[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] Forbidden Gift

 

[[FF EVENT - JONGHYUN'S BIRTHDAY]] Forbidden Gift

 

Title                 : Forbidden Gift

Author             : Rizka_RiChan

Rating              : R

Genre              : Romance, Family

Length             : Ficlet (2.334 Words)

Cast                 : Lee Jonghyun (CN Blue), Lee Nara (OC)

Disclaimer       :

Member of C.N.Blue are belong to God, me, and their family, except the OC and the STORY, they are MINE. Don’t bash, don’t flame. Do politely. Critics and review are necessary. Plagiator, JUST GO AWAY. Be  SHAME, please. I don’t need you to read my story. Thanks.

Mengantisipasi para PLAGIATOR yang tidak mengerti bahasa inggris, mari saya beritahu maknanya: PLAGIATOR, PERGI SAJA. ANDA MASIH PUNYA MALU, KAN? SAYA TIDAK MEMBUTUHKAN ANDA UNTUK MEMBACA KARYA SAYA. Terima kasih.

-oOo-

            CN Blue baru saja turun dari stage dan sedang beristirahat. Konser hari ini sudah selesai. Mereka hanya perlu menyelesaikan konser besok hari dan bisa cepat-cepat kembali ke Seoul.

Jonghyun yang baru saja berganti baju terlihat begitu sibuk memainkan ponselnya. Kakinya melangkah menuju sudut paling sunyi.

Yoboseyo,”

Jonghyun mengulas senyum ketika mendapatkan suara seorang gadis menyapanya.

Yoboseyo, Nara-ya. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Oppa?”

“Aku juga. Sudah makan?”

“Baru saja. Bagaimana konsermu? Menyenangkan?”

“Tentu saja. Tapi sayang, gadis kecilku tidak ada di sini. Biasanya, dia yang akan berisik dan—”

Ya ya ya!” Jonghyun tertawa kecil mendengar gadis itu merengek tak terima.

“Kapan kau pulang?”

“Besok, tanggal 14. Kenapa? Merindukanku?”

“Sangat.” Jonghyun tersenyum. Dia benar-benar hapal dengan gelagat gadis itu yang manja.

“Ngomong-ngomong, di Seoul sedang hujan?”

“Iya. Dan mereka membuatku tak bisa tidur.” Jonghyun mampu mendengar lenguhan pelan dari gadis itu.

“Perlu aku menyanyikannya untukmu?” Gadis di ujung sana terdiam sejenak lalu menyahut teleponnya, “Tidak. Kau tidak boleh melakukannya di sana. Nanti orang lain mendengarnya. Kau hanya boleh menyanyikannya untukku!”

Jonghyun dan gadis itu tertawa berselingan. Menikmati rindu yang terlepas bersamaan.

“Jonghyun-a! Cepat bereskan barangmu! Kita harus kembali sekarang!” Teriakan Yonghwa mengalihkan sejenak pembicaraan via telepon itu.

“Yonghwa Ajusshi cerewet itu menyuruhmu mematikan telepon?”

“Begitulah. Ya sudah. Jaga kesehatanmu, Sayang. Tidur yang nyenyak.”

“Baiklah.”

Saranghaeyo.”

Nado.”

Dan percakapan berhenti sampai di situ.

Jonghyun memasukkan ponselnya di saku celana. Dirinya tersenyum puas. Semangatnya terisi kembali. Setidaknya, malam ini dia bisa tidur nyenyak tanpa harus mengkhawatirkan gadis itu, gadis yang berhasil merampas hatinya.

-oOo

            Jonghyun tak pernah bisa diam duduk di bangku pesawatnya. Setiap beberapa detik, dia akan berpindah posisi. Matanya memejam, lalu terbuka kembali. Disandarkan punggungnya dengan tenang, lalu duduk dengan tegang. Gusar.

“Ada masalah?” tanya Yonghwa pelan, melihat Jonghyun yang sedari tadi terlihat gelisah tepat di sampingnya. Pertanyaannya terdengar peduli memang, tapi sebenarnya dia terganggu. Hampir saja dirinya dibuai alam mimpi, namun gerakan Jonghyun mengusiknya.

Jonghyun membanting punggungnya sedikit kasar seraya mengetuk-ketuk pegangan kursi di sisi kanan-kiri. Sinar matanya tak jelas mengarah ke mana.

“Nara?” terka Yonghwa. Jonghyun hanya menatap Yonghwa lalu mengangguk dengan dahi yang berkerut.  Yonghwa mengembuskan napas kesal. Disembunyikannya wajah mengantuknya itu di dalam jaket yang dijadikannya selimut.

“Tidak bisakah kau bersikap biasa saja? Dia bisa jaga diri, Jonghyun-a.” Yonghwa berucap lirih dan tak jelas. Dirinya sudah begitu malas untuk berbicara apa-apa. Yang dibutuhkannya saat ini hanya tidur; memulihkan semangatnya setelah terkuras habis untuk konser yang baru saja digelar.

Jonghyun terdiam. Hyungnya itu membuat moodnya semakin hancur.

Direbahkannya lagi tubuh lelah itu. Menenangkan diri. Mensugesti otaknya bahwa Nara akan baik-baik saja dan muncul dalam keadaan utuh di hadapannya. Lalu, dirinya akan meluapkan berjuta kekesalan yang telah disiapkannya.

Belum sempat mengikuti jejak Jungshin dan Minhyuk yang sedari tadi terlelap, pesawat sudah akan mendarat. Terpaksa, Jonghyun mempersiapkan diri.

Jungshin dan Minhyuk asyik menguap dan merenggangkan otot-ototnya. Cukup puas dengan tidurnya beberapa jam ini. Di lain sisi, Yonghwa mengerang kesal karena kegiatannya yang belum terselesaikan. Jonghyun sedikit merasa bersalah karena dia penyebab satu-satunya. Tapi Jonghyun tak begitu peduli, yang penting saat ini adalah dirinya bisa segera turun dan menemui gadis itu.

Ketika pesawat sudah menapaki daratan dengan sempurna, Jonghyun bergegas merapikan barang-barang pentingnya.

“Sebelum pulang, kita harus kembali ke dorm dulu.”

Kalimat yang diutarakan manager mereka itu membuat Jonghyun mendengus kesal. Dirinya harus mengundur rencananya dan sedikit lebih bersabar.

-oOo-

            Dengan kacamata serta sweater yang melingkupi tubuhnya, Jonghyun jalan dengan tergesa memasuki halaman sebuah rumah minimalis di pinggir kota setelah mengatakan pada manager—orang yang mengantarkan—untuk meninggalkannya.

Dirinya segera masuk ke dalam rumah dan menyusuri tiap ruangan.

“Nara-ya! Nara-ya!”

Beberapa kali diteriakkan nama gadis itu, berharap mendapat sahutan. Kakinya terus melangkah sampai di kebun belakang. Dan begitu terkejut ia, mendapati gadis itu bersama seorang pria.

Jonghyun hanya menatap tajam sepasang insan yang tengah bercengkerama. Hatinya mendidih, apa yang mereka lakukan terlalu mesra di hadapan Jonghyun. Apakah karena makhluk ini, Nara mengabaikan panggilannya?

Mereka terlalu asyik menikmati kegiatan mereka, menyirami tanaman di kebun belakang rumah, bermain-main dengan air. Sampai-sampai tak menyadari kedatangan Jonghyun yang turut serta membawa aura-aura kurang menyenangkan.

Jonghyun memilih diam seraya melipat tangan di dadanya. Menanti reaksi mereka. Tapi yang terjadi adalah hati Jonghyun yang menyesak karena tak dianggap ada.

“Sampai kapan kalian akan membuang-buang air itu?”

Seketika, Nara dan pria itu mengalihkan pandangan mereka dan tercekat melihat Jonghyun yang memicingkan matanya.

“Bisa aku berbicara sebentar dengan Nara?” ucap Jonghyun pada pria di samping Nara dengan nada yang begitu sinis, membuat Sang Pria mau tak mau menganggukkan kepalanya.

Jonghyun segera menarik tangan Nara, menyeretnya masuk ke dalam rumah.

“Oh, jadi ini yang kau lakukan selama aku tidak di sini?!” Jonghyun hanya menatap Nara dengan tatapan menuduh. Nara hanya melipat tangan di depan dada, mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan dari pria di hadapannya.

“Sudah berapa kali aku bilang—”

“Apa?! Jangan dekat-dekat dengannya?! Kenapa memangnya?! Apa masalahmu?!”

Nara berteriak kesal. Dia jengah. Pasalnya, sudah berkali-kali Jonghyun memberikannya peraturan yang begitu posesif.

“Apa masalahku? Jelas itu masalahku!”

“Aku tak pernah melarangmu untuk berdekatan dengan wanita-wanita yang kau bilang partner kerja itu!”

“Itu tuntutan! Dan sejak kapan aku memiliki seseorang yang lebih dekat daripada kau?! Nara … berapa kali aku harus mengingatkanmu bahwa ada aku di sini?! Aku bisa menjagamu!”

“Oh ya? Bagaimana jika aku tak ingin bersamamu?” Ucapan Nara membuat Jonghyun kehilangan kata.

“Apa kau pikir, aku memiliki perasaan yang sama denganmu? Apa kau pikir, aku sama gilanya denganmu? Mencintai saudara sendiri?”

Jonghyun tercekat. Menatap adiknya tak percaya.

Dirinya kecewa, tentu saja. Apa yang Nara katakan barusan sudah cukup menyampaikan jawaban Nara kepada Jonghyun tentang perasaan gadis itu.

Jonghyun menertawai dirinya dalam hati. Iya, dia memang sudah gila. Dia memang sudah kehilangan akal sehatnya karena mengharapkan cinta yang sama dari Nara.

Nara berlalu, meninggalkan Jonghyun yang membeku. Gadis itu tak lagi peduli. Sudah cukup sering kemarahan kakaknya itu meluap dan dirinya sudah cukup lelah hari ini.

Jonghyun tersenyum miris, segera mengambil jaket dan topinya, lalu melangkahkan kaki meninggalkan rumah menuju dormnya.

-oOo-

            Jonghyun bersandar pada sofa dan meletakkan gitar di pangkuannya, beberapa kali dipetiknya asal. Matanya menatap sendu tiap tetes hujan yang menapaki permukaan jendela dorm-nya. Petir menyambar, memekakkan telinga.

Ada memori yang dibawa oleh suasana. Hinggap di ingatan Jonghyun dan membuatnya terpaku. Petikannya perlahan menciptakan melodi sendu.

Illa Illa.

            “Oppa,” panggil Nara yang tengah memeluk lututnya, kedinginan di sofa. Badannya yang mungil itu telah di selimuti kain yang cukup tebal untuk menahan angin yang dibawa derasnya hujan.

            Jonghyun segera menghampiri adiknya itu setelah selesai meracik secangkir kopi yang siap disesapnya.

            “Hm?” gumam Jonghyun lalu meletakkan cangkir itu di meja setelah sekali meneguknya.

            Gadis itu diam. Dapat Jonghyun lihat, badannya sedikit bergetar. Sesekali, keluar ringkikan pelan dari bibir manisnya. Matanya memicing pada jendela yang sedari tadi mempertunjukkan kilat-kilat yang membuat gadis itu makin bergidik ngeri.

            Jonghyun tersenyum mengerti.

            Segera diraihnya gitar yang tergeletak di pinggir sofa dan memetik senar gitar itu beraturan.

Ttaseu hage buneun hyang giroun

baram nae du bore seuchimyeon nan,

sarang haetdeon geudae eolguri tteo oreujyo

 

Oh … gilkae sumeo seon ireumdo

moreu neun deulggoti pil ttae cheumen,

giyeok jeo pyeone gamchwo dun geudaega tteo oreujyo

 

My baby illa illa illa,

baby illa illa illa, baby illa illa illa

Never forget love

 

Cheot sarangeun areumdawoseo

Cheot sarangeun-kkotiram nida

Bomi omyeon hwahlchg pineun o …

Nuni bushin-kkot cheoreom

 

Cheot Sarangeun erinae cheoreom

Cheot sarangeun seotureum nida

Sarangeul aggim eobshi juggo

Kajjil mota nikka

 

Illa illa illa, illa illa illa, illa illa illa

Naui sarang, Goodbye

Illa illa illa, illa illa illa, illa illa illa

Naui sarang, Goodbye

 

            Dan Nara sudah tertidur pulas di sampingnya.

            Ya, lagu ‘Illa Illa’ itu selalu berhasil membuat adiknya tenang ketika hujan menakutinya, seperti malam ini. Lagu yang pernah dinyanyikannya dengan lirik yang berbeda pada sebuah drama ini selalu dimainkan—dengan istimewa—khusus untuk Nara.

            Diletakkannya kembali gitar pemberian Nara itu. Dirinya meletakkan kepala adiknya yang masih meringkuk tadi di pangkuannya. Dibelainya surai halus gadis manis itu. Wajahnya mengulas senyum, seperti menemukan sesuatu yang menenangkan jiwanya.

            Jonghyun memejamkan matanya. Melupakan kopi yang mulai mendingin itu. Yang dia inginkan saat ini bukan kopi yang bisa menghangatkannya. Karena dirinya sudah cukup hangat, lewat kehangatan yang mengalir di sela hatinya. Kehangatan yang tercipta dari rasa bahagia yang entah dari mana.

Dihelanya napas berat. Seharusnya, hari ini dia ada di rumah dan menikmati hari ulang tahunnya bersama Nara. Tetapi, apa yang terjadi kemarin membuatnya enggan untuk ke sana.

Memang, agensi dan teman-temannya sudah merayakannya beberapa jam yang lalu. Tapi entahlah, apa yang disuguhkan untuknya belum berhasil menghapus beban-beban di otaknya.

Jonghyun masih perlu membenahi sesuatu yang rusak di hatinya. Menguliti luka-luka. Entah marah, malu, atau kecewa yang membuat dirinya enggan untuk menemui Nara.

Jonghyun meraih ponsel yang sedari tadi diacuhkannya. Toh, tidak akan ada yang menghubunginya lewat jam 9 malam jika bukan adiknya yang meracau menyuruhnya makan dan istirahat.

Raut wajah yang awalnya tak peduli tiba-tiba menatap tajam sesuatu di layar ponselnya.

From: Na(e)Ra Sarang

            Oppaya … Apa kau benar-benar marah? Aku bisa jelaskan semuanya. Aku menunggumu di taman biasa, di bangku yang sama.

                                                                                                            19:04, 15 May

            Jonghyun segera bangkit dan memasukkan ponselnya di dalam kantong. Dirinya segera mengenakan sweater serta meraih jaket tebal dan keluar dari kamarnya.

Jonghyun berlari tergesa menuruni anak tangga, menarik perhatian ketiga temannya yang sedang menikmati acara televisi di ruang tengah.

“Kau mau kemana?” Yonghwa bertanya setelah menelan chips-nya yang terakhir.

Jonghyun hanya meraih kontak mobil dan berlari keluar rumah, mengendarai mobil secepat yang ia bisa.

-oOo-

            Mata Jonghyun menelisik ke segala arah. Dengan payung yang melindungi dirinya dari murkanya hujan, kakinya melangkah mengitari taman.

Tatapannya tertuju pada gadis yang menggunakan dress selutut dengan tangan yang mendekap. Badannya basah kuyup. Bagaimana tidak? Hujan telah mengguyur kota ini sejak satu jam yang lalu.

Jonghyun segera menghampiri gadis itu dan menarik tangannya kasar. Tak peduli dengan gadis yang sedari tadi merengek minta dilepaskan.

Dilemparnya gadis itu ke dalam mobil dan Jonghyun segera masuk dan duduk di bangkunya.

“Kau sudah gila?!” bentak Jonghyun. Gadis di sampingnya hanya tersedu seraya mengusap lengannya pelan.

“Ya Tuhan, Nara! Kau tahu, kan, betapa mudahnya kau jatuh sakit! Berapa umurmu, sehingga hal sekecil ini saja kau tak mengerti?!” ucap Jonghyun seraya mengambil jaket di kursi belakang dan meletakkannya di pundak gadis itu, menyelimuti tubuhnya.

“Ta-tapi, a-aku, hanya … hanya tak ingin, k-kau kerepotan mencari … mencariku.” Gadis itu menunduk dengan air mata yang sedari tadi mengalir.

“Berhenti memikirkan orang lain sebelum memikirkan dirimu sendiri! Aku pria, dan mencarimu bukan hal yang sulit!” Sekali lagi, teriakan Jonghyun membuat gadis itu semakin berkerut takut.

“Apa karena kau marah padaku?! Ya Tuhan … Kenapa kau kekanak-kanakan sekali?!”

“Bukan, bukan seperti itu.” Nara berucap lirih.

“Dan berapa kali aku harus mengingatkan padamu untuk membawa jaketmu?! Kau memang keras kepala.”

“Aku sudah membawanya, O-oppa.” Gadis itu masih menggigil.

“Lalu mana sekarang?!” Jonghyun membuat air mata Nara mengalir lagi.

“Aku … aku menggunakannya untuk melindungi cake yang aku bawa.”

Jonghyun tertegun. Raut wajah yang penuh amarah tersapu oleh rasa bersalah.

“Aku membuatnya sendiri sejak kemarin. Cake yang membuatku lupa untuk menghubungimu. Aku terlalu sibuk membuatnya hingga tak sempat melihat ponselku.”

Jonghyun masih saja diam.

“Aku tak tahu akan serumit ini jadinya. Aku kira … aku kira semua akan berjalan sesuai perkiraan. Tapi ….” Gadis itu semakin terisak.

“Aku tak menyangka kau akan semarah ini. Aku kira, kesalahpahaman kemarin akan lewat begitu saja, seperti kesalahpahaman yang lain. Aku tak menyangka kau akan seserius ini. Aku … aku minta maaf.”

Jonghyun masih saja menatap keluar jendela. Dirinya tak tahu apa yang harus dilakukan. Dirinya marah. Marah pada dirinya sendiri.

Detik-detik berlalu dengan kesunyian yang menderu. Isakan Nara mereda bersama hujan di luar sana.

“Lalu … di mana kue itu?” Suara Jonghyun terdengar sangat lembut kali ini.

Nara menatap kakaknya yang enggan melihat matanya. Dia tahu, kakaknya benar-benar merasa bersalah.

“Di bangku tadi. Tapi pasti sudah rusak dan tak bisa dimakan. Nanti saja, aku akan—”

Belum selesai Nara menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun sudah membuka pintu dan melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam taman.

Jonghyun terus berjalan, mencari keberadaan ‘hadiah’-nya.

Matanya tertuju pada sebuah benda yang dilingkupi kain bercorak indah, persis seperti jaket yang begitu digemari adiknya. Pelan, diangkatnya benda itu. Tangannya membuka pelan kain itu dan melihat isinya.

Kue yang tak lagi nikmat dengan tulisan yang tak cukup jelas di atasnya.

Saengil Chukkae, Nae Sarang^^

            Jonghyun merasakan dua sensasi berbeda di hatinya. Dia menyesal, bagaimana bisa dia menyia-nyiakan hadiah seindah ini? Namun di lain sisi, Jonghyun sangsi. ‘Nae Sarang‘ … apa maksudnya?

 

Saengil chukha hamnida

Saengil chukha hamnida

Saranghaneun nae sarang

Saengil chukha hamnida

 

            Tepukan tangan yang mengikuti irama turut menemani lagu yang didendangkan oleh sebuah suara yang dihasilkan seorang gadis di belakang Jonghyun.

Jonghyun hanya berbalik seraya tersenyum menatap Nara di hadapannya.

“Saranghaeyo, Jonghyun-ssi.” Gadis itu berucap mantap.

“Hey, sejak kapan kau menjadi lancang seperti itu? Aku ini kakakmu!” Jonghyun melangkah mendekati adiknya yang masih berdiri di tempatnya.

“Kakak? Dengan segala yang ada padamu, masih pantas dibilang kakak?” Nara berucap mengejek.

Jonghyun meletakkan punggung tangannya di kepala Nara dan berpura-pura berpikir. “Hmm, sepertinya kau mulai sakit jiwa. Mencintai kakak sendiri, gejala sakit jiwa, bukan?”

Nara hanya tersenyum seraya menatap Jonghyun. “Bukankah kau yang menulariku?”

Well, aku bisa menarik virus itu kembali jika kau tak bersedia.”

“Tidak. Aku menginginkannya,” ucap gadis itu seraya tersenyum lebar.

“Sini, biarkan aku memelukmu.”

Jonghyun merentangkan kedua tangannya, menyilakan gadis itu untuk masuk dan menghangat dalam rengkuhannya.

“Aku tidak suka melihatmu bersamanya, Nara.”

Gadis itu melepaskan pelukan mereka sejenak dan menatap mata Jonghyun lekat-lekat.

“Oh ayolah, aku hanya memintanya untuk membantuku membersihkan rumah. Aku ingin semua terlihat rapi dan kita bisa merayakan ulang tahunmu dengan nyaman. Sebenarnya, aku juga memintanya untuk membantuku membuat cake itu untukmu. Tapi sayang, cake itu sudah rusak.”

Gadis itu menundukkan kepalanya, mengembuskan napas kecewa. Jonghyun hanya tersenyum seraya merapatkan pelukan mereka. Tangannya mengusap-usap punggung gadis itu.

“Tidak apa-apa. Cukup balasan cintamu saja yang jadi hadiahnya.”

Dan Jonghyun merasa ini teramat istimewa. Jonghyun tahu, hadiahnya ini mampu lenyap dan hilang kapan saja. Hadiahnya ini mampu menjadi sumber bencana bagi hidupnya. Hadiahnya ini tak akan pernah ada ujungnya.

Tetapi, Jonghyun hanya ingin menikmati ‘hadiah terlarang’-nya dulu saat ini. Menikmatinya berdua. Hanya berdua.

-oOo-

2 thoughts on “[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] Forbidden Gift

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s