[Songfic] Rose

Rose cover

Author : @hannamoran

Genre : Angst

Length : Ficlet

Ratings : R/PG

Cast : Lee Jung Shin (CNBLUE)

           Ahn Sohee (Wonder Girls)

           Tiffany Hwang (SNSD)

           Kang Minhyuk (CNBLUE)

Desclaimer : Inspirasi dari lagu “Rose” – Leehi

Notes: Maaf untuk beberapa typo yanga akan ditemukan dalam FF ini, author hanya manusia biasa yang bisa melewatkan beberapa typo dalam proses re-editing. Thanks Leequee Blue on FB for the artwork. Happy Reading😀

****

Disebuah sudut  ruangan sepi, hanya ada sebuah 3 buah sofa yang mengelilingi sebuah meja kaca bundar yang kini diatasnya terisi beberapa kaleng soda kosong. Bagian lain ruangan itu hanya berisi layar-layar besar dengan warna pastel, ya itu adalah sebuah studio photographi Lee Jungshin, tempat ia menghabiskan hampir sepanjang harinya dengan flash camera kadang ditemani juga oleh beberapa model cantik juga seksi yang harus ia ambil gambarnya untuk akhirnya dicetak dihalaman-halaman majalah fashion kenamaan korea. tapi kini sang photographer handal itu tengah bersantai di salah satu sofa sambil menegung minuman sodanya, ditemani seorang gadis yang kini tengah melingkarkan lengannya pada lengan Jungshin dan meletakan kepalanya di bahu kokoh Jungshin.

“My love is like a red rose
It may be beautiful now
But my sharp thorns will hurt you

“Mau sampai kapan kita begini terus?” Tanya Sohee sambil membetulkan posisi kepalanya dibahu Jungshin

“aku tidak tahu, mungkin sampai ayahmu mati” lagi Jungshin meneguk sodanya seolah tak ada kata-kata tajam yang baru saja keluar dari mulutnya. Sebaliknya Sohee menegakan tubuhnya dengan wajah tegang begitu ia mendengar jawaban tajam Jungshin.

“begitu bencinya kah kau pada ayahku?” desis Sohee hampir seperti rintihan. Jungshin menoleh kearah Sohee, lalu ia mengelus puncak kepala Sohee, merapikan rambut panjang Sohee yang berantakan dan mencuat kemana-mana.

“kau tahu alasannya kenapa aku terkesan begitu membenci ayahmu”

“tapi aku mohon jangan ucapkan kalimat-kalimat seperti itu lagi didepanku, itu menyakitkanku”

“mian..mianhae” Jungshin mengecup hangat kening Sohee, lalu turun kepipi Sohee dan berakhir dibibir mungil Sohee. Jungshin juga menggenggam lengan Sohee sedikit lebih erat. Terdengar Sohee sedikit tertawa dengan nada sedikit mengejek, membuat Jungshin memperhatikan Sohee bingung.

“kita tau sejak awal kalau cinta kita salah tapi kita terus bersikeras melanjutkannya”

“kenapa kau masih peduli pada hal-hal semacam itu?” Tanya Jungshin

“kita mungkin akan saling menyakiti satu sama lain nantinya”

“aku tak peduli nanti, yang aku pedulikan adalah saat ini aku bersamamu, kau milikku” kata Jungshin percaya diri, mata kecil Sohee memperhatikan wajah Jungshin yang mulai terlihat samar karena matahari sore sudah mulai tenggelam sementara hanya satu lempu kecil yang dinyalakan diruangan itu, mata Sohee menelusuri setiap senti wajah Jungshin dalam hatinya terbersit pertanyaan bagaimana mungkin laki-laki yang ia cintai nantinya akan menyakitinya, bagaimana mungkin Jungshin yang sudah mengambil seluruh hatinya harus menyimpan kebencian yang begitu dalam pada ayahnya, kebencian yang terus menghantui masa lalu Lee Jungshin.

***


“My love is like a red rose
Yes, I may be fragrant
But the closer you get, the more I’ll hurt you

Jungshin memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin wastafel. Rambut panjang berwarna coklat gelapnya dia ikat rapi dibelakang kepalanya. Kali ini hanya celana panjang denim berwarna biru tua yang ia kenakan, tubuh bagian atasnya ia biarkan bertelanjang dada memamerkan sebuah tato yang cukup besar bergambar naga yang menjalar dari bahu sebelah kiri melawati punggung bagian atasnya dan berakhir di lengan kanannya. Tubuhnya tak sekurus dulu, otot tangannya dan otot perutnya mulai terbentuk, Jungshin tersenyum kecut pada bayangannya sendiri dicermin.

Suara ponsel terdengar dari ruang tengah apartement Jungshin, ia segera meninggalkan wastafel dan beranjak menuju ruang tengah, menghempaskan tubuhnya di sofa empuk dan mengambil ponselnya, menyentuh layar ponselnya dan menempelkan ke telinganya.

“Minhyuk hyung!” Jungshin tersenyum

“sedang apa kau diseoul?”

“baru saja pulang dari studio, mengantarkan Sohee secara diam-diam kerumahnya lalu kembali ke apartement” Jungshin mendengar tawa minhyuk.

“Sohee? Gadis itu lagi? Mau berapa lama lagi kau di Korea bersama gadis itu, huh? Cepat kembali kesini dan kembali pada Tiffany, dia menunggumu”

“aku pasti segera keluar dari Korea setelah semuanya selesai. Hyung, dimana Tiffany? Apa ia bersamamu sekarang?”

“Dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya sekarang. Kau tak usah khawatir, kami disini melindungi Tiffany dengan baik”

“teman-teman?”

“ya, dia punya banyak teman baru disini. Sejak kau memperbolehkannya untuk meneruskan kuliahnya ia berteman dengan baik dengan siapa saja, ia mudah beradaptasi”

“baguslah kalau begitu, tolong awasi dia dengan baik hyung, hanya kau dan ayahmu yang aku percaya didunia ini”

“aku mengerti, cepatlah selesaikan urusanmu di Korea dan kembali bergabung bersama kami”

Tak lama sambungan ponsel internasional itu terputus. Jungshin, dia menatap langit-langit apartementnya, bayangan wajah polos Sohee tergambar dalam pikirannya, senyum gadis itu, matanya yang hilang setiap kali gadis itu tersenyum lebar, rambut hitam panjangnya yang sering kali berantakan, gengaman hangat tangannya, rengkuhan tangannya setiap kali ia bergelayut manja pada Jungshin, dan ciuman manis gadis itu.

“mianhae” desis Jungshin, berharap permintaan maafnya dapat tersampaikan pada Sohee.

“mianhae… apa yang kau bilang cinta pada akhirnya harus menyakitimu juga. Sohee-ya…aku harus menyakitimu demi mendapatkan pembalasan yang pantas untuk ayahmu”

***

“Don’t look at me with that light glance
Don’t speak of love easily

“Maju sedikit” ucap Jungshin, lalu seorang model sexy yang hanya menggunakan brallate dan hotpants dengan high heels 12cm nya mengikuti instruksi Jungshin, ia maju beberapa langkah, lalu ia memberikan pose sexy terbaiknya dan kilatan flash dari camera digenggaman jungshin menyinari ruangan itu sepersekian detik.

“lebih menunduk” lagi sang model menunduk mengikuti perintah Jungshin dan kilatan flash memancar cepat di ruangan itu. Beberapa orang berlalu-lalang disekitaran Jungshin untuk membantu para model yang lain mempersiapkan diri untuk pemotretan selanjutnya.

Tak terasa 2 jam proses pemotretan berlanjut, Jungshin mulai lelah.

“semua istirahat dulu, kita mulai lagi 1 jam dari sekarang” kata Jungshin, lalu ia menyerahkan cameranya pada salah satu asistennya.

“aku akan makan diluar” kata Jungshin pada asistennya yang dijawab dengan anggukan tanda mengerti.

Tepat saat Jungshin menutup pintu studionya dan hendak menuruni tangga sebuah tangan memeluk tubuhnya dari belakang.

“mau kemana kau?” orang yang memeluk Jungshin kini berpindah kehadapan Jungshin, Sohee

“kau datang?” Tanya Jungshin sambil membelai rambut Sohee dan menyelipkan anak rambut Sohee kebelakang telinganya.

“aku sedang tak ada kerjaan, dan aku merindukanmu. Kau mau kemana? Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tanya Sohee terlihat sangat ceria.

“ikut aku kalau begitu” Jungshin menggengam tangan Sohee, Sohee mengikuti langkah Jungshin. Ia percaya kemanapun Jungshin membawanya pergi. Hingga mobil Jungshin memasuki halaman parkir sebuah restoran ditengah kota.

“aku sudah makan siang” kata Sohee.

“kalau begitu kau temani aku makan” kata Jungshin, lagi ia membelai halus kepala Sohee dan mengecup bibir Sohee singkat sebelum keluar dari mobilnya.

***

“kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Jungshin, sedangkan Sohee hanya bertopang dagu sambil melihat Jungshin yang tengah melahap makan siangnya walaupun jam kini menunjukan pukul 4 sore. Pancaran mata Sohee sangat bersinar dan hangat, menggambarkan suasana hatinya yang jelas sedang dalam keadaan sangat baik, membuat Jungshin penasaran.

“kenapa kau menatapku dengan berbinar begitu? Apa yang terjadi?”

“kau tahu? ayah sepertinya mulai melunak. Tadi sewaktu aku meminta izin untuk keluar rumah ia langsung mengizinkan, biasanya kan ia bertanya ini-itu dulu seolah ia tidak percaya padaku atau seolah aku aku dalam bahaya besar kalau aku keluar rumah sendirian. Aku rasa ayah mulai memberi kebebasan padaku, itulah kenapa aku senang. Aku bisa sering bertemu denganmu sekarang” Sohee tersenyum senang, mau tak mau Jungshin juga harus ikut tersenyum.

“apa ayahmu tahu kalau kita masih berhubungan?” Tanya Jungshin

“tidak, terakhir kali aku bilang kalau kita putus karena ayah terus menentang hubungan kita, tapi ia tidak tahu kalau kita masih berpacaran. Bahkan anak buahnya pun tak tahu masalah ini” Jungshin menangkap perubahan rona wajah Sohee, wajahnya sedikit berubah sendu.

“bagus, terus rahasiakan hal ini dari ayahmu. Ia tak perlu tahu apapun tentang kita”

“sampai kapan?”

“sampai ayahmu…”

“cukup. Aku mengerti” Sohee memotong pembicaraan Jungshin karena ia tahu persis kalimat apa yang akan Jungshin lontarkan.

“apa kau tidak merasa ganjil dengan hubungan kita?” Sohee berusaha mencari pembicaraan lain. Jungshin menatap Sohee tidak mengerti. Selama ini ia merasa hubungan mereka bisa dikatakan berjalan cukup baik.

“apanya yang ganjil?”

“pasangan lain saling memanggil dengan panggilan sayang, tapi kita? Kita terlihat seperti pasangan yang terlalu canggung” Sohee mem-pout-kan bibirnya membuat Jungshin tersenyum lalu mengelus pipi Sohee.

“jangan sedih begitu, jagiya” Jungshin tersenyum manis, begitupun Sohee. Ia terlonjak senang saat Jungshin memanggilnya dengan panggilan sayang yang selama ini ia idamkan.

“gomawo. Saranghae”

“ne” hanya itu jawaban singkat Jungshin. Lalu ia melanjutkan makannya, dalam hatinya ia tertawa kecut dengan segala kata-kata manis dan tingkah romantis yang baru saja ia berikan pada Sohee, bumbu-bumbu untuk sandiwara yang sedang ia jalani.

***


“If you want my heart, you need to take my pain too
Because you will be pricked by my thorns someday

   “sedang apa disana, jagi?” Jungshin menyandarkan punggungnya disandaran jok mobilnya yang nyaman.

“baru saja pulang, kau sendiri sedang apa disana?” suara TiffanY terdengar saat senang ketika Jungshin meneleponnya.

“sama, aku juga baru pulang dari studio”

“disana pasti sudah sangat larut. Disini baru jam 7 malam”

“hmm… disini sudah lewat tengah malam. Dimana Minhyuk hyung?”

“dia baru saja pergi keluar. Kau tahu, jagiya… hyung mu sedang dekat dengan seorang gadis cantik dan belakangan ini mereka sering berkencan. Aku iri dengan mereka, kapan kau kembali agar kita juga bisa berkencan seperti mereka” rajuk tiffany membuat Jungshin tersenyum.

“sebentar lagi, setelah semua urusanku di Korea selesai. Beberapa tahap lagi dan aku akan kembali padamu Fany. Tenang saja”

“tapi kau tidak benar-benar menjalani hubungan dengan Sohee kan?” nada suara Tiffany mulai terdengar cemas.

“tenang saja, aku aktor yang baik. Aku memerlukannya hanya sampai aku bisa menembus batas kediaman ayahnya. Setelah aku membuat Ahn Sung Hee merasakan yang ayah dan ibuku rasakan, aku akan meninggalkan Sohee, aku tak akan mempedulikannya dan aku akan segera kembali padamu”

“ne, aku percaya padamu. Cepatlah kembali, aku merindukanmu, saranghae”

“nado… nado saranghae” kata Jungshin. Setelah pembicaraan berakhir, jusnghin tak lantas beranjak dari dalam mobilnya, ia membuka salah satu file gambar dalam ponselnya, sebuah foto keluarga dimana ia diapit oleh ayah dan ibunya. Mereka bertiga tersenyum dengan bahagia. Ada rasa sakit yang menyusup masuk kedalam hati dan pikiran Jungshin, rasa sakit yang bertahun-tahun ia coba hindari dan ia buang jauh-jauh dari hidupnya. Tapi rasa sakit itu malah terus mengejarnya berubah menjadi dendam yang harus segera diselesaikan.

Rasa sakit itu seolah meremas hati, jantung dan paru-paru membuat Jungshin merasa sesak. Semua kenangan buruk itu kembali berputar dalam memorinya, jeritan ibunya, tubuh ayahnya yang tergeletak di ruang makan, lalu darah yang mengalir segar dari tubuh kedua orang tuanya yang merubah minggu pagi yang harusnya ceria menjadi mimpi buruk dalam hidup Jungshin. Mimpi buruk yang menjadi alasan ia kembali lagi ke korea, Negara yang sudah sangat lama tidak pernah ia datangi demi ayah dan ibunya dan demi dendam mimpi buruknya.

“Sohee-ya.. maaf kalau aku harus terluka juga. Jangan salahkan aku, tapi salahkan ayahmu dan segala keangkuhannya. Maaf kau harus terluka. Kau sudah tahu lukaku, tapi kau masih tetap ingin disampingku, karena kau bilang kau mecintaiku. Maaf Sohee, kali ini kau harus benar-benar terluka karenaku”

***

Junghsin kini tengah memperhatikan sebuah bekas luka gores yang cukup panjang disalah satu sisi lengan kanannya, luka yang ia dapat dari guratan pisau lipat tajam saat ia berusaha berlari menerjang kumpulan pria-pria yang kala itu bertubuh jauh lebih besar daripada Jungshin yang saat itu masih berusia 6 tahun. Tangan-tangan kekar laki-laki itu mencengkram keras lengan Jungshin kecil, berusaha menjauhkannya dari 2 tubuh kaku orang-orang yang Jungshin cintai. Tubuh ayah dan ibunya yang sudah tak bernyawa.

Jungshin menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, berusaha menutupi kenyataan kalau ia adalah anak dari seorang yakuza Jepang. Ya , ayah Jungshin adalah seorang Jepang yang merupakan seorang yakuza. Ayahnya menikah dengan seorang wanita Korea cantik yang kemudian melahirkan Jungshin. Ibunya lebih memilih menamai anaknya dengan identitas Korea dan membesarkannya di Korea supaya dapat melindungi anaknya dari serangan yakuza-yakuza dan mafia-mafia lainnya yang dapat menyerangnya kapan saja. Semuanya berjalan lancar hingga satu hari Ahn Sunghee seorang mafia Korea tak suka dengan keberadan keluarga Jungshin di wilayahnya, belum lagi karena Ahn Sunghee yang tak lain adalah ayah Sohee mengetahui bisnis perdagangan gelap senjata dari rusia-korea-jepang yang dimilik olah ayah Jungshin.

Ahn Sunghee mengirim anak buahnya untuk menghabisi ayah dan ibu Jungshin, tapi dengan baik hati ia menyisakan nyawa Jungshin yang akhirnya ia kirimkan ke negeri orang sebatang kara.

Beruntung, dinegeri orang itu Jungshin bertemu dengan seorang mantan anak buah ayahnya yang merasa kasihan dan berhutang budi pada ayah Jungshin yang akhirnya mau membesarkan Jungshin bersama Kang Minhyuk, anak laki-lakinya. Dan kini setelah Jungshin dewasa ia tak ingin tinggal diam saja, ia ingin membuat orang yang membuat ayah dan ibunya harus mati dengan cara keji membayar dengan setimpal. Jungshin bersumpah tak akan hidup tenang sebelum hutang nyawa dibayar nyawa itu terlunasi.

***

“Seeing your confidence makes me feel so bad for you
Your confident footsteps toward me looks so pitiful today

  “ayahku ingin bertemu denganmu, besok” Jungshin menoleh kaget kearah Sohee, meyakinkan kalau pendengarannya masih berjalan normal.

“ayahmu? Serius?”

“ya, akhirnya ia tahu kita maish berhubungan dan aku juga tak tahu apa maksudnya mengundangmu. Ia jatuh sakit beberapa hari lalu, sejak itu sikapnya menjadi berubah. Ia memberi banyak kelonggaran padaku, ia tak marah lagi aku sering bertemu denganmu walaupun ayahku tahu siapa kau. Dan ajaibnya lagi ia juga mengurangi jumlah keamanan dirumah sehingga sekarang siapa saja bisa dengan bebas keluar masuk rumahku”

“kapan ia ingin bertemu denganku?”

“besok juga kalau kau mau kau bisa datang” Sohee menunjukan senyum cerahnya, ia begitu percaya diri mengajak Jungshin untuk bertemu dengan ayahnya. Disisi lain Jungshin merasa kasihan pada Sohee yang begitu polos. Sohee memang tak tahu apa-apa tentang kejadian yang terjadi hampir 17 tahun lalu itu. Sohee masih memasang senyuman manisnya membuat Jungshin ikut tersenyum, senyum yang memiliki arti lain.

***


“Emotions? That’s an extravagance to me
Love? That’s Obsession’s best friend
So run away just run away
Cuz you and I must come to an end

  “hyung!” Jungshin menjawab semangat saat sapaan telepon international itu tersambung.

“kau tampak bersemangat, apa yang terjadi?”

“si tua bodoh itu sedang menggali kuburannya sendiri. bisa kau bayangkan ia mengundangku kerumahnya besok” Jungshin tertawa puas sekaligus mengejek.

“jadi kau akan menyelesaikannya besok?” Tanya Minhyuk lagi, ada tawa yang sama dalam pertanyaan minhyuk.

“ya, aku tak mau membuang kesempatan yang sudah aku tunggu-tunggu sejak lama” kata Jungshin sambil memperhatikan benda hitam mengkilap yang kini ada digengaamannya, serta beberapa peluru yang berjajar rapi dimeja dihadapannya.

“semoga kau berhasil, dan berhati-hati. Apa yang bisa aku bantu dari sini?”

“kau cukup mempersiapkan kepulanganku ke sana, pesawat dan lainnya jangan sampai ada yang tahu selain aku dan kau hyung. Bahkan Tiffany jangan sampai tahu, biar kepulanganku menjadi kejutan untuknya”

“baik, anak buahku akan mengurus kepulanganmu dengan jet pribadi segera”

“hyung, gomawo”

“ya, hanya ini yang bisa aku berikan mewakili rasa terima kasih ayahku. Tetap hati-hati”

Jungshin meletakan ponselnya dan pendangan matanya kembali pada benda kecil ditangannya, sebuah senjata yang sedang ia persiapkan, ia memasukan beberapa peluru kedalamnya dengan hati-hati. Ia tak sabar menanti esok.

***

“Every rose has its thorn
  Every rose has its thorn
    Every rose has its thorn

  Jungshin membuka kenop pintu berwarna coklat tua itu perlahan, sekali lagi Jungshin melirik kearah Sohee.

“ayahku bilang ia ingin bicara empat mata denganmu, tenanglah tidak akan ada yang terjadi. Aku akan menunggumu di bawah ya” ucap Sohee. Jungshin memeluk tubuh mungil Sohee dan mengecup bibirnya singkat. Dalam hatinya berkali-kali Jungshin mengucapkan kata maaf pada Sohee. Sebentar lagi sandiwaranya sebagai lelaki yang begitu mencintainya akan berakhir, anggaplah ciuman itu hanya penutup manis dari cerita ia dan Sohee.

Lalu dengan percaya diri Jungshin masuk kedalam ruangan besar dan menutup pintunya.

“kau sudah datang?” terdengar suara berat laki-laki dengan usia 60 tahunan yang tengah berbaring di sebuah ranjang mewah.

“kenapa kau memintaku datang?” Tanya Jungshin dingin saat langkah kakinya berhenti tak jauh dari sisi ranjang.

“kau sudah besar dan tampan, sudah 17 tahun sejak terakhir kali kita bertemu. Pantas saja Sohee begitu menyukaimu. Kau tampan dan mirip dengan ayahmu” Jungshin tersenyum kecut.

“kau masih ingat dengan ayahku rupanya”

“tentu saja… penggelapan senjata, mengambil kekuasaanku, mana mungkin aku melupakna semua itu” laki-laki itu bercerita seolah tak ada penyesalan darinya. Ia terbatuk disela-sela pembicarannya dengan Jungshin.

“aku harus berterima kasih karena kau sudah mengundangku, aku bisa dengan mudah menagih hutangmu”

“aku berhutang apa padamu? Aku dengar kau hidup bahagia diluar negeri jadi tak ada yang harus kau bayar”

“hutang nyawa ayah dan ibuku” Jungshin mengacungkan senjatanya, menempelkan ujungnya tepat dipelipis laki-laki tua itu.

“aku sudah menebak kau akan melakukan ini padaku” wajah laki-laki itu terlihat panik tapi ia berusaha terlihat tenang. Jungshin membungkuk, tangannya masih menempelkan senjatanya.

“aku bukan Lee Jungshin yang berumur 6 tahun lagi, Tuan” Jungshin sedikit terkekeh mengejek.

“selamat jalan, Ahn Sunghee” bisik Jungshin lagi, telunjuknya menarik tuas kecil

DOORR!!

Sebuah peluru kini bersarang di kepala laki-laki tua yang kini meregang nyawa, darah segar mengalir dari luka tembaknya. Jungshin segera berlari keluar sebelum ada orang yang melihatnya, anak buah yang Minhyuk kirim sudah menunggunya dan segera mengantarkannya menuju bandara untuk segera kembali pulang, meninggalkan korea.

Tak sampai 20 menit Jungshin sudah duduk dikursi empuk sebuah jet pribadi yang sebentar lagi siap terbang. Jungshin merasa puas, beban hidupnya sudah hilang, pergi bersama sebuah peluru yang meluncur dari senjatanya. Ia bisa hidup dengan tenang sekarang. Dendamnya sudah ia selesaikan dengan baik. Jungshin menempelkan ponsel ditelinganya sesaat sebelum pesawatnya lepas landas.

“hallo…” suara gadis yang ia rindukannya

“Je vais revenir à vous maintenant, Tiffany” *aku segera kembali padamu, Tiffany*

-End-

13 thoughts on “[Songfic] Rose

  1. sadissssssss.
    dendam terbalaskan beneran tuh hidupnya akan tenang.
    huhuuu jungshin chingu kan org baik2.
    dikirain bakal berakhir sesuatu yg tak terduga. huhuuu

    nanti buat story yg romantis unyu ya buat jungshin author

  2. seru banget sar, serius. tapi jujur aku kurang puas sama endingnya, kayak masih ada yg kurang. tapi ending begitu juga udah cukup, emang dasar akunya aja yg oon xD
    kkkk again, typo sar. kamu nulis nama, awalannya bisa besar. ayo dong, biasain abis tanda (“) hurufnya kapital kkkk~

  3. lagi suka ‘Rose’-nya Lee Hi dan akhirnya baca songfic ini. ceritanya bagus. rada ga kebayang sih, jungshin punya tato naga, tapi kece lah pasti…
    kasian sohee… cintanya tulus tapi tak terbalas…

  4. alih genre nih kak ceritanya😉 hihihi
    biasanya kan author yg satu ini suka banget bikin orang melayang karena cerita ” sweetnya🙂
    btw btw itu So hee nya gimana kabarnya , kasiaaan dia😦 huhuhu

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s