Fairytale

FT TRUE

Title: Fairytale

Author: hayputrii

Rating: G

Genre: Romance, Family

Length: Short Story

Main cast:

Lee Jonghyun

Im Yoona

Supporting cast:

Jung Yonghwa

Seo Joo Hyun

Kang Minhyuk

Lee Jungshin

Disclaimer: FF ini saya buat dengan perjalanan neuron dan impuls-impuls yang di anugrahkan Tuhan pada saya.

Note: Thank you for what you did in the last four story. That somehow make me smile in the dark of night, in the noisy world, and in the smell of sweat after tiring day. Your support is really mean for me. Just for you to know, empat ribu sekian kata yang saya ketik dalam cerita ini mungkin tidak memberikan euforia bagi kalian seperti ketika saya membaca beberapa penggal kalimat yang kalian tinggalkan di box komentar. Komentar kalian, support kalian, koreksi kalian, adalah percikan semangat yang membuat saya sebahagia menyaksikan gebyar kembang api di malam tahun baru. Even I am alone, but with words I and you gave, I feel around. Thank you. Finally… this is my 5th CNBlue fanfiction. Please enjoy. ^^

Yoona POV

Apa aku akan binasa secepat ini?

Merutuki diri sendiri atas kemalasanku dalam perburuan adalah perbuatan yang teramat sia-sia. Astaga seharusnya aku tidak terlena dengan kebahagiaan duniawi dan melupakan asal mulaku.

Kebinasaan adalah hal yang tidak kutakuti, tapi meninggalkan Mama dan Papa di Nafarelin adalah hal terakhir yang kuinginkan.

Seharusnya aku jatuh cinta sebelum aku memutuskan untuk bermetastasis. Harusnya aku menyiapkan diri sebelum masuk ke dunia manusia. Tapi semua sudah terlanjur kejadian, aku bisa melakukan segalanya, kecuali, memutar waktu dan memaksa perasaan. Memanipulasi ingatan dan pemikiran adalah keahlian bangsa nacreous. Tapi, membolak-balik perasaan bukanlah hal yang bisa kami campuri.

Di dunia bernama bumi di mana kalian tinggal, kalian mengenalku sebagai Im Yoona. Image dari salah satu girlband yang sedang menjadi topik hot dunia. Sebenarnya, aku bukanlah manusia seperti penghuni bumi kebanyakan. Aku adalah seorang nacreous. Hmmm… apa kau masih belum mengerti? Baiklah aku akan menjelaskannya secara perlahan.

Kalian tahu kan ada berapa miliar galaksi di dunia ini? Apa kalian berpikir bahwa kalian satu-satunya spesies yang menghuni galaksi? Tidak. Ada banyak bangsa di galaksi lain. Tersebar di seluruh gugusan bintang. Terpisah jutaan tahun cahaya dengan bumi. Namun bangsa yang lain itu ada. Kalian mengenalnya dengan alien. Salah satu bangsa yang menghuni galaksi lain itu adalah nacreous. Kami tinggal di galaksi Nafarelin. Menurut buku catatan sejarah di perpustakaan Papa, bangsa nacreous adalah bangsa yang paling mirip dengan manusia. Mirip, dalam bentuk fisik. Dan lagi, kami punya kesempatan untuk menjadi bagian dari kalian. Tidak semua, hanya mereka yang mau saja.

Di Nafarelin aku adalah anak dari salah satu 7 Dewan Penata. Itu adalah nama untuk semacam presiden di bumi. Setiap pasangan di Nafarelin hanya bisa memiliki satu anak. Aku beruntung menjadi putri dari Phago.

Setiap nacreous berhak memilih kemana dia akan bermetastasis. Sebagian besar memutuskan untuk tetap menjadi nacreous selamanya. Seperti Papa dan Mama. Mereka tidak pernah bermetastasis dan menjadi abadi di usia berapapun yang mereka inginkan. Selamanya yang kumaksud adalah tidak ada batasan waktu.

Sejauh ini tidak ada nacreous yang mati. Terkecuali mereka yang bermetastasis dan tidak memenuhi syarat. Bermetastasis artinya berpindah. Jadi sebelum berumur lima puluh tahun, seorang nacreous berhak untuk lahir kembali di galaksi manapun yang dia inginkan. Beberapa nacreous melakukannya untuk bersenang-senang, kebanyakan untuk berpetualang. Karena walaupun semua di Nafarelin tersedia secara gratis, tidak ada hal yang lebih menyenangkan di banding tantangan. Segala sesuatu yang tersedia di Nafarelin menjadikan nacreous haus akan tantangan. Haus akan petualangan. Hidup yang bahagia tidak selalu yang mulus-mulus saja.

Bumi adalah tempat metastasis paling favorit. Karena bagaimanapun tempat ini adalah tempat yang memiliki paling banyak tantangan. Itu menjadikannya sebagai tujuan nomor satu metastasis. Dan ketika berumur dua puluh lima, aku memutuskan untuk bermetastasis ke bumi, dan lahir sebagai seorang Im Yoona. Papa dan Mama tidak melarangku walaupun berat bagi mereka melepaskanku, bagaimanapun aku adalah anak satu-satunya dan mereka tidak bisa menghalangi keinginanku. Dan mereka juga percaya. Bahwa aku tidak akan binasa seperti para pemetastasis yang tidak memenuhi syarat. Syarat yang membuat pemetastasis binasa adalah hal yang paling tidak bisa kami kendalikan, yaitu perasaan. Kalian mengenalnya sebagai cinta.

Peraturannya adalah kalian bisa hidup selamanya sebagai nacreous tanpa bermetastasis.

Jika kalian bermetastasis, kalian harus jatuh cinta sebelum berumur 50 tahun, jika tidak, keberadaanmu akan binasa. Kebinasaan berarti kematian.

Siapa yang bisa nacreous cintai? Kemungkinannya sangat luas. Siapa saja. Bangsa nacreous sendiri. Maupun manusia biasa. Atau bangsa manapun di dunia. Jika dia bukan nacreous, setelah saling jatuh cinta maka dia akan menjadi nacreous. Kalian bisa tinggal di dunia seperti layaknya manusia hidup. Dan ketika tua, dan saatnya mati, kalian bisa kembali ke Nafarelin dan hidup selamanya sebagai nacreous. Selamanya, dengan fisik di usia berapapun yang kalian pilih.

Sebagian memilih usia 20 tahunan. Ada juga seperti Papa dan Mama yang sempurna memilih usia 40 tahun.

Jadi sekarang aku dalam masalah besar. Dua minggu lagi aku akan berusia 50 tahun berdasarkan usia nacreous. Dan aku belum jatuh cinta.

“Kau tidak kembali ke Bumi? Apa yang kau tunggu di sini? Lakukanlah sesuatu.” Wanita bergaun gading itu menghampiriku dengan gerakan anggun, dia tidak melangkah, namun menggerakkan tubuhnya seperti kapas. Kami punya kemampuan alamiah yang menyerupai terbang.

Aku memandang wanita itu dengan sedih. Cemburu. Ya, seharusnya aku bisa seperti Seo Joo Hyun. Dia jatuh cinta pada Jung Yonghwa, Putra Penata Rhino, sebelum bermetasatasis berdua ke Bumi. Mereka berdua sudah aman. Tidak dihantui kebinasaan seperti diriku.

“Tidak ada gunanya murung begitu, lebih baik kau mulai mencari sebelum benar-benar terlambat.” Ia menyentuh bahuku lembut.

Aku menatapnya miris. ”Sudah terlambat Seo.”

“Makanya kubilang sebelum benar-benar terlambat.” Ucapnya sambil menoyor kepalaku lembut.

“Apa sebaiknya aku mencari di sini saja?” tanyaku lugu.

Seohyun mendelik,”Kenapa? Kupikir kau menyukai manusia sebegitu banyak. Kau kan yang paling semangat bermetastasis di antara kita, sampai-sampai lupa menjalankan syaratnya.”

“Karena.. entahlah. Kurasa aku sudah nyaris menyerah. Jika aku binasa, apa kau akan merindukanku?” bisikku sedih.

Seohyun menatapku lembut, dengan aura keibuan yang selalu membuatku iri. “Dengarkan aku Putri Phago, kau adalah yang paling istimewa di antara kami semua. Yang perlu kaulakukan hanyalah menyukai satu orang secara intens. Lalu kau akan jatuh cinta. Dan tring. Orang itupun akan jatuh cinta padamu.”

Aku mengangguk mengerti. Bagaimanapun aku memang dilahirkan dengan pesona. Baik di nacreous, maupun di bumi. Tapi untuk yang satu ini aku benar-benar tidak tahu caranya. Aku benar-benar tidak memikirkan cinta sampai sekarang. Sampai deadlinnya hampir habis. Aku terlalu asyik menari dan menyanyi, melakukan hal-hal yang kusukai.

“Baiklah, aku akan kembali ke Bumi. Kau ikut?” tanyaku.

Seohyun menggeleng,”Yonghwa sedang cuti setelah tur dunianya, jadi kami memutuskan menghabiskan waktu di Nafarelin lebih lama.”

“Tapi aku membutuhkan kalian..”

“Untuk apa? Kau tahu perasaan itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Senadainya kekuatan kami bisa membantumu, aku dan Yonghwa akan melakukan apapun untukmu Yoong.”

Aku mengerti. Mereka berdua adalah sahabatku yang sangat peduli padaku. Dan hal seperti cinta ini adalah sesuatu yang tidak bisa mereka bantu.

“Baiklah, selamat tinggal.” Aku memejamkan mata dan membayangkan kamarku yang nyaman di dorm SNSD untuk bermetaplasi, cara kami berpindah dari bumi dan Nafarelin, maupun sebaliknya.

Seohyun menyentuh tanganku lembut, aku membuka mata.

“Usahakan untuk jatuh cinta Yoong, aku akan menderita dalam keabadian jika kau binasa.”

Aku memeluknya, dalam dan hangat. Ia adalah sahabatku. Bagian dalam kehidupanku, dan keabadianku, semoga. Kemudian aku memejamkan mata dan menghilang dari pelukan Seohyun.

~

Aku tidur di kamar lumayan lama, sebelum keluar karena merasa haus dan perlu menggerakakn tubuh. Tapi yang kudapati adalah sosok Seohyun yang nyengir lebar kerahku. Gaun gadingnya sudah menghilang, yang ada adalah kaus kedodoran warna putih bergambar keroro.

“Katanya tidak mau pulang,”bisikku pelan. Ya, karena cuma kami berdualah yang bangsa nacreous di dorm ini. Ketujuh member yang lain adalah manusia biasa.

Seohyun mengerucutkan bibirnya,”Aku dan Yonghwa sepakat kau tidak bisa mengatasi masalah ini sendirian, jadi kami akan membantu.”

Aku mengambil air di dapur dan duduk di sisi Seohyun,”Bukannya kau bilang ini di luar kemampuan kalian?”

Seohyun mengangguk,”Paling tidak kami memastikan kau berusaha.”

Aku memutar bola mata.

“Jadi kita mulai dari mana?” tanyaku kesal. Aku benar-benar frustasi atas ancaman kebinasaan ini. Bayangan Mama Papa selalu hadir ketika aku tidak memikirkan apa-apa. Ketakutan akan perpisahan dengan mereka membuatku jengkel.

“Jepang.” Ucap Seohyun yakin.

Aku menatapnya sinis. “Apa kau lupa mereka orang-orang introvert, sulit untuk jatuh cinta.”

“Yonghwa akan mengadakan konser kejutan di jalanan, jadi mungkin saja ada pria yang menarik bagimu di sana. Paling tidak pilihannya lebih banyak daripada kau terus-terusan mengurung diri di kamar.”

Aku mengangguk setuju dan kemudian kami menyiapkan bawaan untuk perjalanan tiga hari ke jepang. Tiga hari yang kuharapkan bisa menyelamatkanku dari kebinasaan.

~

Jonghyun POV

Tanah Jepang ini magis sekali. Baru menjejakkan kaki di bandaranya saja, walaupun tangan harus membawa dua gitar yang lumayan berat, hati sudah terasa tenang. Tidak ada sakura di bandara, tapi wanginya mengisi sudut-sudut kepalaku. Minhyuk yang sedang jatuh cinta mungkin yang menularkan ini padaku. Atau Yonghwa hyung yang penuh wibawa menawarkan konser dadakan ini. Namanya juga dadakan, kejutan untuk pemirsa jalanan. Aku semangat. Ah, rasanya kembali ke tahun-tahun yang lalu. Ketika kami masih harus berkejaran dengan polisi jalanan karena mengadakan latihan di pinggir jalan.

“Hyung, mau kubawakan?” Jungshin mengulurkan tangannya yang kosong padaku. Tangan satunya menenteng box berisi bass kesayangannya.

Aku menggeleng. “Tidak papa. Tidak berat.” Bohongku.

Jungshin nyengir menatapku. “Kau juga bersemangat Hyung.”

Aku mengangguk. “Seperti kembali pulang.”

“Padahal baru sebulan lalu kita konser di Tokyo dome. Tapi rasa gembiranya jauh lebih hebat sekarang. Kemewahan tidak menentukan kadar kegembiraan bukan?”

Aku memandang dongsaengku yang jangkung itu. Menatap mata bulatnya yang berbinar. “Tentu, tentu.”

Manajer hyung menyewa semacam penginapan tradisional Jepang, alih-alih hotel berbintang. Kamarku berpintu geser, berlantai kayu, namun sangat nyaman. Pukul delapan malam Jungshin mengajakku ke ruang makan. Aku terkesiap melihat Seohyun, kekasih Yonghwa duduk manis di sana, agak repot mengurusi tatanan makanan. Di sampingnya Yoona, temannya di SNSD duduk sambil mengamati ikan-ikan kecil di kolam, di depan ruang makan.

Aku menempati tempat di seberang Yoona. Melihatnya asyik mengamati ikan-ikan gembul berwarna jingga.

“Mereka lucu ya?” aku menatap ikan-ikan itu.

Yoona menatapku, sekilas saja, sebelum kembali melihat ikan-ikan itu. “Mereka kesepian.”

Aku mengernyit, bagaimana bisa? Paling tidak ada sepuluh ikan di kolam itu. mereka terlihat riang gembira berenang ke sana kemari, menggoyang goyangkan ekor mereka lincah kian kemari.

“Harap maklum Jonghyunni. Dia sedang banyak pikiran.” Seohyun berkomentar sambil menata buah di dalam piring lebar.

Aku mengangguk-angguk kecil. “Memikirkan apa?” tanyaku lembut.

Yoona menoleh pelan, menatapku. Matanya coklat. coklat terang. Apa ada yang pernah memberitahuku warna coklat itu indah? Kurasa tidak. Tapi mata ini benar-benar membuatku enggan melihat hal-hal lain.

“Cinta.” Jawabnya malas.

Aku tergelak. “Patah hati?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Itu jauh lebih baik.”

“Lalu?” aku mengernyit heran.

Yonghwa hyung yang baru datang duduk di samping istrinya dan berkata,”Kau temanilah Yoona malam ini Jonghyunni, mungkin itu bisa mengenyahkan wajah murungnya itu.”

Yoona memutar bola matanya sambil mencibir ke arah Yonghwa. “Jangan mencoba dekat-dekat aku jika tidak mau ketularan.”

Jungshin yang dari tadi memainkan Ipadnya kini menatap Yoona dengan pandangan mengejek. “Awas Yoona galak.”

Kami tergelak. Termasuk Minhyuk yang biasanya lebih suka diam.

Kemudian kami makan. Rasanya benar-benar seperti sedang makan bersama keluarga. Ah, beruntung sekali aku memiliki mereka. Aku berharap ini semua tidak akan berakhir. Selamanya. Seperti ini saja. Melihat Minhyuk yang sangat peduli pada kesehatan itu menyabotase sayur-sayur di atas meja. Melihat Seohyun memotongkan daging untuk Jungshin. Melihat Yonghwa hyung yang menatap istrinya dengan sayang. Hanya satu orang yang membuatku merasa janggal, Yoona yang dari tadi makan dalam diam. Tenggelam dalam keheningannya. Kurasa aku harus melakukan sesuatu untuk si galak ini.

~

Semua orang sedang memanjakan diri di depan televisi. Menayangkan berita dalam bahasa jepang. Seohyun bersandar di dada Yonghwa sambil mengupas jeruk. Minhyuk menulis sesuatu di agendanya. Jungshin dan menejer hyung bermain otelo di ipad. Yoona masih di ruang makan, masih mengamati ikan. Aku beranjak dari ruang tengah dan menghampirinya.

“Mereka tidak akan senang kalau terus dipandangi dengan wajah begitu,” ucapku sambil berdiri di sisinya. Tanganku menyusup di kantong jins.

Yoona mendongak dan menggeleng pelan.

“Aku masih galak.”

Aku tergelak. “Bagaimana kalau malam ini aku punya antibodi galak? Jadi kau tidak perlu takut aku tertular.”

Yoona menarik nafas dalam. “Apa maumu?”

“Es krim.” Jawabku. “Es krim coklat dengan chip coklat bertabur di atasnya.”

Yoona membulatkan matanya menatapku. “Mana?”

Aku tersenyum dan mengulurkan tangan. “Bahkan untuk segelas es krim coklat kau harus bergerak dan berusaha untuk mendapatkannya dulu Nona Im. Tidak semua hal datang hanya dengan memikirkannya.”

Yoona memandangku dalam keheningan. Sebelum menyambut uluran tanganku dan mengikutiku ke luar. Berusaha untuk mendapatkan eskrim. Ya. Eskrim dulu untuk sekarang. Yang lain-lain bisa menunggu.

~

Aku menyipitkan mata melihatnya menjilat-jilat es krim. Mana Yoona yang murung dan galak tadi? Lenyap bersamaan dengan es krim yang meleleh di mulutnya. Hal itu membuatku tersenyum. Ia lebih mudah dibuat bahagia. Itu bagus. Ada banyak sekali orang yang sulit dibuat bahagia. Sekeras apapun kita berusaha.

“Chip coklatmu buatku saja ya.” ucapnya sambil mencuil chip coklat di atas es krim yang belum kusentuh. Aku menarik es krimku.

Dia menatapku sedih.

Aku mengambil sendok dan memindahkan chip chip coklatku ke atas eskrimnya. Ia tersenyum senang. “Makasih Jonghyun~ssi.” Memerkan mata bulatnya yang menggemaskan.

“Kau yakin sudah berumur dua puluhan? Kau terlihat seperti anak TK yang baru bertemu es krim.” Ucapku tanpa berniat mengejek.

Yoona tersenyum senang, kontras sekali dengan Yoona di ruang makan tadi. “Tidak masalah umurku berapa, yang penting aku senang.”

Dua detik.

Hanya dua detik setelah ia mengucapkan itu, wajahnya kembali muram. Aku memajukan diri untuk melihatnya lebih jelas.

“Kenapa pembicaraan ini membuatmu sedih. Apa kau sedang dalam masa sensitif?”

Yoona mengernyit dengan tatapan bertanya.

“Ya, kau tahulah… sindrom yang hanya di alami wanita, namun sering membuat pusing laki-laki yang tak berdosa sepertiku.”

Yoona tergelak mendengar jawabanku. Ia berkata ringan. “Aku sedang memikirkan kematian.”

Jika hidup adalah permainan. Yoona adalah roler coster. Bagaimana bisa dia membahas kematian setelah tersenyum riang pada es krim?

“Hmm.. kenapa kau memikirkannya?”

“Karena aku merasa sangat dekat dengannya.”

“Dengan kematian?” tanyaku.

“Tidak. Denganmu.” Jawabnya asal.

Aku tersentak karena merasakan sensasi hebat di dada dan perutku hanya karena dua kata tanpa dasar pemikiran seperti itu.

“Apa kau pernah berpikir kematian akan memisahkanmu dengan banyak hal?” tanya Yoona sambil menatap ke arah lain, murung.

“Tidak.” Jawabku tenang.

Yoona mendesah. “Sudah kuduga.”

Aku memajukan tubuhku lagi. “Kita bisa mati kapan saja. Tapi hidup, hanya sekali Yoona ssi. Lebih baik menjalaninya, daripada terlalu banyak memikirkannya.”

Yoona melihatku. Diam. Hening. Tatapannya berubah dari heran ke tatapan yang jauh lebih menakjubkan. Tatapan kelembutan. Seperti yang kudapatkan setiap kali Seohhyun menatap Yonghwa hyung. Sejuta kali lebih baik.

“Pergi yuk.”

Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab, kenapa Dia menciptakan seorang gadis dengan emosi yang bisa berubah dalam satu kedipan mata. Aku membayar es krim itu dan menurut saja ketika Yoona melingkarkan tangannya di lenganku dan menyeretku keluar dari cafe itu.

Kami masuk ke pasar malam. Heran juga bagaimana seorang Im Yoona bisa menemukan pasar malam seperti ini di Jepang. Aku bertanya-tanya apa saja yang dia lakukan ketika konser di negara ini. Yoona mengajakku ke satu pertunjukan. Sederhana. Semacam teaterikal yang dimainkan sekelompok anak kecil dengan kostum baju-baju bekas yang dijahit ulang.

Mereka memainkan skenario Cinderella. Sesuatu yang sudah kutonton sejuta kali di Televisi. Tapi melihat anak kecil berusia sepuluh tahun memerankannya. Rasanya jauh lebih menarik. Lucu. Menggemaskan. Penonton tidak duduk di kursi. Hanya ada tikar yang dibentangkan untuk penonton duduk. Aku membiarkan Yoona menyandarkan tubuhnya di dadaku. Membuatnya lebih hangat. Aku merasakan tubuhnya berguncang ketika tertawa menikmati kepolosan anak-anak itu. setiap kali tawanya pecah. Aku merasakan sebuah kembang api meledak di dadaku. Membuatku merasa dikelilingi malaikat-malaikat baik yang bisa mengabulkan semua permintaanku.

Butuh segenap usaha bagiku agar tidak melingkarkan lenganku di tubuhnya dan memeluknya erat. Untunglah sandiwara cinderella itu akhirnya selesai. Diam-diam, aku menghembuskan nafas lega.

Yoona menoleh menatapku, membuat jarak di antara kami begitu dekat. “Apa kau percaya konsep bahagia selamanya?”

Aku menyipitkan mataku kemudian bersenandung pelan,”If happy ever after did exist I’ll always holding you like this…”

Yoona memukul pipiku pelan,”Cukup, lanjutannya tidak enak.”

Aku memutar bola mataku. “Aku tidak berniat melanjutkan.” Jawabku ringan.

Yoona tertawa pelan dan bangkit berdiri. Kemudian mengeluarkan uang dari saku celananya dan meletakkannya di mangkuk anak-anak itu. Seratus yen. Murah hati benar dia.

Ia mengulurkan tangan padaku. Aku meraihnya dan bangkit. Kami berkeliling pasar malam. Sekedar melihat-lihat barang-barang dan sekekali masuk ke dalam toko jika ada sesuatu yang menarik. Yang menyenangkan adalah, kami berpegangan tangan. Merasakan tangannya yang kecil dan rapuh di dalam tanganku yang besar dan hangat membuatku merasa nyaman. Merasa bahwa ini benar.

~

Yoona POV

Kupikir tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menyanyi di atas panggung di hadapan puluhan ribu penggemar yang meneriakkan namamu, yang mengacungkan banner bergambar fotomu, atau bergoyang mengikuti irama lagumu. Tapi ternyata aku salah. Duduk diam di trotoar jalanan jepang, tidak beralaskan apa-apa selain aspal hitam yang keras, tidak beratap apa-apa selain langit malam yang sepi bintang. Inilah kehidupan. Kehidupan yang kuinginkan. Aku hidup lima puluh tahun di dua planet yang berbeda. Kadang mengunjungi beberapa galaksi di waktu luang. Tapi malah di sinilah tempat yang membuatku merasa ingin berada selamanya. Di tempat di mana aku bisa menemukan tangannya yang kekar memetik senar gitar, kakinya yang panjang berpijak teguh, dan matanya yang lembut menatapku. Dunia ini lah yang kuinginkan. Dunia di mana Jonghyun sebagai porosnya. Dan aku mengitarinya.

Waktuku tinggal satu minggu. Aku tidak berniat mengucapkan perasaanku dan menanyakan perasaannya. Aku takut di sisa waktuku, aku mendengar hal yang paling tidak ingin di dengar. Aku takut di satu minggu yang tersisa, aku mengalami hal paling menyiksa seumur hidupku. Penolakan Jonghyun. Cukuplah dia ada di sini. Cukuplah aku menikmatinya begini. Walaupun itu Cuma satu minggu. Cukup. Hanya perlu orang yang kucintai berada di sisiku dan aku tidak takut pada kematian. Kebinasaan.

“Katakanlah Yoon. Letakkan dulu kepala batumu itu dan ungkapkan perasaanmu padanya.” Seohyun mengomeliku sepanjang malam. Baik di bumi atau ketika kita pulang ke Nafarelin, kadang –kadang.

“Terlalu banyak yang dipertaruhkan Yoon. Cukuplah seperti ini. Aku sudah bahagia.”

Seohyun mendengus sebal dan mengibaskan rambut panjangnya yang lembut tergerai. “Lalu kau berencana meninggalkan sahabatmu ini begitu saja?”

Aku tersenyum dan menatap matanya lembut. Tidak. Aku tidak pernah mau meninggalkan Seohyun. Mama. Papa. Tapi aku tidak ingin mundur. Ini kebahagiaan yang terlalu besar untuk kupertaruhkan. Aku ingin menikmati Jonghyun di sisa kehidupanku. Dan lagipula, aku berpikir ulang tentang kebinasaan. Mungkin tidak seburuk itu. mungkin itu adalah hal yang tidak menyakitkan. Mungkin rencana-Nya memanglah yang terbaik.

“Yoon, Papamu memanggil.” Aku mendengar Yonghwa berbisik di telingaku saat kami sedang makan malam hari itu. aku mengangguk dan menatap Yonghwa mengerti. Mereka yang sudah mendapatkan cinta sejatinya memang mendapatkan banyak hal istimewa. Seperti Yonghwa dan Seohyun, mereka bisa berhubungan dengan nacreous yang berada di Nafarelin melewati telepati.

Aku masuk ke kamar dengan dalih mengantuk. Kemudian bermetaplasi ke Nafarelin. Papa menunggu dengan kewibawaannya di kursi keluarga. Mama berdiri anggun dengan gaun putihnya yang berenda brokat. Cantik sekali.

“Ada apa Pa?” tanyaku sambil duduk di sampinya. Di atas sofa putih yang nyaman.

Papa menyentuh daguku pelan. “Anakku tidak tampak mengkhawatirkan apa yang kami takutkan.”

Matanya yang penuh kebijaksanaan menatapku redup. Sedih. Mama sudah berada di sisiku dan memeluk bahuku. Dia rindu. Tidak. Dia takut. Sama takutnya dengan Papa. Lebih takut daripada Seohyun. Jauh lebih takut daripada aku.

“Maafkan Yoona Pa…” bisikku pelan.

Papa memiliki kemampuan luar biasa. Papa bisa memantauku dari jauh. Jadi sudah pasti Papa tahu bagaimana kondisiku sekarang.

“Kalau memang itu yang kau inginkan sayang,” bisik Papa lagi. “Kami begitu mencintaimu, sehingga begitu egois untuk melepaskanmu.”

Mama memelukku erat. “Bolehkan jika Mama memaksamu kali ini nak?”

Aku mengecup pipi Mama pelan. “Hati Yoona sudah memilih. Yoona sudah memilih jalan Yoona.”

“Tidak maukah kau mengatakan padanya barang satu hari sebelum tenggat waktu?” Papa kali ini yang membujukku.

Aku menggeleng. “Waktu sehari bersama cinta sejati seperti ini Pa, begitu berharga untuk ditukar, bahkan dengan keabadian.”

Papa tenggelam dalam keheningannya. Dia sangat paham. Dia telah dilahirkan untuk menjadi pengertian. Yang paling mengerti di antara bangsa nacreous. Dialah sang pemimpin. Dan dia mencintaiku sebegitu besar. Bahkan untuk membiarkanku merasakan kebahagiaan seperti ini, ia mengorbankan keinginannya untuk selalu memilikiku dalam keabadiaan.

Mama memelukku erat. Air mata dewi itu mengalir dan menetesi pundakku, membasahi rambutku. Papa menggenggam tanganku erat. Tidak ingin melepaskan. Terlalu sulit kehilangan. Kehilangan memang begitu pedih. Apalagi jika direncanakan. Walaupun takdirlah yang menentukan. Tetapi jika satu pihak memutuskan untuk berhenti berjuang. Rasanya semua kepedihanlah yang menjadi pemenang. Rasanya begitu menyakitkan.

~

Hari ini jadwal CNBlue kembali ke Korea. Awalnya aku ingin memesan tiket pulang duluan. Karena tidak mungkin pulang bareng CNBlue. Hallo? Aku kan masih memainkan peran Im Yoona SNSD. Apa jadinya kalau netizen menemukanku pulang bareng CNBlue? Tapi kenyataannya kami harus pulang bersama. Karena Seohyun dan Yonghwa sudah memutuskan untuk mengabarkan pertunangan mereka pada publik.

Jadi peranku di sini adalah menemani Seohyun.

Tapi mungkin Jonghyun memang agak sedikit kehilangan kesadaran. Saat netizen sedang berkerumun untuk mengambil foto kami. Dia menggamit lenganku, mengaitkan jemarinya di jari-jari keciku. Menggenggamnya hangat. Aku merutuki diriku sendiri yang tidak memiliki daya untuk menghindar. Dia menarikku untuk berjalan di dekatnya. Berdiri di sampingnya.

“Kenapa sih kalian mempublikasi pertunangan sekarang? Apa tidak bisa menunda di Korea saja?” aku menggerutu pada Yonghwa dan Seohyun saat kami berdiri mengantri bagasi.

“Konferensinya kan memang di Korea oleh agensi.” Balas Yonghwa santai. Astaga. Orang ini tidak peka sama sekali.

“Iya. Tapi mereka jadi menyoroti kalian sekarang. Dan aku jadi kena imbasnya.” Seruku jengkel.

Yonghwa terkekeh pelan. “Imbasnya terlihat sangat positif untukmu.” Ia melirik jahil pada tanganku yang digenggam Jonghyun erat. Aku menyerah untuk melepaskannya. Karena bagaimanapun tangannya begitu kuat. Aku bertanya-tanya apa memang benar memetik gitar bisa membuat tanganmu menjadi seliat atlit angkat beban, dengan postur otot yang lebih ramping menawan. Nah. Masa di saat seperti ini aku masih memuja orang ini? Aku menatap Jonghyun yang fokus pada handphonenya. Dan ya. Aku tahu. Aku memuja orang ini. Menyukainya sedemikian rupa sampai kehilangan kewarasanku.

Jonghyun duduk di sampingku saat di pesawat. Ia memasang headsetnya dan memejamkan matanya. Ia tertidur bahkan saat pesawat belum take off. Sialan sekali. Aku memandanginya saat tidur. Gurat wajahnya yang tegas dan lembut membuatku terkesima. Tarikan nafasnya yang dalam dan teratur terdengar lebih indah dibanding lagu manapun yang pernah kudengar. Ia membuka matanya dan memergokiku.

“Tidak ada yang lebih menarik dibandingkan diriku ya Nona Im?” tanyanya sambil memiringkan tubuhnya ke arahku, masih sambil berbaring di kursinya.

“Sebenarnya ada. Awan-awan itu.” aku menunjuk awan-awan putih yang berderet cantik di bawah kami. “Hanya saja yang satu ini tidak ada duanya.”

Jonghyun tertawa pelan dan membenarkan poniku. “Dimana kau belajar merayu pria?”

Aku mengendikkan bahu. “Tidak di mana-mana.”

Jonghyun tersenyum. “Liar.”

Aku menatapanya tajam. “Begitukah menurutmu?”

Jonghyun mengangguk. “You are a big liar, Im Yoona.”

Kemudian dia kembali ke posisi awalnya dan memejamkan mata. Tidak terbangun sampai pesawat kami mendarat di Bandara Internasional Incheon. Aku marah. Tapi aku bahagia. Mungkin aku sudah benar-benar gila. Namun cinta ini begitu nyata. Sampai aku tidak mampu menyalahkannya karena perbuatannya dan kata-katanya yang semena-mena. Asalkan dia ada. Cukuplah ini semua.

~

Ketujuh oenniku memberondong kami dengan pertanyaan. Bukan tentang pertunangan Seohyun dan Yonghwa. Mereka sudah tahu tentang itu sejak lama. Tapi tentang aku dan Jonghyun yang berpegangan tangan di bandara. Fotonya sudah menyebar ke mana-mana. Mendominasi situs-situs penacarian di negeri ini. Aku melambai lelah pada mereka. Untungnya Seohyun mengerti dan mengambil alih semua. Aku beranjak ke tempat tidur dan terlelap.

Ketika terbangun sudah nyaris tengah malam. Dan aku sadar waktuku tingga sebentar. Aku memijat keningku pelan. Dan aku sadar, bukan ini yang kuinginkan. Aku menginginkan Jonghyun. Hidup yang lama bersama Jonghyun. Aku mengambil jaketku dan mengeluarkan mobilku dari garasi. Aku mengirimnya pesan singkat.

“Temui aku di depan apartemenmu. Penting.”

Aku tiba di apartemennya. Tapi tempat itu sangat sepi. Aku bahkan sampai naik ke atas ke depan pintunya. Mengebel berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Aku menelponnya, tapi handphone nya tidak aktif. Aku menelpon Yonghwa, Jungshin, dan Minhyuk tapi handphone mereka juga mati. Aku duduk diam di dalam mobil.

Mengirim pesan pada Jonghyun. Hanya jika ia membaca. Aku ingin ia tahu perasaanku sebenarnya.

“Aku mencintaimu Jonghyun ssi.”

Mengiriminya bertubi-tubi. Sampai aku sadar. Aku harus kembali.

Aku berjalan menuju kamar oenniku, satu persatu. Aku memandangi wajah mereka. Berlama-lama menikmati mereka dalam kedamaian tidurnya. Hidup tidak bersikap manis pada gadis-gadis ini. Hidup memainkan permainan kerasnya. Tapi gadis-gadis ini bertahan. Tersenyum ceria kapanpun mereka bisa. Meninggalkan orang-orang seperti ini begitu berat. Tapi aku tidak bisa melawan kehendak. Aku mengucapkan perpisahan dalam bisikan. Bahkan aku tidak membangunkan Seohyun. Ia pasti begitu lelah. Dengan semua kejadian hari ini, menanggung semuanya sendirian.

Jadi aku mengecup keningnya dan bermetaplasi ke Nafarelin. Jika aku harus binasa. Maka aku ingin binasa di mana aku dilahirkan. Aku bertemu Papa dan Mama yang menungguku di depan kamarku.

“Yoona…” Mama kembali ingin membujukku.

Papa menahan tangannya dan mengelus rambutku pelan.

“Terimakasih untuk kehadiranmu sayang. Kau sudah tumbuh dewasa dan bisa memutuskan. Kami percaya padamu.”

“Goodnight Ma.. Pa..” aku mengecup pipi mereka dan berjalan ke kamarku. Menutup pintunya. Aku berbaring di sana. Membiarkan takdir menentukan akhirku.

~

Apakah di alam kebinasaan malaikat menyambutmu dengan dentingan piano? Apakah suaranya benar-benar semerdu ini? Mengapa rasanya tidak sakit sama sekali. Aku tidak merasakan apa-apa. Hanya terbangun karena cahaya terang dan dentingan piano yang mirip sekali dengan yang sering kudengar saat aku kecil. Hanya saja permainannya lebih lembut. Lebih indah. Aku membuka mata dan mendapati laki-laki itu tersenyum. Tidak. Dia nyengir. Nyengir lebar sekali ke arahku. Dengan dua lesung pipi yang begitu indah. Dan mata yang begitu lembut. Coklat cair.

“Pagi dear deer…”

Aku terkesiap dan duduk di… ranjangku!

Tuhan! Ini kamarku. Ini ranjangku. Ini pakaian yang kupakai semalam sebelum tidur. Dan itu yang sedang ia mainkan adalah piano yang memang sudah ada di sana sejak aku kecil. Dan itu. yang duduk dengan kemeja putih dan celana jins itu adalah Lee Jonghyun. Apa yang dia lakukan di sini? Di Nafarelin? Bagaimana caranya ia ke sini? Diakan manusia?

“Ah, padahal aku mengharapkan satu pelukan hangat saat kau bangun.” Dia menghentikan tarian jemarinya dengan satu dentingan lembut.

Dia menghampiriku dengan tenang. “Kau memelototiku nona Im.” Ucapnya memperingatkan.

Aku membuka mulutku namun dia meletakkan jarinya di bibirku.

“Kau ingin memarahiku? Aku sedang tidak ingin berkelahi pagi-pagi begini.” Ia duduk di sisiku dan merapikan rambutku dengan jemarinya.

“Maafkan aku ya karena tidak bisa dihubungi tadi malam. Maafkan aku juga karena tidak peka. Aku tidak tahu bahwa wanita yang begitu kupuja ternyata begitu bodoh dan terlalu percaya diri.”

Aku bersiap untuk menyemburnya dengan pertanyaan, namun yang kulakukan adalah terkesima oleh mata coklatnya.

“Aku tidak tahu bahwa waktumu tinggal sebentar. Aku juga tidak tahu bahwa kau juga punya perasaan yang sama padaku. Sebenarnya aku mengamatimu sejak dulu. Sejak kita kecil. Karena Papa selalu membangga-banggakanmu. Aku selalu menganggapmu sombong dan lain sebagainya karena kau terlalu euhmm… mandiri. Dan bersemangat. Jadi ketika kau bermetastasis sebagai Im Yoona, aku mengikutimu ke Korea, sebagai Lee Jonghyun. Hanya karena aku penasaran. Dan karena Mama begitu menyukaimu. Kau tahu, dia selalu saja menanyakan keadaanmu pada Mamamu. Saat kita mulai dekat akhir-akhir ini, kupikir kita bisa pelan-pelan. Aku ingin mengenalmu dengan benar. Dengan cara yang semanusia mungkin. Karena aku tahu, kau begitu menyukai manusia. Itu membuatku kehilangan kepercayaan diri untuk mengatakan padamu bahwa aku adalah putra Sias, penata keempat.”

~

Jonghyun POV

Aku menahan nafas. Menunggu kalau-kalau saja dia menamparku atau mendorongku menjauh. Tapi yang dia lakukan hanyalah menatapku dengan mata bulatnya. Jadi aku melanjutkan pengakuanku. Berhati-hati.

“Dan aku mencintaimu. Sejak dulu. Di Nafarelin dan di bumi. Aku mencintai putra Phabo, Im Yoona-nya SNSD.”

Ia masih tidak bereaksi.

“Yah.. walaupun dia bodoh, pembohong, dan tukang mengamuk.”

Plak

Ia memukul lenganku keras. Aku meringis kesakitan. Hanya berpura-pura. Bagaimanapun aku nacreous. Kami tidak mudah merasa sakit. Kemudian aku merasakan lengannya memeluk leherku. Merasakan wangi rambutnya dan hembusan nafasnya di bahuku.

“Terimakasih…” bisiknya.

“Tidak gratis.” Jawabku.

Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tatapan bertanya.

“Mamaku sudah merencanakan pesta pernikahan besar di dome Nacreous dan mengundang tamu dari paling tidak seratus galaksi.”

Yoona meringis. Aku tahu Mama memang berlebihan. Tapi aku juga mengerti. Mama sangat menyukai Yoona. Ia telah menunggu hal ini sejak lima puluh tahun lalu.

“Seheboh itu?” tanya Yoona.

Aku mengangguk. “Belum lagi rencana ibu-ibu penata yang lain. Kau tahu mereka super sekali kalau masalah pesta begini. Mungkin mereka berbakat menjadi pemilik wedding organizer besar kalau tinggal di bumi.”

Yoona tergelak dan memukul bahuku pelan. “Mamaku memang begitu juga.” Akunya. “Kau nacreous?” tanyanya masih tidak percaya.

Aku melambaikan tanganku asal dan membuat kamarnya menjadi mengalami hujan bunga sesaat. Ia tersenyum senang dan menatapku lembut.

“Indah…” bisiknya.

Aku tersenyum.

Ia menatapku, meraih tanganku. “Masih ada lagi. Bagaimana kau bisa membatalkan kebinasaan? Kau kan tidak bisa kuhubungi semalam.” Ia merengut lucu.

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Kemarin aku Yonghwa, Jungshin, dan Minhyuk pulang ke nacreous, jadi handphone kami mati. Kemudian Yonghwa hyung menceritakan semua tentang kau. Jadi aku buru-buru kembali ke bumi. Tapi kau sudah tidak ada. Jadi aku ke sini. Kau tahu ayahmu sudah sangat marah karena katanya dia sudah menungguku sampai mengancam akan membuangku ke galaksi badai kalau tidak membawamu keluar dari kamar ini hidup-hidup dan segera menikahimu setelah keluar.“

Yoona tersenyum senang. Senyum yang begitu memesona. Senyum sederhana yang keindahannya tak bisa kuceritakan dengan kata-kata yang ada.

“Lalu… aku masuk ke kamarmu. Dan membisikkan di telingamu kalau aku mencintaimu. Kemudian mencium keningmu.”

Dia melotot lagi. “Kenapa tidak membangunkanku? Kukira aku sudah binasa dan terbangun di alam kebinasaan.”

Aku mengerang. “Kalau kau terbangun saat itu, aku tidak yakin akan bertahan sekuat ini.”

“Maksudmu?” tanya Yoona tajam.

Aku menggeleng pelan. “Tidak usah dibahaslah.”

Yoona menarik kemejaku. “Kau tidak boleh keluar kalau tidak mengatakan apa maksudmu.”

Aku menatap si kepala batu ini dengan lembut dan berkata pelan. “Aku suka melihatmu tidur. Jadi aku tidak ingin membangunkanmu.”

Yoona tersenyum dan berkata,”Begitu juga aku.”

Aku mengacak rambutnya sayang. “Ayo kita keluar. Aku tidak ingin ayahmu masuk dan membuangku ke galaksi badai. Oh ya kau juga berutang penjelasan pada oenni-oennimu, kasihan Seohyun, menghadapi mereka sendirian.”

Wajahnya berubah khawatir. “Apa yang harus kukatakan pada mereka?”

Ya ampun. Setelah semua yang kulakukan dia masih bingung mau bilang apa. Aku menariknya bangkit. “Katakan pada mereka untuk memesan gaun yang bagus agar tampil cantik di pesta pernikahan kita.”

“Bagaimana cara membawa mereka ke Nafarelin?”

“Untuk apa ke Nafarelin? Kita akan menikah di Bumi.”

“Tapi Mama…”

“Kita akan menikah di bumi setelah pernikahan di Nafarelin selesai.”

“Apa?!” Yoona  bereteriak protes.

Aku mendengus. “Memangnya kau cuma jadi istriku di Nafarelin. Aku ingin kau menjadi istriku di mana saja. Kalau perlu kita menikah di semua galaksi yang ada di semesta ini.”

Yoona menepuk pundakku pelan sambil menggelengkan kepala. “Kau serakah sekali Lee Jonghyun.”

Aku menariknya dan mengecup pucak kepalanya lembut. “Untuk si kepala batu ini aku akan jadi orang paling serakah sekaligus paling pelit di dunia. Aku tidak ingin membagimu dengan siapapun. Tapi aku akan memberikan segalanya untukmu. Segalanya Im Yoona.”

Yoona tersenyum dan mendongak menatapku. “Untuk awalnya. Terimakasih telah memberiku keabadian.” Ia tersenyum malu sebelum mengecup pipiku cepat. “Aku mencintaimu.”

“Aku sangat mencintaimu,” sahutku lembut.

~

19 thoughts on “Fairytale

  1. sweet luar biasaaaaaaaa
    aaaaaaaaaaaa selalu yoona yg dibuat pusing galau padahal jonghyun juga cinta dan harus buat keputusan sebelum binasa itu..

    aaaaaaa kerenlah ini. jongyoon couple jjang.

  2. kyaaaaa…
    kerennnnn, sweeeeeeettttt bgt
    suka bgt pairing ini jonghyun-yoona..
    feelnya dapet, karakter dapet,
    romansanya ihihihi nice!

    • hhaha makasih fla. iya nyoba2 genre baru. eh ternyata bisa juga.
      eh aku liat profile kamu anak fk juga ya? senengnya.. jarang bget nemu tmen ank fk yg juga suka nge-ff.😀

  3. pas baca awalnya pusing tapi lama kelamaan ngerti dan suka banget author..
    ini kereeen,, daebak, sweet,, romantis..
    pokonya keren banget,,, 4 jempol deh buat author,, author jjang..
    bikin lagi ff jonghyun – yoona ya?? ya??

  4. So sweet…. critaNya bgus bgt, bner2 bda dah. g nyangka trnyta smua anggota cnblue dr Nafarelin.

    Haha… psti lcu bgt lht muka JungShin blg Awas Yoona galak!

  5. Yonghwa? Seohyun? Kdua magnae shinie, hyukkie? Yg plg waw itu Jonghyun !! Ternyata bangsa nacreous kirain manusia tulen *plak!* kalo sm Yoona si bang burning jatoh-nya jd kocak kekeke sooo sweeeeettttt author keren bgt bisa punya imajinasi secemerlang itu daebbak ^^ !! Baca penggambran jonghyun selalu kelihatn muka super ganteng-nya itu pdahal biasku bang choding si gingsul menawan tapi pesona muka jong itu sesuatu #abaikan ._.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s