She’s Come Back [Part 4]

She's comeback downloaded (3)

She’s Come Back (Part 4)

Author                  : Mona

Genre                   : Mystery, angst

Length                  : Chapered

Rating                   : PG

Cast                       :

–          Kang Minhyuk

–          Park Ri Rin

–          Lee Jonghyun

–          Jung Yonghwa

Disclaimer           : Nama author sudah terisi ya ^^

Note                      : Jeongmal gomawo untuk para reader yang mau membaca fanfic saya sampai sekarang, mian makin ga seru *bow*, and happy reading reader ^^…

***

Prolog ,Part 1 , Part 2 , Part 3

***

Review last part

“Mulai sekarang, jangan lemah,” ucap Rin lalu mulai berdiri untuk pergi. Tangan Minhyuk menahan wanita itu, meminta penjelasan dari arti kata yang baru saja diucapnya.

“Apa maksudmu?”

“Kau masih belum menyadarinya?,” tanya Rin sambil menghempaskan tangan Minhyuk.

“Aku.. kembali,” ucap Rin sambil tersenyum sinis. Lalu pergi meninggalkan Minhyuk yang masih tersungkur di tanah.

“Itu tak mungkin!,” teriak Minhyuk.

“Itu kenyataannya,” jawab Jonghyun. Lalu merangkul bahu Rin untuk meninggalkan tempat itu.

Minhyuk hanya menatap kepergian Rin dan Jonghyun dengan tatapan tak percaya. Jadi, selama ini Rin adalah Hae Ri? Tapi itu tak mungkin. Hae Ri pasti tak akan selamat dari kejadian saat itu. Kalaupun dia selamat, dia pasti hanya dapat membuka matanya, tak dapat berbicara atau pun berjalan.

***

“Semua ini tak benar kan?,” tanya Minhyuk tak percaya kepada Jungshin.

Jungshin hanya diam, tak menjawab pertanyaan yang terus saja ditanyakan oleh Minhyuk. Sejak mengetahui Ririn adalah Hae Ri yang kembali, Minhyuk menjadi shock. Begitupun dengan Jungshin, dia masih bingung dengan kenyataan ini.

“Semua ini tak benar kan?,” tanya Minhyuk sekali lagi.

“Ini kenyataan Hyuk-ah,” hanya itu jawaban yang dapat diberi oleh Jungshin. Ya, hanya itu.

Tak lama, segerombolan siswa berjalan memasuki kelas mereka. Minhyuk dan Jungshin dapat mendengar suara dentuman sepatu dengan lantai koridor sekolah. Dan mereka tahu pasti siapa itu. Selang beberapa detik kemudian, munculah sepasang pria dan wanita yang memasuki kelas itu. Minhyuk hanya menatap tajam keduanya. Dan tatapan itu, sukses membuat keduanya bergidik ngeri.

“Chagi, aku kembali ke kelas dulu ya,” kata Jonghyun sambil tersenyum lalu memeluk Rin.

“Ne,” jawab Rin, sambil membiarkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Jonghyun, namun lirikan matanya tetap fokus melihat Minhyuk.

“Hey! Ini sekolah!,” teriak Minhyuk tak peduli.

Sementara Jungshin menatap Minhyuk dengan tatapan memohon, memohon untuk menghentikan tindakannya yang akan sia-sia. Atau bahkan akan mendatangkan malapetaka bagi mereka. Seperti satu minggu yang lalu, disaat Minhyuk hanya memberikan sebotol minuman untuk Rin, Jonghyun langsung menghajarnya sampai babak belur. Bahkan luka lebam dan rasa sakit diwajah Minhyuk masih terasa sampai saat ini.

“Owh.. Aku sangat takut, chagi.. Sebaiknya aku kembali ke kelas,” ledek Jonghyun sambil menatap tajam Minhyuk.

Minhyuk semakin memanas, rasanya ia ingin menghajar Jonghyun saat itu juga, tepat di depan Rin. Dan membangunkan wanita itu untuk kembali ke pelukannya.

“Sebaiknya kau segera kembali,” kata Rin begitu melihat Minhyuk yang mulai kesal.

Jonghyun pun melambai santai pada Minhyuk, lalu berjalan meninggalkan kelas yang masih sepi itu. Suasana menjadi hening kembali. Tak ada satu pun suara yang terdengar diantara mereka bertiga. Hanya suara berisik dari lapangan sekolah.

“Semua ini tak benar kan?,” tanya Minhyuk kepada Jungshin dengan suara yang lebih keras. Dengan maksud Rin mendengar pertanyaannya.

Jungshin hanya menepuk dahinya, tanda dia telah pasrah pada keadaan saat ini. Mungkin dia juga akan ikut menjadi sasaran Jonghyun dan kawan-kawannya sekarang. Dan kali ini, Rin menanggapi Minhyuk.

“Semua ini benar-benar kenyataan. Bangunlah dari tidurmu yang panjang Minhyuk-ssi,” ujar Rin tanpa menengok kepada Minhyuk.

Minhyuk mengepalkan tangannya, lalu memukul mejanya keras. Sehingga Rin tengah menatap Minhyuk sekarang.

“Kenapa? Kau kesal dengan semua kenyataan ini?,” tanya Rin pada Minhyuk.

“Tentu.. Aku sangat menyesal,” jawab Minhyuk penuh amarah.

“Lalu, kenapa kau lakukan?,” tanya Rin sekali lagi, berusaha membongkar semua aib Minhyuk di depan Jungshin.

Minhyuk hanya diam tak menjawab. Memendam semua rasa kesal, dan amarah. Serta jawaban dari pertanyaan Rin. Karena jika dia menjawabnya, sama saja ia akan masuk kedalam jebakan yang dulu dibuatnya. Sampai akhirnya bel sekolah berbunyi, dan para siswa dan siswi kembali ke kelas mereka, dan menghentikan Minhyuk untuk melanjutkan percakapan sengitnya dengan Ririn.

***

TOK! TOK! TOK!

Terdengar ketukan pintu dari luar rumah. Ririn langsung berlari keluar untuk membukakan pintu. Namun, betapa menyesalnya ia telah membukakan pintu untuk seorang pria, Kang Minhyuk. Rin kembali mendorong pintu rumahnya, namun kaki Minhyuk mengganjal pintu itu untuk tertutup. Ririn mengalah, dia kembali menarik pintunya, membiarkan lelaki itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Baru saja Minhyuk duduk di sofa cokelat di ruang tamu itu, Rin langsung mengeluarkan kata-kata dengan niat mengusirnya.

“Aku sibuk,” ucap Rin tanpa menatap Minhyuk.

“Ya. Aku tahu kau sibuk. Aku hanya ingin mengembalikan ini,” kata Minhyuk sambil memberikan sebuah benda hitam pada Ririn.

“Tak usah, itu untuk mu saja,” kata Rin tanpa mengambil jaket hitam yang dulu sempat dipinjamkannya pada Minhyuk.

“Oh. Baiklah. Kalau begitu, ini,” kata Minhyuk kembali sambil memberikan sebuah kotak kecil panjang pada Rin.

“Tak usah repot-repot,” kata Rin, berniat untuk tak mengambil benda itu.

“Aku tak mau memberikannya pada mu, tapi eomma yang memaksa. Dia menyulamnya sendiri,” kata Minhyuk sambil meletakkan kotak itu di atas meja ruang tengah.

Ririn hanya diam, tetap dalam posisinya. Dia sangat malu mendengar pernyataan Minhyuk tadi.

“Baiklah, urusan ku sudah selesai. Aku pulang,” ujar Minhyuk sambil berjaln menuju pintu keluar.

“Gomawo,” kata Rin pada Minhyuk tanpa menoleh padanya.

Minhyuk pun tak memutar badannya untuk menatap Rin.

“Bukan pada ku, tapi pada eomma. Besok jam 8 malam, datanglah,” ucap Minhyuk memberi undangan pada Rin untuk datang ke rumahnya.

Minhyuk kembali berjalan keluar, meninggalkan Rin yang masih berdiri dengan tegang dalam rumahnya. Begitu menyadari Minhyuk yang telah pergi keluar, Rin langsung mengambil kotak dengan pita merah tersebut. Dengan hati-hati, Rin menarik pita merah yang mengikat kotak polkadot itu. Lalu membuka kotak tersebut. ‘Sangat Indah’, itulah kata yang dapat dilukiskan saat Rin melihat saputangan dengan motif bungan merah dan kuning yang tersulam di saputangan itu. Rin mengambilnya dengan hati-hati, tertera sebuah sulaman nama dibawahnya, Park Hae Ri. Wajah Rin kembali datar, mengingat nama yang tertera di atas saputangan itu. Park Hae Ri, itu adalah milik Hae Ri, bukan miliknya. Ririn kembali melipat rapi saputangan itu, dan meletakkan serta mengikat kembali kotak polkadot dengan pita merah di atasnya.

***

Ririn hanya dapat menggosok-gosokkan telapak tangannya yang dingin. Malam ini, hujan kembali mengguyur tempat ini. Padahal, di siang hari hujan juga turun. Dan Rin sangat menyesal telah memenuhi undangan Minhyuk untuk datang ke rumahnya. Kalau ia tahu sejak awal, dia akan menolak untuk datang ke rumah pria ini. Eomma Minhyuk baru saja pergi meninggalkan Minhyuk dan Rin berdua saja di rumah besar itu.

“Sebaiknya aku pulang saja,” kata Rin muali bangkit dari duduknya.

Namun, tangan hangat Minhyuk menahan kepergiannya.

“Hujan masih deras,” kata Minhyuk menarik Rin untuk kembali duduk.

Setelah Ririn kembali duduk di sofa, Minhyuk berjalan ke dapur meninggalkan Rin. Rin dapat melihat pria itu tengah sibuk membuat sesuatu. Begitu Minhyuk berjalan menuju ke arahnya, Rin segera membuang wajahnya, kembali menatap layar televisi tanpa gambar di sana.

“Minumlah,” kata Minhyuk sambil meletakkan secangkir susu cokelat panas dengan asap yang masih mengepul.

Ririn pun langsung mengambil cangkir itu. Menyesap susu cokelat dengan cepat, mengingat bahwa dia sangat haus sedari tadi. Namun, setelah susu cokelat itu habis, Ririn kembali merasakan hawa dingin yang semakin menusuk. Dia melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hujan telah menjebaknya di sini, jika dia tak datang ke sini, mungkin dia bisa tertidur lelap di balik selimut tebal dan hangat.

“Kau mengantuk?,” tanya Minhyuk pada Rin yang melihat jam dinding.

Ririn hanya menggeleng pelan. Tapi, Minhyuk menarik tangan Rin untuk mengikutinya. Minhyuk dan Rin menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas rumah itu. Ririn hanya diam tak berkutik. Sesampainya di kamar, Minhyuk langsung merebahkan tubuh Rin, dan menutupnya dengan selimut.

“Tidurlah. Saat hujan reda, aku akan membangunkan mu,” kata Minhyuk, lalu berjaln keluar meninggalkan Rin.

Rin menghela napas, betapa tegangnya dia saat Minhyuk membawanya ke kamar. Dan dengan percayanya dia tidur di ranjang empuk milik seorang pria di malam hari seperti ini. Tapi Rin tak memperdulikan semua ini sekarang, matanya tengah melihat ke seluruh penjuru kamar Minhyuk. Tak terlalu besar, hanya ada satu ranjang di pojok kiri, dengan meja belajar di seberangnya, dan lemari pakaian di dekat pintu kamar mandi. Rin menatap langit kamar itu, berusaha memejamkan matanya. Namun, tak bisa, matanya masih tak bisa menutup. Tapi, Ririn lebih memilih untuk berpura-pura tidur di kamar ini, jika ia keluar, dia akan kembali menegang saat bersama Minhyuk.

Tak lama, Rin dapat mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Ririn langsung menutup matanya, berpura-pura tidur. Dan sekarang, Rin dapat merasakan sisi kanan tempat tisur ini yang lebih tertekan. Ada seseorang yang tengah duduk di sampingnya.

“Aku merindukan mu,” kata seorang pria sambil menggenggam jemari Rin.

Dan Rin tahu suara siapa itu, Minhyuk. Rin hanya diam, tetap tak menggubris kata-kata Minhyuk. Setelah itu, Rin dapat merasakan benda lembap menempel di bibirnya. Minhyuk menciumnya. Hati Rin mulai bergejolak, dia dapat merasakan kehangatan lewat bibir Minhyuk. Selang beberpa detik, Minhyuk melepaskan bibirnya, lalu keluar dari kamar itu.

Rin dapat bernapas lega, begitu dia mendengar suara pintu yang kembali tertutup. Rin memegang bibirnya yang masih terasa hangat, dan sebelah tangannya memegang jantunganya yang masih berdegup kencang. Namun, Rin kembali menyadarkan dirinya yang terlalu berangan, ini adalah ciuman untuk Hae Ri, bukan untuknya. Dia kembali memejamkan matanya. Dan tak butuh waktu lama, dia dapat masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

***

Pukul 2 pagi, itulah waktu yang ditunjukkan pada jam dinding berwarna pink di atas pintu. Ya. Rin baru saja kembali ke kamarnya, setelah Mr.Kim menjemputnya. Namun, setelah kembali ke rumah, Ririn tak bisa tidur dengan tenang, dan memutuskan untuk duduk di meja belajarnya dengan lampu redup yang meneranginya.

“Perasaan apa ini? Apa aku jatuh cinta?,” tanya Rin pada dirinya.

Lalu, Ririn menggelengkan kepalanya, berusaha menepis kenyataan yang tengah menghinggapinya. Kenyataan bahwa hatinya mulai terisi dengan Minhyuk, Kang Minhyuk. Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu dari luar.

TOK! TOK! TOK!

Masuklah Mr.Kim sambil membawakan segelas teh hangat untuk Rin.

“Silahkan nona,” kata Mr.Kim sambil meletakan teh tersebut di atas meja.

“Ku rasa, kita harus membuat rencana baru,” kata Rin ragu.

“Tapi akan butuh waktu lama nona. Lagi pula, Anda telah menjadi pacar Lee Jonghyun bukan?,” tanya Mr.Kim.

“Ya. Kau benar. Tapi itu menguntungkan bukan?,” tanya Rin sambil menghangatkan tangannya dengan memegang cangkir teh tersebut.

“Ya. Sangat menguntungkan nona. Dan.. Park Haeri, dia meminta Anda untuk ke Amerika,”

“Mana mungkin? Itu sangat tak mungkin, aku harus tetap tinggal di sini,” kata Rin, lalu menyesap tehnya.

“Tapi, dia memanggil nona”

“Ah, baiklah. Tolong urus tiketnya Mr.Kim,” kata Rin sambil memandang foto Minhyuk.

***

“Park Ri Rin!,” panggil seorang sonsaengnim di depan kelas.

Tapi tak ada jawaban dari orang yang dipanggil.

“Kemana Park Ri Rin?,” tanya sonsaengnim bingung.

Tak lama, datanglah seorang pria berjas hitam. Dia mengeuk pintu kelas, dan menghampiri sonsaengnim. Minhyuk dapat melihat keduanya sedang membicarakan sesuatu. Dan Minhyuk dapat melihat benda putih yang diserahkan kepada sonsaengnim. Setelah urusannya selesai, lelaki itu berjalan keluar meninggalkan kelas.

“Baiklah. Park Ririn. Dia keluar dari sekolah, dan kembali ke Amerika,” terang sonsaengnim.

Minhyuk membulatkan matanya begitu mendengar pernyataan tersebut. Keluar? Bagaimana mungkin? Minhyuk baru saja bertemu dengannya semalam, dan dia tak mengatakan satupun kata untuk perpisahan. Pasti sesuatu telah terjadi.

***

Ririn hanya sibuk memainkan tangannya sedari tadi. Rasa takut dan tegang telah menghinggapinya setelah sampai di Amerika. Bahkan, tangannya telah basah oleh keringat. Angin musim dingin mulai menyambutnya begitu sampai di Amerika. Ririn mengencangkan jaket dan topinya. Beberapa kali terlihat, dia menghembuskan napasnya.

“Silahkan masuk nona,” kata seorang suster kepada Ririn.

Ririn pun menggeser pintu kamar 3240 itu. Berjalan menuju ranjang putih. Dimana seorang wanita tengah duduk manis diatasnya. Mata wanita itu sibuk menelaah tiap kata dari buku yang dipegangnya. Dan beberapa kali ia memperbaiki letak kacamatanya. Dia masih belum menyadari kehadiran seseorang di pintu masuk kamarnya. Sementara Rin hanya dapat tersenyum, dan berusaha menahan air mata yang mulai memaksa keluar dari matanya.

5 menit. Itulah waktu yang dibutuhkan wanita itu untuk menyadari kehadiran Ririn.

“Hei! Kemarilah!,” kata wanita itu sambil memanggil Ririn.

“Ne, Hyeri-ah,” kata Rin sambil berlari kecil, lalu memeluk Hyeri.

“Sudah berapa tahun kita tak bertemu?,” tanya Rinsambil melepas kacamatanya.

“Hum? Berapalama?,” tanya Rin sambil berpikir.

“Ya. Sejak terakhir aku melihat mu,” kata Hyeri sambil tersenyum.

“Ah… Aku lupa,” kata Rin sambil memegang kepalanya.

Percakapan mereka terus berlanjut, sampai hari menjelang sore. Terkadang, terdengar gelak tawa dari keduanya, dan sebuah pelukan akan kerinduan antar keduanya.

 

TBC

***

Mianhae.. Atas ketidakmenarikan ff saya, dan semakin lama, fanfic ini uga udh ga ada yang baca. Padahal, waktu prolog, lumayan ada beberapa yang comment *curhat*. Baiklah comment ditunggu  reader.. Dan punya facebook kan reader? Add saya dong hehehe [Add Me ^^] gomawo.. ^^

8 thoughts on “She’s Come Back [Part 4]

  1. Blm tau mau comment ap cz br baca,blm baca dr awal skg mau baca dr awal dl de biar ngerti jg tp ttp lnjtn ff ini y chingu..😉

  2. Kren kok thor
    mian yh krna aq bsa comentx th bru skrang n prolog krna k.maren” aq ge bokek jd gk ad pulsa vita btw accept yh fbq Ardi Boice S’jati
    gomawo vita
    trus lanjutkan ffx

  3. FFnya keren… Penasaran sama kelanjutannya… Mnrt aku, bukannya ga menarik tpi agak susah dimengerti.. Mksdnya ririn sama hye ri itu kembaran?😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s