Premonition

PREMONITION YONGSEO

 

Title

Premonition

Author

Summer

Main Cast:

-CNBLUE’s Jung Yonghwa

-SNSD’s Seo Jo Hyun

Genre:

Angst, Romance, & Friendship

Rating:

PG-13

 

Warning Typo !

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

 

 

Seohyun  menganggap dirinya-

 

Freak.

 

Dulu, Seohyun  tak pernah bermasalah dengan hidupnya. Keluarganya berkecukupan dan ia tak pernah merasa kekurangan kasih sayang meski harus berbagi dengan kakaknya. Hidupnya biasa dan sederhana, seperti anak-anak lainnya. Sampai suatu kali ia melihat album-album foto lama keluarganya yang tersimpan di bawah almari. Album foto itu sudah terlalu lama berdiam disana dan hampir menyerupai debu-debu sekitarnya. Hembusan nafasnya menghapus debu-debu yang menyelimuti agar bergabung bersama partikel udara lainnya.

Tak banyak yang menarik. Hanya foto saat kakaknya berulang tahun yang ke lima, fotonya yang baru berumur satu bulan, dan foto-foto lain yang sama membosankannya. Namun, saat halaman terakhir album terbuka dan memperlihatkan foto ayahnya yang sedang mengenakan seragam nahkoda, berdiri di atas dek kapal layar pesiar dengan senyum terkembang begitu lebar, empat tahun lalu, jemarinya mengusap secarik gambar itu perlahan.

Dan entah mengapa, tiba-tiba mulutnya berucap,

“Andai saja ayah bisa pulang.”

 

Dua minggu kemudian, keluarganya tiba-tiba berada di level kehidupan yang paling bawah dan menyedihkan.

Seo In Jong meninggal dalam pelayaran pulang dari Hawai ke Korea.

Berita itu disiarkan di televisi nasional dan disebutkan bahwa penyebab kematian nahkoda kapal nasional korea itu adalah badai besar di tengah laut pasifik. Tak ada awak kapal yang selamat dalam pelayaran itu. Semuanya hilang ditelan seolah ditelan kekuatan besar yang kasat mata. Kapalnya tenggelam dan tiga hari kemudian di temukan setengah kilometer dari Kepulauan Polinesia. Pihak pemerintah memberikan penjelasan bahwa tenggalamnya kapal terjadi karena kecelakaan dan bukan karena human error. Namun sebanyak apapun alasan mengapa kapal itu tenggelam, tak ada yang bisa menghidupkan kembali ayah Seohyun  yang sudah berbaring tenang di dalam tanah.

Kejadian itu jelas membawa dampak besar. Selama hidupnya, Seo In Jong tak pernah membiarkan istrinya bekerja. Sekalipun tidak pernah. Dia ingin hanya dirinyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan kini sosok suami, ayah, dan tulang punggung keluarga itu hilang dalam sekejab. Istrinya saat ini menjadi satu-satunya kepala keluarga yang harus bertanggung jawab untuk menghidupi kedua anaknya yang masih sekolah. Andai saja saat itu Seo In Jong tak meminta istrinya untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja, maka semuanya tak akan seburuk ini. Tapi semuanya hanya bisa berkata . . . andai.

Semenjak saat itu, untuk mengurangi biaya kehidupan keluarga yang terus membengkak, Seohyun pindah ke rumah neneknya yang berada di Gwangju. Ia terpaksa harus terpisah dengan ibu dan kakaknya yang masih berkutat untuk mencari kembali milik mereka yang sudah hilang di ibu kota. Uang, kasih sayang dan semua yang dulu pernah ia miliki, kini hilang hanya dalam sekejab. Ia lebih banyak diam, terutama sejak ayahnya meninggal. Karena di dalam hati, Seohyun takut dengan dirinya sendiri.

Seohyun takut kalau ternyata ia yang menyebkan ayahnya meninggal.

 

Seohyun tinggal tak hanya bersama neneknya. Paman dan bibinya juga tinggal di desa yang sama. Rumahnya pun hanya berjarak sekitar seratus meter. Seohyun hidup bersama dengan kesederhanaan dan kasih sayang neneknya yang sudah terlalu tua bahkan sekedar untuk berjalan ke dapur.

Itu tahun keduanya di kota Gwangju ketika pamannya datang membawa berita. Pamannya mendapatkan tugas kerja di Jepang selama satu minggu. Jelas berita itu membuat seluruh desa termasuk anak istrinya iri. Bekerja sekaligus liburan, siapa yang tak senang ? Namun sayang Pamannya tidak boleh membawa satupun keluarga. Hanya dirinya sendiri yang boleh pergi ke Jepang.

Malam sebelum Pamannya pergi, Seohyun mendengar tangisan adik sepupunya yang ingin ikut pergi bersama ayahnya atau celotehan adik sepupunya yang lain, ingin tahu apa itu Jepang dan dimana letaknya. Semua begitu antusias dengan perjalanan Paman Seohyun ke Jepang.

Tapi, malam itu . . .  Seohyun gelisah.

Di tengah gelapnya kamar yang hanya samar terlihat oleh cahaya bulan, Seohyun tak dapat memejamkan matanya barang sedetik pun. Berkali-kali ia mengubah posisi tidurnya dan berharap semoga perasaan gelisah yang terus merambat di sudut hatinya hanyalah getaran antusias karena perjalanan pamannya ke Jepang. Namun Seohyun sadar, sedari tadi ia hanya membohongi dirinya sendiri.

Esoknya, mereka mengantarkan Paman Seohyun keluar rumah sebelum pergi ke bandara.

“Jangan lupa makan yang teratur”, ucap istrinya dengan senyum sedih. Tak akan ada lagi yang memuji masakannya tiap malam selama satu minggu ke depan.

“Ayah, jangan lupa robot kesatria baja hitamku !” Celotehan anaknya yang meminta oleh-oleh membuat semua orang yang ada disitu tertawa. Paman Seohyun mencium dan menggendong anaknya sebelum pergi.

“Nak, kalau sudah selesai, harus segera pulang”, pesan nenek Seohyun saat itu. Beliau memeluk anaknya dan ikut mengantarkan dengan duduk di kursi roda.

Paman Seohyun berdiri di depan gadis berambut panjang itu menunggunya keponakannya untuk bicara. Barangkali Seohyun ingin minta dibelikan baju baru layaknya gadis kebanyakan di desa. Namun saat itu hanya Seohyun yang berkata,

“Paman, hati-hati di jalan.”

Dan semua orang tak pernah tahu mengapa Seohyun berkata seperti itu.

 

Dua jam setelah itu, telepon di rumah Bibi Seohyun berbunyi dengan nyaring di tengah kegiatannya yang sedang mencuci baju. Dan betapa kagetnya ia begitu mendengar berita bahwa suaminya tewas karena kecelakaan mobil beruntun dalam perjalanan menuju bandara. Tubuhnya merosot ke lantai sementara gagang telepon yang tadi ia pegang, kini terlepas ke bawah dan menimbulkan bunyi pip, pip, yang khas. Suasana yang dua jam lalu sempat riang gembira dengan bayangan sepupu Seohyun tentang robot kesatria baja hitam yang akan dibawakan ayahnya, hilang sudah bak terkena air hujan.

Sekali lagi dalam hidupnya, Seohyun mengalami masa berkabung dan kehilangan anggota keluarga. Semuanya sama saat ayahnya meninggal dulu, baju-baju hitam, langit yang mendung, tangisan keluarga, dan bau bunga kematian.

Seohyun semakin ketakutan.

 

Di suatu malam, Seohyun berjalan menuju kamar neneknya dengan berbagai pemikiran dan ketakutan yang menyergap. Ia sudah terlalu lelah untuk mencari tahu apa yang salah dengan dirinya beberapa tahun terakhir ini. Ia mendapati neneknya duduk sembari menyulam benang-benang wol menjadi satu kesatuan kain yang hangat di dalam kamar. Lampu kuningnya tampak temaram di tengah malam.

“Nenek, Ada yang ingin aku katakan”

Neneknya hanya bergumam sebagai balasan sembari memasang teling baik-baik untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan cucunya itu.

“Sehari sebelum paman meninggal, tiba-tiba entah mengapa aku gelisah.”

Ucapan Seohyun bagai angin es yang dingin di tengah malam. Seketika gerakan tangan neneknya yang sedang merajut terhenti. Ia memandangi Seohyun dengan raut wajah bingung. “Apa maksudmu Seohyun ?”

Seohyun jelas terdiam, bingung bagimana ia harus menjelaskan. Ia tak tahu bagaimana caranya ia memberi tahu ketakutannya yang ia sendiri juga tak paham. “Aku . . .aku juga tak mengerti, nek”, ia bergumam dengan suara tertahan. “Hanya saja beberapa minggu sebelum ayah meninggal, aku juga merasakan perasaan yang sama”, cicitnya semakin menyerupai tikus kecil yang biasa berlarian di dapur.

Nenek Seohyun menatap cucunya tak percaya. Bagaimana bisa di tengah malam seperti ini, tiba-tiba cucunya berkata hal menakutkan seperti itu. Beliau bahkan sempat beranggapan bahwa Seohyun sedang kemasukan dedemit entah apa. Namun saat melihat ekspresi cucunya yang yang takut bercampur kejujuran, beliau memilih untuk bersikap bijaksana dan memeluknya erat. Ada sebuah asumsi yang ia simpan sendiri tanpa pernah memberi tahu siapapun. Asumsi bahwa mungkin Seohyun punya takdir yang berbeda dengan orang lain

“Mungkin hanya kebetulan saja.”

Bisik Nenek Seohyun kala itu.

 

Seohyun tumbuh besar tanpa banyak hal yang mengejutkan. Ia masih pendiam seperti dulu. Rambutnya juga masih panjang, malah semakin panjang sebenarnya. Ujung-ujungnya hampir menyentuh pinggang. Ia juga masih suka membantu neneknya mengangkut air atau melaburkan minyak panas ke punggung neneknya yang tiap malam suka mengeluh karena sakit. Dan sekarang semakin parah sepertinya.

Ibunya datang setiap satu tahun sekali. Terkadang beliau membawa buku atau baju-baju baru untuk Sunkyu. Kakak Seohyun hanya pernah datang satu kali saja saat natal tiga tahun lalu. Namun beberapa tahun terakhir, mereka bahkan tak pernah datang sama sekali. Dan Seohyun semakin lama semakin tak merindukan ibunya. Bahkan ia mulai lupa dengan wajah kakaknya.

Di sekolah, tak banyak yang menjadi temannya karena ia sendiri tak suka dengan keramaian. Lagipula ia bukan gadis yang pintar bersosialisasi dengan orang lain. Ia lebih sering berada di atap sekolah untuk melihat awan yang berarak-arak atau berada di belakang rumahnya, merasakan angin yang terhembus lembut.

Di suatu hari di tengah musim panas, markas rahasia Seohyun kedatangan tamu istimewa. Seorang murid laki-laki baru yang datang tiga hari lalu. Seohyun tak mengenalnya karena yang pertama ia tak banyak mendengar berita terbaru dan yang kedua karena Seohyun tak pernah berada di luar markasnya tiap istirahat.

Tubuhnya menegang saat laki-laki itu menoleh karena mendengar suara sepatunya. Seohyun terdiam tak tahu harus bicara apa. Ini markasnya -meski tidak resmi itu miliknya- dan ada orang lain yang tiba-tiba masuk tanpa diundang. Tapi tatapan laki-laki itu mengajak Seohyun untuk duduk bersama disebelahnya. Ia tak mengerti kenapa kali ini tubuhnya mau bergerak tanpa perintah. Dan Seohyun menemukan dirinya duduk di samping laki-laki bermata cerah itu.

“Aku Jung Yonghwa. Kau sendiri ?”, ucap laki-laki di sebelah Seohyun saat itu.

Seohyun terdiam sebentar berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menjawab, “Namaku Seo Jo Hyun.”

Sejak saat itu, Yonghwa  dan Seohyun berbagi rahasia di antara jam sekolah yang menyiksa.

 

Yonghwa  dan Seohyun bertemu di atap sekolah setiap istirahat pertama hanya pada hari senin, rabu, dan sabtu. Selain hari itu, Seohyun berada diatas atap sendirian dan hanya ditemani kupu-kupu kuning yang terkadang mampir. Jika Seohyun ingin bertemu kecuali hari yang ditetapkan, ia harus menulis permintaan itu di kertas dan menaruhnya di loker Yonghwa  sehari sebelumnya.

Mereka seakan punya perkumpulan rahasia yang hanya terdiri atas Yonghwa dan Seohyun. Terkadang diatas atap mereka bercerita tentang guru yang baru saja mengajar atau tentang film kartun yang tayang setiap hari minggu (Seohyun akan senang sekali jika membicarakan film kartun. Dia suka berceloteh tentang Keroro, kartun jepang berwarna hijau yang ada di film itu). Yonghwa  juga pernah bercerita tentang ayahnya yang bekerja sebagai seorang supir taksi, ibunya mencari tambahan uang dengan membuat kimchi, atau tentang adiknya yang sangat ingin membeli sepatu.

Seohyun menceritakan tentang Yonghwa kepada neneknya saat ia meminta beberapa manisan persik yang diberikan Bibi Han –tetangga mereka- kemarin. Awalnya sang nenek sempat menggoda bahwa Yonghwa bukan sahabat tapi kekasih cucunya itu. Tapi Seohyun hanya menggeleng pelan dengan pipi semerah apel ranum. Saat jadwal mereka bertemu, Seohyun beberapa kali membawa kue beras dan membaginya bersama Yonghwa. Kadang kala Yonghwa yang membawa kimchi pedas buatan ibunya. Mereka berbagi dan tertawa diatas atap.

Biasanya jika mereka berdua tak punya apapun untuk dijadikan pengganjal perut, Yonghwa  mengeluarkan pemutar musik bekasnya yang sudah tua. Ayahnya bilang, ia membeli itu di toko besar di pusat kota. Sampai akhirnya Yonghwa  tahu, bahwa pemutar musik itu dijual di toko bekas pinggir jalan. Namun ia tak pernah mempermasalahkan itu. Ia suka sekali mendengarkan suara Ricky Martin lewat pemutar musiknya bersama Seohyun. Sekali lagi, mereka tak hanya berbagai rahasia dan bekal bersama, tapi mereka juga berbagi kesenangan dan perasaan.

Suatu kali Seohyun pernah menanyakan hal yang terus saja berputar-putar di kepalanya. Itu terjadi saat ia berada di tahun terakhir sekolah sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di universitas.

“Kenapa kau mau berteman denganku ?”

Yonghwa  terdiam dari kegiatannya memantul-mantulkan bola karet kecilnya dan menatap Seohyun dengan tatapan bingung. “Mengapa kau bertanya seperti itu ?”

Seohyun menggerakkan bahunya sekilas, “Hanya penasaran.” Jemarinya bergerak-gerak pelan, “Ada Jiyeon, Sohee, dan gadis-gadis lain yang lebih cantik dan populer dariku. Jadi ?”

Yonghwa  memutar matanya saat mendengar nama-nama yang disebutkan Seohyun . Yeah, gadis-gadis tadi memang populer, sepopuler gosip yang suka mereka ributkan setiap kali di sekolah. Menjijikan. Lima menit Seohyun memberikan waktu bagi Yonghwa  untuk berfikir. Namun pada akhirnya Yonghwa  hanya menghela nafas kecil dan tersenyum, “Aku juga tak tahu.”

 

Masih satu bulan lagi sebelum musim dingin tiba, Yonghwa  meminta Seohyun datang ke atap pada hari yang berbeda dengan jadwal biasanya. Itu membuat Seohyun sedikit bingung meski pada akhirnya ia datang juga. Saat Seohyun sampai di atap sekolah yang sekaligus dijadikan rumah kaca kecil-kecilan milik sekolah, ia melihat Yonghwa berdiri menghadap lapangan basket yang ada dibawah. Seohyun berjalan mendekat dan ikut berdiri di samping Yonghwa .

“Sebentar lagi libur akan datang”, desah Seohyun dengan nafas panjang setelah selama sepuluh menit ia tak mendengar Yonghwa  mengucapkan sepatah katapun.

Yonghwa mendengus pelan dan membiarkan Seohyun menikmati angin yang bergerak membelai kulit. “Kemungkinan saat liburan, aku tak ada di rumah”, sahut Yonghwa  sembari menatap Seohyun yang masih terpejam.

Sesuatu yang ada diri Seohyun tiba-tiba melonjak sampai rasanya ia tersentak dan membuka mata dengan paksa. “Kenapa ?”

Yonghwa terkekeh pelan meski sedikit merasa ganjil dengan nada panik yang keluar dari bibir Seohyun. “Tradisi”, ia tersenyum lebar, “setiap kali akan mulai musim dingin, seluruh keluargaku pergi berkunjung ke rumah nenek.”

Seohyun tak bisa menahan diri untuk tak bertanya. Hatinya tiba-tiba bergejolak, ia bisa merasakan perutnya tiba-tiba terasa mual. “Berapa lama ?”

“Mungkin sekitar dua minggu”, ujar Yonghwa  berfikir. “Yang jelas sebelum salju menyentuh tanah aku pasti sudah pulang.”

Tiba-tiba perasaan aneh yang familiar kembali menghanatam Seohyun dengan kerasnya. Ia merasa paru-parunya seperti terbakar. “Apa kau harus pergi ?” Nada suaranya berubah tercekat dan nafasnya seolah tertahan.

Yonghwa memeluk satu-satunya perempuan yang dekat dengannya itu dengan perlahan. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan”, ia menepuk-nepuk punggung Seohyun lembut, “aku pasti akan pulang.”

Saat itu, Seohyun bahkan tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata, bahkan menyusun abjad pun rasanya begitu sulit.  Dari semua yang pernah ia lalui, ini pertama kali lidah dan mulutnya tak singkron dengan apa yang ia inginkan.

Dia ingin menangis.

 

“Nenek . . . “

Nenek Seohyun melepaskan jarum rajutnya yang sedang menyambung benang-benang wol menjadi satu. Ia menatap Seohyun dengan tatapan ‘ada apa ?’

“Apakah nenek merasa ada yang aneh akhir-akhir ini ?”

Beliau mencoba mengingat-ingat dan pada akhirnya menggeleng pelan setelah selama lima menit tak menemukan jawaban. Seohyun baru saja akan menekuk wajahnya ketika tiba-tiba neneknya memekik pelan, “Oh, punggungku sudah tak sakit lagi,” ia menatap cucunya untuk yang kedua kalinya, “apakah itu ?”

Namun jawaban neneknya malah membuat Seohyun semakin cembaerut dan menekukkan mulutnya kedalam. Tidak, bukan itu yang ia maksud. Bukan karena punggung neneknya yang tak sakit lagi atau suara sepupunya yang tak lagi berisik. Bukan itu.

Selama beberapa hari ini, Seohyun merasa aneh dengan dirinya sendiri. Saat ia sedang berada di atap sekolahnya untuk menghabiskan waktu istirahat, tiba-tiba ia seolah melihat awan-awan dilangit membentuk wajah Yonghwa yang sedang tertawa. Dan entah telinga Seohyun yang memang sudah tak lagi waras, saat di halaman belakang rumah neneknya, ia bisa merasakan seolah angin sedang berbisik menyebut nama Yonghwa tepat di telinganya. Semalam, Seohyun seakan melihat senyum Yonghwa  terpampang jelas di langit gelap Bahkan bulan sabit pun malam itu mirip dengan lukisan bibir Yonghwa  yang biasa ia lihat. Semakin lama, Seohyun merasa takut. Tak hanya dengan perasaanya sendiri, namun juga dengan alam yang melingkupi hari-harinya.

Malam itu adalah hari terakhir sebelum besok Yonghwa  berangkat ke rumah neneknya. Besok adalah hari dimana Seohyun menghabiskan waktunya tak lagi dengan Yonghwa . Ia tahu Yonghwa  sudah berulang kali berkata bahwa Seohyun tak perlu khawatir. Namun sebanyak apapun laki-laki itu berjanji bahwa ia akan pulang, Seohyun tak bisa menahan perasaan gelisah yang kembali melandanya.

Ia bermimpi tentang hari dimana Yonghwa  memberi tahu bahwa ia akan pergi ke rumah neneknya. Hanya ada ia dan Yonghwa di disana. Laki-laki itu berkali-kali menunjukkan wajah sedihnya dan nada berkata dengan nada lirih yang menyayat.

 “Terkadang tak semua pertanyaan di dunia ini ada jawabannya.”

Dan kata-kata terus terulang sampai pada akhirnya Seohyun terbangun dari mimpi buruknya dengan satu sentakan keras.

Ia berlari keluar dari kamarnya dengan suara derap kaki yang menggema. Hal itu mengagetkan neneknya yang sedang berada di luar rumah untuk melihat matahari terbit. “Ada apa Seohyun~ah ?”, seru neneknya bingung bukan kepalang kala melihat cucunya tiba-tiba berlari dari dalam rumah dalam keadaan kacau. Rambut masih acak-acakan, ekspresi ketakutan, dan hal-hal lain yang beliau tak bisa gambarkan saat ini.

Seohyun menangis dan berlari tanpa arah yang jelas. Raut wajahnya seolah meminta tolong kepada siapapun yang ada. Ia melihat neneknya mendekat dengan kursi rodanya dan memeluk Seohyun dengan erat. “Tenangkan dirimu nak, tenang”, pinta neneknya berulang-ulang. Beliau merasakan betapa dingin tubuh cucunya itu sekarang. “Ada apa ?”

Seohyun menangis tanpa suara seakan-akan tenggorokannya tercekik sesuatu. Mulutnya hanya bergerak-gerak membentuk kata-kata ‘Jangan’. Hatinya menjerit tanpa suara. Ucapan Yonghwa , pelukan terakhir itu, pertanda alam. Semuanya. Seandainya saat itu ia lebih menahan Yonghwa  agar tak pergi, seandainya saat itu ia bersikeras. Tapi nyatanya ia tak bisa melakukan apapun sama seperti saat ayah dan pamannya meninggal.

“Dia . . .pergi”, bisik Seohyun setelah berhasil mengumpulkan seluruh nyawanya. “Yonghwa  pergi, nek”, tangisnya samar-samar. Tenggorokannya tak lagi tercekat, namun ia masih merasakan bekas cekikan kasat mata di dada dan lehernya. Ia merasa dadanya seperti diikat tali yang kuat. “Perasaan itu, aku kembali merasakannya. Kali ini lebih kuat, aku melihat dan merasakannya setiap hari”, racau Seohyun berulang-ulang.

Neneknya hanya bisa memeluk Seohyun lebih erat, seolah jika tidak, cucunya itu akan jatuh dan hancur. Ia tak mengerti mengapa Seohyun bisa berkata seperti itu. Namun saat ingatannya kembali mengenang percakapan dengan cucunya beberapa hari yang lalu, beliau paham. Mentari terbit beriringan bersama kepakan burung yang terbang ke arah barat. Namun segalanya menjadi tak lagi berarti saat ini.

“Nek, kenapa hanya aku yang merasakan hal-hal seperti itu ?”, tanya Seohyun di tengah tangisannya yang seakan tak berhenti. Ia tak bisa menghentikan rasa kesal yang bercampur dengan kesedihan saat sekali lagi ia harus merasa separuh dari dirinya hilang.

Beliau menatap cucunya dengan miris. “Terkadang ada hal yang manusia sendiri tak tahu mengapa,” ia mengelus-elus kepala cucunya lembut, “hanya Tuhan yang tahu, nak.”

“Andai saja saat itu aku memperingatkan Yonghwa ”, bisik Seohyun berulang-ulang. Matanya memerah dan berair terlihat menyedihkan. Andaikan Yonghwa  melihat keadaan Seohyun saat ini, ia pasti marah dan memintanya untuk tak seperti itu lagi.

Neneknya memeluk semakin erat. “Kau hanya perlu menerima nak. Semakin kau berusaha untuk menolak, kau hanya akan merasa semakin terluka”, ucapnya bijak. Kecupannya mendarat di kepala Seohyun lembut. “Tuhan menyayangimu, lebih dari siapapun.”

Pagi itu, Seohyun kembali di hadang rasa ketakutannya yang tak berakhir. Ketakutan yang akhirnya membuatnya kembali kehilangan orang yang ia sayangi. Entah sampai kapan ia harus merasakan perasaan itu. Saat ini ia hanya ingin menumpahkan segala keresahan dan kelelah yang terus ia bawa. Karena dia tahu bahwa janji yang diucapkan Yonghwa  tak akan pernah terlaksana jika takdir menghendakinya seperti itu.

Sebelum salju menyentuh tanah aku pasti sudah kembali.

Jangan khawatir.

Aku pasti pulang.

Sama seperti tahun-tahun yang pernah ia lalui. Untuk ketiga kalinya, kali ini Seohyun kembali merasakan perasaan sakit sama seperti saat ayahnya dulu meninggal. Hatinya yang dulu sempat tertoreh, kini harus merasakan itu lagi. Bahkan mungkin lebih dalam.

Namun seperti yang diucapkan neneknya.

Ia hanya perlu menerima.

Hanya itu.

THE END

 

Absurd ? Gaje ? Gagal ?

Kalau ada yang bilang gitu saya ga marah kok. Emang saya aja ngrasa kayak gitu. Sukur, sukur kalau masih ada yang mau baca dan komen. Ini dulu vignette dengan pairing yang beda. Trus saya edit dan ubah dikit biar jadi oneshoot dan pairingnya saya ganti ini.

Kalau sempet mampir-mampir ke tempat saya ya di https://summersnotes.wordpress.com/ ^ ^

Pai~pai

 

16 thoughts on “Premonition

  1. aaaaaa hubungan hyun ma yong itu gimana huhu. hyun kasian. apa dia pny indra ke-6 gitu jd bs tau dr kegelisahan itu. huhuuu. ga enak bgt hidup kaya gitu
    jd yong jg meninggal ya?😦
    dikira pas yong itu ga terjadi firasat hyun. dikira yong tetep pulang nepatin janji gitu

    • ya gantung deh, hhehehehe😀
      yep, jadi perasaan dia lebih senditif dari pada orang lain. Kan ada kan orang yang punya kelebihan kayak gitu
      ehm gimana ya ? bisa meninggal bisa enggak, tergnatung yang kuasa🙂
      hahahaha makasih ya udah komen disini, kapan kapan mampir ke tempat saya ya😀

  2. enggak gaje kok. serius ini bagus. dan genrenya fav aku banget. kayaknya authornya suka baca novel nih. ya gak? trus sering baca genre angst kan? maaf ya aku jadi sotoy begini wkwk. abis ffnya bagus siiih. lain kali bakalan mampir ke blogmu deh. oh iya, nama pena kamu juga menarik. aku suka. btw, selain wp, punya twitter? atau goodreads? boleh tau ngga? maaf ya banyak bacot wkwk

    • hahahaha makasih😀
      iya, suka baca buku sama komik soalnya hehehe
      saya ga gitu seleksi banget sama genre, asal ga teenlit aja hehehe
      ah ga pa pa kok, santai aja. Aduh makasih lho udah di puji ;;)
      harus mampir dong, hohohoho
      oh nama summer itu ya ? hahaha makasih lho, habis saya kurang suka kalau pake nama pena korea. Ntar yg baca cerita saya cuman yg k-poper doang dong ? hehehehe
      twitter ada, @kumalakartika
      iya ga pa pa, makasih ya😀

  3. Ahhh Andwe!!! Kirain gak bakal terjadi apa-apa ma yonghwa. Endingnya seohyun masih tetep… ‘apa ya namanya?’
    Tapi ceritanya menarik >,<

  4. Sbnrnya crita nya bgs bgt,thor. Tema n tata bahasa nya keren. But…….. kenapa msti d gantung akhir crita nya???? huhuhu bikin penasaran,thor >.<

  5. Yong kemana??
    Meninggal ya?
    Seo harus kehilangan lagi. . .

    Mudah2han dikehidupan nyata mereka dapat bersatu. .
    AMINNNNN!!

  6. Yong kemana??
    Meninggal ya?
    Seo harus kehilangan lagi. . .

    Mudah2han dikehidupan nyata mereka dapat bersatu.
    AMINNNNN!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s