Black Flower [Chapter 10]

black flower 3

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: NC-17

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Choi Minho SHINee

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Krystal Jung f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Tiffany Hwang SNSD

Suzy Bae (Miss A)

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo

Alert!

Dear readers,

kami tidak menyarankan readers yang berusia dibawah 17 tahun untuk membaca beberapa adegan dibawah ini. Kami mohon kerjasama dari readers semua.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Park Cheol Soo & Partners Law Firm, Sogong-dong, Jung-gu, Seoul

9.55 AM

-Author’s POV-

Eun Jung melirik jam tangannya, kemudian mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lambat. Pemandangan yang dilihatnya di pagi hari menjelang siang ini benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehnya. Dilihatnya rekan kerja yang sangat disayanginya, yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu sejak datang ke kantor tadi sampai saat ini hanya duduk di depan mejanya, dengan kedua tangan menopang pipinya, dengan kakinya yang senantiasa bergerak-gerak, dengan bibirnya yang sesekali bersenandung kecil, dan dengan cengiran bodoh yang selalu menghiasi wajahnya. Terkadang gadis itu terkikik sendiri, entah apa sedang dipikirkannya. Dan penampilannya… Astaga, tidak pernah terbayang sama sekali di otak Eun Jung Suzy akan berpenampilan seperti ini, terutama di kantor. Pakaiannya benar-benar feminin─untuk ukuran seorang Suzy tentu saja. Mini dress chiffon berwarna soft pink dengan ikatan pita di bagian dada, blazer putih, pumps berwarna senada dengan dress, dan rambut panjangnya yang kali ini dibiarkan tergerai, tampak sangat halus dan berkilauan ketika terkena cahaya matahari. Gadis itu terlihat sangat cantik hari ini, atau lebih tepatnya sangat ‘perempuan’.

“Kau tidak sakit kan?” mata Eun Jung menyipit. Sejak beberapa menit yang lalu ia terus memperhatikan gerak-gerik Suzy dan gadis itu seolah tidak menyadari kehadirannya.

Suzy melirik ke arah Eun Jung, kemudian tersenyum manis, “Tidak.”

Eun Jung yang mulai khawatir dengan sikap aneh Suzy itu buru-buru mendekat dan menempelkan sebelah tangannya di dahi gadis itu, bermaksud memeriksa suhu tubuhnya yang mungkin saja naik diatas rata-rata. Tapi tidak. Suhu tubuhnya normal untuk seseorang yang bersikap sedikit aneh.

“Astaga… ini baru jam sepuluh, Suzy-ah! Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Suzy menyingkirkan tangan Eun Jung dari dahinya dengan santai, “Aku baik-baik saja. Bahkan tidak pernah sebaik ini.” ia menyeringai lebar.

Eun Jung mengernyitkan dahi. Baru kali ini ia melihat ekspresi semacam itu dari Suzy. Seperti remaja yang baru saja merasakan indahnya jatuh cinta.

Ah. Ya. Jatuh cinta.

“Ck. Harusnya aku tahu. Jung Yonghwa kan?” Eun Jung menatap Suzy lurus-lurus, meminta penjelasan secepatnya dari gadis itu, “Apa yang dia lakukan sampai kau menjadi seperti ini? Dia menyatakan perasannya padamu?”

“Tidak. Justru sebaliknya.”

“Lalu? Dia menerimamu? Jadi kalian sudah resmi berpacaran sekarang?”

Suzy menggeleng, masih dengan senyum menghiasi wajahnya, “Tapi aku akan menunggu.”

“Mwo?”

Suzy memain-mainkan pulpen yang tergeletak di depannya dengan kelima jarinya, “Dia yang memintaku begitu.” Ia lalu mendongak lagi ke arah Eun Jung dan─untuk kesekian kalinya─memamerkan senyum manisnya.

Eun Jung mendengus kecil, “Kau benar-benar sedang jatuh cinta rupanya.”

“Bukan hal yang buruk kan?”

“Baguslah kalau kau tidak trauma dengan semua hubunganmu dulu.”

“Aku cepat belajar.”

Eun Jung mengulum senyum. Suzy benar-benar terlihat manis jika sedang jatuh cinta. Tampaknya kali ini sedikit berbeda, karena gadis itu tidak pernah terlihat sebahagia ini. Ia sudah bosan dengan diri Suzy yang selalu tampak serius dan terkesan angkuh di kantor─jika sedang berurusan dengan klien─dan pemandangan langka seperti ini menurutnya benar-benar harus dilestarikan.

“Lalu? Bagaimana hubungan kalian sekarang? Kau mengajaknya kencan, mungkin? Atau sebaliknya?”

Suzy mengangguk, matanya tampak berbinar-binar seolah pertanyaan Eun Jung barusan adalah pertanyaan yang sudah ditunggunya sedari tadi, “Dia mengajakku makan siang.”

“Wah, senang mendengarnya.” Eun Jung mengacak pelan puncak kepala Suzy, yang dibalas dengan rengutan sekilas dari gadis itu. “Semoga ‘makan siang’-mu lancar. Jangan lupa. Kau harus cerita-cerita padaku sepulangnya nanti.” Gadis berambut pendek itu kemudian berlalu dari hadapan Suzy, kembali ke meja kerjanya karena rasa keingintahuannya akan perubahan sikap Suzy terjawab sudah.

“Oh iya, satu lagi.” Eun Jung kembali membalikkan badannya, “Kurasa kau lebih cocok seperti itu.” Ia menunjuk Suzy, atau lebih tepatnya menunjuk pakaian yang dikenakannya.

Suzy hanya terkekeh. Membayangkan dirinya duduk berhadapan dengan Yonghwa membuatnya tidak sabar. Padahal mereka baru saja bertemu karena─lagi-lagi─Yonghwa dengan sukarela mengantarnya ke kantor. Namun entah kenapa hari ini Suzy merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Tidak melihat wajah laki-laki itu sebentar saja sudah membuatnya rindu setengah mati. Kalau bisa, ia ingin pergi ke waktu dimana ia bisa melihat wajah laki-laki itu lagi.

Dan kalau bisa, ia ingin pergi ke waktu dimana laki-laki itu sudah sepenuhnya membuka pintu hatinya untuknya…

***

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

11.45 AM

-Yonghwa’s POV-

“Kau… bercanda kan, Inspektur?” aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Mataku terus mengikuti setiap gerak-geriknya, memperhatikan gerak bibirnya seolah tidak ingin melewatkan satu pun kata yang akan keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaanku.

“Apa untungnya aku bohong padamu?” tanyanya sarkastis. Pria itu melangkah santai mendekati mejaku dan duduk tepat di hadapanku, “Kulihat gadis itu masuk ke salah satu toko buku di seberang coffee shop tidak jauh dari sini. Aku yakin sekali itu dia. Gadis yang kita temui di Jepang waktu itu.”

Aku masih melongo. Dari sorot matanya, aku yakin Inspektur Kwon tidak berbohong. Lagipula untuk apa juga dia berbohong? Aku yakin dia masih punya setumpuk pekerjaan yang lebih penting dibanding membual tentang hal semacam itu.

Pria paruh baya yang ada di hadapanku ini baru saja mengatakan bahwa ia melihat Seohyun di Gwanghwamun.

Seohyun. Ya. Seo Joohyun.

“Kau masih tidak percaya?” Inspektur Kwon menaikkan alisnya. Sorot matanya seolah mengintimidasiku.

“Aku…” jujur kuakui aku masih tidak begitu percaya. Yang kutahu selama ini gadis itu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Untuk pulang ke Korea saja sulit, apalagi jalan-jalan santai di Gwanghwamun?

Inspektur Kwon mendecak. Ia pasti tahu aku belum sepenuhnya percaya pada perkataannya, meskipun aku tahu dia tidak berbohong. “Sepertinya hubungan kalian saat pertemuan terakhir kurang baik. Kenapa kau tidak temui saja dia? Mumpung dia ada di dekat sini. Kalian bisa mengobrol dan… menyelesaikan masalah, mungkin?”

Aku terdiam, tidak menolak ataupun mengiyakan. Haruskah aku melakukan itu? Inspektur Kwon tentu tidak tahu kalau pertemuan kami yang terakhir itu benar-benar menjadi ‘pertemuan yang terakhir’. Aku merasa sangsi gadis itu mau menemuiku lagi.

“Baru kali ini aku melihatmu ragu, Yonghwa-ya.” Gumamnya. Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Perkataannya memang benar.

“Kukira kau orang yang selalu mengambil kesempatan yang ada di depan mata.” Sindirnya. Aku tahu dia sedang mencoba memanas-manasiku.

Kuhentakkan pulpenku ke atas meja dan bangkit dari tempat duduk. Oke, Inspektur Kwon. Kau menang. Kata-katamu tadi berhasil mendorongku untuk menurutinya. Rasa penasaranku lebih besar dari rasa gengsiku.

Tunggu. Ini rasa penasaran… atau rasa rindu?

Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju pintu keluar, hingga suara pria itu terdengar lagi sesaat sebelum aku membuka pintu, “Mau kemana kau?”

Aku tidak menjawab. Kubuka pintu dengan sekali sentakan dan kulanjutkan langkahku meninggalkan ruangan. Tanpa kujawab pun, aku tahu dia pasti sudah tahu jawabannya. Itu hanya basa-basi saja. Atau dia menyindirku lagi.

Kurogoh saku celanaku, memastikan kunci mobilku sudah kubawa. Yang harus kulakukan adalah bergerak cepat. Semoga kata-kata Inspektur Kwon tadi benar.

Dan semoga aku tidak terlambat.

***

Gwanghwamun, Seoul

11.55 AM

-Author’s POV-

Seohyun mengeluarkan selembar uang lima ribu won dalam dompetnya, kemudian menyerahkannya kepada gadis berseragam yang berdiri di belakang mesin kasir.

“Kamsahamnida.” Ujar kasir itu ramah. Seohyun balas tersenyum.

Goguma latte.” Tiba-tiba muncul salah seorang pelayan sambil membawa satu cup latte hangat dari belakang.

Seohyun refleks menoleh. Cepat sekali pesanannya datang padahal ia baru saja membayar. Apa sekarang coffee shop di Korea sudah benar-benar secanggih ini?

“Itu pesananku.” Baru saja Seohyun berniat mengambil latte itu ketika terdengar suara seorang pria.

Seohyun terbelalak. Napasnya terhenti selama beberapa saat. Bukan karena latte yang tadinya dianggap pesanannya itu keburu diambil orang lain, melainkan karena melihat siapa orang yang mengambilnya. Cara berjalan, proporsi tubuh, dan tampak samping wajahnya membuatnya yakin ia tidak salah lihat.

Laki-laki itu tersenyum ramah pada pelayan setelah mengambil pesanannya. Ia lalu membalik badannya dan menghentikan pandangannya ke arah Seohyun yang masih berdiri terpaku di tempatnya, seolah sudah mengetahui keberadaan gadis itu di sampingnya.

“Merasa terkejut, Hyun?”

***

Seohyun menyesap latte-nya perlahan, berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Yonghwa di coffee shop ini, tempat pertemuan pertama mereka dulu. Saat ini mereka bahkan duduk berhadapan di meja yang letaknya sama persis dengan dulu, membuat ingatan mereka berputar kembali ke masa-masa indah dimana benih-benih cinta di antara mereka mulai tumbuh.

“Bagaimana kabarmu?” Seohyun ragu-ragu memulai percakapan. Bagaimana pun juga mereka tidak bisa berlama-lama saling diam dengan keadaan canggung seperti ini.

“Menurutmu bagaimana?” Yonghwa balik bertanya.

Seohyun tidak langsung menjawab. Entah kenapa rasa bersalah tiba-tiba menyergapnya. Pertanyaan retoris Yonghwa membuatnya merasa seperti orang paling tolol. Setelah ia memutuskan untuk berpisah secara tiba-tiba di Jepang waktu itu, mana mungkin laki-laki itu akan baik-baik saja? Ia tahu benar Yonghwa bukan tipe orang yang mudah melupakan sesuatu. Meskipun jika laki-laki itu sudah menemukan pengganti dirinya, memori itu tidak akan bisa hilang begitu saja.

“Anggaplah aku baik-baik saja.” Ujar Yonghwa akhirnya, yang malah membuat Seohyun merasa semakin bersalah. Tadi ia merasa seperti orang tolol, dan sekarang ia merasa seperti orang jahat.

“Yong, aku…” Seohyun menghela napas panjang. Terlalu banyak kata-kata yang ingin disampaikannya dan ia bingung harus memulai dari mana, “Mianhae…”

“Kalau kata maaf saja cukup, lalu apa gunanya penjara?”

“Jadi, kau…”

“Kau tidak cocok di penjara, Hyun. Jadi aku memaafkanmu.”

“Itu bukan alasan, oppa. Kau boleh membenciku.”

“Menurutmu apa aku sanggup?” lagi-lagi Yonghwa melayangkan pertanyaan retoris.

Seohyun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Yonghwa. Yonghwa sendiri juga pasrah. Sebenarnya bisa saja sekarang ia menjatuhkan harga dirinya ke tingkat yang paling dasar dan menanyakan apa alasan gadis itu meninggalkannya. Namun kemudian ia sadar, gadis itu juga memiliki hak. Jika hatinya memang tidak memilihnya, ia sanggup untuk menerima rasa sakitnya, asalkan gadis itu bahagia.

“Harusnya aku yang minta maaf…” ujar Yonghwa lirih, “Maaf… karena aku tidak bisa menjadi pria yang baik untukmu, dan terima kasih… karena kau sudah hadir dalam kehidupanku…”

Seohyun menutup matanya rapat-rapat. Andai saja Yonghwa tahu, sekarang hatinya sedang menjerit. Kata-kata itu… kata-kata perpisahan yang sama sekali tidak ingin dia dengar. Ia ingin menghentikannya, namun sudah terlambat. Yonghwa sudah keburu mengatakannya, dan dadanya sudah keburu terasa sesak.

“Bukan begitu, oppa. Aku…” Seohyun menggigit bibir bawahnya, tertunduk, berusaha keras menahan suaranya yang mulai bergetar dan lelehan air mata yang bisa keluar membasahi pipinya kapan saja, “Aku tidak bisa menjadi sosok yang kau inginkan. Aku tidak bisa membuatmu terus-terusan menderita…”

Seohyun merasakan matanya semakin memanas, kemudian terasa basah dan pandangannya mengabur. Gagal sudah usahanya untuk menahan tangis. Tetesan bening itu mengalir perlahan di pipinya.

Tiba-tiba Seohyun merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Gadis itu membuka mata, dan sedikit terkejut melihat Yonghwa sudah berlutut di sampingnya, menghapus air matanya dengan gerakan yang sangat lembut, menyiratkan ketulusan perasaannya pada gadis itu yang sampai saat ini masih belum berubah.

Yonghwa menegakkan sedikit badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun dan mengecup bibir gadis itu lembut, membiarkannya disana selama beberapa saat.

“Aku masih mencintaimu.”

Seohyun tidak dapat menahan dirinya lagi. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Yonghwa, merengkuh pria itu erat. Ia sudah menyerah dari pergolakan batin yang dibuatnya sendiri. Menjauhkan dirinya dari laki-laki itu membuatnya lelah. Mendengar pernyataan Yonghwa membuatnya menyadari bahwa ia tidak akan sanggup berpisah dengan laki-laki itu. Ia ingin kembali, jika laki-laki itu mengizinkannya. Dan faktanya Yonghwa tidak akan pernah menutup kesempatan itu untuknya.

“Maafkan aku…” sesal Seohyun di tengah-tengah isakannya.

Yonghwa tersenyum lembut. Ia mengelus pelan kepala Seohyun dengan sebelah tangannya.

“Tidak perlu menjadi siapa-siapa. Aku mencintaimu karena itu kau.”

***

Sementara itu tanpa sepengetahuan mereka, sedikit jauh di salah satu sudut coffee shop, tanpa sengaja Eun Jung melihat pemandangan tersebut. Ia ada janji bertemu dengan kekasihnya Jang Woo disana dan tidak menduga jika akan melihat Yonghwa… dan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Ia bahkan melihat sekilas mereka berciuman di tengah hingar bingar tempat itu. Benar-benar pemandangan yang sangat mengejutkan. Jika tidak ingat ada di tempat umum, bisa saja ia tersedak atau menyemburkan frappuccino yang baru saja diteguknya.

Eun Jung langsung teringat pada Suzy. Bukankah gadis itu ada janji dengan Yonghwa untuk makan siang bersama? Lalu kenapa sekarang laki-laki itu malah menemui gadis lain?

Tanpa pikir panjang Eun Jung langsung menyambar ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada Suzy. Sekedar untuk memastikan saja apakah janji mereka dibatalkan atau tidak. Jika tidak, maka bisa jadi penglihatannya tadi salah dan ia bisa bernapas lega.

To: Bae Suzy

Kau bersama Jung Yonghwa sekarang?

Tak lama kemudian balasan pesan dari Suzy pun datang.

From: Bae Suzy

Entahlah… dia belum datang.

Tiba-tiba saja Eun Jung merasa iba. Ia dapat membayangkan gadis itu sekarang sedang berdiri di depan kantor, menunggu sambil berharap-harap cemas akan kedatangan Yonghwa.

To: Bae Suzy

Kurasa Yonghwa tidak jadi datang, Suzy-ah. Aku… melihatnya sedang bersama gadis lain sekarang.

Butuh waktu beberapa saat hingga Suzy membalas pesan itu.

“Jangan bercanda, Ham Eun Jung.”

“Aku serius.”

“Oh ayolah… ini tidak lucu.”

Eun Jung mendecak. Sepertinya Suzy tidak akan percaya sampai kapanpun. Apa dirinya sebegitu tidak bisa dipercaya oleh gadis itu?

Eun Jung mengarahkan kamera ponselnya, memotret ke arah Yonghwa dan Seohyun yang kembali duduk berhadapan, dan memotret lagi ketika kedua orang itu berjalan keluar sambil bergandengan tangan, serta ketika Yonghwa mengecup sekilas dahi gadis itu sebelum masuk kedalam mobil sedan hitam yang terparkir persis di depan coffee shop. Ia ingin meyakinkan Suzy, agar gadis itu tidak terus-terusan menunggu Yonghwa, sekaligus menyelamatkan gadis itu sebelum perasaan cintanya terlanjur dalam dan jatuh ke dasar jurang yang mulai menganga di depannya; jurang kesedihan.

Eun Jung mengutak-atik ponselnya, mengirim semua foto yang dipotretnya tadi pada Suzy.

Sent.

***

Seoul National University Hospital, Gangnam-gu, Seoul

1.15 PM

-Author’s POV-

“Kau tidak ada jadwal operasi?” tanya Minhyuk pada Krystal, kemudian menyuapkan potongan kimbap kedalam mulutnya. Saat ini ia sedang makan siang dengan bekal buatan gadis itu, duduk santai di atas atap rumah sakit yang sepi sambil melepas penat sejenak setelah sibuk bekerja sejak pagi.

Krystal menggeleng, “Sudah selesai tadi. Kau sendiri? Tidak ada jadwal mengunjungi Choi Sooyoung lagi?”

“Setelah dinyatakan sembuh total, kurasa itu tidak perlu lagi. Aku tetap bisa memantau kondisinya dari jauh.” Jelas Minhyuk.

Krystal mengangguk-angguk pelan, kemudian menyuapkan kimchi dengan malas-malasan. Entah kenapa ia sedang tidak bernafsu untuk makan. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya dari kemarin yang membuatnya tidak tenang.

“Kau kenapa?” tanya Minhyuk langsung. Sejak tadi ia memperhatikan gerak-gerik Krystal yang tampak lesu. Wajahnya terlihat cemas dan sudah berkali-kali ia menghela napas. Sudah terlalu lama Minhyuk mengenal Krystal untuk mengetahui bahwa gadis itu sedang dilanda masalah, sekalipun gadis itu berusaha menyembunyikannya.

Krystal menatap Minhyuk, kemudian menggeleng, “Tidak apa-apa.” Ia berusaha membuat wajahnya tampak meyakinkan.

“Bohong.”

“Aku tidak bohong.”

“Soojung-ah…”

Krystal tercekat. Jika Minhyuk sudah memanggil namanya seperti itu, tandanya laki-laki itu benar-benar serius. Minhyuk menatapnya tajam, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

“Aku memang tidak bisa berbohong padamu…” desah Krystal, “Ada sesuatu… yang ingin kukatakan…”

“Bukankah pernyataan cintaku sudah kau jawab?”

“Ya! Bukan itu maksudku! Aku serius!” Krystal menepuk pelan lengan Minhyuk. Ia kira laki-laki itu benar-benar sedang ingin serius, tapi malah sempat-sempatnya bercanda.

“Baiklah, baiklah.” Minhyuk menangkap tangan Krystal yang memukul-mukul pelan lengannya, kemudian menurunkannya perlahan. Samar dirasakannya tangan gadis itu sedikit dingin, “Ada apa?”

“Soal… kasus Cho Kyuhyun…”

“Dia menghilang. Aku tahu.”

“Tidak, tidak, bukan itu.” Sergah Krystal cepat, lalu menghela napas lagi. Terlihat jelas gurat kecemasan sekaligus keraguan di wajahnya.

“Lalu?”

“Kurasa… aku tahu siapa Kyuhyun…”

Minhyuk mengernyitkan dahi, “Kau mengenalnya?”

Mata Krystal bergerak-gerak gelisah, “Aku mengenalnya, tapi aku tidak mengenalnya.”

“Maksudmu?”

“Aku tahu dimana Kyuhyun… maksudku, aku tahu kenapa dia tidak bisa ditemukan…”

“Bagaimana bisa?” Minhyuk mengubah posisi duduknya sedikit menghadap Krystal. Gadis itu tampak sangat serius, dan juga sangat cemas. Dan lagi tiba-tiba ia membahas soal Kyuhyun, membuat Minhyuk semakin penasaran apa yang ingin disampaikan gadis itu sebenarnya.

Krystal menghela napas panjang. Ia sudah memantapkan hati untuk menceritakannya pada Minhyuk, menceritakan semua yang ia ketahui. Pikiran-pikiran itu terus mengganggunya selama beberapa hari terakhir ini. Ia bahkan tidak bisa tidur tenang di malam hari.

“Dengar,” Krystal menatap Minhyuk lurus-lurus, “Empat bulan yang lalu, seseorang yang mengaku bernama Choi Minho menemuiku. Dia memintaku untuk mengoperasi total wajahnya. Aku menyanggupi, dan dia membayarku berkali-kali lipat dari seharusnya. Aku hampir melupakan kejadian itu, sampai beberapa hari yang lalu muncul berita tentang Cho Kyuhyun. Mantan pasienku yang bernama Choi Minho itu… awalnya memiliki wajah yang sama dengan Cho Kyuhyun… Dia Cho Kyuhyun.”

Minhyuk terhenyak. Cerita Krystal benar-benar mengejutkannya. Ia tidak menyangka secara tidak langsung gadis itu punya keterkaitan dengan kasus Cho Kyuhyun. Ah tidak, malah bisa jadi gadis itu merupakan saksi kunci terungkapnya keberadaan Kyuhyun yang sekarang sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan masih buron. Dunia benar-benar terasa sempit sekarang. Hampir semua orang di sekelilingnya terlibat dalam kasus pembunuhan Choi Siwon.

“Tadi pagi aku mengecek tabunganku di bank, dan uangku sudah bertambah ratusan juta. Transfer atas nama Choi Minho. Entah bagaimana orang itu bisa mengetahui nomor rekeningku.” Krystal meneruskan ceritanya. Ia lalu buru-buru mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantong jas putihnya dan menunjukkannya pada Minhyuk, “Beberapa hari yang lalu dia juga mengirimkan ini padaku.”

Minhyuk meraih kertas itu, kemudian membukanya dan membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Kalimat yang ditulis dengan tinta merah;

‘Aku tahu gerak-gerikmu. Jangan katakan pada siapapun atau kau akan tahu akibatnya.’

“Surat ancaman…” gumamnya.

Krystal mengangguk-angguk, “Sama persis dengan yang dikirimkan pada Choi Sooyoung bukan? Hanya saja ini ditulis dengan tinta merah, bukan dengan darah. Dan kelopak bunga itu… dia juga menyertakan sebuket bunga mawar hitam bersama surat itu.”

Minhyuk mengambil kelopak bunga berwarna hitam yang terselip diantara lipatan kertas itu, kemudian mengamatinya dengan seksama. Dari bentuknya, sepertinya kelopak itu memang berasal dari bunga mawar.

“Orang itu masih ingat jika aku adalah dokter yang mengoperasi plastik wajahnya. Dia memberikan surat ancaman dan menyuapku dengan sejumlah uang untuk menutup mulutku.”

“Kau tidak pernah menceritakan ini padaku.” potong Minhyuk, merasa sedikit kecewa karena selama ini Krystal menutupi hal sepenting ini darinya.

“Aku takut, Minhyuk…” Krystal meremas-remas kedua tangannya. Ekspresi gelisah semakin kentara di wajahnya, “Ancaman itu tidak main-main…”

“Aku harus bagaimana…? Apa yang harus kulakukan…?” suaranya semakin bergetar.

Belum pernah Minhyuk melihat Krystal ketakutan seperti ini. Mendapatkan teror dari seorang pembunuh dan buronan yang berkuasa seperti Cho Kyuhyun pasti membuatnya sangat tertekan. Ia tidak habis pikir bagaimana gadis itu tahan menyembunyikan semua perasaan itu rapat-rapat darinya, membuatnya merasa menjadi orang yang tidak berguna.

“Tenanglah…” Minhyuk menggenggam tangan gadis itu lembut, kemudian merangkulkan sebelah tangannya ke punggung gadis itu, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, “Dinginkan kepalamu, kita harus memikirkannya baik-baik.”

Krystal terpaku. Minhyuk benar-benar tahu bagaimana cara membuatnya tenang. Kehangatan dari genggaman tangannya seolah menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, membuatnya rileks dan merasa semua akan baik-baik saja.

Choi Minho. Minhyuk juga merasa pernah mendengar nama itu. Ia kemudian ingat jika nama itu pernah disebutkan oleh Lee Jungshin, lelaki yang tanpa sengaja ditemuinya sedang berdiri di depan kediaman Choi beberapa waktu yang lalu. Mereka kemudian mengobrol─atau lebih tepatnya Jungshin mencurahkan segala perasaannya─dan saat itulah Jungshin menyebutkan bahwa Choi Minho adalah kekasih Choi Sulli, adik dari Choi Sooyoung yang disukainya.

Apa itu berarti Cho Kyuhyun yang sudah merubah wajah dan identitasnya menjadi Choi Minho sengaja mendekati Sulli untuk memantau kondisi Choi Sooyoung dan memastikan gadis itu tidak melaporkan dirinya pada polisi? Kalau benar begitu, ia kasihan pada Sulli yang hanya dimanfaatkan sebagai perantara dengan Sooyoung. Ah, entahlah. Mungkin saja itu bukan Choi Minho yang sama dengan yang diceritakan Krystal. Nama Choi Minho bukan hanya satu di Korea. Tapi… ini semua terlalu berkaitan jika dikatakan hanya sebuah kebetulan.

Merasa gadis itu sudah mulai tenang, Minhyuk memutuskan untuk angkat bicara, “Apa uang sebegitu pentingnya untukmu?”

Krystal menoleh cepat, “Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu kau bisa kembalikan.”

“Tapi… dia bisa menganggapku membangkang…”

“Kenyataannya kau tidak akan menurutinya kan?”

Krystal menelan ludah,”Entahlah… Aku… Kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya kan?”

“Krystal, dengar aku.” Minhyuk sedikit menundukkan kepalanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Krystal, “Dengan kesaksianmu, kepolisian, Choi Sooyoung, bahkan seluruh penduduk Korea akan berterima kasih karena Cho Kyuhyun tertangkap. Dia akan menjalani hukuman di penjara dan tidak akan ada lagi yang akan menerormu dan meneror Choi Sooyoung juga.”

“Kesaksianmu sangat berarti, Krystal-ah. Kau bisa membantu menyelesaikan kasus itu.”

Krystal menghela napas berat dan mengalihkan pandangannya. Jujur, sangat berat baginya untuk mengambil keputusan. Semua orang tahu Cho Kyuhyun sangatlah berkuasa karena kedudukan dan kekayaannya, dan tidak akan ada yang bisa memprediksi apa yang akan dilakukannya jika tahu dirinya tidak menuruti perintahnya untuk tutup mulut.

“Kepolisian akan melindungimu. Begitu juga denganku. Kau tidak perlu takut.” Minhyuk terus berusaha membujuk gadis itu. Ia tidak bisa menjamin Kyuhyun akan berhenti meneror Krystal meskipun gadis itu tidak melapor pada polisi. Mungkin saja nantinya Kyuhyun malah memanfaatkannya dengan ancaman akan berbuat sesuatu jika gadis itu tidak mau menurutinya.

“Aku akan melindungimu. Aku janji.” Tegas Minhyuk.

Krystal menatap Minhyuk lekat-lekat, kemudian mengangguk sambil tersenyum samar. Kata-kata Minhyuk memberinya kekuatan. Ia sadar jika kejujuran lebih penting dari apapun. Bersembunyi dan menutup diri hanya akan menambah beban hati dan pikirannya.

Krystal mencondongkan badannya, merengkuh Minhyuk erat dan menyurukkan kepalanya di bahu laki-laki itu, menghirup napas dalam-dalam disana. Ia harus menenangkan diri, dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya nyaman hanyalah Minhyuk seorang.

“Semua akan baik-baik saja kan?”

***

Xi Gallery, Seogyo-dong, Mapo-gu, Seoul

9.45 PM

-Author’s POV-

“Chukkae, Sulli-ah!”

Sulli tengah memandangi display ponselnya yang─menurutnya─sepi ketika tiba-tiba saja seseorang merangkul lehernya dari belakang. Suaranya yang riang dan rangkulannya yang hangat membuat Sulli tidak perlu menoleh untuk sekedar memastikan siapa orang yang sedang menempel di punggungnya itu. Sudah hampir lima bulan lamanya ia tidak mendengar suara riang itu. Harusnya ia bahagia, karena itu artinya Sooyoung sudah benar-benar kembali seperti sedia kala.

“Gomawo, eonni…” Sulli menoleh sekilas dan tersenyum tipis. Ya, seharusnya dia merasa senang, karena Fashion Show yang baru saja diselenggarakan sebagai project kuliahnya itu sukses. Wartawan dan selebriti yang hadir benar-benar di luar ekspetasinya. Itu semua tentu saja tidak lepas dari popularitas Jungshin dan Sooyoung. Tidak sedikit chief editor beberapa majalah fashion ternama yang hadir dan bahkan menawari mereka─Sulli dan teman-temannya─untuk bergabung. Teman-teman Sulli tentu sangat senang, mereka sampai bingung harus memilih untuk menerima tawaran yang mana.

Sulli juga sangat senang. Ia senang. Tapi rasa senang itu tampaknya tertutupi oleh kabut kegelisahan yang sejak tadi menyelimutinya. Sulit baginya untuk tidak menunjukkan wajah murungnya di hadapan orang-orang. Satu-satunya orang yang membuatnya seperti ini siapa lagi kalau bukan Choi Minho. Laki-laki yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu tidak pernah menghubunginya lagi dan juga tidak datang di acara Fashion Show ini untuk sekedar melihat hasil karya dari jerih payah kekasihnya selama ini. Sudah pasti Sulli merasa kecewa. Mungkin rasa kecewanya akan sedikit berkurang jika saja Minho memberitahunya kalau ia tidak bisa datang, namun kenyataannya tidak demikian.

“Ah, aku punya hadiah untukmu.” Sooyoung melepaskan rangkulannya, kemudian mengeluarkan sebuah amplop berwarna silver, “Kita diundang menjadi tamu di Seoul Fashion Week. Dan kalau kau bersedia, kau bisa menyumbangkan beberapa desain bajumu untuk dipamerkan. Hanya kau, Sulli. Ini hebat, kan?”

Sulli tercengang. Seoul Fashion Week? Karyanya? Dipamerkan? Mimpi apa lagi ini? Semua ini terlalu indah untuk dijadikan kenyataan. Dalam sehari tiba-tiba saja ia seolah menjadi seorang desainer ternama yang hasil rancangannyaa ditunggu-tunggu banyak orang.

“Kau… tidak bercanda kan, eonni?”

“Kenapa? Kau tidak suka ya?” senyum di wajah Sooyoung perlahan-lahan memudar. Respon yang ditunjukkan Sulli ternyata tidak seantusias yang ia kira.

“Mana mungkin aku tidak suka?” Sulli tersenyum. Tentu saja ia sangat bahagia. Ia ingin menghambur ke pelukan Sooyoung namun tiba-tiba saja matanya menangkap liontin yang menggantung di leher gadis itu; liontin black diamond. Liontin itu kembali mengingatkannya pada Choi Minho dan otomatis mengurungkan niatnya untuk memeluk Sooyoung.

Entah kenapa, setiap melihat liontin itu Sulli merasa cemburu. Rasanya sedikit demi sedikit tercipta jurang pemisah diantara mereka berdua. Sooyoung tidak menyadarinya tentu saja, karena Sulli-lah yang menciptakan jurang itu sendiri. Dengan kata lain, ia cemburu pada Sooyoung. Ia iri pada Sooyoung. Ia membenci dirinya yang seperti itu tapi juga ingin dirinya diperhatikan.

“Sulli-ah.” tiba-tiba datanglah Jungshin. Ia lalu mengeluarkan sebuket bunga mawar pink dari balik punggungnya dan menyerahkannya pada gadis itu, “Selamat, Fashion Show-mu sukses besar. Kerja bagus.”

“Gomawo.” Sulli buru-buru mengambil buket bunga itu dan meletakkannya di atas meja rias, kemudian menutupinya dengan punggungnya. Ia tidak ingin Sooyoung melihatnya, karena ia takut gadis itu akan kembali teringat pada sebuket mawar kuning yang tergeletak di kamarnya ketika Choi Siwon terbunuh dulu; salah satu hal yang membuatnya trauma.

“Ah, itu Lee Jungshin!”

“Dan juga Choi Sooyoung!”

Suara ribut-ribut yang berasal dari belakang memaksa mereka bertiga untuk menoleh. Tampak beberapa orang wartawan sudah siap dengan kamera dan mic mereka, bermaksud untuk mewawancarai kedua selebriti itu─Jungshin dan Sooyoung─kapanpun ada kesempatan.

Sooyoung tersenyum ke arah Sulli dan Jungshin, kemudian mundur perlahan beberapa langkah menjauhi mereka berdua, “Sepertinya aku harus pergi. Aku tidak ingin orang-orang itu membuat kacau tempat ini.” sadar jika dirinya adalah salah satu orang yang paling dicari-cari oleh para wartawan, Sooyoung pun memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih luas. Ia mau saja meladeni pertanyaan wartawan-wartawan itu, tapi juga tidak ingin membuat orang-orang yang berada di ruangan itu merasa tidak nyaman. Setelah menepuk sekilas bahu Sulli dan Jungshin, ia pun pergi meninggalkan ruangan. Kepergiannya otomatis membawa sebagian wartawan ikut mengekor di belakangnya.

Sementara itu sebagian wartawan lagi rupanya memutuskan untuk mendekati Jungshin, yang masih berdiri di samping Sulli. Mereka melontarkan beberapa pertanyaan yang terkait dengan karirnya sebagai model dan pengalamannya menjadi model untuk desainer amatir seperti Sulli dan teman-temannya.

“Mereka sangat hebat. Kurasa hasil rancangan mereka tidak kalah dengan rancangan desainer ternama. Kuharap bisa bekerja sama lagi dengan mereka di lain kesempatan.” Jungshin menutup sesi wawancara dadakan itu. Senyumnya yang ramah terus tersungging di bibirnya. Ia lalu menggenggam tangan Sulli, membuat gadis itu tersentak dan langsung menoleh ke arahnya.

“Aku juga ingin berterima kasih pada Sulli. Berkat kerja kerasnya acara ini terselenggara dengan baik. Kemampuannya patut diperhitungkan. Aku yakin dia akan menjadi desainer yang hebat.” dengan gerakan cepat Jungshin menundukkan kepalanya dan mengecup pipi gadis itu sekilas. Para wartawan tidak mungkin menyia-nyiakan momen mengejutkan itu. Mereka langsung bersiap mengabadikannya dengan kamera, membuat kedua orang itu dihujani cahaya blitz yang menyilaukan mata.

Jungshin menatap Sulli dalam. Semoga saja dengan ini Sulli bisa menyadari perasaannya yang benar-benar tulus.

“Sepertinya akan jadi berita.” Ia mengedikkan bahunya.

Sulli tercekat. Ia terlalu terkejut hingga untuk menelan ludah saja rasanya sangat sulit ia lakukan. Ia tidak menyangka Jungshin bisa melakukan hal itu, di tempat umum pula. Apa laki-laki itu tidak sadar akan popularitasnya?

Dan lagi, apa laki-laki itu tidak sadar jika ia masih memiliki Choi Minho?

“Matilah aku!”

***

 

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

9.30 PM

-Author’s POV-

“BRAK!!”

Suzy menutup pintu utama rumah Krystal dengan kasar, kemudian menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Ia lelah. Benar-benar lelah. Semua yang dilakukannya hari ini tidak ada yang berjalan dengan baik. Kalau bisa, ia ingin bolos masuk kantor beberapa hari dan pergi ke suatu tempat yang jauh untuk menenangkan pikirannya. Ia sudah lelah menangis diam-diam, membuatnya terkesan seperti gadis bodoh yang baru saja diberikan harapan palsu oleh seseorang.

“Kau bilang apa? Menyuruhku menunggu?! Brengsek!”

Suzy terus menggerutu dalam hati. Rasanya ia ingin melemparkan semua barang yang ada dihadapannya, melampiaskan semua amarahnya. Tapi ia sadar semua barang itu bukan miliknya, dan tampaknya amarahnya tidak akan surut walaupun semua barang itu sudah hancur berkeping-keping. Kepingan-kepingan itu tidak akan bisa menggantikan kepingan hatinya yang sudah terlanjur berserakan, hancur, menjadi abu, dan pada akhirnya hilang tertiup angin.

Suzy mengacak-acak rambutnya, lalu menaikkan kedua kakinya di atas sofa dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Entah ungkapan seperti apa lagi yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Begitu melihat foto-foto yang dikirimkan Eun Jung padanya tadi siang, semua bayangan indah di depan matanya lenyap seketika. Seperti langit cerah yang tiba-tiba tertutup awan hitam tebal dengan petir yang menyambar-nyambar. Ia seperti dibimbing untuk terbang ke langit dan dihempaskan ke tanah begitu saja dalam sekali sentakan. Rasanya sakit. Suzy bahkan sudah tidak sudi mengeluarkan air matanya hanya untuk menangisi seseorang yang tidak akan pernah menjadi miliknya.

“Bodoh sekali kau, Suzy. Percaya begitu saja dengan orang lain. Lihat dirimu sekarang. Kau adalah gadis paling tolol di dunia.” Itulah kata-kata yang selalu bergaung dalam benaknya.

“Jung Yonghwa, terima kasih atas semua kebohonganmu, dan harapan palsu yang kau berikan.”

Semenjak kejadian itu, Suzy tidak pernah menghubungi Yonghwa lagi. Hatinya sudah terlanjur membeku. Faktanya, Yonghwa hanya menggantungkan perasaannya. Memintanya untuk menunggu sementara ia kembali ke pelukan mantan kekasihnya. Sosok Yonghwa di mata Suzy sekarang begitu hina. Harusnya ia tidak membiarkan dirinya berharap banyak waktu itu. Dan pada akhirnya ia hanya bisa malu akibat kebodohannya sendiri.

Tidak ada lagi Suzy yang baik hati, begitu tekadnya dalam hati. Jika menjadi sosok baik hati membuatnya terpuruk seperti ini, lebih baik ia membuangnya jauh-jauh. Yang akan ia lakukan adalah bagaimana caranya menunjukkan kepada laki-laki itu bahwa ia tidak akan tinggal diam. Laki-laki itu telah mencampakkannya secara tidak langsung, dan ia ingin berbuat sebaliknya pada laki-laki itu dengan caranya sendiri.

Suzy menyambar ponselnya, kemudian menekan beberapa tombol dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

“Yeoboseyo Eun Jung-ah, kira-kira dimana kau taruh map biru waktu itu?”

***

Itaewon, Seoul

10.15 PM

-Author’s POV-

Suzy melangkahkan kakinya cepat. Hingar bingar musik dan cahaya remang dari lampu club sama sekali tidak dihiraukannya. Ia bahkan tidak tertarik untuk sekedar menoleh atau memandang ke sekeliling, duduk di depan bar dan memesan minuman beralkohol ringan, misalnya. Karena tujuannya datang ke tempat ini bukanlah untuk bersenang-senang atau melepaskan stres. Ada hal yang lebih penting yang harus ia urus dan ia ingin menyelesaikannya malam ini juga.

Ketika hampir mencapai ujung lorong, Suzy melambatkan langkahnya. Dilihatnya seorang pria tinggi besar berpakaian rapi mondar-mandir di depan sebuah pintu. Ia ingat itu adalah kode. Berarti klien yang akan ditemuinya berada di dalam ruangan di belakang pria itu.

“Bae Suzy. Pengacara.” Suzy menunjukkan kartu identitasnya pada pria yang tidak salah lagi adalah bodyguard itu. Pria itu mengangguk sekali, kemudian membukakan pintu di belakangnya untuknya. Suzy melangkah masuk dan tanpa basa-basi langsung memposisikan dirinya duduk di sofa di salah satu sudut ruangan.

Welcome, Miss Bae. Aku bahkan belum menyuruhmu duduk.” Sapa pria yang duduk di hadapannya kalem.

“Aku tidak punya banyak waktu. Segera selesaikan ini dan aku akan pergi.” Balas Suzy ketus.

“Kenapa terburu-buru? Kita masih punya malam yang panjang…”

Suzy mendengus. Ditatapnya kedua mata pria itu tajam. Ia sedang tidak ingin main-main sekarang.

Pria itu berdeham, menyadari basa-basinya sama sekali tidak berguna. Ia tahu benar bagaimana sikap Suzy jika menghadiri sidang di pengadilan, tampak dingin dan angkuh seperti yang dilihatnya sekarang ini. Tapi rasanya kali ini aura dingin itu benar-benar terasa menusuk.

Sebagai klien, pria itu cukup tahu diri. Ia mencoba bersabar menghadapi sikap Suzy dan menuruti gadis itu. Karena bagaimana pun juga ia akan membutuhkan bantuannya untuk beberapa waktu ke depan.

“Jadi bagaimana, nona Bae? Kau sudah memutuskan untuk menerima permohonanku?”

“Menurutmu untuk apa aku datang ke tempat ini?” Suzy menyodorkan map biru yang dibawanya ke arah pria itu, “Sudah kutandatangani.”

“Jadi, aku klien-mu sekarang?”

“Apa istimewanya seorang klien?” cibir Suzy.

“Menjadi klien seorang pengacara handal Bae Suzy menurutku sangat istimewa.”

“Jangan merayuku, tuan Choi Minho.”

Pria yang ternyata adalah Minho itu terkekeh, “Sayang sekali kau menyadarinya. Padahal aku bermaksud mengakrabkan diri denganmu. Ruangan ini cukup luas, kau tahu? Dibalik pintu di belakangku ini ada kamar yang dilapisi dinding kedap suara.”

Suzy membelalakkan matanya, “Maksudmu kau mau meniduriku, begitu?! Brengsek!”

Tawa Minho semakin pecah, “Calm down, Miss Suzy Bae. Itu hanya rencana awal. Kelihatannya mood-mu sedang tidak bagus sekarang.”

“Aku bukan wanita jalang yang mau kau bawa ke ranjang hanya agar aku menuruti keinginanmu!”

Minho menyeringai. Gadis itu benar. Ia tidak mudah didekati. Untuk membuat gadis itu menjadi pengacaranya saja ia harus sampai meminta bawahannya mengirimkan data-data ke rumahnya─atau lebih tepatnya ke tempat gadis itu tinggal. Benar-benar gadis yang menarik.

“Jadi, kita deal?” Minho mengulurkan sebelah tangannya ke arah Suzy.

Suzy terdiam sejenak. Ya, inilah keputusannya; menerima permohonan Choi Minho untuk menjadi pengacaranya. Tadinya ia menolak permohonan laki-laki itu mentah-mentah. Begitu sadar bahwa Choi Minho adalah Cho Kyuhyun yang terlibat dalam kasus yang ditangani Yonghwa, ia langsung menolaknya karena tidak ingin dirinya menjadi rival. Tapi sekarang semua itu berubah 180 derajat. Ia ingin menggunakan kesempatan ini sebagai balas dendam atas apa yang telah dilakukan laki-laki itu padanya.

Suzy menyambut uluran tangan Minho. Tangannya sedikit terkepal, menyalurkan keyakinan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan kalah.

Deal.

***

Lee’s Jonghyun’s Apartment, Seocho, Seoul

10.30 PM

-Author’s POV-

Malam itu, sepulangnya mereka berdua dari Busan, Tiffany sempat mampir ke apartemen Jonghyun sebelum pulang ke apartemennya di Gangnam. Tetapi, alangkah kagetnya ia, karena tepat saat ia membuka pintu keluar dari apartment Jonghyun, ia menemukan sebuah surat di depan pintu…dan setangkai mawar hitam.

Diambilnya surat itu kemudian dibacanya. “Kalau kau masih berani mengganggu hidupku dengan penyidikan sialanmu itu, membunuhmu bukanlah hal yang sulit untuk kulakukan.”

Di kertas itu memang tidak tertulis siapa pengirim surat bernada mengancam itu, tetapi Tiffany tahu betul siapa orang yang bisa mendapatkan setangkai bunga langka semacam mawar hitam. Shim Changmin, tidak salah lagi.

Tanpa sadar ia meremas surat itu. Marah, tentu saja ia marah. Ternyata Changmin bertindak lebih cepat dari yang ia duga. Dan ia sadar betul, bahwa itu artinya ia harus segera menyerahkan dirinya ke polisi, sesuai perjanjian yang dibuatnya dengan Changmin, demi melindungi pria yang dicintainya, Lee Jonghyun.

Disimpannya surat dan bunga mawar itu ke dalam tasnya, menyembunyikan keberadaan kedua benda itu dari Jonghyun. Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat, ia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam apartemen Jonghyun.

“Kau tidak jadi pulang?” tanya Jonghyun yang sedang berdiri tidak jauh dari pintu. Ia kaget melihat wanita itu masuk kembali ke dalam apartmentnya. “Apa yang terjadi? Kau mau kuantar?”

Tiffany menggeleng sambil tersenyum pada pria itu. “Ani.” Setelah menggantung tas dan jaketnya pada gantungan yang terletak di sebelah kiri pintu masuk, ia berjalan mendekati Jonghyun yang masih belum berpindah dari tempatnya berdiri.

“Ini sudah malam, kau tahu. Tidak baik seorang wanita pulang sendirian malam-malam begini. Biar kuantar.” Tepat saat Jonghyun memutar badannya untuk mengambil kunci mobil, Tiffany memeluknya dari belakang.

“Tidak perlu.” Tiffany mempererat pelukannya, menyandarkan kepalanya di punggung pria itu. “Biarkan saja begini. Aku ingin melakukan ini.”

Jonghyun serasa membeku selama beberapa saat. Ia bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi pada Tiffany. Sambil menggenggam kedua tangan gadis itu di perutnya, ia dapat merasakan deru napas Tiffany yang memburu. Entah apa penyebabnya, ia juga tak tahu. Ia mencoba membaca raut wajah Tiffany melalui ekor matanya. Dilihatnya gadis itu sedang memejamkan matanya, seolah-olah ia sedang menenangkan diri dari entah-apa-itu yang mengganggu pikirannya.

Jonghyun kemudian membalikkan tubuhnya dan mendekap gadisnya itu, membelai rambut panjangnya dan mengecup puncak kepalanya sesekali sambil seolah berkata, “semua akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir”.

“Kau mau begini saja?” tanya Jonghyun.

Tiffany mengangguk. “Aku ingin bersamamu saja malam ini,” pintanya. Suaranya bergetar, seperti sedang menahan tangis.

“Hmm…” Jonghyun berpikir sejenak. “Baiklah, kalau memang itu maumu.”

“Gomawo.” Tak kuat lagi menahan tangisnya, air mata pun menetes, membasahi pipi Tiffany.

Merasakan sesuatu membasahi bajunya, alangkah terkejutnya Jonghyun ketika mendapati Tiffany sedang menangis dalam dekapannya. “Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi, Tiff? Ceritakan padaku.”

Tapi Tiffany hanya menggeleng. Ia tidak mau apa yang sedang membebani pikirannya saat ini menjadi beban pikiran juga bagi Jonghyun. Biarlah dirinya yang menanggung semua konsekuensi ini sendirian, pikirnya.

Tanpa Jonghyun perlu tahu bahwa dirinya berada dalam bahaya; dan tanpa Jonghyun perlu tahu bahwa ia akan melaksanakan janjinya pada Changmin―untuk menyerahkan dirinya kepada pihak yang berwajib―demi melindunginya; dan tanpa Jonghyun perlu tahu pula, bahwa karena semua itu, mereka tidak bisa lagi bersama―setidaknya selama beberapa waktu yang bisa jadi bertahun-tahun lamanya.

Uljima, Fany-ah… Apapun itu yang mengganggu pikiranmu, aku akan selalu berada di sampingmu. Kita akan melewatinya bersama.” Jonghyun menyapukan ibu jarinya ke pipi Tiffany, menghapus air mata yang membasahi pipinya itu. “Kau tidak perlu takut.”

Bukannya tenang, Tiffany malah terisak. Kata-kata yang diucapkan Jonghyun barusan justru mengingatkannya pada fakta menyedihkan bahwa Jonghyun tidak akan ada lagi di sampingnya―bahwa dirinyalah yang akan meninggalkan pria itu.

“Menangislah, Tiff, kalau itu memang bisa membuatmu merasa lebih tenang,” gumam Jonghyun sambil mempererat dekapannya.

Setelah beberapa saat yang cukup panjang, tidak terdengar lagi suara isak tangis Tiffany. Jonghyun melepas dekapannya. Kedua matanya mencari sepasang mata gadis itu. Kemudian disekanya air mata yang masih tersisa di pipi Tiffany dengan ibu jarinya

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Jonghyun yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Tiffany.

Dalam keheningan yang menyelimuti keduanya, Jonghyun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany lalu melumat bibirnya dengan posesif.

Saranghae, Fany-ah,” ucap Jonghyun di sela-sela ciumannya.

Kali ini Tiffany menyerahkan dirinya pada dorongan hasrat. Ia membiarkan dirinya melakukan apa yang ingin dilakukannya sejak pertama kali Jonghyun menciumnya. Bibir, tangan, tubuh―semuanya merespons ciuman itu. Jari-jari Tiffany menyusuri rambut Jonghyun dan menangkup kepala pria itu, membalas ciuman Jonghyun dengan hangat dan penuh gairah, dengan hasrat yang sudah lama dipendamnya.

Jonghyun menggunakan lidahnya untuk mencumbu bibir Tiffany. Napas Tiffany begitu hangat dan cepat di wajah Jonghyun, membuatnya semakin bergairah. Jonghyun memiringkan kepala Tiffany dan memperdalam ciuman mereka. Lidahnya menyelip diantara bibir Tiffany, bergerak menelusuri rongga mulutnya, dan dengan mudah menemukan lidah Tiffany. Masih sambil melakukan kegiatan mereka, Jonghyun menggendong Tiffany ke kamarnya.

Tiffany kemudian melepaskan ciumannya untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Ia menarik ujung kemeja Jonghyun hingga lepas dari pinggang celana panjangnya. Tangannya bergerak menuju kancing teratas kemeja Jonghyun dan membukanya. Tidak memerlukan waktu lama bagi Tiffany untuk membuka seluruh kancing kemeja dan celana panjang yang dikenakan Jonghyun.

Seolah tersadar dengan apa yang sedang dilakukan gadis itu, Jonghyun mendorong tubuh Tiffany dan melepas ciuman mereka. “Kau… kau yakin?”

Sebenarnya Jonghyun juga menginginkan Tiffany sama seperti gadis itu menginginkan dirinya―atau mungkin lebih parah. Tetapi ia rasa ia perlu setidaknya memastikan bahwa gadis itu tidak membuat keputusan yang mungkin saja akan disesalinya di kemudian hari―menyerahkan kehormatannya kepada seorang Lee Jonghyun.

Tiffany menatap lurus ke dalam kedua mata coklat Jonghyun. Ia menghela napas sebelum menjawab, “tidak ada lagi yang kuinginkan malam ini selain dirimu, Lee Jonghyun.”

Ia tahu, malam itu akan menjadi malam terakhirnya bersama Jonghyun. Mulai besok, ia akan menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi, melewati malam-malam yang dingin dan sunyi… seorang diri. Karena itu, ia ingin membuat setidaknya satu memori terakhir bersama pria itu.

Sambil mengecup leher Jonghyun, Tiffany menanggalkan kemeja yang dikenakan Jonghyun dan melemparnya ke sembarang arah. Jonghyun menyurukkan wajahnya  ke leher Tiffany. Lengannya memeluk tubuh gadis itu. Tiffany merasakan kesepuluh jari Jonghyun di punggungnya saat pria itu memeluknya erat-erat. Ia memiringkan kepalanya agar bibir Jonghyun dapat menjelajahi lehernya dengan lebih leluasa.

Napas Jonghyun terdengar cepat dan keras di telinga Tiffany saat ia mendorong tubuh Tiffany hingga dirinya terimpit antara tubuh pria itu dan tempat tidur di bawahnya. Mereka berciuman dengan penuh gairah sementara Jonghyun membuka resleting mini dress yang dikenakan Tiffany. Hanya dalam beberapa saat yang amat singkat ia berhasil melepaskan semua kain yang melekat di tubuh Tiffany.

Jonghyun menopangkan lengannya di sisi kepala Tiffany, mengapit kepalanya. Mata coklatnya menatap mata Tiffany ketika ia menyibakkan helai-helai rambut dari wajah Tiffany lalu menunduk dan menciumnya.

Bibir Jonghyun menyusuri wajah Tiffany dengan lembut, membelai setiap lekuk di wajahnya. Tiffany mencoba mengikuti bibir itu, menangkapnya dengan bibirnya sendiri untuk dicium. Tetapi bibir Jonghyun begitu sulit ditangkap, bergerak dari telinga, ke kelopak mata, ke pelipis, ke pipi, dan akhirnya ke bibirnya.

Napas Jonghyun terasa hangat dan manis di kulit Tiffany ketika bibir Jonghyun perlahan-lahan turun menuju dadanya, perutnya, dan bagian dirinya yang paling sensitif. Jonghyun menurunkan tangannya dan membelai bagian diri Tiffany yang sangat mendambakan kepuasan. Belaian yang paling ringan pun menimbulkan reaksi luar biasa dalam diri Tiffany.

“Lee Jonghyun…” Nama pria itu tak henti-hentinya diucapkan Tiffany bersamaan dengan kenikmatan yang dirasakannya―yang seolah menjadi mantra baginya sepanjang malam itu.

***

 

-Lee Jonghyun’s POV-

Cahaya matahari yang merambat masuk melalui celah-celah tirai jendela kamarku mulai mengusik mataku. Hari sudah pagi dan aku seharusnya segera bangun dari tempat tidurku. Aku tahu itu.

Tepat saat aku hendak membuka mataku, kurasakan tangan Tiffany yang melingkar di pinggangku menarik tubuhku lebih dekat padanya―memelukku lebih erat. Ia lalu membenamkan wajahnya di dadaku.

Perlahan kubuka mataku dan kudapati Tiffany masih memejamkan matanya di sampingku. Dengan satu tangan kusibakkan rambut panjang yang menutupi wajahnya. Wajah inilah yang ingin kulihat pertama kali saat aku membuka mata setiap pagi. Kutatap wajah cantiknya lekat-lekat. Ia terlihat gelisah. Entahlah, mungkin ia bermimpi buruk.

Kuusap-usap punggung Tiffany dengan lembut, berusaha menghilangkan kegelisahannya. Jangan takut, jagiya. Apapun itu yang terjadi dalam mimpimu saat ini, itu semua hanya mimpi buruk. Aku akan selalu ada di sampingmu. Takkan kubiarkan hal buruk terjadi padamu.

Kuputuskan untuk menikmati momen ini lebih lama lagi. Kupejamkan lagi mataku walau sebenarnya rasa kantukku sudah hilang sepenuhnya. Saat kubuka lagi mataku, aku menemukan sepasang mata indahnya sedang menatap wajahku.

Mata kami bertemu kemudian ia tersenyum. “Good morning,” sapanya dengan suara yang amat, sangat lembut.

Aku balas tersenyum padanya. “Tidurmu nyenyak?”

Ia mengangguk. “Bagaimana denganmu?”

Kurengkuh wajahnya kemudian kukecup bibirnya yang merah. “Kau boleh tidur lagi kalau kau masih lelah.”

Kurasakan ia menggeliat, hendak bangkit dari tidurnya. Tapi buru-buru kucegah.

“Tidurlah sebentar lagi. Aku tahu kau masih lelah. Biar aku yang menyiapkan sarapan,” bisikku di telinganya.

Kutarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian ia kembali memejamkan matanya. Setelah kukenakan kembali pakaianku yang berserakan di lantai, kukecup keningnya sebelum meninggalkan kamarku untuk menyiapkan sarapan untuk kami berdua.

***

 

-Author’s POV-

Setelah mengambil pakaian yang kira-kira bisa dipakainya dari dalam lemari pakaian Jonghyun, Tiffany segera mencuci mukanya kemudian menyusul Jonghyun ke ruang makan untuk sarapan.

Good morning.” Tiffany mengecup pipi Jonghyun lembut sebelum mendudukkan dirinya di sebelah pria itu.

Jonghyun tersenyum. Matanya memperhatikan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Jal-eoullinda.”

“Aku juga tidak mengerti kenapa bajumu selalu cocok untukku.” Mereka berdua terkekeh pelan.

Sambil melahap toast yang menjadi sarapan paginya, Jonghyun sesekali memandangi Tiffany sekilas… hingga matanya mendapati sepasang mata Tiffany sedang menatapnya.

Jonghyun menatap gadis itu selama beberapa saat, hingga kemudian Tiffany bergerak mendekat kepadanya, membuat jantung pria itu berdegup kencang. Tetapi, tidak seperti yang diduga Jonghyun sebelumnya, gadis itu meraih pergelangan tangan Jonghyun kemudian menggigit butter toast yang sedang dipegangnya dan memakannya.

Melihat apa yang dilakukan Tiffany, Jonghyun hanya memutar bola mata sambil menghela napas, kemudian terkekeh. “You’re hungry, huh?” Tiffany mengangguk sebagai jawaban.

“Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, nona Hwang.” Jonghyun mengedikkan kepalanya pada beberapa lembar butter toast di atas meja makan.

Tiffany malah bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan ruang makan, hingga membuat Jonghyun heran. “Kau tidak makan? Kukira tadi kau bilang kau lapar.”

“Aku mau mandi dulu.” Tiffany mendekatkan bibirnya ke telinga Jonghyun kemudian membisikkan sesuatu. “For the record, aku tidak akan mengunci pintu kamar mandinya.” Ia mengecup pipi Jonghyun singkat kemudian berlalu meninggalkan Jonghyun yang masih terpaku―atau shocked, lebih tepatnya―di tempat duduknya.

***

 

Tiffany’s Apartment, Gangnam-gu, Seoul

7.00 AM

-Author’s POV-

Pagi itu, Jonghyun mengantar Tiffany ke apartemennya sebelum berangkat ke kantornya. Tidak seperti sebelumnya, sepanjang perjalanan dari basement menuju apartemen Tiffany yang terletak di lantai 12, Tiffany menggenggam tangan Jonghyun dan menautkan jemarinya dengan jemari pria itu dengan sangat erat, seolah-olah ia tak pernah mau untuk melepaskannya.

Sesampainya di depan apartemen Tiffany, keduanya hanya diam; saling memandangi, saling melempar senyum, tanpa seorangpun dari mereka mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya, hingga Jonghyun akhirnya berkata, “aku harus segera berangkat ke kantor. Masuklah.”

Jonghyun mengulurkan tangannya untuk memeluk Tiffany sekali lagi sebelum meninggalkan tempat itu. Tiffany melingkarkan tangannya di punggung Jonghyun, memeluk pria itu dengan sangat erat, seolah memberi kode pada Jonghyun bahwa itu adalah kali terakhir mereka bertemu; bahwa setelah ini, Tiffany tidak bisa lagi memeluk pria yang dicintainya itu; bahwa setelah ini, ia tidak lagi bisa mengungkapkan pada pria itu betapa dirinya mencintainya.

“Lee Jonghyun?” panggil Tiffany dalam pelukannya, yang dibalas dengan gumaman oleh Jonghyun. “Kau mau kuberitahu sesuatu?” tanyanya.

Jonghyun mengangguk. “Apa?”

“0-5-1-5”

Jonghyun mengernyitkan dahi. “Tanggal lahirku?”

“Itu kode pintu apartemenku.” Ia kemudian menengadahkan kepalanya untuk mencari kedua mata Jonghyun yang jauh lebih tinggi darinya itu. “Dan ya, itu tanggal lahirmu.”

Jonghyun terdiam sambil terus menatap mata Tiffany yang juga sedang menatap matanya, seolah dari sana ia bisa melihat besarnya cinta gadis itu padanya. Jujur, ia terharu; bahagia―terlalu bahagia hingga ia berdoa agar momen itu berlangsung selamanya.

Jonghyun sedikit membungkukkan badannya saat Tiffany berjinjit untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Jonghyun. Kedua tangannya menangkup wajah gadis itu. Jarak antara wajahnya dan wajah Tiffany sangat dekat hingga ia bisa merasakan napas Tiffany menerpa wajahnya.

I love you, Lee Jonghyun. So much. You have no idea how much I love you,” gumam Tiffany dengan mata terpejam untuk menahan air matanya. Ia tidak ingin merusak suasana dengan menangis dan pada akhirnya membuat Jonghyun tahu alasan dirinya menangis―seandainya tidak ditahannya; bahwa hari itu adalah hari perpisahan mereka.

Jonghyun menunggu Tiffany membuka matanya sebelum menatap dalam mata gadis itu dan mengungkapkan isi hatinya. “You are my life now, Stephanie Hwang.”

Jonghyun menyapukan bibirnya ke bibir merah Tiffany, kemudian melumatnya dalam-dalam. Tiffany memberikan celah bagi lidah Jonghyun untuk masuk menelusuri rongga mulutnya. Tiffany balas melumat bibir Jonghyun, seolah mengisap sari-sari di bibirnya yang terasa manis di bibir Tiffany.

Setelah berciuman selama beberapa saat yang cukup lama, Tiffany melepaskan tautan bibirnya dari bibir Jonghyun. Napasnya terengah-engah, begitu juga dengan Jonghyun. Jika bukan karena ia perlu bernapas, Tiffany tidak mau melepaskan ciuman perpisahannya dengan Jonghyun barusan. Tanpa ia sadari, air mata mulai membasahi pipinya, seolah menyuarakan isi hatinya.

Uljima… Fany-ah.” Jonghyun menghela air mata di pipi Tiffany dengan ibu jarinya.

“Aku hanya…terlalu bahagia,” ucap Tiffany berbohong. Itu bukanlah air mata bahagia seperti yang dikatakannya, melainkan air mata kesedihan karena kisah cintanya harus berakhir tragis seperti ini.

Jonghyun memeluk Tiffany sekali lagi untuk menenangkannya. “Sudahlah… jangan menangis lagi. Aku tidak akan tega meninggalkanmu sendirian disini untuk pergi ke kantor kalau kau menangis seperti ini.”

Tiffany menyeka air matanya sendiri kemudian mengangguk.

Jonghyun mengelus puncak kepala Tiffany kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu. “Joa. Kau terlihat lebih cantik kalau tersenyum,” goda Jonghyun yang dibalas dengan senyuman oleh Tiffany. “Cham, aku harus segera berangkat.”

Jalga,” pesan Tiffany padanya.

Jom itta bwa!

“Selamat tinggal.”

Jonghyun memandangi Tiffany selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik badan dan berlalu menuju elevator. Ia merasa ada sesuatu yang sedikit janggal. ‘Selamat tinggal’? Bukankah itu seperti kalimat perpisahan?

***

Setelah memantapkan hatinya sekali lagi, Tiffany akhirnya memutuskan untuk memberitahu Changmin bahwa dirinya akan menyerahkan diri ke polisi hari itu. Tepat ketika Tiffany hendak meneleponnya, ponselnya berdering. Ternyata Changmin menghubunginya duluan.

Hey Tiff!” sapa pria di seberang telepon.

“Antar aku ke kantor polisi. Sekarang.” Tiffany terdengar memerintah.

Kau sudah melihat surat ancamanku untuk jaksa itu rupanya,” gumam Changmin. “Baiklah. Aku akan menyuruh anak buahku untuk membawa bukti-bukti palsu yang sudah kusiapkan dan mengantarmu ke kantor polisi.

“Berjanjilah Lee Jonghyun tidak akan menerima sampah seperti itu lagi setelah aku ditahan,” terdengar getaran dalam suara Tiffany.

Sejak kapan kau jadi cerewet seperti ini, miss Hwang? Kau tidak percaya padaku?

“Bajingan!” umpat Tiffany. Ia benar-benar tidak tahan lagi dengan kelicikan Changmin.

Changmin malah tertawa seolah-olah Tiffany baru saja membuat lelucon. “Fine. Aku tidak akan mengiriminya surat ancaman lagi. Aku juga tidak akan menyentuhnya apalagi mencelakakannya. Aku berjanji. Happy now?

“Kuharap kau memegang janjimu.”

Dan ‘klik’, Tiffany pun memutus teleponnya.

Sambil menunggu kepergiannya ke kantor polisi, Tiffany memeriksa sekali lagi pesan perpisahan yang ditulisnya untuk Jonghyun. Saat membaca lagi pesan itu, ia tidak dapat menahan air matanya yang rasanya sudah hampir kering saking seringnya ia menangis hari itu. Air matanya yang jatuh diatas kertas itu membuat goresan tinta diatasnya menjadi sedikit memudar. Karena tidak mau merusaknya―dan terlalu lelah untuk menangis lagi kalau ia harus membuat yang baru, Tiffany memutuskan untuk meletakkan surat tersebut bersebelahan dengan ponselnya di atas tempat tidur di kamarnya.

Tiffany berharap Jonghyun akhirnya mengerti semua yang dilakukannya tadi. Ia sengaja memberitahukan password pintu apartemennya agar Jonghyun bisa menemukan surat itu di dalam rumahnya. Ia juga sengaja meninggalkan ponselnya di sebelah surat itu, agar Jonghyun bisa melacak percakapannya dengan Changmin di telepon. Ia juga meletakkan surat ancaman dari Changmin dan mawar hitam yang diambilnya kemarin malam disana.

Memang, Tiffany rela menyerahkan diri demi menyelamatkan Jonghyun dari ancaman Changmin. Tetapi ia tidak sebodoh itu. Ia tahu, apabila Jonghyun berhasil melacak percakapannya dengan Changmin, akan terungkap bahwa Changmin adalah otak sebenarnya dari kasus pembunuhan Choi Siwon, dan dirinya bisa bebas. Dan sekarang ia hanya bisa berharap Jonghyun akan memecahkan semuanya dan segera mengungkap kebenarannya.

Tidak lama setelah itu terdengar bel pintu apartemen Tiffany berbunyi. Ia menegapkan badannya, memantapkan hatinya sekali lagi, kemudian melangkah menuju pintu itu.

“Nona Stephanie Hwang?” tanya pria yang mengenakan setelan jas hitam dengan perawakan cukup tinggi yang ada di hadapannya.

“Ya. Itu aku,” jawab Tiffany tegas.

“Tuan Shim menyuruhku untuk―”

Belum sempat pria itu menyelesaikan kata-katanya, Tiffany memotongnya. “Ya. Aku tahu.”

“Kita pergi sekarang, nona Hwang?”

***

 

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

1.00 PM

-Lee Jonghyun’s POV-

Tiba-tiba saja aku dan Jaksa Yoon mendapatkan panggilan mendadak dari kepala kejaksaan. Biar kutebak, sepertinya ini berhubungan dengan kasus pembunuhan itu. Tapi kenapa Jaksa Yoon juga ikut dipanggil?

Saat aku membuka pintu ruangan kepala kejaksaan, kulihat Jaksa Yoon sudah duduk di hadapan Jaksa Park―kepala kejaksaan Seoul.

“Silakan duduk, Jaksa Lee.” Aku kemudian mengambil tempat duduk di kursi kosong di sebelah Jaksa Yoon.

Jaksa Park berdeham sebelum memulai pembicaraannya. “Begini, Jaksa Lee. Pihak kepolisian telah menahan seseorang yang diduga otak dari kasus pembunuhan itu.”

“Lalu?”

“Alasan aku memanggil Jaksa Yoon kesini adalah,” kulihat Jaksa Yoon dan Jaksa Park saling bertukar pandang sekilas, “karena posisimu dalam kasus ini akan digantikan dengan Jaksa Yoon.”

“Apa?” Aku tidak salah dengar kan? Posisiku digantikan oleh Jaksa Yoon? Tapi… kenapa?

“Kami sangat menyesal, Jaksa Lee. Alasan kami terpaksa menggantikanmu adalah karena kau memiliki hubungan dengan tersangka. Dan itu jelas melanggar hukum,” jelas Jaksa Park.

Aku memiliki hubungan dengan tersangka? Tunggu dulu. Tidak mungkin kan maksudnya…

Seolah bisa membaca pikiranku, Jaksa Yoon berkata, “tersangka adalah nona Stephanie Hwang.”

Aku yakin wajahku sekarang terlihat seperti orang bodoh saking kagetnya. “Tidak mungkin.”

Jaksa Park menghela napas. Sepertinya ia memaklumi keterkejutanku saat ini. “Kami juga tidak menyangka, Jaksa Lee. Tapi ia memiliki bukti-bukti yang cukup bahwa dirinya memang otak dari pembunuhan itu.”

Aku hanya terdiam, pura-pura berpikir kemudian mengangguk tanda mengerti. “Baiklah kalau begitu, Jaksa Park. Apa ada lagi yang perlu kausampaikan?”

“Ah, ya, mengenai berkas-berkas penyidikan sebelumnya, segera serahkan pada Jaksa Yoon.”

Aku memasang senyum palsu di wajahku. “Kalau itu tentu saja akan aku serahkan segera. Itu saja? Kalau begitu aku permisi dulu.”

Tanpa berlama-lama lagi aku segera meninggalkan ruangan Jaksa Park dan berlari menuju mobilku.

Tidak mungkin. Tiffany tidak mungkin melakukan itu. Ini pasti jebakan. Atau… entahlah. Aku tidak tahu. Otakku sedang tidak bisa berpikir jernih. Yang pasti, aku harus membuktikan bahwa Tiffany memang bukan pelakunya. Tapi… bagaimana caranya?

 (to be continued)

___________________________________

 

Annyeonghaseyo!! teetwilight이에요!!

Pertama-tama aku mau minta maaf soalnya update nya lama banget. Soalnya banyak hal yang aku dan author ree perhitungkan(?) sebelum ngepost, salah satunya timing. Spoiler buat readers nih, ff ini bakalan diupdate antara minggu ke-3 sampai sebulan setelah postingan chapter sebelumnya (misalnya chaper 5 diposting tanggal 5 mei, berarti chapter 6 bakalan diupdate antara 26 mei-4 juni). Kenapa lama banget? Ya karena begitulah adanya *digetokreaders*

Kedua, makasih banget untuk yang udah baca, terutama comment. Makasih banget untuk apresiasi readers semua. Kita author berdua bersyukur banget respon untuk ff ini positif. Semoga kedepannya readers semua tetep baca kelanjutan ff ini sampe kelar… malah kalo bisa ajak temen-temennya juga buat baca ff ini *promosi*

Ketiga, berhubung aku mau KKN *curcol* jadi aku mau ngasih tau kalo next chapter bakal dipost sebulan lagi (prediksi sih akhir juli). So, aku mohon pengertian dari readers semua. Joisonghaeyo *bow100x*

Oke. Itu aja deh. Udah panjang banget itu greetings nya. Sekali lagi makasih udah baca dan jangan lupa baca lanjutannya ya! Gomawo!!

________________________________________

Note: Mungkin masih ada readers yang bingung gimana korelasi antar karakter dalam FF ini, maka dari itu kita ngasih gambaran correlation chart nya🙂 Kalo kurang jelas bisa open in new tab. Semoga readers semua bisa ngerti ya😀

black flower correlation chart

50 thoughts on “Black Flower [Chapter 10]

  1. Wah…… smakin compleceted critanya.
    Yong membuat suzy lbh buruk…
    Bgaimana yonghwa nanti klo tw rivalnya adlh suzy…
    Jonghyun & tiffany smoga happy ending deh…
    Bakal setia nunggu kok…
    Smoga semuanya brjln lncr thor..

  2. Teganya dirimu sma suzy,yong..aduh,awalnya q kesel ma tiffany tp skrang q jd kesian ma dya..tp thor knpa bgyan suamiku(minhyuk)cma dkit..wae?wae?waaae?#lebay dch..ha..ha..

  3. kyaaa ini makin panas konfliknya, penasaran bgt ma lnjtnnya, thor jng lama2 ya *wink penasaran reaksi yonghwa pas tw suzy pengcra minho/kyu sama yg dlakuin jonghyun selanjtnya ma krystal nasibnya gmn dan jungshin apakbrnya nanti tu aaaa aku penasaran
    kece thor ffnya 4 jempol buat author

  4. keren,seru bgt*trnyata yg bagian yadong itu jonghyun tiffany*aku lwatin,bnyk bgt sih. Tapi aku suka bgt bls dendam suzy ke yonghwa*suka deh cwe yg gk trpuruk gara2 ditinggal cwonya. D’tunggu next’a thor

  5. akhir’a bisa baca part ini jg ^^
    feel’a dpt bgt nich suzy lg fall in love,,,tpi aq jga ska yongppa balik lgi sma seohyun,,,,he3
    ciyeeeeee jungshin yg udah terang2’an perhatian’a,,,trus abang hyun berjuang lahhhhhhhhhhh
    langsung baca part selanjut’a

  6. waaaaaahhhh terharu pas bagian yongseo😥 aku senang akhirnya mereka bersatu kembali😀
    aku suka bnget ma setiap kata yg diucapkan yong saat bersama seohyun🙂
    next part dilanjut🙂

  7. waaaw partnya yongseo yg aku tunggu2 akhirnya muncul lg di sini.
    author bikin aku galau, akhirnya yonghwa sama siapa yaah, suzy apa seohyun?

  8. Aku lupa komentar ternyata -_-
    Hhh tpi mau komentar apalagi ceritanya dan alurnya udah D to the A to the E to the B to the A to the K “DAEBAK”😀
    Gak mau disebut silent reader jdi komen aja walaupun telat :p #plakk *tolong abaikan*

  9. kasian tiffany harus jadi kambing hitam, benar2 kisah yang tragis,
    suzy beneran bakal jadi rivalnya yonghwa? jadi penasaran sama kelanjutan critanya thor, lanjut yaa!!

  10. seneng bgt YONGSEO balik lgi..hehe ^_^
    but, kasian tiffany jg.. n penasaran nantiny suzy tetep bela choi minho(kyuhyun) atau sahabatnya n apakh dia mw bales dendam nggk ma yonghwa…
    cerita n konfliknya makin keren deh thor..lanjutkan..

  11. Akhirnyaaaa….
    Akhirnyaaaa….
    Akhirnyaaaa…..
    Yonghwa kembali ama seohyun…..
    Moga mereka gak pisah lagi, dan semoga….
    Yonghwa kuat ngadepin suzy di pengadilsn…
    Semoga jonghyun bisa ungkap kebusukan minho….

  12. Ishh, dasar yonghwa nappeun. Karena perbuatannya sekarang suzy jadi jahat..
    Fany eonni kasian, bukan dia yg berbuat tapi dia yg nanggung akibatnya..

  13. sebenernya baru hari ini nemu ini ff gara-gara pengen cari ff minhyuk krystal dan ceritanya selalu bikin penasaran tiap chapternya jadinya pengen lagi, lagi dan lagi😉 ffnya makin kesini makin bagus jadi yaaaaaaa lanjut deh ke chapter 11
    tuhkan suzy di php, kan kasian kan suzynya

  14. ., ooohh.. Jadi yg ngotot mw jdi kliennya Suzy tuhh si Minho…
    Gilaa, dia itu pnjhat kls kakap kalii yaa.. Pinter bangett….

    Tapi, aq ksian dehh sma Suzy, gara” ptah hati akhirx dia nerima twaranx Minho. .😦

    • Holaaa dear author, aku baru banget nyemplung di dunia per-ff-an nih hihi mantengin black flower sampe rela begadang :p suka sama pairing castnya terutama hyukstal♥ ditunggu ff lain nya yak😉

  15. ini nihh..chapter yg q tunggu2..akhir.a mimpiq kesampean klo seo unnie balik..emank sih yong salah sedkt beri harpn..tapi suzy.a duluan kan yg trlalu brharp..hehehe..skrg suzy jd jahat dehhh…nice thooorrr…aq lanjut dulu yah..heheh

  16. permisi authornim.. hehehe.. maaf ya baru komen sekarang.. hehehe
    saya sebenernya mau komen dr chapter awal , tp saya pikir sudah terlambat. hehe..
    tp krn semakin lama semakin ngregetan bacanya, jd ga enak hati kalo ga mampir. hehe..
    boleh komen yg dr awal di sini kah?
    boleh kok boleh.. *ceritanya author yg jawab* kkkk~

    aku ngerangkum komennya dr awal aja ya? hehe..
    ini ff tergreget dr semua ff yg pernah kubaca.. hehe..
    soalnya ceritanya itu ngalir bgt dan bener2 sukses bikin penasaran.. apalagi editan foto yg di teaser awalnya itu yg bikin foto koran, bnr bnr bikin kesan kalau authornya serius bgt sama ff ini.. salut sama author~
    nah dr teaser itulah aku bener2 penasaran sama ceritanya..

    trus kenyataan ternyata kyuhyun itu adalah minhoo jg bnr bnr bikin kaget.. awalnya aku malah nyangka si kyuhyun itu minhyuk.. wkwkwk…
    author bnr2 daebak…

    trus hyukstal? aaa~ seneng bgt akhinya minyuk berani ngungkapin ke krystal.. bener2 gregetan pas baca minhyuk cemburu sama krystal karena baekhyun.. kkk~ untung krystalnya kuat iman..

    wah suzy~ andwae~ kenapa mau bales dendam? aaaa~ jangan dong … kasiang yong oppa..😥
    kan bukan salah dia ketemu sama seo eonni..

    sulli? jgn cemburu dong sama eonni sendiri…
    jungshin… figthing!!

    awalnya aku kesel pas tau ternyata tiffanie itu mata mata changmin, tp pas tau dia jg suka sama jonghyun jd termaafkan.. hahaha
    apalagi pas tau dia rella berkorban gitu biar jonghyun ga jd sasaran.. aaaa~ soo sweet bgt..
    yak jonghyun oppa, ayo baca pesannya tiffanie sekarang.. palli….
    hahaha.. btw, aku baca next chapternya dulu ya thor~ 🙂

  17. tarik napas dulu hufft…
    ceritanya makin complicated dan sulit ditebak.. kereeen!!! pak detektip Jung, kenapa jadi bgtu. kasian nona Bae ㅠ.ㅠ padahal aku suka pasangan ini. sekarang malah mutusin jadi rival. hadeh jadi tambah penasaran..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s