Because I’m Stupid

YS

Because I’m Stupid

||

Scriptwriter: Hanseora || Main Cast:  Jung Yonghwa and Park Shinhye || Minor: Kris Wu, Lee Jungshin || Genre: AU, Romance, Fluff? || Duration: Oneshot || Rating: Teen || Disclaimer: Yonghwa milik Shinhye begitupun sebaliknya. Poster ala kadarnya. All plot is mine. Inspired by YAB.

Summary:

I’ll just stand by her side

Just loving her is enough for me

Not wishing for anything in return

Jung Yonghwa

.

 

 

Ditemani angin musim semi yang berembus lembut, Jung Yonghwa duduk bersandar di bawah sebuah pohon yang rindang sembari memainkan gitar kesayangannya.  Jemarinya terlihat sangat lihai memainkan nada, memetik senar dan menekan chord demi chord pada bagian frets dengan tempo tak beraturan; bisa sedang, lambat atau pun cepat sesuai keinginannya. Ia begitu menikmati permainan gitarnya, mulutnya sesekali bersenandung merdu diiringi oleh suara kicauan burung yang hinggap di salah satu dahan pada batang pohon—tempatnya berada. Ia pun tersenyum kecil tatkala mendapati burung-burung itu bertengger tak jauh di atas kepalanya. Kicauan burung itu semakin membuatnya semangat menciptakan melodi indah lainnnya. Alunan musik pun berubah menjadi lebih ceria dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya.

Tak hanya burung-burung saja yang menikmati permainan gitar Yonghwa, rerumputan di sekelilingnya seakan bergoyang-goyang kesana-kemari menikmati setiap embusan angin yang menerpa mereka lalu berayun-ayun ke kanan dan ke kiri seiring dengan melodi indah yang diciptakan Yonghwa sore ini.

Matahari masih menggantung di atas langit, semburat jingganya menyebar ke seluruh penjuru kota. Pemandangan sore ini semakin terlihat memesona ketika cahaya keemesan yang berpendar dari matahari berpadu dengan siluet seorang gadis di ujung sana. Yonghwa yang kala itu tengah menikmati permainan gitarnya sembari mengedarkan pandangan ke langit, lantas terhenti seketika saat kedua manik cokelatnya menangkap sosok siluet seorang gadis tersebut.

Gadis dalam siluet itu terlihat begitu anggun dengan rambut panjangnya yang ikal, tergerai indah sampai ke punggungnya. Ia menari-nari bersama seekor kupu-kupu yang terbang mengitari tubuhnya, dikelilingi oleh hamparan ilalang disekitarnya. Kedua tangannya terangkat di udara, bergerak tak beraturan mengikuti arah si Kupu-Kupu; seperti ingin menangkap hewan kecil itu. Sayup-sayup, suara tawanya terdengar dan menembus gendang telinga Yonghwa, membuat pria itu seperti terhipnotis oleh pemandangan eksotis yang ditangkap oleh iris kelamnya.

Tak ada yang dapat dilakukannya selain mengabadikan setiap gerakan siluet itu ke dalam memori otaknya. Mengabadikannya dalam bentuk deretan klise, menghasilkan sensasi tersendiri untuk pria itu. Tak perlu sebuah kamera atau apapun, secara otomatis otaknya telah menjadikan sosok gadis itu layaknya sebuah foto  yang secara premanen melekat di bagian cerebrum­-nya. Sulit untuk dihapus begitu saja.

Oh, tidak. Ia melupakan satu hal. Ia mengenal siapa sosok gadis itu. Terlebih, ia juga cukup dekat dengannya. Hanya saja…. ia tidak memilikki keberanian untuk menyatakan seluruh perasaannya pada gadis itu. Park Shin Hye.

***

 “Sedang apa kau di sini?”

Suara lembut itu mengalun begitu indah di telinga Yonghwa. Sontak, Yonghwa terkesiap saat mendapati Shinhye tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Gadis itu lalu memilih duduk bersila di samping Yonghwa. Pria itu kembali terkesiap lantaran salah tingkah mendapati Shinhye di sampingnya. Ia mengusap-usap tengkuknya sembari bergeser sedikit ke arah kanan, memberi gadis itu tempat agar bisa dengan nyaman bersandar pada batang pohon di belakang mereka.

Eumm.. Memperhatikanmu,” jawab Yonghwa kemudian; berselang jeda cukup lama. Jawabannya terdengar sedikit menggoda Shinhye, namun memang itu ‘kan yang dilakukannya? Shinhye hanya membalasnya sambil terkekeh pelan dan singkat.  “Lalu, kau sendiri?” imbuh Yonghwa yang balik bertanya. Ia menolehkan kepalanya ke arah samping, sorot matanya begitu dalam menilik setiap inci wajah cantik gadis itu. Wajah Shinhye semakin cantik tatkala sinar matahari menerpa wajahnya dan membuat gadis itu terlihat lebih indah di mata Yonghwa. Namun Shinhye tak menyadarinya lantaran maniknya sibuk menatap hamparan ilalang di ujung sana.

“Aku sedang bahagia karena itu aku kesini. Hei, apa itu?” Jemari Shinhye menunjuk ke sebuah buku catatan atau lebih tepatnya buku musik milik Yonghwa. Buku itu tergeletak dan terbuka begitu saja di dekat Yonghwa. Dua lembar yang terbuka itu menampilkan deretan seuntaian kata di ujung atas halaman. Yonghwa langsung saja menutup buku itu alih-alih menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

“Hanya buku musik biasa. Berisi beberapa lirik lagu-lagu ciptaanku.” Yonghwa tersenyum lebar sementara Shinhye mengangguk-angguk paham sembari berdecak kagum.

“Kalau begitu aku ingin melihatnya!”

“Lain kali saja. Masalahnya, ada satu lagu yang belum selesai kubuat.”

Ddrrt..ddrrtt..

Selang beberapa detik berlalu, terdengar suara ponsel yang bergetar. Suara itu bukan berasal dari ponsel Yonghwa melainkan milik Shinhye. Lantas gadis itu segera mengambil ponselnya dari saku rok yang ia pakai. Matanya terlihat berbinar-binar melihat nama si pengirim pesan. Yonghwa diam-diam meliriknya, membaca nama yang terpampang di layar ponsel touchscreen kepunyaan Shinhye. Sejurus, ia kecewa setelah mengetahui nama ‘Kris Wu’ di dalam layar.

Hey, kau di mana? Aku menunggumu di kafe dekat rumahmu. Kalau kau tidak datang, kau akan sangat menyesal telah melewatkan kesempatan ini!

Senyum Shinhye merekah di wajahnya ketika membaca isi pesan dari Kris—lelaki yang disukainya. Sedangkan Yonghwa, senyum lebarnya kian menipis dan lama-lama bibirnya melengkung ke bawah. Ia pun memilih untuk kembali sibuk memainkan gitarnya lagi. Berusaha menghilangkan perasaan kecewa yang berkecambuk di dalam benaknya.

Shinhye lalu beranjak dari duduknya. Ia tersenyum sekilas ke arah Yonghwa seraya berderap cepat meninggalkan Yonghwa sendirian sekarang. Yonghwa menatap punggung gadis itu dari kejauhan, tatapannya nanar sampai akhirnya sosok gadis itu sudah tak terlihat lagi di matanya.

.

.

.

“Apa? Kau tahu kalau ia menyukai lelaki itu?”

Lee Jungshin begitu tak percaya mendengar pernyataan Jung Yonghwa beberapa detik lalu. Ia melebarkan kelopak matanya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tubuh jangkungnya berlalu-lalang di hadapan Yonghwa seperti orang linglung. Tanpa sadar pria itu telah menggigiti jemari tangannya sambil memikirkan sesuatu. Keningnya berkerut, kelopak matanya kini  menyipit tatkala bias sinar matahari yang menyeruak masuk ke dalam jendela ruang musik—tempat keduanya berada—mulai begitu terik menerpa wajahnya, hingga membuatnya silau.

Yonghwa sendiri hanya bergeming di tempatnya, duduk bersandar di bawah jendela yang lebar dan panjangnya hampir mencapai atap ruangan itu. Maniknya fokus menatap barisan frets senar pada gitar akustik miliknya. Jemarinya dengan lincah memetik senar hingga menciptakan nada-nada yang enak tuk didengar.

“Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin berbuat sesuatu?” tanya Jungshin kemudian. Ia berkacak pinggang dan berdiri tepat di hadapan Yonghwa. Membuat Yonghwa mau tidak mau harus menghentikan permainan gitarnya dan mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat Jungshin sembari menjawab, “Karena aku bodoh.” Sejurus kemudian, ia kembali memainkan gitarnya dan tentu saja tak menghiraukan Jungshin yang kini tengah membuka mulutnya lebar-lebar seperti kehabisan kata-kata setelah mendengar jawaban Yonghwa yang begitu singkat dan padat, namun penuh dengan tanda tanya di benak Jungshin.

“Jawaban macam apa itu?” gumam Jungshin tak habis pikir. Mendadak, ia pun tersenyum jahil ke arah Yonghwa. “Ah, kau patah hati ya?” tebaknya asal dan langsung membuat Yonghwa bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Jungshin begitu saja.

“Hei!!” seru Jungshin seraya mengejar Yonghwa di depannya.

 

.

 

.

 

.

 

Yonghwa membaca sebait lirik lagu di dalam bukunya. Sebatang pulpen di dalam genggaman tangannya menggantung di udara, hendak melanjutkan menulis lirik lagu selanjutnya. Hanya saja, pikirannya kosong. Tak tahu apa yang harus ditulis, terlebih matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan hari pun beranjak semakin gelap. Ia pun memilih untuk pulang dan segera memasukkan gitar kesayangannya serta buku musiknya ke dalam guitar case berwarna hitam miliknya, lantas ia sampirkan benda itu di bahu kanannya.

I must be an idiot

It’s okay even if I get hurt

Even if people tease me about my foolish love

But I can’t help it

Because I’m stupid

 

***

 

Yonghwa melangkahkan sepasang sneakers-nya pelan, menyusuri aspal jalanan di sepinggir pertokoan kawasan Gangnam. Hari kini telah berganti menjadi malam. Matahari telah tak terlihat lagi di atas langit, digantikan oleh bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit Seoul, termasuk Gangnam sendiri. Cahayanya memang tidak seterang matahari yang mampu menerangi seluruh penjuru kota. Tetapi gemerlapnya sinar-sinar lampu dari berbagai pertokoan serta gedung-gedung pencakar langit mampu membuat Gangnam terlihat sangat  hidup ketika malam beranjak tiba, seperti saat ini.

Yonghwa lalu berhenti di sebuah halte. Ia berdiri di ujung kanan pelataran halte dekat dengan papan berisi peta serta jadwal keberangkatan jurusan bis di kawasan Gangnam. Ia sengaja tidak memilih duduk di bangku yang telah tersedia lantaran ia selalu menyukai tempat ini, berdiri di sini dan memori itu pun dalam sekejap terputar kembali layaknya sebuah film lama.

Waktu itu…

 

***

YAA!!!!” seru Shinhye penuh emosi. Ia berkacak pinggang, raut wajahnya begitu masam dan sengit menatap sebuah mobil sedan berwarna hitam yang telah melaju dengan kecepatan tinggi di ujung jalan raya. Ia semakin kesal saat beberapa orang di sekitarnya tengah menertawainya. Ada yang terkikik pelan sambil menutupinya dengan tangannya, ada pula yang secara terang-terangan menertawainya langsung di belakangnya. Dengan risih, Shinhye hanya bisa berdesis sebal, merutukki si pengendara mobil tadi lantaran telah mengotori wajahnya hingga menyipratkan genangan air—bekas hujan beberapa waktu lalu.

Tiba-tiba saja Yonghwa datang menghampirinya. Sejurus kemudian, tanpa diminta sama sekali, pria tersebut langsung mengeluarkan sehelai saputangannya untuk membersihkan wajah Shinhye serta bagian tubuh lain dari gadis itu yang kotor. Dengan perlahan, Yonghwa menyeka wajah Shinhye sampai bersih, lalu berpindah ke lengan Shinhye, mengusapnya lembut.

Keduanya saling terdiam, tanpa banyak bersuara dan diperhatikan banyaknya pasang mata di dalam halte tersebut. Pemandangan yang begitu romantis di siang hari seperti saat ini, mungkin itu yang dipikirkan oleh beberapa kaum ahjumma serta gadis-gadis yang memandang Shinhye iri, hingga semuanya pun secara bergantian telah beringsut pergi karena bis yang mereka tunggu telah tiba. Menyisakan Yonghwa dan Shinhye saja di sana.

“Kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya pria itu sembari mengusap-usap puncak kepala Shinhye lembut. Shinhye menganggukkan kepalanya dengan sedikit kikuk sebagai jawaban. Kedua bola matanya belum bisa berkedip sedetik pun melihat senyuman dari pria itu.

Hening. Entah mengapa rasanya keduanya lebih memilih untuk bungkam ketimbang memulai sebuah percakapan seperti biasanya. Mungkin Shinhye masih terkejut atas perlakuan intens Yonghwa beberapa waktu lalu, atau mungkin ia masih malu? Terlihat sangat jelas semburat merah yang merona di kedua pipinya.

Er…” Yonghwa mencoba memecah keheningan, ia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Maniknya menatap ke bawah, tempat di mana sneakers-nya berpijak. “Maaf, kalau aku membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menolongmu,” ucapnya.

Shinhye tertawa pelan, ia mencoba bersikap normal seperti biasanya. “Tidak! Justru seharusnya aku mengatakan terimakasih kepadamu. Hanya saja, aku masih tidak mengerti…” Shinhye menggantungkan kalimatnya, membuat Yonghwa semerta-merta mengangkat sebelah alisnya, penasaran.

“Apa?”

“Kenapa kau selalu baik padaku?” Shinhye bertanya dengan intonasi tenang dan nadanya terdengar begitu polos.

Butuh waktu yang cukup lama bagi Yonghwa untuk menjawab. Sebenarnya, sebuah jawaban sudah terbesit di dalam pikirannya. Hanya saja ia masih ragu dan belum siap jika harus menjawab pertanyaan itu saat ini.

“Aku… hanya senang menolong setiap orang.” Yonghwa terkekeh sarkastis, menyembunyikan kebohongan perasaannya. Ia tahu apa yang dikatakannya itu semata-mata hanyala sebuah kebohongan.

“Oh,” sahut Shinhye diiringi senyuman manisnya.

Yonghwa hanya ingin melihat senyuman gadis itu. Itulah jawaban sebenarnya.

 

Liking you, treating you well

Just doing these makes me happy

Just one smile for me, and that’s enough

 

***

Sebuah bis tujuan Gangdong-gu dengan perlahan berhenti melintas di depan halte Yonghwa berada. Sekonyong-konyong pintu bis terbuka lebar secara otomatis, beberapa penumpang ada yang turun dan ada yang naik termasuk Yonghwa. Suasana di dalam bis cukup sepi. Hanya ada beberapa penumpang sehingga Yonghwa tak perlu repot-repot mencari bangku untuk duduk. Ada banyak bangku kosong yang dapat ia pilih, dan pria itu pun memilih untuk duduk di bangku bagian kiri bis, tepatnya di barisan tengah dengan sisi jendela di sampingnya.

Bis kemudian mulai melaju kembali menyusuri jalan raya, menuju pemberhentian halte berikutnya. Jung Yonghwa membuang pandangan ke luar jendela sembari menatap kosong ke setiap deretan toko yang berjejer rapi di sepinggir jalan raya. Ia menghela napas berat, guitar case-nya ia letakkan di bangku lain di sebelahnya. Kedua tangannya bersedekap dan memejamkan matanya sejenak. Merenungkan suatu hal.

Ia tahu, ia tidak dapat mengelak dari fakta itu. Fakta bahwa ia mencintai seorang Park Shinhye. Tapi, di samping itu ia juga tidak dapat melawan fakta lainnya, fakta bahwa ada sosok seorang Kris yang disukai oleh gadis itu. Terlebih ia juga tahu bahwa betapa sukanya Shinhye dengan pria berkebangsaan China tersebut, ditambah dengan segala kesempurnaan yang dimilikki oleh Kris. Yonghwa bersumpah, hanya gadis gila saja yang tidak menyukai seorang Kris. Itu yang dipikirkannya setiap hari dan membuatnya semakin sangsi untuk mendapatkan Shinhye.

Namun, tak pernah sedikit pun ada alasan bagi Yonghwa untuk pergi meninggalkan Shinhye begitu saja atau pun berniat melupakan Shinhye. Tidak, ia tidak mungkin melakukannya, lebih tepatnya tidak sanggup jika harus melakukannya. Baginya yang terpenting adalah, cukup dengan mencintai Shinhye, tanpa mengharapkan balasan apapun  dari gadis itu; dan ia berjanji untuk selalu berada di samping gadis itu.

Itulah definisi cinta menurut Yonghwa. Memberi, dan tidak mengharapkan suatu imbalan semata-mata karena kita bahagia saat melakukannya.

 

Until the person she loves appears

I’ll just stand by her side

Just loving her is enough for me

Not wishing for anything in return

***

Tanpa terasa Yonghwa bisa melihat pantulan wajahnya sendiri melalui kaca jendela bis yang ditumpanginya. Ia bisa melihat air mata telah membendung di sekitar area matanya. Dengan cepat ia segera menyekanya sebelum bulir bening itu menetes membasahi wajahnya. Ia menghirup udara sebanyak mungkin, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan kesulitan bernapas. Setelah merasa lebih baik, Yonghwa beralih menatap jendela lagi. Kali ini ia tidak memandangi keadaan di luar sana. Melainkan mengembuskan napasnya ke permukaan kaca, udara dingin yang berasal dari pendingin di dalam bis, menimbulkan lingkaran uap yang berasal dari suhu hangat di dalam tubuh Yonghwa—itu menempel pada sebagian lapisan permukaan kaca.

Sambil tersenyum, telunjuknya mulai menuliskan sekumpulan kata pada permukaan kaca itu.

 

I’ll always be within’ hearing distance

whenever she calls

Because I love her

.

 

 

.

 

 

.

 

 

A Month later…

Jung Yonghwa berjalan mengendap-endap di sekeliling koridor kampus. Ia sedang mencari sesuatu. Dan benda yang hilang itu sangat penting baginya. Ia merutukki dirinya sendiri karena telah ceroboh menjatuhkannya begitu saja.

Beberapa kali ia mengacak rambutnya frustasi sembari mengeluh. Maniknya menilik  ke segala penjuru ruang, namun benda tersebut belum juga ditemukannya. Ia khawatir jikalau benda miliknya itu ditemukan oleh teman-temannya yang usil. Dugaannya sepertinya benar karena mendadak, di luar sana ia menemukan seseorang tengah membawa buku musiknya yang hilang itu. Tidak hanya membawanya, orang tersebut juga membacanya! Lantas pria itu langsung mempercepat langkahnya menghampiri orang tersebut. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti diiringi oleh bunyi decitan yang berasal dari suara sepatunya saat menyentuh permukaan lantai. Mata Yonghwa membelalak saat itu juga tatkala ia baru menyadari bahwa sosok itulah yang sedang membaca bukunya sambil terduduk di bangku halaman kampus.

I must be an idiot

It’s okay even if I get hurt

Even if people tease me about my foolish love

But I can’t help it

Because i’m stupid

 

Liking you, treating you well

Just doing these makes me happy

 

Just one smile for me, and that’s enough

 

Until the person she loves appears

I’ll just stand by her side

Just loving her is enough for me

Not wishing for anything in return

 

I’ll always be within’ hearing distance whenever she calls

Because I love her

Because I’m Stupid – Jung Yonghwa

A song for her..

Park Shinhye, I hope you know what I feel…

Saranghae..

 

 

Bisa dirasakan perasaan Shinhye saat membaca lirik demi lirik yang tertulis di dalam buku itu. Ia tersenyum haru menahan tangis. Dadanya sesak lantaran menahan sejuta perasaan bahagia yang meledak-ledak di dalam sana. Sampai akhirnya ia tak mampu lagi meneteskan air matanya.

Selang beberapa menit kemudian, Shinhye mendapati sepasang sepatu kets di hadapannya. Shinhye tahu siapa pemilik sepatu itu tanpa harus menatap pria itu terlebih dahulu. Ia terlalu bahagia sehingga tubuhnya gemetaran dan hatinya berdesir. Sedangkan, pria itu masih berdiri tanpa sedikit pun mengeluarkan sebuah kata apapun kepada Shinhye. Sampai akhirnya mulutnya pun terbuka, dan mengatakan sesuatu.

“A—Aku…” Pria itu tentu saja adalah Jung Yonghwa. Ia kini terlihat begitu gugup disertai peluh yang terus-menerus keluar dari permukaan kulit di wajahnya. Kalimatnya menggantung lantaran gadis itu telah beranjak dari posisi duduknya dan langsung memeluk Yonghwa erat.

“Kau memang bodoh, Yonghwa!” kata Shinhye sedikit gemas terhadap Yonghwa.

Yonghwa sendiri masih belum menyangka apa yang tengah terjadi antara dirinya dengan Shinhye. Ia seperti berada di dalam mimpi. Jelas saja, ia masih ragu dan belum membalas pelukan dari Shinhye.

“A..Apa maksudmu?”

“Aku…menerima perasaanmu.”

“Ta..tapi bukankah kau menyukai Kris?”

“Ya, aku memang menyukainya. Asal kau tahu saja, aku mencintaimu lebih dulu.”

“Sungguh?”

“Tentu saja!”

Tanpa ragu lagi, Yonghwa kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Shinhye, membalas pelukan gadis itu semakin erat dan lebih erat lagi seakan tidak ingin melepaskannya.

Chu!

Dan Shinhye pun mendaratkan kecupan singkat di pipi Yonghwa seraya berderap kabur meninggalkan pria itu di taman.

YA! Shinhye!”

fin

 

 

Mind to review?🙂

19 thoughts on “Because I’m Stupid

  1. wah crtnya sru bnget tpi lbih sru lg klo ff ni ada lnjtnnya coz nnggung bnget crta bhgianya cman sbntr oh iya lnjtn ff don’t leave me kpn di updte..

  2. Aduuhh.. Keren banget ceritanya menarik,Bahasa yang dipakai juga bagus.
    Coba disini dijelasin lebih detail lagi sejak kapan shinhye Cinta sama yonghwa. Dan Kris, coba ada adegan darinya. Jadi bukan hanya sekedar cerita bahwa Kris itu ada🙂
    Overall bagus,bikin sequel nya ya Thor!!^^

  3. Bahasanya keren!!!! aku suka couple ini semenjak ada Heartstrings!!! aaahh mari qt brdoa agar mereka segera mengikrarkan cinta #plak.. saking semangetnya nih. hehe

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s