[FF CONTEST] FOR FIRST TIME LOVER

FOR FIRST TIME LOVER

 

Author POV

Hari ini hanya kegelisahan yang dirasakan oleh Tuan Henry dan Ibu Sunny ketika akan membuka surat hasil tes pemeriksaan anak perempuan mereka satu-satunya bernama Quinsha yang diterimanya dari dokter di Rumah Sakit. Setelah dibuka dan dibaca ternyata hasilnya, Quinsha positif mengidap penyakit kanker syaraf otak.

Penyakit Quinsha ini adalah penyakit langka, dan membahayakan diri Quinsha. Bahkan penyakit ini dapat mengakibatkan koma sampai kematian. Penyakit ini belum ada obatnya pada saat itu, yang ada hanya obat untuk menghambat atau memperlambat berkembangnya kanker tersebut serta mengurangi rasa sakit. Dan dokter memvonis umur Quinsha sekitar tiga tahunan lagi.

Betapa kaget dan sedihnya hati Tuan Henry dan Ibu Sunny , sehingga keduanya pun menangis hingga membasahi kertas surat hasil tes tersebut.

***

 

Sedangkan Quinsha sedang berbaring dikamarnya,”Ya Tuhan tolong hambaMu ini, hentikanlah rasa sakit di kepalaku ini!”, ucap Quinsha dalam hati sembari tidur meneteskan air matanya hingga membasahi bantalnya.

***

“Appa bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan. Apakah kita akan memberitahukan penyakitnya kepada Quinsha? Umma takut Quin menjadi sedih dan putus asa bila mengetahui penyakitnya ini!” Tanya Ibu Sunny kepada suaminya.

“Menurutku kita harus memberitahukan penyakitnya ini kepada Quinsha, Umma. Karena kalau kita menyembunyikannya pun cepat atau lambat akan diketahui Quinsha juga, dari obat-obat yang akan diminumnya. Dan aku yakin Quin akan menerima penyakitnya ini dengan ikhlas, karena aku tahu dia anak yang baik dan tegar. Yang harus kita lakukan adalah membuatnya lebih bahagia dan bersemangat hidup!”, jawab Tuan Henry yang sedang menyetir mobil sepulang dari Rumah Sakit tadi.

Setibanya di rumah, Tuan Henry dan Ibu Sunny memberitahukan tentang penyakit itu kepada Quinsha. Alangkah leganya hati mereka karena Quin menerima penyakitnya dengan tabah dan ikhlas.

***

 

“Nak, satu minggu lagi kamu akan masuk SMA, agar kamu tidak kecapaian bagaimana kalau kamu home schooling saja?”, Tanya Ibu Sunny kepada Quin sambil mengusap-usap rambut Quinsha yang sedang tiduran di pangkuanya.

“Tidak Umma, aku tidak mau home schooling, aku ingin sekolah formal biasa saja!” jawab Quinsha.

“Tapi apa kamu nanti tidak kecapaian? Lagian kalau kamu home schooling, waktu istirahat kamu akan lebih banyak dan Umma akan lebih mudah mengawasi kamu, Nak!”, jelas ibu Suuny.

“Tidak Umma, aku mau sekolah formal biasa saja karena disekolahku nanti aku akan mengontrol kegiatanku kok, bolehkan umma?” Tanya Quinsha.

“Ya sudah kalau begitu, ibu setujui keinginanmu yang penting kamu bahagia. Tapi ingat kamu harus jaga kesehatanmu ya Nak, dan seperti biasa kamu harus di antar jemput mobil!”, ujar ibu Sunny.

***

Satu minggu kemudian, Quinsha pun masuk sekolah SMA pilihannya yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Di Sekolahnya, Quinsha berkenalan dengan teman sebangkunya bernama Ga In dan mereka pun bersahabat.

Satu tahun berlalu, Quinsha dan Ga In naik ke kelas XI dengan jurusan IPA dan datanglah seorang siswa baru bernama Jung Yong Hwa.

Yong Hwa adalah seorang anak laki-laki dari ayah dan ibunya seorang pedagang mie ramen di sebuah kedai sederhana milik keluarganya. Namun Yong Hwa tidak malu akan itu, bahkan dia selalu membantu orang tuanya di kedai. Sungguh anak laki-laki yang baik dan pintar senada dengan wajahnya yang tampan rupawan.

Hampir semua siswi kagum dan suka pada Yong Hwa, termasuk Quinsha dan Ga In. Namun keduanya memendam rasa sukanya. Tidak seperti siswi-siswi lain yang terang-terangan mengungkapkan isi hatinya kepada Yong Hwa. Tetapi dengan kerendahan hatinya, Yong Hwa menolak semua siswi-siswi tersebut, karena dia ingin fokus belajar bersekolah agar mendapatkan beasiswa di luar negeri. Dan tentunya hal itu membuat rasa cemburu Quinsha dan Ga In terobati.

Tetapi tidak lama kemudian, Quinsha mengetahui perasaan Ga In terhadap Yong Hwa. Karena secara tidak sengaja Quinsha membaca coretan curhatan Ga In yang ditemukannya secara tidak sengaja di buku catatan biologi milik Ga In yang dipinjamnya.

“Ternyata Ga In juga suka pada Yong Hwa, Ga In…Ga In…, ternyata kita memang sahabat sehati yah. Karena laki-laki yang kita sukai adalah orang yang sama. Dan sepertinya kamu sangat suka pada Yong Hwa. Tapi seandainya Yong Hwa mencintaimu, aku rela melepasnya denganmu Ga In, karena kamu adalah sahabat terbaiku yang paling ku sayang”, ucap Quinsha dalam hati.

“Ya Tuhan apa mungkin Yong Hwa adalah jodohku? Tapi kasihan Yong Hwa bila berjodoh denganku karena aku tidak cantik, apalagi aku punya penyakit. Tapi ya sudahlah, aku hanya meminta yang terbaik kepadaMu Ya Tuhan, tolong berikanlah yang terbaik untukku, untuknya dan untuk semua, amiin!”, Quinsha berdo’a dalam hati.

Dan ternyata Yong Hwa juga ada hati pada Quinsha, Quinsha merupakan cinta pertamanya. Sama seperti halnya Quinsha, dia juga memendam perasaannya terhadap Quinsha.

“Ya Tuhan bila Quinsha adalah jodohku, tolong jangan pernah hilangkan rasa cintaku ini kepada Quinsha. Karena aku hanya ingin menikah dengan Quinsha dan aku ingin menyatakan perasaan cintaku ini kepada Quinsha setelah lulus SMA nanti, amiin!”,do’a Yong Hwa.

Karena keaktifan dan kepintaranya, Yong Hwa terpilih menjadi ketua OSIS, bahkan dia selalu dijadikan perwakilan untuk sekolahnya untuk mengikuti berbagai lomba dan olimpiade. Dan dia selalu jadi juara satu sehingga dia pun mendapatkan beasiswa dari sekolahnya.

 

Dua tahun berlalu, seluruh siswa-siswi kelas XII pun lulus sekolah termasuk Yong Hwa, Quinsha dan Ga In.  Pada acara perpisahan sekolah, Yong Hwa memberikan sepucuk surat kepada Quinsha tanpa diketahui Ga In, karena pada saat itu Ga In sedang tidak ada. Setelah pulang dari acara tersebut, Quinsha langsung mambaca surat tersebut.

To Quinsha

From Jung Yong Hwa

                Quinsha…..

Pertama ku melihatmu kau tersenyum cerah tapi tersipu malu,,
Hari demi hari kita semakin dekat kau membuat hatiku berdebar..

Ku harus berkata apa bagaimana cara buatmu tertawa,,
Ku tak terbiasa menggenggam tanganmu hanya bisa tersenyum malu..

Semoga kita bisa bicara dengan nyaman meski sulit bagimu yang tak terbiasa,,
Hanya sekedar terima kasih ku ingin yang lebih dari itu..

Semoga kita bsa bicara dengan nyaman mendekatlah perlahan pada ku tataplah kedua mataku dan katakan SARANGHE..

Dan jujur, kamu adalah cinta pertamaku dan aku berharap kamu juga adalah cinta terakhirku.

Seperti Bapak Kepala Sekolah bilang,  aku mendapat beasiswa kedokteran di Jepang selama 4     tahun, dan 1 hari lagi aku akan berangkat ke Jepang.

Jadi maukah kamu menjadi seseorang yang menugguku, Quinsha? Karena jika aku pulang dari Jepang nanti aku akan melamarmu untuk menikah denganku.

Dan sebagai jawaban “Ya akan menungguku” datanglah ke bandara besok pada saat keberangkatanku ke Jepang jam 9 pagi dengan membawa surat darimu untukku sebagai tanda bahwa kamu menerima cintaku.

Dan bila kamu tidak datang berarti jawabanmu “Tidak akan menungguku”.

LOVE

Jung Yong Hwa

Setelah selesai membaca surat tersebut, Quinsha tersenyum lebar sembari memeluk erat surat itu. Hatinya riang gembira, bahkan dia pun seakan lupa akan penyakitnya karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tak lama kemudian Quinsha menulis surat untuk Yong Hwa.

***

Hari pun berganti, inilah hari keberangkatan Yong Hwa ke Jepang. Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi. Quinsha bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke Bandara, sesuai perjanjianya dengan Yong Hwa.

Tapi ketika sedang memakai bedak di meja rias kamarnya, Quinsha merasakan sakit dikepalanya. Sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi dan waktu perjalanan menuju Bandara dibutuhkan waktu 30 menit, belum lagi kemacetan yang bisa saja menghampiri. Quinsha pun menahan rasa sakitnya tersebut, karena dia bertekad harus pergi dan memberikan suratnya pada Yong Hwa.

Namun apa daya, rasa sakitnya malah bertambah parah sehingga ketika Quinsha akan membuka pintu kamarnya, dia pun jatuh tergeletak di lantai sambil tangannya memegang erat suratnya yang akan diberikan kepada Yong Hwa.

“Ya Tuhan ampunilah segala dosa-dosaku, aku mohon tolong jangan ambil nyawaku sebelum surat ini dibaca oleh Yong Hwa, amiin.”, itulah do’a disaat Quinsha tergeletak lemah dilantai sambil menahan rasa sakit dikepalanya yang hebat dan akhirnya dia pun tak sadarkan diri.

***

Di Bandara Yong Hwa menunggu sambil berharap Quinsha datang. Hatinya resah gelisah karena Quinsha belum juga datang, sedangkan 15 menit lagi pesawat akan terbang. Dia pun mondar-mandir sembari berdo’a dalam hati,”Ya Tuhan datangkanlah Quinsha, Quinsha datanglah aku sangat mengharapkanmu, cepatlah datang!”.

Penerbangan pun akan segera berangkat 10 menit lagi, seluruh penumpang termasuk Yong Hwa dipersilahkan untuk segera masuk pesawat.

Karena sudah tidak ada lagi waktu, Yong Hwa pun masuk pesawat dengan hati yang sedih karena Quinsha tidak datang juga. Dia pun berpikir Quinsha tidak mencintainya, dia berpikir cintanya bertepuk sebelah tangan.

Pesawat yang di tumpangi Yong Hwa akhirnya berangkat terbang dibarengi tetesan air matanya yang tak terasa menetes dan membasahi pipinya karena saking sedihnya, sebab Quinsha, gadis yang dicintainya tidak kunjung datang.

 

“Bi, Quinsha ada di mana?”, Tanya Ibu Sunny yang baru saja pulang belanja dari supermarket terhadap Pembantunya

“Kayanya sedang tidur dikamar Bu, karena Nona Quinsha dari tadi tidak keluar-keluar dari kamarnya!”, jawab Pembantu ibu Sunny.

“Tidur? Katanya mau ke bandara, lagian ini kan sudah jam 11 siang, kok masih tidur. Ya sudah simpan belanjaan ini di kulkas ya Bi, saya mau bangunin Quinsha dulu!”, perintah Ibu Sunny.

 

“Quin, Quinsha!”,panggil ibu Sunny sembari membuka pintu kamar Quinsha.

“Ya Tuhan, Quinsha!”, ibu Sunny terkejut melihat putrinya, Quinsha tergeletak di lantai dan ibu Sunny pun langsung membawanya ke Rumah Sakit.

Setelah tiba di Rumah Sakit, Quinsha langsung ditangani oleh Dokter, dan ternyata Quinsha koma. Namun ada yang aneh, tangan Quinsha terus memegang erat sebuah kertas seperti amplop surat, dan itu merupakan surat untuk Yong Hwa. Surat itu pun sangat susah dilepaskan dari genggaman tangan Quinsha, sehingga surat itu dibiarkan tergenggam oleh tangan Quinsha.

 

Yong Hwa telah sampai di Jepang, dia pun kuliah kedokteran ahli syaraf otak. Yong Hwa berkuliah dengan sangat baik, karena dia merupakan mahasiswa teladan dan pintar. Meskipun Yong Hwa berpikir bahwa Quinsha menolak cintanya, tetapi di dalam hatinya dia masih mencintai Quinsha dan selalu memikirkan Quinsha. Sehingga dirinya tidak pernah tertarik pada perempuan lain. Sampai ada gadis Jepang yang cantik dan kaya menyukainya pun, Yong Hwa menolaknya secara halus.

***

Tiga tahun sudah Quinsha terbaring koma di Rumah Sakit, dan tiga tahun juga Yong Hwa kuliah di Jepang yang akhirnya dia diangkat menjadi seorang Dokter Ahli Syaraf Otak di salah satu Rumah Sakit Umum di Jepang. Karena prestasinya menemukan cara menyembuhkan penyakit kanker syaraf otak. Yong Hwa pun menjadi seorang Dokter yang sukses dan terkenal dengan nama Dokter Kenshin. Karena di Jepang dia di panggil Kenshin. Dan kabar tentang Dokter Kenshin tersebut terdengar oleh Ga In, sahabat Quinsha. Ga In sebenarnya tidak mengetahui bahwa Dokter itu adalah Yong Hwa, teman sekelas yang ditaksirnya waktu SMA, karena nama terkenal Yong Hwa adalah Dokter Kenshin.

Ga In adalah seorang sahabat yang sangat baik untuk Quinsha, karena dia selalu menjaga dan menemani Quinsha di saat koma selama 3 tahun ini. Ga In selalu berdo’a dan berusaha untuk kesembuhan Quinsha, sehingga ketika dia mendengar tentang Dokter Kenshin tersebut, Ga In langsung memberitahukan hal itu pada orang tua Quinsha dan mengusulkannya agar Quinsha berobat ke Dokter Kenshin di  Jepang. Orang tua Quinsha pun menyetujuinya dan langsung membawa Quinsha ke Jepang untuk berobat ke Dokter Kenshin itu dan Ga In juga ikut mengantar ke Jepang.

Akhirnya inilah saat-saat yang menebarkan, Yong Hwa berjalan menuju kamar rawat Quinsha. Dan didepan kamar rawat Quinsha, ada Ga In yang sedang duduk menunggu kedatangan Dokter Kenshin. Karena terdengar hentakan sepatu Yong Hwa, Ga In pun menoleh ke arah suara hentakan sepatu tersebut, lama-lama Yong Hwa mendekat hingga akhirnya Ga In pun merasa mengenal pada lelaki yang berjas putih tersebut.

“Yong Hwa?”, panggil Ga In dengan rasa kaget. Yong Hwa pun menoleh ke arah Ga In.

“Ga In?”, jawab Yong Hwa.

“Kamu Yong Hwa kan? Ya Tuhan apakah Dokter Kenshin itu kamu Yong Hwa?, apa kabar?”,Tanya Ga In sambil mengulurkan tangan pada Yong Hwa untuk bersalaman.

“Baik, Iya akulah Dokter Kenshin itu, kamu Ga In bagaimana kabarmu?”, Tanya Yong Hwa sambil tersenyum dan bersalaman dengan Ga In.

‘’Aku baik juga!”, Ga In tersenyum.

“Oh ya kenapa kamu bisa ada di sini, apa ada keluarga kamu yang sakit?”, tanya Yong Hwa.

“Iya, ada yang sakit!”, jawab Ga In dan wajahnya berubah menjadi sedih.

“Siapa?”, Tanya Yong Hwa dengan penasaran.

“Dia adalah teman sekelas kita waktu SMA, dia adalah Quinsha!”, jawab Ga In dengan wajah sedih dan menundukkan kepalanya.

“A..apa? Quinsha? Sekarang dimana dia?”, Yong Hwa tercengang.

“Dia dirawat dikamar ini!”, jawab Ga In.

Tanpa basa-basi lagi, Yong Hwa langsung masuk ke kamar rawat Quinsha. Ga In pun mengikutinya.

“Dokter!”, ibu Sunny memanggil. Tetapi Yong Hwa tidak fokus pada ibu Sunny, karena pikiran dan matanya terus terfokus ke arah ranjang pasien yang ditempati Quinsha, sambil berjalan perlahan-lahan mendekati ranjang pasien Quinsha.

“Quinsha mengapa kamu jadi begini?” Yong Hwa meneteskan air mata sambil berlutut dan menggenggam tangan kiri Quinsha.

“Dokter, dokter mengenal anak saya?”, Tanya Tuan Henry pada Yong Hwa. Yong Hwa pun menceritakan semuanya, termasuk rasa cintanya pada Quinsha terhadap orang tua Quinsha dan Ga In mendengarnya. Sehingga Ga In pun sedih akan hal itu, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi dia menerimanya dengan ikhlas karena perempuan yang dicintai Yong Hwa adalah sahabat tersayangnya, Quinsha.

Setelah menceritakan semuanya, Yong Hwa pun melihat Quinsha lagi dan dia pun mulai menyadari ada semacam kertas tergenggam oleh tangan kanan Quinsha.

“Itu kertas apa yang digenggam Quinsha?”, Tanya Yong Hwa.

“Kita juga tidak tahu itu kertas apa, namun kertas itu adalah suatu keajaiban karena selama koma, Quinsha menggenggam kertas tersebut tanpa terlepas sedikit pun. Dan hingga saat ini tak ada seorang pun yang bisa melepaskan kertas tersebut dari genggaman Quinsha!”, jelas Ibu Sunny.

Tidak lama kemudian Yong Hwa mencoba melepaskan kertas tersebut dan ternyata kertas tersebut terlepas dengan mudahnya dari dari genggaman tangan Quinsha. Orang tua Quinsha dan Ga In pun terkejut akan hal itu. Yong Hwa pun membuka kertas tersebut dan membacanya.

 

 

To Jung Yong Hwa

From Quinsha

                Yong Hwa,  sebenarnya aku juga cinta dan sayang sama kamu sejak pertama bertemu. Dan kamulah cinta pertama dan terakhirku. Jadi aku akan menunggumu dengan senang hati. Aku akan menjaga cinta kita sebaik-baiknya. Tapi jangan aku saja yang menjaga, kamu juga harus manjaga cinta kita, sehingga kamu bisa menepati janji kamu untuk melamar dan menikahiku.

Ingat yach!!!

Aku do’akan semoga kuliahmu lancar dan sukses, sehingga kamu menjadi dokter yang ahli, baik dan sukses, amiin. Pokoknya aku akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu, dan untuk kita.

Love

Quinsha

 

Setelah Yong Hwa selesai membaca surat itu, matanya bercucuran air mata, di susul dengan kepergian Quinsha yang menghembuskan nafas terakhirnya.

 

END

 

 

 

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s