Misojitda, Lee Minyoung!

min n hyunie copy

 

Title: Misojitda, Lee Minyoung!

Author:  Rachma Lestari

Rating: G

Genre: Romance

Length: Ficlet

Main Cast:

Lee Jonghyun CNBLUE

Min Miss A

Disclaimer: Imajinasi di malam jumat membuahkan hasil seperti ini diiringi ost that winter the wind blows. Kekeke~

Note: Sebelumnya sudah pernah diposting di blog pribadi: http://heyyoujonghyunie.blogspot.com/

 

Lee Jong-Hyun mempercepat laju mobil yang dikendarainya. Salah satu tangannya sibuk menelepon sebuah nama di hpnya berulang kali. Lee Min-Young, angkat telfonku. Bangunlah.

Lee Jong-Hyun tiba di depan apartemen Lee Min-Young. Udara dingin jam satu pagi segera menyergap sekujur tubuhnya. Tapi bukan itu yang membuat dingin sekujur tubuh Lee Jong-Hyun. Di pikirannya hanya satu. Yang dikhawatirkannya hanya satu. Lee Min-Young.

“Lee Min-Young! Minyoung-ah!”

Jong-Hyun tak hentinya menggedor-gedor pintu apartemen Min-Young.

Kenapa di saat seperti ini aku lupa kata sandi apartemennya? Aaargh.

Pintu di hadapan Jong-Hyun pun terbuka. Berdirilah perempuan yang sedari tadi dikhawatirkannya, menatapnya kebingungan.

“Ya, Jonghyun-ah. Jam berapa ini? Ada apa? Ah kau ini mengganggu orang tidur saja. Kau tahu, aku baru tidur jam…”

Belum sempat Minyoung menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun memeluknya erat.

“Jonghyun-ah…Ada apa? Kau kenapa?”

“Minyoung-ah…”

“Ada apa? Kau membuatku takut.”

“Taeho hyung…”

Suara Jonghyun bergetar.

“Taeho hyung…”

Hanya nama Tae-Ho yang keluar dari mulut Jonghyun. Minyoung berusaha menggabungkan potongan-potongan gambar di hadapannya saat ini. Minyoung berharap ini adalah bagian dari mimpinya hari ini. Jonghyun tidak sedang memeluknya, tapi ini hanyalah efek dia memeluk boneka teddy bear kesayangannya. Ini mimpi bukan? Namun semakin Minyoung menyangkalnya, dadanya semakin terasa sesak dan akhirnya dia menumpahkan tangisnya di pelukan Jonghyun.

“Op…oppa…oppa…OPPAAAAAA!”

 

***

 

Sebulan berlalu semenjak meninggalnya Kim Taeho dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu pula senyum Minyoung tak pernah lagi terlihat di wajahnya. Apa yang bisa kulakukan lagi jika memang semangatnya hanya ada di Taeho hyung?

Jonghyun menekan digit-digit password pintu apartemen Minyoung. Setiap sore sejak sebulan lalu, mengunjungi Minyoung menjadi rutinitas hariannya yang tak bisa ditinggalkan.

“Minyoung-ah? Kamu dimana?”

“Di sini,” jawabnya pelan. Sepertinya di kamar.

“Ayo makan.”

Minyoung menggeleng.

“Minyoung-ah. Sedikit saja. Aku membawa chajangmyeon, kesukaanmu.”

Minyoung menggeleng, lagi.

“Minyoung-ah. Ayolah. Kau belum makan siang kan? Kulihat bubur yang kukirim tadi pagi pun hanya sedikit kau sentuh. Jika terus begini…”

“Pulanglah,” potong Minyoung.

Jonghyun terdiam.

“Mana bisa aku pulang dengan keadaanmu seperti ini?”

“Tidak ada yang menyuruhmu untuk merawatku. Tidak ada yang menyuruhmu untuk mengkhawatirkanku. Tidak ada yang menyuruhmu untuk peduli padaku. Pulanglah.”

“Sudah kewajibanku untuk merawatmu. Sudah kewajibanku untuk mengkhawatirkanmu. Sudah kewajibanku untuk peduli padamu.”

Minyoung, yang sebelumnya hanya menatap kosong selimutnya, kini menatap kedua mata Jonghyun.

“Bukan, itu bukan kewajibanmu. Itu kewajiban Taeho oppa.”

Jonghyun kembali terdiam mendengar jawaban Minyoung.

“Itu kewajibanku, Minyoung-ah. Sejak dulu, bahkan sebelum kamu bertemu dengan Taeho hyung. Aku yang selalu merawatmu. Aku yang selalu mengkhawatirkanmu. Aku yang selalu peduli padamu.”

“Pulanglah…”

“Kau dulu pernah bilang padaku, di saat kalian untuk pertama kalinya berkencan, senyum Taeho hyung adalah penyemangatmu.”

Minyoung mengangguk.

“Kau rela melakukan apapun untuk melihatnya tersenyum bukan?”

Minyoung mengangguk lagi.

“Itulah yang kini kulakukan.”

Jonghyun bangkit, mengecup kening Minyoung.

“Senyummu adalah penyemangatku.”

Minyoung tak mampu berkata apa-apa lagi saat melihat punggung Jonghyun pergi ke arah pintu kamarnya.

Sebelum menutup kembali pintu kamarnya, Jonghyun berkata, “Jangan senang dulu, besok aku akan kembali. Cepat makan chajangmyeonnya sebelum dingin. Oh ya, satu lagi. Jangan ganti password pintu apartemenmu, karena aku pasti akan mendobraknya. Kau tak ingin dimarahi tetangga dan pemilik apartemen ini bukan?”

Jonghyun tersenyum, lalu menutup pintu kamar Minyoung. Dan untuk pertama kalinya, Minyoung tersenyum.

Babo,” ucapnya lirih seraya menghapus setetes air mata yang mengalir di pipinya.

7 thoughts on “Misojitda, Lee Minyoung!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s