[FF CONTEST] I Will Forget You

I Will Forget You

Tak ada yang dapat di rasakannya. Kehangatan, cinta, kasih sayang, tak ada satu pun yang dapat di rasakan wanita itu sekarang. Hanya hawa dingin yang menyelusup masuk lewat pori-pori tubuhnya dan seprei yang lebut dari tempat tidur king size yang ditempatinya sekarang. Sendirian, itulah yang selalu di rasakannya. Walaupun ada orang lain di sampingnya.

Tak lama, dia merasakan sebuah tangan melingkar di tubuhnya. Dia dapat merasakan kehangatan tubuh seseorang di belakangnya sekarang. Tapi tak sehangat orang yang dirindukannya. Dia memutar tubuhnya, dan sekarang matanya dapat melihat siapa yang ada di sampingnya sekarang. Tak sesuai dengan harapannya.

“Kau sudah pulang, Hyuk-ahh?” sebuah sura lembut keluar dari bibir mungil wanita itu

“Ne, aku sudah pulang” jawab Minhyuk sambil mengeratkan pelukannya itu

“Aku merindukan mu” kata wanita itu sambil menyelusupkan kepalanya ke dada bidang Minhyuk

Sebuah senyuman mulai terlihat di bibir Minhyuk. Dia sangat senang dengan yang baru didengarnya, kata-kata yang telah dinantikannya selama ini. Minhyuk membuka mulutnya, hendak menyampaikan sesuatu. Sampai sebuah getaran di dadanya menghentikannya. Wanita itu menangis. Senyuman yang tadinya terukir di wajah Minhyuk kini telah hilang.

‘Aku merindukan mu’, mungkin adalah sebuah kata yang tak akan pernah di arahkan untuknya. Wanita yang ada di pelukannya, tak akan pernah berkata itu sampai kapan pun. Tiga tahun, itu adalah waktu yang telah Minhyuk lalui dengan wanita di pelukannya. Selalu menunggu sampai sebuah keajaiban akan mengubah hati wanita ini untuk berpaling padanya. Tapi sampai detik ini, wanita itu belum menghapus setitik pun rasa cintanya dari Lee Jong Hyun.

“Uljimma, So Hee” kata Minhyuk sambil mengelus puncak kepala So Hee

Tapi, suara tangis itu semakin terdengar keras, dan keras. Makin meraung dan memenuhi ruangan itu. Minhyuk hanya dapat mendengar suara tangis So Hee dan pendingin ruangan yang masih menyala. Pendingin ruangan itu selalu menyala, bahkan tak pernah mati. Sama seperti rasa cinta Minhyuk yang tak akan pernah mati sampai kapan pun.

Malam seperti ini, selalu Minhyuk lalui dengan kejadian yang sama setiap harinya. Entah kapan kah waktu akan berhenti. Jika saat itu sampai terjadi, dia akan berbisik pada So Hee, dan merubah isi hati wanita itu.

~~~~~

I will forget you.

Starting today,
I don’t know you. I have never seen you.
We never even walked pass each
other.
I’m okay. I forgot everything.

            Seberkas cahaya mulai menyelusup masuk ke mata sipitnya. Memaksa Minhyuk untuk membuka matanya.Minhyuk tetap tak mau membuka matanya, dia ingin tidur lebih lama lagi. Atau jika bisa selamanya.Tapi matahari sedang tak ada di pihaknya hari ini, dan tak akan pernah ada di pihaknya. Minhyuk pun membuka matanya, dan menggerakkan tangannya ke sisi sebelah kanannya. Kosong. Tak ada satu pun orang di sana. Jung So Hee, dia tak ada di sebelahnya sekarang. Minhyuk pun segera bangkit dari tidurnya, dan berlari keluar dari kamarnya.

“So Hee! So Hee!” panggil Minhyuk sambil berteriak

Minhyuk mengelilingi rumahnya, ke dapur, balkon rumahnya, gudang, dan halaman. Tapi tak satu pun tempat yang di tempati So Hee. Tiba-tiba Minhyuk tersenyum. Tanda dia mengingat satu tempat yang pasti di kunjungi So Hee. Berlari, itulah yang di lakukannya saat ini. Berlari menuju pantai yang ada tak jauh dari rumahnya. Dan dia menemukan wanita yang tengah duduk di jembatan menuju pantai itu. Minhyuk berlari semakin cepat dengan senyum yang terukir di bibirnya. Tapi, tiba-tiba So Hee berdiri, dan melompat ke pantai itu.

“SO HEE!!!” teriak Minhyuk keras, dan menghampiri tempat yang baru saja di tempati So Hee

Tapi nihil. Bahkann tubuhnya pun, tak Minhyuk temukan. Minhyuk tersenyum miris melihat semua ini. kejadian ini selalu berputar dengan jelas di otaknya. Kejadian malam itu, di mana bunuh diri So Hee berhasil, bahkan jasad nya tak pernah di temukan. Entah, mungkin telah menjadi santapan ikan lapar, atau laut yang tengah membawanya menuju kekasihnya, Jong Hyun.

Minhyuk membalikkan tubuhnya, berjalan gontai kembali kerumahnya. Tampak dari raut wajahnya, yang selalu murung. Setiap malam, dia selalu membayangkan So hee yang ada di sampingnya, dan tidur bersamanya. Tapi setelah dia bangun dari mimpinya, dia tak menemukan So Hee ada di sampingnya.

Tak terasa, Minhyuk pun sampai di depan rumahnya. Dia melihat rumahnya dari luar, begitu megah. Tapi sangat lah sepi. Tiba-tiba mata Minhyuk menangkap sesorang yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Minhyuk pun kembali tersenyum, dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Menaiki tangga rumahnya dengan cepat, bahkan dua anak tangga sekaligus. Tapi, sekali lagi nihil, So Hee, wanita yang tadi dilihatnya melambaikan tangan ke arahnya, tak ada di jendela lantai dua rumahnya. Minhyuk menghela napas, dan terjatuh lemas di lantai. Sebutir kristal bening mulai menjatuhi pipi putihnya.

“So Hee, tahu kah kau? Aku sudah berusaha melupakan mu. Aku selau berusaha untuk itu. Setiap pagi di saat aku mandi, aku selalu melihat diri ku di cermin, sungguh memuakkan. Aku sampai ingin muntah melihat diri ku sendiri. Aku selalu berkata, aku akan melupakan So Hee, mulai hari ini. Aku akan menghapusmu dari memori ku. Tapi kau selalu ada setiap menit di semua indra di tubuhku. Mulai dari mata ku yang selalu melihat mu tersenyum, dan membuat gesture memanggil ku. Telinga ku yang mendengar suara mu, suara mu yang menangis. Bukan kah kau sudah senang di sana bersama Jonghyun? Kalau begitu jangan panggil aku lagi So Hee!”

Baju Minhyuk mulai basah. Keringat dan air mata telah di keluarkannya. Lalu Minhyuk tersenyum dan kembali berkata. “Bahkan aku sudah gila sekarang”, kata Minhyuk kembali.

~~~~~

I’m happy with my busy life.
I’ve met a great person too.
Love is always like this. It fades away after some time.
Can’t even remember it, Oh.

When love goes away, another love comes again. It definitely will.
Even if it hurts now, it will hear a little later.
It will forget. I will too.

“Presdir” panggil Jung Shin pada Minhyuk

Tapi tak ada jawaban yang dilontarkan dari bibir Minhyuk. Jungshin kembali memanggil Boss nya itu. “Presdir Kang?”. Sekali lagi Minhyuk tak mendengar semua itu. Dia hanya menatap lurus ke arah tembok. Jungshin menghela napas. Ini sudah berulang kali terjadi, dan selalu terjadi setiap harinya. Jungshin pun menyentuh bahu Minhyuk dan menggoyangkannya. Minhyuk pun tersadar dari lamunannya. “Ah, ne, waeyo?” tanya Minhyuk kembali ke arah Jungshin. Sekali lagi Jungshin menghela napas kasar.

“Ah, aku lupa harus menjemput So Hee!” teriak Minhyuk tiba-tiba dan bangkit dari kursinya

Jungshin berusaha menahan Minhyuk dengar menarik lengannya. “TapiPresdir Kang…”, kata Jungshin.

“Ah, nanti saja! Aku harus pergi” kata Minhyuk sambil melepas tangan Minhyuk dari lengannya. Di saat yang bersamaan, Yonghwa masuk sambil membawa berkas-berkas. “Ah, Hyung! Berkas-berkasnya taruh di meja ku saja, aku akan bertemu So Hee dulu”, kata Minhyuk sambil tersenyum senang. Lalu pergi keluar. Jungshin mulai berjalan mengikuti Minhyuk, hendak menghentikannya. Tapi tangan Yonghwa mencegahnya. Terlihat gelengan dari kepala Yonghwa. Jungshin pun berhenti, memutuskan untuk menyerah.

“So Hee! Aku bawa pizza kesukaan mu!”, teriak Minhyuk begitu sampai di rumahya. Tapi tak ada suara yang menjawabnya. Minhyuk tak memperdulikan hal itu, dia langsung duduk di ruang makan, dan mengeluarkan semua yang di bawanya. Tapi Minhyuk tetap tak melihat tanda-tanda kehadiran So Hee dia pun meninggalkan ruang makan hendak mencarinya. Dan sekali lagi, dia mersakan rasa sakit itu. Rasa sakit di mana dia harus menyadari bahwa So Hee telah pergi, dan tak akan pernah kembali.

Dia mengambil boneka yang mulai berdebu di lemari kaca ruang tamu. Dan menepuk-nepuk lembut boneka itu. Lalu memeluk erat boneka itu, setetes air bening kembali melucur dari matanya. “Apa kau benar-benar senang di sana, huh?”, tanya Minhyuk sambil menatap boneka beruang di pelukannya. “Kau yakin?”, tanya Minhyuk sekali lagi, seakan-akan boneka itu mengerti apa yang di bicarakannya. ”Kalau ya, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah sibuk dengan urusan ku di dunia ini. Dan aku senang dengan dunia ku ini.”lanjut Minhyuk lalu memalingkan wajahnya, seakan takut boneka itu melihatnya menangis. “Kau juga tak mau melihat ku sedih bukan?” tanya Minhyuk sambil menatap manik mata boneka beruang itu.”Kalau begitu, kirimkan aku seorang wanita, So Hee”, kata Minhyuk, lalu menaruh boneka beruang itu kembali.

Minhyuk berjalan cepat sambil memijat pelipisnya. Terasa berat dan sakit. Dia selalu merasakannya setiap hari. Apakah terlalu sulit melupakannya seseorang yang di cintainya? Sepertinya sangat sulit, karena So Hee adalah cinta pertamanya.

FLASHBACK

“Minhyuk!” panggil Jonghyun ke arah pemuda yang baru saja memasuki sebuah restaurant. Minhyuk langsung tersenyum ramah, mendapati Jonghyun yang sedang duduk disana bersama seorang wanita. Awalnya, Minhyuk tak memperdulikan siapa yang di bawa Jonghyun. Tapi, saat melihat wajah wanita itu Minhyuk jatuh cinta padanya.

“Minhyuk, kenalkan ini So Hee”, kata Jonghyun sambil melihat So Hee. Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Minhyuk, sambil tersenyum ramah. “Annyeong”, kata wanita itu. Minhyuk tak dapat berkata apa pun. Matanya terus menatap So Hee, bagaikan seseorang yang baru saja melihat malaikat yang jatuh ke bumi. “Minhyuk?”, panggil Jonghyun takut, karena sedari tadi Minhyuk hanya berdiri tak bergerak. “Ah, ne.. Minhyuk”, kata Minhyuk begitu ia sadar dari lamunannya. “So Hee, Jung So Hee”, kata wanita itu memperkenalkan dirinya.

Semenjak kejadian itu, Minhyuk dan So Hee semakin dekat. Mereka terlihat seperti sepasang couple menurut orang-orang. Tapi menurut anggota CNBLUE, mereka adalah sepasang kakak beradik.

Tepat satu tahun setelah Jonghyun dan So Hee berpacaran, Jonghyun memutuskan untuk keluar dari CNBLUE dan membantu appanya di kantor. Jonghyun sengaja melakukan semua itu, karena dia merasa umurnya sudah cukup untuk menikahi So Hee. 25 tahun, adalah umur terpanjang untuk Jonghyun.

Tepat di hari pernikahannya dengan So Hee, sebuah kecelakaan telah merenggut nyawanya. Jonghyun harus meninggalkan dunia yang fana ini, karena rem mobilnya yang tak berfungsi di saat itu. So Hee hanya dapat membungkam mulutnya, dan menangis setelah kejadian itu. Tubuhnya menjadi kurus secara perlahan, tak ada senyum manis yang terpancar lagi dari wajahnya. Semenjak kejadian itu, karena So Hee tak mempunyai keluarga, kami pun memutuskan untuk memasukkan So Hee ke rumah sakit jiwa. Tapi, Minhyuk tak kuat melihat So Hee yang semakin kesepian disana, sehingga dia memutuskan untuk menjaga So Hee.

3 tahun telah berlalu, So Hee masih tetap seperti dulu. Tak banyak yang dia katakan pada Minhyuk. Dia hanya tersenyum di saat dia sedang terbayang akan Jonghyun yang ada di sampingnya, memegang tangannya, memeluknya dan mengobrol dengannya. Minhyuk hanya dapat menangis dengan semua kejadian itu. Imajinasi telah membuat So Hee lebih senang, sementara kenyataan membuatnya sedih. Begitu juga dengan Minhyuk, yang selalu bermimpi bisa berjalan dengan So Hee sambil bergandengan tangan, seperti pasangan kekasih lainnya. Tapi, kenyataan membuat matanya terbuka, bahwa So Hee masih belum bisa menjadi miliknya. Hatinya masih dimiliki Jonghyun.

Minhyuk semakin yakin, bahwa dia tak akan memiliki So Hee. Walaupun fisik So Hee selalu ada disampingnya,tetapi hatinya bukanlah untuk Minhyuk. Malam itu, hujan turun lebat. So Hee sedang terbaring di kamarnya, tangannya mulai mengkerut, tanda bahwa dia tak kuat dengan dinginnya malam kala itu. Pendingin ruangan yang masih menyala, sementara di luar hujan turun dengan lebatnya. Seorang pria dengan tas kerjanya masuk ke kamar itu. Dia melepas dasi, dan menaruh tas kerjanya di meja rias. Dia merangkak naik ke atas tempat tidur itu, dan memeluk gadis-nya. Gadis itu sadar, bahwa ada sesorang di belakangnya, dia pun memutar tubuhnya.

“Kau sudah pulang, Hyuk-ahh?”, tanya wanita itu.

“Ne, aku sudah pulang” jawab Minhyuk sambil mengeratkan pelukannya itu

“Aku merindukan mu” kata wanita itu sambil menyelusupkan kepalanya ke dada bidang Minhyuk

Minhyuk hanya dapat tersenyum, melihat semua kejadian itu. Sekali lagi dia telah tertipu, tertipu pada ucapan So Hee malam itu. ‘Aku merindukan mu’, bukanlah kata yang ditujukan untuk Minhyuk, sekali lagi, atau sudah ke sekian kalinya dia mendengar isak tangis So Hee di pelukannya.  Tapi tak ada yang dapat dilakukan Minhyuk. Dia hanya bisa menenangkan So Hee.

“Uljimma, So Hee” kata Minhyuk sambil mengelus puncak kepala So Hee

Tapi isak tangis So Hee semakin keras, Minhyuk semakin bingung harus berbuat apa.

“Apa yang kau inginkan So Hee? Aku akan mengabulkannya untuk mu” kata Minhyuk pelan

So Hee dapat mendengar suara berat Minhyuk, dia menengadahkan kepalanya ke atas, dapat dilihatnya wajah Minhyuk. Minhyuk yang menyadari So Hee tengah melihat ke arahnya, menurunkan viewnya untuk melihat So Hee. Tapi So Hee kembali menundukkan kepalanya.

“Kau akan mengabulkannya?” tanya So Hee untuk meyakinkan yang didengarnya

“Ne..” jawab Minhyuk

“Aku ingin Jonghyun kembali, aku ingin dia ada di sampingku kembali.. Kau bisa Hyukkie?”

Minhyuk terdiam mendengar semua perkataan itu. Di otaknya tak terlintas satupun jawaban untuk permintaan ini.

“Ku rasa aku tak bisa, tapi jika Tuhan memberi sebuah kesempatan untuk ku, aku akan meminta Tuhan mengembalikan Jonghyun walaupun dengan syarat diri ku kembali kepadanya” kata Minhyuk sambil tersenyum

Walaupun Minhyuk tak bisa menjadi sebuah pulpen yang dapat membuat garis-garis indah untuk So Hee, setidaknya dia dapat menjadi penghapus untuknya, untuk menghapus sedikit kesedihan hatinya.

“Gomawo Minhyuk” kata So Hee kembali sambil menyelusupkan kepalanya ke dada Minhyuk

Minhyuk hanya dapat tersenyum getir , mendengar jawaban wanita itu. Tadinya dia sempat berpikir, bahwa So Hee akan berkata ‘Tidak, kau juga jangan pergi Hyuk-ahh, aku juga membutuhkan mu’, tapi semua itu hanya ada dalam angan seorang Minhyuk. Yang selalu berangan untuk dapat bersama dengan So Hee.

Pagi ini, Minhyuk bangun lebih awal. Dia lari tergesa-gesa meninggalkan rumahnya. So Hee menghilang. Minhyuk semakin gusar dengan perasaan tak enaknya pagi ini. Bermacam-macam pikiran menghampiri otaknya. Tapi semua bayangannya itu terjadi di alam nyata. Dia menemukan seorang wanita mengambang di atas air. Tubuh Minhyuk mulai bergetar sambil menghampiri wanita itu.

“So-So-So Hee?!” panggil Minhyuk pada wanita itu. Tapi tak ada suara sebagai jawaban panggilannya. So Hee, telah pergi bersama Jonghyun. Meninggalkan Minhyuk sendirian.

FLASHBACK OFF

~~~~~

It’s not difficult. I will forget everything after today.
I’m just getting used to my changed life. Oh~ No.

Love is always like this. It fades away after some time.
Can’t even remember it. Yes

~~~~~

                “Kau kembali Presdir?”, tanya Jungshin bingung sambil mengikuti langkah Minhyuk yang baru saja memasuki ruangannya.”Ne” jawab Minhyuk. Tak lama Yonghwa masuk ke dalm ruangan itu. “kau tak apa, Minhyuk?”, tanya Yonghwa sambil berjalan mendekat ke arah Jungshin dan Minhyuk. “Ne, gwenchana hyung”, jawab Minhyuk sambil kembali memijit pelipisnya yang mulai sakit. “Aku tahu kau masih menyukainya Minhyuk. Aku tahu kau masih belum bisa melupakannya. Jika kau tak sanggup, setidaknya biarkan dia tetap ada di ingatan mu”, kata Yonghwa sambil menepuk bahu Minhyuk. “Anio hyung, aku harus melupakannya. Aku sudah terlalu sakit dengan semua ini”, jawab Minhyuk kembali. “Ne, kau memang harus melupakannya, tapi tak perlu dipaksakan. Biarkan berjalan apa adanya dan aku siap menjadi orang yang dapat mendengar semua keluh kesah mu”, kata Yonghwa sekali lagi. “Ne, hyung. Gomawo”, jawab Minhyuk sambil tersenyum simpul pada Yonghwa. “Aku akan melupakannya hari ini, mulai tak mengingatnya hari ini. Itu tidaklah sulit hyung, sangat mudah, aku hanya cukup menyibukkan diri ku”, lanjut Minhyuk mantap. Walaupun hatinya tak yakin dengan yang dikatakannya.

Malam ini setelah pulang kerja, Minhyuk pergi ke pantai itu. Pantai yang selalu didatangi oleh Jonghyun dan So Hee, dan dirinya setelah So Hee pergi. Dia memutuskan untuk ke tempat ini. Untuk menenangkan pikirannya. Minhyuk menghela kasar napasnya, setelah duduk di jembatan yang dulu di tempati So Hee. “Aku merindukan mu”, kata Minhyuk sambil menatap air di pantai itu. “Aku merindukan tangan halusmu, aku ingin menggenggamnya sekali lagi.. Aku merindukan mata kecil mu, sorotan dan sinar dari mata mu. Aku merindukan bibir kecil mu, yang selalu memanggil ku dengan suara merdu mu. Aku merindukan semua yang ada di dirimu”, kata Minhyuk sambil meneteskan butiran air mata.

Minhyuk berdiri dari tempatnya sekarang, melompat memasuki pantai itu. Airnya ukup dalam, mampu menutup semua tubuh Minhyuk. Pikiran Minhyuk yang selama ini selalu di pendamnya. Dia hanya ingin bersama So Hee. Walaupun dia harus bunuh diri seperti ini. menahan napas, atau tak bernapas, membiarkan paru-parunya menciut secara perlahan. Oksigen di dunia telah habis, itulah anggapannya. So Hee adalah oksigennya. Dia harus ke tempat So Hee untuk mendapatkan oksigen itu. Entah hanyalah mimpi atau apa pun, dia melihat seorang wanita berenang ke arahnya. So Hee, mungkin Minhyuk benar-benar gila kali ini. Minhyuk dapat merasakan sebuah kehangatan dari tangan So Hee. So Hee menarik tangan Minhyuk, mengajaknya untuk pergi. Tapi Minhyuk menahan posisi tubuhnya untuk tetap di sana. Taklama dia melihat sesosok pria ikut datang ke arahnya. Mengulurkan tangannya untuk ikut bersamanya. Dengan sisa oksigen di paru-parunya, Minhyuk berkata “Anio hyung, So Hee.. Aku hanya akan semakin sakit melihat kalian bersama di sana” kata Minhyuk dan semuanya menjadi gelap setelah kejadian itu.

~~~~~

I will erase everything.
I definitely will.

When love goes away, another love comes again. It definitely will.
Even if tears fall now, I will smile a little later.
I will (now) forget you (now). Just like a wound heals…
I will. I will. I will forget you.

~~~~~

                TIIT!! TIIT!! Itu lah suara yang dapat di dengarnya pertama kali saat dia melihat seberkas cahaya yang mulai masuk ke matanya. Mulailah terbentuk sebuah wajah yang dilihatnya. “Hyung..”, panggil Minhyuk lemah. Yonghwa pun menengok ke arah Minhyuk yang telah tersadar dari komanya. Dua minggu lamanya Minhyuk talah terbaring di tempat tidur. “Kau sudah bangun? Kau ingin sesuatu?”, tanya Yonghwa panik. Minhyuk hanya menggeleng lemah dan berusaha bagun dari tidurnya. Yonghwa pun membantu Minhyuk untuk tidur di ranjangnya.

Tak lama, seorang wanita berambut panjang, dengan dress putihnya masuk ke ruangan itu dan tersenyum ke arah Minhyuk. Minhyuk bingung melihat wanita itu menerobos masuk ke dalam kamarnya. “Kau sudah sadar Minhyuk-ssi?” tanya wanita itu sambil tersenyum. Senyumnya manis, hampir sama seperti milik So Hee, Minhyuk hanya tersenyum melihat semua ini. Mungkinkah? “Minhyuk, kenalkan ini Ririn, Park Ri Rin. Dia yang menyelamatkan mu di pantai waktu itu.”

Minhyuk hanya tersenyum sambil memperhatikan Yonghwa yang sedang menjelaskannya. Lalu Minhyuk mengarahkan pandangannya ke arah wanita tadi. Dan di membelalakan matanya, melihat seorang wanita yang sedang bersama wanita itu. So Hee dan Ririn. mereka duduk bersama, dan tersenyum bersama. Minhyuk berusaha menyadarkan dirinya, bahwa semua ini kenyataan. Minhyuk melihat So Hee yang berkata ke arahnya, “Lupakan aku Hyukkie.. Aku sudah membawakan mu seorang wanita.. Hiduplah bahagia dengannya”, kata So Hee sambil tersenyum. Minhyuk hanya dapat diam tak menjawab, tak ada satu pun orang yang dapat mendengar suara So Hee kecuali dirinya. Minhyuk mengangkat kepalanya kembali,tersenyum ke arah So Hee, dan menganggukan kepalanya, tanda ia akan melakukan semua yang diminta So Hee. Tak lama Jonghyun datang ke tempat itu, menarik tangan So Hee untuk pergi bersamanya. Tak lupa sebelum pergi Jonghyun melambaikan tangannya ke arah Jonghyun, “Semoga kau bahagia Hyuk-ahh”, kata Jonghyun lalu menghilang bersama So Hee.

Sebuah kejadian yang sangatlah tak mungkin terjadi. Minhyuk masih mengarahkan pandangannya ke arah kaca, dimana Jonghyun dan So Hee telah menghilang. “Aku akan melupakan mu So Hee, melupakan rasa cinta itu, menjalin kehidupan dan hubungan yang lebih indah dengannya, dengan mu Park Ri Rin”, kata Minhyuk, dan membuat Yonghwa serta Ririn menatap bingung ke arah Minhyuk. “Boleh aku minta nomer handphone mu?” tanya Minhyuk, dan senyum itu kembali terukir di bibirnya.

 

END

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s