Eyes on You

Eyes on You

 

Title:                Eyes on You

Author:            Flazia

Rating:            PG-15

Genre: Romance, Action (?)

Length:            One shoot

Main Cast:       Lee Jong-Hyun CNBLUE || Im Yoon-Ah SNSD

Other Cast:      Jung Yong-Hwa CNBLUE|| Choi Soo-Young SNSD || Im Dong-Hyun (OC) || Choi Matthews (OC)

Disclaimer:      Sebenernya cerita ini terinspirasi film2 action yang sering kutonton, tapi gatau nih, kayaknya ga jadi – -’, tnyta nulis cerita romace-action itu sulit bgt. hehe. jadi, cerita ini asli imajinasiku sendiri ya.

Note:               Maaf ya kalau aneh >_<

Kayak FF yg pernah aku buat sebelum2nya, ini ttp pake 2 sudut pandang ya. JH sm yoona. ^^. Makasih buat semua orang yang nyempetin waktu buat baca dan komen FF ini. Gomawooo. Happy Reading!

 

Lee Jong-Hyun

Siang ini, dari balkon lantai dua perpustakaan Departemen Hukum Universitas Daejeon, pandanganku masih tidak lepas dari gadis itu, gadis yang sedang makan siang di kafetaria seberang gedung ini.

Gadis-gadis di sebelahnya mulai menunjuk-nunjuk ke arahku dan berteriak kegirangan, beberapa ada yang melambaikan tangan padaku. Tapi tidak sama sekali dengan gadis yang masih menjadi fokus visusku sekarang. Bahkan setelah sahabat dekatnya, Choi Soo-Young, terlihat memberitahu bahwa aku sedang memperhatikan mereka, gadis itu tetap tidak berubah menjadi salah tingkah atau semacamnya.

Soo-Young bahkan sudah melambaikan tangan padaku dan dari gerakan bibirnya, terbaca ‘Jong-Hyun, sudah makan siang?’. Selagi tangan kanannya melambai padaku, tangan kiri Soo-Young menepuk tangan gadis itu agar dia juga ikut melambaikan tangan padaku.

Gadis itu menoleh dengan terpaksa dan sekarang tatapan kami berhasil bertemu.

Aku tersenyum.

Sementara gadis-gadis lain di sana mulai menjerit tidak karuan, gadis itu masih tidak terkesan dengan senyumanku barusan.

Im Yoona. Ya, sekarang aku benar-benar bisa melihat wajahnya.

Yoona menjulurkan lidah padaku lalu mengacungkan jari tengahnya padaku. Aku tersenyum sinis, menarik salah satu sudut bibirku. Ha! Yang benar saja…

Tiba-tiba ponselku berdering ketika kulihat Yoona mendekatkan ponselnya ke telinga.

“Berhenti memperhatikanku!”kata Yoona di telepon.

“Aku hanya memastikan kau baik-baik saja,”jawabku.

“Satu-satunya hal yang membuatku tidak baik-baik saja adalah dirimu sendiri, tahu!”katanya lalu menutup telepon.

Baiklah, kalau dia sudah tidak mau diperhatikan lagi seperti ini, aku akan menghampirinya saja.

Bukannya aku menyukai Yoona atau semacamnya sehingga aku memperhatikannya terus menerus, tapi ini adalah tugasku. Im Yoona adalah putri tunggal dari Jaksa Im Dong-Hyun dan karena beberapa alasan, untuk sementara ini Jaksa Im merekrutku untuk menjaga Yoona. Mudahnya, sekarang aku adalah bodyguard Yoona. Kenapa Jaksa Im memilihku? Karena aku adalah putra pemilik perguruan judo di Busan dan aku cukup terlatih untuk melindungi orang.

“Kau ditugaskan hanya untuk memastikan aku tidak pergi clubbing lagi. Selebihnya tidak bisakah aku bebas?”tanya Yoona setelah kami bertemu.

“Kau dalam bahaya, Yoona,”jawabku, sambil terus berjalan di sampingnya menuju ruang kuliah.

“Uhh! Kau ini tidak bisa mengerti juga ya? Bahaya dalam versiku adalah kau, Jong-Hyun! Aku tidak suka dilindungi oleh orang sepertimu!”

Aku berhenti berjalan dan menatap Yoona,”Dengar, aku juga tidak suka direpotkan seperti ini, aku hanya butuh bayaran dari ayahmu. Mengerti?”

Yoona mendesah kesal,”Dasar mata duitan!”

“Berhenti menggerutu!”suruhku.

“Aku lelah, Jong-Hyun! Kau sadar tidak sih teman-temanku mulai jahat padaku hanya karena mereka mengira aku sok dekat-dekat dengan pria idaman mereka? Seharusnya kau tetap di Universitas Seoul dan tidak pindah ke mari hanya untuk menjagaku! Aku bukan anak kecil! Kalau pergi ke bar dan clubbing adalah masalahnya, aku berjanji demi bangsa dan Negara, aku tidak akan pernah melakukannya lagi!”

Aku tersenyum dan mengangguk-angguk,”Bagus. Itu komitmen yang bagus.”

Wajah Yoona berubah menjadi cerah,”Ohya? Jadi kau akan berhenti menjagaku?”

“Sayangnya tidak.”

“Uuuuuuuh! Dasar menyebalkan!” seru Yoona lalu mengubah arah jalannya untuk menjauhiku

 

 

Hh, hanya kutinggal sebentar saja dia sudah tidak bisa memegang perkataannya…

Aku segera masuk ke salah satu bar yang sering Yoona kunjungi. Ada banyak orang di sana, tempat ini benar-benar tidak aman untuk Yoona.

“Jong-Hyun ssi!”teriak Yong-Hwa hyung, salah satu bartender di bar ini.

Aku mendekatinya dan di meja panjang bar aku melihat Yoona bersama botol alkohol yang isinya nyaris habis. Ya Tuhan, sudah sebanyak apa dia minum?

“Aku sudah mencegahnya, tapi dia tidak mau dengar. Dia bahkan mengambil botolnya sendiri di lemari,”kata Yong-Hwa hyung.

“Sejak kapan dia di sini, Hyung?”tanyaku.

“Belum lama. Kurasa dia tahu kau akan datang menjemputnya, karena itu dia buru-buru menghabiskan minumannya. Bawa dia pulang sekarang, Jong-Hyun. Dia sudah mabuk berat,”kata Yong-Hwa hyung.

Ya Tuhan, aku benar-benar tidak bisa membawa Yoona pulang dengan keadaan seperti ini.

Aku memapah Yoona berjalan dan gadis itu mulai bernyanyi dengan nada melengking, semakin lama semakin tidak jelas.

“Jongieeeee, seharusnya kau ikut minum bersamakuuuuu, tahuuuu. Seharusnyaaaaa kau temani akuuuuu—“Yoona berhenti bicara lalu membekap mulutnya sendiri.

Aku segera memapahnya ke gang di samping bar. Yoona berjongkok dan memutahkan semua isi perutnya. Aku memijat-mijat tengkuknya agar dia muntah dengan lebih mudah. Pantas saja Jaksa Im khawatir dengan kebiasaan putrinya untuk pergi ke bar.Sudah dibilang jangan minum-minum lagi, tapi dia tidak mau dengar…

Setelah selesai muntah, Yoona bangkit berdiri lalu membersihkan mulutnya dengan bajunya sendiri.

Oh, bagus. Steril sekali.

Aku segera meyodorkan sapu tanganku agar dia berhenti mengotori pakaiannya.

“Sudah puas?”ujarku,”Sudah berapa kali kau muntah-muntah seperti ini tiap kali minum? Hah? Ada yang pernah ingat janji tidak ke bar demi bangsa dan Negara?”

Yoona memandangiku dengan mata berkaca-kaca lalu menangis.

Makin lama tangisannya makin keras.

E-Eh? Biasanya aku memarahi Yoona seperti ini, tapi dia tidak pernah menangis sebelumnya. Aduh, apa kali ini aku terlalu keras—

“Jongieeeeee! Aku melihat dia berselingkuh! Aku melihat dia mencium gadis lain, Jongieeeeee… Aku melihat dia mengkhianatiku, Jongieeeeeee….”

Aku menghela nafas panjang. Astaga, jadi ini penyebab dia kehilangan kontrol?

Tentu saja ‘dia’ yang Yoona maksud adalah pacarnya. Aku sudah tahu laki-laki itu brengsek, tapi memberitahu Yoona tidak akan berpengaruh banyak, gadis itu tidak akan mendengarku.

“Jongieeeee… Jongieeeee… Jongieeeeeee… Jongieeeee,”Yoona terus menangis sambil memanggil namaku.

Ck, jadi sebenaranya siapa yang membuatnya patah hati? Pacarnya atau aku? Kenapa dia justru memanggil namaku?

Orang-orang yang melintas mulai memperhatikan kami karena suara tangisan Yoona semakin keras.

“Jongieeee…. dia mengkhianatiku, Jongieeeee…. Jongieeeeee….”

Hh… Yoona…

Perlahan, aku memeluk Yoona sejenak dan gadis itu terkejut sampai-sampai tangisnya langsung berhenti.

“Sudahlah, kau layak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dia,”ujarku.

 

 

Aku sedang menekuri berkas tersangka pembunuhan sadis Choi Matthews ketika Yoona keluar darikamarku.

Aku segera memasukkan berkas-berkas itu ke dalam tas sebelum Yoona melihatnya.

Malam ini aku membawa Yoona ke apartemenku. Aku hanya tidak tega Jaksa Im melihat putrinya mabuk lagi. Jadi kubilang pada Jaksa Im, Yoona baik-baik saja bersamaku, sedang mengerjakan tugas (lebih tepatnya aku yang mengerjakan tugas dan Yoona tidur).

“Ada pakaian baru di atas meja, aku tidak tahu bagaimana seleramu, tapi untuk sementara, lebih baik kau memakainya,”kataku memberitahu.

Kemarin aku sempat membeli celana jeans, kaos, dan sweater bewarna navy blue yang mungkin cocok untuk ukuran Yoona.

“Tadi malam kau tidur di mana?”tanya Yoona setelah ganti baju. Ternyata baju yang kubelikan tidak buruk juga, atau memang Yoona benar-benar cantik sehingga apapun yang dia pakai terlihat bagus?

“Di sini, di sofa. Kenapa?”balasku.

Yoona mengangguk,”Hmm aku kira karena kau bodyguard-ku, bahkan kalau tidur pun kau juga akan menemaniku.”

Aku mengernyitkan dahi dan menyentuh kening Yoona, memastikan dia demam atau masih mabuk. Tapi dia tidak demam, aku yakin dia baik-baik saja.

“Dasar gila!”seruku.

Yoona malah tersenyum,”Terima kasih.”

Aku terkejut lagi, orang ini kenapa sih?

“Aku mengataimu gila dan kau berterima kasih?”tanyaku heran.

Yoona menggeleng cepat,”Bukaaaan! Aku berterima kasih karena kau membawaku ke mari dan tidak bilang pada Ayah kalau aku mabuk lagi.”

“Tentu saja. Kalau aku memberitahu Jaksa Im tentang ini, aku bisa dipecat karena lalai,”jawabku.

“Iiiih! Jadi kau melakukan ini untuk keuntunganmu sendiri?!”protes Yoona.

Aku tersenyum lalu menyalakan televisi. Aku sengaja tidak menjawab protes Yoona, biar dia sendiri yang menilai untuk apa aku melakukan semua ini padanya.

“Mmm, dasar Tuan Sok Keren! Pakai acara berdalih segala! Aku tahu kok kau menjagaku dengan baik demi aku. Aku tahu kau orang baik,”lanjut Yoona.

Aku mengangguk mengerti,”Bagus kau sadar kalau aku ini orang baik.”

Yoona tersenyum lagi padaku,”Tahu tidak, Jongie? Sepertinya aku mulai menyukaimu.”

Aku tertawa,”Tidak perlu. Aku belum siap dijadikan pelarian setelah kau putus kemarin.”

“Iiiiih, bukaaaan! Tapi serius kok, sepertinya aku mulai menyukaimu.”

Aku terdiam sebentar, untuk memastikan apa Yoona sedang bercanda atau tidak, atau bahkan dia masih mabuk? Ini bukan tanggal satu April, jadi ini bukan Fool’s day kan? Tapi kenapa Yoona tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia tidak serius?

Aku bangkit dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan, lalu Yoona mengikutiku.

“Kenapa kau diam saja?”tanya Yoona.

“Jangan pernah menyukaiku, Yoona,”ujarku pelan.

“Kenapa?”tanyanya lagi.

“Pokoknya jangan,”suruhku, padahal jauh di dalam hati ini, mungkin saja cintaku pada Yoona justru lebih besar jumlahnya dan bahkan aku mulai merasakannya sebelum semua ini terjadi.

Yoona mengambil kotak garam rendah natriumku dari pantry.

“Kenapa aku tidak boleh menyukaimu? Apa kau sakit?”tanya Yoona lalu mengacungkan kotak garam itu,”Kau hipertensi akut ya? Atau jantung koroner? Atau diabetes?”

Aku tertawa. Astaga, dasar korban drama! Kalau aku menyuruhnya untuk tidak menyukaiku, bukan berarti aku sedang sakit keras.

“Kalau kau tidak sakit, lalu kenapa aku tidak boleh menyukaimu, Jongie…. atau… Ya Tuhan! JANGAN-JANGAN KAU GAY YA?!”pekiknya.

Im Yoona

“Berapa bayaran yang kau terima?”

Jong-Hyun menggeleng,”Kau tidak akan bisa menghitungnya.”

“Ohya? Memangnya apa yang Ayahku berikan padamu? Emas? Ferrari? Rumah mewah?”

Dan setelah aku menyebutkan sekitar 15 barang mahal lainnya, Jong-Hyun masih belum menjawab pertanyaanku. Memangnya apa yang dia terima dari Ayahku?

“Ya Tuhan! JANGAN-JANGAN AYAHKU MEMBERIMU ISTRI!”pekikku.

BURRRRRRR! Spontan Jong-Hyun menumpahkan teh gingseng dari mulut sebelum sempat meneguknya.

Ya ampun, untung dia tidak menyembur ke arahku. Astaga! Jangan-jangan Ayah memberi Jong-Hyun istri sampai dia salah tingkah begini?

“Jangan-jangan… Calon istrimu adalah… aku?”tanyaku.

Jong-Hyun terkejut lalu menatapku. Sedetik kemudian dia mulai mengelus tengkuknya tanda dia gugup.

“Ya…. M-Memang. Tapi kau jangan marah dulu. Jangan salah paham dulu, Yoona. Bagiku kau sama sekali bukan bayaran, kalaupun kau adalah calon istriku, kau adalah… kau adalah tujuanku, karena itu aku tidak akan bisa menghitungnya…”

Kau adalah tujuanku

Astaga, apa kalian dengar itu?

“Te-Tentu saja aku tidak akan marah, Jongie…”ujarku riang.

“Hah? Kenapa kau harus marah?”tanya Jong-Hyun heran.

E-Eh? Lho? Kenapa ekspresi Jong-Hyun dingin seperti itu? Jangan-jangan tadi aku hanya berkhayal? Astagaaa, Yooonaaaa, kenapa kau jadi norak begini? Tentu saja calon istri Jong-Hyun bukan aku, dia kan sudah bilang aku tidak boleh menyukainya. Pasti dia juga tidak menyukaiku dan bisa-bisanya aku masih berpikir seperti itu. Aduh, malunyaaa…

“Hmm, jadi Ayah memberimu wanita seperti apa?”tanyaku, sekaligus menyembunyikan rasa malu dan salah tingkahku,” Yang cantik? Yang seksi? Yang jago masak?”

Dan setelah aku menyebutkan sekitar 15 tipe wanita idaman bagi pria lainnya, lagi-lagi Jong-Hyun tidak merespon dan masih sibuk membersihkan kemeja flanelnya dari teh ginseng.

“Jadi, apa, Jong-Hyun? Apa bayaran dari Ayah untukmu?”tanyaku lagi.

Jong-Hyun beranjak dari tempat duduknya lalu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya,”Sebentar lagi kita kuliah. Ayo, nanti terlambat.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku!”seruku sambil mengikutinya.

Jong-Hyun terhenti saat membuka pintu apartemen, lalu dia berbalik ke arahku.

“Bayarannya… hutang budiku lunas.”

 

 

“JONG-HYUN! DI MANA KAU, BOCAH?!”aku mendengar suara itu bergema di udara basement parkir apartemen.

“Yoong! Bersembunyi di sini! Aku sudah menelepon polisi! Tunggulah di sini!”suruh Jong-Hyun, mengabaikan suara itu dan justru berusaha menyelamatkanku.

“Aku takut, Jong-Hyun…”

“Oke, dengarkan aku. Apapun yang terjadi, tolong tutup telingamu dan pejamkan matamu!”

“Jangan pergi, Jong-Hyun!”

“Aku akan kembali! Ayo lakukan yang kusuruh tadi. Jaga dirimu baik-baik di sini!”

Sebelum aku berusaha mencegahnya lagi, Jong-Hyun sudah berlari entah ke mana. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Awalnya kami hanya ingin berangkat kuliah. Ketika kami sampai di tempat parkir basement, tiba-tiba saja kami mendengar suara tembakan. Aku tidak tahu siapa yang menembak dan siapa yang ditembak, tetapi Jong-Hyun segera membawaku ke mari dan menyuruhku bersembunyi.

Aku segera menutup telinga dan memejamkan mata lalu tiba-tiba ada suara tembakan. Bahkan ketika aku menutup telinga, aku masih mendengar suara itu. Ya Tuhan, tolong lindungi Jong-Hyun…

DORR! DORR! Dua tembakan kembali kudengar. Aku semakin menekan telapak tanganku ke kedua telinga agar aku tidak mendengar apa-apa lagi. Tapi aku tetap mendengar suara tembakan bertubi-tubi dan… dan aku mendengar suara Jong-Hyun.

Ya Tuhan, Jong-Hyun menyuruhku untuk tetap menutup mata dan telinga. Tapi aku ingin pergi menyusul Jong-Hyun. Kenapa Jong-Hyun? Kenapa kau menyuruhku untuk menutup mata dan telinga? Kenapa kau menyuruhku untuki diam saja seperti ini? Kenapa kau harus melindungiku seperti ini?

Tiba-tiba suara orang-orang semakin mendekat. Jong-Hyun, ini tidak berhasil. Aku tetap bisa mendengar meski telingaku tertutup.

“JANGAN SENTUH DIA!”aku mendengar Jong-Hyun berteriak dan aku mulai menangis.

Lalu aku mendengar pintu gudang mulai didobrak. Orang-orang itu ke mari! Ya Tuhan…

“Hai, Nona Yoona,”aku mendengar suara berat seorang pria.

“Tetap di sana, Yoona! Jangan membuka mata dan telingamu!”teriak Jong-Hyun.

Kenapa kau menyuruhku tetap diam padahal mereka sudah ke mari Jong-Hyun? Apa aku bahkan tidak bisa punya kesempatan untuk lari? Apa kau juga tidak bisa menggenggam tanganku sekarang dan mengajakku lari dari sini?

“Tidak bisa, Jong-Hyun! Aku sudah berusaha, tapi aku tetap bisa mendengar semuanya!”

Setelah itu aku mendengar Jong-Hyun mengerang kesakitan.

“Ya, buka saja matamu, Nona. Jong-Hyun tidak akan marah. Benar kan, Jong-Hyun?”ujar pria itu.

Dan setelah aku membuka mata, aku melihat mulut peluru tepat di depan mataku, tapi justru bukan itu yang aku khawatirkan sekarang. Aku melihat kaki pria itu menekan dada Jong-Hyun. Jong-Hyun kesakitan. Dia tergeletak tidak berdaya. Ada darah di mana-mana… Ya Tuhan… Jongieeee…

“JONG-HYUUUUUN!”tangisku.

“Tidak perlu khawatir, Nona Yoona. Walaupun aku membuat semua ini lebih menyakitkan untuk Jong-Hyun, aku akan membuatnya lebih mudah untukmu…”

DORR!

 

 

“Mereka terlalu banyak, Pak. Maafkan aku,”rintih Jong-Hyun ketika tim medis segera membawanya ke ambulans.

Aku tidak percaya ini. Apa yang baru saja terjadi? Aku takut sekali…

“Jangan takut, Yoona… Sudah aman sekarang…”kata Jong-Hyun, seperti tahu apa yang sedang kupikirkan.

Aku mengikuti tim medis yang membawa Jong-Hyun, tapi pintu ambulans segera ditutup. Ada apa ini, Jongie? Ada apa?

“Seharusnya kalian datang lebih awal! Kalau kalian terlambat setengah detik daja, Putri Jaksa pasti sudah tertembak!”aku mendengar komandan menegur anak buahnya.

Ada apa ini Jong-Hyun? Kenapa aku tidak tahu apa-apa?

“Yoona! Ayah senang kau baik-baik saja…”aku melihat Ayah datang memelukku.

Tunggu, aku tahu Ayah pasti ada di balik semua ini…

 

 

“Choi Matthews. Jika ayah tetap mengajukan tuntutan atas kasusnya di pengadilan, dia akan membunuhmu,”jelas Ayah.

Choi Matthews? Tapi… tapi aku masih belum mengerti. Ini masalah Ayah, kan? Inisama sekali bukan masalahku, apalagi masalah Jong-Hyun!

“Tapi kenapa aku, Ayah? Kenapa dia tidak membunuh Ayah saja?”tangisku putus asa. Maksudku, memangnya ada apa ini? Seharusnya semua ini tidak perlu terjadi. Aku, Jong-Hyun, atau Ayah seharusnya tidak perlu mengalami hal-hal seperti ini…

“Dia juga pasti akan melakukan itu, Yoong. Bagiku tidak apa-apa, tapi kau harus selamat,”kata Ayah.

“Dan karena itu Ayah mengirim Jong-Hyun? Tugasnya hanya melarangku untuk pergi ke bar, bukan mempertaruhkan hidupnya seperti ini! Dia tidak tahu apa-apa dan sekarang dia sekarat karena menyelamatkanku, Ayah!”

“Dia tahu, Sayang. Dia bahkan yang pertama kali tahu. Sebelum kami melakukan penyelidikan untuk menangkap Choi, Jong-Hyun sudah menyelidikinya sendiri ketika menjagamu karena selama ini anak buah Choi selalu mengikutimu. Dia mendapat info tentang bagaimana Choi beraksi, di mana markasnya, apa motifnya, semua dilakukan Jong-Hyun sendiri.

“Jong-Hyun sudah tahu mereka akan menyerang apartemennya lebih dulu agar kau lebih mudah dibunuh, jadi Jong-hyun memasang banyak kamera tersembunyi di basement ini untuk mendapat bukti dari penyerangan yang dilakukan Choi. Rencana Jong-Hyun belum selesai, tapi Choi sudah terlalu cepat menyerang, jadi Jong-Hyun harus mengorbankan dirinya sendiri. Dia tahu sekali dia sedang dalam bahaya. Sebenarnya selain Jong-Hyun, diam-diam ada banyak orang yang Ayah kirim untuk melindungimu, tapi semuanya sudah Choi bunuh sebelum datang ke mari.”

“Dan Ayah masih tega menggunakan Jong-Hyun sebagai umpan untuk penyelesaian kasus ini? Hanya karena Jong-Hyun berhutang budi, Ayah tidak boleh memanfaatkan Jong-Hyun!”

Ayah terkejut setelah mendengar ucapanku barusan.

“Di-Dia memberitahumu?”tanya Ayah terbata.

Aku mengangguk. Ya, Ayah, dia memberitahuku.

“Aku tidak pernah bilang begitu, Sayang. Kalaupun aku pernah menyelamatkan Jong-Hyun dari penculikan waktu itu dan mengantarkan Jong-Hyun kembali ke orangtuanya, itu adalah kewajibanku sebagai penegak keadilan. Aku tidak pernah memaksanya, tapi dia benar-benar ingin melindungimu…”

Jong-Hyun… Ayah, sekarang Jong-Hyun bagaimana?

Jong-Hyun… Kenapa kau ingin melindungiku?

Kaubenar-benar melindungiku dengan nyawa. Jadi, ini alasanmu melarangku untuk menyukaimu? Kau memang tidak sakit, tapi kau tahu sebentar lagi kau ada dalam bahaya. Karena kau bahkan rela mati untuk melindungiku dan kau tidak mau aku bersedih saat kau menghilang nanti? Iya kan… Jongie?Iya kan? Kumohon… Aku mohon padamu… Bersumpahlah padaku, jangan pernah menghilang dariku…

 

 

Sejak hari ini, selama pemulihan Jong-Hyun akan pulang ke Busan. Cukup jauh dari sini, dari Seoul. Rasanya sepi sekali berangkat ke kampus tanpa Jong-Hyun. Dulu aku benci sekali padanya karena kebebasanku terbatas, tapi sekarang… aku sadar semua itu dia lakukan untuk melindungiku.

“Jongie…”panggilku, terlebih justru untuk diriku sendiri.

Sekitar 5 jam yang lalu aku mengiriminya SMS, tapi dia belum membalas. Mungkin sekarang dia sedang tidur untuk masa pemulihan. Setidaknya aku bersyukur Jong-Hyun masih hidup, pokoknya setelah ini aku harus membalas kebaikan Jong-Hyun.

“Ada apa?”aku bahkan ingat suara Jong-Hyun yang kudengar setiap aku sedang bersedih. Dia selalu memperhatikanku. Dia selalu peduli padaku.

“Kenapa diam saja?”

E-Eh? Tapi aku tidak pernah ingat suara Jong-Hyun tentang ‘kenapa diam saja’?

Aku segera berbalik dan betapa terkejutnya aku ketika Jong-Hyun berdiri di hadapanku dengan senyuman yang selalu kurindukan.

“Kenapa kau ada di sini?”tanyaku, masih setengah tidak percaya.

“Kau mengirimiku pesan dengan bahasa formal, padahal biasanya kau menggunakan banmal. Jadi, kurasa ada yang tidak beres denganmu,”kata Jong-Hyun.

Ya ampun, bahkan kebiasaanku saja dia hafal sekali.

“Bagaimana kau menyadarinya?”tanyaku.

“Aku sangat mengenalmu, Yoona. Kau lupa ya pekerjaanku? Mata ini tidak akan pernah berhenti memperhatikanmu. Jadi… apa yang terjadi?”

Mata ini tidak akan pernah berhenti memperhatikanmu

Aku tersenyum dan kupandangi wajah Jong-Hyun yang tetap tampan meski ada beberapa bekas luka sayat benda tajam pasca perkelahian waktu itu.

“Aku… Aku merindukanmu…”jawabku.

 

 

 

 

 

34 thoughts on “Eyes on You

  1. baguuusss banget. astaga. baru ini baca action dan suka. baru ini juga baca action tapi malah senyum2 sendiri. hahaha jago memang kamu fla.
    ayooo lanjutin lagi nulisnya!!!

  2. ceritanya bagus, sweet, tapi kurang greget nih soalnya gada kronologi kejadian berantem sama tembak2annya Jonghyun. Saran nih ya, lebih bagus kalau ada Jonghyun POV atau Author POV yang nyeritain kronologi kejadian pas jonghyun berantem dan tembak-tembakan, ga harus detail dan panjang, cukup singkat ajah jadi greget actionnya dapet. hehe.
    over all, it’s a good story🙂

    • iya, Kak hanna. huhu. Targetnya One Shot, jd kepentok di halaman cerita deh😦
      Makasih banyaaaaak bgt atas sarannya. Saya akan berusaha lbh keras lg, Bos!

  3. bagus thor action-nya keren. apalagi pas si choi itu nyerang. tp maaf yoona keliatan agak berlebihan. tp mungkin bagian dr skenario author. t-o-p deh. tp lbh keren lg kalo yoona jg pinter bela diri. hahaha… tp kalo gitu pasti ceritanya gak bakal cukup 1 shot. hehehe….🙂

  4. Keren asli, so sweet!
    Romancenya dapet, coba kalo MinHyuk yang main, kayaknya lovely dia keluar banget deh…
    SUKAA banget!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s