Before We Get Too Old

cnblue/snsd;jonghyun/yoona. angst. oneshot

//by yen yen mariti

 Gambar

If I lay here

If I just lay here

Would you lay with me

And just forget the world?

.

.

.

Lima enam tahun yang lalu mungkin aku akan berlari memeluknya saat melihat dia di depan mataku. Tapi aku cukup kuat untuk menahan nafsuku dan melambaikan tangan seraya tersenyum kecil padanya — karena keadaan sudah sangat jauh berbeda sekarang.

“Hai.” Sapanya padaku. Dia, Im Yoona. Dan jiwaku mengenalnya dengan sangat baik.

“Hai,” aku tidak bersikap dingin, karismatik apalagi. Aku hanya mengontrol tubuh dan emosiku agar fokus. Agar tidak menyentuh sesenti pun kulitnya. Meski aku ingin.

Kami berjalan beriringan di tengah keramaian kota London yang cerah. Bunga-bunga bermekaran sejak delapan pagi yang lalu dan kini aku benar-benar menikmati harumnya. Aku tidak membuka percakapan — tidak mengerti harus membicarakan atau mulai dari yang mana. Kami sudah sering berpisah. Tapi enam tahun yang lalu kata perpisahan benar-benar melekat permanen dan membangun dinding salju yang dingin di antara kami.

Dia menanyakan kabarku dan dengan bodohnya aku mengambil jeda untuk berpikir harus menggunakan kata-kata apa yang tepat. Sebab aku sendiri juga tidak benar-benar paham dengan keadaanku. Aku cukup sehat untuk pria seumuranku. Makan tepat waktu dan masih berolahraga meski lebih sering bersikap malas. Aku tertawa tiap hari, ada dua malaikat kecil di rumah. Dan setiap bangun pagi aku selalu menemukan bibirku bersatu dengan bibir istriku.

Aku cukup bahagia.

Meski kata ‘cukup’ tidak memiliki arti sempurna.

Kami berhenti di sungai Thames. Orang-orang mengantri demi menaiki kapal. Tapi kami berdiri berduaan saja di pagar pembatas. Obrolan-obrolan kecil sudah terucap kata demi kata dan menit demi menit. Tapi rasanya kami seperti orang asing, rasanya masih bersembunyi di kantong tidur masing-masing. Aku tidak ingat sejak kapan kami mulai merasa asing.

Dua puluh dua tahun yang lalu aku masih ingat seperti apa rasanya nyaman. Nyaman ketika kami tidak merasa canggung. Nyaman ketika kami saling menggandeng tangan. Nyaman ketika kami saling berciuman atau melakukan hal konyol lainnya dengan seragam senior kami.

Tapi kemudian setahun berikutnya aku tidak menemukan dia lagi saat aku membuka mata di pagi hari. Aku laki-laki, dan putus cinta tidak akan membuatku hancur. Jadi aku melaksanakan aktivitasku seperti biasa. Minum kopi sendirian di apartemen kecilku, berjalan di trotoar berdesakan bersama orang-orang berambut pirang dan berkeringat saat tiba di Juilliard. Tapi saat malam tiba dan aku kembali merangkak ke ranjang — memandang langit-langit apartemen yang berdebu. Aku bertanya-tanya adakah yang kulewatkan hari itu. Kenapa hatiku terasa kosong. Dan jawabnya ada di miliaran mil jauhnya dariku.

—aku, kehilangan dia.

“Aku bertemu Jungshin sebulan yang lalu.” Katanya padaku, matanya tidak pernah sekali pun melihat wajahku, begitu juga aku padanya. “Hal yang mengejutkan adalah ternyata dia sudah menikah. Dan aku ketinggalan berita itu sejak bertahun-tahun yang lalu.”

“Istrinya tengah hamil anak ketiga.” Aku menambahkan. Sekedar informasi saja.

“Hebat sekali!”

“Minhyuk juga, istrinya melahirkan anak kedua mereka dua musim semi yang lalu.”

“Bagaimana dengan Yonghwa Oppa?”

Kami sudah dua jam bersama di atas tanah London yang cerah dan selama itu pula dia tidak memanggil namaku sekali pun, tapi dia menyebut nama sahabat-sahabatku. “Dia masih di dunia hiburan, meski lebih sering di belakang layar.” Enam tahun berlalu. CNBLUE tidak bubar, kami hanya menapaki jalur hidup masing-masing. CNBLUE selalu hidup dan dikenang, meski orang-orang sudah mulai melupakan, setidaknya kami berempat tidak akan melakukannya.

“Ya, itu pilihannya. Dan itulah yang membuatnya bahagia.”

Aku terdiam selama beberapa saat. Kata bahagia terus berputar di kepalaku. Kadang-kadang kata-kata itu sering mematuk-matuk otakku seperti burung pelatuk. Apakah aku bahagia. Apakah Yoona bahagia. Apakah kami semua sudah bahagia.

“Apa yang kaukerjakan sekarang?” aku bertanya. Mengenyahkan kata bahagia dari otakku.

“Tidak banyak. Menulis buku, kadang-kadang dubbing, tapi cuma sampingan.”

Dia masih seperti yang dulu. Terus bekerja dan berkarya. Tapi orang-orang tidak mengenalnya. Dia tidak pernah tampil di depan publik. Dan lebih nyaman berada di balik layar.

“Tidak apa-apa. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia.”

“Ya. Omong-omong, sampaikan salamku pada Yonghwa, Junghsin dan Minhyuk. Sudah lama sekali tidak bertemu mereka. Katakan, bahwa aku di sini bahagia untuk mereka.”

Aku mencibir tanpa kusadari dan Yoona melihatnya kemudian bertanya kenapa. Aku terdiam sejenak, merutuki tingkah kekanakanku.

Orang-orang berlalu lalang. Umurku 40 tahun ini. Meski sudah mundur dari dunia hiburan, setidaknya masih ada segelintir orang yang mengenalku. Lee Jonghyun Satria Bergitar yang dulunya juga sempat menjejakkan kaki ke London dan mengaduk isi kota dengan ketiga anggota yang lain. Enam tahun yang lalu aku memutuskan untuk hidup normal. Berkeluarga dan menjadi seorang ayah. Dunia hiburan perlahan-lahan berhenti menyorotku, dan kadang-kadang masih memintaku untuk tampil sebagai bintang tamu di beberapa variety show.

“Yoona,” ini suaraku versi anak laki-laki belasan tahun. Serak dan parau karena kehampaan. Bertahun-tahun aku memendam suara ini.

“Ya?”

“Apakah kau bahagia? Apakah hidup membuatmu bahagia? Apakah kau memilih untuk bahagia?”

“Aku… cukup bahagia Jonghyun. Aku melakukan apa pun yang kusukai dan yang membuatku bahagia.” Dia tertawa pelan, dan aku meperhatikan wajahnya.

“Berhenti pura-pura,” aku bergumam dan dia mendengarnya. “Kau tidak pernah benar-benar bahagia.” Sebab guratan kulitnya yang mulai keriput mengatakan itu padaku.

“Kau tidak mengerti, aku bahagia.”

“Kau tidak pernah. Kau menolak pilihan untuk bahagia Yoong!” aku berteriak, marah dan merasa bersalah sekaligus. Dia terdiam tapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan menangis.

“Kau hanya tidak mengerti.” Dia berucap pelan, menggelengkan kepalanya berkali-kali. Kemudian berhenti untuk memandangi kapal-kapal yang bergerak pelan di atas air sungai. Seharusnya aku membawanya ke atas kapal itu tapi aku cukup pelit untuk mengeluarkan 14 Euro hari ini.

“Tidak ada yang benar-benar mengerti di sini. orang-orang juga masih menggali misteri kenapa kami bertiga meninggalkan dunia hiburan. Mereka tidak mengerti apa yang ingin kami capai sekarang. Kami ingin bahagia. Tapi kau benar, mungkin aku juga tidak mengerti arti kebahagiaan versi dirimu.”

Hari itu hari kelulusan dan dia melepaskan tanganku untuk pergi jauh meninggalkan tanah kelahiranku. Dia tidak akan mau dan tidak akan pernah ikut denganku. Kali itu alasannya sepele; Amerika bukan impiannya, meski kami sama-sama mencintai musik. Tapi Juilliard tidak cukup berhasil menarik perhatiannya. Begitulah awalnya kami berpisah. Aku terbang dan tinggal di New York selama tiga tahun, tapi sebagian hatiku tertinggal di Busan dan dia tidak punya waktu untuk merawatnya.

Hari ini, kutemukan dia di sini. London. Inggris. Tak jauh dari New York.

“Kau hanya terlalu takut pada dunia Yoong.” Suaraku melunak. Bukan karena angin musim semi yang berembus, tapi kilasan balik itu meberi pengaruh besar padaku.

“Dunia hanya seukuran genggaman tangan kita, tapi dunia begitu kejam. Dan aku ingin mencegah apa pun yang bisa menjadi luka permanen dalam hidupku.” Suaranya pelan dan dalam. Suara Gadis Busan yang terluka dan kehilangan harapan.

Aku mengenalnya sejak lama. Dia adalah gadis yang terluka. Dia adalah gadis yang tidak berani pada cinta setelah apa yang dia lihat pada ibunya — ditinggalkan pergi. Meski dia dan aku tahu kami saling mencintai dan aku pasti sangat bodoh jika meninggalkannya, tetap saja, sebagian dari dirinya ketakutan. Membuat gambaran-gambaran menyedihkan seandainya aku meperlakukannya seperti ayahnya memperlakukan ibunya.

Luka besar itu mengegrogoti jiwanya. Berlubang dan berdebu. Tidak ada yang mengobatinya sama sekali, bahkan Yoona sendiri mengabaikannya dan pura-pura bahagia.

“Kukira kau sudah mendapat luka permanen itu sejak lama.”

Dia tertawa, dan rambutnya terbang di atas pundaknya. Matahari mulai lelah menonton kami yang menyedihkan, jadi dia perlahan-lahan turun untuk beristirahat. Yoona bergerak pelan-pelan memberi jarak terhadapku. Aku tidak menahan tangannya sama sekali.

“Aku senang kau sudah menemukan kebahagiaan itu, Jong.”

“Yoong. Kau bukanlah satu-satunya yang terluka di dunia ini.” Aku berkata begitu, dan ingi menambahkan: karena aku juga terluka. Tapi tidak kulakukan. “Dan mereka yang terluka berusaha menyembuhkan luka itu. Aku, dan kau. Kita sama-sama pernah jatuh, merasa sakit, marah dan putus asa. Tapi dunia terus berlanjut dan kita harus berhenti untuk terluka. Sebab, tidak ada salahnya berbahagia.”

Dia terdiam, kepalanya tertunduk. “Suatu hari, aku akan mencobanya; mengambil resiko demi kebahagiaan.” Itu kata-kata terakhirnya sebelum pergi meninggalkanku sendirian. Mataku memandangi sosoknya yang semakin menjauh dan samar.

Suatu hari.

Kapan?

Suatu hari. Akankah kita semua masih dapat bernafas di dunia ini? Akankah kita masih punya waktu.

Bertahun-tahun yang lalu, saat New York adalah backgroundku. Aku berusaha makan dengan baik, aku mencoba berkonsentrasi dengan gitarku, aku berusaha untuk tidak merindukanmu, aku menulis lagu di hari-hari hujan yang memilukan, aku bernafas seolah semua baik-baik saja.

—aku mencoba hidup. Meski tanpamu.

Dan aku mencoba bahagia. Sebab melanjutkan hidup bukanlah kesalahan. Meski itu tanpamu.

Dan kuharap, suatu hari nanti. Hari yang entah kapan maksudmu itu. Kau masih bernapas, kau masih cantik meski keriput mulai menguasai wajahmu. Kau masih bisa berbicara dan berjalan. Kau berani pada dunia. Kau ingin mencapai kebahagiaan.

Karena aku ingin kau bahagia. Seperti aku yang juga bahagia sekarang ini. []

Ngga tau ff ini pantas diposting atau tidak. Rasanya gak jelas entah karena apa… intinya ini tentang laki-laki yang mencoba move on dan perempuan yang memiliki ketakutan amat sangat dalam hidupnya….tapi yasudahlah, mungkin masih ada yang mau baca dan meninggalkan jejak.

Anyway, happy fasting everyone!!^^

17 thoughts on “Before We Get Too Old

  1. halo, Yeowon!
    oke, first, aku memang membaca karena cast, since I am a deerburning shipper, hehe.
    aku suka banget sama gaya penulisanmu. keren! pemilihan kata-katanya itu lho, pas banget. pasti kutubuku dan suka baca cerita yg cukup berat/terjemahan ya? /soktahu/
    kemudian soal cerita. awalnya aku mengharapkan cerita ini akan diakhiri dramatis atau ada twist kecil di ending, tapi ga ada ternyata. gapapa sih, tetep keren kok. serius. semoga kedepannya makin rajin nulis soal deerburning ya. keep writing and keep productive! fighting!

    • haiii… makasih sudah ngasih saya semangat pagi ini. ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya nulis deerburning couple kok. biasanya sih selalu cnblur/oc.
      keliatan banget ya kalo saya suka baca buku terjemahan? wkwk. bener kok, saya emang suka baca, dan kebanyakan buku terjemahan.
      dan maaf endingnya ga sesuai harapan kamu hihi… tapi terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. semoga kita bertemu di tulisan saya yang lainnya^^.

  2. Kata-kata yang mendalam dan meninggalkan jejak di hati aku aauthor Yeowon🙂 mencoba bahagia walaupu dgn beberapa resiko, ku rasa harus aku coba🙂

    • halo.. terima kasih sudah baca. dan ngomong-ngomong, kadang-kadang selalu ada resiko yang harus kita bayar untuk bahagia. saya belajar itu dari banyak orang dan buku-buku yang saya baca, dan rasanya itu memang fakta dunia. terima kasih ya sudah meninggalkan jejak. ^^

  3. cieee akhirnya nulis lagi🙂
    awalnya aku fikir cerita ini ada endingnya hihihi walaupun pasti ada korbannya hehehe
    mmm tapi seperti biasa aku selalu suka banget sama gaya bahasa yg kamu pake, *nusuk banget*
    anyway tetep semangat nulis ff nya🙂🙂🙂

    • semalam aku gak bisa tidur, dan lagi ngutak-atik mp3. lagunya galau semua, aku sampe nangis. dan quote di atas salah satu lagu yang aku putar semalam. jadi karena gak tahan dengan hati yang rasanya ditusuk-tusuk *apa?* makanya aku lampiasin ke ff aja hehe….
      dan semalam aku juga bikin keputusan, aku bakalan tetap nulis. karena itu hal-hal yang bisa bikin aku bahagia. anyway makasih ya supportnya di twitter^^ dan makasih juga udah ninggalin jejak di sini. ketemu lagi di ff yang lain🙂

  4. baca openingnya, lagunya creep!! suka galau ajah tiap denger lagu itu😦
    suka tokohnya, suka jalan ceritanya, suka penyampaian ceritanya, suka tata bahasanya, suka suasana yang dibawa sama ceritanya. Tapi ada beberapa bagian percakapannya Yoona sama Jonghyun yang bikin agak bingung, itu yang bicara Yoona atau Jonghyun karena agak kurang kalimat penjelasnya (menurutku loh ya) . Dari awal udah yakin kalau akhirnya gakan happy ending jadi cukup puas sama endingnya yang seperti kamu bikin. Good😀

  5. makasih sudah bikin ff deerburning🙂
    aku suka kok sama cetitanya, cara penulisannya juga bagus!! cuma endingnya kurang puas, kurang greget, kurang bikin sedih hehe

    tp gak masalah, ttp suka bgt sama konsep ceritanya, kebanyakan cerita pasti endingnya sama orang yg dr awal dicintainya, tp ini bagus karna lebih realistis, karna kenyataannya banyak orang yg harus melanjutkan hidup berusaha bahagia walaupun tanpa orang yg diharapkan ada disampinnya. wkk jadi curhat nih😀
    ditunggu cerita deerburning selanjutnya ^^

  6. ciecieee, yeowon muncul lagi di bulan puasa *trus?
    bagus dek.lagi2 pas baca diksi2 yg kamu pilih, ikut terenyuh, ikut masuk ke jalan cerita yg kamu buat
    tapi kalo ttg cnblue milih jln sndri2…


    aaaaaaaa! sampe tua jgn berhenti main musik dooong T_T
    hehehe #abaikansaja
    terus nulis yaaaa. ngomong2 happy fasting juga ^^

    • daripada nganggur kak mendingan nulis hehe.. tapi sekarang udah masuk sekolah, jadi bakalan jarang update lagi.

      ah.. itu becanda kok. jonghyun sampe tua bakalan tetep main gitar buat kita🙂

      thanks.. happy breakfasting (´▽`)

  7. Walau bukan shipper untuk pasangan ini, tapi saya selalu suka pilihan diksi yang Yeowon gunakan dan itu sangat berbeda dengan saya. Btw, pas Jonghyun dan Yoona pisah di hari kelulusan itu kayak salah satu adegan di sebuah novel favorit saya. Jadi keingetan lagi.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s