[FF CONTEST] I’m a loner

Judul: I’m a loner ( oleh Ligustin Samandy)

I’m a loner  I’m a loner

I’m a loner  I’m a loner

            Seohyun berjalan menyusuri trotoar-trotoar di sebuah kota yang terlihat begitu asing baginya. Entah angin apa yang membawanya di kota ini namun perasaannya begitu nyaman berada di tempat asing ini. bagi seorang perempuan yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kota ini memang cukup berbahaya apalagi seorang diri.

Hiruk pikuk kendaraan berlalu tak juga membuatnya bergeming. Wajahnya penuh tanda tanya meski cukup menikmati lampu-lampu yang membuat kota ini bercahaya. Busan, kota yang menghadirkan 1001 kisah serta menghadirkan berbagai macam perasaan yang tak juga mampu di pahaminya. Dia tersenyum pada setiap orang yang mengenalnya, dengan pembawaannya yang halus menampakkan jiwanya yang masih begitu murni.

Bagaimana bisa aku masih berada ditempat ini, tempat yang menyadarkanku bahwa aku sendiri. Bukan sendiri namun, tak bisa lagi mendengar celotehnya. Tanpanya, hari-hari yang kulalui terasa hambar. Hummm…yong. Batin seohyun sembari tersenyum saat menatap langit yang mendung.

Setiap sudut kota mengingatkannya kepada yonghwa, pria pertama yang masuk dalam kehidupannya. Walaupun perkenalan mereka melalui sebuah reality show, namun kehadiran yonghwa dalam hari-harinya memberikan warna berbeda, Yonghwa yang kocak, jail dan senang mengganggunya. Tapi kini semuanya berbeda, entah dimana dia saat ini. tiga bulan berlalu setelah hari ulang tahun seohyun, yonghwa tak ada kabar lagi. Dan seohyun bahkan tak mengerti kenapa perasaannya menjadi begitu kesepian tanpa yonghwa. Sebuah reality show membuatnya menyadari bahwa cinta pertama muncul sejak saat itu.

Yong…yong… yong…yonghwa! ucap seohyun tersenyum hambar mengingat wajah jail yonghwa yang tak pernah bisa diam sambil melangkahkan kakinya seperti seorang anak kecil yang sibuk menghitung langkahnya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya  seakan ingin menghapus baying-bayang yonghwa.

Soehyun berhenti tepat didepan sebuah tenda kecil yang menjajakan kue beras. Seorang ajhuma yang tengah sibuk menjajakan dagangannya yang menyadari kedatangan seohyun segera mendekatinya dan mempersilahkannya masuk. Sebagian dari pengunjung itu mengenalinya, mereka saling berbisik. Seohyun tersenyum kepada para pengunjung, dia memperhatikan wajah-wajah yang ada di tempat itu yang begitu bahagia berkumpul bersama orang-orang tercinta. Dia menyadari bahwa hanya dirinya yang  sendiri bersama kerinduannya pada detik-detik yang kini menjadi kenangan.

 Bagaimana bisa aku merasa kesunyian ditengah keramaian ini. sebentar saja,hari-hari itu tlah menghadirkan kerinduan yang dalam.

Beberapa saat setelah memperhatikan para pengunjung, perhatian seohyun tertuju pada seorang laki-laki yang tengah berdiri di pinggir jalan dekat sebuah pemberhentian bus tepat diseberang jalan dimana dia berada sekarang.

Oppa….gumamnya dalam hati setelah melihat laki-laki tersebut dengan lebih jelas.

Look, look at me, me. Look at me straight in the eyes.
Look, you are already look at elsewhere.
Check it one two three, you only keep looking at the clock.
You don’t have to tell me. I know you got someone else.

            “Yong!” Seohyun berlari mendekati yonghwa yang tengah berdiri di sebuah pemberhentian bus.

Yonghwa terkejut melihat seohyun yang tiba-tiba ada di depannya.

“seohyun, kamu di sini?” ucapnya’ kemudian bergegas menghampiri seohyun.

Seohyun tak mengatakan apa-apa langsung memeluk yonghwa dengan erat. Airmatanya mengalir perlahan di pipinya. Sebuah airmata keharuan karena bisa bertemu kembali dengan yonghwa setelah tiga bulan tidak memberikan kabar.

“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya yonghwa tanpa melepaskan pelican seohyun.

“Kamu jahat!” Seohyun melap airmata yang meleleh dipipinya. Dia memejamkan matanya seakan ingin memastikan kalau ini bukanlah khayalan seperti yang dialaminya selama ini. dia semakin mengeratkan pelukannya.

Yonghwa tersenyum tipis. Di elus-elusnya rambut seohyun dengan lembut. Matanya menerawang kelangit, memperhatikan satu per satu bintang yang dikurung oleh matanya.

“yong, kenapa tak menghubungiku? Bukankah kamu memilki nomorku yang bisa kau hubungi?” protes seohyun setelah melepaskan pelukannya. Dia memanyunkan bibirnya dan memukuli lengan yonghwa.

“Oppa…” ucapnya manja. Matanya masih berkaca-kaca. Di raihnya tangan yonghwa dan menggenggamnya erat.

“ kenapa? Hari-harimu membosankan kan tanpa aku?” goda yonghwa sambil tersenyum dengan mata penuh selidik memandangi seohyun

Seohyun tertunduk malu, dia melepaskan genggamannya dan berjalan melewati yonghwa. Namun, baru beberapa langkah saja melangkahkan kakinya, dia menoleh dan berjalan cepat di tempat yonghwa berdiri.

“ oppa, kenapa tidak menelponku?” seohyun dengan kesal melemparkan tasnya kearah yonghwa.

“ Hanya ingin membuatmu merindukanku.” Ucap yonghwa tenang. Dia tersenyum dan mengambil handbag seohyun yang jatuh di depannya.

“ Yong, kamu tau tidak, selama tak menerima kabar darimu perasaan ini seperti dihimpit oleh benda yang begitu besar, sesak sekali. Setiap hpku berdering, aku berharap itu adalah telpon atau sms darimu. Sekali saja, oppa apa kamu merasakan perasaan yang sama terhadapku?” seohyun menanti yonghwa memberikan jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan yang telah menggunung dalam hatinya.

“Iya, aku juga merindukanmu tapi kenapa kamu tidak lebih dulu menghubungiku? Apa terlalu sulit bagimu untuk menelpon terlebih dahulu?” balas yonghwa sambil menatap seohyun dalam-dalam. Dia kemudian menghampiri seohyun dan menyerahkan tasnya.

“Menelfonmu? Keadaan memaksaku berpikir bahwa kamu telah bertemu gadis lain setelah acara reality show itu. Aku takut tak mendapatimu lagi duduk disampingku, menggangguku dengan celotehmu. Aku takut itu semua akhirnya untuk orang lain. Oppa, apakah aku telah melakukan kesalahan dengan perasaan itu? Aku tak bisa menjelaskan dengan detail perasaan yang muncul saat kamu hadir dan saat kamu tak ada juga disisiku” Terang seohyun, dia terlihat tegar saat meluapkan perasaannya.

“Ayolah, oppa juga merindukanmu. Maafkan oppa, ok?” yonghwa menyenggol lengan seohyun. Di rangkulnya seohyun sambil menyeka rambut yang menutupi wajahnya.

“ Hyun, ada saat dimana kita akan berada di suatu lingkaran yang menjadi zone terlarang bagi orang lain selain diri kita untuk memasukinya. Aku tak menutup zone itu tapi hanya ada rasa sakit di dalamnya dan aku tidak ingin kamu berada disana untuk rasa sakit yang begitu banyak. Itulah alasannya mengapa tak pernah menghubungimu setelah acara itu karena aku harap kita bisa kembali ke tempat kita semula. Kamu cerdas, kamu pasti mengerti itu.” Lanjut yonghwa.

Seohyun menelaah setiap kalimat yang diucapkan yonghwa.

           
Oh~ I know your mind. The distance between you and I.
Getting farther and wider. We are no better than strangers.

            Yong, kebersamaan kita selama setahun tak juga membuka matamu. Waktu yang kita lalui bersama, mungkin hanya sebatas permainan untukmu, sesuatu yang akan berakhir cepat atau lambat. Tapi kamu tidak berpikir bagaimana dengan aku setelahnya, kebersamaan itu menghadirkan perasaan aneh ini yang menghadiakanku sebuah harapan dan kediaman namun juga menyiksaku dengan rindu. Namun, sikapmu dan pemikiranmu itu tidak membuat kita menjadi lebih baik bahkan membentangkan jarak antara kita yang selama ini coba kulalui.

Seohyun menatap yonghwa kemudian berjalan mengikuti langkah yonghwa yang menggenggam tangannya erat.

“Oppa, ayo makan goguma!” ajak seohyun tiba-tiba saat melihat sebuah warung yang menjajakan sweet potato di pinngir jalan.

“ Ayo!” ucap Yonghwa.

Mereka kemudian masuk kedalam warung tersebut dan mengambil tempat duduk di pojok. Mereka menikmati setiap momen yang dilalui bersama.

“ Yong, aku ke kamar mandi dulu. Titip tasku!” Seohyun beranjak dari tempat duduknya dan merapikan kemeja yang dipakainya.

“ Aku temani.” Ucap yonghwa dan hendak beranjak dari tempat duduknya namun di halangi oleh Seohyun.

“Tidak usah. Tidak apa-apa.” Ujarnya.

Sepeninggal Seohyun ke kamar kecil, yonghwa tertarik dengan sebuah buku yang ada dalam tas Seohyun yang kebetulan tidak tertutup rapi. Dengan jelas disampul buku itu tertulis “tears of first love” dan terpasang foto seohyun dan dirinya saat pertama bertemu. Di bukanya setiap lembar dari buku itu, sesaat dadanya begitu sesak, matanya tak lepas dari tiap-tiap kalimat dalam buku itu seakan tak ada satu hurufpun yang boleh luput dari perhatiannya.

Yong oppa!

Bagaimana mungkin kumasih bisa menahan rasa sakit ini sedangkan luka yang tlah sembuh kini kau gores lagi. Mungkin aku terlalu menyayangimu hingga saat kau menjatuhakan airmataku, aku masih juga tak ingin melihat airmatamu jatuh. Terlalu indah bola mata itu, mengurungku bersama kenangan saat pertama kali kumengenal sosok yang tlah melumpuhkanku dengan cinta yang begitu menyakitkan. Aku menunggumu, selalu bahkan kau tak pernah tau saat kau tak pedulikan aku. Akupun masih saja menunggumu untuk kembali. Entah apa yang membuatku selalu patuh pada keyakinanku tentangmu walau berulang keyakinan itu kau khianati. Aku bahkan tak pernah menuntutmu untuk selalu merindukanmu karena kau yang akan terus merindukanmu. Aku tak pernah memintamu untuk tetap mencintaiku karena cintaku tak akan pernah habis untukmu hingga cinta itupun akan kubagikan padamu agar kau mampu mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tidak, cukup kamu mencintai dirimu saja itu lebih dari cukup. Kemungkinan, aku tak akan pernah lagi mencintai lagi yang lain selain kamu. Terlalu indah kisah yang kau berikan padaku meski tak sebanding dari kesakitan dan airmata yang kutumpahkan hanya untuk cinta itu. Tapi tak mengapa, akupun bisa menghirup wangi cinta itu meski hanya seperti angin yang sekilas menyibak rambutku.

Yong oppa!

            Aku selalu berharap, kamu kembali menjadi seperti sosok pertama kumengenalmu. Aku bahkan tak bisa melupakan saat itu meski kutau saat itu hanya permainan dan scenario belaka untukmu yang harus kau perankan sebaik mungkin. Aku tau, saat itu cinta terlalu dangkal kuartikan namun salahkah aku jika rasa itu pertama kalinya kurasakan. Bagaimana mungkin rasa yang begitu sempurna kulukiskan rasanya begitu berbeda setelahnya. Apa mungkin firman tuhan itu salah,”setelah kesusahan itu aka nada kemudahan”, aku bahkan hanya mampu menarik satu kesimpulan bahwa setelah kemudahan itu ada kesusahan yang bahkan dengan perbandingan yang cukup mencengangkan. Lalu, setelah tau demikian, mengapa aku masih juga mengharapkan kebohongan itu dari orang yang bahkan tak pernah menganggap aku ada. Aku tak tau pasti namun sepertinya mecintai sosokmu yang penuh kesan mampu mematahkan seribu alasan bagiku untuk melupkanmu. Senyum itu sepertinya terlalu manis hingga mampu melebur kebencian yang seharusnya telah mengakar dalam jantungku.

            Yong oppa!

            Sekali, dua kali, tatapan dingin itu masih mampu kutahankan. Makian itu masih mampu kutepiskan dengan seribu alasan yang kubuat untuk membelamu. Aku bahkan tak peduli dengan rasa sakit yang kualami. Setiap kali kau datang dengan belati yang siap menikamku, aku juga masih mampu menemukan berbagai alasan mengapa kamu pantas melakukan itu padaku. Aku selalu salah bukan hanya di depanmu, di depan mereka tapi bahkan di hadapan diriku sendiri, akupun menyalahkan diriku. Rasanya cukup adil antara kisah kasih yang kau berikan dengan setumpuk kesalahan yang tak pernah kubuat yang mesti kutanggung. Penyesalanmu, kemarahanmu, kekecewaanmu juga setiap detik yang kau luangkan untukku tak akan mampu kubalas walau dengan kebohongan, rasa sakit juga penghianatan yang kau berikan. Hati ini rasanya ingin meledak, melihatmu yang menatapku dingin. tapi, aku tak pernah peduli dan kamu tau itu. Setiap cinta yang kusuguhkan hanya membuat luka bagiku. Tak ada penghargaan darimu atas semua ketulusan yang kuberikan padahal kamu sendiri yang memintanya, kamu sendiri yang memohon padaku untuk membuka pintu hati ini untukmu. Namun, setelah aku tak punya daya lagi untuk mengendalikan rasa sayangku untukmu, semua kau hempaskan seperti anai-anai yang tertiup angin sore yang hilang di telan malam. Kamu selalu bilang, itu palsu, tak ada ketulusan dalam diriku, tak ada cinta dalam diriku. Lalu, apa yang harus kulakukan pada cintaku yang tak pernah kau anggap. Bagaimana kuharus pertanggungjawabkan atas danau airmata yang menggenangi mata ini yang dahulunya bening tak keruh oleh rasa sakit. Bagaimana kamu akan bertanggungjawab dengan lelapku yang kini tak lena karena seucap janji yang kau hamburkan dengan miliaran bintang. Kucoba untuk terus mencari sebuah bintang yang terangkai dalam kegelapan yang kita sebut galaksi cinta. Kamu bilang itu adalah langit yang akan selalu mengingatkan kita bahwa kita berpijak di atas bumi yang sama meski jarak mempermainkan hati ini dengan kerinduan. Kamu bilang bintang ini akan selalu mengingatkanmu tentangku. Aku tak pernah mengira, setiap kata yang kau ucapkan itu hanyalah sebait puisi romantis yang tiap baitnya kau rangkai dengan kebohongan namun, aku begitu menikmati syair-syair itu bersenandung menuliskanku berlembar-lembar impian yang akan kurajut bersamamu. Rasa itu masih ada dihati ini, masih kusimpan rapi mungkin saja kau kembali dan memintanya lagi dariku. Kau tahu, kuberlari dari setiap sudut bumi yang selalu mengingatkanku tentang luka yang kau akibatkan sebab keyakinanku masih ada padamu. Kusembunyikan diri dari bayang-bayang gelap yang selalu menceritakan setiap kekecewaan dan kisah sedih yang kulaui karenamu. Kupecahkan setiap benda yang memantulkan bayanganku yang selalu mengejekku bahwa wajah inilah yang begitu cintanya pada sosok yang diagung-agungkannya yang kini menghempaskannya ke dalam jurang kehancuran.

            Yong oppa!

            Kusadari semua hal yang telah terjadi namun nurani dan logikaku selalu saja mencari pembenaran untukmu. Mudah saja bagiku mendapatkan alasan untuk tetap mencintaimu. Berulang kali, kutahu rasa sakit itu tak pantas lagi kurasakan. Kutahu cinta yang kuharapkan ini hanya kan menyia-nyiakanku namun kesediannmu untuk tetap tinggal adalah ganjaran yang pantasku. Mungkin aku bodoh, tak punya penghargaan atas diriku sendiri tapi, sendiri tidak lebih baik dari pada bersama dengan orang yang menghidupkan hati ini dengan rasa sakit. Sendiri, cukup membuatku tak punya rasa, bernyawa namun tak hidup. Sendiri terlalu menakutkan bagiku, aku tak mau sendiri lagi di bumi yang tak berujung ini, aku tak ingin hidup seperti bias-bias cahaya yang tak bisa memberi kehangatan. Kehadiranmu adalah gerbang yang mengeluarkan dari kesendirian meski itu hanya seperti mimpi indah sesaat seorang gadis kecil menjadi seorang putri.

            Setelah beberapa saat terdiam, yonghwa menutup buku itu dan meremasnya kuat. Matanya berkaca-kaca, wajahnya tak bergairah. Dia mendengus sambil memandangi arah dimana Seohyun keluar.

If you had just told me honestly
that you got someone else. That you hate me.
Then I wouldn’t have hated you to death.
check it one two three. Remembering your words, they are all silly lies.

            Beberapa sat kemudian, Seohyun muncul dan mendapati Yonghwa tengah tertunduk lesuh memegang buku milik Seohyun.

“ Oppa.” Seohyun tertegun.

“ Seohyun, maafkan aku, aku tidak berpikir….” Yonghwa menghentikan ucapannya.

“ Aku tidak pernah berpikir bahwa selama ini sikapku menyisakan luka untukmu. Maaafkan aku yang tak pernah bisa mengerti perasaanmu, aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan yang hanya akan menyakiti kita. Tapi, kenyataannya aku hanya melepaskan diriku sendiri dan membiarkanmu dengan kebingunganmu sendiri serta perasaan menyalahkan dirimu selama ini. kamu tau, aku tak pernah membohongimi tapi aku hanya tak bisa jujur dengan perasaanku. Aku tidak ingin melihatmu merasakan seperti apa yang telah kuraskan tapi, aku salah. Sikapku itu yang ternyata menjebakmu untuk mencintai orang yang begitu takut akan cinta. Hyun, Oppa tidak ingin merasakan perasaan yang begitu menyakitkan. Oleh karena itu, aku tidak pernah mau membuka hati. Sendiri itu lebih baik untukku.” Yongwa mulai terisak, matanya berkaca-kaca namun tidak lepas dari Seohyun.

“ Lalu, kenapa oppa menarikku untuk keluar sementara oppa tak bisa memastikan apa yang akan terjadi denganku setelah itu. Jadi, semua tawa, airmata yang oppa ceritakan yang ada karena cinta, itu semua bohong? Itu hanya kata-kata ketidakberdayaan oppa untuk mengeluarkanku dari kesendirian itu, kenapa oppa tidak menarik diri oppa sendiri terlebih dulu sebelum memintaku?” Seohyun tak kuasa menahan tangisnya. Di dekapnya Yonghwa yang masih terisak.

“ Maafkan aku, Hyun. Oppa, telah menjadi seorang pecundang.” Yonghwa memeluk Seohyun.

Love is going. Love is leaving.
(One person and one love. Everything that I’ve been used to)
I should erase you after tonight.
(Yes, I should force myself to erase you. I should do so since you abandoned me)
(Gone Gone my love is gone)

            Seohyun mengangkat wajah Yonghwa yang masih menunduk.

“Oppa, sudahlah. Aku tidak pernah menyalahkan oppa karena ini adalah pilihan yang telah kubuat karena berani keluar. Aku akan melupakan semuannya oppa, perasaanku juga semua harapanku tentang cintaku. Oppa juga akan melupakan semuannya setelah aku pergi. Kita kan kembali kedalam lingkaran dimana seharusnya kita berada.”

“Hyun, jika kumampu membaca pancaran matamu, kita tak akan seperti ini saat ini. kamu tahu, aku bahkan tidak pernah tau apa itu cinta? Aku tak tau bagaimana untuk mencintai? Tapi, mengapa dengan lancangnya kumengulurkan tangan yang penuh kebohongan ini padamu, mengotori hatimu dengan penyesalan. Maafkan aku untuk semua luka juga airmata yang kau tumpahkan karena kebodohanku ini.” yonghwa meraih tangan seohyun.

“Hyun, maaf.” Lanjut Yonghwa dengan wajah penuh penyesalan.

“Oppa, jangan seperti ini! aku tak pernah menyalahkanmu atas semua kejadian ini. kadang kala, apa yang kita anggap baik itu belum tentu tepat. Sudah cukup selama ini aku mencintai oppa, aku tak bisa lagi mengerti. Aku tak bisa percaya lagi akan adanya cinta. Bagiku cinta itu hanya membuat kita saling menyakiti. Aku tidak ingin menjadi semakin larut dengan kekecewaan akan keyakinanku. Jika kita bertemu lagi, aku berharap yong oppa telah hidup bahagia. Aku juga akan hidup bahagia meski aku tak tau pasti kapan akan bisa merasakan cinta lagi. Namun, ketika saat itu tiba, mungkin aku telah berada di sisi tuhan. Yong, hiduplah dengan baik!” seohyun memeluk yonghwa, airmata menetes dipipinya namun segera di hapusnya. Dia ingin terlihat tegar di depan cintanya yang mulai detik ini akan di hapusnya perlahan.

I’m a loner, I’m a loner. daridiridara du~ I’m a loner, I’m a loner. daridiridara du~
I’m a loner, I’m a loner. I’m a loner hurt by love and waiting for love.
sad sad sad sad sad sad sad tonight, I want this to be a dream.
Oh no no no no no body knows, no body knows me.
one two three four five six seven night, I’m crying passing many nights awake.

Hyun, bisakah kau tetap tinggal? Ucap yonghwa memeluk seohyun erat,seakan tidak ingin melepaskannya lagi.

Seohyun melepaskan tangan yonghwa perlahan.

Aku pergi, yong! Seohyun tersenyum kepada yonghwa, senyum yang akan terus mengingatkan yonghwa akan sosok seohyun yang telah di sia-siakannya karena ketakutannya terhadap akan rasa sakit.

Yonghwa tertunduk lesuh, menatap kepergian seohyun. Seohyun bukan tidak akan di temuinya lagi namun, yonghwa hanya akan menemui seohyun yang telah memilih untuk sendiri sampai akhir hidupnya nanti karena perbuatannya yang selalu menganggap remeh perasaan seohyun.

Hyun, bagaimana mungkin aku bisa menjalani hari-hariku dengan bahagia tanpa adanya kamu yang selalu menyayangiku. Hyun, berikan aku satu kesempatan saja untuk menggapaimu. Kisah yang kauceritakan hanya akan semakin menyakitkan jika kamu yang begitu murni, bijaksana dan hangat menjadi seseorang yang tak mampu mencintai lagi. Seberapa dalam luka yang aku telah goreskan padamu, hyun? Hingga kaupun tak ingin lagi memberikan cinta itu. Walau bukan padaku hyun, aku akan sangat bahagia jika melihat cinta itu terpancar untuk orang lain.maafkan aku karena telah memadamkan cahayamu.

            Hyun, tak seorangpun tau bagaimana hari-hari kulalui tanpamu. Malam yang kulalui bagai mimpi buruk, bintang-bintang yang bersinar menghukumku dengan sketsa wajahmu yang tak lagi untukku. Angin malam, membisikkanku kerinduan yang kini tak lagi bertuan. Hyun, jika saja kebodohanku ini hanyalah sepenggal kisahku dalam mimpi malamku, kuingin segera terbangun dan menemukanmu disisiku. Bukan seperti ini, ketika kuharus sendiri setelah mengabaikanmu dan kini memaksamu memilih untuk sendiri.

            Yonghwa dan seohyun benar-benar akhirnya memilih untuk sendiri, meninggalkan semua rasa yang ada yang seharusnya bernama cinta. Begitu banyak cinta yang mereka tlah sia-siakan karena pilihan itu. Sendiri adalah tidak lebih buruk bagi mereka.

 

 

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s