji… Gwaenchanha?” Tanya Shinhye. Pria itu berdiri, memandang Shinhye dengan penuh kebencian. Lalu Ia mendorong Shinhye dengan keras. Shinhye terjatuh sambil menangis menahan nyeri di tulang tangannya.

Ahjussi!” Yonghwa berteriak. Ia berlari menghampiri Shinhye, mencoba mengangkatnya bangun. Shinhye melepas tangan Yonghwa yang memegang lengannya. “Jangan bantu aku. Kau tak perlu ikut campur dalam masalahku.” Ucap Shinhye. Yonghwa mundur sambil menatap Shinhye nanar. “Abeoji! Pukul saja aku! Aku tak apa!” Teriaknya sambil mencoba bangun. Pria itu mendengus dan langsung melayangkan pukulan pada Shinhye.

“Shinhye-ssi!” Yonghwa mendekat, bermaksud menolong Shinhye. “Jangan bergerak! Kumohon…” Pintanya dengan suara parau. Yonghwa memukul udara di sekitarnya. Menyayangkan kondisinya sekarang yang tak berguna. Shinhye hanya diam sambil tersenyum saat menerima pukulan bertubi-tubi dari ayahnya.

Yonghwa tidak tahan melihat Shinhye yang mulai lemas. Ia berlari, menarik kerah pria itu dan memukul pria itu hingga tak sadarkan diri. Shinhye menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. Hatinya nyeri setiap kali mendengar suara pukulan yang diterima oleh ayahnya. Shinhye memandang Yonghwa yang duduk tak jauh darinya.

Shinhye tersenyum sekilas. Sebutir air mata jatuh ke pipinya. “Gomawo… yo..” Ia menundukkan kepalanya. Menangis sesenggukan. Shinhye menyandarkan kepalanya pada kedua lutut yang dipeluknya. Yonghwa berjalan ke arah Shinhye. Duduk di sampingnya. Keduanya memandang air danau yang seharusnya membuat mereka tenang. “Selama ini… Kau berusaha untuk tegar. Tak mau mengeluar setitik air mata pun. Memang, fisikmu tidak menangis sama sekali. Tapi aku tahu, bahwa hatimu… Menangis.”

Shinhye menoleh pada Yonghwa. “Terima kasih.” Ucapnya tulus. “Untuk?” Tanya Yonghwa bingung. “Untuk menyanyikanmu sebuah lagu. Selama ini… aku menunggumu.” Shinhye tersenyum getir. Menatap air yang tenang. “Benarkah?” Tanya Yonghwa antusias. “Hm.” Shinhye mengangguk. Air matanya turun perlahan. “Aku… dari kecil, aku selalu tak punya teman. Mereka menjauhiku karena mengira akulah yang membunuh kakakku. Yoon Shi Yoon oppa.” Shinhye menyelipkan rambutnya yang menutupi mukanya ke belakang telinga. “Aku dituduh seperti itu karena aku sedang duduk di sebelah oppaku saat Ia meninggal.

“Orang-orang selalu mencemoohku. Memanggilku dengan sebutan ‘Si Wanita Pembunuh’. Aku hanya diam. Mencoba untuk tak mengeluarkan air mata setetespun. Tapi aku tak bisa. Di sini…” Ia menghentikan kalimatnya lalu memukul-mukul bagian hatinya. “Sakit. Sangat sakit. Kau tahu rasanya? Rasanya seperti luka bernanah yang disiram dengan air mendidih. Perih. Saaangat perih! Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa berdiam diri di kamar. Benar-benar diam. Tak melakukan apa-apa. Yah, akibatnya, seperti inilah. Aku. Hatiku beku. Aku tak tahu bagaimana berekspresi. Sampai aku bertemu denganmu.

“Bertemu denganmu yang selalu mengeluarkan ekspresi dimanapun. Dalam keadaan apapun. Aku iri padamu, sebenarnya. Aku ingin seperti dirimu yang bebas tertawa. Bebas berjalan-jalan tanpa khawatir bertemu ayahmu yang akan memukulmu tanpa ampun. Enak bukan? Aku juga mau. Tapi setidaknya… hatiku lebih baik ketika kau menyanyikan lagu itu. Lagu yang membuatku tenang. Oh ya, kau tahu?”

Shinhye langsung menatap Yonghwa yang sedari tadi hanya mendengarkannya. Yonghwa terkejut saat Shinhye langsung memukul dahinya. “Aku selalu ingin melakukan ini padamu. Kau babo!” Shinhye langsung mengusapnya sambil tersenyum. “Lalu aku ingin melakukan ini. Selanjutnya, aku akan melakukan ini.” Shinhye meletakkan kepalanya pada bahu Yonghwa. Memejamkan mata sejenak. “Nyaman. Aku suka.” Gumamnya. Yonghwa tersenyum melihat perilaku Shinhye yang berubah drastis kepada dirinya. “Kemudian.. aku akan melakukan ini..” Shinhye langsung memeluk Yonghwa tanpa sungkan. Yonghwa terkejut bukan main. Ia hanya bisa memasang tampang bodoh sambil memutar otaknya kembali. Masih dalam keadaan berpelukan, Shinhye berbicara. “Gomawo… karena telah membuatku kembali tersenyum. Gomawo… karenamu… aku juga bisa merasakan bagaimana cinta..” Shinhye tertawa.

“Bodoh. Apa aku bodoh? Menyatakan perasaan begitu saja? Hahaha…” Shinhye melepas pelukannya. Dilihatnya wajah Yonghwa yang masih terpaku. Namun kemudian Yonghwa menarik tubuh Shinhye kembali ke dalam pelukannya. “Sepertinya, aku juga memiliki rasa yang sama…” Ucap Yonghwa lembut. Giliran Shinhye yang terpaku. Seketika itu, wajahnya memerah. “Dan sepertinya, aku mau memelukmu lebih lama, bolehkan?” Tanya Yonghwa sambil mengelus lembut rambut Shinhye. Shinhye mengangguk perlahan. “Give me a smile…” Shinhye langsung tersenyum. Gomawo… jeongmal gomawo, Yonghwa oppa.

 

THE END

Thanks for reading! Hope you like it!^^

See you next time in my other FF!

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s