[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] I can’t Forget You

200236712-001

 

 

Title : I can’t Forget You

Author :@febianaNS

Genre : Romance, sad, tragedy, AU

Rating : PG-16

cast :

 Lee Jong Hyun

Han Hye Bi

Lee Jung Shin

Disclaimer : FF ini dibuat karena author bingung, kenapa CNblue terutama Jonghyun suka banget ngajak-ngajak hujan kedalam lirik lagunya dan  karena author mendadak inget ulang tahun Jongie Oppa yang sebentar lagi tiba.

Note : Ingat ff ini bersifat AU (alternative universe) So, jangan salah paham terhadap isinya.  Don’t be siders, please let your comment for this story. Gak masalah kalau kritikan kalian  pedas karena author suka yang pedas-pedas. #hwuaww (-_- Author gaje). Tapi ingat DON’T BASHING sama cast-nya.

 

 

 

—Happy Birthday uri Jonghyun—-.

Seoul, May 15th 2008

Hari ini seperti tahun-tahun sebelumnya, Jonghyun melangkahkan kakinya menuju ruang kelas dengan tanpa bersemangat. Itu karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Semua anak dikelas tahu itu, dan tidak ada yang mengucapkan kalimat itu padanya.

Suasana kelas ramai dengan suara anak-anak seperti biasanya. Bahkan beberapa anak-anak berlari saling mengejar. Semua bersemangat. Kecuali Jonghyun tentunya. Hingga akhirnya sang Bang sonsaengnim masuk kedalam kelas dan kegiatan anak-anak dikelas mendadak berhenti dan dilanjutkan dengan menjawab salam sang sonsaengnim.

Dibalik punggung sonsaengnim terlihat seorang siswi baru mengikutinya dari belakang. Sekilas Jonghyun menoleh kearah siswi baru itu dan tanpa sengaja pandangannya bertemu. Tapi dengan cepatnya Jonghyun segera mengalihkan pandangannya seolah tidak perduli.

“Annyeonghaseo, Joneun Han Hye Bi imnida. Bangapseumnida.” Siswi tersebut tersenyum dan membungkuk memberi salam begitu sonsaengnim mempersilakannya untuk mengenalkan diri

“Bangapseumnida” jawab anak-anak sekelas serentak.

“Nama yang aneh” guman Jonghyun pelan. ia menoleh dan memperhatikannya dari atas sampai bawah. Gadis itu mengingatkannya dengan seseorang dan entah kenapa dia tidak menyukai gadis itu.

“Hyebi-ya kamu boleh duduk dibangku kosong sebelah Jonghyun” Bang sonsaengnim meberi isyarat dengan lirikan matanya kerah bangku yang ditunjuk. Hyebi menurut dan berjalan menuju bangku itu. Dia tidak menyadarinya bahwa seisi kelas memandanginya ragu, seolah bangku itu tabu untuk ditempati.

Jonghyun POV

“Anyeong Jonghyun-ssi” gadis itu mengulurkan tangannya dan tersenyum hangat diantaranya bola matanya yang tenggelam tidak tampak, dia terlihat manis dan ceria. Cih untuk apa aku memerdulikannya. Semua yeoja sama saja bagiku, nanti juga akan segera  terlihat belangnya.

Tanpa menjawab dan menatap matanya aku mengabaikan jabatan tangannya hingga yeoja ini menyerah dan terlihat sekali rasa kecewa diwajahnya.

HyeBi POV

Sampai bel istirahat berbunyi, mood baikku menjadi hilang karena tuan Jonghyun disebelahku. Bagaimana tidak, aku berharap bahwa dia akan menjadi teman pertamaku atau bahkan kami bisa bersahabat. Tapi kalau sikap pertamanya begini aku jadi merasa sangat direndahkan. Segitu tidak menariknyakah aku sampai dia tidak mau menoleh sedikitpun. Bahkan begitu bel istirahat berbunyi, dia sama sekali tidak berbasa-basi untuk mengajakku kekantin. Dia hanya meninggalkanku dan pergi tanpa suara.

‘Aish Jincha!’

“tidak perlu diambil hati”

“Ne?” aku menoleh. Terkejut ada seorang namja yang menghapiri dan bicara padaku.

“dia memang seperti itu.” Lanjutnya.  Aku mengerti yang dimaksud dengan  ‘dia’ pasti adalah Jonghyun.

naneun  Lee Jung Shin yeyo. Kau bisa memanggilku Jungshin” dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Dengan senang hati aku mengulurkan tanganku, membalasnya.

“Han Hye Bi  yeyo”

“Hye Bi-ya?, Namamu unik. Apa kau lahir saat hujan turun?” (Bi=hujan)

“Anio, aku lahir disiang hari musim semi”

“Keunde? Lalu kenapa namamu Hye Bi?”

“………” aku menjawabnya dengan tersenyum seramah mungkin.

“Ah.. arumdaneun. Senyummu manis sekali Bi-ya. Kau pasti punya banyak teman sebelum pindah kesini?” kurasa pipiku mulai merah mendengarnya, aku mulai merasa diterima disekolah baruku ini.

“Aku tidak punya teman sebelumnya Shin-ah. Aku hanya tinggal dirumah dengan appa dan mengambil home schooling sejak sd”

“Jinchayo? Berarti aku teman pertamamu?” dan kemudian obrolan kami berlanjut sampai kekantin hingga bel masuk berbunyi. Aku mendapatkan teman-teman baru darinya, benar-benar hari pertama yang menyenangkan.

Hanya saja ada satu hal yang membuatku sedih, karena entah apa salahku Jonghyun seperti tidak suka padaku. Dia sama sekali tidak pernah menjawab pertanyaanku atau sekedar menoleh. Mungkin karena mood-nya sedang jelek pikirku.

 

—-

Hari ini, hari keduaku pergi kesekolah, sudah dari semalam aku selalu terpikirkan apa yang akan terjadi pagi ini, ada. Aku benar-benar masih penasaran apakah Jonghyun sedang bad mood atau karena dia memang membenciku.

Tanpa melihat kearah mejaku dengan Jonghyun, aku masuk kedalam kedalam kelas. sengaja.  Akhirnya sudut mataku menangkap bahwa tidak ada tanda-tanda  kalau Jonghyun sudah berada dikursinya dan itu membuat perasaanku sedikit lega, tapi entah kenapa aku juga ingin cepat-cepat melihatnya.

Sampai akhirnya bel berbunyi, semua anak-anak dikelas pun masuk dan memenuhi semua bangku dikelas. Hyebi melirik kearah pintu, sosok seorang siswa laki-laki yang ditunggunya masuk. Hyebi sedikit lega namun lagi-lagi kecewa karena Jonghyun masuk kedalam kelas tanpa semangat.

“Annyeong Jonghyun-ssi” kuperlihatkan senyuman terbaikku begitu dia tiba.

“…….”

Tsk Tanpa menoleh dan menjawab, Jonghyun langsung duduk dan menatap kearah depan, seolah-olah aku ini tidak ada disebelahnya.

Kutarik tubuhku kebelakang dan menyandar kebangku, niatnya agar aku bisa leluasa memperhatikan gerak-geriknya selama jam belajaran berlangsung. Masa bodo dengan materi yang sedang dijelaskan sonsaengnim didepan. Aku sudah pernah mendapatkan pelajaran itu dari mentorku sebelumnya. Setelah lama aku memperhatikannya ternyata dia tampan juga. Garis hidungnya yang tegas, lesung pipinya yang sekali-kali terlihat,dan bibirnya yang merah segar. Oh,

“Mwo?” aku buru-buru mencatan dan memperhatikan papan tulis didepanku. Sepertinya Jonghyun menyadari kalau aku memperhatikannya.

“Neo, kenapa kau memperhatikanku?”

“Ani!” Aku menoleh kearahnya dan mengangkat kedua tanganku seolah-olah aku tidak tahu apa-apa. Tsk ini malah membuatku tambah terlihat salah tingkah. Memalukan.

“Jonghyun-ssi apa kau mau pergi kekantin?” istirahat kini tiba.

“bukan urusanmu!”

“Boleh aku ikut?” aku berusaha menghilangkan rasa kesalku.

“…….”

Kesal? tentu saja aku kesal dia mengabaikan dan meninggalkanku dengan pandangan tidak sukanya. Memangnya aku salah apa, tapi entah kenapa aku ingin tahu banyak tentangnya. Aku benar-benar tertarik dari awal aku melihatnya.

“Hyebi-ya?”

“Ne?” aku menoleh dan mendapati Jungshin dan beberapa temannya sedang berjalan kearahku.

“Apa kau ingin pergi kekantin?” aku mengangguk.

“Ayo bareng kami” yang lain menawarkan dan aku mengangguk senang.

“Hyebi-ya? Kenapa dari tadi kau memperhatikan Jonghyun?” Jungshin berbisik kepadaku.

“Apakah terlihat jelas?”

“Tentu saja. Kau suka ya?”

Deg! Aku menoleh kembali kenamja yang duduk dihadapanku.

“Dia memang seperti itu, jarak bicara apalagi pada orang yang baru. Banyak yang salah paham kalau Jonghyun membencinya.”

Aku menelan ludah, berharap kalau yang dikatakan Jungshin benar.

“sudah jangan dipikirkan! Cepat habiskan makananmu atau kau mau aku yang menyuapimu, huh?”

Sesuatu yang basah menyentuh ujung bibirku. “Jungshin-ah! Aku bisa makan sendiri”

“hehehe” biar begitu aku tetap menelan bulat-bulat sesendok nasi dihadapanku dan Jungshin tersenyum sambil mengacak-acak rambutku.

Aku tersenyum, akhir-akhir ini sering sekali hujan. Aku suka sekali hujan karena appa sangat menyukai hujan itulah mengapa dia memberikannya dalam namaku. Appa bilang karena hujanlah appa bisa bertemu dan mengenal eomma. Tapi aku sedikit cemas karena sebentar lagi kelas berakhir tapi hujan masih saja deras dan langit gelap. Appa pasti akan telat menjemputku.

Tetesan air yang turun dari atap sekolah menyentuh telapak tanganku dan menbasahinya. ternyata benar bahwa ayah akan telat menjemputku . Perlahan teman-teman disekolah semakin sedikit karena mereka lebih memilih untuk pulang sekarang juga karena mereka yakin hujan akan terus terun sampai malam tiba.

“Hyebi-ya aku pulang duluan!”

“Ne, josimhae gayo YoonA!”  seorang teman sekelasku pamit begitu kakaknya datang menjemput dan kini suasana sekolah menjadi semakin sepi. Aku merinding, ini hari keduaku disekolah dan aku sudah merasa ketakutan berada disekolah.

“Bi….”

Jonghyun POV

“Ne, kau memanggilku?” Aku menoleh dan mendapati seorang siswi disebalah kananku. Hyebi, dia siswi baru teman sekelasku.

Aku mengerutkan keningku, kapan aku mencoba memanggil namanya. Oh aku ingat,

“Aku tidak memanggilmu”

“Lalu siapa tuan Lee Jong Hyun? Hanya kau yang disebelahku!” Anak ini santai sedikit bisa kali, seperti ngajak berantem saja.

Dia sedikit mundur, sepertinya dia sadar dengan tatapan kesalku.

“Miane, aku tidak bermaksud seperti itu” dia menarik kedua tali ranselnya.

“Jonghyun-ssi kenapa kau selalu bersikap dingin padaku? Kau seperti membenciku!” lanjutnya menunduk sambil memaikan kaki kirinya kedepan dan kebelakang.

“…..” aku sendiripun tidak tahu kenapa.

I think of you hidden inside rain drops sliding down the window

I erase you with tears coming down my heart

You liked rain; you are listening to this sound

Do you remember me? I miss you when it rains

Love rains down. Memories flow down

I think of you again at the sound of rain

Love rains down. Memories flow down

You soaked my hardened heart; into the rain, you are leaving me

—-

“Annyeonghaseo Jonghyun-ssi” setiap hari, setiap pagi gadis ini tidak pernah absen menyapa dan memberikan senyuman terbaiknya begitu aku tiba disekolah. Bahkan pagi ini dia mengambil tempat disebelahku. Dibarisan paling depan diantara teman-teman sekelas kami. senin pagi seperti biasa adalah kewajiban kami menjalani upacara penaikan bendera.

Hari ini cahaya matahari terasa begitu menyengat kulitku walaupun masih pagi, bukan hanya aku tapi beberapa anak yang lain pastilah sudah berkeringat menunngu upacara cepat usai. Bukan karena kami tidak bangga menjadi warga Negara. Tapi pagi ini berbeda.

Aku menarik ujung belakang telapak kakiku, sedikit memutarnya kedepan dan kebelakang. Mataku tanpa sengaja menangkap sosok gadis disebelahku, Hyebi terlihat berkali-kali mengusap keringat didahinya dan wajahnya benar-benar sudah pucat.

“HYEBI!” aku langsung menangkapnya begitu tubuhnya hampir menyetuh tanah lapangan. Kudengar banyak suara dan beberapa langkah kaki yang menghampiri kami. Hyebi pingsan dan badannya keringat dingin. Seorang sonsaengnim menyuruhku untuk membawanya keruang kesehatan.

“Gwenchana?!” aku membantunya duduk begitu dia sadar.

“Gwenchanayo.” Hyebi menyapu pandangannya kesekeliling ruangan dengan bingung.

“Apa kau yang membawaku kesini? Gomapta Jonghyun-ssi” dia tersenyum, walaupun wajahnya masih terlihat pucat.

“Ige. minumlah! Kau pasti kekurangan cairan”

“Keurom, jangan panggilku seperti itu. Bukankah kita seumuran?” Hyebi mengangguk disela-sela meneguk minumnya.

“Gomowo Hyun”

“kalau begitu kan kita tidak terasa asing” dan percakapan kami berlangsung sampai jam istirahat berakhir. Setelah Hyebi pingsan, aku memutuskan untuk menemaninya dan tidak melanjutkan upacara, serta mengambil jam istirahat. Entah kenapa aku merasa khawatir dan takut.

Aku menarik nafasku dalam. Lagi-lagi hujan turun saat sekolah bubar, terpaksa aku harus pulang agak telat dan hanya berdiri tidak melakukan apa-apa selain menunggu. Karena itulah aku membenji hujan. Hujan selalu saja dapat membuatku sakit dan mengacaukan hatiku. Tapi tidak sejak Hyebi datang dan menemaniku sampai hujan reda. Walaupun sebenarnya dia menunggu ayahnya datang menjemput, tapi aku merasa senang selama senyumnya tidak pernah lepas saat bersamaku.

“Bi-ya, gwenchana?” aku sedikit mendekatkan jarakku dan memberikan jaketku padanya. Hyebi terlihat menggigil dan giginya menggretak kedinginan, sementara hari sudah semakin gelap tapi hujan masih juga belum reda.

“Tapi kau tidak mengenakan jaket Jonghyun-ah!”

“Gwencahan. Kau lebih membutuhkannya”

“…..?”

“Ne, aku kuat hyebi-ya. Kau tida ingat, aku adalah atlet Judo sekolah?.”

“Jinja? Aku belum pernah dengar”

“Ndeeee…” aish kenapa aku jadi mengggigil.

“kau mau kemana?” hyebi membalikkan tubuhnya dan berjalan kebelakang. Aku mengerti dia ingin duduk dibangku.

Aku menghampiri dan duduk disebelahnya. “ini baru adil” katanya sambil menyelimutiku denan setengah bagian jeket dan kami duduk berdampingan dengan memeluk kaki masing-masing. Menunggu hujan reda.

 you said wathing the rain makes you sad like the rain
you meant that our love is now like the rain
even though you’ve left, please remember me (please remember me)
when it floods with longing, the rain will call you
Love rains down. Memories flow down
I think of you again at the sound of rain
Love rains down. Memories flow down
You soaked my hardened heart; into the rain, you are leaving me

—–

“Annyeonghaseo Jonghyun-ah?” kali ini aku tersenyum membalas sapaannya dan meletakannya tas renselku diatas meja, lalu duduk disampingnya. Sudah hampir satu tahun gadis ini bersekolah disini dan sekarang kami pun sudah duduk dikelas tiga, tapi dia masih setia memilih duduk disampingku. Ya sejak kejadian itu kami semakin akrab dan menjadi teman.

“Jonghyun-ah apakah tahun ini kau akan mewakili sekolah lagi?” Hyebi bertanya antusias.

“Mollayo.”

“Aaa padahal aku ingin sekali melihatmu,” aku tersenyum melihatnya  kecewa dengan jawabanku.

“Tsk, kupertimbangkan lagi untuk berpatisipasi” karena tanpa kau minta pun aku akan melakukannya hyebiya.

“Jincha?” tanyanya kembali bersemangat.

“Fighting Jonghyun-ah! Aku pendukungmu nomor satu!”  dia mengepalkan kedua tangannya member i  tanda semangat. Hahaha lucu sekali dia sampai aku ingin mengacak-acak rambutnya.

“Ehm jangan pacaran dikelas” kami menghentikan tawa kami dan menemukan sosok jangkung berdiri dihadapan kami dengan tangan yang ditekuk didadanya.

“Jungshi-ah, bicara apa kau?” dua buah warna merah muncul dikedua pipi Hyebi.

“oh sepertinya kau cemburu Jungshin-ah”

“tentu saja tidak, kan aku cupid kalian” Jungshin menjawabnya dengan santai, “dan akan dengan senang hati menerima traktiran kalian”

“MWO?” keluar bersaan dari mulutku dan Hyebi. lagi-lagi semburat merah muda muncul dikedua pipinya.

“Heehee… peace..” Jungshin terkekeh dan menunjukan kedua jarinya. Awas kau nanti Jungshin-ah.

—-

“Bi-ya kenapa kau belum pulang?”

“aku menunggu appaku. Kau sendiri?”

“Aku baru saja selesai berlatih.  Mau pulang denganku?” aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Ini pertama kalinya aku menawarinya pulang bersama.

“Gomowo Jong. Tapi aku akan menunngu appaku.” Aku memasukan kedua tanganku kekantung celana dan menyapu pandanganku kesekitar sekolah.

“Yakin?sekolah sudah sepi loh?”

Dia mengangguk tersenyum.

“dimana rumahmu?” tanyaku begitu dia duduk dibelakangku.

“di daerah Hondong” *

“keunde pegangan yang kencang Bi-ya!” dan sepedah biru yang kami tumpangi melaju dijalanan kota Seoul yang mulai ramai disore hari. Menghasilkan hembusan angin yang semakin kencang manyentuh wajah kami dan menciptakan merdunya suara roda tang berputar diantara kami. semakin bertamabah indah lagi karena waktu yang seakan seakan berhenti dan hanya ada kami yang diperlambat dengan laju sepedahkub yang santai. Aku berharap ini bisa terus kualami.

“disana Jonghyun-ah! Rumahku ada diurutan kelima” Hyebi menunjukan sebuah rumah dengan cat coklat yang mendominasi dindingnya. Seperti rumah coklat.

“oke, akhirnya kami sampai” aku mengerem sepedahku tepat didepan pintu gerbang rumahnya.

“Gomawo Jonghyun-ah. Oh kau harus mampir hyun, aku akan memperkenalkanmu dengan appaku. Dia bilang dia sangat ingin menemuimu.”

“Jincha?”

“Baiklah sekali-kali aku ingin bermain kerumah pacarku ini”

“Kau tidak salah bilang??” aku memarkirkan sepedahku dan mensejajarkan langkahku dengannya.

“wae? Kau tidak mau menjadi pacarku?” aku menyengir lebar dan sedetik kemudian mendapatkan pukulan bertubi-tubi darinya di pundakku.

 HyeBi POV

“Baiklah sekali-kali aku ingin bermain kerumah pacarku ini” deg! Jonghyun menyebutku sebagai pacarnya.

“Kau tidak salah bilang?” babo kenapa kau bertanya seperti itu hyebi-ya

“wae? Kau tidak mau menjadi pacarku?”  kemudian aku memukul-mukul bahunya menutupi ekspresiku yang sebenarnya.

“Appa… appa aku pulang!” aku mendengar sahutan appa dari ruangan lain, appa pasti sedang didapur.

“Jong…….” Suaraku berhenti, aku terkejut melihat Jonghyun berdiri kaku dibelakangku. Pandangannya mengarah pada salah satu sofa diruang tamu kami. Cho ahjumma, aku baru menyadari kehadirannya dirumahku. Dan aku semakin heran lagi karena dia memandang Jonghyun dengan pandangan yang sulit diartikan. Begitu pun Jonghyun, mereka seperti saling mengenal.

“ada apaini ?” appa menghampiriku yang sama kakunya berdiri menatap mereka berdua.

“Annyeong. Aku pulang dulu!”  Jonghyun membungkukan kepala kepada appa dan keluar begitu saja. Padahal gerimis mulai turun saat kami memasuki rumah. Ada apa dengan dia, apakah dia mengenal Cho ahjumma.

Sejak saat itu Jonghyun selalu menghindar dariku, dia juga menukar tempat duduknya dengan salah satu teman sekelas kami. aku tidak semeja lagi dengannya. Bahkan dia tidak pernah menjawab sapaanku atau sekedar tersenyum padaku. Dia selalu bersikap dingin padaku dan tidak senang melihat appa dan Cho ahjumma menjemputku pulang. Apa ini semua ada hubungannya dengannya.

Siang itu aku menunggu Jonghyun latihan Judo. Aku ingin melihatnya latihan. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku begitu melihat Jonghyun berhenti disela-selanya ketika tanpa sengaja pandangan kam bertemu. Tapi reaksi Jonghyun masih sama. Dia tidak membalasku dan langsung beralih.  Tentu saja aja aku kesal, tapi aku merasa aku tidak harus menyerah. Na, nan bogosiphoyo Jonghyun-ah.

Aku langsung berdiri dan menghampiri Jonghyun yang berjalan kearah tempat duduk terdekat. Dia sudah selesai latihan untuk hari ini. begitu sampai aku langsung mengulurkan  sebotol air mineral dan handuk bersih kehadapannya. Seperti biasa, aku tersenyum semanis mungkin. Jonghyun menoleh. Tidak , lebih tepatnya dia mengambil botol minum dari belakangku. yang ternyata awalnya  akan diberikan pelatih sebelum aku tiba.

“Gomawo saem” tanpa menoleh padaku dia pergi.

Hari berikutnya pun sama, Jonghyun selalu menghiraukan bantuanku. Aku tahu, teman-teman yang lain memandangku heran karena ternyata Jonghyun sudah menghiraukanku dalam waktu yang lama.

Seoul, May 15th 2009

“Jonghyun-ah gwenchanayo” aku menahan lenganya ketika dia hampir terjatuh saat aku berpapasan dengannya di depan kelas. Pasti dia kelelahan. Seperti biasanya dia menghiraukanku dan pergi seolah-olah aku tak ada. Segitu bencinyakah kau padaku Jonghyun-ah?”

“JUNGSHIN!”

“kau mengagetkanku!” aku mendapati Jungshin sedang berdiri begitu aku berbalik badan. Hampir saja aku menabraknya.

“kau butuh teman? Aku siap mendengarkanmu.” Jungshi tersenyum dan mengajakku duduk disebelah lapangan basket.  Kemudian aku mencerita semua yang menjadi unek-unekku selama ini dan bagaimana awalnya Jonghyun sampai seperti ini

“ kau menyukainya?” aku mengangguk.

“Kau tahu?” Jungshin melanjutkan.

 

flashback

Busan, May 15th 1999

Pagi itu matahari masih mengintip diantara birunya pantai, suara deburan ombak pun masih berlomba dipagi dingin yang sedang turun hujan. Masih dengan selimut tebalnya, Jonghyun memejamkan matanya dan bersebunyi dibaliknya. Seperti ada magnet yang menariknya, Jonghyun langsung melebarkan matanya dan menegakan posisinya menjadi duduk. Samar-samar hingga akhirnya jelas, Jonghyun mendengar suara eomma dan appa-nya berteriak.

Dengan langkah berat, Jonghyun berjalan kearah pintu kamarnya. Dalam hati dia takut tapi disisi lain dia benar-benar penasaran apa yang terjadi diluar sana. Mengintip diantara celah-celah pintu kamarnya, samar-samar Jonghyun dapat melihat bahwa kedua orang tuanya sedang bertengkar. ‘Apakah mereka berencana untuk memberiku kejutan ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya?’ benak Jonghyun

Akhirnya Jonghyun memberanikan dirinya menuju kearah pintu. Seketika langkahnya berhenti, matanya melebar bingung. ia melihat ibunya sedang membawa sebuah tas hitam besar dan sebuah koper ditangan kanan dan kirinya.

eomma eodiganeun geoya?” Tanya Jonghyun begitu menghampiri mereka berdua.

Wanita yang ditanyanya hanya menoleh sebentar dan memandang suaminya kembali dengan tatapan tidak sabar.

“eomma?” Jonghyun menarik lengan baju ibunya, ia mulai merasakan firasat tidak enak.

Miane Jonghyun-a, eomma harus pergi!” wanita tersebut kemudian melepas paksa tangan Jonghyun dari lengan bajunya, menarik koper nya dan pergi ditengah hujan deras. Sebuah taksi sudah menunggunya.

“eommaaaa!” Jonghyun berteriak berusaha mengejar ibunya, tapi tangan kekar ayahnya menahan tubuhnya.

“Biarkan  eommamu  pergi  hyunnie!”.

“emma” lirih Jonghyun. Matanya mulai terasa panas, diiringi air matanya mulai keluar dan tenggelam bersama jatuhnya air hujan.

Setelah hari itu tiba, Jonghyun masih menunggu eommanya pulang kerumah dan merayakan ulangtahunnya. Begitu lamanya menunggu, hingga akhirnya dia menyerah dan entah kenapa dia menjadi benci kepada hujan dan eommanya. Mereka hanya memberinya harapan palsu yang tidak pernah datang

Aku berusaha mengingat kapan hari pertama kali aku tiba disekolah ini,“berarti hari ini…..” aku tidak melanjutkan kata-kataku, aku tahu apa yang harus aku lakukan segera.

“Gomawo Shin-ah!”

I pray that you are always happy, you’re always smiling

I pray that you don’t do sad love like the rain

Please don’t forget this: my hope that loves you will rain down beside you

Love rains down. Memories flow down

I think of you again at the sound of rain

Love rains down. Memories flow down

You soaked my hardened heart; into the rain, you are leaving me

—–

Author POV

Sengaja, hari ini Jonghyun pulang telat, ia mengambiskan hampir seharian disekolah dengan belajar keras untuk kompetensi tiga hari lagi. Selain itu karena dia memang sengaja untuk mengalihkan ingatannya akan hari ulangtahunnyayang jatuh pada hari ini. sekolah sudah sepi dan beberapa lampunya sudah dimatikan ketika dia selesai latihan. Lagi-lagi, hujan turun ketika dia bersiap akan pulang, terpaksa Jonghyun harus menunggu hujan reda. Biar bagaimana pun dia harus menjaga kesehatannya untuk tiga hari kedepan.

“Jonghyun-ah” dari arah lobi seorang gadis dengan kue tar ditangannya berjalan kearah Jonghyun yang membelakanginya.

“Saengil chukka hamnida……!” Hyebi tersenyum sambil menyanyikan lirik terakhir dari lagu ulang tahun begitu tiba dihadapan Jonghyun. Sementara Jonghyun hanya dia menatapnya tanpa ekspresi.

“cepat tiup lilinnya Jonghyun-ah! Sebelum angin meniupnya”

Jonghyun menatapnya sinis sebentar dan meninggalkan Hyebi dengan kue ulang tahun dan lilin-lilin yang akhirnya padam karena angin. Setetes dua tetes dan diikuti dengan tetesan air mata turun kepipinya dengan pandangan sendunya. Ini sudah keberapa kalinya dia berusaha untuk mendapatkan kata maaf dari Jonghyun dan penjelasan darinya.

“Jonghyun…” Hyebi mengejarnya. Berusaha mengimbangi langkah Jonghyun yang dua kali lebih cepat darinya. Hujan memang sudah mulai reda, tapi gerimis kecil membasahi tubuhnya.

“Jonghyun-ah! Kumohon beritahu apa kesalahanku hingga kau menjauhiku?”

“aku ingin kita kembali seperti dulu, aku ingin kembali menjadi temanmu” Hyebi mencoba menyeimbangkan langkahnya dijalanan yang licin dan dengan pandangannya yang tertupi butiran air mata yang menggenang dimatanya.

“karena Lee ahjummakah kau marah dan menghindariku? Apa dia ada hubungannya denganmu?!”Hyebi berteriak dengan suara seraknya yang hampir habis. Sambil menunggu jalan didepannya sepi, Jonghyun berhenti tapi masih tidak menoleh kebelakang.

“dia siapanya kamu Jong? Haruskah kau marah padaku karena itu? Kau pecundang Jong!”

Jonghyun tidak mau mendengar lagi kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Hyebi, dia langsung menyebrangi jalanan didepannya dengan langkah cepat.

 

Jonghyun POV

TIN………..! Aku langsung menoleh kebelakang, sebuah cahaya dari arah samping semakin melebar mendekati. Benar, Hyebi ada dibelakangku. Dia sedang berusaha menggerakan kakinya, dia pasti kram.

Cit…….! mobil itu bergerak tepat sebelum garis zebra cross, untunglah aku berhasil mendorong Hyebi ketepi jalan. Aku dan dia berhasil selamat.

“Gwenchana?” aku segera menghampirinya yang terjatuh disebelahku dan mendudukannya. Matanya memandang luru kedepan tapi tubuhnya kaku dan pandangannya kosong. Mungkin dia masih shock.

“Gwenchana Bi-ya” aku langsung memeluknya hingga tubuhnya tidak menegang lagi, digantikan digantikan isakan tangisnya yang membasahi baju sekolahku.

“Miane Jonghyun-ah” ucapnya lirih didalam pelukanku.

“Anio, aku yang salah. Kalau saja aku tidak menghindarimu, mungkin kau tidak apa-apa tadi”

“aku hanya tidak mau kau menjauhiku jong”

“Arraseo. Kalau begitu berhentilah menangis” aku menjauhkannya dariku dan menghapus air matanya dengan kedua jariku.

“tidak bisa, aku terlalu bahagia,”

“baiklah kalau begitu aku terpaksa melakukannya” aku tersenyum lebar dan dia memandangku heran tidak mengerti. Sebelum dia membuka mulutnya aku mendekatkan wajahku kewajahnya hingga hidung kami saling menyentuh sebelum kumiringkan kepalaku dan bibir kami menyatu. Mencoba menghilangkan rasa asin yang muncul dari air matanya dengan sentuhan bibirku yang melumatnya lembut. Walau rasanya hatiku seperti meloncat-loncat antara bahagia dan penasaran dengan reaksinya, aku terus melumatnya dan meminta bibirnya terbuka dengan lidahku. Akhirnya bahunya yang tegang sudah mulai melemas dan dia mulai membalas ciumanku. Aku tersenyum lebar disela-sela ciuman kami sebelum akhirnya kami menyudahinya.

“Saranghae Han Hye Bi”

Dia menunduk menyembunyikan wajahnya. Tapi bisa kulihat kalau ada segaris senyuman lebar dan semburat merah dipipinya.

—–

May 15th 2013

Jonghyun POV

No matter how far apart we are, I always love you

I was captivated and fell in love

I had a sense of destiny that you were everything

I’m missing you

Oh Girl, you are meant for me thought you are mine

Our love destination is in a fog

Oh Girl, you are meant for me thought you are mine

No matter how far apart we are, I always love you

The memory of you makes me my heart ache, as always

The dazzling memory is gone

I’m desolately alone in a maze

I’m missing you

Oh Girl, you are meant for me thought you are mine

Our love destination is in a fog

Oh Girl, you are meant for me thought you are mine

You are not in my sight any more

Even though time has passed, I still love you

In the memory of you, I’m still wondering, even now.

If I close my eyes, If I close my eyes you are there

No matter how far apart we are, I always love you

In the memory of you, I’m wandering

I still love you, I do love  you

In the memory of you, I’m still wondering, even now.

Always …..  I … love  you     (blind love)

 

 

“Hyung apakah lagu ini kau yang membuatnya? Bagus sekali. Liriknya juga dalem” Minhyuk mendaratkan tubunya disampingku. Mengambil lembaran kertas dihadapanku begitu aku selesai menyelesaikan laguku.

“Ya, dengan lirik yang menjadi ciri khasnya” Yonghwa menimpali, Minhyuk menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

“benar juga hyung, kenapa kau selalu menulis lirik seperti ini hyung?”

Aku mengangkat bahu seolah tidak tahu. “sama seperti alasan sebelumnya”

“Hyung apa kau masih belum bisa melupakannya?” Jungshin duduk disebelahku, disisi yang lain dari Minhyuk.

Flasback

Seoul, May 15th 2009

“Hyebi-ya! tiga hari lagi aku bertanding, dan kau harus datang karena besok adalah final terakhir. Arrachi?” tanyaku disela-sela perjalanan pulang kerumahnya. Karena kakinya terkilir aku terpaksa menggendongnya dibahuku.

“Hye bi!”

“Yak Han Hyebi!” pantas. Ternyata disudah tertidur. Ish, dikiranya dia itu tuan putri.

—-

3 days later

Dengan senyum yang mengambang lebar, aku setengah berlari menuju deratan bangku penonton. Tepat dimana tadi Hyebi duduk dengan manis memberiku teriakan semangat. Seperti yang dia dan teman-teman yang lain saksikan tadi, aku berhasil menjatuhkan lawan. Itu berarti aku berhasil sampai diakhir.

“JONGHYUN!” aku tersenyum dan langsung menoleh begitu ada yang memanggilku, tapi ternyata bukan Hyebi orangnya.

“na….”

“Miane YoonA apa kau melihat Hyebi?” ucapku sebelum YoonA sempat mengeluarkan kata-katanya.

“itu yang ingin aku sampaikan padamu Jong”

“Dari tadi Hyebi duduk disampingku, selama itu pula wajahnya pucat dan tidak sehat. Kurasa dia memang sengaja menahan rasa sakitnya sampai pertandingan selesai Jong”

“lalu dimana dia sekarang?”

“Appanya sudah membawanya pulang tepat setelah kau selesai”

Aku menepuk bahunya pelan dan berbalik “Jong ……” kudengar panggilan YoonA dari dibelakangku tapi tidak kuubris. Aku ingin cepat-cepat melihat Hyebi.

“Annyeonghaseo Ahjussi?” begitu aku tiba dirumah Hyebi.

“eomma!” ternyata yang muncul bukanlah appanya Hyebi, tapi seorang wanita dengan baju susternya.

“Jonghyun-ah Hyebi ada dikamarnnya” aku mengikutinya masuk.

“Hyebi-ya! Gwenchana?” tanyaku walau sudah terlihat jelas bagaimana keadaannya. Aku langsung menghampiri Hyebi ditempat tidurnya dengan infuse yang berda disebelah dikirinya.

Air mataku menetes melihat Hyebi yang  tidak dapat menjawabku, dan hanya tersenyum.

“Jonghyun-ah, tepat setelah kondisinya membaik Hyebi harus ke Amerika untuk melakukan beberapa perawatan dan melakukan transplatasi ginjal”

Aku menggenggam tangannya dan menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa. ‘Miane’ aku rasa itulah yang ingin diucapkannya. Lagi-lagi aku menjatuhkan air mataku. Tidak menyangka kalau Hyebi yang selama ini terlihat ceria ternyata mengidap gagal ginjal sejak masih kecil. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hampir setiap beberapa bulan sekali dan sekarang kurang dari seminggu sekali dia harus cuci darah.

“jangan bicara seperti itu Hyebi-ya! Sudah kubilang aku mencintaimu”

 

 

 

 

 

I pray that you are always happy, you’re always smiling
I pray that you don’t do sad love like the rain
Please don’t forget this: my hope that loves you will rain down beside you

Love rains down. Memories flow down
I think of you again at the sound of rain
Love rains down. Memories flow down
You soaked my hardened heart; into the rain, you are leaving me

Now-

Aku tersenyum dan memainkan satu bait lagu dari salah satu laguku. Han Hye Bi. Tentu saja aku tidak bisa dan tidak akan bisa melupakannya.

 

 

*ngarang

Elap keringet. Akhirnya selesai juga…… gomawo yg udah mau baca sampai selesai. Jangan lupa komen ya………

 

 

2 thoughts on “[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] I can’t Forget You

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s