She’s Come Back [Part 5]

She's comeback downloaded

She’s Come Back [Part 5]

Author                  : Mona

Genre                   : Mystery, AU, angst, sad

Rating                   : P-17

Length                  : Chaptered

Cast                       :

–          Kang Minhyuk

–          Park Haeri (OCs)

–          Park Ririn (OCs)

Other cats           :

–          Park Yoochun

–          Lee jung Shin

–          Kim Jaejoong

Disclaimer           : Nama author sudah terisi, lihat di atas😀

Note                      : Annyeong.. saya kembali lagi🙂 baiklah langsung aja ya.. happy reading reader.. ^^

***

Prolog ,Part 1 , Part 2 , Part 3, Part 4

***

Review last part

Ririn pun menggeser pintu kamar 3240 itu. Berjalan menuju ranjang putih. Dimana seorang wanita tengah duduk manis diatasnya. Mata wanita itu sibuk menelaah tiap kata dari buku yang dipegangnya. Dan beberapa kali ia memperbaiki letak kacamatanya. Dia masih belum menyadari kehadiran seseorang di pintu masuk kamarnya. Sementara Rin hanya dapat tersenyum, dan berusaha menahan air mata yang mulai memaksa keluar dari matanya.

5 menit. Itulah waktu yang dibutuhkan wanita itu untuk menyadari kehadiran Ririn.

“Hei! Kemarilah!,” kata wanita itu sambil memanggil Ririn.

“Ne, Hyeri-ah,” kata Rin sambil berlari kecil, lalu memeluk Hyeri.

“Sudah berapa tahun kita tak bertemu?,” tanya Rinsambil melepas kacamatanya.

“Hum? Berapalama?,” tanya Rin sambil berpikir.

“Ya. Sejak terakhir aku melihat mu,” kata Hyeri sambil tersenyum.

“Ah… Aku lupa,” kata Rin sambil memegang kepalanya.

Percakapan mereka terus berlanjut, sampai hari menjelang sore. Terkadang, terdengar gelak tawa dari keduanya, dan sebuah pelukan akan kerinduan antar keduanya.

***

Seorang wanita  tengah berdiri, diam terkaku. Otaknya kosong. Tak ada satupun kata yang bisa dipikirkannya.

“K…Kau?!,” tanya Rin pada pria yang ada didepannya.

Pria yang hanya beberapa centimeter lebih tinggi darinya. Dengan tuxedo hitam yang menutupi kemeja putihnya.

“Ya nona Rin, aku ada di sini,” jawab pria itu sambil tersenyum.

Pria itu bejalan mendekat ke arah Rin. Lalu merangkul pundak Rin dengan hangatnya.

“Jangan panggil aku seperti itu oppa, bagaimana kau bisa ke sini?,” tanya Rin bingung.

Pria itu mengambil sesuatu dari saku celananya. Gantunggan kunci. Seperti kunci sebuah mobil.

“Kau benar-benar detektif sejati,” ujar Rin sambil cemberut.

Ya. Park Yoochun. Ia adalah kakak lelaki di keluarganya, atau lebih tepat di keluarga Park. Bahkan dia adalah satu-satunya saudara yang sangat menyayangi Rin dari saudara lainnya.

“Bagaimana kabar mu?,” tanya Yoochun sambil menatap intens Rin.

“Lebih baik dari pada di zaman kita,” ujar Rin sambil menatap mata Yoochun.

Yoochun hanya tersenyum, dia tak mampu menjawab perkataan Rin atau mengatakan kehidupan di zaman mereka dulu lebih baik dari pada di zaman ini. Di zaman mereka, Rin terlalu dewasa, tak sesuai dengan umurnya. Bekerja, bekerja dan bekerja. Hanya kata itu yang ada di kamusnya. Mencari uang dan menggurus perkantoran saat berumur 19 tahun. Tentu sangat tidak adil, remaja diusianya hanya akan pergi berkencan, bersenang-senang ke klub malam bersama teman-temannya. Tapi, inilah hidupnya. Di usia lima tahun, ia telah terpisah dari orang tuanya, mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Menjadi pencopet, pengantar koran, pengantar surat, pelayan toko ataupun restoran telah dialami Rin. Di umur 17 tahun, ia diangkat oleh sebuah keluarga, dan Rin harus bersekolah diberbagai negara untuk menuntut ilmu. Tepatnya illmu untuk mengurus perkantoran.  Satu tahun telah berlalu, tinggal bersama keluarga angkatnya cukup menyenangkan. Namun, keluarga Park kembali menemukan anknya. Park Ririn. Dengan beberapa permohonan, keluarga Park meminta agar anaknya dikembalikan. Walaupun dengan berat hati, keluarga angkat Rin mengembalikan Rin kepada orang tua kandungnya.

Keluarga yang nyaman dan hangat, itulah yang diharapkan setiap orang, tapi semua itu tak terjadi pada Rin. Saudara yang membencinya, itulah yang ia dapatkan saat kembali pada keluarganya. Bahkan, beberapa kali saudara perempuannya mencoba meracuninya. Dan Rin hanya dapat mencegah hal itu terjadi dengan caranya sendiri. Dua bulan berlalu, seorang pria datang pada keluarga Park. Park Yoochun, itulah namanya. Pria yang lebih tua dari Rin, dan menyebabkan Rin terpisah dari keluarganya.Tak ada tatapan kebencian dari mata pria itu. Yang ada hanyalah tatapan bersalah, karenanya Ririn menghilang.

Namun, tak semudah itu keluarga angkat Ririn melepaskan putri angkatnya itu. Keinginan untuk menjadikan Rin sebagai anak mereka tetap ada. Dan mereka tak kehabisan akal untuk itu. Menjodohkannya dengan putra pertama mereka Kim Jaejoong. Itulah keinginan mereka. Dan Rin menolak semua itu, dia telah menganggap Jaejoong sebagai kakaknya, walaupun Jaejoong mempunyai rasa padanya.

Mr.Kim. Asisten yang dimiliki Rin sejak ia diangkat menjadi anak sebuah keluarga. Seorang profesor yang mengabdikan dirinya pada keluarga angka Rin, dan memilih untuk tetap mengikutinya sampai saat ini. Menganggap Rin sebagai anaknya, itulah pikiran Mr.Kim pada Ririn. Melihat Ririn yang sangat kesal pada perjodohan, Mr.Kim membuat sebuah mesin waktu. Satu buah sebagai percobaan, dan dua buah untuk pergi ke masa yang Rin inginkan.

Dan masa inilah yang ia inginkan, bertemu dengan seorang wanita yang sangat menderita dalam hidupnya. Hidup sebagai kembarannya yang telah menghilang dan dinyatakan meninggal saat usia anak itu 6 tahun. Dan dengan mudahnya keluarga Park menerima Rin karena surat-surat yang telah disiapkan Mr.Kim.

“Baiklah, kapan kau kembali?,” tanya Yoochun pada adiknya.

“Entahlah, aku tak tahu,” ujar Rin sambil mengencangkan mantel yang dikenakannya.

“Aish.. Cepatlah kembali, aku tak bisa mengurus perusahaan sendirian,” ucap Yoochun sambil mengacak-acak rambutnya prustasi.

Sedangkan Rin hanya menertawai tingkah Yoochun yang seperti anak kecil.

***

“Kang Minhyuk!,” panggil seorang pria di depan sebuah ruangan.

Tak ada satupun jawaban yang terdengar dari salah satu orang di sana.

“Kang Minhyuk!,” panggil pria itu sekali lagi.

Dan sekali lagi pula jawaban tak terdengar

“Kemana lagi anak itu?,” tanya pria itu kesal.

Disebuah lapangan hijau, seorang pria tengah berbaring. Beralaskan rumput hijau yang masih berembun, dan membuat punggung bajunya basah. Tapi ia tak peduli. Menikmati hembusan semilir angin yang menerpa kulitnya. Gemerisik daun pohon yang saling bergesekan satu sama lain, membuat sebuah bunyi yang sangat enak untuk didengar. Dan ia suka itu.

Di kejauhan, seorang pria jangkung tengah berjalan, tangannya membawa dua buah kaleng minuman soda yang terlihat nikmat untuk dinikmati siang itu. Buliran air yang ada di sekeliling kaleng itu, menimbullkan kesan tersendiri bagi tiap orang untuk meminumnya. Sesampainya pria jangkung itu di tempat pria yang tengah terbaring, pria jangkung itu menempelkan kaleng soda di pipi putih pria itu. Dingin. Itulah yang dirasakan pria itu, dan membuatnya terbangung.

“Sampai kapan kau seperti ini, Minhyuk,” tanya pria jangkung itu sambil membuka kaleng sodanya.

“Entahlah, mungkin selamanya,” ujar Minhyuk pada pria jangkung yang tengah menatapnya dalam saat ini.

“Ayolah, kita sudah terlalu banyak mengalah,” jawab pria jangkung itu kesal.

“Jungshin, kalau kau ingin berubah, pergilah sendiri, jangan ikuti aku,” jawab Minhyuk sambil berdiri untuk meninggalkan tempat itu.

Minhyuk berjalan sambil membawa tas punggung yang ditentengnya asal. Terkadang membuat beberapa kali tas itu terjatuh. Meninggalkan Jungshin sendirian, itu sangat tepat disaat mereka berdebat. Karena Minhyuk hanya akan mengaku kalah setelah berdebat dengan pria pintar seperti Jungshin.

Kaki Minhyuk melangkah tak tentu arah, membawanya ke sebuah jalan dengan gedung-gedung tinggi  yang berrjejeran di jalan utama kota tersebut. Hanya tinggal beberapa langkah menuju kantor ayah angkatnya. Minhyuk melangkahkan  kakinya, satu langkah. Dan berhenti, dia sedikit ragu untuk berjalan ke arah tempat tersebut. Mengingat dirinya yang telah satu tahun menjadi anak angkat, dan sama sekali belum pernah menginjakan kakinya di kantor tersebut. Dia hanya mengetahui namanya dari angin yang memasuki telinganya.

Mungkin, ada sebuah rayuan untuk memasuki tempat itu. Begitu Minhyuk menginjakan kakinya pertama kali di perkantoran tersebut, beberapa pasang mata memandangnya. Bagaimana tidak? Tentu semua mata memandang ke arahnya. Mereka sama sekali tak mengenal pria itu, dan ia bukanlah orang penting di perusahaan, pikir mereka. Tapi semua itu salah, karena Minhyuk akan menjadi ahli waris dari perusahaan tersebut. Telah beberapa langkah ia lewati, dan tak ada satu pun orang yang menghalanginya. Minhyuk sangat berharap ada yang menghalangi langkahnya, sehingga ia bisa mengatakan siapa sebenarnya Kang Minhyuk. Minhyuk bukanlah pria pendiam yang akan selalu terdiam disaat orang lain menunjukkan kelebihannya pada Minhyuk. Minhyukpun ingin begitu.

“Oh.. Akhirnya kau datang juga anak ku,” ujar seorang pria sambil berjalan ke arah Minhyuk.

Beberapa pandangan mata kembali menatap Minhyuk, lebih tepatnya dengan tatapan iri. Minhyuk suka ini, akhirnya ia bisa membuat orang lain iri melihatnya.

“Apa yang membawamu berkunjung ke sini?,” tanya pria itu, atau mari kita panggil Tuan Kang.

“Entahlah, aku hanya ingin berkunjung ke  perusahaan appa,” jawab Minhyuk asal sambil tersenyum.

“Sepertinya kau punya mata-mata di sini,” ujar Tuan Kang sambil duduk di kursi kejanya.

Sementara Minhyuk hanya menundukan kepalanya. Entahlah, tak ada lagi yang bisa di katakannya pada appanya ini. Minhyuk mengepal tangannya, hendak berdiri untuk pulang kembali kerumah.

“Kau akan di jodohkan,” kata Tuan Kang sambil menatap Minhyuk.

“Dengan siapa?,” tanya Minhyuk.

Entahlah, Minhyuk juga bingung kenapa dirinya mulai tertarik untuk membahas topik ini. Mungkin kehilangan cinta pertama, membuatnya ingin bermain dengan beberapa wanita. Atau ingin menyakiti hati seseorang agar orang lain dapat merasakan rasa sakit saat kehilangan cinta.

“Salah satu dari putri keluarga Park,” jawab Tuan Kang sambil berjalan mendekati Minhyuk.

Setelah pria itu sangat dekat, tangan besar Tuan Kang beberapa kali mendarat dipunggung Minhyuk. Hanya untuk memberinya sebuah energi. Entahlah, Minhyuk juga tak mengerti pada pria ini.

***

Seorang wanita muda tengah duduk sambil menyesap teh hangat dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Telah beberapa menit mereka terdiam tanpa topik pembicaraan.

“Jadi, ada apa eomma memanggill ku?,” tanya seorang wanita yang mungkin masih berumur 20 tahun.

“Kau ini… Eomma ingin menjodohkan mu,” kata wanita yang bisa kita panggil Nyonya Park.

“Baiklah, itu tak masalah. Tapi dengan siapa?,” jawab Ririn tenang dan dengan entengnya..

“Park Ririn dan Kang Minhyuk. Mungkin nama itu sangat cocok dalam buku pernikahan,” jawab Nyonya Park sambil tersenyum membayangkan.

Ririn mengerutkan  dahinya, berusaha mengingat nama seorang pria yang sepertinya pernah ia dengar. Kang Minhyuk, Minhyuk. Ya pria iu, tapi mungkinkah?

 

“Haruskah?,” tanya Rin sedikit ragu, bahkan sangat ragu.

“Tentu, perusahaan sangat membutuhkan dana dari perusahaan Kang.Dan mereka memlih kau sebagai menantunya”, jawan nyonya Park sambil berdiri, hendak meninggalkan cafè yang mulai ramai.

Tak lupa, Nyonya Park memberikan kecupan pada kening putrinya sebelum pergi. Setelah beberapa langkah Nyonya Park pergi, Ririn mengacak rambutnya kesal. Bagaimana mungkin ia bertemu kembali dengan Kang Minhyuk? Atau ini adalah nama yang sama dengan orang yang berbeda?

***

Sebuah ruangan dengan para tamu bergaun indah dan pria bertuxedo hitam memenuhi ruangan itu. Tidak terlalu ramai, tapi tak bisa dihitung dengan jari. Di sudut ruangan, seorang pria tengah menatap kegelapan kota dari jendela saat itu. Ia sangat ingin keluar, dan menikmati anggin malam yang menyejukan. Namun, dia harus terperangkap di sini, dengan orang-orang penting dalam perusahaan.

Sementara di pintu masuk, seorang gadis muda tengah berjalan diapit oleh kedua orang tuanya. Gaun putih yang tak terlalu panjang melekat ditubuhnya. Blush on pink menghiasi pipinya. Dan tak lupa lipglos yang ada di bibirnya. Sejenak, Minhyuk menatap wanita itu. Cukup tenang, bahkan sangat biasa dengan yang baru saja dilihatnya.

Dari kejauhan, orang tua Minhyuk melambaikan tangannya kepada putra angkatnya, Kang Minhyuk. Minhyuk mengambil segelas minuman, dan membawanya ikut bersamanya. Satu, dua dan tiga. Butuh tiga detik untuk membuat Rin tersadar saat melihat pria yang kini di depannya.

“Ini putra-ku, Kang Minhyuk,” ujar Tuan Kang sambil menyuruh Minhyuk untuk memperkenalkan dirinya.

Minhyuk membungkuk penuh hormat kepada Rin, lalu tersenyum dan menatap tajam wanita itu.

“Ini putri-ku, Park Ririn,” ujar Tuan Park, dan di ikuti Rin yang membungkuk hormat.

Setelah beberapa menit mereka membicarakan hal-hal tak penting, orang tua Minhyuk dan Ririn pun meningggalkan mereka berdua.

“Mau berdansa?,” tawar Minhyuk sambil mengulurkan tangannya.

Uluran tangan Minhyuk disambut dengan tangan Rin yang menggenggam tangannya. Minhyuk menarik tubuh Rin ke tengah ruangan, lalu melingkarkan tanganya di pinggang Rin.

“Bagaimana kabar mu?,” tanya Minhyuk sambil berbisik.

“Sangat baik, setelah pergi meninggalkan mu,” jawab Rin tajam sambil menaruh dagunya pada pundak Minhyuk.

Minhyuk merenggangkan jarak antara tubuhnya dengan Rin.

“Ada apa dengan mu? Kau harus bersikap hormat pada calon suami mu,” kata Minhyuk sambil tersenyum.

“Entahlah, mungkin aku akan membunuh mu sebelum itu terjadi,” jawab Rin sambil menelusuri leher Minhyuk dengan telunjuknya.

Minhyuk menahan jari Rin, menghempaskannya kasar.

“Kau yakin?,” tanya Minhyuk sambil menatap tajam ke arah Rin.

“Sangat yakin,” jawab Rin sambil berjalan meninggalkan Minhyuk.

***

“Permisi Tuan Kang, ada sebuah undangan untuk Anda,” ujar sekretaris Jung pada Minhyuk.

Minhyuk pun mengambil undangan tersebut, lalu membacanya dengan teliti. Ternyata hanya udangan pejamuan minum teh biasa yang diadakan oleh keluarga Park. Tak lama, handphone Minhyuk berdering. Menandakan sebuah telepon masuk.

“Yeoboseo,” kata Minhyuk.

“Kau sudah siap?,” tanya seseorang diseberang sana.

“Untuk apa Ririn-ah?,” Minhyuk kembali bertanya.

“Sebaiknya kau lihat besok, ini akan menjadi sebuah kejutan untuk mu,” ujar Ririn.

“Oh ya, aku akan menjemput mu ke acara minum teh,” kata Rin sekali lagi sambil menutup teleponnya.

 

TBC

***

Baiklah, ini part 5 nya reader, kayaknya harus nambah satu part lagi, gapapa kan? Saya janji deh, abis ini tak ada part 7nya hanya ada part 6 dan Epilog.. Baiklah, saya tunggu commentnya..😉

 

6 thoughts on “She’s Come Back [Part 5]

  1. sama kyk di atas, maaf bru komen, rin.ehehehe
    ayo lanjut.jadi penasaran park ririn (berasa lg manggil km) m MH jdinya gimana u,u
    nice FF ^^. Km biasnya ke MH ya, Rin?

    • Ne, gwenchana🙂 pantesan aja telinga aku berdengung abis di panggil😀
      Bias? Wah banyak, tapi kalo di CNBLUE, Minhyuk sama jonghyun oppa ^^
      Gomawo sudah baca😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s