[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] Autumn Bench

Autumn Bench 3

 

Title

Autumn Bench

Author

Summer

Main Cast:

-CNBLUE’s Lee Jonghyun

-SNSD’s Hwang Miyoung

Genre:

Romance & Life

Rating:

PG-13

Length:

Oneshoot

Warning Typo !

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

 

You’re here, there’s nothing I fear  . . .

And I know that my heart will go on  . . .

Semuanya berawal dari sebuah tatapan aneh yang diterima oleh Jonghyun sore itu. Ia baru saja pulang membeli sebuket bunga mawar dari toko langganannya dan memutuskan mampir ke Central Park untuk menghabiskan sore yang kali ini tak begitu menarik.

Sebenarnya ada banyak hal yang memanjakan mata disana. Musisi jalanan yang memainkan lagu-lagu country, kedai-kedai kopi mulai dari yang terkenal seperti starbuck sampai kedai-kedai tak bernama, semua ada. Tapi semuanya tampak seperti hiasan belaka, ia tak menemukan sedikitpun hal menarik disana. Sampai pada akhirnya, kedua bola matanya yang berwarna hitam legam bersibrobrok dengan bola mata lain di depannya. Ia fikir bola mata yang baru saja ia lihat hanya sebuah tatapan sekilas ingin tahu mengapa ada seorang pria yang membawa sebuket mawar menghabiskan waktu sendirian di Central Park ini. Ia berusaha mengelak dan memandang ke arah lain, meski beberapa kali ia sempat mencuri lihat. Hanya seorang gadis berambut panjang dengan mantel coklat yang terlalu besar untuk dipakainya. Tapi ia bisa merasakan pandangan itu menatap tepat di kedua bola matanya. Seakan-akan gadis itu bisa menelaah fikirannya. Ada perasaan risih tapi juga ingin tahu menjalari seluruh nadi Jonghyun, tapi ia harus menahan itu.

Semuanya semakin terasa aneh ketika gadis itu berjalan menghampirinya dengan langkah anggun, seolah-olah ia melayang. Tanpa sedikitpun ucapan basa-basi atau setidaknya sapaan, gadis itu dengan mudahnya duduk di sebelah Jonghyun seakan-akan tiap orang bisa duduk disitu (meski sebenarnya itu benar). Jonghyun bisa melihat rambutnya yang panjang menari-nari diterpa angin.

“Bukankah ini sore yang indah ?” Perempuan itu menolehkan kepalanya dan bertanya dengan nada merdu bak beledu. Ia bersikap seolah baru saja bertemu dengan teman lamanya meski Jonghyun tak merasa begitu.

Pertanyaan perempuan hanya membuat Jonghyun membuang muka tanpa sedikitpun terlihat tertarik. Meski sebenarnya buku-buku jari Jonghyun mulai memutih karena terlalu keras ia mengepal. Ia harus berpura-pura tak tertarik, meski kepalanya teras gatal untuk menoleh.

“Kau tak menjawab pertanyaanku”, guamamannya terdengar sedih di tengah karamaian central park yang tiba-tiba berubah seperti dengungan di belakang sana. Suaranya memang masih selembut beledu meski ada nada kecewa yang terselip. Perkataannya mau tak mau membuat Jonghyun terpaksa menoleh untuk meperingatkan sesuatu bahwa mungkin perempuan itu salah mengenali orang. Karena Jonghyun merasa ia tak mengenal perempuan itu. Tapi saat matanya sekali lagi bersibobrok dengan tatapan teduh itu, ia salah mengira. Bola mata yang berwarna coklat mahoni, rambut yang panjang terurai lembut, dan sebaris gigi yang bersembunyi malu-malu, Jonghyun merasa tak asing dengan itu semua.  Tidak, ia bukan hanya merasa tak asing, ia mengenal semua itu. Hal-hal familiar yang menemani kenangan kecilnya yang sudah terlalu lama terkubur.

Busan, Korea Selatan

Jonghyun tak punya banyak kenangan tentang masa kecilnya. Tak banyak warna-warni yang menghiasi kehidupannya dulu. Tak ada pusat perbelanjaan, tak ada mobil-mobilan, semuanya hanya sebuah kesederhanaan yang dibungkus dalam sebuah kotak bernama kota pinggiran. Hanya itu yang ia ingat selain berapa banyaknya pukulan yang ia terima dari ayahnya bila ia terlalu lama mengantarkan barang ke pelabuhan.

Masa kecilnya bukanlah waktu yang berisi hal-hal menyenangkan. Ia hanya berteman dengan kerja keras dan kegigihan yang terkadang dibalut gertakan keras dari ayahnya. Tapi setidaknya ia masih mengingat sebuah padang rumput di pinggir pelabuhan tempat ia menceritakan segala hal yang baru saja ia lalui. Lebih tepatnya kepada seorang gadis yang selalu menunggunya disana setiap sore. Gadis yang lembut dan bermata teduh seperti bungan dandelion. Gadis bernama Hwang Miyoung.

Entah sejak kapan, Jonghyun tak pernah tahu. Bagimana bisa ia dekat dengan Miyoung atau bagaimana mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk membicarakan awan yang berarak-arak atau tentang pohon besar di ujung desa, Jonghyun tak pernah ingat. Yang jelas terpatri di kepalanya adalah ia sering menghabiskan waktu bersama Miyoung. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Saat Jonghyun berumur tiga belas tahun, ia masih sering kesana bersama Miyoung. Hanya saja saat itu ia membawa sepeda dan Miyoung membonceng di belakang karena kakinya terluka saat terperosok di parit. Jonghyun bisa merasakan kegugupan dan atmosfer canggung saat Miyoung memegang ujung bajunya dan bukannya memeluk pinggangnya. Suara derit besi sepeda yang mungkin umurnya lebih tua dari pemiliknya mengisi keheningan diantara mereka berdua. Namun keheningan itu tak bertahan lama saat tiba-tiba pekikan Miyoung yang melihat seekor landak kecil mengagetkan Jonghyun dan membuat mereka hampir jatuh terperosok. Mereka berdua tertawa di tengah perjalanan menuju ladang rumput di pinggir pelabuhan.

Jonghyun baru saja mencuci kakinya yang kotor di parit kecil dengan airnya yang  masih jernih tak jauh dari tempat mereka berdua duduk menghabiskan waktu. Kecanggungan yang tadi sempat terjadi kini telah mencair seperti es di tengah musim panas dengan berbagai aspek yang disinggung. Sampai suatu kali Miyoung berbicara dengan topik yang aneh.

“Jika besar nanti, aku ingin menjadi seorang dokter.” Kata Miyoung saat itu. Ia mendongakkan kepala seolah ingin memberitahukan keinginannya itu kepada langit juga.

“Kenapa ?” Jonghyun mengambil sebatang dandelion dan memutar-mutarnya tanpa sadar. “Apa enaknya menjadi seorang dokter ?”

Miyoung menyeringai lebar. “Karena tidak ada dokter disini. Jadi aku ingin menjadi dokter agar orang-orang tak perlu pergi ke kota untuk berobat.”

Jawabannya membuat Jonghyun terhenyak meski pada saat itu ia sedikit meragukan apakah cita-cita gadis kecil disampingnya ini akan terkabul. Tapi tak lama setelah itu Miyoung kembali menariknya ke dunia nyata dengan pertanyaan yang aneh.

“Kalau begitu, apa impianmu ?” tanya Miyoung saat itu. Wajahnya yang secerah langit di tengah hari yang indah dan berangin menatap Jonghyun dengan tatapan ingin tahu.

Tapi saat itu angin terlalu kencang bertiup dan Jonghyun tak begitu mendengar. Jadi ia bergumam tak jelas dan itu membuat Miyoung mendesah pelan tak sabar, “Apa impianmu Lee Jonghyun ?”

Pertanyaan itu jelas membuat Jonghyun terhenti sebentar dari kegiatannya memainkan batang dandelion yang sudah melemas. Selama ia lahir, tak ada seorang pun yang pernah bertanya tentang impiannya, tak terkecuali ayah dan ibunya. Mereka terlalu sibuk bekerja dan secara tak langsung ia sendiri bisa menduga bahwa ayahnya sudah memutuskan bahwa ia harus bekerja di pelabuhan jika besar nanti. Tapi gadis bermata teduh itu berbeda, ia menanyakan hal-hal yang bahkan ia sendiri tak pernah memikirkannya. “Aku . . . aku ingin jadi orang kaya agar bisa membangun rumah yang besar untuk ayah dan ibuku”, Jonghyun mengatakan itu dengan nada ragu-ragu yang kentara.

Jonghyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berusaha menghitung mundur kapan gadis itu akan tertawa saat mendengar ucapannya. Tapi ia salah, Miyoung ternyata tak tertawa seperti perkiraannya. Miyoung malah mendongak menatap langit dan tersenyum menampilkan deretan giginya yang sebesar biji ketimun terangkai rapi di rahangnya yang agak besar. Ujung kakinya bergerak-gerak lembut seirama hatinya, “Kalau begitu, aku akan ikut denganmu.”

Perkataanya jelas membuat Jonghyun melongo tak mengerti dengan kening yang berkerut dalam. Tapi saat itu Miyoung hanya tertawa diiringi suara air laut yang terdengar samar-samar.

 

Central Park, New York.

“Sepertinya kau sudah jadi orang kaya,” komentar perempuan itu membangunkan Jonghyun dari lamunannya. Jelas, ia sudah memandangi sepatu kulit Jonghyun dan mendapati hal menarik disana seperti tulisan Salvatore Ferragamo yang  dibordir indah dengan benang mahal. Ia benar-benar berniat menggoda Jonghyun tentang masa kecilnya saat ini.

Jonghyun menyeringai lebar dan berkata, “Bisa membangun rumah untuk kedua orangtuaku dan bekerja di salah satu perusahaan data analisis terkenal dengan gaji yang terdiri dari sembilan digit tiap bulan,” Ia menarik nafas dan menoleh, “apakah itu sudah bisa disebut orang kaya ?”

Perempuan itu tertawa renyah masih dengan suaranya yang jernih dan nyaring seperti air mengalir. Kedua matanya bahkan nyaris tenggelam diantara pipi-pipinya. Matanya tak sipit dan lagipula pipinya juga tak besar, hanya saat ia tertawa seakan-akan semua anggota tubuhnya ikut tertawa dan itu terjadi secara langsung. Ia memang ditakdirkan untuk terus menebar tawa dan senyum indah. Tapi hal itu tak membuat Jonghyun lantas melupakan bahwa sedari tadi perempuan itu belum menjawab pertanyaannya. “Hey”, tegur Jonghyun saat melihat perempuan itu malah menggerak-gerakan kakinya, menikmati musik-musik yang terdengar dari sudut taman.

Kakinya berhenti bergerak dan menatap Jonghyun dengan kerlingan matanya yang indah. “Hanya kau sendiri yang bisa menilai apakah kau kaya atau tidak”, timpalnya diplomatis. Jawabannya malah membuat Jonghyun menggerutu kesal dan kembali tertarik menuju kenangan lainnya.

Busan, Korea Selatan

Padang rumput itu seakan sudah menjadi markas rahasianya bersama Miyoung. Saat mereka berdua lulus bersama, saat Jonghyun diterima pekerjaan di sebuah kantor di Seoul, semuanya terlewati disana. Bahkan sampai ia bekerja pun, setiap kali ia mendapatkan jatah libur, ia akan pulang dan pergi menemui Miyoung terlebih dulu di padang rumput itu.

Jonghyun sendiri tak pernah mengerti, kenapa ia tak bisa jauh-jauh dari padang rumputnya itu. Apakah padang rumput itu punya daya magis ? Ia sendiri juga tak tahu. Dia jarang sekali merindukan rumahnya, tapi setiap kali berada di Seoul, kepalanya seakan selalu penuh dengan bayangan padang rumpuntnya yang hangat saat senja, bunga dandelion yang menari tertiup angin, atau bau khas hujan yang terkena rumput.

Namun bukan hanya padang rumput itu yang menunggu Jonghyun. Ada gadis kecil polos bermata teduh yang kini tumbuh dewasa dengan segala keanggunannya yang alami berada disana setiap kali Jonghyun datang. Sudah sering Jonghyun mendengar lamaran dari banyak pria yang ditujukan pada Miyoung. Mulai dari laki-laki tetangga di depan rumahnya, sampai laki-laki kaya dengan mobilnya yang mewah dari Seoul. Tapi semuanya pulang dengan wajah ditekuk kecewa. Sebanyak apapun laki-laki yang datang, Miyoung akan selalu berkata, “Aku sangat berterimakasih dengan lamaranmu. Tapi aku belum siap untuk membangun komitmen sakral seperti menikah.” Begitu jawabanya tiap kali mereka datang dengan tujuan yang sama.

Banyak yang Jonghyun tak mengerti tentang Miyoung. Tentang bagiamana ia menutup hatinya untuk semua laki-laki, tentang bagaimana ia ingin sekali menjadi dokter, dan tentang kisah cintanya. Selama Jonghyun hidup, sekalipun dia belum pernah mendengar Miyoung berpacaran. Setidaknya berkencan pun belum pernah. Dan itu menjadi pertanyaan besar  di kepala Jonghyun beberapa tahun terkahir ini. Apa yang ditunggu Miyoung sebenarnya ?

Ada sensasi lega yang aneh setiap kali Jonghyun ingat bahwa tak ada laki-laki lain yang dekat dengan Miyoung kecuali dirinya. Semenjak kecil hingga dewasa, Miyoung selalu bersama dirinya. Hanya Miyoung yang mengerti dengan impian Jonghyun. Miyoung juga selalu ingat bahwa Jonghyun suka sekali dengan kue beras, atau bagaimana wajah Jonghyun yang takut dengan lebah. Miyoung tahu itu.

Hari itu Jonghyun kembali pulang ke padang rumputnya. Dia tak perlu memberitahu Miyoung dengan kedatangannya. Miyoung seakan punya sebuah radar khusus yang hanya akan berbunyi jika Jonghyun ada di padang rumputnya. Jadi dia tahu Miyoung pasti akan kesana juga. Selama setengah jam, Jonghyun hanya bermain-main dengan bunga dandelion yang tertiup angin sampai akhirnya dia mendengar suara gemeletuk roda sepeda yang berjalan diatas tanah berbatu. Jonghyun tak bisa menahan diri untuk tak menolehkan kepalanya dan melihat seorang perempuan dewasa dengan jas dokter putih yang berlari mendekat. Dadanya naik turun dengan beberapa peluh menghiasi keningnya. Jonghyun bisa membayangkan bagaimana perempuan itu mengendarai sepeda secepat mungkin.

Rambutnya yang kali ini dikepang dua bergerak-gerak seirama dengan usahanya yang berusaha mengatur nafas. Ia nampak kepayahan dan Jonghyun benar-benar merasa bersalah. “Ada seorang pasien yang mengalami kecelakaan kecil yang membuatnya terluka. Jadi aku harus menjahitnya lebih dulu”, ujarnya menjelaskan.

Jonghyun hanya menggerakkan bahunya sekilas, tak masalah. Tangannya menepuk-nepuk rumput disebelahnya sebagi isyarat agar Miyoung duduk disana. “Apa kau mau minum ?”, tanyanya sembari mengeluarkan sebotol air putih dari dalam tas kerjanya dengan raut wajah khawatir. Tapi Miyoung hanya menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, sungguh.”

Jonghyun mendengar perempuan disebelahnya itu menarik nafas panjang dan dalam sebelum akhirnya dia bertanya, “Apa kau belum pulang ke rumah ?” ucapnya sembari melirik pakaian yang masih melekat di tubuh Jonghyun.

Jonghyun melirik jas hitamnya yang bergerak terkena angin dan tertawa, “Bukankah kau sudah hafal dengan kebiasaanku ?”, balasnya bergurau. Ia bisa melihat wajah Miyoung bersemu merah seperti senja saat ini.

Mereka berdua terdiam seolah sedang merasakan apakah angin yang bertiup hari ini sama dengan yang kemarin. Hanya suara gemiricik air di parit dan gesekan rumput yang terdengar. Jonghyun berkali-kali melirik Miyoung yang ada disampingnya dengan ekspresi aneh. Namun Miyoung seakan masih berada di dalam keasyikannya memejamkan mata dan bersenandung pelan. Sampai akhirnya Jonghyun tak tahan dan memecah kesunyian diantara mereka berdua dengan pernyataan lugas. “Aku diterima di sebuah perusahaan data analisis terkenal.”

Ucapannya menarik Miyoung kembali kesana. Ia membuka mata dan menolehkan kepala dengan ekspresi kelewat antusias. “Benarkah ?”, pekik Miyoung gembira. “Perusahaan apa ?”

Jonghyun menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab. “Perusahaan Nielsen,” ia terdiam sejenak seolah meyakinkan dirinya sendiri, “di New York.”

Perkataannya jelas mengejutkan Miyoung. Bola matanya yang tadi sempat berbinar-binar bagaikan wanita yang melihat berlian tiba-tiba menggelap seakan-akan berlian yang ia temukan adalah palsu. Ia terdiam cukup lama barangkali kekagetannya tentang berita itu belum habis. Sampai akhirnya ia tertawa sengau dengan separuh nyawa yang sudah kembali. “Wow, selamat !”, ia mengulurkan tangannya tanpa ragu. Benar-benar aktris yang baik.

Namun Jonghyun tak sedikitpun berusaha membalas jabat tangan Miyoung ataupun ikut antusias seperti kebanyakan orang. Dia malah menekukkan lututnya dan menumpukan kepalanya disana. Raut wajahnya berubah keruh dan gelap. Mungkin bisa segelap badai sandy yang terkenal itu. Ia bisa merasakan Miyoung yang mencolek lengannya dan bertanya, “Hey, kenapa ?” Kala itu wajah Miyoung berubah khawatir dan bingung.

“Kau tak akan mengerti”, sahut Jonghyun ketus. Ia masih meneruskan kegiatannya menumpukan kepala dengan wajah keruh.

Miyoung mendengus keras dan memutar bola matanya tak percaya, “Aku sudah bersama denganmu lebih dari lima belas tahun.” Jeda yang ia ciptakan untuk menarik nafas tak bertahan lama, “Jadi apa ada hal tentangmu yang tak pernah kumengerti ?”

Jonghyun menggigit bibir bawahnya dan tak berniat membantah meski dia masih menolak untuk menatap Miyoung. Entah apa yang ia takutkan. Atau mungkin ada keraguan yang membebani hatinya sehingga membuatnya seperti itu.

“Apa yang kau takutkan Jonghyun ?”, desah Miyoung kehabisan akal.

Tapi Jonghyun sendiri tak tahu apa yang membuatnya kehilangan semangat seperti ini. Ini berita bagus dan dia malah seperti kain yang teronggok menyedihkan. Kepalanya menggeleng samar seakan meminta pertolongan, apa yang salah dengan dirinya.

Tapi segala perasaan resah dan ketakutan di sudut hatinya sirna kala Miyoung mengelus-elus bahunya, seolah menenangkan. “Aku tahu kau kau tak akan pulang dalam waktu lama,” ia tersenyum lembut, “dan aku masih tetap disini, di padang rumput kita.”

Jonghyun menolehkan kepalanya. “Maksudmu ?”

Tiba-tiba ada senyum jail dan seraut ekspresi pura-pura galak muncul di wajah Miyoung. “Jangan pernah berani untuk pulang sebelum kau jadi orang kaya !”, tukasnya dengan kedipan yang menggoda. Ia mendongakkan kepalanya mencoba melihat awan yang bergerak melambat. “Lagipula aku masih harus menjalankan tugas pengabdian disini.”

Kali ini ada secercah senyum di bibir Jonghyun.  Sekali lagi mencoba memastikan, “Kau janji ?”

Miyoung mengangguk mantap meyakinkan. “Atau kau boleh mengambil darahku sebagai sumpah kalau kau mau”, timpalnya bergurau.

Jonghyun tertawa keras. Ia sendiri tak sadar sudah berapa minggu ia tak merasa seringan ini. Batu yang sedari tadi ia bawa kini sudah lepas dengan sendirinya. Sensasi lega yang menyenangkan kembali menghantam hatinya.

Dan kini dia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sedari dulu terus menari-nari di kepalanya. Kenapa ia selalu ingin berada disini ? Bukan padang rumput ini yang magis, tapi perempuan itu. Perempuan bermata teduh yang selalu menjadi cerminnya, yang selalu ada untuknya. Perempuan bernama Hwang Miyoung.

Dan itu berarti juga pertanda bahwa dia tak perlu kemana-mana untuk mencari segelas air untuk menemani hidupnya. Karena disini, sudah ada anggur putih yang sudah berjanji untuk menunggunya pulang. Ya, dia tak perlu khawatir.

Sepertinya ada satu hal lagi yang harus Jonghyun sadari. Tubuhnya terkadang bisa bergerak sendiri tanpa ia perintah. Sama dengan saat ini, tiba-tiba entah kenapa ada senyum lega yang menghiasi bibirnya dan tangannya memeluk Miyoung yang ada disebelahnya dengan erat. Pelukan pertama selama lima belas tahun terakhir.

 

Central Park, New York.

Musim gugur sudah datang selama lebih dari dua minggu. Daun-daun maple yang berguguran bagaikan karpet alam yang mengagumkan. Terkadang terdengar suara cicit burung merpati yang turun ke taman menunggu orang-orang menaburkan biji jagung kering ke tanah. Jonghyun mendapati dirinya menatap perempuan bermata teduh itu.

“Impianmu yang dulu pernah kau ucapkan sekarang sudah tercapai,” perempuan itu  memiringkan kepalanya, “jadi bagaimana dengan impianmu sekarang ?”

Jonghyun tersenyum meski di dalam hati ia mengumpat kesal betapa perempuan di sebelahnya ini adalah orang paling ingin tahu yang pernah ia temui. Tapi sebanyak apapun perempuan itu bertanya, Jonghyun seolah terkena mantra yang membuatnya bertekuk lutut dan akan melakukan apapun yang perempuan itu pinta. Dan inilah jawabannya. “Aku ingin hidup bahagia dengan orang yang kucintai.”

Perempuan itu tersenyum lebar sekali. Sampai-sampai seluruh tubuhnya pun ikut tersenyum. Tiba-tiba  bola matanya bersibobrok dengan jam tangannya yang memnatulkan sinar mentari senja. “Sudah saatnya aku pulang.” Ia berdiri merapikan sweater dan celana panjangnya yang terlihat hangat. “Kuharap impianmu tadi tercapai”, gumamnya dengan nada mengejek yang kentara.

“Sudah tercapai. Aku yakin”, balas Jonghyun percaya diri. Tapi perempuan itu hanya memutar bola matanya dan berjalan mundur ke belakang. Ia semakin jauh dengan Jonghyun yang masih duduk di bangku taman sembari melambaikan tangannya pelan. Namun bayangan itu semakin menjauh seiring dengan semakin pelannya lambaian tangan Jonghyun.

Dan sekarang Jonghyun mendapati dirinya kembali di dalam kesendirian. Tak ada lagi perempuan bermata teduh nan menjengkelkan yang sempat duduk di sampingnya itu. Hanya buket bunga mawarnya yang ada disana. Tak ada tanda bahwa kurang dari satu menit yang lalu, ada seseorang duduk disana. Semuanya hilang bak tersapu angin.

Namun semuanya itu tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba sebuah suara menarik Jonghyun kembali dari lamunannya.

“Jonghyun !”

Ia menoleh begitu mendengar nama suaranya dipanggil, seolah semuanya terjadi secara reflek. Jonghyun mendapati dirinya tersenyum lega. Perempuan yang wajahnya sama persis dengan perempuan yang baru saja duduk disampingnya itu berlari mendekat. Mereka tampak serupa, mata, bibir, rambut, semua bagian tubuhnya sama persis. Bahkan mata teduhnya pun mirip.  Yang berbeda adalah dia nyata. Wanita yang memanggil Jonghyun, nyata adanya.

“Aku mencarimu kemana-mana”, serunya menggerutu kesal. Perempuan itu nampak sebal karena sejak setengah jam yang lalu mencari Jonghyun. Jonghyun menatap geli syal pink yang dipakai perempuan itu sudah tak berbentuk lagi. Sisinya ada yang mejuntai kesana kemari. Bahkan rambut panjangnya pun sudah tak lagi rapi.

“Bukankah biasanya kau bisa menemukanku dengan mudah ?”, goda Jonghyun sembari menyuruh perempuan itu mendekat.

“Kalau sedang lapar, aku selalu mematikan radarku”, jawab perempuan itu asal. Ia menarik tangan Jonghyun untuk berdiri. “Ayo pulang. Aku sudah membuatkan sup ayam kesukaanmu.” Ucapannya bagaikan sihir yang tak mampu Jonghyun tolak. Dan lagipula Jonghyun tak berencana untuk menolaknya.

Masih dengan menyeret Jonghyun yang berusaha mengikuti kecepatan berjalannya, tangan perempuan itu memeluk lengan Jonghyun erat dan hangat. “Tumben sekali kau membeli bunga, apa hari ini hari spesial ?” celotehnya sembari melirik sebuket mawar yang dibawa Jonghyun.

“Ini untukmu”, balas Jonghyun sembari menyerahkan buket mawar itu. Tapi perempuan yang memeluk lengannya itu masih menatap tak mengerti. Seolah Jonghyun memberikan bunga mawar bukanlah hal yang lazim dilakukan. “Ini hadiah ulangtahun pernikahan kita yang kesepuluh, Miyoung”,  ujar Jonghyun gemas.

“Oh”, perempuan yang tadi dipanggil Miyoung oleh Jonghyun itu memekik pelan. Ia meringis meminta maaf dan semakin mengeratkan pelukannya. “Terimakasih untuk bunganya”, ucapnya cepat. Dan tiba-tiba kecupan kilas itu mendarat di pipi Jonghyun. Tapi saat Jonghyun menoleh masih dengan segala keterkejutannya, Miyoung malah melihat kearah lain berusaha menyembunyikan rona pipinya yang terlihat jelas. Itu membuat Jonghyun terkekeh dan balas mencium pipinya.

“Keluarga Crosswood meminta kita untuk berkunjung ke rumahnya akhir minggu. Apa kau bisa ?” tanya Miyoung berusaha mengalihkan pembicaraan.

Jonghyun menoleh dan menatap tepat di bola mata Miyoung yang kecoklatan bak kayu mahoni. “Apapun itu asalkan bersamamu aku tak peduli lagi.” Jawabannya lugas penuh ketulusan.

Dan kali ini tak hanya pipi Miyoung yang memerah, bahkan seluruh wajahnya pun memerah. Tubuhnya tiba-tiba berubah salah tingkah dan malu. Ia mencubit pelan pinggang Jonghyun dan menggerutu, “Sudah tua saja masih genit.”

Tapi di dalam hati Miyoung, ia tahu, ini bukan kata-kata gombal atau rayuan dari laki-laki disebelahnya. Kata-kata itu tulus dari dalam hati dan ia tak pernah meragukannya. Hanya saja meski sudah sepuluh tahun mereka terikat dalam sebuah pernikahan, ia masih saja merasa malu dan salah tingkah jika Jonghyun mulai seperti itu.

“Aku mencintaimu”, ucap Jonghyun cepat. Tanpa berusaha memberikan waktu untuk Miyoung merespon ia sudah mengecup bibir mungil itu sekilas.

Sepuluh tahun yang lalu Jonghyun sadar, alasan mengapa Miyoung menolak semua laki-laki yang melamarnya. Bukan apa yang ditunggu Miyoung, tapi siapa. Ya, Miyoung menunggu Jonghyun untuk melabuhkan hatinya. Karena hanya Jonghyun satu-satunya pria yang tidak akan pernah Miyoung tolak.

Karena seperti janji yang pernah mereka ucapkan sepuluh tahun yang lalu, seperti sumpah yang saling melingkar di jari manis mereka berdua, Lee Jonghyun dan Hwang Miyoung akan selalu bersama. Tak terpisahkan.

THE END

Hai semuanya ! ! Ini adalah ff remake dari vignette saya. Lalu pairingnya saya ubah, trus ceritanya saya ganti jadi oneshoot. Kalau masih sudi dibaca di komen silahkan. Hehehehe😀

Pai~pai

 

 

 

24 thoughts on “[[FF EVENT – JONGHYUN’S BIRTHDAY]] Autumn Bench

  1. ASDFGHJKL ini bagus banget. sweet. dan ga terduga. suka banget sama jalan ceritanya. penulisannya juga oke. the best!

  2. aku suka banget karena beberapa alasan :
    1. segala macam metaforanya bagus, gak bisa nyebutin satu-satu, tapi menurutku indah (walaupun terlalu banyak penggambaran tentang minyoung dan agak minim jonghyun tapi aku udah bisa kok bayangin gimana cakepnya jonghyun :D)
    2. Settingnya di New York, dan Busan, dan aku bisa bayangin padang rumputnya (walaupun agak bingung kok ada parit di padang rumput hehhe, tapi it’s ok)
    3. Terus sepanjang cerita gak menggunakan istilah Korea, karena mereka orang Korea kita kan udah mengasumsikan mereka ngomong pake bahasa Korea, dan aku suka perempuan ditulis perempuan, bukan yeoja kayak yang sering aku baca di FF lain.
    4.Tokohnya terasa real buat aku karena disini mereka berdua hanya orang biasa, bukan artis terkenal yang naksir sama orang biasa atau apa, dan juga perasaan mereka pada satu sama lain.
    5. Dan aku juga suka saat Jonghyun milih kerjaannya di New York, dan Minyoung pun ok dengan itu.

    pokoknya pengen komen panjang2 soalnya aku suka ceritanya.
    Tapi akhirnya agak bikin bingung dengan flasbacknya tapi tetep oke thor.

    hanya satu yang agak kurang pas buat aku, mereka kan udah nikah selama 10 tahun, tapi Minyoung masih malu-malu gitu. Kalo baru beberapa bulan sih mending juga, apalagi cuma ciuaman pipi. hehhe.. itu aja sih. Maaf ya kalo kurang berkenan sama kritikannya. Tapi bagus! Aku suka😀

    • Karena komennya panjang, jadi saya jawab panjang juga hahaha😀
      1. Kenapa lebih banyak penggambaran ke Miyoung ?
      Karena tokoh Miyoung disini memegang peran penting di dalam kehidupan Jonghyun. Dia yang menjadi cermin dan semangat seorang Lee Jonghyun.
      2. Parit disini bukan parit yang ada disawah. Biasanya di padang rumput ada sebuah aliran air kecil yang airnya masih jernih. Nah di beberapa tempat (seperti di inggris) hal itu juga disebut parit.
      3. Kenapa saya ga pake bahasa Korea ?
      Ini keegoisan saya sendiri sebenernya. Karena saya pengen ff ini bisa dibaca meski buka seorang k-poper sekalipun hehehe. Dan saya juga ga gitu suka menggunakan kata-kata yeoja, namja, atau yang lain sebagainya. Kurang umum kalau menurut saya.
      4. Terimakasih dengan pujiannya. Saya banyak membaca ff dengan pemainnya seorang artis terkenal atau orang yang sangat kaya. Kalau menurut saya, hal itu lama-lama bikin bosen. Hehehehe
      5. Setiap flashback saya pasti nulis nama tempatnya sebelum ceritanya di mulai. Jadi bagian mana yang bingung ?
      6. Miyoung kan belum pernha kencan apalagi pacaran, jadi saya bikin karakternya sebagai wanita dewasa yang polos dan naif.
      Maaf kalau cerita saya masih banyak kekurangan disana-sini
      Dan makasih buat komen dan krtiknya, itu sangat membantu😀 ^ ^

      • maksudnya bukan bingung di setiap flashbacknya, hanya flashback akhir saat ada perempuan yang nyapa Jonghyun itu, ternyata cuma banyangan dia aja dan yang sebenernya dia udah nikah sama Minyoung. hehe… tapi gak terlalu bingung juga sih pas udah nyampe ending😀
        Jujur sebenernya aku bukan kpoper, aku cuma suka CN Blue terutama Jonghyun, tapi aku lumayan sering juga baca FF. Dan yang sering aku temuin, karakter di FF tuh semuanya serba perfect, bikin agak capek bacanya, kadang aku dari paragraf awal aja udah males. Tapi yang ini aku dengan tabah baca sampai akhir dan gak sabar pengen ngasih komen panjang-panjang hehe. Terutama pas bagian-bagian awal baca nama Central Park, dan mikir wah ini pasti di New York, dan ternyata beneran.
        Pokoknya bagus deh😀
        Oya, btw tentang parit di padang rumput, setelah aku browsing emang beneran, hehhe… jadi dapat pengetahuan baru. Thank’s ya. Dan salam kenal🙂

      • Yep betul banget.
        Sebenernya inti dari cerita ini adalah kenangan Jonghyun dulu saat ia masih di Korea bersama Miyoung. Tapi kalau saya bikin flashback biasa kok kesannya datar ya, semua ff pasti kalau mau ngingat masa lalu pake flashback. Jadi akhirnya saya pake bayangan sebagai cara untuk Jonghyun mengingat masa lalunya.
        Maaf kalau ff yg ini masih absurd dan gaje banget hehehehe😀 masih belajar soalnya.
        Terimakasih udah mau tabah buat baca ff yang absurd ini hahaha😀
        Sama-sama kita saling berbagai hal baru😉
        Salam kenal juga ^ ^

  3. Mau tanya thor,apa ff ini pernah dipublis sebelumnya soalnya kaya pernah baca.tpi bagus ko thor aku suka jalan ceritanya,ditunggu karya selanjutnya y thor

  4. ihhhhh salah tebak gitu hihi
    dikira tuh ketemu di amerika setelah bertahun2 ga ketemu
    aihhhhh taunya udh 10th nikah. belum pny anak itu? hehe
    ahhh sweet sih mereka takdir gitu dr kecil soulmate dan cinta selamanya

  5. Pertama, saya suka banget sama coupke pairingnya (soalnya mereka member favoritnya saya, hehe)
    Kedua, manis banget… Gak perlu banyak kata buat ngungkapin perasaan tapi nyampe, oke banget dah thor😀
    *Saya sempet salah kirain JH and MY nya janjian ketemuan gitu setelah lama gak ketemu dan bunga sebegai codenya, eh ternyata ….

  6. yaampuuunnn ini cerita kenapa bagusssss banget sih :’)
    semangat author bikin ceritaynag baru lagiiiii (ง`▽´)ง

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s