YESTERDAY WAS AUTUMN

cnblue/snsd;lee jonghyun/im yoona

pg. sad-romance.

oneshot.

by yen yen mariti

Gambar

 

Suddenly, I’m not half the man I used to be
There’s a shadow hanging over me.
Oh, yesterday came suddenly.

Gadis itu meninggalkannya di awal musim gugur. Saat dedaunan masih berusaha bertahan di ranting-ranting, meski warna mereka sudah kusam. Malam itu angin menari-nari, keluar masuk lewat jendela apartemen yang lupa ditutup. Menerbangkan helaian-helaian rambut gadis itu, membuat kain sweter lelaki itu melayang pelan-pelan. Dan suasana malam itu masih melekat erat di ingatannya.

.

.

.

Jonghyun berdiri di depan jendela ruangannya. Kerai masih diturunkan, tapi sinar matahari memaksa masuk. Meski begitu Jonghyun tidak menyipitkan matanya sedikit pun, sebab sinar matahari pagi di musim gugur hanya bagai lampu ber-watt kecil baginya.

Matanya mengintip pelan-pelan lewat celah kerai. Lewat ruangannya yang berada di lantai tiga, dia bisa mengamati apa yang terjadi di bawah sana. Orang-orang berlalu lalang, kursi roda didorong, anak-anak bermain di atas tumpukan dedaunan. Ada kehidupan di bawah sana.

Tapi mengapa jiwanya tidak dapat merasakan apa pun?

.

.

.

Jonghyun pulang larut kali ini. Bukan karena urusan rumah sakit yang sudah menjadi tugasnya, tapi dia mampir berjam-jam di bar kecil yang redup di persimpangan jalan. Berdiam diri di sana, dan merasa sendiri meski banyak orang-orang yang berdatangan ke sana.

Dia menemukan setumpuk cangkir kotor di bak pencuci. Penuh noda kopi akibat gadis itu. Minuman favorit gadis itu. Jonghyun mengira-ngira berapa lama sudah cangkir-cangkir kaca itu bertahan di sana.

Tiga minggu.

Selama itu pula Jonghyun tidak memasuki dapur. Selama itu pula dia selalu kabur ke bar sepulang kerja.

.

.

.

Kali ini Jonghyun tidak sembunyi di ruangannya sambil mengintip lewat celah kerainya. Kali ini dia melangkahkan kakinya tanpa rencana, tanpa tujuan dan berhenti begitu saja di taman rumah sakit yang sepi.

Ada seorang pasien duduk di salah satu bangku panjang, di depannya tumbuh pohon besar yang sudah tua dan orang-orang membuat isu bahwa pohon itu berhantu. Tetapi pasien laki-laki berusia sekitar kepala lima itu duduk tenang di sana. Jadi Jonghyun juga ikut mendudukkan tubuhnya di sana, berdampingan dengan lelaki tua itu.

Mereka adalah dua orang asing yang hanya duduk di bangku yang sama. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Angin berhembus pelan-pelan, tumbuhan bergoyang lambat-lambat.

Lelaki ini sudah dua bulan menghuni kamar 308. Sendirian, tidak pernah berbicara pada siapa pun. Sebagian penghuni rumah sakit mengatakan bahwa dia punya masalah mental, tapi pertanyaannya mengapa dia tidak dibawa ke rumah sakit jiwa saja.

“Kau suka musim gugur?” suara di sebelah Jonghyun bertanya lembut.

Jonghyun sedikit tersentak, “Tidak juga.” Dulu dia suka musim gugur. Empat tahun dilaluinya bersama gadis itu. Tapi setelah apa yang gadis itu putuskan padanya, musim gugur hanyalah hari yang kelabu penuh kesesakan baginya.

“Dulu aku suka musim gugur.” lelaki itu kembali bersuara, “Itu dulu sekali Nak. Sebelum dia meninggalkanku dan musim gugur membuatku takut.”

Kepala Jonghyun perlahan-lahan menoleh pada lelaki di sampingnya.

“Aku hanyalah lelaki berusia dua puluh satu saat itu. Tapi seolah-olah aku mengerti cinta dan takdir. Yang kuinginkan hanya dia, jadi aku bersumpah akan hidup bersamanya sepanjang hidupku. Sampai aku tua. Kukunci hatiku agar tidak ada seorang pun yang bisa memasukinya.”

“Dia… kekasihmu, Pak?”

“Ya, Nak.” Lelaki itu mengangguk pelan. “Enam tahun berikutnya kami merencanakan pernikahan. Gedung sudah disewa, gaun pengantin siap dipakai dan undangan sudah disebar.”

“Lalu?” tanpa Jonghyun sadari, dia penasaran.

“Lalu takdir berkata bahwa waktunya sudah habis. Sore itu gerimis, dedaunan memenuhi jalanan dan dia berhenti bernapas di tengah jalan. Kecelakaan lalu lintas. Setelah itu aku tidak melihat dia lagi sampai hari ini.”

“Apa yang terjadi padamu sekarang?”

“Aku melakukan kesalahan di masa lalu. Ketika kuputuskan untuk mengunci hatiku, aku membuang kunci itu entah ke mana. Dan setelah dia pergi, hatiku tertutup rapat. Tidak bisa dibuka, tidak ada seorang pun yang mampu membukanya kembali.”

“Pak…” Jonghyun merasakan lidahnya kelu. Mungkin dia adalah versi muda dari lelaki tua itu.

“Umurku hampir enam puluh tahun ini. Lihat,” lelaki itu menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya penuh keriput dan rambut memutih. Tidak ada senyum apa pun di sana. “Enam puluh Nak. Tapi aku belum menemukan kebahagiaanku. Dan aku sadar aku tidak akan punya kesempatan lagi.”

Seluruh jiwa raganya untuk gadis itu. Jonghyun menggantung mimpi dan masa depannya pada gadis itu. Dia mungkin mengunci hatinya agar tidak dapat dimasuki siapa pun selain gadis itu, seperti yang lelaki tua ini katakan.

Orang-orang salah. Lelaki tua ini tidak gila, jadi tidak masalah untuk tetap di sini dan bukannya rumah sakit jiwa. Lelaki ini hanya kesepian. Seonggok jiwa Jonghyun merinding. Mencoba bermain tebak-tebakan; mungkinkah dia juga akan menjadi versi tua lelaki ini?

Pohon di depan mereka tertiup angin, menjatuhkan dedaunan yang berwarna gelap. Terlihat rapuh dan putus asa. Seperti itu lah kedua lelaki ini.

.

.

.

Kali ini Jonghyun pulang larut lagi setelah mampir ke bar kecil redup yang sudah menemaninya hampir sebulan terakhir. Kali ini dia tidak mampir ke dapur untuk segelas air putih sehingga dia tidak harus menyadari bahwa cangkir kotor semakin menumpuk di sana.

Jonghyun hanya terkapar di atas sofa, dengan dasi yang mengendur dan kemeja yang kusut—sekusut wajah dan hatinya. Biasanya jika dia mabuk, gadis itu akan mengomelinya—lebih banyak menghabiskan waktu untuk itu ketimbang memberinya penawar mabuk. Dan sekarang Jonghyun mengharapkan itu terjadi. Gadis dengan rambut sepunggung dan bola mata hitam bersinar itu akan datang.

Hingga dia jatuh tertidur dan kembali bangun keesokan harinya, gadis itu tidak ada di sana.

.

.

.

Jonghyun merasakan kepalanya pusing dan orang-orang di rumah sakit menuntutnya untuk profesional. Ada penghuni baru di rumah sakit. Anak gadis belasan tahun. Cengeng dan merepotkan. Perawat menggerutu setiap kali keluar dari ruangan gadis itu. Pasien lain mengeluh karena gadis itu terlalu sering mengamuk dan menangis dan membuat keributan.

Dengan berpura-pura bahwa dia adalah orang paling sehat dan normal sedunia, Jonghyun mendatangi gadis itu di kamarnya. Masih dengan piama kebesaran dan wajah bengkak akibat keseringan menangis.

“Ayo lihat apa yang bisa kulakukan untukmu, gadis kecil.” Jonghyun duduk di samping ranjang gadis itu, mencoba tersenyum ramah meski dia tidak sanggup.

“Sembuhkan aku.”

“Baik. Katakan padaku mana yang sakit, akan kita coba menyembuhkannya.”

“Kau yakin?”

“Yakin.” Bohong. Dia tidak bisa menyembuhkan apa pun. Jika bisa, maka hatinya adalah yang terlebih dahulu akan dia sembuhkan.

Gadis itu membuka selimutnya, menampakkan kakinya yang diperban. Hanya berukuran setengah dari kaki normal. Jonghyun menyesal mengatakan bahwa dia yakin dapat menyembuhkannya. Gadis itu kehilangan kakinya.

“Kau tahu,” suara Jonghyun terdengar menghibur. “mereka bisa menciptakan kaki-kaki terbaik, seperti yang kau harapkan. Tidak akan ada yang tahu bahwa kau menggunakan kaki palsu.”

Gadis itu tertawa. Menghina. “Kau. Bilang. Kau. Seorang. Dokter? Kau bahkan tidak dapat membantu sedikit pun dari masalahku.”

Dia benar, Jonghyun tidak membantu apa pun. Malah sebaliknya Jonghyun lah yang butuh bantuan. Dia rapuh. Putus asa. Sakit. Gila.

“Kau tahu Dok, aku adalah seorang atlet lari. Bayangkan sendiri bagaimana rasanya kehilangan apa yang sangat kau cintai.”

Kau tahu Nak. Aku baru saja kehilangan dia. Aku tentu mengerti bagaimana rasanya.

.

.

.

Malam ini Jonghyun absen ke bar dan malah datang ke bioskop. Membeli tiket dan duduk tanpa teman di antara puluhan orang di ruangan gelap itu. tidak ada yang menyuapkan popcorn untuknya. Tidak ada yang membasahi pakaiannya saat adegan paling sedih mulai diputar. Jonghyun tidak tahan, maka dia menyelinap keluar bahkan sebelum film selesai.

Dia berusaha melupakannya, tapi tubuh dan ingatannya tidak. Jalan menuju aparteme gadis itu. hanya beberapa blok dari gedung bioskop. Balkon apartemen gadis itu dipenuhi bunga mawar, merah dan putih dan kuning. Dia merindukannya.

Ketika tiba di sana, dia hanya mematung di depan pintu apartemen gadis itu. Ada tombol bel di sana, tapi dia ragu akan melakukannya. Tangannya menggali saku celananya dan mendapatkan ponsel. Nomor gadis itu sudah berhasil dia hapus dari daftar kontak beberapa malam yang lalu saat mabuk. Tapi jari-jarinya menekan angka-angka di ponselnya. Nomor telepon gadis itu. Meski dia menghapusnya, ingatannya tidak.

Ini. Tidak. Benar.

Jonghyun perlahan-lahan berbalik arah, memasuki elevator yang terbuka. Membawanya ke lantai dasar dan dia akan berjalan pulang ke apartemennya.

.

.

.

Jonghun tidur cukup malam tadi dan hari ini dia punya jadwal operasi. Dia sarapan di kafetaria rumah sakit, beberapa staf menyapanya dan dia tersenyum kecil. Dia berusaha menikmati makanannya. Dia berusaha menjalani harinya sebaik dan senormal mungkin. Sekilas dia melihat pohon-pohon yang sudah botak. Dia teringat bahwa ini musim gugur. Bahwa gadis itu meninggalkannya. Tapi dia berkompromi dengan otaknya; tolong jangan pikirkan gadis itu. Hanya kali ini. Sekali saja.

.

.

.

“Pak,” Jonghyun menemukan lelaki tua itu di taman yang sama, di bangku yang sama. Cuaca kali ini lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. “Minum,” tangannya menyodorkan cangkir kertas pada lelaki tua itu.

“Terima kasih.”

“Ini teh, bukan kopi. Aku tidak suka kopi.” Jonghyun memberitahu lelaki itu. Memberitahu otaknya, gadis itu penggila kopi. Tapi dia tidak. Mereka berbeda.

“Tidak masalah.”

“Kau tidak pernah kelihatan di kafetaria selama jam makan siang.”

“Aku tidak pernah ke sana.”

“Kenapa?”

“Aku bukan bagian dari mereka. Kadang-kadang aku berniat untuk berbaur dengan orang-orang di sini, tapi mereka seolah tidak menganggapku ada, jadi aku membatalkan niatku.” Lelaki itu menyesap teh hangatnya. “Mereka bilang aku berbeda. Aku aneh. Dan sebagian mengusulkan agar aku dipindahkan ke rumah sakit jiwa atau panti jompo. Mereka hanya tidak mengerti Nak.”

“Tapi aku tidak menganggapmu begitu Pak. Dan aku mengerti keadaanmu.” Jonghyun meyakinkan dirinya bahwa dia mengerti. Sangat mengerti. Karena mereka sama.  “Lain kali, jika kau bersedia, datang lah ke mejaku saat makan siang, aku butuh teman mengobrol.”

“Ide bagus anak muda.” Untuk pertama kalinya wajah lelaki itu menunjukkan tanda-tanda kehangatan. Dia tersenyum meski tidak secerah sinar mentari di musim panas.

Jonghyun juga tersenyum.

Mereka tidak mengerti. Sangat tidak mengerti. Jonghyun dan lelaki tua itu tidak gila atau menderita penyakit apa pun yang mereka katakan. Mereka hanyalah dua pria yang patah hati.

.

.

.

Jonghyun mencuci semua cangkir kotor di bak pencuci dan mengelap dinding-dinding dapur yang berminyak. Sudah lengket, noda minyak yang ditimbulkan gadis itu saat menggoreng ikan untuk mereka berdua. Beberapa bulan yang lalu.

Kamar tidurnya berantakan, jadi Jonghyun berusaha membereskan segala kekacauan itu. Baju-baju kotornya di masukkan ke mesin cuci. Selimutnya dilipat dan disusun rapi-rapi. Rak buku tidak beraturan, dia meluangkan waktu untuk menyusun buku-buku.

Novel-novel favorit gadis itu tertinggal di sana. Dia meminjamnya musim panas yang lalu tapi masih belum terselesaikan. Lagi pula gadis itu tidak mengungkit-ungkit soal barang-barangnya yang tertinggal saat mereka berpisah di salah satu malam di musim gugur kali itu.

Malam ini Jonghyun berusaha menyelesaikan membaca novel-novel itu hingga dia tertidur pulas dan bangun tepat waktu paginya. Dia siap bekerja setelah menyusun novel-novel itu kembali ke rak bukunya dan minum segelas teh hangat.

.

.

.

“Boleh aku duduk di sini?” Jonghyun mendongak dan menemukan lelaki tua patah hati itu membawa nampan dan berdiri di hadapannya. Jonghyun menggeser tubuhnya dan lelaki tua itu bergabung.

Mereka makan siang dengan tenang. Mengobrol dan terlihat akrab. Seperti kawan lama. Beberapa orang melirik ke meja mereka. Bertanya-tanya apa yang menghubungkan mereka hingga sedekat hari ini.

Jawabnya. Mereka adalah dua orang yang sedang berusaha membuka sebuah pintu, meski tanpa kunci.

.

.

.

Gadis remaja yang kehilangan kakinya itu bernama Sujin. Jonghyun mendorong pelan pintu kamar gadis itu. Sujin tengah duduk di atas ranjangnya, mendengarkan musik dari iPod-nya.

“Halo.” Jonghyun menyapa. Sujin melepaskan earphone dari telinganya dan mencoba duduk tegak. Mulanya mereka hanya duduk berhadapan saling membisu, tapi Jonghyun mulai mencairkan suasana dengan menanyakan kabar gadis itu.

“Aku melakukan sesuatu yang besar.” Sujin memberitahu.

“Apa? Boleh kutahu?”

Gadis itu menunjuk kanvas kecil di atas sofa di sudut ruangan, Jonghyun mengambilnya dan menemukan lukisan penuh warna di atas kanvas putih itu.

“Aku melukis sekarang.” Aku Sujin malu-malu. Jonghyun tercengang. “Memang awalnya sulit. Kehilangan apa yang begitu kucintai, tapi orang-orang di internet bilang; hidup mesti berlanjut. Aku tidak ingin membusuk Dok. Jadi aku berusaha menemukan hal-hal lain yang bisa membuatku merasakan cinta lagi.”

“Wow Sujin. Kau adalah gadis paling hebat yang pernah kutemui.”

Gadis itu tertawa pelan. “Dokter, kadang-kadang kita memang harus berhenti memperjuangkan sesuatu. Bukan karena kita lemah atau pengecut, tapi karena kita merelakan. Kita melanjutkan hidup.”

Dan hari itu Jonghyun memahami sesuatu. Bahagia tidak lah terpacu pada satu-satunya orang yang kita cintai atau yang kita harapkan.

.

.

.

Pagi ini sudah mulai turun salju. Anak-anak di rumah sakit kegirangan, meski mereka tidak akan mungkin diijinkan keluar rumah sakit untuk bermain bola salju. Semalam Jonghyun baru saja membaca buku motivator, di mana lewat buku itu dia mempelajari bahwa manusia harus menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan pada sekelilingnya.

Jadi Jonghyun menyulap sebuah ruangan kosong di rumah sakit menjadi ruang bermain yang menyenangkan, dipenuhi mainan anak-anak, ditempatkan sebuah piano di sana dan lukisan-lukisan yang dibuat Sujin.

Hari ini hari pertama turun salju. Orang-orang berbahagia. Lelaki tua yang kesepian itu ikut berbaur bersama penghuni rumah sakit. Jonghyun memperhatikan dari pojok ruangan. Sujin duduk di atas kursi roda dan membacakan cerita untuk anak-anak penderita leukimia.

“Dokter,” Sujin menjalankan kursi rodanya mendekat Jonghyun. “Aku tidak tahu kau semulia ini.” Punjinya polos, Jonghyun hampir terbahak.

“Terima kasih ya. Hari ini orang-orang sakit ini menyadari bahwa rumah sakit bukan lah tempat yang patut ditakuti, ada kebahagiaan di sini—jika kita saling berbagi.” Sujin berkata.

“Aku yang harus berterima kasih padamu Sujin. Aku belajar banyak darimu”—tentang merelakan dan menjadi bahagia.

Lelaki tua itu terlihat bahagia. Jonghyun melambai dan tersenyum padanya.

“Oh ya, berhubung ini salju pertama, kau bisa membuat permohonan apa saja, aku jamin semua permohonanmu akan dikabulkan.” Sujin berkata histeris.

“Sungguh, Sujin?”

“Sungguh, Dokter.”

Jonghyun memejamkan mata perlahan, membiarkan inderanya menikmati bau salju yang lembut, basah dan ramah. Nafasnya berembus pelan dan teratur.

Aku ingin bahagia. Bisakah?

.

.

.

 

Salju mulai mencair dan bunga-bunga mulai bermekaran. Harum bunga mulai tercium pagi ini. Jonghyun membuka jendela apartemen dan menyadari bahwa musim semi sudah datang. Tetangga sebelah melambai ramah padanya sambil menggendong bayi perempuan cantik yang juga tersenyum padanya.

Terdengar suara air mendidih dari dapur dan Jonghyun cepat-cepat membuat minuman untuknya. Kotak surat miliknya bersesakan, begitu banyak surat dan kartu-kartu ucapan selamat musim semi untuknya.

“Malam kemarin aku kehilangan dunia, dan kini aku memperoleh alam semesta. Selamat musim semi Dokter Lee. Aku merindukanmu.”

—Love, Sujin.

 

“Semua yang terjadi punya alasan, meski kadang alasan itu bukanlah yang ingin kau dengar. Jangan takut untuk merelakan kepergiannya, kau mungkin memang kehilangan sesuatu yang baik, tapi yakinlah kau akan dapatkan yang lebih baik daripada itu.”

—Kim Minhwan.

 

Jonghyun tersenyum membaca post-card dari dua orang itu. Sujin, gadis kecil itu sudah keluar dari rumah sakit setelah cukup pandai berjalan dengan kaki palsunya yang tampak sangat bagus. Lelaki tua yang Jonghyun temui di bangku taman itu, yang kini dia tahu namanya adalah Kim Minhwan, sudah meninggalkan rumah sakit, dan hatinya, jiwanya cukup sehat sekarang.

Bel apartemen berbunyi dan seorang kurir berdiri di sana, membawa bingkisan untuk Jonghyun.

Bingkisan dibuka dan sebuah lukisan bunga sakura yang berterbangan bersama angin tercetak indah di sana. Jonghyun tahu betul siapa yang melukis ini untuknya.

Im Yoona.

Kekasihnya, musim gugur tahun lalu.

Ada pesan di secarik kertas.

“Terima kasih untuk empat tahun yang aku habiskan bersamamu. Berbahagialah, karena aku juga bahagia di sini—untukmu.”

— Im Yoona

Im Yoona. kekasinya. Sahabatnya. Keluarganya. Satu-satunya yang dia inginkan dalam hidup.

Jonghyun memperhatikan lukisan pemberian gadis itu. Kelopak sakura berwarna merah muda berterbangan bebas, menjauh dari pohon.

Kau tahu apa yang Jonghyun pikirkan saat ini?

Seperti bunga sakura, tidak ada yang abadi. Semua datang dan pergi. Sedih dan bahagia adalah proses mutlak yang harus dilalui, karena pada kenyataannya kita akan belajar bagaimana caranya merelakan. Bagaimana caranya bahagia.

Saat ini Jonghyun yakin, dia benar-benar merelakan.

“Terima kasih, Yoona.”

.

.

.

Yoona menghembuskan nafas terakhirnya, sebulan setelah dia meninggalkan Jonghyun. Leukimia. Dan lelaki itu tak pernah mengetahuinya. Hingga lukisan itu datang dan seorang teman menunjukkan tempat peristirahatan terakhir gadis itu padanya.

Jonghyun menggunting bunga mawar penuh warna dari balkon apartemen gadis itu dan meletakkannya di atas tempat peristirahatan terakhir gadis itu. Berterima kasih untuk  kehadirannya selama empat musim gugur.

-the end-

I wasn’t interested about DeerBurning couple, but ppl like to talking about them. So i tried to find some pic from tumblr, and finally i feel in love with them. And let’s guess, maybe i’ll write some fanfic about this couple ;-;  hoho…

thanks for reading/commenting.

34 thoughts on “YESTERDAY WAS AUTUMN

  1. eh, aku ga tahu harus manggil apa, kak atau dek, well, aku 96 line dan mungkin kamu bisa memberitahu kamu kelahiran berapa, biar saling kenal gitu🙂
    well, serius deh gaya penulisan kamu cantik banget. ga berlebihan dan berat, tapi sampe ke hati. kurasa aku masih perlu belajar banyak untuk bisa sampe level ini.
    plot, moral value, dan feelnya juara banget. meski akhirnya sad ending aku ngerasa tetep indah aja, ada pelajaran disini.
    terimakasih untuk membuat kisah seindah ini. selamat datang juga di cherry blossom (ini fandom deerburning) paradise. ditunggu fic lainnya semoga ada yang happy ending ya, hehe.
    oh ya, salam kenal juga. aku daftar jadi fans kamu deh.
    ppyong!

    • haii ketemu lagi deh kita di sini. aku 96 line juga kok, panggil aja yeowon atau yen yen. aku juga bingung manggil kamu apa, should i call you quiteries?
      ayooo nulis, ntar aku bakalan baca kok hehe.
      terima kasih juga sudah membaca dan meninggalkan jejak untuk yang kesekian kalinya. dan terima kasih untuk sambutan hangatnya di cherry blossom paradise^^

      • Halo! you can call me Vira. actually, I am an author too, masih belajar juga sih. aku jadi freelancer kok disini dan ikut ffcontest juga, yg terakhir kukirim kesini ’Beautiful Dancer’ *nunjuk ke recent post* well, silakan direview dan dikritik kalo sempat😀

        see u on your next fic, yen yen~ nice to meet you! :3

  2. gak perlu dijelasin panjang lebar lagi ya, yg pasti sih aku selalu suka aura muram di ff kmu. kasih tau kalo ada FF baru ya yen😀
    btw itu lagu di intro yesterday the beatles ya?

  3. kyaaaaa author br jatuh cinta ma deerburning? author telat ihhhh. mereka udh byk moment yg tertangkap kan hehe. eh ga byk2 bgt sih hehe. mereka super amat serasi loh. hehe *ngomporin*
    aku suka bgt ma tulisannya. tergambar dr gaya bahasa author ga lebay tp ngena. udah ngira pst ada sesuatu knp bisa mereka putus pdhl saling cinta dan ternyata leukimia hiks.
    ayoooooo buat ff deerburning lagi tp yg happy ending dongsss
    ditunggu karya berikutnya

    • haii shirin. bukannya baru tau sekarang soal deerburning sih. taunya udah lama, cuma kurang tertarik aja, tapi kalo diliat-liat mereka cocok kok.
      sebenernya ini bukan sad ending sih, tergantung kalian mandangnya gimana. menurut saya ini happy ending, soalnya jonghyun berhasil keluar dari masa-masa terpuruknya.
      anyway thanks for read/commenting ^^

  4. sama seperti ff yang selalu auhtor buat, selalu ada pesan tersendiri dalam ceritanya.. Aku suka semua yang udh author tulis dan telah aku baca🙂 Ditunggu ya pesan lainnya di dalam ff berikutnya😀
    Oh iya, aku bilang ini sad ending, dan semoga msh ingat dengan saya. Setelah membaca Rythmic (maaf kalo salah tulis), saya jadi galau seharian, bahkan sampe sekarang… author, tanggu jawab! wkwkwk

  5. panggil aja vira🙂 well, actually I am an author too, aku juga jadi freelancer disini dan ikut ffcontest juga. yang paling terakhir kutulis Beautiful Dancer *nunjuk recent post* silakan di review dan dikritik, hehe.

    see un on your next ff, yenyen! semangat!😀

  6. “kadang-kadang kita memang harus berhenti memperjuangkan sesuatu. Bukan karena kita lemah atau pengecut, tapi karena kita merelakan. Kita melanjutkan hidup” paling suka kata kata ini
    ceritanya bermakna banget, banyak ngasih pelajaran :’)
    apalagi couple nya deerburning, yah walaupun sedih disini yoona meninggal tapi tetap suka banget sama ff ini🙂
    aaaaaa ditunggu ya ff deerburning yg selanjutnya, berharap ff selanjutnya happy ending ^^

  7. “kadang-kadang kita memang harus berhenti memperjuangkan sesuatu. Bukan karena kita lemah atau pengecut, tapi karena kita merelakan. Kita melanjutkan hidup” paling suka kata kata ini
    ceritanya bermakna banget, banyak ngasih pelajaran :’)
    apalagi couple nya deerburning!! aduh suka banget sama pairing ini ^^. yah walaupun sedih disini yoona meninggal tapi menurut ku cerita ini bisa dibilang happy ending🙂
    aaaaaa ditunggu ya ff deerburning yg selanjutnya, berharap ff selanjutnya gak ada yg meninggal hehe ^^

  8. tidak diragukan, aku selalu suka gaya penulisan mu…
    bahasanya bagus, alurnya pas dan feel nya dapet…
    keren…
    entah kapan aku bisa nulis sebagus kamu…
    keep writing ya. Aku selalu nunggu FF kamu lho…😀

  9. akhirnya baca jugaaaa…. maap ya baru sempet baca hihihhihi
    aduh mau komen apalagi nih … jadi bingung -_-
    ceritanya ???? seperti biasa … selalu ada kata” yg nusuk….
    gaya bahasanya ??? selalu aku suka….
    endingnya ???? selalu bikin galau orang hahahaha
    btw semangat nulis ff nyaaa🙂🙂😀😀

  10. Suka sama ffnya coz bnyk pljaran yg hrus di tiru….
    Q adl se2org yg sbnrnya sulit utk merelakan..
    Lht ini jd seperti diri sndiri…
    Hrus bs merelakan n belajar bahagia..
    Pembaca bru nie.
    Di tunggu ff selanjutnya

  11. aaaa km telat ih dek baru suka sm deerburning. mereka keren bgt loh. di soompi aja org sluruh dunia heboh gr2 mereka.hehehe
    aku suka bagian sakura-nya. Krn org2 di soompi bilang mereka ini sakura couple krn bbrp alasan, jd feel nya dapet bgt
    ini khas km bgt dek gaya penulisaanya. stlh baca, pasti bikin aku menghela nafas dan bilang ‘this is it’ *malah jadi kyk ala chef.hihihi

  12. Nyess!!! Meneteskan air mata dikalimat terakhir…. Ya ampun, ini ff rekomendasi seorang teman yg juga penyuka sad story walau aq seorang YoonWonited (YoonWon shipper) tp utk crita2 sad dan castny Yoona mngkn gk bakal aq lewatin…

    Suka bgt, gmn cra kmu menceritakan kehidupan nelangsa(?) Jonghyun, readers juga mendapat pelajaran dr ffmu ini… Keepwriting…. ^^

  13. Suka banget deh sama tulisannya .. Tata bahasanya bagus banget ..
    Sederhana tapi ngena ..
    Hanyut akan perasaan Jonghyun ..
    Jadi bisa ngerasain betapa dalamnya perasaan Jonghyun ke Yoona ..
    Suka banget ..🙂
    Terus berkarya .. Hwaiting !!

  14. Hello! I’m new reader disini hehehe🙂 udah baca FF nya bagus banget! Jonghyun jadi dokter :*
    Suka ngeliat ada sujin di ama bapak2 itu.. Bapak2 jadi nyadarin Jonghyun dan Sujin yang bikin Jonghyun jadi move on. Bagus banget!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s