Craving For The Hurting [part 1]

ASDFG

 

Author: mmmpeb

Rating: PG17

Genre: romance, angst,, family, fluff

Length: chaptered

Cast:

  • CNBLUE Lee Jonghyun & SNSD Im Yoona

Other cast:

  • Girl’s Day Park Sojin
  • Im Junsu [ocs]

Note: Happy reading😀

 

——————————————————

 

Jonghyun duduk terpekur di sebuah restoran mewah di wilayah Gangnam. Ini pertama kalinya ia bisa menginjakan kaki di restoran yang ia yakin harga termurah yang ada di restoran itu setara dengan gaji yang ia dapat setiap bulannya sebagai seorang pegawai kantoran biasa. Bukan maunya ia berada di sana. Seseorang telah membuat janji di tempat itu. Bagi Jonghyun, janji adalah janji. Hanya saja, Jonghyun tidak tahu jika tempat yang disepakati adalah restoran untuk kelas paling atas. Pantas saja pelayan yang menyambutnya tadi menatapnya agak remeh.

Satu menit.

Sepuluh menit.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Dua jam.

Jonghyun telah menghabiskan kira-kira dua teko berisi air putih, tapi orang yang ditunggu tak kunjung datang. Ia menatap kosong teko yang terbuat dari kristal cantik di depannya. Haruskah ia pulang saja? Selain lelah menunggu, Jonghyun khawatir kalau-kalau seorang pelayan nantinya akan berdeham padanya dan menuduh Jonghyun hanya datang menumpang minum air gratis di sebuah restoran mewah. Ngomong-ngomong, apakah hanya minum air putih juga harus bayar? Kalau di kedai ramyun di dekat rumahnya sih gratis.

“Ehem!”

Kekhawatiran Jonghyun terbukti. Begitu mendengar suara dehaman seorang perempuan di belakangnya, Jonghyun berbalik. Ternyata bukan seorang pelayan, melainkan seorang bidadari yang mungkin baru turun dari surga dan mampir ke mall terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Jonghyun. Kantong kertas belanjaan gadis itu cukup banyak.

“Kau Jonghyun?” tanya gadis itu sedikit ketus.

“Kau Yoona?”

“Ternyata memang kau.”

Gadis yang bernama Yoona lalu meletakkan semua paper bag dengan tulisan merk ternama itu di lantai yang terbalut karpet halus. Seorang pelayan di dekat Yoona lantas menarik kursi di seberang Jonghyun dan mempersilahkan Yoona duduk.

“Kau tidak punya manner atau apa?” cetus Yoona dengan ekspresinya yang sedikit angkuh.

“Maaf?”

“Kau tidak pernah berkencan dengan perempuan? Kau gay?”

“Maaf?” Jonghyun mulai menaikkan sedikit intonasinya.

“Lupakan! Langsung saja kalau begitu. Kenapa kau menerima perjodohan ini? Kau tidak tahu diri atau materialistis?” Yoona memicingkan matanya pada Jonghyun. Tatapannya kemudian turun seolah sedang meng-scan sosok yang ada di depannya. Sungguh bukan tipe pria yang selama ini ia kencani. Memang tampan sih, Jonghyun terlihat seperti memiliki aura bangsawan, tapi Yoona bisa menaksir berapa harga kemeja biru yang sedang Jonghyun kenakan kini. Mungkin sama seperti harga sebatang es krim kesukaannya setiap kali ia menginjakkan kaki di London.

“Aku sangat tahu diri dan sebenarnya aku bukan orang yang materialistis. Kalau saja aku tidak kepepet, aku juga tidak mau menikahi gadis angkuh sepertimu. Kau tidak pantas denganku.”

“Bagus lah kalau kau mengerti!”

“Orang-orang bilang aku adalah orang yang baik dan mereka mengharapkanku untuk mendapat seorang istri yang baik pula.”

“Kau menyindirku?” Yoona memukul meja itu pelan.

“Bukan sindiran, tapi kenyataannya memang begitu. Kau mau menikah denganku atau tidak? Aku harap kau mau. Kalau kau tidak maupun, aku yakin ayahmu pasti akan memaksamu.”

Jonghyun lalu tertawa dengan sarkastik. Ia berhasil memancing amarah Yoona. Gadis itu mengambil gelas berisi air putih di depan Jonghyun lalu menyiram ke arah laki-laki itu. Namun, sayang Yoona kalah cepat. Judo mengajarkan Jonghyun untuk selalu cepat tanggap dalam situasi apapun. Karena itulah ia bisa menghindar dengan cepat.

“Maaf tidak kena! Mau kutuang air? Mungkin yang kedua berhasil.”

Jonghyun lagi-lagi tertawa. Mendengar suara tawanya saja, rasanya Yoona ingin sekali mencabik-cabik laki-laki yang ada di depannya. Dengan spontan Yoona berdiri, membuat kursi yang tadi ia duduki terjatuh ke belakang.

“Brengsek!”

Dengan perasaan kesal, Yoona memilih untuk menyingkir dari tempat itu. Menurut guru kelas kepribadian yang ia ikuti setahun yang lalu, saat seorang ada yang membuatmu kesal, maka menjauhlah agar amarah tidak terpancing. Yoona ingin mengaplikasikan hal tersebut, walaupun sebenarnya amarahnya sudah meluap melalui kata kasar yang baru saja terlontar dari mulutnya.

“Nona manis, belanjaanmu bagaimana? Untukku?”

Yoona yang sudah melangkah beberapa langkahpun berbalik. Matanya menatap Jonghyun ganas yang tengah tersenyum puas.

“Ambil! Kalau perlu bakar sekalian!”

“Sayang kalau dibakar. Aku akan menjualnya kembali!”

Yoona menghentakkan kakinya kesal setelah lagi-lagi mendengar tawa Jonghyun yang ketara sedang meledeknya. Baru kali ini Yoona mendapatkan penghinaan seperti itu. Terlebih yang menghina adalah orang yang menurut Yoona sangat tidak pantas untuk menghinanya.

‘Lihat saja nanti!’ batin Yoona, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menuju singgasana.

 

 

“Aku pulang!”

Setelah mendengar suara Jonghyun, Sojin yang tengah memasak lantas mengecilkan api kompor lalu berlari menghampiri adik kesayangannya.

“Kau pulang cepat sekali, dongsaeng!”

Jonghyunpun disambut sebuah pelukan hangat, pelukan yang ia dapat setiap hari, dan pelukan yang sangat Jonghyun sukai.

“Aku sengaja pulang lebih cepat. Kantorku sepinya minta ampun. Kau tahu sendiri kan hari ini orang-orang di kantor sedang berlibur di Jeju.”

“Kau menyesal ya tidak ikut? Iya, kan?”

“Sama sekali tidak. Aku jadi bebas di kantor.”

Sojin hanya bisa menggeleng pelan. Tabiat Jonghyun tidak berubah. Selalu saja menghindar dari kerumunan.

“Ngomong-ngomong apa itu yang ada di belakangmu?”

Sojin melingkari tangannya di pinggang Jonghyun lalu mengambil kantong-kantong belanjaan yang seharusnya Yoona bawa pulang.

“Seseorang memberikanku secara cuma-cuma.”

“WAAAAH!”

Mata Sojin sangat berbinar melihat isi kantong-kantong tersebut. Ia duduk di lantai lalu mengeluarkan semua yang ada di dalamnya.

“Ya Tuhan, Jonghyun!” pekik Sojin sambil mengangkat sebuah gaun berwarna putih gading. Jonghyun ikut duduk di depan Sojin dan menikmati kegirangan kakak perempuannya. “Kau tidak mencuri, kan? Ah, kenapa aku bisa berpikiran seperti itu!” Sojin kembali mengagumi barang-barang tersebut. Gaun, kaos, parfum, semuanya berasal dari merk terkenal.

“Kau mau, nuna? Ambil saja.”

“JEONGMAL?”

Jonghyun mengangguk dengan tegas. Senang rasanya bisa membahagiakan orang yang disayanginya.

“Nuna, kau sedang masak apa? Ikan goreng gosong lagi?”

“Tidak, hari ini aku masak ayam gor-AYAMKU!!!”

Dengan cepat Sojin berdiri setelah mencium sesuatu yang agak aneh dan berlari menuju dapur. Jonghyun yang telah menyadarinya hanya bisa terkekeh.

 

 

Yoona membanting handbag Gucci-nya dengan kesal ke sofa. Ia melempar dirinya ke benda empuk itu lalu menghela nafas dengan berat. Yoona lelah, terlebih hatinya karena baru saja dipermainkan oleh seorang laki-laki untuk pertama kalinya.

“Kau sudah pulang, Yoona?”

“Memangnya yang Ayah lihat sekarang ini apa?”

Ayah Yoona, Im Junsu, tertawa melihat tingkah putri semata wayangnya. Ia mendudukkan diri di sofa, mengangkat kepala gadisnya dan meletakkannya di pangkuannya. Lelaki yang kini sudah menginjak umur 59 tahun itu mengusap kepala Yoona dengan lembut. Ia selalu melakukannya pada istrinya dulu.

“Kau suka Jonghyun?”

“Tidak sama sekali!”

“Diantara 0 sampai 10, kau memberinya nilai berapa?”

“Aku akan memberinya -100!”

“Hahaha, dia laki-laki yang baik, Yoona!”

“Baik apanya? Ayah tidak tahu saja bagaimana sikapnya tadi padaku!” dengus Yoona. “Dia tidak menarik kursi untukku, lalu dia menyakiti perasaanku!”

“Menyakiti? Aku rasa Jonghyun bukan orang yang seperti itu, Sayang!” Junsu kembali mengusap kepala anaknya. “Dia anak yang baik, ramah, dan tahu cara bertata krama. Dia adalah laki-laki yang pas untukmu.”

Yoona bangkit duduk dan kembali mendengus kesal. “Percuma bicara dengan Ayah! Ayah ternyata hanya melihat topengnya saja!” Kemudian ia berdiri dan dengan langkah kesal ia berjalan menuju kamarnya. Junsu terkekeh saat mendengar bantingan pintu.

Merubah sikap buruk Yoona memang butuh waktu. Junsu akan bersabar untuk itu, walaupun membutuhkan waktu yang lama sekalipun.

 

*****

Dalam tiga hari ini Yoona tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pasalnya, Junsu benar-benar serius akan menjodohkan Yoona dengan Jonghyun. Yoona jelas tidak menyetujuinya. Namun, jika ayahnya yang berkehendak, ia seringkali tidak bisa melawan.

“Pagi, Sayang!”

“Hmm!”

Yoona hanya berdeham menyambut sapaan Junsu. Dalam tiga hari ini, suasana antara Yoona dan Junsu cukup alot karena Yoona menolak untuk berbicara pada Junsu.

“Masih merajuk?” tanya Junsu santai sembari mencapit kimbab di depannya.

“Hmm!”

“Ini sudah tiga hari dan Ayah mulai merasa tidak nyaman, Yoona.”

“Kalau begitu kenapa Ayah tidak batalkan saja perjodohanku?”

Junsu meletakkan sumpitnya ke atas meja berlapis marmer dengan keras. Yoona cukup terkejut. Apakah Junsu marah?

Namun, Junsu justru tersenyum dan menggenggam erat tangan Yoona yang berada di atas meja. Yoona yang mengira Junsu marah tidak menolak, ia takut ayahnya akan berubah jadi marah jika ia menepis.

“Umur Ayah hampir menginjak 60 tahun. Umur segitu adalah umur yang cukup rentan untuk menghadapi kematian, Sayang.”

Yoona terenyuh saat Junsu mengungkit kematian. Ia tidak suka dengan kata itu.

“Ayah kenapa bicara begitu, sih? Ayah membuatku sedih!” kata Yoona dengan suara parau. Ia menatap Junsu dengan lekat.

“Kau menyayangi ayah?”

“Sangat!”

“Kau mau menuruti permintaan Ayah?”

Yoona menggembungkan pipinya. “Ayah curang!” seru Yoona dengan nada sedikit kekanak-kanakkan. Mungkin sudah saatnya Yoona mencairkan suasana yang kaku. “Ayah menjebakku! Kalau Ayah tanya begitu, Ayah pasti tahu apa jawabanku!”

Yoona bangkit berdiri dan menghampiri Junsu. Yoona memeluk leher Junsu dan mencium pipi yang lumayan berkeriput itu.

“Tapi bisakah Ayah mencari kandidat yang lain? Teman dan relasi Ayah kan banyak, jodohkan saja aku dengan anak salah satu dari mereka. Aku tidak menyukai Jonghyun!”

“Kau akan menyukainya, Nak! Ayah yakin itu.”

“Tsk!”

Kalau bisa.

 

 

Hari sudah mulai senja, tapi Sojin belum juga pulang. Kekhawatiran Jonghyun beralasan karena biasanya Sojin akan memberitahu kemana ia pergi. Namun, sejak pagi Jonghyun tidak melihat Sojin. Sojin hanya menulis pesan yang ia tempel di kulkas, meminta Jonghyun untuk memakan makanan yang telah ia buat tanpa memberitahu ke mana ia akan pergi. Ponselnya juga tidak aktif.

Setelah berkeliling apartemen dan berjalan mondar-mandir di depan pintu, akhirnya ia melihat Sojin dari kejauhan yang tengah berjalan menujunya.

“Nuna, kau dari mana saja?” Jonghyun menarik tangan Sojin, kemudian memeluknya dengan erat. “Aku khawatir denganmu, Nuna!”

Sojin membalas pelukan Jonghyun. “Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Jonghyun! Aku tidak apa-apa, kan ada Eunhae oppa. Kami hanya berkencan di hari Minggu.”

Jonghyun yang mendengar hal itu langsung melepaskan diri. Ia tidak mau mendengar hal yang lebih dari itu karena hatinya akan sakit setiap Sojin menceritakan kekasihnya itu.

“Nuna, kau lapar? Karena kau baru pulang, kita pesan pizza saja,” kata Jonghyun sambil membuka pintu.

Jonghyun menggamit tangan Sojin. Namun, Sojin justru malah menarik tangan Jonghyun, mencegahnya masuk.

“Jonghyun-ah, ada yang ingin aku beritahukan padamu.”

Jonghyun tidak jadi masuk, ia menutup pintunya kembali. Ia berbalik dan menangkap sorot mata serius dari mata Sojin.

“Ada apa?”

Sojin lantas menaikkan tangan kirinya dan menunjukkan sesuatu yang tersemat di jari manisnya. Senyum Sojin mengembang. Jonghyun terdiam memandangi cincin perak itu. Ia sangat berharap dugaannya salah. Ia ingin mendengar kalimat ‘Aku baru beli cincin, lho!’ keluar dari mulut Sojin.

“Eunhae oppa melamarku!”

Nice! Dugaannya tidak meleset.

“Kau b-bercanda, nuna?”

“Kau selalu bisa menebak kapan aku berbohong dan kapan aku berkata jujur.”

Jonghyun kembali terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Eunhae oppa melamarku di taman kota. Disaksikan orang-orang. Romantisnya! Setelah itu kami mendiskusikan masalah masa depan kami dengan serius. Katanya ia ingin segera bertunangan deng-” Belum sempat Sojin menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun mendorong Sojin ke dinding. Ia mencengkeram bahu Sojin dan semakin mendorongnya ke dinding. “Jonghyun-ah?”

Rasanya Jonghyun tidak bisa menahan diri lagi. Ia mencium bibir Sojin dan melumatnya dengan kasar. Sojin terkejut mendapat perlakuan itu dari Jonghyun. Ia ingin melepaskan diri tapi tidak bisa. Dan ia mulai merasa kesakitan karena Jonghyun melumat bibirnya seperti orang kesetanan. Yang hanya bisa Sojin lakukan adalah menampar pipi Jonghyun.

Jonghyun mengusap pipinya yang memerah. Ia tersadar dari perbuatan yang ia lakukan dengan secara tidak sadar.

“N-nuna, maafkan aku!”

Air mata Sojin menetes. Ia ketakutan.

“Nuna maafkan aku!”

Jonghyun menarik Sojin dan memeluknya. Namun, Sojin justru mendorong tubuh Jonghyun kuat-kuat.

“Aku kira kau sepakat untuk tidak menyukaiku, Lee Jonghyun! Dua tahun yang lalu, kau berjanji untuk tidak menyukaiku, tapi kenapa kau melakukan ini?” lirih Sojin. Air matanya masih menggenang dan ia tidak berani menatap Jonghyun. Ia ketakutan karena hal yang sangat tidak ia inginkan ternyata benar-benar terjadi.

Jonghyun berusaha memeluk Sojin kembali. “Aku tidak bisa nuna! Semakin kau melarangku, aku semakin menyayangimu. Aku mencintaimu!”

Sojin diam terpaku.

“Jonghyun-ah, ini tidak benar! Aku kakakmu!”

“Kau bukan kakakku!”

“Aku kakakmu, Lee Jonghyun! Mendiang ayahku dan mendiang ibumu menikah. Kita ini saudara!”

“Tidak!” pekik Jonghyun.

Sojin meletakkan tangannya di dada Jonghyun dan mendorong laki-laki itu pelan. “Aku juga menyayangimu, Jonghyun-ah! Aku menyayangimu sebagai seorang adik. Dan sejak 10 tahun yang lalu, perasaan itu tidak pernah berubah hingga sekarang. Kau adikku, adik laki-laki kebanggaanku!”

Mereka berdua terdiam. Lagi-lagi Jonghyun ditolak oleh orang yang sama.

Sojin melangkah melewati Jonghyun dan membuka pintu rumah mereka.

“Ayah akan menikahkanku dengan seseorang yang tidak kukenal. Jika Nuna mau hidup bersamaku, aku akan meminta Ayah untuk membatalkannya.”

“Berbahagia lah dengan gadis beruntung itu. Maaf Jonghyun, mulai sekarang kita tidak bisa hidup bersama lagi. Kau mengecewakanku! Sementara ini aku akan pindah ke rumah Eunhae oppa sebelum aku menemukan tempat tinggal baru.”

Sojin melangkah masuk, meninggalkan Jonghyun yang diam terpaku.

“Bahagia katamu?” gumam Jonghyun, “Jika kebahagianku hanya ada padamu, bagaimana bisa aku berbahagia kalau hidup tanpamu, Sojin?”

Tanpa Jonghyun sadari, Yoona menyaksikan semua itu. Ia berjalan menghampiri Jonghyun dan memberikan tepuk tangan sebagai tanda selamat karena telah mendapatkan penolakan.

“Drama yang menarik! Jadi kau sudah tahu akan ditolak olehnya, alih-alih menikahiku karena alasan perjodohan, kau menjadikanku sebagai pelarianmu. Begitu kan, Jonghyun? Persiapan yang matang.”

Mata elang Jonghyun mengarah pada Yoona.

“Kalau iya memang kenapa?”

“SIALAN!”

Jonghyun kembali mendapat sebuah tamparan. Namun, sekeras apapun tamparan Yoona, rasa sakitnya tidak bisa mengalahkan tamparan dari Sojin walaupun sepelan apapun.

Yoona mendorong Jonghyun ke dinding dan tiba-tiba mencium bibir Jonghyun. Jelas Jonghyun terkejut, tapi ia hanya bisa diam, tidak mengelak. Tangan kanan Yoona mengusap pipi Jonghyun, sedangkan tangan kirinya memeluk tubuh laki-laki itu. Yoona melumat bibir Jonghyun dengan lembut hingga mampu membuat Jonghyun terbuai. Saat Yoona tahu Jonghyun akan mulai membalas ciumannya, ia dengan segera melepas diri.

“Lihat saja, Jonghyun! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, lalu aku akan menjatuhkanmu!”

 

-tbc-

 

maaf kalo nemu typo & kalimat agak rancu, soalnya belum di cek ulang huehehe

 

 

 

 

 

46 thoughts on “Craving For The Hurting [part 1]

  1. Kak febrii, ayo lanjut-lanjut. oke ceritanya🙂. Aku suka wakti sikapnya JH kyk bad boy gitu. hihihi. Dapet bgt karakternya JH di cerita ini ><

  2. woooaaa ceritanya bagus!! suka suka!!
    yoona sombong banget, beda sama karakter yoona di ff lain, menarik hihi
    gimana bisa 2 orang dengan kepribadian gitu menikah, ah penasaran!
    ditunggi lanjutannya ya thor, kalau bisa jgn lama2 hehe ^^

  3. Waaah, ajong ternyata suka suka sama kakak tirinya sendiri u.u
    yoona tau” kissue aja, hahaha
    semoga perjodhannya lancar,.
    Ajong sama yoona saling cinta, gak jadi jatuhin(?) ajong, hehe

  4. Kyaaaaa keren banget nih thor, ceritanya.. Berbeda dari yang lain! Aku suka >< karakter yoona disini juga berbeda dari biasanya keren thor.. Next chapter ASAP ya thor, hehe fighting!^^

  5. mpebbb is back yuhuuuu

    dan membawa ff chapter jongyoon *loncat2*

    bakal kaya gimana ya 2 manusia yg awal saling benci nanti ga bs terpisah karna saling membutuhkan? huaaaa
    masi menebak2 alur ceritanya nih. berharap byk adegan romantisnya tp d chapter awal mereka udah perang begini huhu
    dan sojin semoga bener anggep jonghyun adik sampe kapan pun jgn tiba2 tar cemburu liat jonghyun sama yoona dan buat pertahanan jonghyun goyah hehehe…

    ditunggu kelanjutan ceritanya. makin lama gaya bahasa mpeb makin baik sejak pertama jd reader ff disini. manteeep

  6. dikasih link sama temen
    pas masuk eh ternyata bikinannya mpeb
    kali ini cast nya jongyoon nih, gak hyukstal
    ciee..tumben amat
    soal ceritanya mah bagus banget
    scene gontok2annya bikin gemes
    alurnya jg gak kecepetan
    bahasanya jg keren
    semua porsi pas pokoknya
    jadi bagus banget deh
    jonghyun gile banget sih, suka sm kakak tiri sendiri
    yoona lebih gile lagi, nyium org trs ngancem2 bikin jatuh cinta gitu
    tebakan deh, yoong yg jatuh cinta duluan sm jongie jongie
    hihihirr
    penasaran sm lanjutannya
    lanjut terus ya!
    semangat! ^^

  7. wah menarik banget! suka sekali dengan JongYoon.. moga ga lama ya chapter selanjutnya, thor.
    author fighting!!
    JongYoon fighting!

  8. halo kak!
    aku masih inget kak komen di ficku disini dan aku sangat berterimakasih untuk apresiasinya🙂
    soal cerita aku suka sih sama idenya. apalagi dengan karakter jongyoon yang rada beda dari biasanya.
    kemudian aku ada saran dan sedikit masukan. maaf bukan maksud menggurui atau gimana.
    1. ada beberapa kata yg kurasa rada kurang pas. misal ’kepepet’ dll. ini kan fic-nya basic-nya berbahasa baku.
    2. menurutku sih alurnya rada kecepetan. terus masih bikin bingung dibeberapa bagian. misal kenapa perjodohan ini terjadi. dsb. tapi mungkin bakal dijelasin di chapter selanjutnya.
    selebihnya aku suka sih. di tunggu chapter selanjutnya juga. semangat ya kak! fighting!

  9. You back, onn!! chaptered lagi wohooo~~
    Suka nih sama Yoona yang jadi gadis kaya and sombong, pertamanya agak aneh sama karakter Yoona yang sobong tapi setelah liat-liat foto2 Yoona ternyata dia pas juag buat jadi cewe sombong. Kalo Jonghyun gausah ditanya, cocok bangat jadi cowo dingin, badboy jutek hehe.
    kaget ternyata Jonghyun suka sama kakak tirinya.
    Dan suka sama kaliamt terakhir Yoona yang nantang Jonghyun bakal suka sama dia.
    Can’t wait for the next part😀

  10. Wah.. sumpah makin penasaran part selanjutnya.. cepetan ya thor..
    Yoona sama Jonghyun aku mau liat siapa yg menang, atau keduanya bakalan saling mencintai? awawaw

  11. Ak ska bgt sma karaktr main cast ny, cowok sinis ktmu cewek angkuh. Bkal kbyang gmn hbohny pertengkaran mrka. Tp krn ak bkn ngeshipping deerburning brhrp castny bkn yoona. Tp good job ak ska critany.

  12. Aaah .. Ini dia author favorit ku .. Hehehehehe ..
    Daebak .. Pokoknya sealu suka deh dengan tulisan febri .. Hehehehe ..

    Ada yang kritik alurnya cepat yagh?? Gak masalah .. Udah jadi ciri khas febri kali buat FF yang to the point …
    Lanjutt .. Di tunggu pastinya ..

  13. huwow jongyoon my fav kupel.. aih aihh baru baca.. ayo lnjut donk thor pnasarn yoona mau apa biar jongie klepek2 ma dia.hehehe

  14. hmm permulaan yang kurang baik nih wkwkw tapi seru kayanya gimana kisah selanjutnya yah di tunggu yh thor, update soon pleaseee😀

  15. wih keren nih ff,tapi kenapa sampai sekarang belum ada lanjutan ny Chingu…padahal baru part pertama ini aj udah bikin aku deg2an dan penasaran gimana nanti hub JongYoon..Please di lanjut Chingu..Fighting!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s