[FF CONTEST] Tattoo

-Tattoo-

Aku menyipitkan mata. Cahaya lampu sorot berwarna ungu tepat mengenai bola mataku, sungguh menyilaukan. Aku hanya berdiri tenang di barisan depan, berbeda jauh dengan Minhyuk dan dua ratus orang lebih yang mengelilingi panggung di depanku. Mereka semua melompat-lompat sembari ikut menyanyi riuh, seakan aksi para personel band berbaju hitam itu menghipnotis dengan sungguh.

“Hyuk, aku mau mencari tempat duduk. Telepon saja jika kau sudah selesai,” ucapku keras. Tanpa sudi membuang waktu untuk menunggu jawaban Minhyuk, segera aku keluar dari kerumunan yang membutku risih ini.

Menghela napas setelah berada di tempat di luar kumpula orang itu, untuk beberapa menit aku masih berjalan tak tentu arah di sekitar lapangan besar sekolah. Mendapati beberapa bagian sekolah yang berbeda dari saat aku bersekolah di sini dulu. Kutolehkan kepala ketika sebuah suara cempreng meneriakkan namaku. Seorang perempuan tersenyum dan melambaikan tangan padaku.

“Yonghwa-ya!”

Entah apa yang menarikku menuju perempuan berbaju merah hati itu.

“Kau sendirian? Apa kabar kau sekarang?” tanyanya ketika aku telah berdiri di hadapannya. Aku memacu otak sejenak, mengingat siapa gerangan orang ini. Dan, ohya, dia adalah pengurus mading yang dahulu sering menitipkan salam untuk Jonghyun, teman sekelasku 4 tahun lalu.

“Aku baik, Hyemi. Aku bersama Minhyuk, dia tengah sibuk menonton konser itu.”

Baru saja Hyemi hendak bicara lagi, tiba-tiba sebuah tangan putih merangkul leher Hyemi, “Kemana saja, Hyemi-ya? Ada yang mencarimu di belakang panggung.” Perempuan itu mengerutkan kening saat menatapku. Begitu pula denganku yang mengangkat alis, merutuk karena tak sungguh ingat akan masa sekolahku dulu.

Nugu?” Hyemi bertanya kepada temannya itu dan dibalas dengan kerlingan mata, “Sudah, pergi saja ke sana. Kau akan tahu nanti.”

Hyemi memandangku sejenak, “Aku harus pergi, Yong. Annyeong..” lalu berlalu setelah aku mengangguk. Aku hendak membalikkan tubuh dan sebelum sadar bahwa perempuan yang menghampiri Hyemi tadi masih berdiri di depanku.

“Yong..” dia menggantungkan suara, “Yonghwa. Jung Yonghwa,” balasku cepat. Aku menilik sejenak perempuan ini dari ujung rambut sampai kakinya. Keningku berkerut. Tunggu. Jika dia tak mengenalku, berarti kemungkinan besar aku pun tak mengenalnya.

Anehnya, ia tersenyum dan mengulurkan tangan. “Luna.” Kusambut tangannya, mengisi sela-sela jari tangannya. “Sepertinya kita memang tak mengenal sejak dulu, ya? Haha..,” Luna melanjutkan.

Tawaku lepas. Lebih karena senyum Luna yang terasa begitu menular. Senyum hangat yang membuatku merasa tak asing, seperti bertemu dengan teman lama. Yang terpendam jauh di dalam dada.

Keep on (I wanna keep on). Keep on (on and on and on)

“Jadi, setelah lulus dari SMA terfavorite di Seoul, kau kembali ke kampung halamanmu di Incheon dan melanjutkan studi di sana?”

Aku menjentikkan jarinya, “Exactly! Bagaimana denganmu?”

Luna memutar kedua bola matanya, “Umm, kurasa aku masih dan akan selalu mencintai Seoul. Hahaha.”

Ia pamerkan deretan gigi putih yang rapi. Lagi. Senyum itu laksana virus yang menular cepat, membuat bibirku turut mengembang. Semua mengalir begitu saja. Kami berbincang apa saja yang dapat diperbincangkan. Acara-acara semasa SMA, guru-guru lama, kejadian konyol, dan berbagai hal yang sejatinya tak perlu dibicarakan. Namun, dengan Luna, segala hal yang sebelumnya terasa tak berguna menjadi menyenangkan.

“Kau ingat Song songsaengnim, yang kacamatanya suka melorot itu? Ya Tuhan, dulu dia hampir menghukumku berlari keliling lapangan tujuh kali, tapi setelah aku bujuk dengan dalih akan mentraktirnya makan siang sepuasnya, dia tak jadi menghukumku! Haha..”

Perempuan itu terbahak. Sedang aku yang duduk di seberang meja hanya tersenyum melihatnya bicara. Suara Luna, seperti membawa angin sejuk tersendiri dan melonggarkan dada yang semula sesak oleh beban. Seiring detik berganti itulah seorang Luna terasa semakin dekat dan keasingannya gugur perlahan.

Luna menyesap soda, memeriksa ponselnya yang berdering. Dia bangkit, “Mian, Yong. Aku harus pulang sekarang. Jangan lupa telepon aku, ne?” mengacungkan ponselnya sembari tersenyum, lantas ia pun berlalu. Aku terus memandanginya sampai sosok itu lenyap di balik gerbang sekolah. Tetapi dia, senyum itu, wajah bersinar, kerlingan mata, semuanya, masih di sini. Selalu tersimpan di dalam sini.

Your warm heat that you left behind, digs into my heart. This night is darker than usual, and my heart is burning.

***

“Incheon langitnya cerah, dan hembusan udaranya terasa lembut. Seperti tangan hangat yang membelai pipi penuh kasih. Hangat, namun sejuk di saat yang sama,” aku masih diam akan ocehan Luna. Sungguh tak tahu apa yang terjadi padaku.

Sejatinya, aku tak suka orang yang hobi bicara. Tapi ketika hal-hal yang kubenci itu ada pada Luna, seluruh perihal itu menjadi sesutu yang kupuji. Seperti adiksi.

“Hei, mengapa kau diam saja, Yong?” tegur Luna. Aku menggerakkan kedua kakiku di dalam air, lantas menatap lurus ke depan, ke langit biru yang terang.

Kebosananku nampak belum bangkit jua. Entah sudah berapa kerikil kulempar ke danau. Membiarkan batu-batu kecil itu tenggelam. “Ahni. Teruslah berbicara, aku menyukai suaramu,” kataku menggoda. Kutarik sudut bibirku, berharap Luna tahu bahwa aku tengah tersenyum untuknya. Untuk dia yang selalu melekat setiap kali napas dihela.

Nada suara Luna terdengar lucu, mungkin dia tengah mengerucutkan bibirnya, “Apa maksutmu? Tidak adil jika aku terus berbicara dan kau hanya diam. Huh!”

“Tentu saja adil. Mendengarkanmu sama saja menghargaimu, Luna! Haha..”

Aku mendapati jeda sejenak sebelum Luna kembali bersuara. Biasanya perempuan itu langsung menyahut saja.

“Luna?” aku memastikan, lantaran hanya hening yang kudapat.

Mian, aku ada urusan. Aku harus pergi. I’ll text you tonight. Annyeong..” ucapnya cepat, langsung mematikan sambungan telepon. Ah, benar-benar sibuk rupanya.

***

Entah berapa kali kubolak-balik ponselku. Tak terhitung pula berapa kali kurubah posisi tubuh di atas tempat tidur. Rasanya sang bosan turut mengalir di darahku. Aku menghela napas, memandang layar ponsel lagi. Menunggu Luna. Menunggu ia mengirim pesan, menelefon, atau apalah itu.

Kuremas rambutku sendiri. “Hah. Sudahlah, lupakan Luna sejenak!” aku berseru seorang diri. Kugeletakkan ponselku di atas bantal, dan berjalan sempoyang menuju kamar mandi.

Drrt.. Drrt. Drrt..

Baru saja aku memutar kenop pintu, namun ponselku terlebih dahulu bergetar. Dengan cepat aku melompat ke tempat tidur, memeriksa ponsel dan mendengus ketika melihat tulisan yang terpampang di layarnya.

“Apa?” Kataku datar.

“Aku sudah di depan rumahmu, hyung!” seru Minhyuk yang menelepon.

Kuputar kedua bola mataku, “Mau apa ke sini?”

“Jangan menganggapku sebagai orang lain. Buka saja pintunya.”

Pip.

Ah, apa-apaan bocah itu. Kalau saja dia bukan teman karibku sedari SMA, mana sudi aku membuka pintu padanya malam-malam seperti ini. Aku memaksa tubuhku sendiri untuk keluar kamar, membukakan pintu untuk Minhyuk tanpa gairah sedikitpun.

.

“Astaga. Foto siapa ini, hyung?!” pekik Minhyuk ketika meminjam ponselku. Sudah kuduga.

Kehadiran Minhyuk yang kini duduk di sisi ranjangku hanya memperburuk suasana. Kututup seluruh tubuhku dengan selimut, tak peduli bahwa malam masih muda, -bukan waktuku untuk tidur. Karena aku memang tak sedang akan tidur.

“Luna.” Aku menjawab singkat, tak peduli Minhyuk dapat mendengar suara lirihku atau tidak.

“Tunggu. Ini Luna yang dulu satu SMA dengan kita, hyung? Aigoo..” kali ini suara Minhyuk terdengar lebih keras. Aku tak tahu apa yang tengah ia lakukan saat ini. Sedari tadi, hal pokok yang begitu melekat di otakku hanyalah satu: berharap Luna menghubungiku.

Hyung? Benar ‘kan?”

Kembali kujawab lirih, “Ne.

Mwoya? Lalu mengapa kau menjadikan foto Luna sebagai wallpaper ponselmu, hyung?” Nada Minhyuk kini lebih terdengar seperti seorang paparazzi.

Tiba-tiba ia menyibakkan selimutku, menatapku dengan sorot penuh sejuta tanda tanya di kepala, “Jangan bilang kau jatuh cinta pada pandangan pertama!”

Wae?”

“Kau baru mengobrol dengannya beberapa hari yang lalu. Ini gila, hyung!” Kali ini Minhyuk memekik seperti orang yang rumahnya terbakar.

Aku segera duduk, “Dengar, Hyuk. Aku tak tahu dan tak mau tahu setan apa yang tengah merasukimu,” ekor mataku menangkap ponsel di genggamannya, “Berhentilah bertanya dan kembalikan ponselku,” lalu merebut benda berbentuk persegi panjang itu.

***

“Selamat pagi~ Selamat beraktivitas dan jangan lupa jaga kesehatan, Yong! Hihihi.. Annyeong!” Begitulah setiap pagi. Ia menelepon, tak memberi kesempatan bicara sebelum ia matikan teleponnya.

Luna.

Dapatkah kau memberitahu arti ini semua? Mengapa waktu mata kita bertemu, terasa tak kubutuhkan cahaya di dunia selain kilau irismu? Mengapa ketika kudengar renyah tawamu, segala kebahagiaan seakan ada pada dirimu?

Pun mengapa semenjak awal kita bertemu, engkau dan segala aspke pada dirimu selalu tertanam dalam benakku. Tak ubahnya tato. Tato yang menjadi candu.

***

Entah apa yang membangunkanku. Kurasa alarm-ku belum berbunyi, tidak berbunyi, atau justru telah berdering kencang. Kedua mataku kupaksa membuka walau sulit pada awalnya. Sialnya, yang pertama kali ditangkap indra penglihatanku adalah lampu terang yang menggatung di tengah atap. Kupejamkan mata lama. Menyilaukan. Dan ketika aku telah duduk di atas tempat tidur, pening yang amat sangat seketika menyergap. Aku mendesis.

Kucoba mengingat kegiatanku kemarin. Hm, menyiapkan panggung drama dari pagi hingga sore, panik karena panggung kampus kebakaran, dimaki ketua habis-habisan pasalnya tak becus menjadi koordinator. Aku menghabiskan malam di kantor polisi, dimintai keterangan lantaran berada di lokasi kejadian tabrak lari.

Lantas? Jangan tanya mengapa hariku bisa sesempurna itu.

“Haah..”

Aku menghela napas kembali. Dengan kesadaran yang –sejatinya- belum pulih seutuhnya, kupaksa kakiku berjalan ke kamar mandi. Aku benar-benar harus mandi untuk mendepak pening dan rasa lelah ini.

.

Tuut..Tuut..Tuut..

Oh, apa yang tengah dilakukan bocah itu? Menjawab panggilanku saja lama sekali.

Bip.

“Ada apa, hyung?” Suara Minhyuk terdengar jauh, lebih seperti bergumam, membuatku mendengus.

“Cepat bangun, Hyuk. Kita harus bergegas membenahi panggung. Aku tak mau dimaki lagi,” ujarku cepat. Beberapa detik selanjutnya, tiada yang kudengar selain keheningan. Kemudian suara Minhyuk menguap.

Hyung, ini baru jam setengah 3 pagi,” suara Minhyuk lebih lirih namun cukup untuk membuatku tersentak. Aku menyabet jam wekerku, “ASTAGA!”

***

Panas. Satu kata itu mewakili segala aspek pada siang hari ini. Orang-orang yang sibuk dengan berbagai properti di aula satu persatu nampak berkurang seiring naikknya suhu hari. Semua AC di aula dinyalakan. Rupanya waktu baru memasuki jam 10, namun rasa-rasanya tenagaku sudah terkuras seluruhnya.

“Istirahatlah sejenak, hyung. Kau terlihat buruk.” Minhyuk menyodorkanku botol air mineral dingin. Akupun menerima sarannya. Rasanya sungguh nikmat ketika suhu yang dingin mengaliri kerongkonganku yang kering.

Gomawo,” balasku kepada lelaki bermata sipit itu. Lantas aku membawa diri ke salah satu sisi aula yang tak cukup ramai, di dekat kursi-kursi tamu yang belum ditata.

Minhyuk turut  meluruskan kedua kakinya di atas lantai sepertiku, peluh masih terasa menetes walau pendingin jelas-jelas telah dinyalakan. Kusandarkan kepala ke dinding bercat hijau.

Hyung?

“Hmm.”

“Aku sungguh-sungguh atas ucapanku tadi, hyung. Kau tak kelihatan baik,” tegur Minhyuk halus, selalu berhati-hati ketika berutara padaku.

“Yang terlihat bukan berarti yang benar-benar terjadi,” aku berkilah.

Kupincingkan ekor mataku, mendapati Minhyuk yang kini duduk melihat wajahku dari samping, “Ayolah, hyung. Aku tak mengenalmu dua-tiga hari yang lalu. Tentu aku tahu persis apa yang sebenarnya tengah kau alami.”

Ya Tuhan, bisa-bisanya Minhyuk membuka obrolan berat di cuaca yang tak menggairahkan seperti ini.

Kubuang napas berat, rasa-rasanya seperti sedari tadi aku menahan karbondioksida di dalam paru-paru. “Menurutmu?” masih tak menjawab pertanyaan Minhyuk.

Lelaki yang dua tahun lebih muda dariku itu nampak memandangku serius, “Luna.. ‘kan?”

Aku tak membalas walau dengan isyarat kepala.

“Sebenarnya apa hubungan kalian selama ini?”

“Tak ada.”

Aku memejamkan kedua mataku, membiarkan udara dingin perlahan menggerayangi tubuhku. Suara Minhyuk ketika menghela napas kembali terdengar.

“Mau sampai kapan kalian begini? Hentikan kekonyolanmu itu, hyung. Mana bisa kalain berkomunikasi jarak jauh bahkan dengan.. ngh.. dengan ketidakjelasan ini?!”

Minhyuk mendesah, “Oh, what the hell? Biarkan saja aku yang memutuskan!”

Kali ini aku tak benar-benar memasukkan perkataan Minhyuk ke kepalaku. Hanya membiarkannya mengoceh tak karuan supaya ia sendiri puas.

Mian, hyung, bukan bermaksut sok tahu. Tapi aku rasa, Luna terlalu semu untukmu. Tak ada sesuatu yang benar-benar jelas akan sosoknya. Maksutku, ngh,” dia memberi jeda untuk otaknya sendiri untuk berpikir, “Maksutku, seberapa banyak yang kau ketahui tentang orang yang kau cintai itu, hyung?!” Dan sungguh, nada bicaranya kali ini benar-benar tinggi. Seakan kalimat itu telah lama tersimpan jauh di dalam hatinya, aku tak tahu seberapa dalam itu. Seakan Minhyuk terlalu lama memendam ucapnya itu.

Kedua kelopak mataku membuka, kumiringkan kepalaku ke arah lelaki yang nampak menunggu jawabanku itu. “Kau bahkan bisa mencintai seseorang tanpa mengetahui satu hal pun tentang orang itu, Hyuk,” balasku, menatap irisnya yang sedikit berkaca.

Minhyuk menggelengkan kepala berulang kali, bahkan sampai ia bangkit dan berdiri di depanku. “Aniyo. Semua itu butuh proses hyung. Cinta pada pandangan pertama itu omong kosong!”

“Itu nyata adanya. Dan cintaku pada Luna adalah salah satu buktinya.”

Lagi. Minhyuk menggelengkan kepala, “Tidak. Kau buta, hyung. Kau buta!”

Gerah. Aku pun bangkit dan beradu mata dengannya untuk sekejap, “Ini urusanku. Tak usah ikut campur,” lalu benar-benar berlalu meninggalkan lelaki itu.

Aku lelah.

***

“Kau sungguh gila, hyung! Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa ke-buta-an yang kau bilang tempo hari itu salah adanya.”

Minhyuk terkejut bukan kepalang, “Apa?! Hyung, rasanya aku ingin membongkar saja isi kepalamu itu!”

Aku tak menghitung berapa banyak oceh dan umpatan yang lolos dari mulut Minhyuk. Dan mulutku nyaris selalu bungkam semenjak menyuruh lelaki itu datang ke rumahku, merebut kunci mobilnya dan menyeretnya masuk untuk menemaniku.

“Simpan tenagamu itu, Hyuk,” akhirnya aku bergairah untuk berbicara.

Kedua mataku masih fokus ke jalan, memutar kendali di kursi kemudi. Tak kupedulikan Minhyuk yang beberapa kali menatapku heran, atau apalah arti ekspresinya wajahnya itu. Batinku hanya terfokus akan satu hal: Luna.

Ketika putih bersih rembulan merebut tahta sang surya, mobil baru saja kuparkir di halaman depan sebuah rumah besar dengan arsitektur bergaya Eropa. Membuat terperangan sementara. Namun aku kembali ke tujuanku yang utama. Menemui Luna. Tujuan dengan keberanian yang tak kuketahui dari mana asalnya.

Baru beberapa langkah kutempuh setelah meninggalkan Minhyuk seorang diri dengan mobilnya, seorang perempuan dengan rambut panjang tergurai yang jatuh sempurna berlari kecil menghampiriku. Rautnya menyiratkan rasa terkejut bukan main.

“Yy.. Yong?” Luna melongok ke balik tubuhku, mungkin mencari tahu aku datang bersama siapa. “Mengapa kau ke sini?” Dan yang kutangkap dari nadanya adalah kekecewaan atas aku yang tiba-tiba datang.

“Bisa kita bicara sebentar?”

.

Tangan kanan Luna nampak meremas kain baju yang ia kenakan. Kepalanya menunduk, entah menatap kedua kakinya yang tak bisa diam atau rerumputan gembur yang ia injak. Luna gugup. Berbeda halnya denganku yang amat sangat gugup. Aku merasakan bulir keringat yang mulai menjalar di balik kaosku.

“Aku tahu ini gila, tapi..” aku meneguk ludah, memaksa kerongkongan menelan salivaku sendiri. Aku sempat merutuk karena kegugupan ini tak terpikirkan sebelumnya. Tetapi tujuanku ke sini adalah Luna.

Mata kami bertemu. Seperti ada semilir angin sejuk yang tiba-tiba menerpa, sinar rembulan seperti begitu lembut membelai kulit, dan seolah gaya tarik bumi tak berlaku lagi untukku. Aku tetap berdiri karena Luna yang menjadi gravitasi.

“Aku mencintaimu.”

Lolos dari mulut begitu saja. Aku tak ingat apakah aku mengucapkannya tadi dengan lembut, lirih, setengah bergumam, atau justru terlalu kencang. Kedua iris Luna membulat, ia menatapku, seolah mencari sebuah titik yang tersembunyi di dalam mataku.

“Selama ini, aku tak pernah menganggapmu lebih dari seorang teman, Jung Yonghwa.”

Kala itu pula-lah, bola mata Luna yang jauh lebih indah dari purnama seakan menghempaskan jiwa seketika. Selama beberapa menit, aku berharap Luna menyatakan perasaannya yang sama denganku walau hal itu merupakan kebohongan belaka. Karena selama beberapa menit itu pula, aku berpikir bahwa –mungkin- lebih baik hidupku diselubungi kebohongan daripada jujur yang menyakitkan.

Jeongmal mianhae, Yong. Sejatinya, aku akan bertunangan malam ini juga. Jadi.., lupakan saja aku, Jung Yonghwa.”

***

Luna. Luna. Luna.

Kuhentikan aktivitasku sejenak, memandang kertas putih yang sebagiannya telah dipenuhi nama Luna. Bibirku menarik sebuah senyum simpul, mengajak tanganku untuk melanjutkan pekerjaanku itu. Memenuhi kertas putih ini dengan nama Luna. Tak sedikit pun terusik akan kehadiran seseorang yang baru beberapa menit yang lalu mencuri tempat duduk di sampingku.

“Terkadang aku bertanya, seberapa banyak hal yang kuketahui tentang orang yang kucintai? Ketika hal-hal ringan seperti kebiasaan, hobi, dan apa-apa saja yang disukai bertambah familiar, segala yang penting layaknya keluarga, ketakutan, asa, mimpi, dan relasi justru semakin menjauh dan tak tersentuh.”

Aku ragu orang disampingku menangkap seluruh ucapku, mengingat tingkahnya yang agak risih dengan kereta kelas bawah ini.

“Tetapi penting atau tidaknya hal yang kutahu, aku tetap menyimpan rasa cinta itu,” lanjutku sementara fokusku tak beralih dari kertas ini.

Diapun berucap, “Kau buta.”

“Cinta itu buta.”

“Bagaimana pun, cinta masih bisa dipikirkan dengan logika.”

“Kalau benar begitu, berarti yang kupunya lebih dari cinta.” Senyumku mengembang.

“Mengapa tak kau lupakan cintamu itu?”

“Tak berminat. Karena aku tahu, sekeras apapun aku berusaha melupakan, mengganti, atau mengabaikannya, aku tak akan bisa. Sosoknya di ingat terlalu kuat. Laksana tattoo yang melekat terlalu erat.”

Aku mengembuskan napas kencang, menatap kertas A4 yang sudah tak putih lagi dengan puas. Segala hal terasa masih sama seperti ketika aku masuk dan duduk di sini, kecuali dengan suasana yang mulai ramai. Sebuah hembusan napas berat terdengar dari sosok yang duduk di sampingku.

“Kau tahu, kata-katamu itu membuatku merasa semakin bersalah.”

Aku menggeleng, “Kau tidak salah,” kupalingkan wajahku ke jendela, mendapati hiruk pikuk manusia di stasiun. “Pada akhirnya, aku menyadari bahwa kisah ini bukan tentang kau dan aku. Melainkan hanya tentang aku dan diriku sendiri.”

Kuputar kepalaku 180 derajat, sosok itu bangkit lantas mulai melangkah pergi, memberikan seulas senyum untuk menutup kecanggungan. Senyum yang masih tertanggal. “Um, have a nice trip, Yonghwa-ssi.”

“Ah. Ngomong-ngomong,” kakinya yang baru beberapa langkah menjamah terhenti, diputar badannya ke arahku. “Terimakasih atas undangan pernikahannya, Luna-ssi.”

Perempuan itu tersenyum kembali.

.

Kedua kelopak mataku terbuka entah karena apa. Aku sedikit menguap, mendapati diri masih bersandar di jendela kaca kereta, dan penumpang lain yang masih terlelap di tidurnya. Kupandangi pemandangan gelap dari balik jendela, menikmatinya untuk beberapa saat.

Tiba-tiba aku sadar akan selembar kertas yang masih ada di genggaman, seakan menunggu untuk lebih lanjut diperlakukan. Kuamati lekat-lekat kertas tersebut. Kertas yang dipenuhi tinta hitam bertuliskan Luna. Luna. Dan Luna.

Deru kereta masih menguasai telinga. Aku memejamkan mata, mengangkat kertas tersebut ke jendela bagian atas yang tidak tertutup kaca. Angin kencang seakan membuat darahku beku. Mempause senyum Luna yang menguasai kepala.

Detik berikutnya, setetes air mata meluncur cepat dari kelopak mataku. Di detik itu pula, kertas bertuliskan nama Luna itu kulepas, membiarkannya hilang ditelan malam. Tetapi, bagaimanapun, Luna yang sesungguhnya tak akan pernah hilang dari ingatan.

 

You are engraved inside my heart just like Tattoo. You are filled inside my head just like Tattoo
Even when I close my eyes, even when I scream, A tattoo called you just keeps getting bigger.

-Tattoo-

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s