A way to catch you (Chapter 9)

awtcy-cover

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note: Annyeong *melambai bersama Jonghyun*😄 Mianhae ya aku lama sekali tidak update huhu, aku datang dengan update-an!  menuju ending T,T terima kasih ya yang udah baca dan gak jadi siders selama ini😀 masukan kalian sangat berguna :* Mohon maaf kalo ada typo ya😀 No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh :)

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :** *Tebar uang Minhyuk*

Oke happy reading all J

previous part : [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

~~~

Eun Jin pov

Aku sempat mendengar suara Eomma saat dia menelpon sekertaris Shim. Jujur aku sedih sekali, Eomma bahkan tidak mau mendengar perkataanku, darah dagingnya sendiri. Min Jin dan Jungshin menyambut kedatanganku dengan harap-harap cemas. Tanpa diberitahu pun aku sudah tau mereka akan menunggu aku berbicara.

Aku menggeleng lemah, “Kurasa tidak mempan. Dia tetap ingin menggusur TK itu. Tadi dia sudah menelpon sekertaris Shim untuk mempersiapkan penggusuran itu besok.”

Decakan kesal memenuhi ruanganku. Aku bahkan tidak pernah melihat wajah Min Jin sekesal itu. Jungshin pun berkali-kali menghela napas, aku yakin dia sedih sekali dan sangat menyayangkan keputusan Eomma ku.

“Sebaiknya kita beritahu Jonghyun. Dialah yang paling menunggu keputusan ini, kurasa.” Jungshin akhirnya bersuara setelah sekian lama tak berkutik. Aku dan Min Jin saling berpandangan sebelum akhirnya kami mengangguk.

“Yah, kurasa kau benar Shin.” Tuturku yang langusung mengikuti langkahnya.

~~~

Apartmen Jonghyun tampak sepi. Ini kali kedua aku bertandang setelah kejadian dulu, saat aku memintanya kembali bekerja di delCafe.

Jonghyun tampak tak terurus. Lingkar matanya semakin menghitam dan kantung matanya semakin menebal. Tubuhnya juga terlihat lebih kurus dari sebelumnya, kurasa dia terlalu pusing memikirkan nasib TK Haru.

“Jadi, bagaimana?” Tanya Jonghyun tampak tidak antusias tapi aku yakin dia sangat cemas akan hal ini. Min Jin menatapku untuk menyampaikan semua yang kudengar dan mungkin akan menjadi keputusan eommaku. Dapat kurasakan matanya kini tertuju padaku. Baru kali ini aku melihat sebuah pengharapan di wajah pucatnya.

Well, tadi kudengar eomma menelpon sekertaris Shim. Dan dia ingin besok tetap dilaksanakan penggusuran, entahlah. Kurasa itu menjadi keputusan finalnya.” Tuturku pelan. Jonghyun memejamkan matanya lalu menghempaskan kepalanya ke sandaran sofa. Dia tampak dua kali lebih frustasi dari sebelumnya, dan aku sangat menyesal telah memberitahu hal ini kepadanya.

“Maaf, kami telah berbuat banyak tapi kurasa eommaku benar-benar keras kepala.” Min Jin menambahkan. Wajahnya juga sama muramnya dengan Jungshin. Sempat kulihat Jungshin menyambar punggung tangannya dan mengusapnya perlahan, menenangkan gadisnya.

“Aku juga sudah menyangka hal ini akan terjadi,” gumam Jonghyun, “Tapi kukira kau…ah sudahlah.” Jonghyun kembali menghempaskan kepalanya ke sandaran sofa.

“Jadi, jalan satu-satunya adalah membangun kembali TK Haru di tanah milikmu, itu sih saranku dan yang terpikir olehku saat ini.” Ucap Jungshin. Jonghyun membuka matanya lalu menatap lurus-lurus Jungshin.

“Aku juga sempat berfikir seperti itu, sebenarnya. Tapi tentu memerlukan biaya yang besar, kalau kau mau tahu.” Jelas Jonghyun pesimis.

Aku hanya bisa menghela napas. Sebenarnya ada benarnya juga saran Jungshin. Dan masalah biaya tentu saja bisa dicari. Tapi membangun sebuah taman kanak-kanak membutuhkan waktu yang lama, lalu dimana anak-anak belajar selama TK dibangun sementara gedung lama sudah digusur?

Well, memikirkan dan merencanakan sesuatu jelas lebih mudah ketimbang menjalani atau merealisasikannya. Dan itulah yang terjadi saat ini. Jika saja Jonghyun tidak bermasalah dengan eommaku, kurasa dana bisa mengalir dari perusahaan kami karena perusahaan kami mengucurkan dana pendidikan tiap tahunnya dengan budget yang cukup besar.

“Sudahlah, kita terlalu pusing untuk memikirkan ini. Bagaimana kalau kita berjalan jalan sebentar sekedar menyegarkan pikiran kita? Kuyakin ini cara yang tepat selagi kita mencari solusi yang tepat.”

Jungshin dan Min Jin saling pandang, “Kami berdua ada urusan setelah ini. Jadi, kalian saja yang jalan-jalan. Tidak apa-apa kan?” Min Jin berkata tidak enak. Oh anak ini, apa dia berusaha membiarkanku berdua dengan Jonghyun?

“Baguslah, aku memang butuh berbicara serius dengan Eun Jin.” Suara Jonghyun membuat degupan jantungku meningkat secara tiba-tiba. Tanpa melihatku dia masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.

Aku memandang Jungshin dan Min Jin yang terkikik geli melihat ekspresiku. Dan tidak segan aku melempari mereka biskuit susu yang menjadi cemilan kami.

“Eun Jin~ah! Rambutku bisa rusak kalau begini!” Min Jin menggerutu sebal sementara aku tersenyum manis.

~~~

Author pov

Nyonya Han melangkah menuju ruang makan. Makan malam telah tertata rapi di atas meja dan para pelayan pun sudah berjejer rapi menanti kedatangannya. Nyonya Han celingukan, “Kemana Min Jin dan Eun Jin?” tanyanya sambil mulai melahap makan malamnya.

“Mereka tinggal di apartmen masing-masing semenjak seminggu yang lalu, Sajangnim.” Jawab Sekertaris Shim. Nyonya Han berhenti mengunyah dan menghentakkan pisau dan garpunya secara bersamaan.

Para pelayan berdiri resah. Kemarahan Nyonya Han bisa menyerembet ke hal sekecil apapun, tak ada satupun dari mereka yang berani memandang apa yang terjadi saat ini. Dan mereka bernafas lega begitu Nyonya Han melewati mereka tanpa sepatah katapun.

Nyonya Han menuju ruang kerjanya. Nafsu makannya sudah menghilang. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Yang terlihat pertama kali di meja kerjanya bukanlah setumpuk kerjaan kantornya, melainkan sebuah pigura berukuran sedang yang berisikan foto keluarganya. Dengan suaminya, dan anak kembarnya –Min Jin dan Eun Jin. Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Sudah lama dia tidak merasakan kebahagiaan saat menjadi ibu dan saat anak kembarnya bermanja-manjaan dengannya. Semua itu justru berbanding terbalik. Anak kembarnya kini tengah perang dingin perihal penggusuran TK itu. Nyonya Han mencengkram erat pigura kecil itu demi menahan emosinya yang tibul ke permukaan. Tapi itu tidak berlangsung lama karena matanya menangkap sesuatu yang menyembul dibalik pigura itu.

Dengan hati-hati, Nyonya Han membuka pigura itu dan matanya membelalak. Dia menemukan sebuah surat dari mendiang suaminya.

To : Istriku, yang selalu aku cintai sepenuh hati, Lee Eunah

Aku tidak tau tepatnya kapan kau membuka surat ini, tapi aku selalu berharap kau baik-baik saja dan sehat sehingga kau bisa mendidik putri kembar kita yang lucu dan cantik dengan baik, seperti ibumu yang mendidik bidadari cantik yang setia berada di sampingku hingga saat ini dan memberikanku dua bidadari cantik yang membuat penatku hilang.

Kau pasti terkejut kenapa aku membuat surat seperti ini kan? Aku pun sebenarnya tidak tau kenapa aku ingin sekali menulis surat untukmu padahal kita berada dalam atap yang sama bahkan tempat tidur yang sama. Aku hanya merasa suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu jauh sekali sehingga kau tidak bisa menggapaiku lagi, tidak bisa membelai wajahku lagi, tidak bisa menatap senyumku lagi.

Aku harap kau mendidik Eun Jin dan Min jin dengan baik. Kau harus mendengarkan keluh kesahnya karena kau ibunya. Sudah sepantasnya kau lebih memahami mereka dibanding yang lain. Sudah seharusnya kau mendekapnya dengan penuh kasih sayang.

Kau harus ingat, suatu saat putri kita akan menemukan pria yang dicintainya. Pria yang membuat hatinya berbunga-bunga dan berkeinginan untuk membina rumah tangga dengannya. Kau sebagai ibu yang baik harus mendukungnya, mendukung apa yang membuat kedua putri kita bahagia. Aku yakin kau menjadi ibu yang baik, dan hal ini tidak perlu kuberitahukan lagi.

Terakhir, aku ingin bilang, dimanapun kau berada, hendaknya kau selalu berhati lembut, seperti Eunah yang aku kenal saat sedang membantu pengemis yang terjatuh di taman dulu. Ingat, kita tidak akan sebahagia ini jika kita tidak memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

Aku selalu mencintaimu, bidadariku. Kuharap kau menjaga kedua bidadari mungil kita dengan penuh kasih sayang.

 

                                                                                                            Han Seunghyun

Air mata membanjiri wajah tirus Nyonya Han begitu dia selesai membaca surat dari suaminya itu. perasaan bersalah merayap cepat ke benaknya. Dia tidak menjaga putrinya dengan baik. Setelah kepergian suaminya, perhatiannya terfokus pada perusahaan. Tidak ada waktu luang untuk kedua putrinya yang selalu ingin bersama ibunya, satu-satunya orang tua yang dimiliki mereka saat ini.

Nyonya Han membaca kembali surat tersebut sebelum akhirnya mendekapnya di dada. Semakin dia membaca dan meresapi setiap goresan tinta yang terpatri di kertas lusuh itu, semakin dia merasa bersalah dan tak berguna.

Matanya menangkap benda lain yang berada di meja kerjanya. Tanpa berfikir panjang, dia merengkuh benda itu untuk mengusir rasa bersalah didalam benaknya.

~~~

Jonghyun dan Eun Jin duduk disalah satu undakan taman yang terletak persis didepan gedung apartmen Jonghyun. Dua kaleng cola menemani mereka saat ini. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Rasanya begitu sulit mengucapkan kata-kata begitu mendengar berita buruk.

“Maaf,” Eun Jin akhirnya memecah keheningan, “Aku tetap tidak bisa mempengaruhi eommaku sendiri.”

Jonghyun menoleh kearah Eun Jin yang meremas-remas kaleng cola nya. Tangan lelaki itu mendarat di kepala Eun jin dan mengusapnya perlahan, “Kau sudah melakukan yang terbaik. Repot-repot membantu orang yang kau benci tentu bukan hal yang mudah.” Jonghyun tersenyum jahil, tapi nampaknya tidak membuat Eun Jin tersenyum lega.

“Aku hanya bingung kenapa eomma begitu berubah,” Eun Jin berkata pelan, “Dia tidak seperti wanita yang kukenal dulu, saat masih bersama appa. Ah…apa appa melihat kelakuan eomma yang sekarang ya? Dia pasti sedih sekali.” Tenggorokan Eun Jin tercekat begitu memori tentang keluarganya yang utuh menari-nari indah di pelupuk matanya. Dulu semua itu terasa nyata tapi sekarang justru berbanding terbalik. Melihat eommanya berada satu meja makan dengannya saja rasanya sudah senang sekali.

Lagi, jonghyun mengusap kepala gadis itu. Berusaha membuat gadis itu tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dia tahu betul bahwa sebenarnya Eun Jin sangat merindukan eommanya, tapi itu semua terhapus akibat perang dinginnya terkait masalah penggusuran itu. Dan semua itu berkaitan dengan Jonghyun.

“Semua orang punya alasan terhadap sikapnya, jadi kau tidak usah khawatir.” Eun Jin menoleh menatap Jonghyun, “Karena eommamu pun pasti mempunyai alasan dibalik sifat keras dan dinginnya selama ini.”

Mata Eun Jin berkaca. Dia jelas telah salah menilai Jonghyun selama ini. Dipikirannya Jonghyun hanyalah seorang lelaki yang egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Tapi kini dia melihat sisi lain dari lelaki itu, Jonghyun sama sekali tidak menyalahkan eommanya atas semua yang telah didapatinya. Memang dia dulu sempat meledak-ledak terkait pemecatan Taemin, tapi itu tidak berlangsung lama. Lagipula siapa sih yang tahan dengan kelakuan eomma jika dia terus-terusan mengingkari hal baik yang tercetak jelas di depan mata? Pikir Eun Jin.

Wae? Apa aku salah bicara?” Raut wajah khawatir Jonghyun kini membuat Eun Jin tersenyum. Gadis itu menggeleng cepat, “Aniyo, aku hanya terharu. Sudahlah jangan membicarakan eommaku ataupun masalah penggusuran besok. Bukankah kita berjalan-jalan untung menyegarkan pikiran kita?”

Jonghyun meneguk cola nya dengan cepat, “Ya, dan kurasa ini saat yang tepat untuk membicarakan tentang kita.”

“Kita?” jonghyun mengangguk, “Ya, kita. Kau dan aku. Han Eun Jin dan Lee Jonghyun. Apa kau tidak penasaran?”

Eun Jin tersenyum canggung, “Penasaran sih, tapi memangnya ada apa dengan kita?”

Jonghyun segera menyentil kening Eun Jin. Dia tidak tahu apakah Eun Jin memang polos atau itu adalah sebuah kode untuk memperjelas hubungan mereka.

“Aku sudah menciummu dua kali. Menurutmu apa perasaanku padamu?”

Eun Jin mengusap belakang lehernya dengan canggung dan terus menghindari kontak mata dengan Jonghyun, sampai pada akhirnya gadis itu memilih untuk mengedikkan bahunya.

“Oh ayolah, masa kau tidak tahu kalau aku mencintaimu?” suara Jonghyun terdengar tak sabar, sama tak sabarnya dengan laju darah yang memompa cepat ke jantung Eun Jin.

Eun Jin kali ini menatap Jonghyun. Senyumnya tak terelakkan lagi. Memang kata-kata sederhana itu yang ditunggunya sejak Jonghyun nekat mencium bibirnya. Matanya kembali berkaca dan dia merengkuh tubuh kekar milik Jonghyun.

Nado,” gumam Eun Jin yang teredam didalam pelukan Jonghyun.

Jonghyun menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Eun Jin dan mengusap pipi kanan Eun Jin. Sorot matanya kini terfokus pada bibir ranum milik Eun Jin. Eun jin sendiri terdiam, semakin merasakan hembusan nafas yang menerpa wajahnya.

Kriiiing! Ponsel Eun Jin cukup mengagetkan keduanya, yang juga segera menjauhkan diri satu sama lain. Perlu beberapa detik yang canggung sebelum akhirnya Eun Jin tersambung dengan Sekertaris Shim –yang menelponnya saat itu.

“Apa!!! A…aku segera ke…kesana.” Eun Jin memekik keras, sampai-sampai Jonghyun terlonjak kaget. Matanya kembali disirami air mata, namun kali ini lebih banyak karena tak sampai satu menit air matanya sudah membanjiri wajahnya.

“Tenang-tenang, ada apa sebenarnya?” Jonghyun menggenggam tangan Eun jin, tapi sepertinya itu bukanlah langkah yang tepat untuk menghadapi situasi rumit dan tak terduga seperti saat ini.

“Kita…kita harus kerumah sakit sekarang! Eommaeommaku…” Eun Jin tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Jonghyun masih tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan gadis itu, untuk itu dia segera mengajak Eun Jin untuk mengambil mobilnya dan bergegas ke Rumah sakit.

~~~

 

Eun Jin pov

Aku bergegas menyusuri lorong rumah sakit bersama Jonghyun. Tadi sekertaris Shim bilang dia menemukan eommaku berkucuran darah di ruang kerjanya. Rupanya dia mencoba bunuh diri. Setelah berbelok di ujung lorong, aku dapat menangkap tiga sosok sedang berdiri cemas disana. Min Jin dan Jungshin sudah terlebih dulu sampai. Kulihat Min Jin sama gusarnya denganku.

“Bagaimana keadaan eomma?” ketiganya tampaknya terkejut, begitu juga Sekertaris Shim yang terus mengawasi dokter-dokter yang berada dalam ruangan dimana eomma dirawat. Minjin merangsek untuk memeluk tubuhku. Dapat kurasakan tubuhnya bergetar, diiringi isak tangis yang tertahan.

Eomma mencoba bunuh diri,” Min jin kini menatapku, “Aku merasa sangat bersalah kepada eomma. Aku tidak tahu apa yang dirasakannya sehingga dia ingin bunuh diri seperti ini.”

Aku terdiam, Min Jin benar. Aku tidak tahu beban apa yang dipikul oleh eommaku hingga dia berbuat nekat seperti ini. Kulirik kaca kecil yang terpatri di pintu ruangan eommaku. Dari situlah aku mengawasi dokter-dokter yang masih berlalu-lalang didalam sana.

“Oh iya nona,” Tuan Shim nampaknya teringat oleh sesuatu, karena dia buru-buru merogoh kantong jas hitamnya. Akupun mendekati tuan Shim dan menerima sepucuk surat yang sudah lusuh.

“Saya menemukan ini berada tak jauh dari sajangnim, kurasa nona juga perlu membacanya.”

Aku dan Min Jin saling pandang sebelum akhirnya kami memutuskan untuk membuka lipatan kertas lusuh itu dan menelusuri tulisan tangan yang tak pernah kulupakan, ini tulisan tangan appa.

Min Jin menutup mulutnya, berusaha menahan isak saat dia mulai membaca surat yang teruntuk oleh eomma. Akupun sukses ternganga. Sudah lama aku tidak melihat tulisan ini, dan kini aku melihatnya lagi di sepucuk surat yang membuatku sangat sedih. Dia benar-benar pergi setelah menulis surat ini.

Min Jin mendarat di pelukanku lagi dan menangis lebih keras dari sebelumnya. Akupun memeluk kakak 15 menitku itu dengan erat. Surat itu pasti membuat eomma teringat oleh appa, aku tak yakin selama bekerja eomma memikirkan appa, apalagi appa sudah tidak ada. Tapi dengan adanya surat ini, eomma pasti teringat oleh mendiang suaminya, ah…ini pasti sedih sekali.

Namun perasaan lain merasuki jiwaku. Aku iba. Eommaku pasti belum siap kehilangan appa saat itu, apalagi kami masih kecil. Dan juga secara tiba-tiba dia harus memimpin perusahaan, yang sama sekali tidak tersentuh olehnya. Pantas saja dia bersikap keras, dingin dan tidak berbelas kasihan seperti ini. Ini semua adalah pengalihan rasa stress yang dideritanya.

Pintu ruangan dimana eomma dirawat terbuka, dokter Kim Kyu Jong keluar beserta empat suster yang menemaninya didalam sana. Raut wajahnya menyiratkan kelegaan.

“Apa anda Eun Jin dan Min Jin?” selorohnya begitu melihat kami berdua tengah berpelukan. Kami berdua mengangguk cepat, “Bagaimana Keadaan eomma kami, dok?” Min Jin menginterupsi duluan.

Dokter Kim tersenyum lagi, “Beruntung dia cepat dibawa sehingga dia cepat ditangani. Dia banyak kehilangan darah karena gunting yang digunakan sebagai media bunuh diri merobek 0.5 inci urat nadinya, tapi tidak apa-apa. Semuanya sudah aman sekarang, dia hanya butuh istirahat dan beberapa kali kunjungan oleh Dokter Choi Seunghyun, spesialis kejiwaan.”

Penjelasannya membuat kami –aku, Minjin, Jonghyun, Jungshin dan sekertaris Shim- bernapas lega. Aku berkaca-kaca menatap sekertaris Shim dan membungkuk 90 derajat sebagai tandan hormatku kepadanya.

“Ah…kurasa ibumu ingin berbicara dengan kalian, sejak tadi dia menyebut nama kalian. Tapi tidak sekarang, ibumu baru saja kuberi obat tidur. Kusarankan kau untuk berbicara dengannya nanti saat dia terbangun,” Kata dokter Kim sebelum dia beranjak pergi, “Dan satu hal lagi, jika ada apa-apa jangan segan untuk memanggilku. Annyenonghaseyo.” Setelah dokter Kim mengedikkan kepalanya, dia menjauh menuju ruangannya.

Kupandang Jonghyun dan Jungshin yang berdiri sedikit menjauh dari kami. Raut wajah keduanya sulit ditebak, tapi dengan cepat mereka tersenyum melihatku begitu menyadari aku memperhatikan mereka.

“Syukurlah eommamu baik-baik saja,” Jungshin meraih Min Jin dan merangkulnya. Min Jin tersenyum simpul lalu memeluk pinggang ramping Jungshin.

“Sepertinya aku dan Jungshin tidak bisa menemani kalian berdua,” Jonghyun melirik kearah Jungshin, dan dia mengangguk menyetujui, “Aku harus bertemu dengan Tuan Kim.”

Aku sebenarnya ingin Jonghyun disini, bersamaku dan menenangkanku. Semua berita yang kudengar hari ini membuatku pusing sekaligus tak percaya. Semuanya begitu tiba-tiba. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jonghyun pasti jauh lebih pusing dibanding aku, karena dialah yang mempertanggung jawabkan status TK Haru, dan –bisa dikatakan- dia gagal mempertahankan TK Haru karena besok TK itu akan digusur.

“Baiklah, sampaikan salam maafku kepada Tuan Kim. Aku merasa tidak enak atas keputusan eomma.” Ucapku parau. Jonghyun menyunggingkan senyumnya, “Jangan mengucapkan itubterus! Sebaiknya kau bertemu dengan eommamu. Baiklah kami pergi dulu.”

Jungshin dan Jonghyun menjauh dan meninggalkan kami berdiri didepan ruang inap eommaku.

“Eun, aku ingin sekali masuk menemui eomma. Kau mau ikut?” Min Jin membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk cepat dan dengan perlahan memutar kenop pintu.

Hatiku mencelos melihat tubuh ramping eomma terbujur di ranjang. Selang infus berdiri tegak di sisi kirinya. Aku dan Min Jin sama-sama duduk di sisi kanan, dimana tangan eomma bebas kami genggam karena sisi itulah yang tidak tersentuh oleh jarum suntik sama sekali.

Min Jin diam, dia banyak menangis hari ini. Tatapannya begitu lembut dan penuh kasih sayang, berbanding terbalik saat dia tahu keputusan eomma yang akan menggusur TK Haru.

Kukecup punggung tangan eomma. Walaupun matanya terpejam, jelas sekali mata itu sembab. Aku tidak tahu seberapa lama eomma menangis. Min Jin pun mengecup punggung tangan eomma dan mengecup dahinya dengan sayang.

“Eungh…” eommaku melenguh, diiringi kelopak matanya yang membuka perlahan. Aku dan Min Jin terbelalak kaget kemudian saling pandang. Bukankah seharusnya eomma tidur?

Eomma mengerjapkan matanya perlahan setelahnya menatap kami berdua. Dia tersenyum sangat lebar sekali, diiringi dengan bulir air matanya yang jatuh satu persatu.

“Bidadari eomma, kalian disini?” suara lemahnya perlahan menggema. Aku dan Min Jin semakin  menangis dan mengangguk cepat. Min Jin menggenggam tangan eomma sekarang.

“Iya eomma, kami disini. Kau jangan takut ya, kami akan menemanimu.” Min Jin berkata dengan suara seraknya, yang semakin membuat eomma menangis.

“Maafkan eomma selama ini ya nak,” eomma menatap kami berdua dengan penuh penyesalan, “Eomma tidak bermaksud mengacuhkan kalian. Eomma hanya terlalu stress sehingga kalian terbengkalai seperti ini, eomma benar-benar minta maaf.” Suara nya tercekat. Aku memeluk tubuh eomma, suatu hal yang sangat kusuka jika aku berdekatan dengan eomma, dan dengan perlahan perasaan hangat itu menjalar ke tubuhku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan sensani ini.

Eomma tidak perlu minta maaf. Semua orang pasti menemukan titik sulitnya, begitupun eomma. Seharusnya eomma bicara pada kami, mana mungkin kami tidak membantu bidadari yang telah merawat dan member cinta kepada kami?” tenggorokanku sakit sekali setelah bicara seperti ini, apalagi eomma menyuruh kami berdua mendekapnya kedalam pelukan. Semua ini belum terlambat untuk menjadikan kisah pahit menjadi kisah yang manis bukan?

“Ah, apa kalian bersama sekertaris Shim?” Eomma menyudahi acara saling berpelukan diantara kami. aku mengangguk, “Dia berada diluar, apa eomma ingin berbicara dengannya?”

Eomma mengangguk, “Ya, aku perlu bicara dengannya, hanya empat mata. Bisa kau panggilkan dia untukku?”

Aku mengangguk, kemudian keluar ruangan untuk memanggil sekertaris Shim.

~~~

Jonghyun pov

Pagi-pagi sekali aku sudah berada di TK Haru, bersama Jungshin juga sebagai pemegang tender di Incheon. Kami sudah bertemu dengan tuan Kim semalam dan membicarakan perihal penggusuran ini.

Aku dapat melihat Jun hee dan Jinki yang mengusap matanya selagi aku masuk kedalam ruang guru, jelas mereka sedih. Dan aku yakin semua staff guru disini juga sedih mendengar kabar buruk ini.

Oppa,” Jun hee membuatku berpaling kearahnya, “Kau sudah bekerja dengan baik. Maaf aku tidak bisa membantu apa-apa.”

Aku mengusap puncak kepalanya, “Tidak usah khawatir. Aku tidak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, jadi seharusnya aku yang minta maaf.”

Aniyo,” Jinki hyung menyela pembicaraanku dan Junhee, “ Kau sudah melakukan yang terbaik.” Jinki hyung mengacungkan jempolnya kepadaku walaupun gurat sedih tercetak jelas di wajahnya.

“Seharusnya mereka sudah datang dua puluh menit yang lalu,” Jungshin mengecek arlojinya lalu meneliti surat perintah untuk menggusur tempat itu.

“Mungkin sebentar lagi, sebaiknya kita bersiap.”

Aku dan Jungshin menuju halaman depan. Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka, namun anehnya hanya mobil Eun Jin yang masuk kedalam TK Haru.

Eun  Jin dan Min Jin terburu berlari kearah kami, dapat kulihat tangan Eun Jin menenteng sebuah amlop putih.

“Lihatlah! Ada kabar baik untuk kita semua!” Eun Jin menyerahkan amplop ditangannya dengan tak sabar. Aku membukanya dan mataku sukses terbelalak, bahkan hampir menangis. Ini…ini surat perintah pembatalan penggusuran TK Haru.

Jungshin merampasnya dariku, dan dia juga terpekik senang. Matanya berkaca-kaca saking senangnya.

“Eun, Min, apa yang kalian lakukan kepada eommamu?” Tanya Jungshin tak percaya. Akupun tidak percaya dia dapat berubah dalam waktu sesingkat ini.

Eobseo,” ucap Min Jin riang, “Dia sengaja merencanakan tender ini untuk menghancurkan Jonghyun, tapi akhirnya eomma sadar semua ini tidak benar. Eomma sendiri yang memintanya untuk dibatalkan.”

Kejutan apalagi ini? Semuanya berpusar dengan cepat. Gusur. Sakit. Tidak jadi digusur. Tawa. Lega.

“Ah tuan Kim,” aku terburu menghampiri tuan Kim yang berjalam bersama Jun Hee dan Jinki hyung, “Penggusuran dibatalkan, lihat ini.”

Junhee dan Jinki ikut membaca, dan dia terpekik saking senangnya. Tuan Kim pun menatapku dengan mata berkaca lalu memelukku.

“Terima kasih, semua ini benar-benar keajaiban.” Gumamnya didalam pelukanku. Aku mencengkram badannya kuat dan memeluknya erat.

Setelahnya aku kemudian menatap Eun Jin, yang melihat pemandangan ini dengan mata berkaca. Ah…gadis cerewet itu terlihat cantik sekali pagi ini. Mungkin karena dia tidak lagi berteriak kepadaku semenjak kami mulai menjalin kasih. Aku menghampirinya lalu mengecup dahinya dengan lembut.

Gomawo,” bisikku, “Keajaiban ini tidak akan pernah terjadi jika aku tidak bertemu denganmu, dan juga Min Jin.”

Eun Jin tersenyum manis lalu meraih pinggangku, dia memelukku.

~~~

TBC

5 thoughts on “A way to catch you (Chapter 9)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s