The Problems Of a Leader

The Problems of a Leader; yonghwa&cnblue members;angst pg;oneshot

// 20130624 by yen yen mariti

inspired by  where she went by gayle forman

 .

.

.

Saat Jung Yonghwa tidak lagi berdiri di atas panggung, coba tebak; apa alasannya dan di mana dia berada?

.

.

.

Gambar

Yonghwa duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan di ruang tunggu bersama orang-orang yang juga sama sepertinya. Tentunya dengan penyamaran yang cukup; syal,topi dan kacamata hitam mahalnya. Tapi tidak ada satu orang pun yang peduli akan itu, karena orang-orang yang kini duduk berjejer dengannya adalah orang-orang yang memiliki masalah yang sama seperti Yonghwa.

Yonghwa setengah mati menahan lututnya agar tidak terus gemetaran, telapak tangannya mengilap karena keringatnya yang dingin. Ketika seorang perawat memanggil namanya, Yonghwa berdiri tegap, tapi tidak cukup kuat untuk mengendalikan rasa mual di perutnya.

Pintu ruangan itu berderit. Terdengar mengejek, sekaligus menyedihkan. Ya, Jung Yonghwa, hadapai saja ini.

Yonghwa duduk di depan meja kecil Dokter ramah itu. Kim Sujin. Begitu nama yang tersemat di jas putihnya. Tersenyum ramah hingga Yonghwa dapat mengerti bahwa gigi-gigi wanita itu cukup putih dan rata.

Kim : Jadi, Tuan Jung. Apa yang membawamu ke mari?

Jung : Menurutmu apa alasanku datang ke tempat ini?

Kim : Jawaban itu milikmu, kau yang mengetahuinya.

Jung : Oke, begini. Aku merasa tidak baik-baik saja akhir-akhir ini. Rasanya aneh, orang-orang di sekelilingku juga mengatakan itu—mereka bilang aku aneh.

Kim : Keanehan seperti apa?

Jung : Aku tidak yakin dengan itu. Tapi beberapa dari mereka bahkan bilang ‘hey, mungkin kepalamu habis terbentur’. Kau mengerti maksudku, mereka mengira aku agak tidak sehat, sakit. Dan…oh, mungkin gila.

Kim : Kau susah tidur akhir-akhir ini?

Jung : Ya.

Kim : Kau merasa stress? Depresi?

Jung : Itu… hampir sudah seumur hidup, Dok.

Kim : Oh, baiklah. Begini, bisakah kau membuat sebuah catatan—buku harian. Tuliskan apa saja yang membuatmu merasa tidak baik-baik saja, hal yang membuatmu depresi. Lalu, kita bisa membahasnya sama-sama di pertemuan selanjutnya.

Jung : Kau yakin itu membantu?

Kim : Kadang-kadang.

Jung : Oke.

Kim : Oke, sampai jumpa minggu depan Tuan Jung.

Jung : Yeah. Semoga saja.

Catatan  ke-1

Satu hari hanya sementara. Hanya dua puluh empat jam dan itu akan berakhir dengan mudahnya.

—begitulah setidaknya aku menyemangati diriku sendiri. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu menjalani satu hari dengan normal, dan esoknya aku akan kembali menggumamkan pelan-pelan kalimat motivasi itu. Kadang membantu, dan lebih seringnya tidak.

Coba tebak, apa yang menyambutku di pagi hari?

“Hai, tidurmu nyenyak?” dia Manajer Hyung. Laki-laki yang harusnya sudah menikah dan punya dua anak tapi dengan suka rela harus mengurus kami berempat. Tapi, tentu saja dia dengan senang hati mengurus kami. Dia dibayar, dan aku yakin bayarannya cukup malah. Seperti kami juga, kami dibayar oleh agensi.

“Nyenyak, seperti biasa.” Setelah kalimat motivasi berhasil kugumamkan sekitar dua menit yang lalu, kini satu kebohongan kuutarakan padanya. Lagi pula, adakah yang peduli jika saja kubilang aku tidak pernah tiduk nyenyak selama bertahun-tahun belakangan ini? Jual seluruh gitarku jika ada yang peduli.

“Bagus, ayo sarapan.” Aku menarik kakiku cepat-cepat menuju ruang makan. Untuk apa lama-lama melangkahkan kaki dan terus merutuki hari yang tak kusukai. “Yong, dengar baik-baik. Hari ini kita akan mampir ke Gedung FNC sebelum menuju lokasi syuting RM, lalu setelah itu ada jumpa fans di Lotte dan bla… bla… bla…” aku mual. Sumpah! Setelah menyogokku dengan piring berisi telur, sosis dan bayam, mereka malah menyemburku dengan mimpi buruk yang sayangnya adalah nyata.

Oke, aku menurut. Sarapan, mandi, berpakaian, masuk mobil. Datang ke gedung FNC, memalsukan senyum kepada semua orang sambil berkata dengan ramah: “Noona, Hyung, selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan.” Kembali masuk mobil, menuju lokasi syuting. Membiarkan para kumpulan idiot tolol melakukan apa pun yang mereka sukai pada rambutku, menempelkan sejuta make up yang bikin aku mual di wajahku. Menutupi titik-titik merah bakal jerawat dan membiarkan aku menahan perih. Lalu kembali tersenyum menyapa semua orang dan memberi semangat pada semua kru—padahal aku sendiri seorang fakir semangat.

Dan hingga matahari tenggelam, semua belum berakhir. Orang-orang terus berkata mencintaiku tapi tidak membiarkanku untuk tidur selama sepuluh menit pun.

Aku mual.

Aku kepingin muntah.

―tapi terima kasih, Jungshin menyiapkan makanan enak saat aku tiba di dorm.

Catatan pertama berakhir pada pukul 22.41.

.

.

.

Catatan ke-2

Jangan salahkan aku jika aku menyumpahi semua orang kali ini.

Aku tidak pernah menyukai salju, selain karena itu dingin, salju dapat membuatku sakit-sakitan. Ketika bangun di pagi hari, aku sudah menebak bahwa ini akan menjadi lebih buruk dari hari kemarin. Aku pilek, Hyung, Noona, Sajangnim! Kepalaku pusing dan hidungku tersumbat. Aku lupa menggumamkan kalimat motivasiku, aku hanya meringkuk di atas tempat tidur dan mendapati Jonghyun sudah bangun duluan. Tapi aku ingin tidur lebih lama kali ini.

Lupakan.

Mereka lebih kejam dari Bani Israel.

“Aku bangun hyung, berhenti berteriak.” Aku melempar selimut jauh-jauh hingga kadang aku tidak tega, akibat emosiku yang labil aku tega menganiaya selimut.

“Jadi, apa jadwal hari ini? Berapa banyak tempat yang harus kudatangi? Berapa banyak kamera yang harus kuberi seyuman?”

“Wow, Yonghwa. Bisakah kau bersabar dan habiskan sarapanmu pelan-pelan. Kau terlalu bersemangat, bro.”

Brengsek ya. Dia kira aku semangat? Dia tidak lihat lingkaran hitam di mataku? Da tidak bisa tahu bahwa hidungku sedang mampet? Tolol!

Kami ke sana dan ke mari. Kami berempat pakai ini dan itu. Jonghyun tidak pernah protes, Jungshin juga. Dan Minhyuk, sebaiknya jangan tanya. Dia paling susah bicara. Jadi jika saja dia menderita seperti aku, dia tidak bakalan menyumpah serapah seperti aku hari ini.

Aku tidak mampu lagi, kepalaku pusing. Aku ke toilet, bersin-bersin di sana. Lalu membasuh muka agar dapat menghidupkan nyawaku kembali. Dan bersiap-siap memasuki van. Hidungku gatal, dan aku menggosoknya selama menuju van yang sudah menunggu di depan gedung. Wartawan berkeliaran. Meyapa nama kami berkali-kali, membutakan mata kami dengan flash kamera mahalnya. Ketiga saudaraku menyapa dan bertingkah seramah mungkin. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku bahkan berusaha sekuat mungkin agar tetap dapat berpijak di atas tanah bersalju ini. Hidungku gatal, tidak masalah jika harus digosok lagi. Oke, lakukan saja apa maumu hari ini, Yonghwa. Bersin, gatal, gosok, mencoba bernafas, jangan pedulikan mereka, tidak apa-apa kali ini tidak senyum, ayo jalan meski kau sempoyongan. Cepat Yonghwa, ayo!

Kukira aku selamat, sungguh.

Tapi esoknya, ketika aku membuka mata di pagi hari dan belum cukup merasa baikan dan kalimat motivasi sudah berhasil diucapkan meski dalam hati, aku menemukan sesuatu yang tidak beres. Ketiga saudaraku berkumpul di sana, menggenggam cangkir teh atau kopi yang menjalarkan panas pada tangan mereka. Menatapaku dengan iba. Begitu juga dengan Manajer Hyung.

“Apa?” aku bertanya dan menatap mereka berempat sekaligus. Jonghyun menyerahkan surat kabar padaku dan mataku menelusurinya dengan cepat.

Tuan dan Nyonya, aku butuh kantong muntah. Bius aku sekarang juga.

Di sana tertulis bahwa aku kemarin (mungkin saja) sedang teler akibat mengonsumsi obat-obat terlarang. Butinya: 1) hidung merah dan bengkak  2) aku jalan sempoyongan  3) aku terlihat agak tidak waras

Catatan kali ini berakhir pada pukul… aku tidak punya jam dikamar. Sudah kuaniaya dan Jungshin dan Minhyuk mengenyahkannya.

.

.

.

Catatan ke-3

Catatan ini tidak akan panjang. Tidak ada lagi bahasan tentang kalimat motivasi setiap pagi atau sumpah serapah.

Jadi, jika kau kenal Jung Yonghwa. Ke mana pun aku akan pergi mereka akan minta tanda tanganku, mereka akan memotret diriku meski aku belum memasang senyuman. Tidak masalah, sebab jika tidak ada penggemar maka tidak akan ada Jung Yonghwa, Leader CNBLUE. Aku tidak akan protes mengenai itu kali ini.

Tebak apa.

Aku pernah menemukan Seohyun dikirimi surat kaleng mengerikan. Saat itu kami adalah pasangan suami-istri bohongan. Gadis itu tidak menangis, dia menyembunyikan surat itu sebaik mungkin. Dan memasang senyum tak biasa—terlalu dilebih-lebihkan. Sasaeng Fans-ku pernah membuntutinya dan hampir menyelakainya. Seohyun tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Dia tetap tersenyum, padaku atau pun pada kamera. Dia tidak membiarkan aku tahu bahwa di terluka semata-mata karena dia memikirkan keadaanku.

Masalahnya adalah, betapa pecundangnya aku. Di depan kamera mengaku-ngaku sebagai suaminya, dan saat kami berhenti di sorot aku tidak bisa melakukan peran apa pun yang mampu melindunginya. Orang yang kucintai—penggemar—melukai gadis yang kusayangi. Dan aku diam saja. Tinju saja aku sekarang.

Selanjutnya, hal serupa terjadi pada Shinhye. Dia sahabatku, menjaga perasaanku sebaik mungkin. Dia tidak masalah saat penggemarku menghinanya habis-habisan dan tidak ada kedengaran satu pun hinaan untukku. Seolah-olah di sini hanya akulah yang punya penggemar dan dia tidak. Padahal dia adalah bintang, bersinar, jauh sebelum aku.

Kemudian ada Juniel. Junior kami di FNC. Aku suka menulis lagu, tidak peduli untuk siapa pun itu. Jadi, Juniel menggunakan laguku di album korea pertamanya. Sukses. Lagu itu disenandungkan semua orang. Lagu itu berada di urutan pertama di acara musik mana pun. Dan tentu saja sukses bagi penggemarku untuk menghukum Juniel meski dia tidak punya salah. Apartemennya dilempari tomat, telur dan apa pun yang sudah busuk. Gadis itu menangis hingga mata bengkak setelah dikatai jalang. Dan tidak ada yang bertindak. Tidak agensi, tidak juga aku.

Tapi tahukah kalian, saat aku tampil di acara TV mana pun, mereka terus menanyaiku: yang mana tipe idealmu? Seohyun, Shinhye atau Juniel?

Pertanyaan-pertanyaan itu kini memenuhi otakku, memberi efek yang tidak biasa terhadapku. Bahkan melebihi efek kalimat motivasiku selama ini.

Seohyun atau Shinhye atau Juniel?

Atau ketiga-tiganya?

.

.

.

Catatan Ke-4 (Catatan Terakhir)

Saat kami melakukan tur ke Filipina.

Adalah suatu kebiasaan bagi kami untuk mengadakan wawancara secara tertutup sebelum konser dimulai. Namanya tidak harus kusebutkan di sini, tapi dia adalah gadis muda yang manis dan semua orang menyukainya. Dia akan mewawancarai kami selama 45 menit.

Sejak awal semua memang terlihat tidak beres. Udara di filipina 180° berbeda dengan Seoul. tujuh jam yang lalu kami masih mengenakan syal dan mantel berlapis-lapis serta terburu-buru menghindari salju. Dan tibanya di Filipina, rasanya aku ingin meloncat ke kenal-kanal di sepanjang perjalanan. Hidungku berair terus-menerus, dan aku takut kejadian dikira-teler-akibat-mengonsumsi-obat-obatan terulang lagi, jadi cepat-cepat aku menyedot hidungku.

Wawancara dimulai. Pertanyaan pertama ditujukan untukku. Pertanyaan kedua juga: “dari mana kau mendapatkan inspirasi menulis lagu ini?” setelah kujawab muncullah pertanyaan ketiga yang juga ditujukan untukku: “kau adalah gebrakan hebat dalam dunia K-Pop, bagaimana kau bisa mencapai semua ini?” mulai lagi. Lalu muncul pertanyaan selanjutnya… selanjutnya dan selanjutnya. Seolah-olah akulah satu-satunya narasumber di sini. Seolah-olah CNBLUE adalah nama panggung soloku. Seolah-olah aku yang selalu bekerja keras selama ini. Seolah-olah aku yang paling sempurna. Seolah-olah tidak ada Jonghyun yang bukan hanya sekedar teman sekamarku. Seolah-olah tidak ada Minhyuk yang sabar menghadapiku. Seolah-olah tidak ada Jungshin yang selalu mengurusku padahal seharusnya akulah yang mengurusnya.

Jadi, wajar saja ketika Minhyuk membanting kursi dan tampak gila. Berteriak kepada gadis itu: “Kau pikir untuk apa kami berdiri di sini? kau pikir pertanyaan konyolmu itu bermutu? Berapa kau dibayar?” dia megap-megap mencari udara, dadanya turun naik, Jungshin buru-buru menenagkannya. Jonghyun tampak panik dan hampir menangis. Tapi aku terpaku di tempat. Gadis itu bangkit dan pura-pura tidak terkejut dengan apa yang baru saja Minhyuk lakukan, tapi kemudian minta maaf juga dan segara kabur.

Minhyuk menangis, Jonghyun dan Jungshin juga.

“Aku lelah seperti ini. Aku juga bekerja keras. Mereka tidak pernah menghargaiku. Aku ini sampah, apa!” dia terisak-isak. Dan aku tidak pernah melihat ini sebelumnya. Meski Minhyuk meracau, menyumpah dengan menggunakan kata ‘mereka’ tapi aku tentu saja yakin maksudnya adalah aku. Minhyuk marah padaku. Aku menyulut apinya. Minhyuk yang paling pendiam dan sulit bicara dan sangat baik padaku kini membenciku. Apa ada hal buruk lagi yang pantas kudapatkan?

Dan catatan ini berakhir. Semoga tidak ada catatan-catatan berikutnya yang harus kutulis.

Dan semoga Kim Sujin bisa membantu.[]

 

A/N: ingat ya ini cuma fiksi. Jangan ada yang tanya ini benar-benar terjadi pada yonghwa apa tidak. Lewat ff ini saya cuma mau berbagi pikiran; bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Okelah, yonghwa terlihat sempurna, tapi setidaknya dia juga punya sisi rapuh seperti manusia yang lain kok. Anyway, maaf ya banyak kata kasar di sini. soalnya saya menggunakan sudut pandang yonghwa, karna cowok pada kenyataannya sering menggunakan kata-kata kasar dalam kehidupan sehari-hari. oh ya, satu lagi; dunia hiburan itu memang keliatan indah. Tapi siapa yang tahu kenyataan yang sebenarnya.

18 thoughts on “The Problems Of a Leader

    • iya dong. aku kembali berkat siapa dulu dong wkwk. gara-gara mention kakak waktu itu, aku jadi nulis lagi hehe. makasih ya ^^
      iya nih, yong udah emosi tingkat dewa hehe.

  1. suka banget sama cerita ini!!! entah lah, aku sampe speechless mau ngomong apa. pokoknya yg aku rasain, ff kamu beda dari yg lain. aku juga suka penulisannya, walaupun aku cukup sering lihat jenis tulisan ini di novel-novel terjemahan. nice~

    • thanks for always supporting/reading/commenting my fanfic. ini ff belum ada apa-apanya kok, di asian fanfic banyak banget yang begini dan lebih bagus. but i’m trying do my best la~~^^

  2. ini bagus bgt dek, berasa yonghwa curhat sama kita, berasa dengerin yonghwa curhat juga. berasa kita yang jadi diary nya yonghwa. kalimat-kalimatnya juga kaya lagi cerita ke temen gitu. good!! jadi pengen meluk yonghwa deh /chessy/

    • sepertinya yonghwa emang lagi butuh temen curhat tuh kak hehe… thank your for redaing/commenting my fan fic ^^

  3. hua.. bener-bener keren thor..😀 dan paling kaget pas baca Minhyuk banting kursi.. wahh aku pengen liat kalo beneran *plakk

  4. bagusss kak , suka kata” nya yg to the point🙂
    jadi berfikir ulang, pernah ga ya Yonghwa atau member cnblue lainnya beneran ngerasa kayak gitu……😦
    btw , ditunggu ff lainnya kak🙂 fighting😀

  5. FF nya keren bgt !! Rasa nya pengen nangis sedih bgt bacanya thor T.T smoga ini gak akan pernh terjadi di kehidupan nyata #aamiin terlalu menyedihkan bahkn untk skdar di byangkan kalo yonghwa bsa seterpuruk n sedepresi ini andwae T.T choding andwae! Yongchoding tetep semangat! Jd ingt pas dia snyum hambar pas press confrence di hk kalo gk slah pas fnc ngluarin yong dari pran-nya di Heirs ntu.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s