Beautiful Dancer

beautiful-dancer-copy

Beautiful Dancer

 

presented by

 

Quiterie

 

Main Cast : CN Blue’s Jonghyun & SNSD’s Yoona || Genre : Angst, Drama & Life || Length : Oneshot || Rating : Teen || Disclaimer : Inspired by IU’s Beautiful Dancer (2013), Nat King Cole’s Unforgettable (1951) &  DBSK’s Bolero (2009)

A special thanks to

H & J

And

Ahnmr

 

Credit poster :

 

 

“Kau juga berasal dari Korea? Senang sekali bisa bertemu kawan setanah air disini!” pupil mata gadis itu membesar bersamaan dengan mulutnya yang menganga karena kaget sekaligus merasa antusias. Dengan cepat ekspresinya berubah menjadi serius. “Tapi seingatku, hanya aku yang lolos penyaringan beasiswa skala nasional ke Juilliard yang diadakan musim semi lalu.”

Fokus pemuda yang tadinya tertuju pada seluruh mahasiswa baru yang berkumpul bersama mereka di hall untuk masa orientasi teralih ke gadis disampingnya. “Aku mendaftar secara swadana.”

Daebak!” Gadis itu berseru dengan mata berbinar kagum. “Selain sangat berbakat, kau pasti kaya sekali. Membayar biaya bersekolah disini secara penuh sangat menyulitkan bagi mereka yang berasal dari keluarga biasa saja.”

Sudut mulutnya tertarik, entah mengapa aura riang gadis itu terasa menular. Membuatnya tak tahan untuk tak tersenyum. “Tolong jangan membuatku kesusahan untuk bersikap rendah hati.”

Gadis itu mendengus, pura-pura kesal dengan candaannya. “Ah, kita belum berkenalan,” gadis itu mengulurkan tangan dengan senyum lembut. “Im Yoona. Divisi tari.”

Pemuda itu menjabat tangan gadis itu dengan erat, sedikit merasa tergelitik dengan suhu telapak gadis itu yang hangat menyenangkan. “Lee Jonghyun. Divisi musik.”

 

Jonghyun mengedarkan pandangannya ke lobi bangunan yang baru saja ia masuki. Dominasi sewarna butir-butir salju di pelatarannya ia temukan di dinding, kusen jendela, pintu, lantai, dan pakaian yang dikenakan oleh hampir seluruh orang yang ia lihat disini.

Ia menggigiti bibir bawahnya karena merasa gugup. Keinginan bulatnya untuk datang kemari agak goyah ketika kini ia telah tiba disini dan merasa kebingungan sendiri.

Tempat ini jauh dari apa yang ia bayangkan sejak kepulangannya ke Korea sebulan lalu. Sejak ia teringat gadis itu dan mengumpulkan informasi sekaligus keberanian selama berminggu-minggu untuk datang. Keadaannya sunyi. Ia pikir ia akan disambut oleh teriakan atau erangan yang melukai gendang telinga.

“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?”

Jonghyun menoleh, seorang wanita berusia lanjut yang mengenakan jas putih panjang berdiri dihadapannya. Senyum hangat tersungging di wajahnya yang penuh kerut keriput.

“Aku ingin menemui seseorang,” Jonghyun akhirnya berhasil bersuara.

“Dengan siapa?”

“Im Yoona,” Jonghyun merasakan letupan kerinduan di dasar hatinya setelah menyebut nama gadis itu.

Alis wanita tua yang tampaknya adalah seorang dokter tadi terangkat tinggi. Apakah ekspresi kaget yang barusan Jonghyun lihat terlintas di wajah wanita itu?

 

“Benar-benar menyebalkan,” Yoona bersungut-sungut sambil menusuk-nusuk brokoli di piringnya dengan kesal. “Sadie Hawkins? Aku baru mendengar jenis pesta dansa seperti ini seumur hidupku. Aku tahu tujuan Juilliard baik agar mahasiswa baru bisa saling mengenal. Tapi mewajibkan para gadis mengajak duluan anak laki-laki untuk datang berpasangan adalah ide buruk. Aku benci siapapun yang mempelopori pesta dansa jenis ini.”

“Anggap saja ini adalah bentuk apresiasi Juilliard pada kesetaraan gender,” Jonghyun terkekeh geli sambil mengiris-iris kentang rebusnya dengan tekun.

“Kita bahkan baru masuk selama dua minggu,” Yoona makin gencar menggerutu, kini sambil mengacung-acungkan garpu ditangannya, gadis itu seakan merasa tidak perlu mengecilkan volume suaranya meskipun ada banyak orang yang sedang menyantap makan siang di kafetaria. Lagipula, mereka mengobrol dengan bahasa Korea. Tidak akan ada yang paham karena dari minoritas mahasiswa Asia, hanya mereka berdua yang berasal dari Korea.

“Aku bahkan hanya akrab denganmu selama disini,” Yoona tercenung sesaat sebelum menatap Jonghyun dengan ekspresi syok. “Ya Tuhan, Lee Jonghyun, kau kan laki-laki!”

Jonghyun memutar bola mata dengan kesal. “Kau baru sadar aku adalah seorang laki-laki setelah dua minggu mengenalku? Terimakasih, Im Yoona.”

“Maukah kau datang berpasangan denganku?” Yoona mengabaikan sikap sarkastis Jonghyun dan bertanya langsung dengan ekspresi serius. “Sebagai teman setanah air.”

Jonghyun mengerutkan kening seolah menimbang-nimbang sebelum tersenyum lebar. “Sebagai teman setanah air? Kurasa bukan ide yang buruk.”

 

Ϩ

Dokter Park–wanita yang menyapa Jonghyun di lobi tadi–kini sedang berlutut didepan perapian, menata tumpukan kayu bakar kemudian berkali-kali menggesekkan puncak batang korek ke sisi pemantik untuk menyalakan api.

“Mungkin aku bisa membantu,” Jonghyun memutuskan berdiri dari kursi yang ia duduki dan mendekat, merasa tidak tega melihat wanita itu tampak kesulitan.

“Ah, tidak perlu,” tepat saat itu juga api mulai menyala, perlahan kecil kemudian makin membesar hingga menjilati langit-langit perapian. “Sudah selesai.”

Dokter Park bangkit berdiri kemudian berjalan dan duduk di balik meja kerjanya yang penuh buku-buku tebal dengan kertas menguning dan berjamur.

“Sudah lama sekali tidak ada yang datang untuk membesuk Im Yoona,” ujar Dokter Park. “Setahuku, satu-satunya keluarga yang dimilikinya sekaligus yang pernah datang menjenguk adalah neneknya yang meninggal satu setengah tahun yang lalu. Boleh aku tahu siapa dan apa hubunganmu dengan Im Yoona?”

 

 

“Jadi letakkan tanganmu disini,” Yoona meletakkan telapak tangan kanan Jonghyun dibalik bahunya dan tangan kirinya memegangi bahu Jonghyun dengan cengkraman ringan. “Tangan yang lain bergenggaman seperti ini,” Yoona meraih tangan Jonghyun kemudian menggenggamnya erat. “Sekarang mulailah bergerak secara perlahan-lahan.”

Ragu-ragu Jonghyun mulai bergerak, berusaha menirukan gerakan slow dance pasangan-pasangan lain di sekitar mereka. Melangkah ke kanan, ke kiri, lalu berputar dengan ritme yang makin lama makin teratur. Tanpa sadar masing-masing sudut bibirnya tertarik, berdansa ternyata tidak semengerikan yang ia kira.

 “Untuk orang yang baru pertama kali berdansa, kau benar-benar tidak buruk.”

“Aku juga cukup beruntung. Tidak semua pria bisa mendapatkan dansa pertama mereka dengan gadis yang cantik,” gurau Jonghyun, tangannya turun ke pinggang gadis itu ketika mereka berputar serentak dengan pasangan-pasangan lain.

Yoona tergelak. “Oke, aku akan menganggap pujianmu sebagai bayaran atas kebaikan hatiku mengajarimu berdansa.”

Hingga penghujung pesta, Jonghyun masih tidak bisa menentukan mana yang lebih menyenangkan, pengalaman berdansanya yang sangat berkesan atau mendengarkan gelak tawa gadis dalam pelukannya sepanjang malam.

 

 

“Namaku Lee Jonghyun. Kami teman satu akademi seni di Amerika, di Juilliard,” Jonghyun menjawab pelan. “Tetapi sejak memasuki tahun kedua di Juilliard, kami sudah tidak pernah berkomunikasi. Tepatnya sejak dia di pulangkan kembali ke Korea.”

Dokter Park mengangguk-angguk dengan kedua alis bertaut. “Kalian pasti sangat dekat. Tidak banyak orang Asia yang bisa menembus Juilliard.”

Jonghyun hanya tertegun saat mendengar tanggapan Dokter Park. Tentu saja mereka begitu dekat, hingga rasanya Jonghyun seperti menjadi mayat hidup selama beberapa minggu sejak kepergian gadis itu empat tahun yang lalu.

“Bisakah kau menceritakanku ketika dia dulu masih di Juilliard? Aku merasa, itu punya pengaruh besar dengan keadaannya sekarang.”

Jonghyun menghela nafas. “Dia sempat menjadi kebanggaan Juilliard. Bakatnya sangat luar biasa dan baru menjadi mahasiswi tingkat pertama saja sudah banyak klub tari kenamaan Amerika yang menawarkan keanggotaan padanya jika sudah lulus. Sebagai orang terdekatnya aku yakin  ia hanya tinggal sejengkal untuk mencapai mimpi-mimpinya sebagai penari. Aku hanya tidak pernah menduga, ketika semuanya terasa begitu dekat semua berbalik seratus delapan puluh derajat hingga seperti sekarang.”

 

Yoona tersentak ketika seseorang menghalangi pandangannya yang sedang mengamati bintang-bintang di atap Meredith Wilson Residence Hall, asrama mahasiswa bagi tahun pertama, dengan sebuah majalah tipis panjang.

Ketika Yoona berhasil menarik majalah tadi, gadis itu menoleh dan mendapati Jonghyun sudah berbaring di sampingnya sambil berpura-pura sibuk menatap langit malam.

“Coba lihat cover-nya.”

Yoona mengerutkan kening dan membalik majalah di tangannya. Matanya membulat ketika melihat fotonya sendiri terpampang sebagai cover ‘The Juilliard Journal’- majalah yang diterbitkan Juilliard  setiap bulan.

“Sebagai redaktur pelaksana, aku berhasil membujuk seluruh staff majalah untuk menjadikanmu  headline,” jelas Jonghyun sambil menoleh, menatap wajah Yoona yang kentara kaget, kepuasan terdengar dalam nada bicaranya. “Lagipula siapa lagi yang pantas selain kau? Kini kau sedang menjadi kebanggaan divisi tari dan sudah ada enam belas klub yang mengajakmu bergabung ketika lulus.  Kau menjadi satu-satunya murid tahun pertama yang berhasil menjadi headline di sepanjang sejarah The Juilliard Journal. Ini bukan tentang kedudukanku atau seberapa ampuh bujukanku, tapi ini tentang seberapa besar kami sebagai staff majalah mengapresiasimu.”

 Jonghyun mengecek arloji di tangan kirinya kemudian tersenyum lebar. “Lewat tengah malam. 25 Mei. Selamat ulang tahun Im Yoona. Aku harap kau menyukai hadiah ulang tahunmu.”

Yoona ternganga dengan raut kebingungan sebelum menegakkan tubuh dan cepat-cepat menyeka airmatanya yang hampir jatuh.

Sepanjang usianya ia hidup sebagai gadis dari keluarga pas-pasan dan jarang mendapatkan apa yang ia inginkan. Tetapi kini, ia duduk dibawah kerlap-kerlip langit malam kota New York, berada di salah satu akademi seni bergensi di dunia, menjadi kebangaan divisinya dan tinggal selangkah menuju cita-citanya. Apalagi yang bisa membuatnya lebih bahagia? Tuhan benar-benar merengkuh mimpi-mimpinya.

Hei jangan menangis,” Jonghyun membantu Yoona menyeka air matanya tanpa bisa menahan tawa. “Kau ini cengeng sekali.”

“Aku bahkan tidak memberimu apapun di ulang tahunmu beberapa hari yang lalu,” Yoona masih terisak dan mengusap airmatanya dengan punggung tangan.

“Tidak masalah,” Jonghyun mengangkat bahu. “Hanya mendengar ucapan ulang tahunmu saja aku sudah senang.”

Jonghyun terdiam beberapa saat sebelum ragu-ragu mencondongkan wajahnya dan menyentuhkan bibirnya di pipi gadis itu. “Kalau kau tidak keberatan, aku akan menganggap yang baru saja sebagai hadiah ulang tahunku.”

Setelah berhasil menguasai kekagetannya gadis itu melakukan hal yang sama, hanya sedetik dan wajahnya bersemu ketika berbisik. “Bonus.”

Mereka bertukar senyum yang dalam sekejap berubah menjadi tawa yang digemakan tong-tong besi berkarat dan kotak-kotak kayu rapuh yang disimpan di atap asrama.

Ketika akhirnya mereka turun sambil bergandengan tangan menuju masing-masing sayap Meredith Wilson Residance Hall yang memisahkan asrama perempuan dan laki-laki, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jarak antara kebahagiaan dan duka hanya setipis kulit yang membatasi tangan keduanya menyatu.

 

Dokter Park menekan tombol stop pada tape recorder-nya kemudian menatap lurus ke mata Jonghyun. “Aku harap kau tidak keberatan aku merekamnya. Bisa jadi semua ceritamu bisa membantu kami mendapatkan metode yang tepat untuk memperbaiki kondisinya.”

Jonghyun tersenyum tipis. “Aku harap ini benar-benar membantu. Aku . . . maksudku, kami semua teman-temannya sangat merindukannya.”

Dokter Park memberikan tepukan menenangkan pada punggung tangan Jonghyun di atas meja. Wanita itu menolehkan kepalanya kearah jam dinding sewarna batang maple diatas jendela.

“Sudah memasuki jam besuk. Mari kuantarkan sekarang. Aku akan menjelaskan kondisinya secara detail sambil berjalan.”

 

Jonghyun memetik senar gitarnya dengan raut cemberut. Berkali-kali pemuda itu mengecek arloji di tangannya hingga ia sendiri merasa muak.

Siang tadi Yoona berkata ia akan pergi ke pertokoan di Fifth Avenue bersama Shameeka, salah satu teman dekatnya di divisi tari, untuk membeli properti yang akan digunakan dalam pertunjukan mereka. Gadis itu juga memintanya untuk menunggu di kelas kosong di lantai dua tempat mereka biasa mengobrol berdua dan berjanji membelikan makanan Asia yang akan mereka makan bersama.

Sekarang sudah pukul tujuh lewat dan gadis itu tidak juga muncul. Padahal mereka pergi ke Fifth Avenue sejak pukul empat dengan mobil Shameeka dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk kembali ke Juilliard.

Terdengar suara pintu dibuka dan Jonghyun refleks menegakkan diri dengan senyum terpeta di wajahnya. Senyumnya meluntur ketika menyadari siapa yang datang.

“John, I’ve looked for you since an hour ago,” Marietta, salah satu teman Yoona berdiri di sisi daun pintu dengan nafas terengah-engah. Jonghyun berkali-kali berharap ia salah lihat ketika melihat kilau di mata Marietta dan ada tetesan air yang jatuh saat gadis itu melanjutkan dengan suara bergetar.  “Yoong and Shameeka got into a car accident.”

 

 

“Kecelakaan itu adalah titik dimana hidupnya mulai berantakan,” Dokter Park mulai menjelaskan ketika mereka berjalan melintasi lorong remang dan sunyi dengan langit-langit yang tinggi gelap dan pintu-pintu bewarna kelabu di setiap sisinya.

Ketika Jonghyun memperhatikan dengan seksama di setiap badan pintu ada jendela kecil dengan kait yang digunakan untuk membuka dan menutup. Membayangkan fungsinya saja membuat tengkuknya meremang.

“Tentu sulit baginya ketika semua terasa begitu dekat dan nyata kemudian dalam sehari hidupnya dijungkirbalikan begitu rupa,” wajah Dokter Park berubah muram seakan wanita lanjut usia itu pernah merasakan apa yang ia jelaskan. “Menari adalah bagian terpenting dalam hidupnya. Kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa menari lagi secara bertahap mencederai mentalnya. Dibanding dengan pasien lain disini, dia cenderung tenang. Lebih banyak diam seperti linglung meskipun terkadang berceloteh sendiri dengan bahasa patah-patah dan cukup sulit diajak berinteraksi meski dengan orang yang ia kenal maupun mengenalnya.

Juga ada saat dimana ketika petugas medis disini harus menyuntikkan obat penenang ketika ia mulai melukai dirinya sendiri dengan mencoba gerakan-gerakan tari yang rumit sambil menjerit-jerit di beberapa malam tertentu. Kuharap kau tidak akan kaget ketika menemukan banyak bekas cedera dan memar di sekujur tubuhnya. Terakhir, bulan lalu ia membuat kaki kanannya terkilir hingga ia benar-benar tidak bisa berjalan selama dua minggu.”

Jonghyun menelan ludah. Hatinya mendadak terasa ngilu ketika ia membayangkan empat tahun kehidupan Yoona yang selama ini selalu hidup dalam kenangannya sebagai gadis periang dan penuh tawa. Tidakkah Tuhan terlalu kejam hingga menghukumnya seperti ini?

“Kita sampai,” langkah keduanya serentak berhenti tepat didepan pintu besi abu-abu yang tampak mulai berkarat di ujung lorong.

“Im Yoona ada didalam.”

 

Jonghyun melintasi lorong-lorong Gracie Square Hospital yang penuh dengan petugas medis, pasien maupun pembesuk yang berlalu lalang dengan perasaan kalut.

Berulang kali pemuda itu mengucapkan ‘excuse me’ dan ‘would you please make way?’ ketika hampir menabrak, menginjak kaki, atau membuat orang tersandung dalam keterburu-buruannya.

Pemuda itu menghela nafas lega ketika menemukan Ms. Isbin, guru tari kontemporer Yoona, duduk di kursi tunggu di depan instalasi gawat darurat.

“John,” wanita awal empat puluh tahunan itu berseru lega ketika mendapati Jonghyun yang bersimbah keringat berdiri dihadapannya kemudian menggeser posisi duduknya, memberi tempat untuk Jonghyun. “duduklah disini.”

Jonghyun duduk dengan patuh, telapak tangannya naik ke dada, merasakan debar jantungnya yang gila-gilaan karena tergesa-gesa dalam perjalanan kemari.

“Apakah mereka baik-baik saja?”

Ms. Isbin menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. “Mereka menderita banyak luka-luka. Terutama yang berada dibalik kemudi saat itu.”

Ia tahu ia benar-benar jahat saat berdoa dalam hati bahwa Shameeka-lah yang mengemudi. Lagipula, bukankah mereka menggunakan mobil gadis tersebut?

“Keadaan Yoong benar-benar parah.”

Jantung Jonghyun mencelos ketika mendengar nama gadis itu disebut. Ia berusaha menenangkan hatinya, Yoona masih hidup dan meskipun lukanya parah gadis itu pasti akan pulih sedia kala kan?

Airmata Ms. Isbin mulai berjatuhan dan perasaan takut yang sama ketika melihat Marietta tadi kembali menyekap Jonghyun. “Aku khawatir ia tidak akan bisa memulai tahun ajaran baru di Juilliard musim gugur nanti. Kakinya . . . Ia tidak akan pernah bisa menari lagi seperti dulu.”

 

Rambut gadis itu masih panjang meskipun kentara dipotong dengan tidak rapi, pipinya kini tirus dan cekung, matanya yang dulu selalu berbinar meredup, dan Jonghyun merasakan sentakan menyakitkan saat matanya turun ke kaki gadis itu. Kaki kirinya cacat, seakan terpuntir kearah yang menyakitkan dan susunan tulangnya dari betis hingga telapak kaki terlihat janggal.

Jonghyun bergantian menatap Yoona –yang terus-terusan memfokuskan perhatiannya ke lemari kayu dihadapannya seolah-olah tidak menyadari kedatangan dua orang ke kamarnya –dan dokter Park yang berdiri di samping Jonghyun di ambang pintu.

“Kau bisa menemuinya sekarang dan aku berpesan satu hal, jangan membuatnya panik. Aku yakin kau tak mau melihat dengan mata kepalamu sendiri proses penyuntikan obat penenang,” Dokter Park menepuk sisi lengan Jonghyun kemudian berjalan keluar dan menutup pintu dibelakangnya.

Jonghyun menelan ludah dalam-dalam, sesaat kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya, tetapi pada akhirnya ia beringsut mendekat dengan langkah pelan dan berusaha tidak melakukan hal-hal yang bisa mengejutkan gadis itu.

“Halo.”

Ia mengucapkan sapaan dengan canggung. Kata pertama yang membuka pertemuan mereka setelah bertahun-tahun. Menyedihkan mengingat dalam bayangannya mereka akan bertemu dalam kondisi yang lebih baik. Bukan di salah satu bangsal rumah sakit jiwa di pinggiran kota Seoul dengan satu pihak kehilangan kewarasan dan mungkin juga ingatannya  dan pihak lain memendam kerinduan sekaligus perasaan sakit secara sepihak.

Yoona yang sedari tadi meremas-remas ujung piyama lusuh yang dikenakannya mendongak. Balas menatap Jonghyun dengan alis bertaut.

“Senang bisa punya kesempatan bertemu denganmu lagi,” Jonghyun memasang senyuman terbaiknya sambil berlutut di depan Yoona, menyejajarkan tinggi mereka.

Yoona menelusuri wajah Jonghyun dengan tatapan penuh selidik seolah-olah pemuda di hadapannya adalah hal paling ganjil yang pernah ia lihat.

“Kau tidak mengenaliku? Perkenalkan, namaku Lee Jonghyun,” ia mengulurkan tangan kearah Yoona, meminta jabat tangan. “Karena aku kuliah di luar negeri, banyak teman dan guruku yang memanggilku John. Apakah nama itu terdengar familiar untukmu?”

Yoona masih diam, kini tangannya mengamati telapak tangan dan jari-jari panjang yang terulur di hadapannya dan dengan takut-takut menjabatnya singkat lalu menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik punggung dengan ekspresi seperti gadis kecil yang baru saja tertangkap basah melakukan larangan ibunya.

“Bagaimana kabarmu?”

Selama hampir semenit tidak ada respon apa-apa. Hanya dua orang yang saling bertatapan diselingi dengkur halus dari pemanas ruangan di sudut kamar.

“Kabarku baik,” Jonghyun akhirnya memutuskan menjawab pertanyaannya sendiri masih sambil tersenyum meski sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresi kecewanya. “Tahun lalu aku lulus dari Juilliard. Tepat waktu dan sudah mendapatkan pekerjaan tetap di Amerika. Apa kau ingin tahu kabar dari teman-teman kita?”

Yoona masih diam saja dan akhirnya Jonghyun memutuskan menarik resleting ransel yang ia bawa kemudian mengeluarkan album berukuran sedang dengan sampul hijau zamrud dari dalamnya dan meletakannya dipangkuan Yoona.

“Ini adalah gedung Juilliard, tidak ada banyak perubahan sejak empat tahun lalu,” telunjuk Jonghyun menunjuk potret landscape Juilliard yang ia ambil sebelum bertolak ke Korea. “Ini adalah sampul The Juilliard Journal empat tahun yang lalu, sampul favoritku sepanjang masa. Kau pasti mengenali siapa orang di sampul ini bukan?” Jonghyun menunjuk sampul yang ia rekatkan ke album, sampul itu menunjukkan seorang gadis sedang melakukan gerakan pirouette di tengan-tengah cahaya temaram panggung. “Yang ini foto kelulusan divisi tari tahun lalu. Kau bisa lihat, ada Shameeka disana, juga Ms. Isbin. Kau tahu Yoong? Urutan tempat duduk di upacara kelulusan selalu berdasarkan peringkat, teman-temanmu mengosongkan kursi peringkat satu untuk menghormatimu, mereka yakin jika kau masih disana kau pasti yang akan duduk di kursi itu,” Jonghyun kemudian membalik halaman yang menampilkan foto kelulusan tadi. “Nah, Ini adalah foto kita berdua di Alice Tully setelah pertunjukan akustik divisi musik. Apa kau ingat saat itu kau kesal sekali karena teman-temanku menggoda kita habis-habisan saat akan mengambil foto ini? Makanya kau berpose seperti ini,” jari Jonghyun menunjuk wajah Yoona yang menampilkan ekspresi cemberut dengan pipi menggembung.

Yoona bergantian menatap wajahnya di foto tadi dengan pantulannya di kaca buram yang ada pada lemari pakaian di belakang punggung Jonghyun, seakan-akan memastikan wajah yang ia lihat di foto adalah wajahnya sendiri.

“Wajahmu masih sama cantiknya seperti dulu,” Jonghyun berkata tanpa bisa menahan senyum gelinya. Yoona langsung mengalihkan tatapannya dari refleksi dirinya di kaca ke mata Jonghyun dengan mata menyipit.

“Bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang mengasyikkan?” Jonghyun mendadak mendapat ide kemudian mengeluarkan iphone miliknya dari saku celana. Ia langsung tersenyum ketika membuka music library nya dan menemukan salah satu lagu lawas favorit Yoona. Pemuda itu menekan play dan intro ‘Unforgettable’ yang dipopulerkan oleh Nat King Cole mengalun lembut mengisi ruangan empat kali empat meter itu.

“Ayo berdansa,” Jonghyun menarik tangan Yoona yang langsung terkesiap dan dengan hati-hati membimbing langkah pincang gadis itu. Jonghyun memegangi kedua sisi pinggang Yoona kemudian mengangkatnya sedikit dan memosisikan kedua telapak kaki Yoona diatas sepatunya. Satu tangannya berposisi di bahu Yoona sementara tangan yang lain bertaut dengan telapak tangan Yoona yang basah karena keringat. Perlahan, ia mulai bergerak dengan sedikit canggung.

That’s why Darling, it’s incredible that someone so unforgettable. Thinks that I am unforgettable, too.

“Dulu sekali. Ketika pesta dansa Sadie Hawkins, seseorang mengajariku berdansa dengan diiringi lagu ini,” ujar Jonghyun sambil memutar Yoona yang mencengkeram kedua bahunya dengan kuat. “Kau tahu, mungkin karena dulu aku melakukan dansa pertamaku diiringi lagu ini, aku jadi tidak pernah bisa melupakan gadis yang mengajariku saat itu.”

Yoona hanya diam saja dengan mata yang berfokus pada kancing kemeja Jonghyun seolah gadis itu menghindari bertatap muka dengan Jonghyun.

Ketika lagu tepat berakhir, Jonghyun melepaskan genggaman tangan mereka. Tangannya meraih Yoona ke dalam pelukannya. Gadis itu terasa tegang dan Jonghyun mengeratkan kaitan tangannya hingga gadis itu terangkat dan terayun-ayun dalam pelukannya.

“Aku merindukanmu,” desisnya. Telapak tangannya yang teruntai di punggung Yoona melonggar dan pemuda itu melepaskan pelukannya. Ia mendadak teringat perkataan Dokter Park sebelum meninggalkannya tadi, ia tidak boleh membuat Yoona ketakutan. Dan Jonghyun sedikit menyesal telah mengajak gadis itu berdansa dan bahkan memeluknya. Yoona kini tampak gemetaran.

“Aku akan berada di Korea hingga liburan natal dan musim dingin berakhir, yang berarti tinggal beberapa hari lagi,” Jonghyun menuntun Yoona kembali ke tempat tidurnya. Gadis itu masih gemetaran dan mulai beringsut meraih selimutnya ke dalam pelukan. Rasa bersalah makin mencabik hati Jonghyun. “Dan ngomong-ngomong soal Natal, aku memiliki hadiah untukmu,” Jonghyun kembali meraih tasnya dan mengeluarkan kotak bewarna merah lalu membuka tutupnya. Pemuda itu meletakkan benda yang baru saja ia raih dari dalam kotak tadi, sebuah sepatu bersol datar bewarna broken white lalu meletakannya didekat kaki ranjang.

“Ini bukan point shoes yang kau idam-idamkan dan pernah kau ceritakan dulu sekali padaku, tetapi ketika melihat sepatu ini di etalase Bloomingdale’s aku langsung teringat padamu,” Jonghyun menyimpul senyum samar. “Aku tahu kau mungkin tak bisa mencerna apa yang akan kukatakan, tapi aku benar-benar bisa berharap melihatmu seperti dulu. Yoona yang penuh senyum dan selalu bersemangat. Ketika satu pintu tertutup akan ada pintu lain yang terbuka untukmu. Jika menari bukan jalannya, kau bisa mengejar mimpi-mimpimu yang lain . . . bersamaku jika kau mau.”

Jonghyun menyentuhkan ujung kelima jarinya ke puncak kepala Yoona dan menggerakannya perlahan, membuat gadis itu mendongak dengan pupil mata melebar.

“Aku pulang dulu.”

Bersama dengan seulas senyum, Jonghyun berjalan memutar dan meraih kenop pintu.

Mungkin . . .

Dia harus mulai belajar untuk melupakan.

 

 

“Kenapa tidak memberitahuku tentang keberangkatannya?” Jonghyun mengerang frustasi. Langkah-langkah lebarnya membelah petak-petak lantai bandara John F. Kennedy. Sesekali tangannya naik ke kepala, mengacak-acak rambut untuk menyalurkan rasa frustasinya.

“Yoong tidak ingin orang lain tahu tentang ini,” Shameeka susah payah menyamakan langkahnya dengan milik Jonghyun. “Hormatilah perasaannya John, dia sedang benar-benar terguncang.”

Jonghyun menghentikan langkah kakinya dan menoleh dengan tatapan tajam kearah Shameeka. “Bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana jika kami tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini? Bagaimana jika aku akan menyesal seumur hidup kalau akhirnya seperti ini?”

Dan sebelum memberi kesempatan kepada Shameeka untuk menjawab, Jonghyun berjalan dengan tergesa-gesa kearah counter penjualan tiket.

“John! Jangan bilang kau ingin pulang ke Korea juga!” Shameeka berseru kaget ketika melihat pemuda itu merogoh saku jeans-nya dan mengeluarkan dompet.

“Ini satu-satunya cara untuk masuk ke pintu keberangkatan dan bicara dengan Yoong,” desis Jonghyun tidak sabar, pemuda itu kemudian mengangsurkan kartu American Express bewarna hitam mengilat kearah petugas wanita yang berdiri dibelakang counter.

“Dua tiket untuk pesawat tujuan Seoul, Korea Selatan, keberangkatan paling cepat yang bisa aku dapatkan,” ujar Jonghyun mantap.

“Tunggu sebentar,” petugas tadi mengalihkan tatapan matanya kearah layar komputer dan menekan beberapa tombol pada keyboard.

Maaf, Tuan, pesawat tujuan Seoul baru saja berangkat dan keberangkatan selanjutnya dijadwalkan besok dini hari. Apa anda masih ingin membeli tiket?”

Shameeka hanya terperangah ketika Jonghyun menarik kartunya dan berjalan berbalik tanpa menjawab pertanyaan si petugas.

Ia benar-benar tidak salah lihat ketika mendapati airmata mulai berjatuhan di rahang Jonghyun dan pemuda itu berjalan pergi dengan langkah terseret dan bahu yang samar bergetar.

Shameeka sempat mengira ia akan jadi orang yang paling menderita ketika Yoona pergi. Ia kehilangan teman sebangku pada kelas teori, Ia kehilangan rekan berlatih, Ia kehilangan teman sekamar dan semuanya pasti tak akan sama sejak kepergian gadis itu.

Tapi ia melewatkan Jonghyun.

Jonghyun yang selalu menjadi objek utama cerita-cerita Yoona, Jonghyun yang meski pendiam tapi tak pernah bisa menyembunyikan perasaannya pada temannya itu, dan . . .

Jonghyun yang harus kehilangan tanpa ucapan perpisahan.

 

Jonghyun mengeratkan mantel perjalanannya ketika melangkahi pelataran rumah sakit. Salju sudah berhenti turun sejak kedatangannya beberapa jam lalu, tapi angin musim dingin yang terus berhembus masih merambati tiap inchi kulitnya yang terbuka dan membuatnya sedikit menggigil.

Jonghyun berusaha menahan keinginannya untuk menoleh dan menatap rumah sakit dibelakangnya meski hatinya terus-terusan terusik oleh berbagai godaan.

Sebenarnya ia hanya ingin menyelamatkan perasaannya dari rasa sakit.

Sakit karena kerinduannya pada seorang pasien yang kini mungkin sedang meringkuk di salah satu kamar di rumah sakit itu.

Sakit karena ekspetasi tingginya akan dirinya dan Yoona yang pada kenyataannya melenceng begitu jauh.

Sakit karena ia mungkin sudah tidak punya harapan atau kesempatan untuk menghidupkan jutaan fantasi-fantasinya bersama gadis itu.

Belajarlah melupakan, Lee Jonghyun.

Airmatanya mulai jatuh satu demi satu, ia menangis untuk alasan yang sama dengan ketika ia menangis terakhir kali.

Empat tahun yang lalu.

Isakannya terhenti sesaat ketika ia mendengar teriakan dan kegaduhan dari belakang kepalanya, mungkin ada salah seorang pasien yang sedang kolaps atau mengamuk, pertanda bahwa ia harus segera pulang karena ia benar-benar tidak tega menyaksikan pemandangan seperti itu.

“Jangan pergi! Jangan pergi!”

Kegaduhan mulai terdengar parah ketika terdengar suara lengking tangisan. Sepertinya ada pasien yang tidak ingin ditinggalkan oleh penjenguknya.

Kasihan.

Jonghyun memutuskan untuk melanggar janji kecilnya pada diri sendiri dan memutuskan menoleh demi membayar rasa penasarannya akan kejadian dibelakangnya.

Ia benar-benar menyesal karena tidak menyiapkan keselamatan jantungnya ketika sesosok gadis menubruk punggungnya sebelum ia sempat menoleh dan membuatnya hampir terjungkal ke tanah.

“Tidak boleh pergi,” raung Yoona yang kini memegangi kedua sisi mantelnya, mencegahnya untuk pergi kemana-mana. “Tidak boleh pergi, tidak boleh pergi, tidak boleh pergi.”

Jonghyun terperangah tanpa bisa mengucapkan apapun. Baru beberapa menit yang lalu Yoona terlihat begitu ketakutan padanya dan kini gadis itu jatuh berlutut dan memeluk punggungnya erat-erat.

Perlahan ia berbalik, membuat untaian tangan Yoona terlepas dari punggungnya dan kini gadis itu menangis terisak-isak diatas hamparan salju, seakan butir-butir salju dibawahnya tidak membuatnya yang hanya mengenakan piyama rumah sakit dan bertelanjang kaki   membeku kedinginan

Matanya bergantian menatap puncak kepala Yoona yang masih terisak dengan bahu berguncang-guncang lalu kearah beberapa perawat dan Dokter Park yang berdiri diundakan rumah sakit dengan ekspresi terkejut yang identik dengannya.

Dokter Park seakan mengatakan sesuatu ketika membalas tatapan Jonghyun dengan seulas senyuman dan sebuah anggukan.

Kesempatan.

“Hei jangan menangis,” Jonghyun susah payah menahan tawa sumbangnya, airmatanya ikut jatuh ketika tangannya terulur ke pipi gadis dihadapannya dan membantu menyekakan air mata Yoona yang terus-terusan terisak. “Kau ini cengeng sekali.”

Jonghyun kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo masuk. Kau bisa sakit jika terus-terusan diluar dengan keadaan seperti saat ini.”

Ada letupan hangat dihatinya ketika Jonghyun merasakan telapak tangan kurus milik Yoona meraih miliknya hingga jari-jari mereka teruntai satu sama lain.

Genggaman tangan mereka tidak seperti jabat tangan pertama mereka hari ini yang terkesan takut-takut dan penuh kecurigaan, yang ini seperti genggaman tangan mereka dihari-hari terakhir Yoona di Juilliard, ketika untuk pertama kalinya mereka menunjukkan perasaan satu sama lain di atap asrama pada ulang tahun gadis itu dan bergandengan tangan setelahnya ketika turun menuju sayap asrama masing-masing.

Erat dan seakan menjamin segalanya akan berjalan baik-baik saja.

Yoona menolak melepaskan genggaman tangan mereka saat Jonghyun ingin melepaskan mantel yang ia kenakan untuk digunakan gadis itu.

“Tidak boleh pergi, tidak boleh pergi,” gadis itu menggeleng-geleng kuat dan mengeratkan cengkeraman tangannya pada Jonghyun, kini menggenggam tangan Jonghyun dengan kedua telapak tangannya.

Pada akhirnya mereka berjalan menyusuri pelataran rumah sakit dan kembali ke lobi, dibawah tatapan para perawat yang seakan masih sulit percaya dengan apa yang mereka lihat dan Dokter Park yang dengan beberapa bujukan membuat Yoona mau melepaskan tangannya dari Jonghyun agar bisa kembali ke kamarnya.

“Aku akan kembali datang besok,” Jonghyun melambaikan tangan dengan senyum selebar mungkin pada Yoona yang berjalan dengan resah diantara Dokter Park dan perawat-perawat lainnya.

Gadis itu hanya diam saja tanpa mengubah air muka tak terbacanya, tetapi cara Yoona menatap Jonghyun tanpa melepaskan tatapannya hingga ia menghilang dibalik pintu kamarnya menyiratkan bahwa ia mengerti apa yang dikatakan Jonghyun dan akan menunggu.

Akan ada belasan janji yang harus diundur. Akan ada banyak rencana yang harus diubah. Akan ada jadwal penerbangan yang harus dibatalkan. Akan ada surat cuti sementara yang harus dikirim. Akan ada ribuan alasan dan permohonan maklum untuk keputusan yang ia ambil tepat saat itu juga.

Bersama harapannya yang mulai terentang ada satu janji yang berhasil ditepati.

 

“Apa yang kau lakukan seandainya kau tak bisa menari lagi?”

Yoona mengerucutkan bibirnya, jari-jari tangannya yang tadi memeluk tubuh cangkir oranye kesayangannya untuk menghalau udara dingin kini mengetuk-ngetuk permukaan meja. Tampaknya ia berpikir keras untuk pertanyaan yang dilontarkan Jonghyun.

“Mungkin aku bisa mati,” Yoona kemudian terkekeh untuk jawabannya sendiri sementara mata bulatnya sibuk mengamati butir-butir salju yang berjatuhan dari dahan pohon Ek tak jauh dari jendela kelas kosong tempat mereka berada.

Jonghyun melemparkan gumpalan kertas tak jauh darinya kearah Yoona. “Dasar berlebihan.”

“Aku serius,” Yoona memasang tampang memberengut sambil melayangkan tatapan sengit kearah Jonghyun. “Lagipula aku tidak cantik, tidak pintar, berasal dari keluarga biasa saja, dan tidak punya kelebihan lain. Kalau bukan menari, aku bisa bertahan hidup dengan cara apa coba?”

Jonghyun menelengkan kepala seolah-olah membantu cari solusi. “Nikahi saja seorang pria kaya raya dengan warisan tujuh turunan, hidupmu akan terjamin dan kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau.”

“Ide bagus,” Yoona menjentikkan jarinya. “Hei, hei, bukankah ayahmu pemilik perusahaan otomotif di Korea? Kau mau tidak jadi calon pertama jika aku mendadak kehilangan kemampuan menariku?”

Mata Jonghyun menyipit kearah Yoona yang sedang menertawai leluconnya sendiri. “Bagaimana ya? Aku tidak terlalu suka tipikal wanita kerempeng sepertimu.”

“Ya!”

Pada akhirnya Jonghyun menyunggingkan senyum. “Aku sudah selalu ada untukmu selama ini. Melakukan peran yang sama untuk waktu tak terbatas di masa depan nanti bukan hal yang sulit untukku. Tenang saja.”

“Bagus kalau begitu,” Yoona ikut tersenyum. “Jadi Lee Jonghyun,” gadis itu berdeham sesaat sebelum meraih pulpen diatas meja kemudian mengetukkannya ke puncak kepala Jonghyun, seperti ibu peri ketika akan menyihir labu milik Cinderella menjadi kereta kuda. “Kau ditugaskan untuk selalu menjaga Im Yoona, mendukungnya dikala susah, dan membantunya melalui masa-masa berat kelak. Apa kau sanggup?”

“Oke.”

Yoona kemudian mengaitkan kelingkingnya secara paksa ke kelingking Jonghyun lalu mengayun-ayunkan untaian tangan mereka. “Jangan sampai ingkar,” ancam gadis itu dengan raut galak yang lucu. “Berani mengingkari janjimu, aku akan menggigit kelingkingmu sampai putus.”

Keduanya kemudian terbahak-bahak bersama. Tanpa pernah menyadari bahwa janji kecil dan main-main mereka juga akan ikut andil dalam garis takdir mereka di masa yang akan datang.

 

end

 

 

 

35 thoughts on “Beautiful Dancer

  1. akuuuu udh baca d blog sebelah dan itu buat aku berdecak ini ceritaaaaa keren pake bgt. banyak kata2 yg diluar ekspetasi *bahasanya* kebanyakan author ff yg pernah aku baca. pasti author sering baca buku nih orangnya. aaaaaaa

    dan kembali baca dr awal kenapa makin pengen ff ini ada part lanjutannya. pengen bgt liat jonghyun menuhin janji itu. aaaaaa. *terharu*

    banyak kata yg bagus. salahsatunya yg soal mimpi itu kalo pintu satu tertutup masih banyak pintu lain ini kata motivasi bgt!! author jjang!

    makin suka ma jongyoon couple kan haha. *delusimeningkat*

    kereeeen pokoknya ditunggu karya jongyoon lainnya.🙂

    • halo! terimakasih. aku memang kutu buku meskipun sekarang jarang baca novel karena kesibukan sma. hehe.
      well, soal janji, kebanyakan pembaca menyimpulkan bahwa Jonghyun secara halus melamar Yoona, padahal ini lebih ke janji antar sahabat yang akan selalu ada untuk satu sama lain (yah, meskipun mereka saling suka), terlebih janji ini dibuat sebelum mereka terus terang ttg perasaan mereka (latarnya musim dingin *desember-januari*, sementara mereka saling memperlihatkan perasaan di malam ulang tahun Yoona yaitu bulan mei).
      oke kurasa segini dulu penjelasanku. sekali lagi terimakasih🙂

  2. halo! terimakasih. aku memang kutu buku meskipun sekarang jarang baca novel karena kesibukan sma. hehe.
    well, soal janji, kebanyakan pembaca menyimpulkan bahwa Jonghyun secara halus melamar Yoona, padahal ini lebih ke janji antar sahabat yang akan selalu ada untuk satu sama lain (yah, meskipun mereka saling suka), terlebih janji ini dibuat sebelum mereka terus terang ttg perasaan mereka (latarnya musim dingin *desember-januari*, sementara mereka saling memperlihatkan perasaan di malam ulang tahun Yoona yaitu bulan mei).
    oke kurasa segini dulu penjelasanku. sekali lagi terimakasih🙂

  3. aaah bagus banget,thor
    aku nangkepnya ini juga lebih berat di mslh persahabatan kok,bkn lamaran.hehe
    dapet banget feel kesetiaan yang ada di para tokoh cerita ini.
    eh tapi thor, ultahnya Yoona tu bukannya tgl 30 mei ya? *just asking
    sekali lagi, cerita yg bagus ^^

  4. waaaa ini bagus banget loh ceritanyaaa seriusss, tp sayang kalo endingnya sampe situ doang, aku kira ini mau dibikin chapterd😦😦
    suka banget sama penyampaian ceritanya, bahasanya bagus😀 terus juga sweett banget…
    berharap banget nih ada kelanjutan cerita ini, cerita ketika mereka berhasil menjaga janji satu sama lain :’)

  5. hiahh thor keren bgt aku mpe mau nangis bacanya.. ko end sih aishh pngin squel… ditunggu ff jongyoon lainnya..aku suka nih couple

  6. untuk pertama kalinya aku nangis baca FF, KEREN BANGET! *Sengaja pake capslock* Suka, semuanya, dan ada Nat king cole juga, kenalan dong author *puppy eyes*

  7. Sekali lagi mau bilang kalo saya bukan JongYoon shipper, dan terkadang suka gak suka kalo mereka dipasangin. Tapi untuk cerita yang ini, saya suka banget sama couple main cast nya dan buat saya ini adalah fanfic terbaik dari semua cerita Yoona-Jonghyun yang selama ini saya baca. Good Job author😀

  8. Aaaa..
    Author-nim..
    Nyesek Amattt Ceritax..
    Tpi untnglah Brakhir Bahagia..
    Pengen Sekuelx Dong..

    #klo Ngak ada Ngak apa” sih

  9. Ini bagus banget dari segi cerita, bahasa, point of view. Sampe kebawa suasana bacanya, terharu banget. Endingnya cukup bagus kok, sweet banget.
    Bikin sequelnya dong ya🙂

  10. viraaaa, i love this one!! bagusss banget. aku kira tadi yoona kena alzheimer atau apa, ternyata dia depresi gitu ya.. trus dialognya juga bagus. aaaa, why you said that my fic is better? punyamu lebih bagus tau. serius aku ga bohong loh. yukk kenalan di twitter. minta uname kamu ya🙂

  11. Wah cerita yg mengharu biru sekali. Misal dibikin sequel mau g thor jd biar ending nya bisa ketauan si yoona sembuh total g dari “kegilaannya”

  12. Hei,quiteries. membaca fanfictmu yang bercerita tentang Julliard aku jadi ingat salah satu novel favoritku. jujur, aku kagum dengan tulisanmu. diksinya dapet, alurnya bagus, settingnya juga. risetmu kudu diacungi jempol. Ah ya, aku penikmat FF pasangan ini, jadi aku sangat sangat menikmati ceritanya. Sedikit typo, cuma satu kata, tapi nggak masalah. Last, keep writing! ^^

  13. Huhuhu bagus bgt ceritanya :’)
    Emg bener thor batasan antara kebahagiaan dan kesedihan itu sangat tipis..🙂

    Bahasanya tersusun rapi, dan ceritanya mengandung makna yg bisa buat pembelajaran pembaca *buat aku sih* hehe
    KEREN , DAEBAK, COOL, EMEJING, dll😀 author jjang!!

  14. huaab aku terhura eh terharu sungguh…cerita ny menyentuh bnget…gila dari tadi baca ff JongYoon bikin nangis mulu,…
    2 jempol buat Author..dari keseluruhan cerita ny semua aku suka…jalan cerita ny,pemakaian kata2 ny..semua aku suka..
    Dan ternyata Author yg di Read fanfiction yah..aku pernah minta PW dulu yg judul ny ‘Goodbye Summer’, it ff keren bnget.
    Good job lah buat Author…keep writing and fighting Chingu..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s