Been In Love

Author                  : Hanna Moran

Genre                   : Romantic, Family

Length                  : Ficlet

Rating                   : G/PG

Cast                       :

–          Jung Yonghwa

–          Sunkyu

Disclaimer           :  own story

Note: Dibacanya pelan-pelan supaya mengerti arti dan maksud jalan ceritanya ya🙂. Boleh tebak-tebakan juga kok cast ‘Dia’ itu siapa hehe.

***

Dia seharusnya tahu kalau aku mencintainya, tapi kesempatan itu tak pernah datang.

Atau mungkin kesempatan itu sering kali datang tapi aku tak pernah berani mengambil resiko.

Alasannya sederhana, karena aku tak mau menyakiti.

Karena aku tak mau menyesali apa yang sudah aku lewatkan.

Aku berusaha menerima diriku yang sekarang, dan semua yang aku miliki.

Mereka yang sekarang begitu berharga, tapi dia tetap jauh lebih berharga.

Kalau ada orang bertanya, “Apa kau bahagia?”

Akan dengan bangga aku jawab, “Ya, aku bahagia”

Tapi sangat jauh didalam hatiku ada jawaban lain, “Akan jauh lebih bahagia bila bersamanya”

Biar aku dan Tuhan saja yang tahu jawaban itu.

Kalau ada yang bertanya, “Apa kau punya penyesalan?”

Akan aku jawab, “Pasti punya, tapi itu tak seberapa karena aku sudah melupakannya”

Tapi akan ada suara lain dalam hatiku yang menjawab

“Penyesalanku hanya satu, membiarkan cintaku tetap tertutup rapat di hatiku”

Lalu, mungkin ada lagi yang bertanya, “Apa kau pernah ditinggalkan?”

Pasti aku tertawa dan bilang , “Tidak, tidak pernah”

Karena sebenarnya akulah yang membiarkannya pergi. Melepaskannya.

Pertanyaan lain lagi, “Apa kau ingin semua yang pernah hilang darimu, kembali padamu?”

Aku pasti akan diam membeku, menutup mataku, menarik nafas dalam dan mulai membayangkan.

Semua yang hilang kembali padaku, semua yang kurelakan akan kembali jadi milikku.

Waktu berputar terbalik, mengembalikan waktuku yang hilang, waktu berjalan mundur.

Menawarkan lagi kesempatan yang sama yang tak aku gunakan dengan baik.

Membawa dia kembali kesampingku, membuatnya sama lagi.

Membawa jutaan keberanian kepadaku, membuka mulutku untuk bertanya dan mengaku.

“Maukah kau tetap disini? Aku mencintaimu”

-Jung Yong Hwa

***

“Apa kau tak lelah?” Sebuah suara terdengar dibelakangku, sebuah telapak tangan mengusap punggungku yang masih terbalut kemeja biru tua, aku masih mematung di balkon kamarku menatap pemandangan malam, tepat jam 11 malam.

“Apa Yoonshi sudah tidur?” tanyaku balik. Wanita itu, istriku Sunkyu mengangguk.

“Ia tak pernah tidur lebih dari jam 9 malam, sebelum tidur ia menanyakan dimana ayahnya”

“Besok pagi aku harus minta maaf padanya karena aku pulang larut” Kataku, sambil memeluk pinggang Sunkyu.

“Aku sudah menjelaskan kalau ayahnya masih harus bekerja di kantor, akhirnya dia mengerti dan tertidur” . Aku mendesah pelan.

“Kalau begitu sebagai gantinya, akhir minggu nanti kita bertiga jalan-jalan ke taman kota. Bagaimana?” Tawarku

“Ide bagus, Yoonshi pasti akan senang kita jalan-jalan bertiga. Sekarang, ganti bajumu dan istirahatlah, besok kau harus kembali bekerja” Sunkyu mendahuluiku masuk ke kamar, dan menyiapkan pakaian tidurku.

Aku menatap lampu-lampuk kota dibawah sana.

“Mungkin sekarang kau ada di antara lampu-lampu kota itu, mungkin sedang terlelap. Selamat malam, mimpi yang indah” Batinku, lalu mengekor Sunkyu kedalam dan menutup pintu balkon.

****

Sunkyu sedang duduk dimeja riasnya, memoleskan cosmetik diwajahnya yang cantik. Sesekali ia melirikku dari cermin dan melemparkan tatapannya padaku, ia tersenyum. Sementara aku masih asik duduk di atas ranjangku, masih dengan pakaian tidur dan kini aku memangku laptopku, mengerjakan beberapa pekerjaan. Sekali lagi aku meliriknya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Sunkyu,7 tahun kami menikah tapi ia masih sering malu-malu denganku.

“Kau cantik” Pujiku, itu pujian tulus. Istriku memang cantik. Wajah Sunkyu tersipu dan itu membuatnya makin cantik.

Tok Tok Tok…

“Omma… Appa….” Terdengar suara gadis kecil kami tengah mengetuk pintu kamar kami.

“Masuk sayang…” Sunkyu menjawab, lalu sosok cantik dengan seragam taman kanak-kanaknya muncul di balik pintu. Ia segera berlari ke arahku, ia memanjat tempat tidurku, aku menyingkirkan laptopku dan menangkap tubuh mungilnya dan memangkunya.

“Appa kemarin pulang malam ya?” Suara manis gadis itu bertanya, matanya yang cerah memandangku dengan ceria. Aku memeluknya dan mengusap rambut ikal sebahunya.

“Iya, appa sibuk. Maafkan appa ya karena pulang larut jadi tidak bisa menemani Yoonshi makan malam dan mengerjakan tugas menggambarnya”

“Tidak apa-apa. Kemarin Omma membantuku mewarnai gambar gajah, Omma juga mebuatkanku bulgogi yang enak” Yoonshi berceloteh dengan menggemaskan.

“Appa kenapa belum mandi?” Tanya Yoonshi polos sambil melirik piyama yang masih aku pakai, anak ini memang cerdas.

“Yoonshi-ya.. Kemari biar omma ikatkan rambutmu, Appa akan mandi dan kita sarapan bersama lalu Omma antar ke sekolah ya” Sunkyu berdiri dan membimbing Yoonshi turun dari ranjang.

“Cepat mandi, nanti terlambat” Sunkyu melirikku dan tersenyum. Aku menurut.

***

Orang bilang hidupku sekarang nyaris sempurna. Aku juga sempat berpikiran sama.

Ada sunkyu yang setia disisiku, cantik dan baik hati.

Istri idaman banyak orang. Aku mencintainya.

Jung Yoonshi, anak perempuan cantik yang cerdas dan membanggakan.

Kekayaan? Aku tak pernah mengukur kebahagian lewat nominal. Tidak pernah.

Kalau jumlahnya besar aku mengangap itu hanya bonus dari kerja kerasku.

Aku bahagia? Ya, hingga ada sebuah rasa yang menyusup

Sampai ada pertanyaan lain yang muncul.

“Apa aku bahagia setelah melepaskan sebuah kesempatan?”

Aku menggeleng, setengah berteriak dalam hatiku

“Tak ada orang benar-benar bahagia dalam penyesalan, tak ada!!”

Lalu, kenapa kau membiarkannya pergi, kenapa kau tak berjuang lebih dulu?

Itulah letak kebodohan seorang Jung Yonghwa.

Kalau saat ini aku terlihat sangat bahagia dengan ini semua.

Sesungguhnya aku hanya menjadi bahagia, bahagia dengan apa yang aku punya sekarang.

Bahagia dengan tidak berharap waktu berjalan mundur.

Bahagia hanya dengan kenyataan yang ada sekarang.

Bahagia menurut setiap orang itu berbeda kan?

Bahagia menurutku adalah menjadi bahagia untuk mereka yang membahagiakanku, itu saja cukup

****

Balkon ini adalah surgaku, semua orang dirumah ini tahu itu.

Sunkyu sedang mengajak Yoonshi berbelanja, jadi aku seorang diri dirumah

Aku berdiri disisi pagar pembatas balkon, menatap matahari terbenam yang membiaskan warna orange bercampur merah di langit, sangat cantik.

Langit ini sama cantiknya dengan langit yang aku lihat saat pertama kali takdir mempertemukan.

Musim panas 14 tahun lalu. Kami berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.

Aku jatuh cinta. Jatuh cinta.

***

Sunkyu menggeliat dalam pelukanku, ia tertidur sangat lelap. Aku membetulkan letak selimut hingga menutupi tubuhnya, membuatnya tetap hangat. Sedangkan aku, mataku masih terbuka lebar tak sedikitpun ingin terlelap padahal sudah jam 2 dini hari dan besok pagi aku harus bertemu dengan orang penting dan rapat.

Aku memperhatikan wajah Sunkyu dalam dekapanku, betapa wanita ini begitu berarti untukku. Bayangkan, seluruh hidupnya ia habiskan untuk memgurusku dan Yoonshi. Ia bangun sebelum matahari benar-benar terbit, memastikan menu makanan apa yang harus kami santap setiap pagi, menyediakan baju apa yang harus aku pakai bekerja, menemani Yoonshi mengerjakan pekerjaan rumahnya, berusaha agar Yoonshi selalu mendapatkan apa yang ia butuhkan. Ia juga memberikan seluruh hatinya untukku, ia mencintaiku begitu tulus teramat tulus sampai aku merasa cinta yang aku berikan padanya selalu kurang untuk membalas apa yang ia berikan.

Ia mengerti aku dalam segala hal, ia tak mau menjadi nomor satu, ia selalu ingin aku dan Yoonshi yang menjadi nomor satu, ia sudah cukup senang ada di posisi kedua. Ia istri dan ibu yang sungguh sempurna. Jutaan kali aku bersyukur pada Tuhan kalau aku boleh ditakdirkan menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Aku menghela nafas panjang, tanganku yang bebas menopang bagian belakang kepalaku. Pikiranku mulai berkelana lagi, berkelana mencoba menebak disudut sebelah mana didunia ini gadis itu berada. Bukan Sunkyu, jelas ia ada disampingku, tapi gadis itu yang pernah memberikan banyak kesempatan yang tak satupun aku gunakan dengan baik.

***

Hatiku bertanya “Apa kau pernah berfikir apa jadinya kau jika tak bertemu Sunkyu?”

Pernah, beberapa kali.

Lalu pertanyaan selanjutnya, “Apa yang kira-kira akan terjadi?”

Entah, aku tak pernah berfikir sejauh itu.

Pertanyaan masih berlanjut, “Kalau ternyata dia yang ada diposisi Sunkyu saat ini?”

Semua akan baik-baik saja, berjalan sebagaimana seharusnya.

Pertanyaan mematikan itu datang, “Kalau dia datang saat kau sudah bersama Sunkyu?”

Diam, hanya itu jawaban yang bisa aku berikan.

Bagaimana kalau benar ia datang disaat aku sudah bersama sunkyu.

Kemungkinannya memang hanya satu banding puluhan juta.

Mungkin hatiku akan goyah, mungkin aku akan berpikiran gila untuk berlari kearahnya.

Memeluknya dan membuatnya tetap bersamaku.

Tapi mungkin kemudian akal sehatku akan memaksaku kembali pada Sunkyu

Bisa saja, saat itu Sunkyu sudah terlanjur terluka, dan semua tak akan sama lagi.

***

“Makan malam sudah siap, ayo. Yoonshi sudah menunggu” Sunkyu menggengam tanganku lalu membawaku keluar dari kamar dan kami duduk berkumpul mengitari meja makan.

“Makan yang banyak ya” Kataku pada Yoonshi yang tengah mengunyah sendokan pertamanya sambil aku mengelus rambutnya.

Lalu aku juga mengalihkan pandanganku pada Sunkyu.

“Ayo makan yang banyak juga” Aku meletakan sebuah daging asap keatas mangkuk nasi Sunkyu.

“Appa, besok kita jadikan jalan-jalan?”

“Tentu saja, habis makan malam kau langsung istirahat ya karena besok kita akan bangun pagi-pagi dan berangkat ke taman kota” Yoonshi mengangguk paham.

“Kau juga habis ini beristirahatlah, supaya besok tidak kelelahan” Sunkyu menyambung. Sunkyu selalu tahu cara membuatku bersemangat dengan kata-kata halusnya, tanpa aku bilangpun ia selalu tahu segala situasiku.

***

Dia ada di suatu tempat yang aku tak tahu dimana, mungkin ia dekat atau mungkin jauh.

Mungkin sangat jauh.

Mungkin ia sedang tersenyum, atau menangis.

Mungkin ia masih ingat aku, atau mungkin sudah lupa sama sekali.

Banyak kemungkinan.

Mungkin penyesalanku datang terlambat.

Tapi, bukan penyesalan namanya kalau datang tepat waktu.

Biarlah, aku membiarkan penyesalanku menguap.

Seperti dia yang aku biarkan mulai menguap dari pikiran dan hatiku.

***

“Kemari” Panggiku pada Sunkyu, lalu aku memeluknya dan mengecup keningnya. Ada lantunan lagu lembut yang terdengar dikamar kami. Lagu yang sama yang mengiringi acara first dance di upacara pernikahan kami dulu. Aku melingkarkan tanganku dipinggang Sunkyu dan tangan Sunkyu melingkar di leherku. Badan kami mendekat dan kami bergerak pelan mengikuti irama lagu.

Kami sering berdansa di kamar kami saat Yoonshi sudah terlelap, salah satu ritual menyenangkan kami. Perlahan aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, memaggut bibirnya dengan bibirku. Tubuh kami masih bergerak bersama mengikuti irama lagu.

“Terima kasih” bisikku saat wajah kami agak menjauh.

“Jung Yonghwa, terlalu banyak kata terima kasih yang aku terima darimu”

“Kalau begitu, aku mencintaimu” aku tersenyum membuat Sunkyu ikut tersenyum.

“Aku lebih banyak menerima kata cinta darimu, Jung Yonghwa”

“Kalau begitu aku akan terus mengatakan aku mencintaimu terus dan terus sampai kau muak dan bosan” Lalu aku memagut lagi bibirnya, kali ini lebih lama dan dalam.

“Aku mecintaimu”

***

Dimanapun dirimu, dengan siapapun kau sekarang aku hanya ingin bilang

Aku bahagia dengan hidupku sekarang walaupun bukan denganmu.

Sunkyu adalah istri yang baik, aku mencintainya.

Aku harap kau juga sedang berbahagia dengan siapapun itu.

Aku tak tahu banyak tentangmu, kau juga tak tahu banyak tentangku

Jadi biarlah semuanya seperti itu saja, tidak ada yang harus diubah.

Semua yang hilang tak perlu lagi kembali.

Semua yang aku relakan pergi akan tetap aku relakan.

Membiarkan waktu berjalan maju seperti seharusnya

Yang perlu kau tahu hanya, aku pernah mencintaimu.

-Jung Yong Hwa-

 

*** END***

 

 

 

nb: Gimana? Pada ngertikan jalan ceritanya? semoga pada ngerti ya soalnya ini dibuat agak berbelit-beli dan diselipin kata-kata (sok) puitis heheh. Thanks for read and comment😀

14 thoughts on “Been In Love

  1. yeay jadi yg pertamaaaa komen , hehehe
    aaaa kakak dapet kata” itu dari manasih ???? sweeet banget😄
    bagus kak, suka banget bagian monolognya ♥♥ ♥♥ ♥♥
    Semangat buat ff lainnya , selalu ditunggu😀😀 (ง`▽´)ง (ง`▽´)ง

  2. cakep unnie. FFnya sukses mengaduk-aduk perasaan
    feelnya kena banget, reader jd ngerasain apa yg YongHwa rasa, sangat menyentuh unnie :’)
    aku suka gaya penulisannya, kata2nya bukan sok puitis, tp itu bener-bener puitis🙂

    di tunggu FF selanjutnya ya unnie, semangat!

  3. annyeong noona noona.. admin admin.. dan author yg cerita selalu buat aku puassss😀 aku pengen ngirim ff ku, tapi masih ragu. boehkah aku ngirim ff karyaku? kalau boleh gomawo^^

  4. Kyaaaaaaa keren banget thor rasanya jd ingat masa laluku yang penuh penyesalan tapi itukan sudah jadi kenangan yang kelam
    trus bkin ff yah thor
    i❤ CNBlUE 4EVER

  5. Jika kau mencintai seseorang, biarkan dia pergi.
    Karena jika dia benar-benar ditakdirkan untukmu, dia akan kembali.

    nyatanya si ‘dia’ (anggap aja itu yeowon lol) tidak pernah kembali. jadi, jodoh yong oppa adalah sunkyu, bukan si ‘dia’.

    baru baca di baris pertama aja udah nyesek…

    “Dia seharusnya tahu kalau aku mencintainya, tapi kesempatan itu tak pernah datang.
    Atau mungkin kesempatan itu sering kali datang tapi aku tak pernah berani mengambil resiko.
    Alasannya sederhana, karena aku tak mau menyakiti.”
    *brb nangis ah*

    • heiii… justru aku suka sama kalimat kamu yang “Jika kau mencintai seseorang, biarkan dia pergi.
      Karena jika dia benar-benar ditakdirkan untukmu, dia akan kembali” ahahah >,<

  6. hei.. aku suka ff ini sekali loh, percaya pa enggak pas baca aku jd sadar satu hal, ttg realistis. dan menatap apa yg ada di hadapan kita sekarang.
    kesannya lebay memang komentarku, tapi ini beneran ngajarin kita ttg realistis penting dlm hidup ini. hah! pokonya daebak!

    • jujur ya… aku sendiri sebenernya belum paham betul apa artinya “realistis” heheheh dan aku bikin ff ini gada tujuan untuk mengispirasi orang untuk jadi realistis cuma nuangin ide yang ada dikepala ajah ke ff tapi kalau ternyata ff ini mengispirasi kamu aku seneng bgt😀.
      Btw makasih udah baca😀

  7. kata-kata yang puitis digabung dengan sedikit cerita ttg keluarga.. mengharukan bgt.. :’) tapi aku masih bingung siapa ‘DIA’ itu? aku msh belum menemukan siapa org itu.. tapi ff ini bener-bener keren.. serasa seperti pengalaman sendiri dan ada beberapa yg pengalaman sendiri..🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s