Black Flower [Chapter 11]

black flower 3

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Choi Minho SHINee

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Krystal Jung f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Tiffany Hwang SNSD

Suzy Bae (Miss A)

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

9.15 AM

-Author’s POV-

“Drrrtt…!! Drrrtt…!!”

Suzy menggeliat malas. Getaran ponsel yang merambat melalui kasur dan terasa sampai ke tubuhnya membuatnya kembali ke alam sadar. Getaran itu tidak juga berhenti, seolah memaksanya untuk terbangun.

Gadis itu mengerang pelan, kemudian mengulurkan tangannya; mencari benda sumber getaran tersebut dengan mata yang masih terpejam. Setelah ponsel tersebut berhasil diraihnya, dengan enggan ia pun membuka mata─memeriksa siapa orang yang sudah seenaknya mengganggu tidurnya─dan menghempaskan ponsel itu kembali ke atas kasur ketika mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Eun Jung, rekan sejawatnya. Paling-paling hanya menanyakan kenapa ia belum juga datang ke kantor, dan ia terlalu malas untuk meladeninya.

Dengan berat hati Suzy mendudukkan badannya─karena telepon barusan berhasil membuat dirinya terjaga sepenuhnya. Tiba-tiba ia merasakan pusing menyerang kepalanya, membuatnya refleks menopangkan kepala pada sebelah tangan.

Suzy meringis pelan. Ini pasti hangover gara-gara ia minum semalam. Entah berapa banyak yang ia minum dan seberapa besar kadar alkoholnya, ia tidak ingat. Ia bahkan tidak ingat siapa yang mengantarkannya pulang ke rumah. Tapi ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Yang penting ia pulang dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun.

Dengan terseok-seok Suzy melangkahkan kakinya keluar kamar. Rasa pusing yang menderanya membuatnya meraba-raba dinding atau apapun yang bisa dijadikan tumpuan. Ia masih belum sanggup membuka mata, ditambah dengan pancaran sinar matahari yang menyusup lewat tirai tipis jendela kamarnya dan menembus tepat ke retinanya. Aroma kopi yang menyeruak masuk ke indera penciumannya membawanya menuju ruang makan; ruangan sumber aroma tersebut sekaligus satu-satunya ruangan yang terdengar tanda-tanda kehidupan.

“Kau sudah bangun?” sapa Krystal, yang tengah menyesap kopinya, begitu Suzy menghempaskan dirinya di kursi makan. Gadis itu mengangguk.

“Berapa banyak yang kau minum semalam?” tanyanya lagi.

“Entahlah…” desah Suzy. Itu bukan sesuatu yang harus diingat. Lagipula bagaimana bisa ingat jika ia mabuk?

“Kau… sedang ada masalah ya?” selidik Krystal. Tidak biasanya sahabatnya itu pulang dalam keadaan mabuk berat seperti semalam.

“Dimana roti gandumnya?” Suzy sengaja menghiraukan pertanyaan Krystal. Ia tahu gadis itu akan menanyakannya, dan ia sama sekali tidak ada niat untuk menjawab.

Krystal menyodorkan sebuah piring berisi dua lembar roti gandum yang mengapit telur mata sapi di tengahnya pada Suzy. Tampaknya gadis itu tidak ingin menanggapi pertanyaannya, jadi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, “Tadinya kukira kau bangun lebih siang, jadi kusimpan.”

Suzy mengunyah rotinya dalam diam. Selain ingin menghindar dari topik, rasa lapar juga membuatnya khusyuk menikmati sarapannya itu. Suasana hening selama beberapa saat.

“Ting! Tong!” tiba-tiba bel rumah Krystal berbunyi.

“Biar aku saja.” Krystal yang mengerti dengan kondisi Suzy segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju pintu. Suzy hanya mengangguk pelan.

Satu menit, dua menit… Krystal belum juga kembali ke ruang makan. Awalnya Suzy mengira yang datang adalah Minhyuk, yang memang setiap pagi rutin menjemput Krystal. Tapi sepertinya bukan. Tidak ada suara sama sekali setelah ia mendengar suara pintu ditutup.

Penasaran, Suzy pun beringsut dari tempat duduknya dan menyusul Krystal. Tampak gadis itu berdiri menghadap pintu membelakanginya. Sepertinya ia sedang mengamati sesuatu.

“Ada apa?” tanya Suzy.

Krystal langsung membalikkan badannya, “Tidak ada apa-apa.” Sekilas wajahnya terlihat gugup. Ia lalu buru-buru berjalan meninggalkan Suzy.

“Lalu apa itu di tanganmu?” sekilas tadi, Suzy memang melihat Krystal memegang sesuatu sebelum gadis itu berusaha menyembunyikannya. Dan jika penglihatannya tidak salah, yang dipegangnya adalah sepucuk surat dan setangkai mawar hitam.

“Bukan apa-apa.” Jawab Krystal menutupi.

Suzy mengernyitkan dahi. Orang aneh mana yang mengirimkan surat cinta beserta mawar hitam di pagi hari? Kuno sekali. Apa Minhyuk yang mengirimkannya? Tapi rasanya tidak mungkin. Memangnya seberapa jauh jarak rumah Krystal dengan rumah Minhyuk hingga harus mengirimkan surat segala? Mereka bahkan bertemu setiap hari.

Suzy memutuskan untuk mengikuti Krystal kembali ke maja makan dan duduk di posisinya semula. Sesekali ia mencuri pandang ke arah surat yang diletakkan Krystal tepat di sebelah piringnya. Ia masih merasa penasaran. Ketika gadis itu lengah, dengan cepat ia pun menyambar surat itu.

“Suzy-ah, kembalikan!” seru Krystal. Ia menggapai-gapai tangannya, berusaha merebut kembali kertas itu dari Suzy, tapi dengan sengaja Suzy menjauhkannya hingga di luar jangkauan tangan Krystal agar gadis itu tidak bisa mengambilnya.

Ternyata surat itu hanya berupa secarik kertas yang dilipat dua. Ia pun membukanya. Tidak ada apapun di dalamnya selain dua baris kalimat yang ditulis dengan tinta merah;

‘Kuharap kau masih menghiraukan peringatanku, Jung uisanim. Kudengar karirmu sangat baik. Jangan lupa, aku bisa membalikkannya semudah aku membalikkan telapak tangan.’

Lagi-lagi dahi Suzy mengernyit. Kalimat bernada mengancam yang sama sekali tidak dimengertinya. Ia lalu membalikkan kertas tersebut, dan ternyata ada tulisan lagi.

‘To: Miss Suzy Bae

Thank you for last night.’

Mata Suzy membulat. Ingatannya lalu melayang ke kejadian semalam sebelum ia mabuk. Tidak ada orang lain yang ditemuinya selain orang itu. Mungkinkah ini….

“Choi Minho.” desisnya pelan.

Krystal memandang Suzy heran, “Bagaimana kau─”

“Surat ini benar-benar ditujukan untukmu?” potong Suzy sambil menunjukkan kertas itu dihadapan Krystal.

“…Kurasa begitu…”

“Surat ini ditujukan untukku juga.” Suzy menyodorkan kertas itu pada Krystal dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas tulisan yang tertera di atasnya, “Disini tertulis namaku.”

“Bagaimana kau kenal Choi Minho?” tanyanya lagi.

“Bagaimana kau kenal Choi Minho?” ulang Krystal.

Suzy mendengus, “Aku pengacaranya.”

“Mwo?!” Krystal menggeleng tidak percaya, “Kau bercanda.”

“Apa wajahku kelihatan sedang bercanda?”

“Bagaimana bisa?!”

“Jawab dulu pertanyaanku, Jung uisanim.”

Krystal menghela napas panjang, “Itu surat ancaman. Dia menerorku karena tidak ingin aku melaporkan kesaksianku pada polisi. Bukan sekali ini saja ia mengirimkan itu padaku.”

“Memang apa hubunganmu dengannya?”

“Dia mantan pasienku, Suzy-ah! Kau masih belum mengerti juga?! Aku yang mengoperasi wajah Cho Kyuhyun menjadi Choi Minho yang kau kenal sekarang!” jelas Krystal menggebu-gebu. Sejak Suzy menyatakan bahwa ia adalah pengacara Choi Minho, rasa panas langsung menjalar di sekujur tubuh Krystal. Ia marah, sekaligus tidak percaya. Statusnya sekarang bisa dikatakan sebagai saksi yang membantu mengungkap kejahatan seorang Cho Kyuhyun atau Choi Minho atau siapalah namanya, dan sahabatnya itu malah memposisikan diri sebagai pembela.

Suzy tercekat. Ia sama sekali tidak menyangka jika Krystal juga punya keterkaitan dengan Choi Minho. Begitu mendengar bahwa Minho meneror Krystal, tadinya ia ingin mengatakan pada Minho untuk menghentikannya. Tapi jika ia melakukan itu, maka Krystal akan menyampaikan kesaksiannya dan menambah satu bukti kejahatan Minho. Itu bisa memperburuk posisinya. Ia bisa kalah saat pengadilan nanti dan ia tidak begitu suka kekalahan.

Kedua gadis itu sama-sama terdiam, sadar dengan posisi mereka yang─untuk kasus ini─bertentangan. Diam-diam Krystal berharap Suzy membatalkan kesepakatannya dengan Minho, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Semua sudah terjadi. Ia ingat waktu itu Choi Minho pernah mengirimkan data-data permohonan klien ke rumahnya dan tidak menyangka jika Suzy akan menerimanya.

“Aku tahu kita bertentangan sekarang. Tapi ini hanya dalam kasus Choi Minho. Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Krystal mendecak. Bukankah keadaan ini menjadi aneh dan menyulitkan Suzy sendiri? Ia tahu apa yang dilakukan Minho padanya tapi masih harus tetap membelanya. Krystal benar-benar tidak mengerti.

“Terserah kau sajalah.” Krystal menyambar sling bag-nya dan bangkit dari tempat duduknya, bermaksud untuk berangkat kerja. Kebetulan Minhyuk sudah menunggunya di luar dan berdebat lama-lama dengan gadis itu hanyalah sesuatu yang sia-sia saja.

Sepeninggal Krystal, Suzy memperhatikan kertas itu sekali lagi kemudian meremasnya kuat-kuat. Minho pasti tahu sebelumnya kalau ia adalah sahabat Krystal ketika mengirimkan data-data ke tempat ini, tapi malah sengaja mengirimkan sepucuk surat untuk keduanya sekaligus seolah ingin mengadu domba. Benar-benar orang yang licik. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Semuanya sudah terlanjur. Minho seolah memaksanya membuang jauh-jauh rasa persahabatannya untuk memenangkan kasus ini.

Rahang Suzy mengeras. Apapun yang terjadi, ia tidak bisa lagi mundur.

***

“Ada apa?” tanya Minhyuk begitu Krystal selesai memasang seat belt-nya. Dari tadi ia terus memperhatikan wajah gadis itu yang tampak masam semenjak keluar dari rumahnya.

Krystal mendengus, “Kau tahu? Suzy baru saja mengatakan padaku bahwa dia adalah pengacara Choi Minho.”

Minhyuk terbelalak, “Benarkah?? Tapi…”

“Yah, aku tahu. Keadaan jadi semakin sulit sekarang.” Desah Krystal, “Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Bukankah ini artinya dia akan berhadapan dengan detektif Jung Yonghwa? Dia yang menangani kasus ini kan?”

“Bisa terbaca.” Gumam Minhyuk, “Kemungkinan besar dia patah hati. Dan jika benar begitu, itu adalah sesuatu yang merugikan bagi dia sendiri.”

Krystal membetulkan posisi duduknya dan menatap Minhyuk, “Kenapa?”

“Keputusan apapun yang diambil ketika seseorang sedang dalam keadaan marah tidak akan pernah baik.” Jelas Minhyuk, “Tapi kurasa Suzy tidak se-kekanakan itu. Bisa jadi dia sudah mempertimbangkan segalanya dengan matang.”

Krystal menggeleng, “Aku tidak percaya.”

“Yah, kita lihat saja nanti.” Minhyuk men-stater mobilnya, bersiap untuk mengantar gadisnya itu ke rumah sakit tempat ia dan dirinya bekerja, “Tapi itu tetap tidak mengubah keputusanmu kan?”

Kali ini Krystal menggeleng mantap, “Tentu saja tidak.”

***

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

1.15 PM

-Lee Jonghyun’s POV-

Begitu meninggalkan ruangan Jaksa Park, aku langsung bergegas menuju mobilku. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi ke apartemen Tiffany, menemukannya sedang membaca buku sambil menikmati secangkir kopi hangat di ruang tengahnya, mendekapnya erat-erat lalu hidup bahagia selama-lamanya―well, tidak seperti itu juga sih, yang penting bukan di kantor polisi dan bukan tersangka.

Entahlah. Pikiranku terlalu kalut. Aku perlu menenangkan diri dan mobil inilah yang langsung terlintas di otakku. Kutarik napas dalam-dalam, dan dapat kurasakan aroma tubuh Tiffany masih tersisa di mobil ini. Dalam situasi seperti sekarang ini, aku tidak tahu ini adalah berkah atau kutukan. Aku merindukannya. Dan itu menyiksaku. Sangat.

Kucoba untuk menjernihkan pikiranku selama beberapa saat. Dari semua hipotesis awal yang kubuat, yang paling mungkin adalah ada seseorang yang menjebak Tiffany… atau setidaknya memaksanya untuk mengaku sebagai otak pembunuhan Choi Siwon.

Tidak mungkin Tiffanyku adalah otak dari kasus pembunuhan. Lagipula, hey, kalau memang dia yang menyuruh Kyuhyun untuk membunuh Choi Siwon, untuk apa dia menyerahkan diri ke polisi segala? Bahkan untuk membunuh saja ia menyuruh orang lain agar tidak tertangkap. Tidak mungkin kan dia sendiri yang menyerahkan dirinya begitu saja? Terlalu tidak masuk akal.

Kuputuskan untuk mempercayai kemungkinan itu. Pasti ada seseorang yang menjebak Tiffany. Sekarang aku hanya perlu mencari bukti untuk membenarkan kemungkinan itu. Kuputar otakku lebih keras lagi, mencari kepingan-kepingan petunjuk yang mungkin bisa kudapat.

Ah! Bodohnya aku! Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Selama ini ia sudah memberi kode padaku. ‘Selamat tinggal’? Kode pintu apartemennya? Ia pasti tahu kalau akan terjadi sesuatu hari ini. Dan ia ingin aku memecahkan kode yang diberikannya padaku.

Sekarang aku tahu kemana aku harus mencari petunjuk. Segera kunyalakan mesin mobilku dan membawanya menuju apartemen Tiffany. Ia pasti meninggalkan sesuatu disana.

***

“0-5-1-5”

Begitu berhasil membuka pintu apartemen Tiffany, aku segera menyusuri seluruh penjuru apartemennya, menelusuri dengan teliti setiap inci dari tempat itu untuk mencari benda apapun itu yang mungkin saja adalah petunjuk yang ditinggalkan Tiffany. Mulai dari pintu depan, ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar mandi, tidak ada tanda-tanda apapun yang mencurigakan. Semuanya terlihat normal.

Hanya ada satu ruangan yang belum aku masuki. Kamar tidur Tiffany.

Saat kubuka pintu kamarnya, setangkai mawar hitam yang tergeletak di atas tempat tidurnya menarik perhatianku. Tunggu dulu. Mawar hitam? Mungkinkah…dalang dari semua ini adalah…Cho Kyuhyun?

Aku berjalan mendekati tempat tidur itu, kemudian duduk di salah satu sisinya. Di sekitar mawar hitam itu ada ponsel Tiffany dan selembar kertas berwarna putih gading yang permukaannya sedikit kasar di beberapa titik, seperti habis terkena tetesan air. Kuputuskan untuk membaca apa yang tertulis di kertas itu terlebih dahulu.

Kubaca dengan seksama apa yang tertulis disana; kata per kata tanpa ada satupun yang terlewat. Tawaku langsung pecah begitu melihat apa isinya.

“Tsk! Kau kira aku akan membiarkanmu mendekam dalam tahanan? Kau kira aku akan membiarkan hari-hariku berlalu tanpa dirimu? Mengeluarkanmu dari tempat yang semestinya tidak kau masuki itu bukanlah hal yang sulit untuk kulakukan. Well, pemikiran yang sangat tidak cerdas, Tiffany Hwang,” kataku pada diri sendiri. Aku yakin, kalau ada orang lain yang melihatku bicara sendiri dengan suara yang terdengar sangat frustasi seperti ini, orang itu pasti mengira aku sedang stress berat―atau bahkan hampir gila. Yah, kurasa itu ada benarnya.

Kusimpan kertas itu ke dalam dompetku, kemudian kukeluarkan ponsel dari saku celanaku. Mawar hitam. Yonghwa hyung harus segera mengetahuinya.

“Hyung!” suaraku terdengar setengah berteriak begitu ia menjawab teleponku. “Eodiya?

“Di kantor. Ada apa?”

Sempurna. “Apa mereka menyuruhmu untuk melakukan penyelidikan terhadap Tiffany?”

“Hmm…begitulah,” gumam Yonghwa hyung.

“Begini. Aku tidak mau berbasa-basi denganmu, hyung,” kataku to the point, “aku menemukan mawar hitam di apartemen Tiffany. Bisakah kau segera kesini?”

“Mworago?” Yonghwa hyung terdengar terkejut.

“Akan kukirimkan alamatnya padamu. Jom itta bwa!

***

“Kenapa lama sekali, hyung?” tanyaku saat membukakan pintu untuk Yonghwa hyung.

Yonghwa hyung memutar bola matanya. “Aku harus menunggu surat perintah penggeledahannya. Kau lupa?”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Ah, benar juga.”

Kami berdua pun langsung memasuki kamar Tiffany. Aku menunjukkan benda-benda itu padanya; mawar hitam, sebuah kartu ucapan, dan ponsel Tiffany.

Setelah mengenakan sarung tangan, Yonghwa hyung mengambil mawar hitam itu dan langsung memasukkannya ke dalam plastik khusus yang digunakan dalam penyelidikan kepolisian. Lalu ia mengambil kartu ucapan itu dan membaca isinya terlebih dahulu.

“Jonghyun-ah. Kau lihat ini?” Yonghwa hyung menunjukkan apa yang tertulis di dalam kartu ucapan itu padaku.

Kalau kau masih berani mengganggu hidupku dengan penyidikan sialanmu itu, membunuhmu bukanlah hal yang sulit untuk kulakukan.

Penyidikan? Mengganggu hidup siapa? Membunuh apa? Siapa? Aku? Yonghwa hyung?

Aku bertukar pandang dengan Yonghwa hyung. “Menurut hyung, ini ditujukan untuk siapa?” tanyaku.

Yonghwa hyung mengedikkan bahu. “Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa kaitan kartu itu dengan Tiffany. Dan juga mawar itu.”

Ia kemudian memasukkan kartu itu ke dalam plastik lainnya. Saat ia hendak mengambil ponsel Tiffany, ternyata ada secarik post-it yang ditempel di bagian belakangnya.

Shim Changmin. Dan itu tulisan tangan Tiffany.

Siapa itu Shim Changmin? Kenapa Tiffany menuliskan namanya dan menempelkannya di ponselnya?

“Hyung, menurutmu apa maksudnya itu?” aku menunjukkan post-it itu pada Yonghwa hyung.

Ia terkekeh. “Entahlah. Mungkin itu nama pria simpanannya.”

“Hyung!” protesku. “Itu tidak lucu!” Bisa-bisanya ia bercanda keterlaluan seperti itu di saat genting seperti ini.

Arasseo arasseo…mian.” Ia berdeham, “mungkin ada kaitannya dengan sesuatu di ponsel itu. Aku akan membawa semua barang-barang ini kemudian menginvestigasinya langsung dengan Tiffany.”

Arasseo, hyung. Aku mengandalkanmu,” ujarku. “Ah, cham. Berarti kau akan bertemu Tiffany kan? Boleh aku menitipkan sesuatu untuknya?”

Kulihat Yonghwa hyung mendengus. “Baiklah.”

Mendengar jawaban positif dari Yonghwa hyung, aku buru-buru ke dapur Tiffany untuk mengeluarkan daging yang tadi kutemukan di dalam freezer, dan peralatan dapur lainnya untuk memasak.

Hey! Apa yang kau lakukan?” tanya Yonghwa hyung heran.

“Aku mau memasakkan gyudon untuknya. Berani bertaruh, ia pasti tidak suka masakan di kantor polisi. Buktinya saja kau selalu makan siang di luar, hyung,” aku menyenggol bahu Yonghwa hyung yang dibalas dengan sorot matanya yang seolah berkata ‘tidak usah bawa-bawa aku dan cepat selesaikan pekerjaanmu’.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memasak dan mengemas makanan yang telah kusiapkan untuk Tiffany.

Kuputuskan untuk mengantar Yonghwa hyung ke mobilnya sebelum kembali ke mobilku sendiri.

“Hyung,” panggilku sebelum ia menutup pintu mobilnya. “Katakan pada Tiffany, ia bisa mempercayaimu. Ia bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya padamu.”

Dahinya mengernyit. “Maksudmu?”

“Aku yakin ia tidak bersalah. Dan aku yakin pasti ada hal-hal yang tidak bisa diceritakannya langsung padaku. Karena itu, kumohon padamu, hyung. Buat ia menjelaskan semuanya padamu.”

Yonghwa hyung terdiam sejenak sebelum akhirnya setuju. “Baiklah. Akan kusampaikan itu padanya.” Ia kemudian mengulurkan tangannya dan menepuk pelan pundakku. “Himnae, Jonghyun-ah.”

Ah, Yonghwa hyung. Ia memang orang yang selalu bisa kuandalkan.

Ia kemudian menutup pintu mobilnya dan dalam beberapa detik mobilnya sudah hilang dari pandanganku. Kuputuskan untuk kembali ke mobil dan langsung pulang ke rumah, tanpa mampir ke kantor terlebih dahulu. Hari ini aku merasa lelah sekali. Sepertinya pulang lebih awal untuk menenangkan diri tidak ada salahnya. Benar, kan?

***

 

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

2.45 PM

-Author’s POV-

Tiffany menolehkan kepalanya begitu mendengar suara pintu ruang interogasi itu dibuka. Dilihatnya Detektif Jung melangkah masuk ke ruangan itu dengan sebuah lunch box di tangan kanannya dan kantong plastik di tangan kirinya.

“Kuharap kau sedang lapar sekarang,” katanya pada gadis itu saat ia mendudukkan dirinya di kursi di balik meja di hadapan Tiffany. “Aku membawakan gyudon untukmu. Kau pasti suka.” Yonghwa meletakkan lunch box itu diatas meja dan menyodorkannya pada Tiffany.

Tiffany mengambil lunch box itu kemudian tersenyum tipis. “Terima kasih, Detektif Jung.”

“Yonghwa,” ralatnya, “panggil aku Yonghwa. Detektif Jung terkesan terlalu…kaku.” Yonghwa mencoba mengakrabkan diri dengan Tiffany. Wajar saja, dalam hal ini Tiffany adalah kekasih Jonghyun yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Terlebih lagi, Jonghyun berpesan padanya untuk membuat Tiffany percaya padanya dan menceritakan hal yang sebenarnya. Untuk melakukan itu, tentu saja ia harus mencapai level keakraban dan kenyamanan tertentu terhadap satu sama lain, begitu pikir Yonghwa.

“Terima kasih, Yonghwa,” ralat Tiffany kemudian.

Tiffany memperhatikan lunch box berwarna biru muda itu selama beberapa saat. “Ng… Yonghwa-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Hmm?” gumam Yonghwa.

“Sepertinya lunch box ini tidak asing. Apa―”

Belum sempat Tiffany menyelesaikan kata-katanya, Yonghwa keburu memotongnya seolah mengerti. “Ah. Itu memang milikmu.”

Spontan Tiffany menatap Yonghwa dengan tatapan mata yang seolah bertanya ‘bagaimana bisa ini ada di tanganmu?

“Kau tahu kan, aku tadi melakukan penggeledahan di rumahmu…”

“Lalu?”

“Jonghyun ada disana.” Yonghwa sengaja menggantungkan kalimatnya, menunggu reaksi Tiffany. Gadis itu tampak tidak terlalu terkejut. Sepertinya ia memang sudah menduga bahwa Jonghyun akan berada disana, pikir Yonghwa.

Yonghwa kemudian melanjutkan ceritanya. “Well, sebenarnya ia yang menyuruhku datang ke apartemenmu dan melakukan penggeledahan disana. Setelah menyita barang-barang yang kurasa perlu untuk dimintai keteranganmu,” ia mengedikkan kepalanya ke kantong plastik yang ada di atas meja diantara kursi mereka, “ia menitipkan gyudon ini untukmu. Ia bilang kau mungkin tidak menyukai makanan yang disediakan kantor polisi, makanya ia membuatkannya sendiri untukmu.”

Tiffany menatap makanan di hadapannya itu dengan mata berkaca-kaca. Perasaan terharu karena Jonghyun masih sempat memikirkan dirinya bercampur dengan perasaan bersalah karena telah meninggalkan lelaki yang dicintainya itu.

Yonghwa yang melihat Tiffany hampir menangis di hadapannya mencoba mencairkan suasana ruangan itu yang tiba-tiba menjadi canggung. “Makanlah dulu, Tiffany-ssi. Kita bisa memulai interogasinya nanti.”

Tiffany mulai mengambil sumpit dan menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia sangat hafal rasa masakan ini―ia sudah sangat hafal rasa makanan buatan Jonghyun. Sesekali ia menyeka air mata yang menumpuk di pelupuk matanya agar tidak terjatuh ke makanan kesukaannya itu.

Diam-diam Yonghwa mengamati gadis yang sedang menyantap makanannya itu. Dilihatnya Tiffany yang menyeka air matanya sesekali sambil tersenyum. Entahlah, mungkin ia teringat Jonghyun, pikir Yonghwa.  Ia bisa melihat bahwa gadis itu benar-benar mencintai Jonghyun, dan ia juga tahu bahwa Jonghyun juga sangat mencintai gadis itu―seperti yang selalu diceritakannya pada Yonghwa.

Melihat bagaimana Jonghyun dan Tiffany saling mencintai, dalam hatinya ia merasa bersyukur―lega―karena Jonghyun akhirnya telah menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Ia masih ingat beberapa tahun yang lalu, Jonghyun sering kali bercerita padanya bahwa kekasihnya memutuskan hubungan secara sepihak tanpa ia mengerti alasannya. Dan sekarang ia ikut merasa bahagia karena adiknya itu akhirnya telah menemukan seseorang yang tepat.

Ia juga jadi teringat dengan Joohyun, kekasihnya. Ia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan rasa syukurnya karena gadis itu telah kembali lagi padanya. Dalam hati ia berjanji pada dirinya sendiri―seolah termotivasi dengan apa yang terjadi pada Jonghyun dan Tiffany―bahwa ia akan melindungi Joohyun, apapun yang terjadi.

“Yonghwa-ssi?”

Yonghwa mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya. “Ah, kau sudah selesai?”

Tiffany mengangguk. Peralatan makannya telah ia bereskan dan diletakkan di bawah kursinya.

Yonghwa berdeham. “Well, nona Stephanie Hwang, apa kau sudah siap untuk diinterogasi?”

***

Setelah sebelumnya menjelaskan kepada Tiffany tentang hak-haknya sebagai tersangka, Yonghwa pun mulai menginterogasi gadis itu.

“Sebelum meminta keteranganmu tentang barang-barang yang kutemukan di apartemenmu, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu,” ujar Yonghwa.

“Akan lebih menguntungkan bagimu apabila kau bersikap kooperatif dan menceritakan yang sebenarnya. Kau mengerti kan, nona Hwang?”

Tiffany mengangguk paham.

“Dan satu lagi,” Yonghwa memperingatkan, “Jonghyun tidak akan berhenti berusaha untuk mengeluarkanmu dari tahanan. Baginya, mengeluarkanmu dari sini hanyalah semudah membalikkan telapak tangan.”

Mendengar ucapan Yonghwa tadi, tenggorokan Tiffany serasa tercekat. Sekarang ia mulai ragu apakah ia harus tetap menjadi tersangka sesuai dengan perjanjiannya dengan Changmin, atau menceritakan yang sebenarnya kepada Yonghwa.

Tiffany sadar, cepat atau lambat Jonghyun memang akan menguak semua kebenarannya―apalagi ditambah fakta bahwa dirinya juga meninggalkan petunjuk untuk Jonghyun. Tetapi ia juga masih ragu apakah Changmin akan mengawasinya sampai sejauh ini. Apabila ia mengambil langkah yang tidak tepat, maka nyawa Jonghyun yang akan jadi taruhannya. Dan ia tidak mau itu terjadi.

“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Yonghwa, menyadarkan Tiffany yang sedari tadi tenggelam dalam pikirannya.

“Ya, detektif,” jawab Tiffany tegas.

Yonghwa mengeluarkan beberapa benda dari kantong plastik di atas meja itu; mawar hitam dan sebuah kartu ucapan.

“Apa kau mengetahui kedua benda ini, nona Hwang?” Yonghwa memulai interogasinya.

Tiffany mengiyakan dengan sebuah anggukan. “Aku mengambilnya di depan pintu apartemen Jonghyun tadi malam.”

Yonghwa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dari gadis itu. “Bisa kau ceritakan mengapa akhirnya kau mengambil benda-benda itu dan mengapa benda itu bisa ada di depan pintu apartemen Jonghyun?”

Tiffany mulai menimbang-nimbang lagi apa ia perlu menceritakan semua―semuanya, bahkan fakta bahwa Kyuhyun adalah Minho―yang ia tahu kepada Yonghwa. Ia tidak mau melakukan hal gegabah yang pada akhirnya akan menjadi boomerang baginya.

Bukannya menjawab, Tiffany malah balik bertanya kepada Yonghwa. “Boleh aku tahu, apa yang akan kudapatkan kalau aku bersikap kooperatif denganmu?”

Kali ini Yonghwa benar-benar terkejut. Gadis ini cerdas, pikirnya. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab, “tergantung seberapa kooperatif dirimu dalam kasus ini.”

“Hmm…” gumam Tiffany, “kalau aku bisa memberitahumu dimana Cho Kyuhyun berada, seberapa besar keuntungan yang akan aku dapatkan?”

Yonghwa mengumpat dalam hati. Ternyata gadis ini memang bukan gadis sembarangan. Bisa dibilang ia adalah kunci untuk membuka kotak misteri pembunuhan Choi Siwon. Dan siapapun itu yang mengirimkannya kesini―ke kantor polisi―baru saja melakukan satu langkah yang amat fatal.

“Kau bisa bebas,” jawab Yonghwa akhirnya. “Kau bisa bebas kalau kau terbukti tidak memiliki kaitan dengan kasus ini.”

“Aku memang tidak ada kaitannya dengan semua ini,” aku Tiffany akhirnya. “Aku bisa membuktikan bahwa aku tidak ada kaitannya dengan kasus ini. Jadi aku juga tahu kalau aku akan bebas.”

Yonghwa membiarkan mulutnya terbuka selama beberapa detik―efek dari shock yang ia alami saat ini. Jelas saja, seseorang yang membuat Tiffany seolah-olah adalah otak dari kasus pembunuhan ini baru saja menggali liang kuburnya sendiri.

Setelah mengumpulkan kesadarannya, Yonghwa bertanya lagi. “Akan kupikirkan apa yang bisa kuberikan untukmu nanti. Tapi untuk sekarang, bisakah kau menjelaskan padaku apa maksud perkataanmu tadi?”

They didn’t call you a detective for nothing, huh?” Tiffany menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab  pertanyaan Yonghwa.

Well, seperti yang sudah kau tangkap dari kata-kataku barusan, aku memang tidak ada kaitannya dengan kasus ini. Dengan kata lain, ini semua konspirasi. Orang yang merupakan otak sebenarnya dari pembunuhan Choi Siwon, orang yang menyuruh Kyuhyun untuk membunuh Siwon, adalah Shim Changmin.”

Shim Changmin?” gumam Yonghwa dalam hati. Shim Changmin adalah nama yang tertulis di post-it di belakang ponsel Tiffany.

“Shim Changmin memaksaku untuk mengaku sebagai otak pembunuhan itu, dengan mencancam akan membunuh Jonghyun karena terus menyelidiki kasus ini. Kau bisa melihat sendiri buktinya.” Tiffany mengedikkan kepalanya pada mawar hitam dan kartu ucapan yang ada di atas meja itu.

Akhirnya Yonghwa tahu bahwa kartu ucapan yang ada di tangannya sekarang ini sebenarnya adalah surat ancaman untuk Jonghyun. “Lalu mawar hitam ini? Apa Shim Changmin ada kaitannya dengan Cho Kyuhyun?” Yonghwa teringat akan mawar hitam yang dipesan Kyuhyun kepada Seohyun.

Tiffany mengangguk. “Bisa dibilang, Changmin adalah satu-satunya orang yang bisa mempengaruhi Kyuhyun.”

Ia kemudian melanjutkan ceritanya. “Melihat surat ancaman itu di depan apartemen Jonghyun, aku tidak mau ambil resiko. Aku langsung menyetujui untuk mengaku sebagai otak pembunuhan itu dengan bukti-bukti palsu yang sudah disiapkan oleh Changmin, dengan syarat ia tidak akan mengganggu hidup Jonghyun.”

“Bukti-bukti palsu itu terlihat sangat meyakinkan,” gumam Yonghwa.

Tiffany terkekeh. “You have no idea what he is capable of doing.”

“Jadi, demi melindungi Jonghyun, kau―”

Seolah bisa membaca pikiran Yonghwa, Tiffany menjawab, “Ya. Demi melindungi Jonghyun, disinilah aku sekarang.”

Yonghwa mengangguk tanda mengerti. “Lalu, apa kau tidak takut kalau suatu saat Changmin mengetahui dirimu menceritakan yang sebenarnya padaku, dan malah mencelakakan Jonghyun nantinya?”

“Justru itulah yang daritadi kutanyakan padamu, Detektif Jung. Kalau aku bersikap kooperatif dengan kepolisian, apa kalian mau melindungi Jonghyun dari tangan dingin Changmin?”

“Tentu saja,” jawab Yonghwa tanpa pikir panjang. “Kau tahu Jonghyun sudah seperti adikku sendiri. Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya.”

So, I guess I got myself a deal?

“Tunggu.” Yonghwa mencoba mengklarifikasi semua informasi yang didapatnya hari ini. “Pelaku pembunuhan itu benar Cho Kyuhyun. Tetapi otak sebenarnya adalah Shim Changmin. Lalu Shim Changmin mengancam akan membunuh Jonghyun apabila ia meneruskan penyidikannya. Karena itu kau membuat kompromi dengan Changmin untuk melindungi Jonghyun. Changmin menyuruhmu untuk mengaku sebagai otak pembunuhan itu dan menyiapkan bukti-bukti palsu agar pihak kepolisian percaya bahwa kau benar-benar terlibat dalam pembunuhan itu.”

“Benar.”

“Ada satu hal lagi yang aku tidak mengerti.” Yonghwa mengeluarkan ponsel Tiffany dari kantong plastik berisi benda-benda sitaannya. “Mengapa ada nama Shim Changmin di belakang ponselmu?”

“Ah, itu.” Tiffany melipat kedua lengannya di depan dada. “Aku sengaja meninggalkan itu sebagai petunjuk. Siapa tahu saja kalian akan berpikiran untuk mencari nama Shim Changmin di log ponselku dan mencari rekaman percakapanku dengannya,” ia kemudian menggumam pelan, “ng… seandainya itu mungkin dilakukan, sih.”

Yonghwa mencoba menerka-nerka. “Maksudmu, kalau aku bisa mencari bukti percakapanmu dengan Changmin saat ia mengancam untuk membunuh Jonghyun dan memaksamu untuk mengaku sebagai otak pembunuhan ini―”

“Itu bisa menjadi bukti bahwa aku tidak terlibat dalam pembunuhan itu… dan Changmin-lah dalang dibalik ini semua,” potong Tiffany.

“Bingo,” gumam Yonghwa. “Tapi masalahnya, aku tetap harus mencari dimana Cho Kyuhyun berada.”

Tiffany tersenyum sekilas. “Kau punya kertas dan pena?”

Yonghwa langsung mengambil notes yang ada di saku celananya dan sebuah pena yang digantungkan di saku kemejanya. Ia kemudian menyodorkan kedua benda itu kepada Tiffany. Dilihatnya Tiffany menuliskan nama seseorang diatas kertas itu. Setelah selesai, Tiffany menyerahkan notes itu kembali kepada Yonghwa.

Dibacanya apa yang tertera di kertas itu. “Dokter Krystal Jung, spesialis bedah plastik. Seoul National University Hospital.”

Yonghwa menatap Tiffany, menuntut penjelasan lebih lanjut dari gadis itu. “Apa ini?”

“Dialah orang yang mengetahui dimana Kyuhyun sebenarnya,” jelas Tiffany.

“Kenapa kau tidak memberitahukannya langsung padaku?” protes Yonghwa.

Tiffany mengubah posisi duduknya dan menegakkan badannya. “Akan kuberitahukan setiap detailnya padamu…” ia sengaja menggantungkan kalimatnya, “setelah aku menerima surat pembebasanku dari status tersangka.”

Dengan posisi Tiffany yang memang tidak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan itu, ia memang akan dibebaskan dan dilepaskan dari statusnya sebagai tersangka. Hanya saja, proses yang harus dilakukan bisa memakan waktu beberapa jam. Belum lagi, ia harus membuat berita acara interogasi hari ini―yang tentu saja sama sekali belum dibuat oleh Yonghwa sebagai interogator―untuk bisa mengajukan pembebasan tersangka. Sedangkan dirinya, detik itu juga, sudah benar-benar gemas untuk mengetahui dimana Cho Kyuhyun sebenarnya. Mau tak mau Yonghwa masih harus bersabar selama beberapa jam kedepan.

Yonghwa menarik napas panjang sebelum mengakhiri interogasinya. “Baiklah. Bukti-bukti yang ada sangat kuat menunjukkan bahwa kau tidak bersalah. Kuharap kau mau sedikit bersabar menunggu surat pembebasanmu.”

Sudut-sudut bibir Tiffany terangkat, membentuk sebuah senyum di wajahnya. “Terima kasih, Yonghwa-ssi.”

Yonghwa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Tiffany, yang disambut hangat oleh gadis itu. Setelah itu keduanya pun berpamitan dan hendak meninggalkan ruangan itu. Tapi, tepat saat Yonghwa hendak membuka pintu, suara Tiffany yang memanggilnya seolah mencegatnya.

“Yonghwa-ssi!”

Tanpa membalikkan badan Yonghwa menolehkan kepalanya, menunggu Tiffany melanjutkan kata-katanya.

“Pihak kepolisian benar-benar akan melindungiku dan Jonghyun kan?” tanyanya memastikan.

Yonghwa meluruskan pandangannya lagi, menatap lurus ke luar pintu yang baru saja dibukanya. “Setelah kau memberitahuku dimana Cho Kyuhyun, tentu saja.”

***

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

8.15 PM

-Author’s POV-

“Tumben sekali kau menjemputku, hyung.” Sahut Jungshin pada Yonghwa, tidak lama setelah laki-laki itu men-stater mobilnya.

“Bukankah kau yang memaksaku untuk menemanimu ke club malam ini?” timpal Yonghwa. Barusan memang Jungshin-lah yang meneleponnya dan memintanya datang ke club, untuk sekedar mengobrol sambil minum-minum seperti biasa. Yonghwa memang sudah lama tidak datang kesana karena sibuk menangani kasus.

Jungshin terkekeh. Benar juga.

“Tapi kau tidak perlu sampai menjemputku segala. Aku bawa mobil sendiri.”

“Kebetulan kau menelepon saat aku baru saja keluar kantor. Jadi sekalian saja. Lagipula aku ingin memberikan ucapan selamat padamu.”

“Selamat apa?”

“Selamat atas keberanianmu mencium pipi seorang gadis dihadapan wartawan. Kelakuanmu itu menjadi highlight di semua tabloid hari ini, kau tahu?”

Jungshin terbelalak, “Benarkah?”

“Kau belum melihatnya?”

Jungshin menggeleng. Hari ini ia memang sibuk dengan pemotretan majalah sejak pagi, jadi tidak ada waktu untuk sekedar melihat tabloid. Setelah project para mahasiswa Seoul University itu selesai, ia pun kembali ke rutinitasnya semula sebagai model. Tapi entah kenapa Jungshin merasa ada yang kurang. Ia mulai terbiasa melihat Sulli berada di studionya dan tidak melihatnya sehari saja membuatnya hampa.

Sambil tetap menyetir, Yonghwa meraih sebuah tabloid yang sengaja diletakkannya di atas dashboard dan menyerahkannya pada Jungshin. Jungshin mengambil tabloid tersebut dan mengamatinya dengan seksama. Benar saja, foto dirinya yang tengah mencium pipi Sulli di backstage panggung Fashion Show kemarin langsung menghiasi halaman utama. Jungshin malah merasa tindakannya itu entah berani atau bodoh. Ia tidak menyangka beritanya akan dibesar-besarkan seperti ini.

Yonghwa tertawa diam-diam. Jika melirik ekspresi Jungshin, tampaknya laki-laki itu tidak se-berani yang ia kira, “Posisimu diuntungkan karena Choi Sulli adalah adik Choi Sooyoung, yang beritanya masih ada di jajaran atas karena kemunculannya kembali di dunia entertainer.”

Jungshin melipat tabloid itu dan meletakkannya kembali ke atas dashboard. Seharian ini ia tidak berani menghubungi Sulli karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu jika melihat hal ini. Saat ini ia sedang didera dilema akut antara ingin menunjukkan ketulusan perasaanya pada Sulli, malu, sekaligus merasa tidak enak pada gadis itu. Namun kelakuannya itu malah membuat tawa Yonghwa semakin pecah.

Sadar Yonghwa menertawakan dirinya, Jungshin pun memutar bola matanya jengah, “Dia masih punya pacar, hyung…”

“Benarkah? Siapa?” tanya Yonghwa acuh tak acuh, “Bagus, berarti semakin menarik.”

“Ya! Hyung!” Jika tidak ingat jika Yonghwa adalah senior yang harus dihormatinya, rasanya Jungshin ingin memukul kepala laki-laki itu dengan tabloid yang dibacanya barusan, “Namanya Choi Minho. Bukankah aku pernah cerita padamu?”

Yonghwa tampak berpikir sejenak, “Mungkin. Aku tidak ingat.”

“Sepertinya hubungan mereka sedang tidak baik. Sulli pernah menangis di depanku hanya karena laki-laki itu. Karena itulah aku berani berbuat seperti itu.”

“Kesempatan untukmu.” Yonghwa menimpali.

“Sudahlah, lupakan masalahku. Bagaimana denganmu, hyung? Bagaimana perkembangan kasus yang sedang kau tangani? Cho Kyuhyun akan segera tertangkap, bukan?”

Pertanyaan Jungshin otomatis membuat Yonghwa kembali teringat dengan kasus yang sampai sekarang belum tuntas itu, “Entahlah… Tadi siang seorang wanita bernama Stephanie Hwang datang ke kantorku dan mengaku bahwa dialah otak dari pembunuhan Choi Siwon.  Dialah yang menyuruh Kyuhyun untuk membunuh.”

Jungshin mengernyitkan dahi, “Benarkah?” ternyata ada tokoh baru lagi dalam drama pembunuhan mantan CEO perusahaan yang sempat menjadi perusahaan tersukses di Korea itu.

Yonghwa mengangguk, “Dia juga sudah memberikan bukti-buktinya. Dan semuanya meyakinkan.”

“Seorang wanita? Otak dari pembunuhan itu?” Jungshin tidak habis pikir, “Aku jadi ingin lihat bagaimana wajahnya.”

“Kebetulan aku membawa data-datanya. Tadinya aku bermaksud mempelajarinya di rumah.”

“Mana?”

“Ada di jok belakang.”

Tanpa basa-basi Jungshin langsung membalikkan badannya dan meraih sebuah map yang tergeletak di jok belakang, seperti yang dikatakan Yonghwa. Ia membuka map tersebut dan memperhatikan tulisan di tiap lembarnya. Diantara lembaran-lembaran kertas itu terselip sebuah foto wanita berambut panjang yang ia yakini adalah Stephanie Hwang yang dikatakan Yonghwa tadi.

Jungshin menyipitkan matanya, “Rasanya… wajah ini tidak asing…”

“Ah, aku ingat!” tiba-tiba ia berseru, “Hyung, wanita ini… Aku pernah melihatnya bersama Choi Minho di sebuah café! Tidak salah lagi, itu pasti dia.”

“Kau yakin?”

Jungshin mengangguk mantap, “Rambut dan bentuk wajahnya benar-benar mirip. Apa hubungan dia dengan Choi Minho? Jangan-jangan dia kekasih gelapnya.”

“Tidak mungkin.” Sergah Yonghwa, “Wanita itu adalah kekasih Jaksa Lee Jonghyun, yang sama-sama menangani kasus ini denganku. Maka dari itulah sekarang posisinya digantikan oleh jaksa lain.”

“Tapi bisa saja dia selingkuh di belakang jaksa itu.”

Yonghwa terdiam sejenak, “Kurasa tidak.” Ia ingat bagaimana sorot mata Jonghyun dan Tiffany saat ia bertemu dengan mereka beberapa waktu yang lalu. Dapat ia rasakan perasaan keduanya sangat tulus, jadi tidak mungkin jika Tiffany berselingkuh. Sampai sekarang pun ia masih tidak begitu percaya jika wanita itu ternyata mengkhianati Jonghyun dan menjadi dalang dibalik terbunuhnya Choi Siwon.

“Tunggu, hyung. Stephanie mengenal Minho, Minho adalah kekasih Sulli, Sulli adalah adik Sooyoung, dan Sooyoung adalah kekasih Siwon, bukankah itu semua berkaitan?” celetuk Jungshin.

Yonghwa tidak menjawab. Pikirannya terfokus pada kata-kata Jungshin barusan. Jika dipikir-pikir, memang benar. Semua itu seperti kumpulan potongan puzzle yang mulai terbentuk. Tapi masih ada bagian yang kurang. Ia masih belum tahu siapa itu Minho, apa kaitannya dengan kasus ini, dan apakah ia mengenal Kyuhyun atau tidak. Jika tidak, maka Minho sama sekali tidak terkait.

Yonghwa mendecak. Ah, mungkin hanya pikirannya atau pikiran Jungshin yang terlalu jauh. Mungkin saja Minho hanya kenalan biasa dari Tiffany. Tapi karena Tiffany─yang untuk sementara dijadikan tersangka─mengenal Minho, bukankah tidak ada salahnya jika ia menemuinya untuk meminta keterangan?

Choi Minho. Intuisi Yonghwa mengatakan ada sesuatu dengan orang itu. Dan sekali lagi, ia yakin intuisinya tidak pernah salah.

***

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

10.30 AM

-Author’s POV-

“Kau kembali ke Rumah Sakit saja. Nanti aku bisa pulang sendiri.” Ujar Krystal begitu Minhyuk memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung kepolisian. Laki-laki itu sengaja mengantar Krystal ke tempat ini sebelum jam makan siang untuk menepati janji yang dibuatnya sendiri; memberikan kesaksiannya pada polisi.

“Tidak, aku akan menunggu disini saja.” Tolak Minhyuk.

“Aku takut akan lama. Memangnya kau tidak sibuk?” Krystal melepas seat belt-nya dan membuka pintu untuk keluar. Di tangannya tergenggam sebuah map berisi data-data Choi Minho yang sekiranya akan berguna untuk mendukung kesaksiannya nanti.

Minhyuk menggeleng, dan tepat ketika gadis itu melangkahkan kakinya keluar ia berkata, “Bukankah aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun? Menunggu beberapa jam saja bukan hal sulit bagiku.”

Sudut bibir Krystal sedikit terangkat, kemudian ia mendecak. Entah ia harus bahagia atau malah merasa tidak enak dengan perkataan Minhyuk barusan.

Krystal mencubit hidung laki-laki itu, membuatnya sedikit meringis. Ia lalu bergegas keluar dari mobil, “Kanda!”

Sepeninggal Krystal, Minhyuk juga melepaskan seat belt-nya dan keluar dari mobil. Ia bermaksud pergi ke coffee shop yang berada tidak jauh dari sana untuk menikmati secangkir kopi sembari menunggu gadisnya itu. Tepat pada saat itulah matanya menangkap sosok pria yang berjalan sedikit terburu-buru dihadapannya. Minhyuk mengamati wajah pria itu, pria yang ternyata dikenalnya.

“Detektif Jung!” panggilnya kemudian.

Yang dipanggil menoleh, “Ah, Kang uisanim. Sedang apa anda disini?” ia berjalan menghampiri Minhyuk.

“Harusnya aku yang bertanya. Anda mau pergi kemana, detektif?”

“Ke tempatmu bekerja. Seoul University Hospital.”

Minhyuk berpikir sejenak. Mungkinkah tujuan Yonghwa datang kesana sama seperti apa yang dipikirkannya?

“Apa anda ingin menemui dokter Krystal Jung?”

Yonghwa mengangguk, namun kemudian dahinya berkerut, “Bagaimana anda bisa tahu?”

“Dia baru saja masuk ke kantormu, detektif.”

***

 

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Bukan hanya karena data-data pasien yang sedang diamatinya, tapi juga karena melihat Krystal secara langsung. Ia tidak menyangka ternyata orang yang menemuinya ini kenal dengan dokter Kang Minhyuk yang dikenalnya sekaligus sahabat Suzy, yang baru ia ingat pernah melihatnya ketika ia menemui Suzy di rumahnya beberapa waktu yang lalu. Sulit baginya saat ini untuk menyangkal ungkapan yang menyatakan bahwa dunia itu sempit.

“Ada apa, detektif? Apa ada yang salah?” Krystal yang duduk dihadapannya memberanikan diri untuk bertanya.

“Sama sekali tidak, uisanim.” Yonghwa memperhatikan foto Cho Kyuhyun dan Choi Minho yang sengaja dijajarkan bersebelahan di atas meja, “Aku hanya terkejut dengan kenyataan yang ada. Hasil kerja anda benar-benar bagus. Mereka seperti orang lain saja.”

“Saya hanya melaksanakan seperti yang dia inginkan.” Krystal merendah, “Saya juga membawa detail bagian-bagian wajah mana saja yang direkonstruksi… jika itu diperlukan.”

“Jadi, sekitar lima bulan yang lalu Cho Kyuhyun datang menemuimu dan mengaku bernama Choi Minho. Ia meminta agar wajahnya dioperasi total. Benar begitu kan, uisanim?” Yonghwa mencoba merangkum keterangan yang sudah dijelaskan Krystal sebelumnya.

Krystal mengangguk, “Benar.”

“Apa setelah operasi itu selesai anda masih berhubungan dengannya?”

Krystal mencoba mengingat-ingat, “Sekitar dua minggu setelahnya, dia datang menemui saya dan mengeluhkan rahangnya yang sedikit terasa sakit. Tapi itu hanya karena belum penyesuaian saja, dan setelah itu ia tidak pernah menemui saya lagi. Baru beberapa hari yang lalu ia mengirimi saya surat dan mawar hitam. Dan hal itu diulanginya lagi pagi ini.”

“Pagi ini? Tapi anda hanya membawa satu bukti surat ancaman itu.”

“Ah, ya. Saya lupa untuk membawanya.” Gara-gara sedikit perselisihan dengan Suzy tadi pagi, ia jadi lupa membawa satu lagi bukti penting yang harus ditunjukkannya pada Yonghwa. Dan lagi surat itu ditujukan untuk Suzy juga. Entah bagaimana reaksi Yonghwa nanti ketika mengetahui hal itu.

Yonghwa memperhatikan surat ancaman yang ditujukan pada Krystal tersebut. Gaya bahasa dan jenis kertas yang digunakan memang sedikit berbeda dengan yang ia temui di apartemen Tiffany kemarin. Hal itu sudah cukup menunjukkan bahwa pengirimnya adalah orang yang berbeda. Namun mawar hitam yang disertakan dengan semua surat itu hampir sama. Dan jika Changmin atau Kyuhyun tidak memiliki tempat lain untuk memperoleh bunga tersebut selain di Ashikaga, maka kedua orang itu memang mengenal satu sama lain.

“Apa waktu itu anda tidak merasa aneh seorang Cho Kyuhyun tiba-tiba datang dan ingin mengubah total penampilan wajahnya?” tanya Yonghwa lagi.

“Awalnya begitu. Tapi setelah melihat identitasnya, saya pikir mereka hanya orang yang mirip. Lagipula saya tidak pernah bertemu dengan Cho Kyuhyun secara langsung sebelumnya.”

Yonghwa mengangguk-angguk, “Apa anda mengenal orang yang bernama Shim Changmin? Atau Stephanie Hwang? Atau Tiffany Hwang?”

Krystal mengernyitkan dahi, kemudian menggeleng, “Sama sekali tidak, detektif.”

“Ah, begitu rupanya…” Yonghwa merasa sedikit kecewa karena niatnya untuk menggali informasi mengenai Shim Changmin lagi-lagi harus tertunda. Tapi toh Tiffany sudah berjanji akan menceritakannya setelah gadis itu benar-benar dinyatakan bebas.

“Terima kasih, uisanim. Informasi yang anda berikan benar-benar sangat berguna.” Yonghwa bermaksud mengakhiri interogasinya dengan Krystal kali ini. Ia mengulurkan sebelah tangannya, yang disambut hangat oleh jabatan tangan gadis itu.

Setelah pamit, Krystal pun bangkit dari tempat duduknya. Namun baru selangkah berjalan, gadis itu kembali membalikkan badannya ke arah Yonghwa.

“Ng… detektif… soal ancaman itu, bagaimana─”

“Anda tidak perlu takut.” Potong Yonghwa, seolah mengetahui apa yang ingin dikatakan Krystal. Sebagai penerima teror, wajar jika gadis itu merasa gelisah, “Jika Choi Minho atau siapapun itu mengirimkan surat ancaman dan mawar hitam lagi, anda bisa langsung memberitahu kami para polisi. Kami akan melindungi anda.”

Krystal tersenyum, lega karena setidaknya ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia mengedikkan kepalanya sekilas sebelum melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.

“Terima kasih, detektif.”

***

-Yonghwa’s POV-

“Bagaimana, Inspektur?” tanyaku segera setelah Inspektur Kwon masuk ke ruanganku. Sepeninggal Jung uisanim tadi aku langsung memintanya mencari segala informasi mengenai Choi Minho, yang baru kuketahui sebagai identitas baru Cho Kyuhyun selama ini.

Kulihat Inspektur Kwon menghampiri mejaku dengan tangan kosong. Tidak ada berkas atau catatan apapun yang dibawanya ketika masuk tadi, membuatku merasa sedikit janggal.

“Nihil,” ujarnya kecewa, “Aku sudah mencari tapi tetap tidak bisa ditemukan. Database penduduk milik Choi Minho tidak pernah ada.”

“Sesuai dugaan.” Aku mengangguk antara puas dan tidak. Puas karena ternyata dugaanku tepat, dan tidak puas karena aku tidak bisa menemukan informasi apapun tentangnya.

“Berarti soal Cho Kyuhyun yang mengganti identitasnya itu memang benar.” Inspektur Kwon mencoba mengambil kesimpulan.

“Ada satu hal yang ingin kupastikan.” Ujarku. Kurasa kami tidak boleh merasa cukup dengan informasi minim seperti ini. Aku harus tahu siapa Choi Minho dan dimana keberadaannya. Tapi, dari mana aku harus mulai mencarinya?

Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat siapa tahu ada celah yang dapat kutemukan untuk mencari informasi itu. Rasanya nama Choi Minho tidak asing di telingaku. Aku pernah mendengarnya, tapi dimana?

“Ah!” refleks kujentikkan jariku. Aku baru ingat Jungshin pernah menyebutkan nama Choi Minho beberapa kali di depanku. Kalau tidak salah─dan aku yakin tidak mungkin salah─Choi Minho adalah nama kekasih Choi Sulli, gadis yang disukai Jungshin dan juga adik Choi Sooyoung.

“Astaga, kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?!” aku mengacak-acak rambut frustasi. Ternyata selama ini tersangka kasus pembunuhan Choi Siwon tidak sembunyi. Orang itu malah dekat sekali dengan Sooyoung meski secara tidak langsung. Benar-benar cerdas. Usaha yang dilakukannya untuk menutupi kejahatannya benar-benar disusun dengan rapi.

“Apa yang kau sadari, Yong?”

Aku terkekeh pelan, menyadari kebodohanku selama ini yang sukses ditipu oleh Cho Kyuhyun, Shim Changmin, atau siapalah itu. Kami malah seperti boneka kayu yang lakonnya diatur sedemikian rupa oleh mereka berdua. Tapi permainan itu sudah berakhir. Tidak lama lagi dalang dibalik semua kekacauan ini akan merasakan akibat dari permainannya sendiri.

Tanpa membuang waktu segera kusambar ponselku dan menekan beberapa tombol. Kurasa aku tahu apa yang harus kulakukan.

“Yeoboseyo, Jungshin-ah. Waktu itu kau bilang Choi Sulli adalah mahasiswi Seoul University kan?”

***

Seoul National University, Gwanak-gu, Seoul

3.05 PM

-Author’s POV-

Sulli memandangi halaman utama tabloid dihadapannya dengan cemas. Apa yang dilakukan Jungshin padanya dua hari yang lalu di depan para awak media ternyata benar-benar menjadi berita, sesuai dengan perkataan laki-laki itu. Berkali-kali Sulli menghela napas berat. Ia sama sekali tidak siap untuk mengalami hal semacam ini dan tidak siap untuk menerima pandangan sinis dan cibiran dari orang-orang yang salah paham akan hal ini. Sejak pagi bahkan ia merasa tidak ingin berada di kampus. Jika saja tidak ada urusan penting yang harus segera diselesaikannya, ia lebih memilih untuk mengurung diri di rumah.

Sulli melipat tabloid itu menjadi dua bagian. Ia masih tidak sanggup berlama-lama melihat foto dirinya terpampang disana. Gadis itu menopangkan dagunya dengan kedua tangan. Entah apa yang harus dilakukannya saat ini, ia tidak tahu.

“Tidak perlu dipandangi terus kalau kau tidak suka.” Seolhyun, yang kebetulan sedang berada di ruangan yang sama dengan Sulli berujar. Lama-lama ia kasihan dengan temannya yang terus dirundung masalah itu.

“Tapi aku akan benar-benar dianggap licik jika terus menutup mata. Aku tidak ingin seperti yang orang-orang di luar sana pikirkan.”

Seolhyun meletakkan gulungan kain yang dibawanya ke atas meja dan duduk dihadapan Sulli, menatap gadis lurus-lurus, “Bukan begitu caranya kalau mau bertindak. Tidak akan ada yang berubah kalau kau hanya berdiam diri dan menghela napas pasrah.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Klarifikasi. Itu sudah jelas.”

“Bagaimana caranya? Haruskah aku mengumpulkan para wartawan? Aku bukan siapa-siapa!” Sulli semakin terdengar frustasi.

Seolhyun mendecak pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin terlalu banyak masalah yang harus dihadapi oleh temannya yang satu ini sehingga ia tidak bisa lagi berpikir jernih, “Bukan kau, Sulli-ah, tapi Jungshin. Posisimu tidak cukup kuat untuk melakukan itu dan… yah, Jungshin yang membuat berita itu terjadi, harusnya itu tugasnya untuk mengklarifikasi.”

“Tapi kurasa kemungkinannya sangat kecil. Bukankah kau bilang dia sengaja melakukannya agar dipublikasikan? Untuk apa diklarifikasi?” lanjut Seolhyun, membuat hati Sulli mencelos, “Tapi coba saja bicara dengannya. Ceritakan padanya baik-baik bagaimana posisimu.”

Sulli terdiam, tidak menolak ataupun mengiyakan saran Seolhyun barusan. Sejak kemarin ia memang tidak berani menghubungi Jungshin dan sebaliknya Jungshin juga sama sekali tidak menghubunginya. Bukan hanya soal Minho saja yang ia khawatirkan karena berita ini, tapi juga reputasinya dan reputasi Sooyoung di mata masyarakat. Ia jengah mendengar gosip bahwa dirinya sengaja melakukan itu agar mendapat perhatian khalayak luas, setelah menjadi bayang-bayang kakak perempuannya itu. Popularitas bukanlah suatu hal yang ia inginkan. Ia bahkan merasa tidak cocok dengan itu.

“Pikirkanlah baik-baik. Aku mau keluar membeli makan siang untukmu. Kau pasti belum makan kan?” Seolhyun bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu. Ia rasa ia perlu memberikan ruang bagi Sulli untuk berpikir tenang dan bercakap-cakap dengan Jungshin di telepon nantinya. Bagaimanapun juga ia adalah orang luar yang sebaiknya tidak perlu mendengar sesuatu yang bukan kapasitasnya.

“Gomawo, Seolhyun-ah…” Sulli tersenyum tipis. Diam-diam ia bersyukur memiliki teman yang begitu perhatian seperti Kim Seolhyun.

Sepeninggal Seolhyun, Sulli mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memandangi display-nya. Ia sudah memutuskan untuk menghubungi Minho terlebih dahulu sebelum menghubungi Jungshin. Sampai saat ini laki-laki yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu tidak juga menghubunginya maupun menjawab segala pesan dan telepon darinya, membuat Sulli lagi-lagi merasa cemas jika laki-laki itu sedang marah padanya.

Lama Sulli menunggu, Minho tidak juga menjawab teleponnya, sama seperti hari-hari sebelumnya. Akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk mengirimkan voice mail.

“Yeoboseyo, Oppa. Bagaimana kabarmu? Kau tidak sakit kan? Kenapa tidak menjawab telepon dan membalas pesanku? Kau… marah padaku? Soal berita itu, aku benar-benar minta maaf… Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku masih menyayangimu, Oppa. Perasaan itu tidak berubah sampai sekarang…” Sulli berbicara seolah-olah Minho ada di seberang sana dan mendengarkan setiap kata-kata yang dilontarkannya, “Jika ada waktu, kuharap Oppa bisa membalas pesanku. Aku ingin bicara…”

Sulli mengigit bibir bawahnya. Menyuarakan apa yang dipendamnya selama ini membuat hatinya kembali bergejolak, “Bogoshippeo…”

Selesai mengucapkan kata itu, Sulli buru-buru menutup teleponnya sebelum suaranya terdengar bergetar. Ia sudah lelah dengan air mata yang selalu keluar setiap kali ia memikirkan Minho. Rasa rindunya pada laki-laki itu sudah tidak terbendung. Ia ingin hubungan mereka kembali harmonis seperti dulu. Ia ingin menyelesaikan segalanya, dan jika memang ia memiliki kesalahan ia ingin diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Sulli ingat ada satu hal lagi yang harus ia lakukan. Ia pun kembali meraih ponselnya dan menghubungi Jungshin.

“Yeoboseyo?” terdengar suara Jungshin di seberang.

“Jungshin-ssi, ini aku…” Sulli terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Soal gosip itu… bisakah kau mengklarifikasinya? Aku takut orang-orang salah paham nantinya…”

“Memangnya kenapa kalau mereka salah paham? Tidak ada yang bisa mereka lakukan.” Ujar Jungshin sarkastis.

“Kau harus memikirkan posisiku juga, Lee Jungshin. Bagaimana kalau Minho oppa tahu? Ini bisa menyulitkanku…”

“Kalau memang sulit, kau bisa datang padaku, Sulli-ah. Kau tidak bisa terus menunggu Minho tanpa kepastian…” suara Jungshin melembut. Tersirat permohonan yang tulus dari nada suaranya. Sebenarnya Jungshin bermaksud baik agar Sulli segera mengakhiri hubungannya dengan Minho, demi kebaikan gadis itu. Namun tampaknya sampai sekarang Sulli belum juga menyadarinya.

Sulli tercekat. Mendengar kata-kata Jungshin barusan, apa lagi yang bisa dikatakannya? Pada kenyataannya selama ini ia memang menunggu Minho tanpa kepastian, ia bahkan merasa ditinggalkan begitu saja.

Sulli mematikan sambungan teleponnya dan menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong. Membenarkan perkataan Jungshin bukan berarti ia akan menerima laki-laki itu begitu saja. Cara yang dilakukannya ini dinilainya tidak tepat. Entahlah… pikirannya jadi berputar-putar. Pada akhirnya ia hanya bisa menghela napas. Pasrah.

“Cklek!”

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Sulli pun segera menoleh.

“Ah, Seol─” kata-katanya terputus begitu melihat yang masuk bukanlah Seolhyun, melainkan seseorang yang membuat dahinya berkerut. Seseorang yang tidak seharusnya berada di tempat ini.

Orang itu mengedikkan kepalanya sopan dan tersenyum ke arah Sulli, “Annyeonghaseyo, saya detektif Jung Yonghwa.”

***

Sulli menyesap tehnya perlahan, kemudian kembali menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja. Kentara sekali ia merasa canggung. Ia tidak berani mendongakkan wajahnya ke arah Yonghwa yang saat ini duduk dihadapannya. Terang saja, mendapat kunjungan tak terduga dari seorang anggota kepolisian di kampusnya membuatnya tak tahu harus bersikap seperti apa.

“Tidak perlu merasa canggung begitu, nona Choi. Santai saja.” Ujar Yonghwa, yang memutuskan untuk duduk di hadapan gadis itu sesaat setelah mengenalkan dirinya tadi. Seharusnya Sulli sudah tidak merasa asing lagi padanya, karena ia pernah beberapa kali datang ke kediaman keluarga Choi untuk melihat keadaan Sooyoung.

“Aku hanya ingin mengobrol ringan denganmu.” Yonghwa mengutarakan maksud kedatangannya.

“Ada apa? Apa yang terjadi dengan Sooyoung eonni?” Sulli baru bisa mengangkat wajahnya dan memberanikan diri bertanya.

“Tidak ada. Eonni-mu baik-baik saja.”

Dahi Sulli mengernyit. Ia kira satu-satunya hal yang membuat Yonghwa sengaja menemuinya hanyalah soal Sooyoung. Kalau bukan itu, lalu apa?

“Aku hanya ingin bertanya… mengenai Choi Minho.” ujar Yonghwa seolah bisa membaca pikiran Sulli.

“Choi Minho? Memang ada apa dengannya?” tanya Sulli heran, “Apa dia melakukan kesalahan?”

“Tidak, nona Choi. Aku hanya ingin tahu saja.” Jawab Yonghwa berbohong. Untuk saat ini dirasanya Sulli tidak perlu tahu apa yang terjadi sebenarnya; bahwa ia sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Choi Minho dari salah satu orang terdekatnya ini.

“Apa yang ingin kau ketahui?”

Yonghwa tersenyum sekilas, berusaha menunjukkan dirinya agar tidak terlihat seperti orang yang melakukan interogasi, “Apa benar Choi Minho adalah mahasiswa disini?”

Sulli mengangguk, “Dia mahasiswa Seoul Univerisity, jurusan administrasi bisnis.”

“Sudah berapa lama kira-kira kau mengenalnya?”

“Sekitar lima bulan yang lalu. Saat itu Minho oppa bilang dia adalah mahasiswa pindahan dari Harvard. Kami bertemu dalam sebuah forum kemahasiswaan.”

Yonghwa mengangguk-angguk, “Bagaimana sikap Choi Minho selama ini padamu? Maksudku, bagaimana dia dalam kesehariannya?”

“Minho oppa orang yang baik.” Sulli menjawab tanpa ragu, “Pertama kali kami berkenalan dan mengobrol banyak, aku merasa cocok dengannya. Ia bersikap sangat baik pada teman-temanku. Kurasa ia juga pintar. Pengetahuannya tentang dunia bisnis sangat luas.”

Yonghwa tersenyum, menghargai setiap keterangan yang Sulli sampaikan. Tentu saja pengetahuan Minho tentang dunia bisnis sangat luas, karena dia adalah CEO perusahaan besar.

“Apa dia pernah datang ke rumahmu?”

Sulli mengangguk lagi, “Beberapa kali.”

“Dan bertemu Sooyoung?”

“Saat itu eonni masih trauma dan tidak boleh ditemui siapapun selain keluarga dan orang-orang terdekat.” Jelas Sulli. Namun kemudian pandangannya berubah sedikit cemas, “Apa… ini ada hubungannya dengan Sooyoung eonni?”

“Apa dia sering menanyakan Sooyoung?”

Sulli tercekat, “Ba…bagaimana anda bisa tahu?” pertanyaan Yonghwa semakin menambah kecemasan dalam dirinya. Dugaannya bahwa ada sesuatu antara Minho dan Sooyoung─terkait Minho yang menyukai Sooyoung─semakin kuat.

“Tapi hanya baru-baru ini saja, setelah eonni muncul kembali di televisi. Aku heran, padahal aku belum mengenalkan mereka secara resmi satu sama lain.”

“Apa yang ia tanyakan?”

“Waktu itu Minho oppa tiba-tiba saja menanyakan apakah liontin black diamond sudah sampai ke tangan Sooyoung eonni. Dia bilang itu hadiah pemberian temannya dan dia diminta menanyakannya padaku. Tapi aku tidak begitu percaya.” Cerita Sulli, “Dia juga menanyakan kabar Sooyoung eonni, padahal sebelumnya ia sepertinya tidak begitu peduli.”

Yonghwa terdiam, mencoba merangkai kepingan-kepingan informasi yang dilontarkan Sulli menjadi satu kesatuan yang utuh. Dan semuanya cocok. Informasi ini mampu melengkapi rangkaian puzzle-nya yang rumpang.

Kemungkinan bahwa Minho-lah yang memberikan kalung itu pada Sooyoung memang besar. Bisa saja ia memberikan kalung sebagai ungkapan rasa cintanya pada Sooyoung. Ia menelepon Sulli untuk memastikan apakah Sooyoung sudah menerimanya, sekaligus merasa panik karena Sooyoung tiba-tiba saja menyebutkan namanya di televisi.

“Boleh aku tahu dimana dia tinggal?” tanya Yonghwa kemudian.

“Yeo…Yeouido.” Jawab Sulli, masih dengan wajah bingungnya.

Kali ini Yonghwa tersenyum lebar, puas karena informasi yang didapatkannya benar-benar sangat berguna. Segala bukti yang didapatkannya sudah cukup untuk menentukan bahwa Minho adalah Kyuhyun dan pelaku sebenarnya. Tinggal mengetahui seberapa besar peran Shim Changmin dalam hal ini dan rangkaian puzzle yang selama ini susah payah disusunnya lengkap sudah.

“Terima kasih, nona Choi. Anda benar-benar sangat membantu.” Yonghwa bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar. Tepat ketika ia hendak membuka pintu, Sulli memanggilnya.

“Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?”

Yonghwa tidak langsung menjawab. Rupanya gadis itu sadar bahwa ia berbohong mengenai maksudnya menanyakan soal Choi Minho.

Yonghwa menoleh tanpa membalikkan badannya, “Nanti kau akan mengetahuinya, nona Choi. Tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Tanpa memedulikan ekspresi Sulli yang masih bingung dengan ucapannya, Yonghwa pun bergegas keluar. Setelah dirinya merasa sudah cukup jauh dari ruangan tempat ia  menemui Sulli tadi, tanpa berpikir dua kali ia segera menelepon Jonghyun, jaksa yang sudah dianggap partner terbaiknya, yang baru saja menerima kembali tugasnya untuk menyelesaikan kasus ini setelah Tiffany dinyatakan tidak bersalah. Ia menekan beberapa tombol dan menempelkan alat komunikasi itu ke telinganya.

“Yeoboseyo, Jonghyun-ah? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Ujar Yonghwa begitu panggilannya tersambung, “Dan kurasa… kita harus menyiapkan surat penangkapan segera.”

(to be continued)

__________________________________

Annyeonghaseyo🙂

Akhirnya Black Flower udah nyampe chapter 11. Makasih banget buat yang udah bersedia nunggu. Mungkin banyak juga yang udah pada kabur karna kelamaan di-post *ngenes* Tapi memang seperti inilah adanya. Maaf…

Rencana awal sih, chapter selanjutnya bakalan jadi chapter terakhir. Tapi masih belum tahu, soalnya masih dalam tahap penulisan. Kalaupun jadi, kemungkinan besar akan di-protect. Ini kebijakan dari author sih… Cara buat request password nya nanti aku kasih tau di page SAY H-E-L-L-O.

Sekali lagi makasih buat readers semua. See you on the next chapter🙂

144 thoughts on “Black Flower [Chapter 11]

  1. Gapapa lama yg penting hasilnya memuaskan :))
    Part 11 ini byk Yonghwa nya ya. Keren!! :3
    Tp scene yonghwa-suzy blm ada nih. Padahal itu yg aku tunggu2 lho chingu…
    Mudah2an di part selanjutnya ada ya…
    Ditunggu part selanjutnya. Fighting!!

  2. Akhirnya bs bca jg ….
    Part suzy, yonghwa kok gak ad???
    Kn ingin tau klnjutan mreka.
    Tp gak pa2 kasus nya udh mlai terbuka.

  3. beneran deh..
    keringet netes baca nih ff
    kereeen…🙂
    Seohyun jarang muncul yah..
    seru tuh kalo dia juga terlibat..
    nice ff,,🙂

  4. aigoooooooo…. bener-bener DAEBAK!!! gak kebayang gimana cemerlangnya otak Kyu/Minho/Changfood!! polisi ajja bisa dikibulin.. IQ-nya berapa yah??
    well, aku jadii penasaran sama rencana Suzy selanjutnya.. dia tetep bantu Minho/Kyu kan? Suzy berjuang dijalan yg salah -_-
    at least.. Minhyuk-Krystal JJANG!!!!😄
    aku harap sih.. dichapter selanjutnya blm End.. kisah hidup Suzy masih gantung, gimana dongg perjalanan cintanya? masa iya Yong segitu teganya nyuruh dia nunggu, tapi malah balikan sama Seo T.T

    Lanjutkan Author-nim!!!😀

    • Menghindari silent reader dan meminimalisir resiko diplagiat aja sih sebenernya.
      Tenang aja, nanti aku kasih tau cara request password nya di page ‘SAY H-E-L-L-O’🙂

  5. Asli ni ff satu-satunya paling bisa buat aku ga sabar nunggu chap slanjutnya dan ff satu-satunya yg buat aku betah nunggunya .
    Daebak daebak daebaaaaak😀
    Suka bgt sama couple JongFany .. Semuanya udah keren bgt, kasih tau passwordnya ya thor
    klo udh ada lanjutannya~
    Semoga sukses di dunia per fanfic annya (?)😀

    • Makasih ya udah bersedia nunggu walaupun di-post nya agak lama🙂
      Tenang aja, nanti bakal aku kasih tau cara request password di page yang telah disebutkan di atas🙂
      Hehe, Amin Amin makasih ya😀

  6. Jangan end dulu dong T_T
    Suzy sama yonghwa nya mana ? Mereka disatuin aja . Seohyun kan kemaren uda campakin yong .
    Mending sama Suzy aja .
    Ya ya ya thor . Plisss ^^
    Kystal-Minhyuk daebak .

  7. akhirnya puzzle-nya sudah mulai tersusun
    deg2an bacanya
    dan semakin deg2an menunggu part selanjutnya.🙂
    keep up the good work,author-nim !🙂

  8. kyaaaaaakk! ree akhirnya post juga ini FF! semuanya kugabung komennya disini ya mihihihi
    well aku selalu suka FF ini dan yang selalu kunanti nanti ini! alur ceritanya tersusun rapi, pokoknya udah handal banget dalam menulis deh, ceritanya sukses buat aku deg-degan dan menitikkan air mata begitu membaca part tiffjong #plak *abaikan yang terakhir ini*
    akhirnya Yonghwa bisa tau siapa dalang dibalik semua ini, semoga happy ending deh dan berhasil tertangkap om changmin itu huhu.
    btw yonghwa dan suzy juga harus dijelaskan bagaimana hubungan mereka nantinya, kan yong sudah kembali bersama seo ^^v ditunggu part selanjutnya ya.
    hwaiting untuk kalian berdua!!! *ketjup hangat*

  9. ini cerita baguss.. pake banget malah.. tapi di publishnya bener2 bikin ubanan.. ( lebay.. ) abaikan ya thor.. hahaha

    ceritanya tetep bagus.. semangat author.. maaf baru comment lagi dipart ini.. Soalnya aku ngebut bacanya dari part2 sebelumnya yang belum aku comment.. kalo bisa publisnya jangan lama2 thor.. semangat !!😀

    • author sadar kok kalo ini di-publish-nya lama banget. tapi memang begitu adanya mau gimana lagi ._.
      gapapa kok, asal ga jadi silent reader🙂
      kita usahain ya, makasih udah mau nunggu😀

  10. HAIIIII!!! Reader baru nih🙂 hehe
    maaf ya komennya baru di chap ini soalnya aku langsung ngebut baca dari chapter 1 – 11 hehe maaf bangeeeeet …. gpp kan?
    Aku suka banget ceritanyaaa TT Bagusss TT bikin gregetaaannn
    jempol buat authornya (y) (y) (y)
    scene-nya minhyuk-krystal itu adgadasdjksd;ls favorit bgt ><
    ditunggu chap selanjutnya yaaa
    jangan lama-lama yaaa author-nim *plaaakk

      • hai! makasih udah baca🙂
        iya gapapa, asal jangan jadi silent reader ya😉
        kemungkinan besar iya. nanti aku kasih tau di page ‘SAY H-E-L-L-O’ kalo udah di-publish ya

  11. Dari awal udh ngikutn ff ini ampe sekarang, chapter selanjutnya diprotect yaa..yaahhh
    semangat terus ya thor! Postingnya jgn lama2😀

  12. aku suka banget karakter yongppa disini … keren banget dlam ngatasin suatu masalah.. smoga saja semua bisa terungkap n dalang dari semua ini tertangkap🙂

  13. Hi~ I use google translate to read your story(because I can not understand this language,sorry> <)
    It's really a good story, could you please tell me last chapter's password?Thanks~

    • Hi! i’ve never imagined someone who doesn’t understand bahasa would ever read this. its such an honor for us. thank you so much ^^

      anyway, you could ask for the password to the number stated in the comment by “ree” on the page “Say H-E-L-L-O” (kindly find it in this blog’s menu). Happy reading!🙂

  14. wahh.. aku borong bacanya dari chapter 5-11
    chapter ini paling bikin penasaran,,
    penasaran sama persaingan antara suzy-yonghwa

  15. Penasaran deh tor sama ceritanya
    Keren pake banget aku ngikutin dr chap awal eh udh mau ending aja
    Walaupn lama menunggu semoga hasil ga mengecewakan

  16. baru nyelesein baca chap 11 kmren eh tau tau udh muncul chap ending,,pdhl bacanya baru 2 minggu dan baru sempat comment 2 hari ini,,maaff thorr..berharap author buat ff kyk gini lg tp dgn cerita yg beda sm ff lainnya

    • aslinya mah, jarak posting dari satu chapter ke chapter lain jauh lho ._.
      iya gapapa kok, FF ini diapresiasi aja kita udah makasih banget😉
      amin… doain aja ya, hahaha… makasih udah baca🙂

  17. Wah!!!! ngga sadar udah mau end aje. Author awalnya aku baca ff ini karena ada Krystalnya, tapi lama-kelamaan itu malah aku suka banget sama semua unsur atau pemain yang ada di ini ff. Daebak!!!!!

  18. Author eonni~ ini aku yang tadi siang sms😀 maaf ya selama ini aku jd silent reader, mulai sekarang aku ga akan jd silent reader lagi. Oke sekarang aku mau komen ffnya dulu, sumpah ini tuh ff terdaebak yang pernah aku baca dan ff ini ff terfavorit aku. Cast nya keren, alurnya keren, semuanya keren deh pokoknya top banget !!!! Semoga eonni bisa bikin ff yang lebih keren dari ini..fighting~

  19. HUAA!!!! Demi demi itu minhyuk cakep /terus?!?! Maaf min aku lgsg ngebut baca baru komen disni.. Hua DAE to the BAK !!!!! Brb bca ff endnyaa ><

  20. wah ternyata aku telat baca ff ini (lagi) sumpah makin kebuka semua. makin deg-degan sama endingnya. apakabar sooyoung sekarang?🙂

  21. Hi thorr..
    Baca ff ini ngebut dr part 1 smpe 11 awal’y mw bc krn ad jonghyun trs agk kurg ngerti sm crta’y krn tll bnyk cast,hehehe! Tp stlh bc bbrp oart mlh jd kcanduan,serasa lg bc komik conan gt krn aq sbg reader dbkin mikir😄 over all crta’y menarik & jd g hny skdr bc ff..
    mnt pw part 12 dong thor! Thx!

    • emang cast-nya banyak, haha…
      kalo masih belom ngerti, coba dibacanya pelan-pelan, dipahami sedikit demi sedikit.
      untuk request password bisa diliat di page ‘Say H-E-L-L-O’ ya🙂
      makasih udah baca🙂

  22. Nice story , author-nim! ^^ aku selalu nunggu update black flower disini hehehe.. td wktu kebetulan buka *setelah sekian lama XD* ternyata udh d update sampai epilog.. ga sabar pgn baca .. hhe ditunggu ff yg lainnya🙂

  23. keren abis deh ceritanya. kyknya tiap coment aq pasti bilang keren.. emng ceritany keren deh..aq jdi penasaran trus ma lanjutanny, chapter 11 ni aja aq baca sampe jam 11 malem, gara2 penasaran lanjutannya. eh tpi pas chapter 12 koq hrus pake password thor??

  24. wuaaahh .. dugeun dugeun neh thor, keren bgt ffnya .
    pgn cpt2 tau endingnya, moga aja yongseo nyatuuuu amiiinnn!!!😀
    btw, uda berasa nnton drakor aj neh ak thor😀

  25. Annyeong aku readers baru. Salam kenal🙂
    fanficnya keren banget, suka banget sama genre fanfic kaya gini. Penasaran berat sama endingnya. Endingnya udah keluar kan ya, pengen minta pwnya dong.

  26. suzy pengacaranya minho, krystal dokter bedahnya minho, sulli pacarnya minho, kyuhyun itu minho, tiffany juga kesel sama minho, jonghyun & yong hwa juga ngejadiin minho target… mungkinkah FF ini punya judul lain? *mencari Minho* kekekeke abaikan ya thor… tapi jangan abaikan permintaan password part terakhirnya… gomawo author… FF-nya JJANG!

  27. Suzy… kena surat ancaman jg, maksud hati mo bales dendam ma yonghwa eh… malah senjata makan tuan.

    makin seru nih, tp di capster berikutnya di proteks ya…..
    bs minta password nya chingo, mau langsung baca lanjutanya nih ^_^, aq dah baca epilog nya.

    email q erinjensen4@yahoo.co.id or lwt sms ke no kamu (ree)???

  28. baru baca ff ini. dari chap 1 sampe sini…
    dugaan aku dari awal bener, kalo minho dan kyuhyun itu orang yang sama. dia udah mencurigakan, apalagi waktu dia maksa tiffany buat jadi pacarnya jonghyun.

    oh, and how can i get the password for the nex chapter?

  29. Ishh, knpa harus tbc sih min??
    Hwaa, kyaknya yonghwa-jonghyun seneng bgd ni kasus nemu titik terang..
    Kkk~ si jungshin modus bgd, blg aj kalo dia mau org2 berpikir mereka punya hubungan..

  30. baru sempet baca lagi thor. ngebut deh beberapa chapter hehe maaf ya klo ga komen di setiap chapternya
    serius ini menarik bgt,keren bikin tegang ah pokoknya komplit lah.
    penasaran sm chapter terakhir, dibagi password-nya thor ; )

  31. ,, wuaahh.. Akhirnya kasus ini terkuak jugaa… Tamatlah riwayatmu Choi Minho alias Cho Kyuhyun. . .!!!!

    Jadi pnsran nihh, endingnya bakal kayak apaa yahh. ,?? ? :/

  32. miiiinnnn…ko chapter 12.a protected sih miiinnn……huaaaa:'( pasword.a ap miiinnn….wat dptin password hrs ngapain…:'(

    • hai! makasih udah baca🙂
      untuk password bisa diliat di page ‘Say H-E-L-L-O’ dan liat comment aku yang paling pertama ya.
      atau bisa langsung hubungi 085691323252

  33. anyeong thor..aku udah lama c jdi reader dsini..
    mian thor mau tanya paswrd untuk ff black flower chpter 12 end..
    ff nya kren2..gomawo

  34. wua sugohaesseo Tuan Jung dan Tuan Lee ^.^
    ahirnya kasusnya udah nemu titik terang.. tinggal nona Suzy nih, apa dia akan tetep mo balas dendam sama bapak detektif kita dan juga bersebrangan sama sahabatnya sendiri? penasaran nih chapter 12 >.<

  35. thor.. aku mau nanya..kalau author ngebuat ff ini sampai berapa ribu word sih ?? ga cape thor hehehe .. panjang panjang ff nya.. makasih thor udah nulis ff kayak gini.. aku suka sekali ff ini.. semangat dan semakin terus berkarya yaa ..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s