COFFEE Shop [VIGNETTE]

coffee-shop 

Title : COFFEE SHOP [VIGNETTE]

Author : Shineelover14

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jonghyun

Rating : PG-13

Genre : Romance

Lenght : Vignette

Disclaimer : Oke. This is my work, my thoughts and the results of my hard work. All the plots are owned by me.

A/N :  Tulisan yang bercetak miring itu Flashback yagh …. Mian kalo ceritanya bikin bingung .. Buru-buru banget buatnya .. Judulnya juga gak nyambung dengan ceritanya .. Mian deh kalau maksa banget akhirnya ..

Credit Poster : VANFLAMINKEY91

***

Mata cantiknya berbinar menatap kearah langit yang telah membiru. Beberapa menit yang lalu hujan membasahi jalanan Seoul yang padat oleh aktifitas. Membuat beberapa pejalan kaki termasuk ia harus menghentikan langkahnya sejenak.

Beranjak ia dari tepian pertokoan lalu beralih keseberang jalan. Dibenahinya mantel berwarna pink pastel itu lalu kembali melangkah menuju suatu tempat.

Ia menatap pintu berwarna coklat dihadapannya dengan sebuah papan yang bertuliskan “OPEN”. Tiffany membuka pintu itu lalu mencari salah satu tempat yang kosong. Ia memilih untuk duduk ditepian sudut dekat jendela. Dari sana ia dapat melihat para pejalan kaki yang berlalu lalang.

Tak lama seorang pria bercelemek putih menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya waitress itu.

Tiffany mengulum senyum. Segera diraihnya daftar menu yang baru saja waitress itu berikan. Dibacanya deretan menu yang tertulis disana. Sepertinya hujan tadi cukup membuat tubuhnya kedinginan.

Hot coffee,” ucapnya kemudian. Akhrinya setelah berkutat dengan daftar tadi, pilihannya jatuh pada hot coffee yang merupakan menu andalan dari coffee shop tersebut.

Pria bercelemek tadi segera mencatat pesanan Tiffany dan segera pergi meninggalkannya sendirian. Tiffany menatap kesekelilingnya. Sore itu cukup ramai. Mungkin karena hujan jadi banyak pelanggan yang memilih untuk menghangatkan diri dengan secangkir kopi panas.

Disisirinya tiap sudut ruangan yang didominasi warna coklat itu. Ada beberapa foto-foto lama yang terpajang disalah satu dinding dekat pintu masuk. Mungkin foto-foto itu memiliki kenangan yang manis bagi si pemilik cafe. Pikir Tiffany.

Pandangannya kemudian bergulir pada sudut panggung yang terlihat kosong. Hanya ada peralatan musik yang terpajang disana. Sepertinya beberapa saat lagi akan ada yang mengisi panggung itu untuk menghibur pengunjung karena seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna biru muda itu tengah membenahi beberapa susunan alat musik tersebut.. Musik instrumen lebih tepat untuk memperlengkap suasana sore yang menyejukkan, pikir Tiffany lagi.

Kembali ia mengamati para pengunjung yang masuk dan keluar silih berganti. Mata indahnya kini telah beralih pada sepasang kekasih yang tengah berkencan di meja dekat pintu. Mengingatkan masa-masa kuliahnya sewaktu di Amerika dulu. Tiffany pun tersenyum.

Tak lama pria bercelemek tadi datang menghampirinya. “Ini hot coffe pesanan anda. Selamat menikmati.”

“Terima kasih,” ucap Tiffany kemudian meraih cangkir kopi tersebut.

“Apa ada yang anda butuhkan lagi?” tanya waitress itu ramah.

“Tidak. Terima kasih.” Pria bercelemek itu pun pergi meninggalkan Tiffany.

Segera disesapnya kopi panas yang tadi dipesannya. Uapnya yang mengepul menimbulkan aroma yang menenangkan. Tiffany meletakkan kembali cangkir kopinya. Ia menoleh keluar jendela untuk mengamati jalanan.

Disandarkannya dagunya yang cantik pada tangan kanannya. Ia menatap kaca jendela yang berembun. Tiffany mengarahkan jari telunjuknya pada kaca jendela dan menuliskan namanya disana.

Tiba-tiba sebuah tawa keras mengusik ketenangannya. Dilihatnya beberapa gadis tengah bergosip di pojok seberang sana. Sepertinya mereka sedang membicarakan seorang pria yang juga berada tak jauh dari bangku mereka duduk. Gelak tawa ke empat gadis itu cukup menyita perhatian Tiffany.

Salah satu dari gadis itu berbisik sembari menunjuk ke arah seorang pria yang mereka maksud. Tiffany pun mengikuti arah pandangan gadis-gadis itu dan didapatinya seorang pria dengan wajah dingin tengah menatap ke arahnya.

Tiffany mengerutkan dahinya. Bukan karena ia mengenal pria itu, akan tetapi tatapan pria itu terlihat tak biasa. Sulit diartikan makna dari tatapannya.

Untuk beberapa detik pandangan mereka saling bertemu. Membuat Tiffany merasa risih dan tidak nyaman. Segera dipalingkannya pandangan kearah luar jendela. Sebisa mungkin Tiffany bersikap biasa.

Kembali disesapnya cangkir kopi yang kini telah berubah menjadi hangat. Tiffany menggigit bibir bawahnya, tanda ia merasa canggung. Batinnya berkata bahwa pria tadi masih menatapnya dengan intens. Tiffany tak melepaskan pegangannya dari cangkir kopi tersebut. Malah kini kedua tangannya tengah menggenggam erat kedua sisi cangkir. Hangat yang dialirkan dari permukaan cangkir keramik itu cukup membuatnya merasa nyaman, walau pun sejujurnya masih terselip rasa penasaran didalam benaknya.

Tiffany memberanikan diri untuk melihat lagi kearah pria tadi. Masih sama. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiffany semakin gusar dan memilih untuk sibuk dengan ponselnya.

Segera disambarnya ponsel cantiknya dari dalam tas. Tiffany berusaha sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mengalihkan perhatian agar terlihat sesantai mungkin.

Tiba-tiba dari arah panggung terdengar suara mic yang menggema. Seseorang berbicara. Tepatnya suara seorang pria.

“Selamat menikmati udara sore yang menyejukkan,” ucapnya.

Sebuah petikkan gitar terdengar mengalun. Membuat Tiffany mengalihkan pandangannya menuju arah panggung. Dilihatnya pria yang terus mengamatinya tadi tengah memainkan sebuah gitar accoustik.

Mata pria itu terpejam. Sepertinya ia tengah menikmati nada-nada yang ia ciptakan dari petikan gitar accoustiknya.

Senandung kecil pun keluar dari mulutnya membuat Tiffany tertegun beberapa saat. Bukan karena suara indah milik pria itu, akan tetapi senandung yang diciptakan oleh pria itu. Tiffany memutar otaknya. Ia merasa pernah mendengar senandung itu disuatu tempat. Tetapi kemampuan mengingatannya terlalu buruk sehingga ia sulit memastikan dimana ia mendengar senandung itu.

My Love – Lee Jonghyun

Chang bakke biga naerimyeon (When the rain falls out the window)…

Gamchwodun gieogi nae mameul jeogsigo (The hidden memories drench my heart)…

Ijeun jul aratdeon saram ohiryeo (The person I thought I forgot)…

Seonmyeonki tto dasi tteoolla (Rather floats up clearer in my head)…

Nae saranga saranga (My love, My love)…

Geuriun naui saranga (That I long for my love)…

Mognoha buleo bojiman deudjido motaneun sarang (Who I call out as loud as I can but can’t hear me, My love)…

…………….

Pria itu menyelesaikan bait-bait lirik lagunya hingga sempurna. Tepukan tangan terdengar seisi cafe tersebut. Apa lagi sekumpulan gadis-gadis penggosip itu meneriakinya dengan kata-kata manis.

Membuat Tiffany semakin risik dengan ulah gadis-gadis yang baru saja beranjak remaja itu. Tak sepantasnya gadis seusia mereka melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya mereka ucapkan kepada seseorang yang tidak mereka kenal.

Pria itu kembali menatap Tiffany. Membuat gadis berambut ikal itu tertunduk dalam. Tiffany terus mengumpat dalam hati. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan. Seharusnya ia tidak perlu bersikap seperti itu padanya. Pikir Tiffany.

Ia pun segera meraih cangkir kopinya dan menyesapnya hingga tandas. Tiffany tak memperdulikan pria itu lagi. Ia berniat untuk segera pergi dari tempat itu dan bergegas pulang kerumah.

Belum sempat ia bangkit dari kursinya, pria tadi sudah meninggalkan cafe itu dan entah pergi kemana. Sedikit bernafas lega. Tiffany mengusap dadanya lega.

Tiba-tiba pria bercelemek tadi datang mendekatinya, menaruh sebuah bill bertandakan lunas. Tiffany menatap waitress itu heran.

“Apa ini?” tanya Tiffany.

“Ini bill anda. Pria yang baru saja menyumbangkan suaranya tadi telah membayarkan tagihan anda,” jelas waitress itu.

Tiffany hanya mengangguk bingung. Muncul tanda tanya besar dibenaknya. Siapa pria itu sebenarnya. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan. Tiffany terus berpikir keras.

Ia menatap kearah jendela. Menatap sisa-sisa hujan yang masih membasahi kaca jendela itu. Tiffany pun melihat kembali tulisan namanya di kaca jendela. Sebuah ingatan berkelebat dibenaknya. Membuat Tiffany terperanjat.

Segera Tiffany berlari keluar dari cafe tersebut. Ia menatap bingung kemana ia harus pergi mengejar pria tadi. Ia tampak frustasi. Air matanya jatuh dan terisak.

Tiffany berlari membabi buta. Mencari sosok pria tadi diantara kerumunan pejalan kaki yang berlalu lalang.

Ia menyisiri jalanan pertokoan yang padat lalu berbelok di ujung sebuah jalan yang sepi. Ia terus berlari tanpa tau arah tujuan. Yang bisa Tiffany lakukan hanyalah menangis dan menyesali.

“Ku mohon pertemukan aku sekali lagi dengannya.” Tiffany terus mengulangi kalimat itu sembari terus mencari dan mencari.

Tiffany menatap panik kesekelilingnya. Ia berusaha berpikir keras untuk mencari keberadaan pria tadi. Tiffany pun kembali berlari menyisiri jalanan sepi itu.

Tiba-tiba dari kejauhan dilihatnya sosok itu tengah berjalan semakin menjauh. Tiffany hampir kehabisan nafas. Ia tak mampu lagi untuk berlari lebih kencang.

“Lee Jonghyun!!!!” hanya sebuah teriakan yang dapat Tiffany lakukan dan mampu membuat pria itu berhenti dan menoleh kebelakang.

Ia mendapati Tiffany yang terduduk di jalanan dengan nafas yang tersengal. Pria itu pun berjalan mendekati Tiffany.

Tiffany semakin terisak ketika ia dapat melihat dengan jelas wajah pria yang berada dihadapannya sekarang.

Tanpa pikir panjang, ia segera memeluk pria itu dan menangis dalam pelukan hangatnya.

“Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak mengenali mu,” ucap Tiffany masih dengan nafas yang tidak beraturan.

Jonghyun tersenyum lalu mengusap lembut punggung Tiffany.

…………….

“Fany—a!!” Teriaknya dengan sekuat tenaga.

Tiffany menoleh. “Ada apa?? Aku harus segera pergi. Appa dan Eomma menyuruh ku untuk segera masuk kedalam mobil.”

“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya anak laki-laki itu dengan wajah khawatir.

Tiffany tertawa. “Tentu saja kita akan bertemu kembali Oppa. Dan jika saat itu tiba, nyanyikan lagu hujan yang Oppa ciptakan waktu itu. Tentu saja dengan petikan gitar yang merdu.”

“Tapi aku tidak bisa bermain gitar. Bagaimana kalau piano saja?” tawar anak laki-laki itu.

“Shiro!! Aku ingin melihat Oppa bermain gitar. Jika Oppa tidak bisa memainkannya, aku tidak akan kembali,” tukas Tiffany egois.

“Baiklah,” ucap anak laki-laki bersemangat.

………………

Duduk keduanya didepan sebuah danau yang tenang. Langit sore telah menjingga diujung barat. Beberapa menit lagi hanya sepuhan emasnya saja yang tersisa.

Suara nyanyian alam yang tenang. Tiupan angin yang sedikit menusuk tulang, membuat keduanya saling duduk berdekatan.

“Sudah lama kita tidak kemari,” ucap Tiffany membuka pembicaraan.

“Ya. Dan kau telah membuat ku lama menunggu,” jawab Jonghyun pelan.

“Maafkan aku karena telah membuat oppa menunggu ku terlalu lama.”

“Bagaimana dengan Amerika. Sepertinya negara itu telah membuat mu melupakan ku.”

Tiffany tersenyum kecil. “Kenapa tidak menyusul ku?”

Kali ini tangan indahnya melingkar manis merangkul tangan Jonghyun.

“Aku tidak tertarik untuk pergi kesana. Disini lebih baik,” jawab Jonghyun sakratis.

Tiffany tersenyum. “Bilang saja kalau Oppa masih takut naik pesawat,” ejek Tiffany.

Jonghyun tertawa renyah. Ya, rasa takutnya terhadap pesawat masih membuatnya menjadi pria yang menyedihkan.

“Lalu mengapa kau melupakan ku?” tanya Jonghyun kemudian.

“Aku tidak melupakan mu Oppa. Aku hanya ……” ucapan Tiffany menggantung.

“Hanya apa?” tanya Jonghyun penasaran.

“Aku hanya takut untuk mengingat Oppa. Akan sangat menyakitkan jika suatu saat aku mengetahui oppa telah bersama dengan gadis lain.”

Jonghyun tertawa membuat Tiffany memajukan bibir bawahnya. “Kau tau, dalam 15 tahun ini hanya kau seorang yang terus aku pikirkan. Lalu bagaiman caranya aku dapat berpaling pada gadis lain?”

“Aku tidak tahu karena oppa tidak mengatakannya,”

Kini Jonghyun melepaskan rangkulan tangan Tiffany dari tangannya. Ia menatap mata Tiffany dalam. Melihat kedalam hati gadis itu. Gadis yang sangat dicintainya sejak kecil.

Jantung Tiffany seakan ingin melompat keluar. Ia tidak pernah dibuat segugup ini oleh seorang pria. Tatapan mata Jonghyun yang teduh mampu menyihirnya hingga tak berdaya.

“Berhenti untuk membuat ku menunggu lebih lama lagi,” ucap Jonghyun dengan wajah serius.

“Aku tidak akan membuat oppa menunggu lagi. Aku tidak akan kembali ke Amerika lagi,” jawab Tiffany dengan jantung yang terus berdegup semakin cepat.

“Bukan itu yang ku maksud. Berhentilah membuatku menunggu jawaban dari mu.”

“Jawaban?”  Tiffany tampak kebingungan dengan perkataan yang baru saja dilontarkan Jonghyun. Jawaban apa yang dimaksud teman semasa kecilnya itu. Sungguh membingungkan, pikir Tiffany.

………….

“Fany—a, cepatlah. Kita hampir terlambat!” pekik ibu Tiffany dari dalam mobil. Tiffany tampak panik.

“Baikah Eomma, sebentar lagi,” jawab Tiffany.

Tiffany menatap tangannya yang digenggam erat oleh Jonghyun. “Cepatlah oppa, apa yang sebenarnya ingin oppa katakan?”

“Fany—a, maukan kau menikah dengan ku jika kita telah dewasa nanti?”

Tiffany tertawa. “Aku akan menjawabnya setelah kita dewasa nanti.”

Tiffany melepas genggaman tangan Jonghyun dan segera masuk kedalam mobil. Ia melambaikan tangan, menatap mata anak laki-laki itu yang semakin lama semakin memerah dan berair.

…………..

“Sepertinya aku banyak menyiksa hidup oppa,” ucap Tiffany setelah mengingat kenangan masa kecilnya dulu. “Apa ini adalah saatnya?” tanyanya kemudian. Jonghyun mengangguk cepat dengan wajah penuh kesungguhan.

Tiffany meraih pundak Jonghyun dan memeluk pria itu erat. “Aku mau menikah dengan mu oppa,” bisik Tiffany.

Jonghyun tersenyum lebar. Akhirnya penantian lamanya terbayarkan sudah. Ia semakin mengeratkan pelukan itu. Membiarkan satu dengan lainnya merasakan debaran yang tercipta akibat percikan cinta keduanya.

Tertemuan yang singkat, namun sangat bermakna. Apa lagi pertemuan itu telah menjadi takdir penentuan masa depan keduanya.

-FIN-

COFFEE SHOP

9 thoughts on “COFFEE Shop [VIGNETTE]

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s