[FF CONTEST] Man In Front Of The Mirror

Man In Front Of The Mirror

 

 

“Wait… apa kau bilang? Suka denganku? Hahaha… aku saranin lebih baik kamu ngaca dulu, deh, habis itu baru deketin aku. Maaf, aku ada janji. Silakan minggir…”

 

Kata-kata itu begitu menusuk bagaikan golok yang menancap di hatinya. Jonghyun menatap mobil wanita itu yang terus bergerak menjauh. Perasaannya? Yeah, poor him, kali ini perasaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

 

***

One day, he looked in the mirror
He was stewed up with anxiety

“Bwahahahahahahaa……” Jonghyun mendengus, lalu meminum sisa kopinya dengan sekali teguk.

 

“Udah puas, ketawanya?” sindirnya saat tawa kedua sahabatnya mulai mereda, “Temen lagi sedih, malah diketawain.”

 

“Hahaha… ini lucu banget, coy, sumpah! Penolakan paling kejem sekaligus koplak yang pernah gue denger…! Bwahahaha…” kata Minhyuk, lalu tertawa lagi.

 

“Terus oppa beneran ngaca?” tanya Junhee yang masih kuasa menahan tawanya.

 

“Yaiyalah! Malahan gue…” Jonghyun menghentikan perkataannya sejenak, “Nggak jadi ah!”

 

Penonton kecewa.

 

“Yah… kok gitu sih hyung?” protes Minhyuk, disertai anggukan dari Junhee.

 

“Males, nanti diketawain lagi sama kalian.”

 

“Enggak deh, kita gak akan ketawa lagi, iya kan oppa?” kata Junhee, meminta persetujuan Minhyuk.

 

Minhyuk mengangguk, “Iya hyung, suwer, kita bakalan diem, deh!”

 

“Hhh…” Jonghyun menghela nafas sejenak, “Jadi, setelah dia bilang gitu, gue langsung nyari cermin atau kaca terdekat. Gue tahu dimana tempatnya. Di… parkiran.”

 

Minhyuk dan Junhee mengatupkan bibir mereka, tapi ekspresi ‘pingin ketawa’ mereka gak bisa disembunyiin.

 

Jonghyun melanjutkan ceritanya, “Selama perjalanan menuju parkiran, gue cemas banget. Berbagai pertanyaan udah memenuhi kepala gue.”

 

“Contohnya?” potong Junhee.

 

“Yah… semacam ‘Apa yang salah sama muka gue?’, ‘Tadi waktu ketiduran di kelas, temen-temen ngelakuin apa sama muka gue?’, ‘Jangan-jangan, gara-gara gue jatuh di tangga tadi, muka gue jadi bonyok…’”

 

Junhee ingin tertawa, namun Minhyuk langsung membekap mulutnya. Jonghyun melirik, sinis.

 

“Kan gue udah bilang, jangan ketawa!”

 

“Mian, oppa. Ayo lanjutkan ceritanya, jangan bikin kami penasaran gini, dong…” bujuk Junhee.

 

“Pas udah sampai di depan kaca samping sebuah mobil yang agak buram, gue gak menemukan apa yang salah dengan muka gue. Masih utuh, tanpa coretan, tanpa luka, bahkan tanpa goresan sedikitpun. Dan masih ganteng.”

 

Kedua sahabat Jonghyun memandang Jonghyun datar demi mendengar kalimat terakhirnya tersebut. Namun, Jonghyun tak peduli. Ia terus melanjutkan kisahnya.

 

“Tiba-tiba, gue sadar!”

 

“Sadar kenapa?” kali ini Minhyuk yang cari perkara. Ia bergidik saat menyadari bahwa ada dua pasang mata yang sedang melotot ke arahnya.

 

“Gue baru sadar, kalau ‘bercermin’ yang dimaksud dia cuma konotasi belaka. Gue jadi ngerasa kalo gue ini…… bodoh banget! Gue langsung gedor-gedorin kepala gue ke mobil tadi. Gila, ya, entah waktu itu akal sehat gue hilang kemana.”

 

“Gitu doang?” tanya Junhee dan Minhyuk, tak puas.

 

“Bentar, masih ada lagi. Nah, yang gue gak tahu, ternyata di dalam mobil tadi ada orangnya! Tiba-tiba dia buka jendela mobil, terus bilang gini, ‘Waeyo, Tuan? Stress amat. Habis ditolak, ya? Jelas lah,muka anda aja kayak gitu, mana ada cewek yang nyangkut? Makanya, ngaca dulu, Tuan! Hahaha…’. Kata-katanya menusuk banget! Rasanya gue ingin mendaratkan jurus-jurus taekwondo gue ke mukanya. Sok ganteng banget, sih! Sayangnya, dia udah keburu kabur.”

 

“Bwahahahahahahaaaaa…” Junhee dan Minhyuk kali ini benar-benar tak dapat menahan tawa mereka lebih lama lagi.

 

“Heh, jangan cuma ketawa, ya. Coba kalo kalian yang ngerasain sendiri. Sakit, tahu!” Jonghyun semakin sakit hati atas perlakuan kedua sahabatnya itu.

 

“Udah, udah! Kan gue udah bilang tadi, jangan ketawa! Malah ketawa, iiiiih…!”

 

Saking sebalnya, Jonghyun berjalan melewati mereka, berjongkok di belakang mereka, lalu membekap mulut mereka berdua. Mau tidak mau Minhyuk dan Junhee terdiam.

 

“Diem bisa nggak sih? Kalian ini, udah ingkar janji, gak punya perasaan, lagi! Dalam etika pertamuan, kelakuan kalian ini udah melebihi batas ketidaksopanan, kalau kalian tahu.” Kali ini Jonghyun benar-benar muntab. Junhee melirik Minhyuk, begitu juga sebaliknya. Entah kenapa, udara menjadi sangat dingin, padahal Jonghyun tidak menyalakan AC-nya.

 

Tulilit~ Tulilit~

 

Minhyuk menarik nafas lega. Benda satu itu memang selalu dapat menyelamatkannya dalam kondisi apapun.

 

“Hyung, ini… aku ditelpon. Aku minta izin… ngangkat telpon dulu, ya?” pinta Minhyuk terbata-bata, antara takut dan karena bibirnya dibekap oleh Jonghyun. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Minhyuk dapat menjauhkan tangan sahabat yang telah dianggapnya sebagai hyung itu dari mukanya.

 

Melihat Minhyuk yang serius menelpon, Jonghyun jadi penasaran.

 

“Junhee-ya, lo tahu nggak, Minhyuk ditelpon sama siapa?”

 

Yang ditanya diam saja. Jonghyun baru sadar –setelah mendengar erangan kecil- bahwa ia belum melepaskan Junhee.

 

“Oh, mian mian,” kata Jonghyun, “Jadi siapa, Jun?”

 

Junhee mengusap-usap bibirnya sebelum menjawab pertanyaan tetangga apartemennya itu, “Penasaran banget, sih!”

 

Jonghyun mengerutkan keningnya, “Kok lo jadi jutek gini, sih, Jun?!!”

 

“Barusan oppa udah bikin aku susah bernafas, apa oppa gak sadar?”

 

“Lah, itu kan salah lo sendiri, ngapain lo marah?”

 

“Ah, nggak tahu, ah. Aku udah males sama oppa.” Junhee merajuk. Jonghyun sebal. Ia berusaha mencekik Junhee dengan lengannya. Junhee berteriak kesakitan.

 

“Ampun, oppa, ampuuuun!” jerit Junhee, “Iya, deh, ini aku mau jawab, nih, beneran!”

 

“Siapa?” tanya Jonghyun sambil melepaskan Junhee.

 

“Itu, Krystal Jung.”

 

“Oh…” kata Jonghyun, “Gebetannya Minhyuk, kan, ya?”

 

Junhee menggeleng, “Udah jadian kali, oppa. Hedeh, kau ini gak update banget, sih.”

 

Jonghyun kaget, “Ha? Sejak kapan?”

 

Tiba-tiba Minhyuk datang menghampiri mereka. Ternyata dia sudah menyudahi acara telepon-teleponannya dengan Krystal.

 

“Hyung, gue cabut dulu, ya. Ada yang nungguin, nih… Bye! Junhee, pulang!” kata Minhyuk tanpa jeda. Sebelum kedua temannya itu menjawab, Minhyuk sudah membanting pintu apartemen Jonghyun.

 

Jonghyun geleng-geleng kepala, “Dasar Minhyuk sarap…”

 

“Haha… makanya, oppa, jangan pernah menyerah buat dapetin gebetanmu itu. Kayak Minhyuk oppa itu, lho, gak kenal kata menyerah, kan perjuangannya jadi gak sia-sia,” nasehat Junhee panjang lebar. “Oppa, aku pulang dulu. Jaljayo~”

 

Lagi-lagi sebelum sang empunya kamar menjawab, Junhee sudah hilang dari pandangan.

 

“Dua saudara itu benar-benar gila…”

 

***

Minhyuk dan Junhee adalah sahabat Jonghyun. Bisa dibilang sahabat kecil juga, tapi tidak dalam waktu yang bersamaan. Saat Jonghyun masih tinggal di Jepang, waktu itu kira-kira dirinya masih mengemban bangku sekolah dasar, ia bertemu dengan Choi Junhee, adik kelasnya. Meski usia mereka terpaut 3 tahun, tapi karena kesamaan bangsa, mereka menjadi bersahabat.

 

Setelah lulus SD, Jonghyun kembali ke Korea. Karena suatu hal, ia menjadi temah sekelas Kang Minhyuk -yang notabene setahun lebih muda darinya-, lalu berteman dengannya. Dunia memang tak selebar daun kelor, siapa sangka bahwa Minhyuk adalah saudara sepupu Junhee? Yang membuat Jonghyun semakin heran, bagaimana bisa ia bertetangga dengan mereka di apartemen ini? Padahal mereka bertiga sama sekali tidak berjanji untuk membeli kamar di apartemen yang sama. Oh iya, sekedar informasi, Minhyuk dan Junhee tinggal di ruangan yang sama. Karena mereka berdua bersaudara, sudah dipastikan mereka takkan melakukan hal-hal aneh😛

 

One night, he looked at the city

In the dead of the night, he found out

Every morning, Every night, “hurry hurry up”
Every morning, Every night, “keep the calm”
At some time

Sepeninggal kedua sahabatnya, Jonghyun mengunjungi balkonnya. Kebiasaannya setiap malam. Entah kenapa, pemandangan kota Seoul yang mulai sepi di malam hari, dapat membuat pikirannya menjadi jernih. Niatnya, malam ini ia ingin memikirkan kembali kata-kata gebetannya itu. Tentang cermin, cermin, cermin, dan… oh! Bukankah wanita itu memperbolehkan Jonghyun mendekatinya lagi? Bagaikan mesin yang baru saja diberi pelumas, otak Jonghyun bergerak dengan cepat, memikirkan bagaimana caranya supaya ia dapat menjadi pendamping hidup wanita yang dicintainya itu. Namun… sulit sekali. Ia hampir kehilangan ide, saat muka seseorang yang sangat ia kenal muncul di pikirannya. Aha! Tidak ada salahnya jika ia meminta tolong pada orang tersebut.

 

Jonghyun melongok ke dalam apartemennya, melihat jam. Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui bahwa jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Jonghyun segera masuk, mengunci pintu, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur, terlelap dengan tenang. Aneh, tidur saja ia terburu-buru, bagaimana saat bangunnya?

***

One day, she looked in the mirror
She had a faint smile on her lips

Pulang dari apartemen Jonghyun, Junhee langsung menuju ke kamarnya. Ia tak sengaja menangkap bayangan dirinya pada cermin yang menempel di dinding. Iseng, Junhee mengamati mukanya sendiri. Ia menarik sudut kanan bibirnya, diikuti oleh sudut bibir yang satunya lagi.

 

Oh, jadi seperti ini wajahku saat sedang tersenyum padanya.

 

Padanya? –nya siapa?

 

Kenapa? Kenapa aku tidak secantik wanita itu? Seandainya saja aku… Aish~ sudahlah!

 

Junhee menepis jauh-jauh apa yang dipikirkannya barusan. Namun, ia masih memandangi wajahnya di cermin. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Junhee terkejut, buru-buru ia menyeka sudut matanya yang sedikit berair. Minhyuk?

 

“Junie~ sepertinya aku pulang agak larut. Kau langsung tidur saja, tak usah menungguku, okay?”

 

“Arraseo, oppa!”

 

“Good. Have a nice dream, cousin!”

 

“You too!” pungkas Junhee, lalu memutus sambungan. Sebelum menyentuh kasur, ia menyempatkan diri untuk melihat bibirnya membentuk senyuman, di cermin.

 

***

We dream of street lights
We dream of hot nights
Hey listen, guys, look in the mirror
We have to slow down
Because we have enough time
Look in the mirror and laugh out loud for yourself

 

Malam berikutnya, Jonghyun kembali mengunjungi balkonnya. Kali ini dengan handphone yang menempel di telinga kanannya, demi merealisasikan rencananya kemarin. Ia menghubungi sebuah nomor.

 

“Halo?”

 

Jonghyun terkikik. Gadis satu ini selalu memakai kata Halo untuk mengawali percakapan lewat telepon, bukannya Yeoboseyo.

 

“Hai, cewek!”

 

“Ihh… ada apa oppa? Gak usah aneh-aneh, deh. Kalau gak ada keperluan mending tutup aja deh, teleponnya. Aku lagi sibuk, ini…”

 

“Hahaha… sibuk apaan? Palingan juga dandan…”

 

“Okay, bye, op…”

 

“Hey, Choi Junhee, jangan ditutup dulu!”

 

Helaan nafas Junhee terdengar sampai di telinga Jonghyun, “Makanya, cepat katakan, apa hal penting yang membuat oppa harus menghubungiku?”

 

“Gak bisa diomongin di sini, Jun… Lo ke sini, deh, buruan!”

 

“Aku lagi sibuk, oppa, nggak lagi di apartemen.”

 

Jonghyun heran, “Hah? Terus dimana?”

 

“Di seberang apartemen, di bangku panjang sebelah lampu penerangan jalan itu, lho.”

 

Jonghyun mengambil teropongnya, dan mengarahkannya ke tempat yang diterangkan oleh Junhee barusan. Terlihat seorang gadis sedang mengangkat telepon ditemani sebuah gitar dan beberapa kertas partitur. “Oh, panas-panas gini, ngapain?”

 

“Ah, oppa kebanyakan tanya! Kalo di bawah lampu ini, semakin panas udara malam semakin lancar otakku bekerja. Ada apa sih, oppa?”

 

“Hmm… jadi begini. Gue mau lo bantu gue.”

 

“Mwo? Bantu apa?”

 

“Bantu gue ngedapetin ‘dia’. Bantu gue, gimana caranya ngaca yang bener supaya dia bisa tertarik sama gue.”

 

Junhee menelan ludah. Kali ini Jonghyun gak tahu.“Bantu… ngaca?”

 

“Iya. Lo dan dia kan, sama-sama perempuan. Pasti lo bisa bantu gue.”

 

“Hmm…”  Junhee berpikir. “Duduklah di depan kaca, oppa.”

 

“Okay,” kata Jonghyun, lalu menuruti kata Junhee. “Udah, Jun.”

 

“Senyum, deh.”

 

“Hah?”

 

“Iya. Senyum. Tarik sudut-sudut bibir oppa, masing-masing 1 senti aja.”

 

Jonghyun mencoba untuk tersenyum, seperti arahan Junhee. Sementara itu Junhee diam, menunggu respon oppa-nya itu. Tiba-tiba Jonghyun tertawa keras. Junhee terkejut. Takutnya Jonghyun kenapa-napa, mendadak sakit jiwa, misalnya.

 

“Oppa! Sadarlah, oppa, kau kenapa?!”

 

Bukannya menjawab, tawa Jonghyun malah terdengar semakin keras. Junhee menjadi panik.

 

“Oppa! Jonghyun oppa!”

 

“Hahahahaha… ne? Ada apa, Junie?”

 

“Kau kenapa?”

 

“Ani… aku hanya merasa geli. Ternyata, aku semakin tampan jika tersenyum. Hahaha…”

 

Diam-diam, Junhee menghela nafas lega. “Tuh kan… oppa jarang senyum, sih!”

 

Jonghyun tertegun, “Bener juga kamu, Jun.”

 

“Semua cewek suka disenyumi, oppa. Janganlah pelit senyum. Jangankan ‘dia’, kambing aja gak mau sama oppa jika gak pernah senyum.”

 

Jonghyun mengangguk mafhum. “Gomawo, Junhee. Cepatlah pulang, sudah malam. Tak baik gadis sepertimu berkeliaran di malam hari.”

 

“Cheonmaneyo. Baiklah, aku segera naik. Bye.”

 

Jonghyun tersenyum bahagia, kembali memandangi dirinya di cermin. Ternyata Junhee ada gunanya juga.

 

***

Esoknya, Jonghyun bangun kesiangan. Sebenarnya, hampir setiap hari Jonghyun begini, akibat dari kebiasaan begadangnya. Biasanya ia akan menghabiskan pagi dengan berlari, dari pintu apartemen sampai parkiran, lalu dilanjutkan dari parkiran kampus menuju kelas. Namun, kali ini berbeda. Junhee menhadangnya di depan pintu.

 

“Junie… apa-apaan lo ini? Gue mau berangkat…”

 

“Gak usah buru-buru, oppa. Kita masih punya banyak waktu.”

 

“Aish~ gue ada kuliah, pagi, Jun!”

 

“Mana ada cewek yang mau pacaran sama cowok yang selalu terburu-buru sehingga waktu cowok tersebut habis untuk dirinya sendiri.”

 

Jonghyun terdiam.

 

“Aturlah waktumu sebaik mungkin, oppa. Kau ini slengekan sekali.”

 

Sepertinya kali ini Jonghyun harus mengalah.

 

***

Everyone wants a beautiful smile
Everyone wants the sweetest holiday
Please take your time, relax your mind

 

Mulai besok, kuliah diliburkan karena para mahasiswa/i baru saja menyelesaikan ujian akhir semester. Namun, tidak bagi Jonghyun. Sebagai anggota senat kampus, tentu saja banyak event yang harus dikerjakannya, meski pada liburan seperti ini.

 

“Sekali-kali bolos sajalah, oppa.” kata Junhee saat Jonghyun menceritakan tugas baru yang dilimpahkan kepadanya liburan ini.

 

“Mana bisa? Gue ini anggota senat, Jun, harus bertanggung jawab.”

 

“Iya,” sanggah Junhee, “tapi selama ini cuma oppa, kan, yang selalu menghadiri rapat –apalah itu, antaranggota? Bahkan ketua senat juga pernah bolos dari rapat. Sekali-kali rileks, lah, oppa.”

 

Jonghyun terdiam. Benar juga.

 

“Oppa, cewek itu gak suka…”

 

“… sama cowok yang sibuk, yang terlalu spaneng, sampai-sampai gak punya waktu buat mereka. Iya kan?” potong Jonghyun. Junhee tersenyum.

 

“Pinter…”

 

Jonghyun tersipu. Sebuah ide terbersit di kepalanya.

 

“Eh, Jun, gimana kalo gue menyatakan perasaan gue lagi, ya, di liburan ini?”

 

Junhee yang sedang minum, tersedak. “Secepat itu, oppa?”

 

“Kalau lama-lama, keburu diembat sama yang lain…”

 

Junhee mengangguk-angguk. “Bener juga.”

 

“Doain oppa lo ini, ya, Jun. Jebal…”

 

“Pasti, oppa…”

 

Jonghyun mengacak rambut Junhee gemas. Dongsaengnya ini baik sekali…

 

***

Today he look in the mirror
He has a big smile on the face
Every morning, everyone, smile and smile
Every morning, everyone, feel the love

Malam itu, Jonghyun sudah siap. Ia duduk di depan cermin. Ia terus tersenyum, berusaha untuk memamerkan senyum terbaiknya di depan calon pacarnya nanti. Jantungnya berdebar kencang. Berhasilkah ia nanti?

 

Saat Jonghyun membuka pintu, ternyata Junhee sudah di depan.

 

“Kau sudah siap, oppa?”

 

Jonghyun mengangguk mantap. Tanpa Jonghyun kira, tiba-tiba junhee berjinjit dan memeluknya, untuk yang kedua kalinya. Pelukan pertama mereka adalah saat Jonghyun hendak kembali ke Korea, dan Jonghyun memberikan pelukan perpisahan kepada sahabatnya itu. Tapi itu dulu, sepuluh tahun yang lalu.

 

“Sukses, oppa. Aku selalu mendukungmu.”

 

Jonghyun mengangguk di pelukan Junhee. Lalu gadis itu melepaskan pelukannya.

 

“Fighting!”

 

“Fighting!” Jonghyun mengepalkan tangannya, menirukan Junhee.

 

“Bye…” kata Jonghyun lagi. Junhe melambaikan tangannya.

 

Nyatanya, Junhee bohong. Ia tak pernah mendukung Jonghyun dalam hal ini. Selama ini, ia mau membantu Jonghyun, karena ia… sayang pada oppanya satu itu.

 

Mungkin pelukan tadi adalah pelukan terakhir mereka, karena sebentar lagi Jonghyun punya gandengan. Junhee menyeka matanya kembali. Ia ingin melanjutkan kebiasaannya. Mencari inspirasi di bawah lampu jalan, dalam panasnya malam.

 

***

Jonghyun sudah mengabari wanitanya, supaya hadir di restoran tempat janjian mereka dengan tepat waktu. Ia sendiri sudah sampai. Ia sangat deg-degan, tapi ia merasa aneh. Bukannya memikirkan calon pacarnya, bayangan orang lain malah berkeliaran di kepalanya. Junhee…

 

Jonghyun merasa ragu. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar, menuju parkiran dan mengambil motornya. Saat motornya sudah mencapai gerbang, ia melihat wanita itu berjalan memasuki restoran. Anehnya, Jonghyun tak peduli. Ia tersenyum jahil, lalu segera meninggalkan tempat itu.

 

***

Jonghyun masih ingat password apartemen Minhyuk. Tanpa kesulitan yang berarti, tiba-tiba ia sudah sampai di dalam ruangan tersebut. Untuk apa ia kesana? Untuk mencari Junhee, tentu saja. Namun, orang yang dicari tidak ada.

 

Mata Jonghyun menangkap sesuatu. Partitur.

 

“Man in front of the mirror?” kata Jonghyun heran, membaca judul partitur tersebut. Jangan-jangan…

 

Ia segera menelpon Junhee.

 

“Junhee-ya?”

 

“Oppa? Bagaimana? Berhasil-kah?”

 

“Lo dimana?”

 

“Hah?”

 

“Dimana?”

 

“Di tempat biasa. Tapi aku mau balik ke apartemen, oppa. Ada yang ketinggalan.”

 

“Cepatlah!”

 

“Ini sudah di dalam lift.”

 

Mendengar itu, Jonghyun langsung berlari menuju lift.

 

“Ada kesulitan apa, oppa?”

 

Jonghyun diam saja. Ia menunggu sampai pintu lift terbuka.

 

Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Jonghyun tersenyum melihat Junhee. Sementara itu Junhee bingung, ada apa dengan Jonghyun?

 

“Apa yang…”

 

Sebelum Junhee menyelesaikan pertanyaannya, Jonghyun sudah memeluknya erat. Junhee kaget setengah mati.

 

“Op…pa?”

 

“Ne?”

 

“Gue kembali…”

 

“Tapi…”

 

“Sudahlah, gue udah tahu semuanya.”

 

“Semuanya? Apa maksudnya, oppa, aku tak tahu.”

 

“Jantung lo berdebar keras saat lo meluk gue tadi.”

 

“Haha… itu karena aku gak sabar mau pergi ke bawah lampu jalan, oppa.”

 

“Man in front of the mirror.”

 

“Hah?”

 

“Yeah, Man in front of the mirror,” ulang Jonghyun.

 

“Kau membacanya?” tanya Junhee shock. Ia melepaskan pelukan Jonghyun.

 

“Itu menceritakan gue, kan?”

 

Junhee terdiam.

 

“Gue tahu, lo suka gue, kan?” tanya Jonghyun lagi. Junhee menunduk, matanya berkaca-kaca.

 

“Gak usah dijawab, lagian gue juga udah tahu.”

 

“Bukan begitu, oppa…”

“Gue juga suka sama lo.”

 

Junhee membelalakkan matanya. Apa?

 

“Tapi oppa… gebetan oppa…”

 

“Tadi dia udah dateng, tapi gue tinggal.”

 

“Dasar, jahat!”

 

“Lo juga jahat sama diri lo sendiri, Lee Junhee.”

 

“Ya! Setidaknya tak merugikan orang lain. Hey, margaku Choi, bukan Lee.”

 

“Yah, sebentar lagi akan menjadi seperti itu.”

 

“Apa maksudmu, oppa? Aku belum mau menikah.”

 

“Harus mau, dong. Mumpung ada yang mau, ini. Rezeki jangan ditolak, Junie~”

 

“Oppa, aku masih 20 tahun…”

 

“Itu usia yang pas untuk menikah.”

 

“Aaaaah… oppa kau menyebalkan sekali!” Junhee melihat dirinya dan Jonghyun di sebuah kaca dekat lift. “Lihatlah, di cermin pun kau jelek sekali.”

 

“Mana?” tanya Jonghyun demi mendengar kata cermin.

 

“Itu,” tunjuk Junhee.

 

“Gomawo, cermin, lo udah bikin gue jadian sama anak kecil ini,” kata Jonghyun, iseng.

 

“Ya! Emang kita jadian?”

 

“Udahlah Jun, gak usah sok jual mahal gitu. Gue bisa bantu wujudin mimpi lo buat jadi musisi, kok. Ntar gue bantu bikin partitur, deh, jadi setiap malem lo nggak sendiri lagi di bawah lampu.”

 

Junhee speechless.

 

“Kayak anak ilang, lagi,” lanjut Jonghyun. Junhee yang tadinya terbang ke langit tujuh langsung jatuh sampai lapisan Pleistosen Bawah.

 

“KURANGAJAAAAAR…!!!”

 

We dream of street lights
We dream of hot nights
Hey listen, guys, look in the mirror
We have to slow down
Because we have enough time
Look in the mirror and laugh out loud for yourself

-THE END-

4 thoughts on “[FF CONTEST] Man In Front Of The Mirror

  1. bagus ceritanya🙂 tapi ga suka ngomongnya gue lo, jd bayanginnya bkn orang korea malah orang indonesia.. hehee

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s