[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] More Than Reason

More Than Reason.

Cnblue/OC; Lee Jonghyun/Kim Sooyeon

Angst. Pg-13

Ficlet

—yeowon—

Gambar

Kita tentu pernah kehilangan. Apa pun itu.

Bagi Jonghyun, kehilangan bukanlah sesuatu yang asing selama 23 tahun ini. Kehilangan sudah menemaninya bagai teman sejati, meski dia membencinya setengah mati

Walau setengah mati dia merasionalkan pikirannya; bahwa kehilangan adalah bagian dari proses kehidupan, sesuatu yang mutlak terjadi (seperti udara yang keluar masuk paru-parunya setiap detik), tetap saja, rasa sakit yang ditinggalkan akibat kehilangan itu sendiri seakan menggerogoti jantungnya dan meremukkan tulangnya tanpa ampun. Hingga dia menangis, merintih dan ambruk.

Tetap saja… kehilangan terus mengikutinya.

One     :    Summer Love

Tiga tahun, musim panas datang dan pergi. Tapi tetap menyapa, hingga hari ini. Dan Jonghyun tetap menggenggam tangan Sooyeon. Meski kadang dia akan merasa bosan ketika menemukan gadis itu memakai jas lab-nya dan mengabaikan keberadaannya.

Mereka hanyalah remaja SMA yang saling jatuh cinta, tapi tidak lupa untuk membangun mimpi. Jonghyun dengan gitar tuanya—pemberian Ayah di ulangtahunnya yang ke sepuluh—dan Sooyeon dengan rumus kimia-fisika yang menurut Jonghyun membosankan.

Dilihat dari mata telanjang, mereka berbeda. Tapi, apa pun alasannya, mereka tetap menggenggam tangan satu sama lain dan berjanji akan tetap bersama. Meski mereka tahu, janji mereka tidak pernah dihargai dunia ini—mereka hanyalah remaja SMA yang dimabuk cinta.

Itu tahun terakhir mereka memakai seragam SMA kebanggaan. Masing-masing mengintip di sela-sela pelajaran berlangsung, melompat-lompat menguasai meja kafeteria agar bisa makan siang bersama.

“Lalu, apa rencanamu setelah ini?”

“Melanjutkan hidup, tentu saja.” Jonghyun menjawab pelan, mengunyah lembut menu makan siangnya.

“Melanjutkan hidup,” Sooyeon mengulang pelan kata-kata Jonghyun. “Yeah.”

Dan melanjutkan hidup rupanya adalah saling melangkah berjauhan. Musim dingin membekukan apa pun yang ada di bumi, juga segumpal hati mereka yang berdenyut sakit. Di upacara pelepasan siswa, Jonghyun dan Sooyeon kabur ketika Pak Kepala Sekolah menyampaikan pidato panjang yang membosankan.

“Biar kutanya sekali lagi, apa yang akan kaulakukan setelah keluar dari sekolah ini?” Sooyeon duduk di kursi taman yang dibungkus salju hari itu.

“Melanjutkan hidup.” Jawaban Jonghyun masih sama.

“Seperti apa?”

“Mengejar mimpi.” Dia menjawab. “Kau?”

“Melanjutkan hidup,” Sooyeon menjawab. “Seperti yang kaukatakan.”

“Seperti apa?”

Sooyeon tidak menjawab. Alih-alih melakukannya, dia malah meraih jemari besar Jonghyun yang besar dan hangat.

“Apa?” Jonghyun mengernyitkan dahi.

“Jonghyun,” Sooyeon mengucap namanya pelan dan sabar, Jonghyun tahu ada yang tidak beres. “Kautahu kan, kita berbeda. Kau tidak menyukai apa yang kusukai dan begitu juga aku. Mimpi kita berbeda, dunia kita berbeda. Semua orang tahu itu.”

“Sooy—“

“Biarkan aku menyelesaikan ini,” Sooyeon berseru. “Kau adalah pria penuh bakat yang harus menunjukkan pada dunia bahwa kau bisa hidup dengan gitarmu. Tapi aku adalah orang yang hanya bisa bersembunyi di laboratorium, mencoba membantu dunia dengan nuklir-ku.”

“Sooyeon, hentikan. Aku tidak mengerti.”

“Kita berbeda. Jalan yang kita tempuh sejak awal sudah berbeda, aku tidak akan mampu membiasakan diri dengan kehidupanmu. Begitu juga denganmu yang mungkin bisa gila dengan rumus-rumus kimia-fisika yang kutekuni tiap hari. Kita tidak akan pernah bisa bertahan. Tidak lagi, Jonghyun.”

Sooyeon meremas pelan jemari Jonghyun yang beku, lalu melepasnya perlahan. Hatinya bergetar, tapi dia pura-pura tegar. Atau kalau bisa, dia ingin Jonghyun melihatnya sebagai penyihir jahat, dengan begitu Jonghyun akan jauh-jauh darinya dan… melupakannya. Tapi semua tidak akan semudah itu.

Nama Sooyeon terus keluar dari pengeras suara. Si jenus yang berhak mendapat penghargaan terbesar hari itu.

“Pergilah.” Jonghyun berkata padanya, hampir meringis.

Sooyeon mengangguk pelan dan meninggalkannya sendirian.

Jonghyun berharap besok pagi dia akan terbangun dan menyadari bahwa semua itu hanya mimpi—akibat gugup sebelum upacara kelulusan.

Tapi musim dingin berlalu begitu lambat dan musim panas datang dengan murung. Gadis itu mengeret kopernya di lantai bandara dengan Jonghyun yang mengekorinya.

“Aku akan merindukanmu,” Jonghyun berusaha jujur, sebelum Sooyeon menyerahkan tiket pesawatnya pada petugas.

“Sampai jumpa.” Sooyeon membalas dengan suara senormal mungkin. Tidak ada kata ‘aku juga akan merindukanmu’ untuk Jonghyun.

Sooyeon menarik pelan kopernya, berjalan menjauh dari Jonghyun. Tidak menoleh ke belakang, tidak ada pelukan, tidak ada janji akan mengirim pesan.

Setiap bangun tidur, Jonghyun mengecek ponselnya. Tapi tidak ada pesan dari Kim Sooyeon, tidak ada e-mail dari gadis itu. Tidak ada panggilan masuk dari gadis itu.

Kesimpulannya, dia telah kehilangan gadis itu.

Selamanya.

Two    :    Dreams & Togetherness

Lupakan Sooyeon.

Karena musim panas tidak abadi.

Satu setengah tahun kemudian, setelah mencoba bangkit dari keterpurukan dan mencoba melanjutkan hidup. Lee Jonghyun menemukan Kwon Kwangjin dan Lee Jonghoon sebagai orang-orang yang memiliki banyak kesamaan dengannya. Dalam hal bermusik.

Mereka terus membicarakan musik setiap kali bertemu, hingga terbentuklah band kecil. Lee Jonghyun, Lee Jonghoon, Kwon Kwangjin dan dua anggota yang baru direkrut beberapa minggu sebelumnya.

Sebuah band indie yang tidak begitu dikenal publik. Mereka tidak mengharapkan popularitas, bayaran mahal atau pun teriakan gadis-gadis cantik. Karena yang mereka tahu, mereka bertahan di band dengan alasan; mereka hidup untuk dan karena musik.

Hingga satu tahun kemudian band indie mereka mulai dikenal masyarakat, tampil di kafe-kafe kecil, situs penggemar yang mulai menyebar di internet dan tawaran manggung di acara-acara amal. Yang paling mengejutkan adalah, mereka ditawari kontrak dengan perusahaan rekaman besar di Korea Selatan, di sebuah musim gugur.

Dalam sekejap, hal-hal yang tidak pernah mereka impikan, terjadi dan telah mengunci mereka di dalamnya. Popularitas, bayaran mahal, gadis-gadis cantik dan lain-lain.

Tapi yakinlah, tidak ada yang benar-benar abadi. Dua tahun kemudian, Kwon Kwangjin keluar dari band tanpa alasan yang jelas. Memicu kemarahan agensi. Disusul dengan dua anggota lain yang lebih memilih ke dunia akting. Yang tersisa hanya Jonghyun dan Jonghoon. Tapi tidak ada yang menginginkan mereka lagi.

Setelah mengalami sidang berbulan-bulan dan rekeningnya dikeruk habis untuk membayar denda. Lee Jonghyun meninggalkan band dan segalanya yang berhubungan dengan itu. Termasuk Jonghoon dan tiga anggota lainnya.

Dia sendirian, di apartemennya yang kurang cahaya. Kadang merindukan masa lalunya; bukan kepopularitasan yang pernah diraihnya, tapi suara tawa teman-temannya yang sudah tak pernah menyapanya lagi.

Dan sekali lagi,

Inilah kehilangan.

Three  :    Forever

Jonghyun berkelana di dalam mimpi. Menemukan Sooyeon tersenyum dan menggenggam tangannya. Mendengar suara teman-teman dan merasakan bahunya dirangkul erat. Hingga matahari mengusik semua keindahan itu, Jonghyun terbangun dan ulu hatinya bagai ditinju keras-keras oleh realita. Paginya kembali terasa kelabu.

Jonghyun punya tiga pilihan sekarang.

Satu, pergi ke dapur dan meraih racun tikus lalu meminumnya di dalam bak mandi.

Dua, meminta Sooyen meledakkan nuklirnya sekarang juga, hingga dagingnya bercampur dengan butiran-butiran pasir bumi.

Tiga, pergi ke bar dan menghabiskan berbotol-botol alkohol hingga matanya berat dan akhirnya tertutup untuk selamanya.

Ketiga dari itu gila.

Jonghyun melarikan diri. Pergi ke bandara setelah membersihkan tubuh seadanya, dan duduk di kursi pesawat menuju Busan. Mungkin, akan lebih menyenangkan mati di kampung halaman.

“Aku pulang.” Jonghyun berseru saat memasuki rumah tempat dia dilahirkan. Tapi tak ada satu pun yang menyahut, apa lagi membantunya meraih kopernya.

Dia hanya menyeret kakinya ke kamar masa kecilnya yang hampir dia lupakan. Melemparkan tubuh di atas kasurnya yang berbau gitar tua. Tertidur di sana setelah menangis diam-diam dan meredam suara isakannya.

Lalu tengah malam, ketika dia terbangun karena mimpi buruk. Dia menemukan wanita paruh baya berdiri di seberang tempat tidurnya, membawa kue tart yang dipenuhi lilin-lilin.

“Ibu,” tenggorokannya terasa kering dan dia melompat cepat dari tempat tidur.

“Selamat ulangtahun, putra-ku yang hebat, Lee Jonghyun.” Ibu tersenyum, mata berkaca-kaca.

Lilin-lilin terhembus, Jonghyun memeluk Ibunya dan secara tidak malu menangis di sana. Satu hal yang dia sadari kini, meski dunia memerlakukannya dengan sangat tidak adil, meski rasa cinta malah menusuk-nusuk hatinya, dia masih punya alasan untuk bertahan hidup.

Ibunya.

Meski dunia berusaha menariknya ke pusaran kehilangan untuk yang kesekian kalinya, dia tidak akan pernah takut. Karena dia di sini, bersama ibunya, yang dijamin tidak akan pernah meninggalkannya, yang akan setia membantunya bertahan.

23 tahun, dan Jonghyun benar-benar tersenyum bahagia.

Dalam hidup, ada yang datang dan pergi. Namun tetap ada yang tak akan pernah meninggalkan, apa lagi menghilang. Selamanya.

#

A/N : pertama kalinya bagi saya nulis ff dengan tema ulangtahun. jadi maafkan saya kalau ff ini sama sekali gak nyambung ;_;

btw, selamat ulangtahun Lee Jonghyun (suami masa depan yeowon) ! dan saya balik hiatus lagi xoxo

10 thoughts on “[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] More Than Reason

  1. Ya ampun. Bagus! Banget! Suka sama cara penuturannya, agak mellow tapi gak menye, lebih ke realistis dan jarang banget sy baca FF dimana saya bisa bersimpati sama tokoh utama cowoknya meskipun suasananya mellow gitu. Aaaaa peluk Ijong, pengen deh *pukpuk* in dia😀. Gak bisa beri komen panjang-panjang, pokoknya bagus. Udah. Puas banget baca FF ini, seperti ini kayaknya Jonghyun yang selalu saya bayangin, he’s tough tapi tetep punya sisi sensitif. Agak terharu baca bagian ibunya. Jadi Pengen kenalan sama authornya hihi😀

    • hai Mia, trims sudah mampir ke blog ini dan berkenan membaca ff saya🙂 semua ff saya sebagian besar lebih condong ke perasaan cowoknya, dibanding yang cewek hehe. dan btw, saya memang suka baca buku-buku realistic fiction, dan makanya berpengaruh ke tulisan saya juga ^-^
      silahkan. uname twitter saya @yennsm. saya senang sekali ada yang mau dekat sama saya XOXO

      • awalnya saya pikir ini melulu tentang cerita Jonghyun dan cewek itu, mereka putus dan jonghyun jadi galau mellow gitu. Jujur saya agak kurang bersimpati sama cerita kayak gitu, apalagi dari POV cowoknya, kayak menye banget gitu jadi cowok. ternyata nggak, dan saya seneng ada konflik lain antara dia dan bandnya, dan sy juga seneng disini Jonghyun nggak dibuat serba perfect. Iya, Jonghyun disini real banget, kayak cowok band biasa, juga nggak dibikin dia ganteng, digilai cewek2 bla bla bla. Agak bosen dan capek baca cerita kayak gitu. hehe, oke, nanti saya follow twitternya, follback ya kalo berkenan. Oya, salam kenal🙂

  2. saengil chukkae jjongie oppa wkwkw telat, good story good moral. ada satu yang abadi,bahkan ketika si pemilik sudah tiada. kasih sayang ibu (?) #apaini -_-

  3. Yen aku terharu banget seriusan. ini kereeen. aku udah tau fic ini dari dulu tapi males baca gara2 pake OC, maafin daku😦
    aku suka cara kamu nyisipin life dan moral value disini. tidak terlalu mendikte tapi beneran sampe ke hati :’)
    Nice :’)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s