Seoul Night Life [Part 2]

Seoul night life

Author: Hanna Moran

Rating: PG17

Genre: romance, family, Friendship

Length: chaptered

Cast:

– Kang Minhyuk CNBLUE

-CL/Chaerin 2NE1

Other cast:

– Junhyung Beast

Desclaimer: Inspired by some western movie

Note: [Part1]

Aman dibaca saat bulan puasa.

 

 

 

***

Minhyuk terdiam sebentar sebelum ia menekan kode keamanan pintu apartementnya. Kim Song Il, ayah tirinya sangat jarang datang langsung ke apartement Minhyuk kecuali ada hal penting dan pribadi.

“Kau baru pulang, nak?” Tanya laki-laki diusia awal 60 tahun itu. Walaupun begitu laki-laki itu terlihat gagah dibalik jas hitam dan kaca mata yang bertengger dihidungnya. Siapapun akan percaya kalau seorang Kim Song Il adalah laki-laki yang tampan sedari muda, garis-garis tegas wajahnya masih terlihat hingga sekarang. Seperti Minhyuk, Song Il punya karisma yang akan membuat  kagum siapapun yang melihatnya. Ia tersenyum ramah pada Minhyuk yang kini berjalan mendekat. Sorot mata Kim Song Il memberi perintah agar sekertarisnya meninggalkannya berdua saja dengan anak tirinya.

“Ada apa aboji datang kemari? Ini sudah hampir pagi, kenapa tidak tunggu besok saja?” Tanya Minhyuk begitu pintu apartementnya di tutup oleh sekertaris ayah tirinya.

“Dari mana saja kau?” Tanya laki-laki itu, sorot mata tegasnya memperhatikan wajah Minhyuk.

“Ada beberapa urusan” Jawab Minhyuk acuh tak acuh.

“Urusan dengan wanita mana lagi?”

“Aboji, aku lelah. Bisakah kita percepat urusan kita?”

“Besok adalah hari peringatan kematian Ibumu, kau tidak lupakan?” Kalimat itu membuat Minhyuk terdiam, ia melirik kalender meja di sampingnya. Betul, besok peringatan 4 tahun kematian ibunya.

“Besok kita ke makam ibumu bersama-sama”

“Aboji duluan saja, aku akan menyusul nanti”

“Sudah 3 kali aku memperingati kematian ibumu seorang diri, datang kemakamnya seorang diri karena kau tidak di Korea. Kali ini aku ingin kau pergi bersamamu, Ibumu pasti akan sedih kalau tahu lagi-lagi aku tak datang denganmu” Minhyuk kembali terdiam, dalam suasana sunyi itu ia membenarkan perkataan ayah tirinya.

“Baiklah, Aboji atur saja” Minhyuk menurut. Song Il terlihat tersenyum puas.

“Apa kau sudah bertemu dengan teman-temanmu?” Tanya Song Il lagi

“Sudah”

“Kau sudah tau kabar Chaerin sekarang?”

“Ya, aku yang mengantarkannya pulang tadi”

“Kau masih mau berteman dengan gadis itu?” Minhyuk tahu maksud dibalik perkataan Song Il.

“Sampai kapan aboji menilai seseorang hanya dari kekayaannya?”

“Jangan bodoh Minhyuk, uang berperan dalam hidup manusia. Aku dengar sekarang ia menjadi DJ di club langgananmu? Apa dia juga menjual dirinya seperti kebanyakan wanita disana? Apa kau berkencan dengannya hanya untuk semalam? Berapa banyak uang yang dia minta darimu?”

“Aboji!!” Minhyuk geram

“Aku mohon jangan berbicara sembarangan tentang Chaerin, kau tak tahu apa-apa soal Chaerin” Emosi Minhyuk tersulut mendengar pikiran negative Song Il tentang Chaerin, teman baiknya.

“Lebih baik Aboji pulang. Sudah hampir pagi, Aboji butuh istirahat”

“Baiklah. Sampai jumpa besok dikantor” Minhyuk tidak membalas perkataan Song Il.

 

Minhyuk berjalan menuju lemari pendingin dipantrynya, mengambil sebotol air mineral dan meneguknya banyak-banyak. Lalu Minhyuk berjalan menuju kamarnya, membaringkan tubuhnya, pikirannya menerawang jauh kembali ke saat Minhyuk melihat Chaerin yang terlihat begitu lemah dalam pelukan Minhyuk tadi,  wajah Chaerin yang kacau karena menangis masih MInhyuk ingat jelas. Lalu kalimat-kalimat negative yang keluar dari mulut ayah tirinya kembali terngiang di telinganya. Terlalu lelah untuk berfikir hal-hal lain, akhirnya Minhyuk terlelap.

 

***

Minhyuk terjaga dari tidurnya. Ia segera membersihkan tubuhnya, setelahnya menyalakan mesin pembuat kopi, suara dengungan halus terdengar menggema di pantrynya. Minhyuk ingat hari ini ada janji dengan ayah tirinya. Minhyuk menghempaskan tubuhnya disofa nyaman, ia mengambil remote televisi tapi gerakan tangannya terhenti saat matanya menemukan potret cantik ibunya yang terbingkai frame warna kayu di meja kecil disebelahnya.  Tangan Minhyuk meraih Potret itu dan memandanginya.

“Omma…” Panggil Minhyuk lirih.

“Omma… Omma baik-baik saja kan disurga sana?” Tanya Minhyuk lagi lirih

“Aku merindukan Omma, apa Omma merindukan aku?” Minhyuk terus memperhatikan potret Ibunya dengan senyum hangat yang selalu membuat Minhyuk merasa aman dan nyaman. Minhyuk mendekap frame foto Ibunya, ia mengambil cangkir kopinya dan ia berjalan mendekati sebuah jendela besar apartementnya, sinar matahari yang menyilaukan masuk menerangi ruangan apartement mewah Minhyuk.

Minhyuk hanya terdiam, menghidup aroma kopi hitam yang masuk ke indra penciumannya.  Genggamannya diframe photo ibunya menguat, ia mencengkeramnya, matanya basah. Minhyuk menangis.

 

***

Usia Minhyuk baru 6 tahun saat itu, saat ia melihat ibunya berlutut dan menangis seorang diri dikamarnya. Minhyuk berkali-kali bertanya ada apa dengan Ibunya, tapi Ibunya hanya mengusap airmatanya dan tersenyum, Ibunya memeluk Minhyuk dan mengatakan kalau ia baik –baik saja. Minhyuk balas memeluk Ibunya, mencoba melindungi Ibunya dariapapun yang membuat Ibunya menangis dan begitu terluka.

Tiba-tiba Minhyuk sadar, ayahnya tak muncul untuk sama-sama memeluk Ibunya dan menenangkannya, Minhyuk bertanya pada Ibunya kemana ayahnya pergi, tapi Ibunya diam seribu bahasa, sejak detik itu tak pernah ada perbincangan tentang ayahnya keluar dari mulut Minhyuk ataupun Ibunya. Yang Minhyuk tahu, ayahnya pergi meninggalkan Ibunya dan dirinya entah kemana.

Minhyuk yang mulai beranjak dewasa suatu hari dibawa Ibunya bertemu dengan seorang pria disebuah rumah mewah. Minhyuk dan Ibunya dijemput dengan mobil mewah dan diantar menuju kediaman pria itu. Begitu Minhyuk masuk kedalam rumah itu ia disambut senyuman hangat seorang laki-laki gagah, laki-laki itu bahkan memeluk Minhyuk dan mengusap kepala Minhyuk dengan sayang. Laki-laki itu bahkan menciptakan senyuman pada wajah Ibunya, senyuman yang lama tak pernah Minhyuk lihat,senyum bahagia.

Setelahnya Ibunya bilang kalau rumah mewah itu kini menjadi rumah mereka, dan Ibunya bilang bahwa mulai hari itu laki-laki yang tadi menyambutnya adalah ayahnya. Kim Song Il, ayah tiri Minhyuk.

Kim Song Il berusaha memenuhi semua kebutuahn Minhyuk dengan baik, memberikan cinta yang baik pula pada Ibu Minhyuk. Tapi satu yang tidak mereka sadari, Minhyuk tumbuh dengan luka hati dalam dirinya, Ia masih belum mengerti kenapa ayah kandungnya meninggalkannya begitu saja, padahal semuanya baik-baik saja. Minhyuk belum menemukan jawaban dari pertanyaan pertamanya, ia harus dipaksa untuk menerima orang baru lagi yang memberi Minhyuk pertanyaan kedua, siapa orang ini dan kenapa Ibunya begitu bahagia dengan orang yang asing bagi Minhyuk ini.

Minhyuk mencari pelariannya, ia mencarinya di club, di antara wanita-wanita yang ia kencani, juga dijalanan. Ia mencarinya hingga ia mulai merasa itu semua bukan lagi menjadi pelarian, tapi menjadi gaya hidupnya.

Minhyuk mulai berfikir untuk berhenti dari semua kegiatan malamnya saat Ibunya divonis kanker, ia berusaha berhenti demi ibunya. Demi kesembuhan Ibunya, tapi saat Minhyuk belum sepenuhnya berhasil, Ibunya meninggalkannya untuk selamanya. Luka Minhyuk semakin besar, ia merasa tak ada lagi alasan untuknya meninggalkan kehidupan malamnya, akhirnya ia kembali. Kembali menjadi Minhyuk yang dulu.

***

 

“Tak ada yang mau kau katakana pada Ibumu?” Tanya Song Il. Minhyuk hanya menatap nisan Ibunya dari balik kaca mata hitamnya. Ia meletakan rangkaian bunga besar diatasnya, lalu mundur beberapa langkah, berdiri disamping ayah tirinya. Minhyuk hanya diam.

“Sunhae-ya” Song Il memanggil nama Ibu Minhyuk

“Hari ini aku datang dengan Minhyuk, dia sudah kembali ke Korea dan dia sudah tumbuh menjadi pria. Kau pasti sangat merindukannya. Maafkan aku, baru hari ini aku bisa membawanya kemari. Apa kau tenang disana? Aku yakin kau tenang disurga ya, kau wanita yang baik. Tuhan pasti sangat menyanyangimu” Song Il terus berbicara, Minhyuk hanya mendengarkan, dalam hati Minhyuk juga ikut menyapa Ibunya yang sudah tidur tenang.

 

 

“Makan sianglah bersamaku dirumah” Kata Song Il saat mereka berjalan meninggalkan kompleks pemakaman.

“Aku harus ke kantor” Kata Minhyuk mengelak

“Makan sianglah dulu, baru kembali ke kantor. Apa aku harus memohon untuk bisa makan siang dengan anakku sendiri?” Song Il menepuk punggung Minhyuk, Song Il sudah menganggap Minhyuk seperti anaknya sendiri, tapi Minhyuk belum bisa benar-benar menerima kenyataan itu. Akhirnya mau tak mau Minhyuk ikut juga dengan ajakan Song Il.

Minhyuk kembali ke rumah yang sempat ia tinggali untuk waktu yang cukup lama. Minhyuk meninggalkan rumah ini tepat seminggu setelah kematian Ibunya, ia tak sanggup terlalu lama disini, kenangan Ibunya ada disetiap sudut rumah ini.

Minhyuk duduk dihadapan Song Il, dengan makanan-makanan lezat dihadapan mereka. Mereka makan dalam diam.

“4 tahun ini pasti cukup sulit bagimu” Song Il mulai berbicara

“Tidak terlalu” Minhyuk menjawab singkat

“Maaf, aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu”

“Tidak apa-apa. Aboji juga pasti ada dalam masa-masa sulit setelah Omma meninggal”

“Komentarku tentang Chaerin kemarin, mungkin agak berlebihan. Maafkan aku”

“Aboji seharusnya tidak minta maaf padaku, tapi pada Chaerin” Tatapan dingin Minhyuk terarah pada Song Il.

“Aku hanya ingin kau bergaul dengan orang-orang yang benar. Hidupmu sekarang ini sudah mulai berubah Minhyuk, kau lebihs sering ke club, mengencani banyak wanita. Aku tidak ingin hidupmu seperti ini” Mendengar komentar Song Il, Minhyuk menghentikan makannya, nafsu makannya seketika menguap.

“Dengan siapa aku berteman, apa yang aku lakukan itu urusanku, jangan terlalu ikut campur. Yang aboji perlu tahu hanya setiap pagi aku datang ke kantor, mengurus dokumen-dokumen perusahaanmu, lalu sorenya aku meninggalkan kantor, kau menggajiku dengan imbalan yang sangat besar. Hanya itu yang perlu kau tahu, selebihnya itu bukan urusanmu, Aboji” Minhyuk segera meninggalkan rumah itu. Kim Song Il hanya menghela nafas panjang melihat Minhyuk pergi meninggalkan rumahnya.

***

 

Setelah hari-hari yang panjang, malam harinya Minhyuk berakhir di ‘Kings’ lagi. Junhyung dan beberapa temannya tidak bisa datang, jadilah Minhyuk datang seorang diri. Ia langsung duduk disebuah meja bar, agak jauh dari kerumunan orang. Memesan minuman kesukaannya pada seorang bartender yang langsung meraciknya dengan lihai.

Minhyuk mengedarkan pandangannya mencari sosok Chaerin, ternyata Chaerin tengah asik menjadi CL dibalik meja DJnya, ia menari dan bergerak dengan semangat mengikuti tempo yang ia ciptakan sendiri. Chaerin melambaikan tangannya singkat melihat Minhyuk dikejauhan.

“Ini minuman anda, Tuan” bartender tadi meletakan gelas minuman Minhyuk. Minhyuk menyesapnya. Tiba-tiba sebuah tangan halus merangkul bahu Minhyuk.

“Lama tidak berjumpa” Sapa gadis itu, lalu gadis itu duduk disebelah Minhyuk. Menumpangkan satu kakinya keatas kaki yang lain, menunjukan kaki mulusnya yang terbalut dress mini.

“Hei”Sapa Minhyuk singkat dengan senyum yang mampu melumpuhkan wanita.

“Sendirian saja?” Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Minhyuk, aroma alcohol menguar dari bibir merah gadis itu.

“Kalau aku sendirian memang kenapa?” Tanay Minhyuk lagi.

“Mau ku temani? Di hotel mana biasanya kau menghabiskan malam?” Tanya gadis itu lagi, jari-jari lentiknya mengusap wajah Minhyuk.

“Aku tak bermain dihotel” Kata Minhyuk lagi.

“Kalau begitu, apartementmu mungkin?”

“Aku tidak membawa wanita ke apartementku” Kata MInhyuk. Minhyuk memang playboy, ia memang sering berganti pasangan tapi tidak untuk hal yang intim seperti tidur bersama. Minhyuk sangat menghargai wanita. Ia hanya melakukannya sampai batas berciuman, atau bercumbu. Selebihnya Minhyuk masih bisa menahan diri. Lagipula gadis yang kini tengah menggodanya terlihat murahan, bukan tipe Minhyuk sama sekali.

“Baiklah kalau begitu biar aku disini menemanimu, mungkin nanti kau berubah pikiran” Gadis itu semakin mendekat pada Minhyuk. Tangan Minhyuk merangkul pinggang gadis itu.

“Kau tidak mau pesan minuman? Kau bilang kau akan menemaniku”

“Baiklah kalau begitu, aku aku pesan mocktail saja” Gadis itu memesan, lalu ia kembali mendekat kearah Minhyuk.

“Bagaimana rasanya dicium olehmu?” Tanya gadis itu tiba-tiba. Minhyuk melirik dingin gadis disampingnya. Lalu Minhyuk mencium gadis itu dengan ringannya, sepertinya ciuman bagi Minhyuk bukan hal yang terlalu special. Hanya ciuman singkat, karena mereka berdua tersentak dengan suara ribut-ribut yang berasal dari atas panggung DJ. Seseorang yang sedang mabuk parah sepertinya membuat kekacauan.

“Aku ingin kau menemaniku malam ini!!”Laki-laki itu berteriak, benar ia mabuk, bahkan untuk berdiri tegakpun ia sulit.

“Aku ingin kau menjadi milikku” Laki-laki itu berteriak lagi.

“Shirro!! Lepaskan aku” Teriak gadis yang sekarang tangannya dicekeram keras oleh laki-laki mabuk itu. Minhyuk hafal benar suara siapa itu. Minhyuk segera meninggalkan gadis disampinganya dan mendekat kearah terjadinya keributan itu.

“Kau harus mau! Aku akan membayar tubuhmu dengan sangat mahal nona cantik. Aku punya banyak uang”

“Lepaskan dia bodoh” Minhyuk berjalan mendekat, berusaha membantu Chaerin lepas dari cengkeraman laki-laki itu.

“Siapa kau? Kekasihnya? Atau kau sudah mem-booking-nya lebih dulu? Berapa banyak kau membayarnya? Aku akan membayar lima kali lipat dari yang kau bayar” Kata laki-laki itu. Tangannya menarik Chaerin agar ikut dengannya.

BUUGH!!

Sebuah pukulan dari tangan Minhyuk mendarat di wajah laki-laki itu dan langsung membuat laki-laki itu terjatuh. Tapi laki-laki itu segera bangkit dengan sempoyongan dan mendorong Minhyuk, membalas pukulan Minhyuk, kali ini Minhyuk yang terhuyung jatuh tapi Minhyuk kembali memberikan pukulannya. Kali ini banyak pukulan yang Minhyuk berikan pada laki-laki itu hingga laki-laki itu tidak bisa membalasnya. Darah segar keluar dari hidung laki-laki itu dan beberapa memar mulai terlihat di wajah laki-laki itu. Akhirnya orang-orang mulai memisahkan mereka.

“Jangan pernah samakan Chaerin dengan wanita murahan manapun!!” Minhyuk memperingatkan, laki-laki yang sudah tak bisa berbuat banyak karena mabuk dan luka ditubuhnya itu dibawa keluar. Minhyuk mencari Chaerin yang tampak kaget dan ketakutan.

“Semua sudah baik-baik saja” Kata Minhyuk menenangkan Chaerin. Minhyuk langsung membawa Chaerin keluar dari Club dan membawanya pergi. Minhyuk mengemudikan mobilnya melintasi jalanan malam kota Seoul, hingga mobilnya berhenti dipinggir sungai Han yang terlihat indah dihiasi lampu warna-warni dikejauhan. Minhyuk dan Chaerin keluar lalu mereka duduk bersandar bersebelahan di mobil Minhyuk.

“Terima kasih, kau membantuku tadi” Kata Chaerin.

“Aku sudah bilang, kalau kau membutuhkan aku, aku pasti ada” Kata Minhyuk.

“Aku sangat kaget saat laki-laki mabuk tadi tiba-tiba menarik tanganku, itu tidak pernah terjadi sebelumnya”

“Resiko pekerjaanmu besar juga” Komentar Minhyuk sambil memandang langit malam Seoul yang gelap.

“Ah wajahmu terluka, tunggu disini aku akan belikan sesuatu untuk mengobatinya” Chaerin segera berlari menuju sebuah toko 24 jam yang tak jauh dari tempat Minhyuk memarkir mobilnya. Minhyuk hanya menunggu Chaerin, ia menoleh melihat Chaerin yang sedang berlari menuju toko 24 jam. Tak lama Chaerin berlari kembali dengan beberapa plester luka ditangannya.

“Sini, biar aku tempel” Chaerin membuak sebuah plester dan menempelkannya disatu luka disudut bibir Minhyuk dengan darah mengering disana. Tapi plester itu belum tertempel saat tangan Minhyuk menarik pundak Chaerin mendekat, dengan cekatan Minhyuk mengangkat dagu Chaerin hingga mata mereka bertemu, mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa detik.

“Malam ini kau cantik, Chaerin” Bisik Minhyuk. Angin malam menerbangkan helai-helai rambut panjang Chaerin membuat aroma floral dari rambut Chaerin masuk ke indra penciuman Minhyuk. Minhyuk menyingkirkan helai-helai rambut itu.  Lalu Minhyuk mendekatkan wajahnya, mempertemukan bibirnya dengan bibir Chaerin, Chaerin tak melawan. Minhyuk melingkarkan tangannya di pinggang Chaerin, membuat tubuh mereka semakin mendekat, Minhyuk memperdalam ciumannya, angin malam yang dingin membuat Chaerin mendekap tubuh Minhyuk. Ciuman mereka lembut, pelan-pelan Chaerin membalas ciuman Minhyuk, ciuman mereka semakin dalam dan mulai memanas, lidah mereka ikut bermain. Chaerin menyelipkan jari-jari lentiknya kedalam helaian rambut Minhyuk, sedikit mencengkeramnya seiring semakin dalam ciuman yang Minhyuk berikan. Tangan Minhyuk berpindah ke leher Chaerin memberikan pijatan lebut sehingga Chaerin merasa tenang dalam pelukan Minhyuk. Cukup lama mereka berciuman hingga Chaerin mulai melonggarkan pelukannya pada Minhyuk dan menjauhkan tubuhnya, Minhyuk sempat menahannya menjauh tapi akhirnya Minhyuk melepaskannya juga, mungkin Chaerin hanya butuh lebih banyak oksigen.

Tatapan Minhyuk dan Chaerin amish saling berpandangan.

“Apa yang barusan kita lakukan?” Tanya Chaerin pelan, seolah tidak percaya Minhyuk baru saja menciumnya dengan begitu dalam.

“Kita berciuman” Kata Minhyuk santai dengan senyum diwajahnya

“Kita gila” Kata Chaerin, Minhyuk hanya terkekeh pelan. Lagi-lagi angin malam yang lumayan kencang bertiup, Chaerin memeluk dirinya sendiri yang mulai kedinginan.

“Aku antar kau pulang sekarang” Kata Minhyuk lalu masuk kedalam mobilnya, Chaerin mengikutinya.

 

****

“Sekali lagi terima kasih” Kata Chaerin saat ia dan Minhyuk sampai didepan apartementnya.

“Hmm.. masuklah, istirahatlah. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku” Kata Minhyuk.

“Kau tidak mau mampir?” Tanya Chaerin

“Lain kali saja” Kata Minhyuk, Chaerin hanya mengangguk. Lalu Minhyuk mengusap puncak kepala Chaerin, membawanya Chaerin dalam rengkuhannya. Minhyuk menghirup dalam-dalam aroma tubuh Chaerin.

“Aku tidak akan jadi mangsamu, Minhyuk”

“Tidak saat ini Chaerin, mungkin nanti” Kata Minhyuk. Minhyuk kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Chaerin

“Jangan bermain-main denganku Kang Minhyuk, aku temanmu” Chaerin berbisik disela-sela ciuman mereka.

“Kalau aku serius, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Minhyuk lalu memagut bibir Chaerin lagi. Chaerin tak menjawab, masih terlalu menikmati ciuman Minhyuk yang kata orang begitu memabukkan, sekarang Chaerin harus setuju dengan apa yang orang katakan.

“Masuklah, selamat malam” Minhyuk menjauhkan tubuhnya, sesaat Chaerin merasakan sedikit rasa kecewa ketika Minhyuk melepaskan dirinya begitu saja. Tapi senyum Minhyuk yang menenangkan membuatnya menurut. Chaerin masuk kedalam apartementnya. Minhyuk menunggunya menutup pintu terdiam beberapa saat disana sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat itu lagi dengan hati berdebar, tanpa Minhyuk tahu dibalik pintu apartemennya Chaerin tengah berdiri mematung, kedua matanya tertutup, kedua tangannya diletakan diatas dada kirinya, jantungnya memompa begitu cepat. Cinta pertamanya baru saja meninggalkan jejak dibibirnya, untuk yang kedua kalinya.

 

***

Kim Song Il membuka sebuah runangan yang tak pernah ia masuki sejak istrinya meninggal, studio lukis yang biasanya dipakai istrinya untuk menghabiskan waktu untuk melukis, ruangan itu bersih karena secara berkala ada orang yang khusus bekerja untuk membersihkan ruangan itu. Ruangan itu masih seperti terakhir kali ia lihat. Beberapa lukisan karya istrinya masih terpajang rapi. Pelan-pelan Song Il memperhatikan setiap hal disana, mengulang kenangannya bersana istrinya dibenaknya.

Matanya tiba-tiba menangkap sebuah kotak tua disudut ruangan, ia tak pernah melihat kotak itu sebelumnya. Ia mendekat, sebuah kertas terselip disana.

“Untuk anakku, Kang Min Hyuk. Maafkan Ibu”

Tulisan itu mengusik rasa penasaran Song Il, ia mengambil kotak itu dan membukanya. Beberapa amplop yang mulai menguning dimakan waktu terlihat didalamnya, Song Il membukanya dan membaca tulisan tangan rapi istrinya. Hatinya teriris seketika, luka itu terasa sakit lagi. Luka yang sudah disembuhkan waktu itu kini basah kembali dan rasa sakitnya masih sama. Ia membuka beberapa surat lainnya, surat yang ditujukan bukan untuk dirinya atau untuk Minhyuk, tapi untuk orang lain. Song Il kembali merapihkan isi kotak itu dan membawanya keluar ruangan. Ia berfikir apakah Minhyuk harus mengetahui ini semua sekarang, apakah waktunya sudah tepat. Song Il menimbang dan menebak apa reaksi Minhyuk nanti.

Akhirnya Song Il mengambil keputusan, Minhyuk harus tahu ini semua. Cepat atau lambat Minhyuk harus tahu, apapun resikonya Song Il akan menghadapinya, ini untuk kebaikan mereka semua, untuk kebaikan Minhyuk, lebih tepatnya.

 

-TBC-

 

 

4 thoughts on “Seoul Night Life [Part 2]

  1. wih.. cerita auhtor keren-keren.. Dan makin penasaran ada apa dengan ayah kandung minhyukk.. Ditunggu ya unthor part 3 nya😀

  2. huaaaa akhirnya baca juga … maap kak baru sempet baca hihihi
    part sweet mingie CL nya udah keliatan …. astagaa mingiiiiiiee😄😄
    Minggu depan aku tagih lg ya kak hehehehe
    SE-MA-NGAT😀😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s