Conscription

wamil jongyoon

 

Title:                Conscription

Author:            Flazia

Rating:            PG-15

Genre:             Romance

Length:            One shoot

Main Cast:       Lee Jong-Hyun CNBLUE || Im Yoon-Ah SNSD

Other Cast:      Jung Yong-Hwa CNBLUE || Kang Min-Hyuk CNBLUE || Lee Jung-Shin CNBLUE || Kwon Yuri SNSD || Choi Soo-Young SNSD

Disclaimer:      Judulnya asing yaa?hehe. Conscription biasa disebut military service, atau lebih sering lagi dibilang wamil (wajib militer). Wamil wajib untuk semua pria di Seoul dan kegiatan ini dilakukan selama dua tahun. Nah, berdasarkan hukum negara tersebut (alah), aku jadi kepikiran gimana jadinya kalau Jong-Hyun ikut wamil dan bagaimana dengan respon Yoona? Hehe. Jadi, cerita ini asli imajinasiku sendiri.

Note:               Aaaaaa, maaf ya kalau aneh. Hehe >_<

Cerita ini setting waktunya tahun 2015 ya, sesuai kayak di cover J.Cerita ini hanya fiktif belaka (kecuali fakta tentang Running Man, rentang usia menikah yang diinginkan Yoona.hehe), hak cipta hanya milik Allah Yang Maha Esa. Makasih ya buat semua orang yang nyempetin waktu buat baca FF ini. Gomawooo. Happy Reading!

____________________________________

Lee Jong-Hyun

Siang ini Seoul panas sekali. Rasanya aku ingin kembali ke dorm lalu bermeditasi di bawah AC, tapi kalau dipikir-pikir lagi, berada di sini lebih menyenangkan, di sini bersama Im Yoona.

“Ahhh, dinginnyaaa,”kata Yoona setelah meneguk sebotol kecil yoghurt dingin.

Aku juga meneguk yoghurt-ku dan rasanya memang melegakan. Untung ketika kami ke supermarket tadi kami membeli ini, benar-benar penyelamat di suhu tinggi.

“Aku jadi teringat Running Man,”kataku lalu melempar botol plastik yoghurt ke dalam tempat sampah dengan tepat sasaran.

“Hmm iya, episode berapa sih, Jongie? 127 ya?”tanya Yoona.

Aku mengangguk. Aku terkesan Yoona ingat, aku saja sudah agak lupa.

“Yoona… Ngomong-ngomong tentang Running Man…”gumamku.

Ah, tapi apa hubungannya dengan Running Man? Pembicaraan sebelumnya kan kubuat hanya untuk mengalihkan perhatian sementara.

“Ya?”tanya Yoona dengan wajah polosnya.

Aduh, wajah polosnya itu… aku semakin tidak tega untuk memberitahunya.

“Ah, sebenarnya ini tidak ada hubungannya… tapi aku harus bilang padamu sebelum orang lain kuberitahu,”kataku.

“Ada apa sih? Kau habis mencuri makanannya Jung-Shin lagi ya?”

Aku terkekeh, takjub dia bahkan juga masih mengingat kebiasaanku dulu,”Bukan, Yoona. Itu kan dulu, sekarang tidak lagi.”

“Jadi ada apa?”

Oke, maaf Yoona, tapi aku benar-benar harus melakukan ini.

“Hmm… Jadi… Yoona, tahun ini, aku akan pergi wamil,”kataku hati-hati.

Im Yoon-Ah

“Tidak bisakah kalian dulu yang pergi wamil?”pintaku pada Lee Jung-Shin dan Kang Min-Hyuk.

“Sebenarnya kami sudah membahas ini sejak lama, Nuna. Setelah Yong-Hwa hyung, giliran Jong-Hyun hyung. Karena Yong-Hwa hyung pulang setelah kalian baru saja bertunangan, aku sudah menawarkan diri untuk pergi wamil duluan,”kata Min-Hyuk.

“Iya, aku bahkan rela rambutku dipotong lagi,”kata Jung-Shin, mengelus rambutnya yang mulai memanjang lagi seperti saat mereka debut dulu.

“Shin, kalau kau ikut wamil sekarang, memangnya kau sudah siap jadi tiang bendera upacara cadangan?”canda Min-Hyuk.

Mereka berdua tertawa, tapi aku tidak.

Min-Hyuk berhenti tertawa lalu bedehem,”Ehemm, maaf Nuna kalau tidak lucu, tadi—“

“Iya, Nuna. Min-Hyukie sebenarnya tidak lucu, tapi setidaknya dia sudah berusaha,”potong Jung-Shin.

“Shin, kalau kau menghinaku, kau akan kukirim ke club drum band Universitas Seoul agar dijadikan tongkat mayoret cadangan,”kata Min-Hyuk, disambung dengan gelak tawa Jung-Shin.

Dan aku masih tidak tertawa. Sekarang ini beban pikiranku hanyalah masalah wamil, sehingga rasanya tertawa saja aku masih belum sanggup.

Jung-Shin berhenti tertawa lalu menyikut Min-Hyuk,”Sudah, kasihan, Nuna. Lagipula gigiku sudah kering karena tertawa, Hyukie.”

Min-Hyuk sudah akan tertawa lagi, tapi segera menguasai diri,”Maaf, Nuna. Hmm jadi sampai di mana kita tadi? Oh ya, jadi Jong-Hyun hyung benar-benar menolak tawaranku tentang wamil ini, dia justru semakin yakin untuk pergi sekarang.”

“Tapi kenapa?”tanyaku sedih.

“Tidak tahu. Hyung selalu bilang anak kecil tidak boleh ikut campur. Padahal umurku kan sudah 24 tahun!”kata Min-Hyuk.

“Iya, aku juga dibilang anak kecil dan tidak boleh ikut campur. Padahal rambutku kan lebih panjang,”sambung Jung-Shin.

“Shin, rambut tidak ada hubungannya dengan ikut campur,”kata Min-Hyuk dengan wajah datar.

Jung-Shin menepuk dahinya,”Ah lupa, maaf.”

“Ah Yoong, kau ada di sini?”

Aku menoleh dan Yong-Hwa oppa masuk membawa dua gitar. Ah, kalau Jung-Shin dan Min-Hyuk tidak diberitahu Jong-Hyun karena dianggap masih kecil, pasti Yong-Hwa oppa bisa membantuku.

“Yong oppa, aku ingin bertanya. Kenapa Jong-Hyun harus berangkat wamil tahun ini?”tanyaku.

Yong oppa meletakkan kedua gitar itu di meja lalu tersenyum padaku.

“Lebih baik kau tanyakan sendiri, Yoong,”katanya.

“Tapi Yong oppa—“

“Jong-Hyun lebih tahu apa yang dia lakukan sekarang, Yoong…”

“Baiklah!”teriak Jung-Shin tiba-tiba sambil menepukkan tangan satu kali,”Kembali dalam acara talkshow Yong and Yoong! Min-Hyukie, apa tema kita kali ini?”

Hah? Kenapa tiba-tiba Jung-Shin berlagak seperti MC acara talkshow begini?

“Ya, Jung-Shinnie! Malam ini tema kita adalah wamil! Pemirsa di studio dan di rumah pasti sudah tahu apa itu wam—HYUUUUNG!”

Kalimat Min-Hyuk terpotong saat sebuah jaket hitam dilempar ke arah wajahnya.

“Apa sih yang kalian lakukan?”tanya Jong-Hyun lalu tertawa.

“Aku pamit dulu, Yong oppa, sebentar lagi SNSD tampil. Terima kasih Min-Hyuk dan Jung-Shin,”ucapku, tersenyum ramah lalu berdiri dan keluar dari ruang istirahat CNBLUE.

“Yoona!”aku mendengar Jong-Hyun mengejarku dan tahu-tahu dia sudah ada di hadapanku, menghalangi jalanku.

“Kau masih marah?”tanyanya.

Uuuh, memangnya ekspresi wajah begini adalah ekspresi orang yang sedang menang lotere?

“Kenapa sih kau harus pergi wamil?”tanyaku kesal.

Sebelum Jong-Hyun sempat menjawab, aku mulai bicara lagi.

“Kita baru saja bertunangan!”seruku sambil mengangkat tangan dan kuperlihatkan cincin yang tersemat di jariku—cincin serupa juga tersemat di jari Jong-Hyun sekarang,”Atau jangan-jangan kau sudah lupa? Kenapa sekarang kau bilang akan pergi? Kenapa tiba-tiba begini? Lalu aku bagaimana?”

“Kita sudah membahas ini, Yoona. Kau akan tetap melakukan show,pemotretan atau syuting seperti biasa. Memangnya kau ingin ikut wamil denganku?”

“Iya! Daripada tidak bisa bertemu denganmu, lebih baik aku ikut saja!”

“Ck kau ini. Sekali-kali berlagaklah seperti perempuan, Yoona,”katanya lembut, menirukan ucapan tutor-ku di SM Entertaiment dulu.

“Ih, kau ini! Kau masih bisa bicara seperti itu? Kau pikir ini bukan masalah besar ya? Hah?”

“Be-Besar? Astaga, Yoona… Kalaupun ini masalah, ini adalah kewajibanku.”

“Jadi menurutmu aku bukan kewajibanmu? Aku bukan siapa-siapa yang tidak perlu masuk prioritas?”

 

 

“Ckckck, sudahlah Yoona. Sampai kapan kau melamun di depan lemari?”Yuri unni mengagetkanku.

Ah, aku baru sadar sejak tadi lemari besarku terbuka lebar dan aku berdiri di depannya dengan tatapan kosong.

“Hanya karena Jong-Hyun akan wajib militer, kau jadi sering melamun begini. Dia kan tidak pergi selamanya, dua tahun dia juga akan pulang,”kata Yuri unni menenangkan.

Ya Tuhan, dua jam tidak dapat SMS dari Jong-Hyun saja aku sudah mulai kebingungan, kalau dua tahun, aku…

“Tapi unni… Kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk wamil? Maksudku, kami baru saja tiga bulan bertunangan dan tiba-tiba dia sudah memutuskan untuk wamil,”keluhku sedih.

Yuri unni menggeleng heran,”Kenapa kau jadi makin posesif setelah kalian bertunangan sih? Jangan-jangan kalau kalian sudah menikah nanti, kau bahkan melarang Jong-Hyun untuk keluar kamar?”

Aku menghela nafas panjang lalu duduk di tepi tempat tidur. Bukannya posesif, tapi seharusnya jangan secepat ini. Aku masih belum siap.

“Bagaimana… Bagaimana dengan pers? Akhir-akhir ini mereka gencar menyelamati pertunangan kami dan sebentar lagi berita akan lebih heboh dengan keputusan Jong-Hyun untuk wamil… Pasti akan ada banyak gosip, pasti akan ada banyak—“

“Yoona, Jong-Hyun tahu apa yang dia lakukan. Laki-laki selalu punya alasan yang lebih logis dari apa yang kita sangka,”potong Yuri unni.

Dia mendekatiku dan duduk di sampingku.

“Seo-Hyun bahkan lebih kuat darimu, Rusa. Saat Yong-Hwa pergi wamil, anak itu tetap tegar lho,”kata Yuri unni.

Aku tertawa dalam hati. Ha! Yuri unni saja yang tidak tahu. Aku ingat ketika aku memergoki Seo-Hyun menangis di balkon dorm tengah malam. Dia benar-benar menangis karena Yong-Hwa oppa akan pergi wamil. Saat aku menenangkan Seo-Hyun waktu itu, dia memohon padaku untuk merahasiakan tangisannya di malam itu.

“Sebenarnya lebih penting wajib militer atau wajib mencintaiku sih, Unni?”tanyaku tiba-tiba.

Yuri unni tertawa lalu menjulurkan lidahnya padaku,”Dasar norak!”

Aaaaaa, habisnya… Jong-Hyun keterlaluan sekali! Aku tidak mau dia pergi! Aku tidak mau dia ikut wamil!

“Hmm lalu siang ini kau akan ke mana?”tanya Yuri unni, tatapannya tertuju pada lemari besarku yang masih terbuka.

“Makan siang di rumah orangtuanya Jong-Hyun. Di Busan,”kataku lalu mengambil salah satu baju bewarna hijau army.

Yuri unni mengernyitkan dahi,”Dengan baju itu? Sudah berapa hari sih kau memakai baju-baju bewarna hijau army atau baju-baju bertema military style? Aku sampai bosan melihatnya. Kau ini benar-benar bermasalah dengan Jong-Hyun ya?”

Aku akan membalas ucapan Yuri unni saat pintu kamar dibuka dan Soo-Young muncul.

“Unni, telepon untukmu!”kata Soo-Young sambil mengacungkan telepon wireless untuk Yuri unni.

“Dari siapa?”tanya Yuri unni.

“Dari Jong-Hyun,”jawab Soo-Young lalu tersenyum-senyum padaku.

“MWO?!”pekikku kaget.

Untuk apa Jong-Hyun menelepon Yuri unni sih?

Soo-Young terkikik geli ketika Yuri unni menghilang dari kamarku untuk menerima telepon,” Astaga Yoona, coba lihat ekspresimu itu. Hahahaha.”

Aku segera menutup pintu lemari dan mengejar Yuri unni, tapi setelah aku sampai di ruang tengah, dia sudah selesai menelepon.

Seperti tahu apa yang akan kupastikan, Yuri unni segera angkat bicara,” Dari Jjong. Kim Jong-Hyun. Bukan Lee Jong-Hyun-mu, Rusa!”

Soo-Young muncul lagi sehingga aku mulai mendengar suara tawanya yang semakin menjadi-jadi.

“Saking rindunya pada Jong-Hyun, sampai-sampai mendengar nama Jong-Hyun saja kau sudah gelagapan begini, Yoong,”sindir Soo-Young.

Uuuuuh, Jong-Hyun memang membuatku gila!

Ah! Aku sampai belum ganti baju. Sebentar lagi Jong-Hyun datang menjemputku.

Dan saat aku berbalik, telepon wireless yang masih ada di tangan Yuri unni berbunyi lagi.

“Ya, JONG-HYUN!”aku mendengar Yuri unni berteriak pada telepon, tapi lebih tepat ditujukan padaku.

Soo-Young tertawa lagi. Astaga, anak ini tidak bisa berhenti tertawa ya?! Dasar mereka ini! Sekarang aku jadi bulan-bulanan begini…

“Ya, sekarang tunanganmu sedang ganti baju. Hm, baiklah, tunggulah yang sabar ya di bawah.”

Sesaat aku langsung berhenti berjalan. Apa? Yang ini benar-benar Lee Jong-Hyun?!

Lee Jong-Hyun

Aneh. Sejak awal Yoona masuk ke mobil, dia tidak bicara. Oke, mungkin dia masih marah karena kubilang aku akan pergi wamil, tapi ini kan juga sangat penting.

Ketika aku berhenti di persimpangan karena sekarang lampu lalu lintas bewarna merah, aku melihat sebuah balon udara besar di atas gedung.

“Yoona,”panggilku, memecah keheningan.

“Hmm?”

“Coba lihat balon udara itu,”suruhku sambil menunjuk balon udara yang kumaksud.

“Yang warna hijau?”tanya Yoona sambil menoleh padaku.

Aku mengangguk,”Coba kau baca. Tulisannya I LOVE YOU.”

Yoona menyipitkan mata dan melihat ke balon udara itu lagi, memastikan apa yang tertulis di sana.

“I LOVE YOU? Bukan, Jongie! Kau salah baca. Itu kan tulisan GO GREEN,”protesnya.

Aku tersenyum lalu menginjak gas karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

“Ohya?”balasku,”Habisnya, kalau sedang bersamamu, semua tulisan terbaca I LOVE YOU.”

“Iiiih, dasar!”seru Yoona kesal (atau pura-pura kesal), tapi justru membuatku tertawa.

Beberapa waktu setelah itu kami terdiam lagi sampai kami berhenti di lima persimpangan berikutnya.

“Jong-Hyun! Lihat tulisan itu!”suruh Yoona tiba-tiba, menunjuk sebuah baliho besar.

“Kenapa? Kau membaca I LOVE YOU?”godaku.

“Iiiih, bukan! Itu ada baliho konser James Morrison bulan depan. Aku ingin sekali melihat konser itu.”

“Hmm,”aku mengangguk-angguk, lega juga akhirnya Yoona mulai bicara.

“Kau suka James Morrison?”lanjutku,”Apa lagu yang paling kausukai?”

“I WON’T LET YOU GO!”seru Yoona.

JDEEERRR! Rasanya ada petir yang menyambar ketika Yoona mengatakan judul lagu milik James Morrison itu dengan penekanan intonasi yang berarti.

Aduh, kenapa jadi begini… kenapa aku jadi serba salah lagi?

Yoona benar-benar tidak bercanda, dia benar-benar tidak ingin aku pergi.

 

 

Seperti biasa, setiap Yoona datang ke rumah, suasana rumah menjadi semakin ceria. Bahkan kurasa Busan belum pernah menjadi tempat tinggal semenyenangkan ini sebelum Yoona kuajak ke mari. Hebatnya, tidak peduli seberapa besar rasa marahnya padaku tentang masalah wamil ini, Yoona tetap bersikap sangat baik pada ayah dan ibu seolah-olah di pikirannya tidak ada masalah yang sekrusial wamil.

Selesai makan siang, aku dan Yoona (berusaha) untuk mengobrol sambil duduk di ayunan bercat putih yang ada di halaman belakang rumah. Di ayunan ini dulu aku dan Nuna sering menghabiskan banyak waktu. Nuna akan belajar dan aku bermain gitar. Sekarang, aku ada di sini bersama tunanganku, calon istriku kelak. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.

“Sampai kapan kau akan memakai baju bewarna hijau army begitu, Letnan?”tanyaku.

Serius! Sejak kubilang aku akan pergi wamil, Yoona selalu memakai baju dengan military style ketika kami bertemu. Kalaupun kami sedang tidak bertemu, Yoona akan memotret dirinya sendiri (kadang dengan ekspresi sel-ca pada umumnya, atau kadang cemberut) dan mengirim gambarnya padaku. Saat aku minta maaf padanya dan dia masih tidak mau memaafkanku, di akhir pesan Yoona juga pasti akan mengirim gambar dirinya dengan military style.

“Sampai kapan, Yoona?”tanyaku sekali lagi karena dia belum juga menjawab.

Yoona menghela nafas berat,”Sampai kau selalu ingat pada tugas wamilmu.”

Aku mengernyitkan dahi,”Tugasku? Kenapa kau harus mengingatkanku?”

“Agar kau ingat juga kau TEGA meninggalkanku sebentar lagi!”jawabnya ketus.

Yoona segera menggerakkan ayunan lebih heboh lagi. Ya ampun, kalau marah kekuatan gadis ini benar-benar bertambah dua kali lipat.

“Ini kan kewajibanku juga, Yoona. Aku harus ikut wamil selama dua tahun. Aku laki-laki. Memangnya aku harus ganti kelamin hanya agar aku tidak perlu ikut wamil?”

“Ya! Lakukan saja!”serunya marah.

Aku tersenyum dan berniat menggodanya.

“Benar kau ingin aku lakukan itu?”bisikku padanya,”Kalau aku ganti kelamin, kita tidak bisa punya anak dong.”

“Iiiiiiih, kau ini!”pekik Yoona sambil memukul lenganku dengan sekuat tenaga.

Aku berhenti tertawa lalu menyadari kami mulai terdiam lagi. Yang bersuara hanyalah deritan engsel ayunan yang kami duduki.

Aku merangkul pundak Yoona, dan leganya, kali ini gadis itu tidak berontak.

“Lalu aku harus bagaimana, Yoona?”tanyaku lirih.

“Seharusnya kau pergi wamil sebelum kita bertunangan—ah bukan-bukan! Seharusnya kau pergi wamil sebelum kita bertemu, jadi aku tidak perlu merasa ditinggalkan seperti ini,”keluh Yoona.

“Aku tidak meninggalkanmu, untuk ke sekian kalinya kubilang padamu. Aku tetap bisa meneleponmu, kita tetap bisa bertemu. Aku kan bukan sedang menjalani masa tahanan,”kataku.

“Bagaimana dengan makan? Porsi makanmu banyak. Apalagi di sana ada banyak kegiatan, bagaimana jika kau tidak cukup makan?”

Mau tidak mau aku terkekeh. Semarah apapun Yoona, dia masih sangat peduli padaku.

“Aku kan tidak sedang kerja rodi membangun tembok cina, Yoona. Aku akan baik-baik saja.”

“Lalu bagaimana denganku? Apa aku akan baik-baik saja? Kau tidak mengkhawatirkan aku sedikitpun?”tanyanya penuh harap.

“Tentu saja aku khawatir, tapi aku yakin kau akan baik-baik saja.”

Yoona menggeser tubuhnya sedikit menjauh agar bisa menatapku, terpaksa melepaskan lenganku yang sejak tadi merangkul pundaknya.

“Bagaimana jika ketika kau pergi selama dua tahun, aku berselingkuh?”ancamnya,”Ya, aku akan berselingkuh! Dengan Dong-Hae oppa, Tae-Cyeon oppa, Lee-Teuk oppa, Lee Min-Ho oppa, Jang Geun-Suk oppa. Pokoknya aku akan selingkuh!”

Hahahaha. Seperti kau mampu saja, Yoona…

“Kau kan tunanganku,”jawabku singkat.

“Oooh! Jadi kau mengikatku dengan pertunangan hanya agar aku tidak bisa selingkuh ketika kau pergi wamil? Hah?”tanyanya kesal.

“Bukan. Maksudku, kalaupun kita tidak bertunangan, aku yakin kau tidak akan berselingkuh, Yoona.”

Yoona tertawa mengejek,”Ohya? Kau yakin sekali kalau aku begitu mencintaimu?”

Aku menghela nafas lalu menggenggam tangan kiri Yoona dan menaik-turunkan tangannya. Ya ampun, bahkan Yoona juga memakai jam tangan bewarna hijau army.

“Hmm… bagaimana ya… Akhir-akhir ini aku merasa seperti jalan-jalan dengan Letnan sih. Jadi sepertinya ada yang ingin sekali aku tidak pergi.”

Begitu aku sampai ke kata ‘pergi’, Yoona segera melempar tanganku dengan kasar. Hahahaha.

“Tadi Ibu baru saja bilang padaku bahwa sebenarnya kau sangat memikirkanku dan mencintaiku. Tapi aku sama sekali tidak merasakannya. Malahan aku lebih merasa aku yang lebih mempedulikanmu dan kau sama sekali tidak peduli padaku,”ujar Yoona.

Oh? Ibu bilang begitu? Ah, ternyata seceria apapun sikap Yoona tadi, Ibu tetap menyadari Yoona tidak ingin aku pergi.

“Aku peduli padamu, Yoona, lebih dari yang kautahu. Karena itu aku harus pergi wamil tahun ini.”

“Kenapa?”

“Kau bilang kau ingin menikah saat umurmu 27 tahun kan?”tanyaku.

Yoona mengangguk membernarkan,”Tapi aku punya batas akhir umur 32 tahun kok.”

“Kalau disuruh memilih, kau lebih suka menikah di umur berapa? 27 tahun kan?”karena ketika pertama kali kutanya Yoona (bahkan sebelum kami berpacaran) pada umur berapa dia ingin menikah, waktu itu dia bilang antara umur 27 sampai 28 tahun.

“Iya…”jawabnya.

“Sekarang umur kita sudah 25 tahun. Dua tahun lagi umur kita 27 tahun. Jadi aku harus pergi tahun ini,”ucapku lalu merangkul pundak Yoona lagi, agar dia lebih mendekat padaku.

“Tapi… tapi kenapa harus sekarang?”

“Lalu kapan? Kau ingin aku pergi setelah kita menikah nanti? Aku lebih tidak tega lagi, Yoona. Aku tidak bisa pergi selama dua tahun meninggalkan istriku, lagipula bagaimana jika nanti kau cepat hamil? Memangnya aku bisa pergi wamil setelah kewajibanku yang lain bertambah besar? Lagipula setelah Yong-Hwa hyung kembali, kini giliranku untuk pergi. Paling tidak CNBLUE tetap berdiri tegar walaupun kami tidak utuh. Kau mengerti sekarang? Aku sudah memikirkan segalanya untukmu, untuk kita berdua,”jelasku.

Yoona menggenggam tangan kananku dan berterima kasih. Aku lega sekarang dia mengerti.

“Sejak kapan kau bisa berpikir sedewasa ini, Jongie?”tanya Yoona.

“Aku kan tidak sepertimu, Anak Kecil,”ejekku.

“Iiiih apa sih? Sudah kubilang jangan sombong! Kau hanya lebih tua lima belas hari dariku. Lagipula berhentilah mengatai orang ‘Anak Kecil’, Jongie,”kata Yoona menasehati,”Kasihan Jung-Shin dan Min-Hyuk, tahu.”

Aku terkekeh,” Memang benar kok. Dasar Anak Kecil! Lihat! Lihat! Pipimu memerah sekarang.”

Yoona mengusap-usap kedua pipinya,”Tidak! Tidak merah!”

Aku menurunkan kedua tangan Yoona dari pipinya dan segera mengecup pipi kirinya.

“Lihat! Sekarang warnanya lebih merah,”ujarku.

PLAK! Sebelum aku melanjutkan tawa kemenanganku, Yoona langsung menamparku dan tertawa.

“Lihat! Sekarang pipimu sangat merah, Jongie!”seru Yoona lalu pergi melarikan diri ke dalam rumah.

Aduh, ternyata bercanda dengan seorang Letnan memang penuh resiko.

 

26 thoughts on “Conscription

  1. so sweeeetttttt,,,,,,,
    tpi klo uriBoys wamil’a satu2 psti Boice menderita bgt ya,,,,4x2tahun= 8tahun cnblue ga lengkap pst ga seru bgt,,,,he3
    seneng bgt deh sma ini couple ^^
    nice ff’ author
    >_o

  2. Kocak bgt dech…aku suka ceritanya. Tujuan jonghyun cpt2 wamil mau nikahin yoona, so sweer bgt dech. Good job buat ff ini n dtunggu ya karya2 mrka yg lain

    • makasih, lestrina. Wah ini ketiga kalinya nih km komen cerita aku, sampai hafal profil pict km.hehe
      iya deh, pasti aku bikin lagi. ditunggu yaaa

  3. flazia, salah satu nama yang bakal aku inget terus karena aku resmi jadi fans kamu xD
    ff yg kamu buat menarik banget. yg jongyoon sebelumnya juga aku suka. penyampaian cerita kamu asik banget, bikin ketawa. seru~

  4. DeerBurning suka bgt sama ini couple pas cnb wwncra snsd ato sbliknya, Tatapan mata mrka br2 itu kya ada perasaan gmanaa gt #malahcurhat ._.v *ditabok
    FF nya bgus bgt ! Gaya bhasanya gak kaku, keren !! Jadi kya couple choding gkgkgk so sweet~

  5. wah keren thor^^ karakternya pas sama castnya jadi kebayang, ih pasti lucu banget:’)))) di tunggu ff yang lain, hwaiting’-‘)9

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s